- Beranda
- Stories from the Heart
Supernatural
...
TS
ny.sukrisna
Supernatural
Quote:
Mungkin agan di sini pernah baca cerita ane yang berjudul pancasona? Kali ini ane akan melanjutkan kisah itu di sini. Yang suka cerita genre fantasi, kasus pembunuhan berantai, gengster werewolf, vampire dan sejenisnya. Silakan mampir.


Quote:
INDEKS
Part 1 abimanyu maheswara
Part 2 abimanyu
Part 3 kalla
Part 4 siapa kalla
Part 5 seorang gadis
part 6 Ellea
part 7 taman
Part 8 kamar ellea
Part 9 pagi bersama ellea
Part 10 rencana
Part 11 tentang kalla
part 12 rumah elang
Part 13 kembali aktivitas
part 14 emosi elang
part 15 janin kalla
part 16 elang
Part 17 vin
Part 18 kantor
Part 19 kemunculan kalla
part 20 pulau titik nol kehidupan
part 21 desa terkutuk
Part 22 wira
Part 23 teman lama
Part 24 patung wira
part 25 teror di rumah John
part 26 tato
part 27 simbol aldebaro
part 28 buku
part 29 kantor kalla
part 30 batu saphire
part 31 Lian dan Ayu
part 32 kakak beradik yang kompak
part 33 penyusup
part 34 kalah jumlah
part 35 lorong rahasia
Part 36 masuk lorong
part 37 cairan aneh
part 38 rahasia kalandra
part 39 Nayaka adalah Kalandra
Part 40 kemampuan nayaka
Part 41 Arkie
Part 42 Arkie (2)
Part 43 peperangan
Part 44 berakhir
Part 45 desa abi
part 46 nabila
part 47 cafe abi
Part 48 Maya
part 49 riki kembali, risna terancam
part 50 iblis bertubuh manusia
part 51 bertemu eliza
part 52 Feliz
Part 53 Bisma
Part 54 ke mana bisma
part 55 rahasia mayat
part 56 bisma kabur
part 57 pertemuan tak terduga
part 58 penyelidikan
part 59 tabir rahasia
part 60 kebakaran
part 61 Bajra
part 62 pengorbanan Bajra
part 63 the best team
part 64 masa lalu
part 65 perang dimulai
part 66 kisah baru
part 67 bertemu vin
part 68 san paz
part 69 cafe KOV
part 70 demigod
part 71 california
part 72 Allea dan Ellea
part 73 rumah ellea
part 74 alan cha
part 75 latin kings
part 76 kediaman faizal
part 77 kematian faizal.
part 78 permainan
part 79 ellea cemburu
part 80 rumah
part 81 keributan
part 82 racun
part 83 mayat
part 84 rencana
part 85 kampung....
Part 86 kematian adi
part 87 tiga sekawan
part 88 zikal
part 89 duri dalam daging
part 90 kerja sama
part 91 Abraham alexi Bonar
part 92 terusir
part 93 penemuan mayat
part 94 dongeng manusia serigala
part 95 hewan atau manusia
part 96 Rendra adalah werewolf
part 97 Beta
part 98 melamar
part 99 pencarian lycanoid
part 100 siapa sebenarnya anda
part 101 terungkap kebenaran
part 102 kisah yang panjang
part 103 buku mantra
part 104 sebuah simbol
part 105 kaki tangan
part 106 pertikaian
part 107 bertemu elizabet
part 108 orang asing
part 109 mantra eksorsisme
part 110 Vin bersikap aneh
part 111 Samael
part 112 Linda sang paranormal
part 113 reinkarnasi
part 114 Nayla
part 115 Archangel
part 116 Flashback vin kesurupan
part 117 ritual
part 118 darah suci
part 119 Lasha
part 120 Amon
part 121 masa lalu arya
part 122 sekte sesat
part 123 sekte
part 124 bu rahayu
part 125 dhampire
part 126 penculikan
part 127 pengakuan rian.
part 128 azazil
part 129 ungkapan perasaan
part 130 perjalanan pertama
part 131 desa angukuni
part 132 Galiyan
part 133 hilang
part 134 Hans dan Jean
part 135 lintah Vlad
part 136 rahasia homestay
part 137 rumah kutukan
part 138 patung aneh
part 139 pulau insula mortem
part 140 mercusuar
part 141 kastil archanum
part 142 blue hole
part 143 jerogumo
part 144 timbuktu
part 145 gerbang gaib
part 146 hutan rougarau
part 147 bertemu azazil
part 148 SMU Mortus
part 149 Wendigo
part 150 danau misterius
part 151 jiwa yang hilang
part 152 serangan di rumah
part 153 misteri di sekolah
part 154 rumah rayi
part 155 makhluk lain di sekolah
part 156 Djin
part 157 menjemput jiwa
part 158 abitra
part 159 kepergian faza
part 160 Sabrina
part 161 puncak emosi
part 162 ilmu hitam
part 163 pertandingan basket
part 164 mariaban
part 165 Dagon
part 166 bantuan
INDEKS LANJUT DI SINI INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 16-05-2023 21:45
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
13
13.9K
222
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ny.sukrisna
#10
Part 8 Kamar Ellea
Mereka sampai di kamar Ellea. Dua orang tadi juga sudah masuk ke kediaman mereka. Abi bimbang. Ia tidak tau harus bertindak apa sekarang. Karena tidak mungkin jika tiba-tiba ia mendobrak pintu tetangga Ellea begitu saja. Selain ia tidak tau kapan jelmaan Kalla itu berubah wujud, ia juga tidak ingin Ellea tau masalah ini.
"Kau ini kenapa? Katanya haus? Malah diam saja di situ. Mau masuk atau tidak?" tanya Ellea di balik pintu. Abi masih terpaku di depan pintu kamar gadis itu dengan berbagai pikiran yang berkecamuk. Ia segera melangkahkan kakinya masuk. Namun belum sampai pintu di tutup, suara teriakan minta tolong terdengar samar. "Kau dengar itu?" tanya Abi.
Ellea menajamkan pendengarannya. "Seperti ada yang berteriak minta tolong," sahut Ellea yang juga yakin pada perkataan Abi.
Suara teriakan itu kini bertambah menjadi pukulan di pintu. Mereka berdua keluar, mencari sumber suara yang benar-benar mengganggu. Perhatian Abi langsung tertuju pada tetangga Ellea. Dia sangat yakin.
Hening.
Abi dan Ellea sudah sampai di depan pintu kamar itu. Saling berpandangan seolah itu sebuah isyarat keduanya. Ellea menaikan kedua alisnya ke atas. Abi hanya mengerdikan kedua bahunya. Abi mendekat, menempelkan telinganya di pintu. Ellea menunggu dengan cemas.
Hening.
Hal itu membuat Ellea menarik tangan Abi untuk segera pergi dari tempat itu. Namun Abi menolak. Ia masih ingin memastikan keadaan di kamar itu. Pasti terjadi sesuatu.
Di sisi lain, Kalla sudah mencekik leher Shanum. Dia memgangkat wanita itu tinggi-tinggi. Shanum tidak bisa bernafas. Kakinya terus bergerak mencari pijakan. Suaranya tidak terdengar.
Pintu terbuka kasar. Abimanyu mendobraknya dengan sekuat tenaga. Kini mereka berempat saling menatap. Ellea bahkan berteriak saat melihat sosok Kalla yang sebenarnya.
"Lebih baik kamu kembali ke kamarmu," suruh Abimanyu melirik sekilas ke gadis di sampingnya. Ellea tidak berkata apa pun. Ia terus memandang tetangganya yang sedang sekarat juga makhluk mengerikan yang baru saja ia lihat penampakannya. Ellea mundur perlahan.
"Lepaskan dia!" Kata Abimanyu, geram.
Kalla menggeram lalu melempar asal gadis yang ada ditangannya. Wanita itu terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya. Abi mendekat sambil meraih lampu yang ada di meja nakas. Ia hantamkan pada makhluk itu. Walau itu tidak membuat Kalla terluka,tapi setidaknya mengalihkan perhatian makhluk itu sesaat. Abi menendang perut Kalla. Di saat yang bersamaan Kalla memukul kepala Abi hingga Abi terhuyung. Telinganya berdengung. Pandangannya mengabur. Konsentrasinya terbagi. Hingga saat samar-samar ia melihat Kalla mendekat ke Ellea. Sementara Ellea makin panik tapi bukannya berlari menjauh, gadis itu hanya diam sambil mundur perlahan.
Ellea ketakutan. Tubuhnya mendadak kaku. Belum pernah ia melihat makhluk mengerikan seperti ini. Ia mulai mengelurkan bulir bening di kelopak matanya. Jantungnya berdegup sangat cepat. Keringat dingin mulai menetes di sekujur tubuhnya. Badannya mulai basah. Dan membuat bajunya ikut rembes oleh keringat.
Braak!
Sebuah kursi besi menghantam keras punggung Kalla. Makhluk itu menoleh dan mendapati Abimanyu sebagai pelakunya. Ia sangat marah, begitu juga Abimanyu.
Kilau benda di tangan Abi membuat makhluk itu tertantang. Yah, Abi menemukan pisau dapur yang sepertinya dapat membantunya mengalahkan Kalla.
Koridor apartment sungguh berisik. Anehnya tidak ada satupun penghuni lantai ini yang terganggu.
Abimanyu terluka di beberapa bagian tubuhnya. Darah menetes di lantai. Sama seperti Kalla. Lantai koridor bagai banjir darah. Merah dan hitam. Mengerikan.
Abimanyu memegang kepala Kalla dan membantingnya ke lantai. Abi memang bukan manusia biasa. Kekuatannya benar-benar hebat. Kepala Kalla terlepas dari tubuhnya. Darah mengucur deras.
"Ambil korek api!" teriak Abi pada Ellea yang masih melongo. Ellea masih diam, bingung. "Cepat! Kau harus membakarnya. Darahnya mudah terbakar. Jadi cepat!"
Gadis itu seolah kembali pda kesadarannya dan segera masuk ke kamarnya. Mencari korek api yang memang sering ia pakai menyalakan lilin untuk aromatherapy di kamar mandi.
"Bakar tubuhnya!" Suruh Abi yang masih memegang kepala Kalla kuat-kuat. Sementara tubuh Kalla yang masih menggelepar membuat Ellea sedikit gentar.
Tangan Ellea yang masih gemetar berusaha menyalakan api sesuai perintah pria yang baru dijumpainya pagi tadi.
Dan api menjalar membakar tubuh Kalla. Abi segera melempar kepala Kalla dan api dengan cepat melahap habis tubuh hitam itu.
Bunyi alarm kebakaran membuat perhatian mereka berdua teralih. Air mulai membasahi koridor bahkan semua kamar. Abi menarik tangan Ellea masuk ke kamar gadis tadi. Abi menyuruh Ellea menenangkan tetangga itu.
Shanum.
Gadis keturunan India Pakistan itu masih ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat. Ellea menyodorkan air minum untuk Shanum.
"Makhluk apa tadi?" tanya Ellea, menatap gelas ditangan Shanum. Tapi semua tau kalau pertanyaan itu ditujukan pada Abimanyu.
"Lebih baik kalian hati-hati mulai sekarang."
"Aku yakin kau tau apa dan siapa makhluk itu, kan? Terlihat sekali saat kita melihat makhluk tadi, kau sama sekali tidak terkejut. Dan kau bahkan tau bagaimana membunuhnya."
Abi terdiam beberapa saat. Ia merasa terpojok. Bingung apa yang harus dilakukan. Akhirnya ia terpaksa menceritakan hal itu. Dengan catatan Ellea dan Shanum tidak menceritakan hal ini pada orang lain. Karena jika belum pernah melihat wujud asli Kalla, cerita mereka hanya bagai dongeng belaka. Shanum dan Ellea mengerti.
Waktu menunjukan pukul 01.00
Shanum sudah mulai tenang dan memutuskan beristirahat. Kedua orang itu keluar dari kamar Shanum. Abimanyu ikut masuk ke kamar Ellea. Memeriksa tiap jendela dan sudut ruangan.
"Hubungi nomorku kalau ada hal aneh," kata Abi menuliskan nomor telponnya di note yang ia tempelkan di cermin. "Dan satu lagi. Jauhi Fredi."
"Fredi? Memangnya kenapa?"
Awalnya Abi ragu memberitaukan hal ini pada Ellea. Tapi berhubung Ellea sudah tau tentang Kalla, maka ini jauh lebih mudah untuk gadis itu cerna. "Fredi ... salah satu dari mereka."
"Apa? Jangan becanda, Bi!"
"Aku serius. Kalla mampu merubah wujudnya menjadi manusia. Dan sejak aku menginjakkan kaki di kota ini, aku bisa melihat wujud asli mereka walau wujud mereka berubah. Dan aku melihat wujud asli Kalla dalam tubuh Fredi."
"Jadi itu alasanmu menanyakan tentang Fredi tadi?"
Abi mengangguk. Ia menatap sekeliling sebelum pamit pulang.
Saat Abi hendak membuka pintu, Ellea menahan tangannya. Abi menoleh dan menaikkan sebelah alisnya. "Aku takut. Bisa, kah, kamu menginap aja di sini. Aku yakin Shanum juga masih ketakutan. Dan akan merasa aman jika kamu ada di dekat kami," pinta Ellea memohon.
Abi berfikir sejenak hingga akhirnya mengiyakan permintaan Ellea.
Abi merebahkan tubuhnya di sofa dekat jendela. Berseberangan dengan kasur tempat Ellea tidur. Ellea sudah menarik selimut hingga sebatas leher. Matanya masih terbuka lebar. Sama seperti Abi yang terus menatap langit-langit dengan tangan kanan diletakan di dahi. Berusaha menutupi matanya yang terasa sangat lelah. Bahkan sekujur tubuhnya.
"Bi ...."
"Hm?"
"Dari mana asalmu?"
"Dari desa."
"Jadi kamu belum lama ada di sini?"
"Ya begitulah. Sepertinya baru 2 hari aku di sini. Dan kota memang berbahaya, benar kata ayah."
"Aku sejak kecil tumbuh di kota ini, dan selama ini kota aman-aman saja. Baru kali ini ada hal mengerikan yang kulihat dengan kedua mataku sendiri. Sejak kapan mereka ada di sini?"
"Entahlah. Sepertinya sudah sejak lama. Hanya saja kau baru bertemu dengan mereka saja."
"Tapi, Bi. Kamu itu kuat sekali. Bahkan tubuhmu tidak terluka sama sekali, bukan? Padahal aku melihat ada darah tercecer di lantai. Sementara darah Kalla berwarna hitam. Jadi kupikir itu darahmu yang berwarna merah tadi. Tapi kenapa sekarang tidak ada bekasnya sama sekali?"
"Sudah malam. Cepat tidur. Aku sangat lelah." Abi membelakangi Ellea. Menghadap punggung sofa dan mulai membenamkan wajahnya di permukaan empuk itu.
"Bi? Hey aku belum selesai."
Abi memejamkan mata walau ia sebenarnya belum bisa terlelap seperti harapannya. Dibalik itu ia juga tersenyum tipis melihat sikap Ellea yang menggemaskan. Ia terus merajuk dan mengumpat. Karena masih penasaran dengan cerita Abi.
"Huh! Kau memang menyebalkan. Dasar manusia es!" Kalimat itu adalah penutup segala ocehan Ellea. Dan tak lama keadaan hening. Bahkan setelah itu dengkuran mulai terdengar. Ellea sudah terlelap dan hal itu membuat Abi lega. Ia sudah sangat lelah seharian ini. Dan sepertinya Abi harus meminta juga kalung saphire pada Elang. Agar hal seperti ini tida terjadi lagi. Semakin banyak orang tau keberadaan Kalla semakin membahayakan mereka. Dan tugasnya kini bertambah. Melindungi Ellea. Gadis yang baru beberapa jam ia temui.
"Kau ini kenapa? Katanya haus? Malah diam saja di situ. Mau masuk atau tidak?" tanya Ellea di balik pintu. Abi masih terpaku di depan pintu kamar gadis itu dengan berbagai pikiran yang berkecamuk. Ia segera melangkahkan kakinya masuk. Namun belum sampai pintu di tutup, suara teriakan minta tolong terdengar samar. "Kau dengar itu?" tanya Abi.
Ellea menajamkan pendengarannya. "Seperti ada yang berteriak minta tolong," sahut Ellea yang juga yakin pada perkataan Abi.
Suara teriakan itu kini bertambah menjadi pukulan di pintu. Mereka berdua keluar, mencari sumber suara yang benar-benar mengganggu. Perhatian Abi langsung tertuju pada tetangga Ellea. Dia sangat yakin.
Hening.
Abi dan Ellea sudah sampai di depan pintu kamar itu. Saling berpandangan seolah itu sebuah isyarat keduanya. Ellea menaikan kedua alisnya ke atas. Abi hanya mengerdikan kedua bahunya. Abi mendekat, menempelkan telinganya di pintu. Ellea menunggu dengan cemas.
Hening.
Hal itu membuat Ellea menarik tangan Abi untuk segera pergi dari tempat itu. Namun Abi menolak. Ia masih ingin memastikan keadaan di kamar itu. Pasti terjadi sesuatu.
Di sisi lain, Kalla sudah mencekik leher Shanum. Dia memgangkat wanita itu tinggi-tinggi. Shanum tidak bisa bernafas. Kakinya terus bergerak mencari pijakan. Suaranya tidak terdengar.
Pintu terbuka kasar. Abimanyu mendobraknya dengan sekuat tenaga. Kini mereka berempat saling menatap. Ellea bahkan berteriak saat melihat sosok Kalla yang sebenarnya.
"Lebih baik kamu kembali ke kamarmu," suruh Abimanyu melirik sekilas ke gadis di sampingnya. Ellea tidak berkata apa pun. Ia terus memandang tetangganya yang sedang sekarat juga makhluk mengerikan yang baru saja ia lihat penampakannya. Ellea mundur perlahan.
"Lepaskan dia!" Kata Abimanyu, geram.
Kalla menggeram lalu melempar asal gadis yang ada ditangannya. Wanita itu terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya. Abi mendekat sambil meraih lampu yang ada di meja nakas. Ia hantamkan pada makhluk itu. Walau itu tidak membuat Kalla terluka,tapi setidaknya mengalihkan perhatian makhluk itu sesaat. Abi menendang perut Kalla. Di saat yang bersamaan Kalla memukul kepala Abi hingga Abi terhuyung. Telinganya berdengung. Pandangannya mengabur. Konsentrasinya terbagi. Hingga saat samar-samar ia melihat Kalla mendekat ke Ellea. Sementara Ellea makin panik tapi bukannya berlari menjauh, gadis itu hanya diam sambil mundur perlahan.
Ellea ketakutan. Tubuhnya mendadak kaku. Belum pernah ia melihat makhluk mengerikan seperti ini. Ia mulai mengelurkan bulir bening di kelopak matanya. Jantungnya berdegup sangat cepat. Keringat dingin mulai menetes di sekujur tubuhnya. Badannya mulai basah. Dan membuat bajunya ikut rembes oleh keringat.
Braak!
Sebuah kursi besi menghantam keras punggung Kalla. Makhluk itu menoleh dan mendapati Abimanyu sebagai pelakunya. Ia sangat marah, begitu juga Abimanyu.
Kilau benda di tangan Abi membuat makhluk itu tertantang. Yah, Abi menemukan pisau dapur yang sepertinya dapat membantunya mengalahkan Kalla.
Koridor apartment sungguh berisik. Anehnya tidak ada satupun penghuni lantai ini yang terganggu.
Abimanyu terluka di beberapa bagian tubuhnya. Darah menetes di lantai. Sama seperti Kalla. Lantai koridor bagai banjir darah. Merah dan hitam. Mengerikan.
Abimanyu memegang kepala Kalla dan membantingnya ke lantai. Abi memang bukan manusia biasa. Kekuatannya benar-benar hebat. Kepala Kalla terlepas dari tubuhnya. Darah mengucur deras.
"Ambil korek api!" teriak Abi pada Ellea yang masih melongo. Ellea masih diam, bingung. "Cepat! Kau harus membakarnya. Darahnya mudah terbakar. Jadi cepat!"
Gadis itu seolah kembali pda kesadarannya dan segera masuk ke kamarnya. Mencari korek api yang memang sering ia pakai menyalakan lilin untuk aromatherapy di kamar mandi.
"Bakar tubuhnya!" Suruh Abi yang masih memegang kepala Kalla kuat-kuat. Sementara tubuh Kalla yang masih menggelepar membuat Ellea sedikit gentar.
Tangan Ellea yang masih gemetar berusaha menyalakan api sesuai perintah pria yang baru dijumpainya pagi tadi.
Dan api menjalar membakar tubuh Kalla. Abi segera melempar kepala Kalla dan api dengan cepat melahap habis tubuh hitam itu.
Bunyi alarm kebakaran membuat perhatian mereka berdua teralih. Air mulai membasahi koridor bahkan semua kamar. Abi menarik tangan Ellea masuk ke kamar gadis tadi. Abi menyuruh Ellea menenangkan tetangga itu.
Shanum.
Gadis keturunan India Pakistan itu masih ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat. Ellea menyodorkan air minum untuk Shanum.
"Makhluk apa tadi?" tanya Ellea, menatap gelas ditangan Shanum. Tapi semua tau kalau pertanyaan itu ditujukan pada Abimanyu.
"Lebih baik kalian hati-hati mulai sekarang."
"Aku yakin kau tau apa dan siapa makhluk itu, kan? Terlihat sekali saat kita melihat makhluk tadi, kau sama sekali tidak terkejut. Dan kau bahkan tau bagaimana membunuhnya."
Abi terdiam beberapa saat. Ia merasa terpojok. Bingung apa yang harus dilakukan. Akhirnya ia terpaksa menceritakan hal itu. Dengan catatan Ellea dan Shanum tidak menceritakan hal ini pada orang lain. Karena jika belum pernah melihat wujud asli Kalla, cerita mereka hanya bagai dongeng belaka. Shanum dan Ellea mengerti.
Waktu menunjukan pukul 01.00
Shanum sudah mulai tenang dan memutuskan beristirahat. Kedua orang itu keluar dari kamar Shanum. Abimanyu ikut masuk ke kamar Ellea. Memeriksa tiap jendela dan sudut ruangan.
"Hubungi nomorku kalau ada hal aneh," kata Abi menuliskan nomor telponnya di note yang ia tempelkan di cermin. "Dan satu lagi. Jauhi Fredi."
"Fredi? Memangnya kenapa?"
Awalnya Abi ragu memberitaukan hal ini pada Ellea. Tapi berhubung Ellea sudah tau tentang Kalla, maka ini jauh lebih mudah untuk gadis itu cerna. "Fredi ... salah satu dari mereka."
"Apa? Jangan becanda, Bi!"
"Aku serius. Kalla mampu merubah wujudnya menjadi manusia. Dan sejak aku menginjakkan kaki di kota ini, aku bisa melihat wujud asli mereka walau wujud mereka berubah. Dan aku melihat wujud asli Kalla dalam tubuh Fredi."
"Jadi itu alasanmu menanyakan tentang Fredi tadi?"
Abi mengangguk. Ia menatap sekeliling sebelum pamit pulang.
Saat Abi hendak membuka pintu, Ellea menahan tangannya. Abi menoleh dan menaikkan sebelah alisnya. "Aku takut. Bisa, kah, kamu menginap aja di sini. Aku yakin Shanum juga masih ketakutan. Dan akan merasa aman jika kamu ada di dekat kami," pinta Ellea memohon.
Abi berfikir sejenak hingga akhirnya mengiyakan permintaan Ellea.
Abi merebahkan tubuhnya di sofa dekat jendela. Berseberangan dengan kasur tempat Ellea tidur. Ellea sudah menarik selimut hingga sebatas leher. Matanya masih terbuka lebar. Sama seperti Abi yang terus menatap langit-langit dengan tangan kanan diletakan di dahi. Berusaha menutupi matanya yang terasa sangat lelah. Bahkan sekujur tubuhnya.
"Bi ...."
"Hm?"
"Dari mana asalmu?"
"Dari desa."
"Jadi kamu belum lama ada di sini?"
"Ya begitulah. Sepertinya baru 2 hari aku di sini. Dan kota memang berbahaya, benar kata ayah."
"Aku sejak kecil tumbuh di kota ini, dan selama ini kota aman-aman saja. Baru kali ini ada hal mengerikan yang kulihat dengan kedua mataku sendiri. Sejak kapan mereka ada di sini?"
"Entahlah. Sepertinya sudah sejak lama. Hanya saja kau baru bertemu dengan mereka saja."
"Tapi, Bi. Kamu itu kuat sekali. Bahkan tubuhmu tidak terluka sama sekali, bukan? Padahal aku melihat ada darah tercecer di lantai. Sementara darah Kalla berwarna hitam. Jadi kupikir itu darahmu yang berwarna merah tadi. Tapi kenapa sekarang tidak ada bekasnya sama sekali?"
"Sudah malam. Cepat tidur. Aku sangat lelah." Abi membelakangi Ellea. Menghadap punggung sofa dan mulai membenamkan wajahnya di permukaan empuk itu.
"Bi? Hey aku belum selesai."
Abi memejamkan mata walau ia sebenarnya belum bisa terlelap seperti harapannya. Dibalik itu ia juga tersenyum tipis melihat sikap Ellea yang menggemaskan. Ia terus merajuk dan mengumpat. Karena masih penasaran dengan cerita Abi.
"Huh! Kau memang menyebalkan. Dasar manusia es!" Kalimat itu adalah penutup segala ocehan Ellea. Dan tak lama keadaan hening. Bahkan setelah itu dengkuran mulai terdengar. Ellea sudah terlelap dan hal itu membuat Abi lega. Ia sudah sangat lelah seharian ini. Dan sepertinya Abi harus meminta juga kalung saphire pada Elang. Agar hal seperti ini tida terjadi lagi. Semakin banyak orang tau keberadaan Kalla semakin membahayakan mereka. Dan tugasnya kini bertambah. Melindungi Ellea. Gadis yang baru beberapa jam ia temui.
obdiamond dan 8 lainnya memberi reputasi
9