- Beranda
- Stories from the Heart
Supernatural
...
TS
ny.sukrisna
Supernatural
Quote:
Mungkin agan di sini pernah baca cerita ane yang berjudul pancasona? Kali ini ane akan melanjutkan kisah itu di sini. Yang suka cerita genre fantasi, kasus pembunuhan berantai, gengster werewolf, vampire dan sejenisnya. Silakan mampir.


Quote:
INDEKS
Part 1 abimanyu maheswara
Part 2 abimanyu
Part 3 kalla
Part 4 siapa kalla
Part 5 seorang gadis
part 6 Ellea
part 7 taman
Part 8 kamar ellea
Part 9 pagi bersama ellea
Part 10 rencana
Part 11 tentang kalla
part 12 rumah elang
Part 13 kembali aktivitas
part 14 emosi elang
part 15 janin kalla
part 16 elang
Part 17 vin
Part 18 kantor
Part 19 kemunculan kalla
part 20 pulau titik nol kehidupan
part 21 desa terkutuk
Part 22 wira
Part 23 teman lama
Part 24 patung wira
part 25 teror di rumah John
part 26 tato
part 27 simbol aldebaro
part 28 buku
part 29 kantor kalla
part 30 batu saphire
part 31 Lian dan Ayu
part 32 kakak beradik yang kompak
part 33 penyusup
part 34 kalah jumlah
part 35 lorong rahasia
Part 36 masuk lorong
part 37 cairan aneh
part 38 rahasia kalandra
part 39 Nayaka adalah Kalandra
Part 40 kemampuan nayaka
Part 41 Arkie
Part 42 Arkie (2)
Part 43 peperangan
Part 44 berakhir
Part 45 desa abi
part 46 nabila
part 47 cafe abi
Part 48 Maya
part 49 riki kembali, risna terancam
part 50 iblis bertubuh manusia
part 51 bertemu eliza
part 52 Feliz
Part 53 Bisma
Part 54 ke mana bisma
part 55 rahasia mayat
part 56 bisma kabur
part 57 pertemuan tak terduga
part 58 penyelidikan
part 59 tabir rahasia
part 60 kebakaran
part 61 Bajra
part 62 pengorbanan Bajra
part 63 the best team
part 64 masa lalu
part 65 perang dimulai
part 66 kisah baru
part 67 bertemu vin
part 68 san paz
part 69 cafe KOV
part 70 demigod
part 71 california
part 72 Allea dan Ellea
part 73 rumah ellea
part 74 alan cha
part 75 latin kings
part 76 kediaman faizal
part 77 kematian faizal.
part 78 permainan
part 79 ellea cemburu
part 80 rumah
part 81 keributan
part 82 racun
part 83 mayat
part 84 rencana
part 85 kampung....
Part 86 kematian adi
part 87 tiga sekawan
part 88 zikal
part 89 duri dalam daging
part 90 kerja sama
part 91 Abraham alexi Bonar
part 92 terusir
part 93 penemuan mayat
part 94 dongeng manusia serigala
part 95 hewan atau manusia
part 96 Rendra adalah werewolf
part 97 Beta
part 98 melamar
part 99 pencarian lycanoid
part 100 siapa sebenarnya anda
part 101 terungkap kebenaran
part 102 kisah yang panjang
part 103 buku mantra
part 104 sebuah simbol
part 105 kaki tangan
part 106 pertikaian
part 107 bertemu elizabet
part 108 orang asing
part 109 mantra eksorsisme
part 110 Vin bersikap aneh
part 111 Samael
part 112 Linda sang paranormal
part 113 reinkarnasi
part 114 Nayla
part 115 Archangel
part 116 Flashback vin kesurupan
part 117 ritual
part 118 darah suci
part 119 Lasha
part 120 Amon
part 121 masa lalu arya
part 122 sekte sesat
part 123 sekte
part 124 bu rahayu
part 125 dhampire
part 126 penculikan
part 127 pengakuan rian.
part 128 azazil
part 129 ungkapan perasaan
part 130 perjalanan pertama
part 131 desa angukuni
part 132 Galiyan
part 133 hilang
part 134 Hans dan Jean
part 135 lintah Vlad
part 136 rahasia homestay
part 137 rumah kutukan
part 138 patung aneh
part 139 pulau insula mortem
part 140 mercusuar
part 141 kastil archanum
part 142 blue hole
part 143 jerogumo
part 144 timbuktu
part 145 gerbang gaib
part 146 hutan rougarau
part 147 bertemu azazil
part 148 SMU Mortus
part 149 Wendigo
part 150 danau misterius
part 151 jiwa yang hilang
part 152 serangan di rumah
part 153 misteri di sekolah
part 154 rumah rayi
part 155 makhluk lain di sekolah
part 156 Djin
part 157 menjemput jiwa
part 158 abitra
part 159 kepergian faza
part 160 Sabrina
part 161 puncak emosi
part 162 ilmu hitam
part 163 pertandingan basket
part 164 mariaban
part 165 Dagon
part 166 bantuan
INDEKS LANJUT DI SINI INDEKS LANJUTAN
Diubah oleh ny.sukrisna 16-05-2023 21:45
itkgid dan 12 lainnya memberi reputasi
13
13.9K
222
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ny.sukrisna
#8
Part 6 Ellea
Gadis itu terus berkutat pada laptop miliknya. Ia terus fokus pada ketikan dilayar itu. Sesekali matanya menerawang keluar jendela. Dan kembali pada pekerjaannya. Kopi dihirup pelan, ia menyesapnya perlahan
Menikmati tiap tegukan dengan rasa yang ia suka.
"Hey, melamun saja," gurau Nayaka yang kini duduk di depan meja Abimanyu. "Lihat apa, Bi?" tanya Nayaka lalu ikut menoleh ke meja gadis yang sejak tadi mencuri perhatian Abi.
"Oh dia. Namanya Ellea. Dia seorang penulis, dan pelanggan tetap di cafe kita. Hampir setiap pagi ia selalu datang, memesan kopi yang sama. Ah ada 1 hal yang perlu kau tau. Kamu bisa menebak suasana hatinya hanya dari kopi yang ia pesan." Nayaka terlihat antusias membicarakan Ellea. Seolah-olah Ellea adalah topik hangat yang sedang trend kini. Tapi Abimanyu juga sangat tertarik mendengarnya. Terlihat binar mata pemuda itu yang menyala.
"Saat suasana hatinya baik, ia akan memesan latte. Tapi saat harinya buruk pilihannya adalah americano."
"Benar, kah?"
"Tentu saja. Kau tidak mempercayaiku? Perhatikan saja sendiri. Dan satu lagi, untuk menarik perhatiannya, buatlah kopi yang lezat. Karena ia sangat suka kopi," tegas Nayaka sambil mengerdipkan sebelah mata. Ia pergi kembali ke ruangan yang bertuliskan "Manager" di atas pintu.
Pancake sudah matang. Abi meminta piring itu dari Alicia. Karena itu memang tugas wanita berumur 35 tahun itu di cafe.
"Semoga sukses, Bi!" Seru Alicia seolah memberikan dukungan penuh pada pemuda yang baru beberapa jam ia kenal. Sekali pun Abimanyu memberikan tampang yang dingin, tapi dia salah satu pria yang cukup hangat dan baik pada sekitarnya. Terbukti kalau Abi sudah diterima di cafe ini, dan akrab dengan hampir sebagian besar orang.
"Pancakenya, Nona," kata Abimanyu, meletakan piring tersebut di meja. Ellea menatapnya, kemudia tersenyum. "Terima kasih."
Saat Abi hendak pergi, Ellea berdeham. "Ehem, eum ... Kopi buatanmu enak." Dibalik kalimat sederhana itu, Abi tersenyum tipis. Ia menoleh, mengucapkan terima kasih. Lalu pamit.
Suasana cafe makin lama makin ramai. Abimanyu juga makin sibuk dengan puluhan kopi yang ia buat. Hanya saja ia kini menatap Ellea kembali dengan tatapan terkejut. Di dekat gadis itu ada seorang pemuda yang seumuran mereka. Ia duduk di depan Ellea dan terlibat obrolan yang cukup menyenangkan. Tapi bukan itu yang membuat Abimanyu terpaku. Karena rupanya pemuda itu adalah salah satu dari musuhnya.
Gio yang memang masih ada di cafe ini menyadari tatapan Abimanyu yang aneh. Ia mendekat. "Begitulah wanita, jika kamu tidak bergerak cepat maka akan ada pria lain yang mendekatinya. Ayolah, bersikap berani. Jangan seperti ayahmu. Pengecut. Dia bahkan sudah menyukai ibumu sejak lama, dan memilih diam saja karena ...."
"Paman! Bukan itu! Pria itu ...." Kalimat Gio ia potong dengan ekspresi serius.
"Ada apa?" tanya Gio, paham kalau Abi bukanlah sedang cemburu, melainkan ada hal lain.
"Kalla," ucap Abi menatap tajam dua netra Gio.
Sejenak Gio terpaku. Pikirannya kosong, namun setelah itu ia menoleh ke meja Ellea. "Aku tidak punya liontin saphire seperti Adi. Kita harus menyuruhnya datang. Ah sial sekali. Kenapa Elang tidak membagi benda bagus seperti itu padaku!" Keluh Gio, tetap menekan panggilan kepada Adi.
Ellea dan pria itu beranjak. Berjalan beriringan hendak pergi. Sejenak Ellea menatap Abimanyu yang tengah mengelap meja kerjanya. Tersenyum. Abi membalas dengan senyum pula, namun saat melihat pria di samping Ellea, Abi langsung menghadiahkan tatapan membunuh.
"Paman, lebih baik kau ikuti mereka. Aku masih harus bekerja. Ini hari pertama, tidak mungkin aku membolos untuk mengikuti mereka."
"Tentu saja. Kau diam saja di sini. Jangan macam-macam!"
Gio pergi sesuai tugasnya. Sementara Abimanyu terus gelisah. Ia mencemaskan Ellea juga pamannya. Ia paham bagaimana watak Gio. Tempramen dan sering bertindak tanpa berfikir panjang. Tapi dia termasuk manusia yang beruntung. Selalu selamat dari jurang kematian. Bahkan berkali-kali.
_____
Pukul 22.00
Cafe sudah sepi. Papan bertuliskan "Close" terpampang di pintu. Beberapa lampu bahkan sudah dimatikan. Sebelum pulang, Nayaka selalu mengadakan briefing. Membahas segala hal yang terjadi selama seharian. Mencatat pengeluaran dan pendapatan. Dan juga keluh kesah karyawannya. Abimanyu yang masih memikirkan nasib Ellea dan Gio hanya diam sambil melamun.
"Abi!" Panggil Nayaka. Semua mata tertuju pada Abi yang duduk di sudut. Sendirian.
"Iya, Ka?" tanya Abi sedikit gugup.
"Sebelum pulang, buatkan 1 espresso dan kirim ke alamat ini," suruh Nayaka, memberikan secarik kertas bertuliskan Ellea lengkap dengan alamatnya.
Sontak mata Abimanyu berbinar. Seolah ini salah satu jalan agar dapat mengetahui kondisi gadis itu.
"Oh, eum, baiklah."
"Baru saja dia memesan itu dan kupikir rumah kalian searah. Kamu tidak keberatan, bukan?"
"Ah, Eum tentu saja. Tidak masalah."
Abi segera membuatkan 1 cangkir espresso terbaiknya. Beberapa karyawan sudah mulai keluar cafe dengan tubuh lelah. Setiap hari cafe ini memang selalu ramai. Pelanggan mereka selalu banyak. Selain terkenal dengan kopi yang enak, beberapa kudapannya juga sangat lezat. Terlebih para pekerja juga terkesan ramah dan baik.
Abi mulai berjalan di trotoar, menenteng 1 kantung paperbag di tangan kanannya. Ia memutuskan berjalan kaki karena hari sudah cukup malam dan kendaraan umum sudah sedikit. Lagi pula Abimanyu lebih suka berjalan kaki, itu salah satu bentuk olahraganya setiap hari.
Ia sampai di sebuah apartment mewah. Menelusuri tiap pintu demi menemukan 4 baris angka. 1350.
Jemarinya menjulur pelan ke papan kayu bercat hitam. Ia menekan bel pintu sekali.
"Sebentar," seru seorang wanita dari dalam. Suara langkah kaki yang terdengar sedikit berlari membuat Abi segera menyiapkan diri. Degup jantungnya yang ber-ritme cepat membuat bulir keringat tercipta di dahinya. Ia mengelap dengan ujung bajunya. Dan berusaha bersikap setenang mungkin.
Seulas senyum membuat ritme jantung Abi makin cepat. Senyum gadis yang baru ia temui hari ini, dan mampu membius pandangan Abi.
"Hai ...," sapa Ellea yang sudah mengenakan piyama tidur bermotif hello kitty.
"Eum, Nayaka menyuruhku mengantarkan espresso ini," kata Abi menunjukan kantung yang ia bawa.
"Ah, terima kasih." Ellea malah menutup pintu dan mengambil kantung dari tangan Abi. Membuat pemuda itu bingung setengah mati.
"Kenapa melihatku seperti itu?"
"Eum ... kau ... mau ke mana?" tanya Abi gagap.
"Aku mau minum kopi sambil duduk di taman. Kenapa?"
"Malam-malam begini?"
"Memangnya kenapa?"
"Itu berbahaya! Bagaimana kalau ada orang jahat? Apalagi kamu perempuan."
Ellea terdiam, menatap dua bola mata Abi yang menunjukan kekhawatirannya. Gadis itu tersenyum. Melingkarkan tangan pada pergelangan tangan Abimanyu. "Kalau begitu, temani aku sebentar. Bagaimana?"
Jantung Abi berpacu makin cepat. Tangannya sedikit bergetar. Menepis tangan Ellea yang terasa halus. "Maaf aku sibuk!" Ia segera berjalan menjauh. Tapi gadis itu terus mengikuti Abi hingga turun ke lantai bawah. "Hei ... tunggu aku!" jerit Ellea tak menghentikan langkahnya.
Sampai di pelataran parkir, Ellea mempercepat langkahnya hingga kini berdiri di hadapan Abi.
"Kau jahat sekali. Mengacuhkanku begitu saja setelah mengkhawatirkan ku tadi."
"Lagi pula kau yang ingin minum kopi di taman, bukan? Kenapa aku yang harus menemanimu? Aku banyak urusan!" Abi berjalan ke arah lain agar menghindari Ellea.
"Hei! Aku bahkan belum tau namamu!" jerit Ellea. Dan kini kembali menempatkan posisinya di depan Abimanyu.
Abi mendengus sebal. Ellea mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan. Walau ia tau kalau pemuda di depannya sudah tau namanya.
"Abi. Abimanyu," sahutnya tanpa menatap mata Ellea.
"Aku Ellea."
"Aku sudah tau."
"Dan kopi buatanmu sungguh enak, Biyu."
Sebutan tadi mampu menarik perhatian Abimanyu. "Kau tuli? Namaku Abimanyu. Bukan Biyu!"
"Iya, aku tau. Dan Biyu adalah panggilan yang cocok untukmu. Jika aku harus memanggil Abimanyu, itu terlalu panjang. Maka kupersingkat, Biyu."
Abi menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar.
"Terserah kau sajalah."
"Karena kita sudah mengenal, maka kamu tidak boleh menolak ajakanku. Lihat! Taman di sana. Dekat sekali, bukan?" Tunjuk Ellea ke arah sebidang tanah yang dihiasi rimbunan bunga bougenvile. Abi menatap ke tempat itu. Walau hari sudah larut, ternyata masih banyak orang yang beraktifitas di sekitar sini. Bahkan di taman itu. Ada yang hanya sekedar duduk sendiri dengan laptop di pangkuannya, atau sekedar jalan-jalan di sekitar taman. Namun ada 1 hal yang membuat Abi langsung menyetujui permintaan Ellea. "Baiklah aku temani." Ia segera menggandeng tangan Ellea dan berjalan ke taman itu.
Menikmati tiap tegukan dengan rasa yang ia suka.
"Hey, melamun saja," gurau Nayaka yang kini duduk di depan meja Abimanyu. "Lihat apa, Bi?" tanya Nayaka lalu ikut menoleh ke meja gadis yang sejak tadi mencuri perhatian Abi.
"Oh dia. Namanya Ellea. Dia seorang penulis, dan pelanggan tetap di cafe kita. Hampir setiap pagi ia selalu datang, memesan kopi yang sama. Ah ada 1 hal yang perlu kau tau. Kamu bisa menebak suasana hatinya hanya dari kopi yang ia pesan." Nayaka terlihat antusias membicarakan Ellea. Seolah-olah Ellea adalah topik hangat yang sedang trend kini. Tapi Abimanyu juga sangat tertarik mendengarnya. Terlihat binar mata pemuda itu yang menyala.
"Saat suasana hatinya baik, ia akan memesan latte. Tapi saat harinya buruk pilihannya adalah americano."
"Benar, kah?"
"Tentu saja. Kau tidak mempercayaiku? Perhatikan saja sendiri. Dan satu lagi, untuk menarik perhatiannya, buatlah kopi yang lezat. Karena ia sangat suka kopi," tegas Nayaka sambil mengerdipkan sebelah mata. Ia pergi kembali ke ruangan yang bertuliskan "Manager" di atas pintu.
Pancake sudah matang. Abi meminta piring itu dari Alicia. Karena itu memang tugas wanita berumur 35 tahun itu di cafe.
"Semoga sukses, Bi!" Seru Alicia seolah memberikan dukungan penuh pada pemuda yang baru beberapa jam ia kenal. Sekali pun Abimanyu memberikan tampang yang dingin, tapi dia salah satu pria yang cukup hangat dan baik pada sekitarnya. Terbukti kalau Abi sudah diterima di cafe ini, dan akrab dengan hampir sebagian besar orang.
"Pancakenya, Nona," kata Abimanyu, meletakan piring tersebut di meja. Ellea menatapnya, kemudia tersenyum. "Terima kasih."
Saat Abi hendak pergi, Ellea berdeham. "Ehem, eum ... Kopi buatanmu enak." Dibalik kalimat sederhana itu, Abi tersenyum tipis. Ia menoleh, mengucapkan terima kasih. Lalu pamit.
Suasana cafe makin lama makin ramai. Abimanyu juga makin sibuk dengan puluhan kopi yang ia buat. Hanya saja ia kini menatap Ellea kembali dengan tatapan terkejut. Di dekat gadis itu ada seorang pemuda yang seumuran mereka. Ia duduk di depan Ellea dan terlibat obrolan yang cukup menyenangkan. Tapi bukan itu yang membuat Abimanyu terpaku. Karena rupanya pemuda itu adalah salah satu dari musuhnya.
Gio yang memang masih ada di cafe ini menyadari tatapan Abimanyu yang aneh. Ia mendekat. "Begitulah wanita, jika kamu tidak bergerak cepat maka akan ada pria lain yang mendekatinya. Ayolah, bersikap berani. Jangan seperti ayahmu. Pengecut. Dia bahkan sudah menyukai ibumu sejak lama, dan memilih diam saja karena ...."
"Paman! Bukan itu! Pria itu ...." Kalimat Gio ia potong dengan ekspresi serius.
"Ada apa?" tanya Gio, paham kalau Abi bukanlah sedang cemburu, melainkan ada hal lain.
"Kalla," ucap Abi menatap tajam dua netra Gio.
Sejenak Gio terpaku. Pikirannya kosong, namun setelah itu ia menoleh ke meja Ellea. "Aku tidak punya liontin saphire seperti Adi. Kita harus menyuruhnya datang. Ah sial sekali. Kenapa Elang tidak membagi benda bagus seperti itu padaku!" Keluh Gio, tetap menekan panggilan kepada Adi.
Ellea dan pria itu beranjak. Berjalan beriringan hendak pergi. Sejenak Ellea menatap Abimanyu yang tengah mengelap meja kerjanya. Tersenyum. Abi membalas dengan senyum pula, namun saat melihat pria di samping Ellea, Abi langsung menghadiahkan tatapan membunuh.
"Paman, lebih baik kau ikuti mereka. Aku masih harus bekerja. Ini hari pertama, tidak mungkin aku membolos untuk mengikuti mereka."
"Tentu saja. Kau diam saja di sini. Jangan macam-macam!"
Gio pergi sesuai tugasnya. Sementara Abimanyu terus gelisah. Ia mencemaskan Ellea juga pamannya. Ia paham bagaimana watak Gio. Tempramen dan sering bertindak tanpa berfikir panjang. Tapi dia termasuk manusia yang beruntung. Selalu selamat dari jurang kematian. Bahkan berkali-kali.
_____
Pukul 22.00
Cafe sudah sepi. Papan bertuliskan "Close" terpampang di pintu. Beberapa lampu bahkan sudah dimatikan. Sebelum pulang, Nayaka selalu mengadakan briefing. Membahas segala hal yang terjadi selama seharian. Mencatat pengeluaran dan pendapatan. Dan juga keluh kesah karyawannya. Abimanyu yang masih memikirkan nasib Ellea dan Gio hanya diam sambil melamun.
"Abi!" Panggil Nayaka. Semua mata tertuju pada Abi yang duduk di sudut. Sendirian.
"Iya, Ka?" tanya Abi sedikit gugup.
"Sebelum pulang, buatkan 1 espresso dan kirim ke alamat ini," suruh Nayaka, memberikan secarik kertas bertuliskan Ellea lengkap dengan alamatnya.
Sontak mata Abimanyu berbinar. Seolah ini salah satu jalan agar dapat mengetahui kondisi gadis itu.
"Oh, eum, baiklah."
"Baru saja dia memesan itu dan kupikir rumah kalian searah. Kamu tidak keberatan, bukan?"
"Ah, Eum tentu saja. Tidak masalah."
Abi segera membuatkan 1 cangkir espresso terbaiknya. Beberapa karyawan sudah mulai keluar cafe dengan tubuh lelah. Setiap hari cafe ini memang selalu ramai. Pelanggan mereka selalu banyak. Selain terkenal dengan kopi yang enak, beberapa kudapannya juga sangat lezat. Terlebih para pekerja juga terkesan ramah dan baik.
Abi mulai berjalan di trotoar, menenteng 1 kantung paperbag di tangan kanannya. Ia memutuskan berjalan kaki karena hari sudah cukup malam dan kendaraan umum sudah sedikit. Lagi pula Abimanyu lebih suka berjalan kaki, itu salah satu bentuk olahraganya setiap hari.
Ia sampai di sebuah apartment mewah. Menelusuri tiap pintu demi menemukan 4 baris angka. 1350.
Jemarinya menjulur pelan ke papan kayu bercat hitam. Ia menekan bel pintu sekali.
"Sebentar," seru seorang wanita dari dalam. Suara langkah kaki yang terdengar sedikit berlari membuat Abi segera menyiapkan diri. Degup jantungnya yang ber-ritme cepat membuat bulir keringat tercipta di dahinya. Ia mengelap dengan ujung bajunya. Dan berusaha bersikap setenang mungkin.
Seulas senyum membuat ritme jantung Abi makin cepat. Senyum gadis yang baru ia temui hari ini, dan mampu membius pandangan Abi.
"Hai ...," sapa Ellea yang sudah mengenakan piyama tidur bermotif hello kitty.
"Eum, Nayaka menyuruhku mengantarkan espresso ini," kata Abi menunjukan kantung yang ia bawa.
"Ah, terima kasih." Ellea malah menutup pintu dan mengambil kantung dari tangan Abi. Membuat pemuda itu bingung setengah mati.
"Kenapa melihatku seperti itu?"
"Eum ... kau ... mau ke mana?" tanya Abi gagap.
"Aku mau minum kopi sambil duduk di taman. Kenapa?"
"Malam-malam begini?"
"Memangnya kenapa?"
"Itu berbahaya! Bagaimana kalau ada orang jahat? Apalagi kamu perempuan."
Ellea terdiam, menatap dua bola mata Abi yang menunjukan kekhawatirannya. Gadis itu tersenyum. Melingkarkan tangan pada pergelangan tangan Abimanyu. "Kalau begitu, temani aku sebentar. Bagaimana?"
Jantung Abi berpacu makin cepat. Tangannya sedikit bergetar. Menepis tangan Ellea yang terasa halus. "Maaf aku sibuk!" Ia segera berjalan menjauh. Tapi gadis itu terus mengikuti Abi hingga turun ke lantai bawah. "Hei ... tunggu aku!" jerit Ellea tak menghentikan langkahnya.
Sampai di pelataran parkir, Ellea mempercepat langkahnya hingga kini berdiri di hadapan Abi.
"Kau jahat sekali. Mengacuhkanku begitu saja setelah mengkhawatirkan ku tadi."
"Lagi pula kau yang ingin minum kopi di taman, bukan? Kenapa aku yang harus menemanimu? Aku banyak urusan!" Abi berjalan ke arah lain agar menghindari Ellea.
"Hei! Aku bahkan belum tau namamu!" jerit Ellea. Dan kini kembali menempatkan posisinya di depan Abimanyu.
Abi mendengus sebal. Ellea mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan. Walau ia tau kalau pemuda di depannya sudah tau namanya.
"Abi. Abimanyu," sahutnya tanpa menatap mata Ellea.
"Aku Ellea."
"Aku sudah tau."
"Dan kopi buatanmu sungguh enak, Biyu."
Sebutan tadi mampu menarik perhatian Abimanyu. "Kau tuli? Namaku Abimanyu. Bukan Biyu!"
"Iya, aku tau. Dan Biyu adalah panggilan yang cocok untukmu. Jika aku harus memanggil Abimanyu, itu terlalu panjang. Maka kupersingkat, Biyu."
Abi menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar.
"Terserah kau sajalah."
"Karena kita sudah mengenal, maka kamu tidak boleh menolak ajakanku. Lihat! Taman di sana. Dekat sekali, bukan?" Tunjuk Ellea ke arah sebidang tanah yang dihiasi rimbunan bunga bougenvile. Abi menatap ke tempat itu. Walau hari sudah larut, ternyata masih banyak orang yang beraktifitas di sekitar sini. Bahkan di taman itu. Ada yang hanya sekedar duduk sendiri dengan laptop di pangkuannya, atau sekedar jalan-jalan di sekitar taman. Namun ada 1 hal yang membuat Abi langsung menyetujui permintaan Ellea. "Baiklah aku temani." Ia segera menggandeng tangan Ellea dan berjalan ke taman itu.
Diubah oleh ny.sukrisna 25-04-2023 19:08
obdiamond dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Tutup