- Beranda
- Stories from the Heart
A Man and The Lady
...
TS
robotpintar
A Man and The Lady

Did you know that yesterday I lost the light?, And will you say today feels alright?
Will you cry for yesterday And feel the pain?
This is story about 'a Man and The Lady'
Spoiler for Part #1: A Man and his Little Girl:

Gua menyeruput kopi yang sudah nggak lagi panas sambil berdiri di sisi meja makan. Sementara Anggi menarik ujung kaos gua sambil meracau, ingin cepat berangkat. “Sebentar ya nak”Ucap gua pelan, kemudian membungkuk dan mulai mengikat rambut Anggi yang kini mulai panjang.
“Pake jepit kupu-kupu ya pah?” Tanya Anggi sambil melirik ke arah jepit rambut berbentuk kupu-kupu di tangan gua.
“Iya sayang…” Jawab gua, kemudian mulai memasang jepit rambut berbentuk kupu-kupu di sisi rambutnya.
Begitu selesai, Anggi lantas berlari menuju ke luar. Gua menyambar tas kecil berisi perlengkapan miliknya dan lantas menyusul.
Sepanjang jalan, Anggi nggak berhenti mengoceh. Semua yang baru pertama kali dilihatnya, pasti ia tanyakan. Kenapa burung terbang? Ondel-ondel itu robot atau bukan? Mobil sama motor mahalan mana? Kenapa kita capek? dan banyak pertanyaan-pertanyaan absurd lain yang kadang bikin gua geli sendiri.
Tangannya yang kecil menggenggam ujung jari gua, sementara kakinya sesekali menendang apapun yang menghalangi langkah; bungkus rokok, kaleng soda, hingga kerikil kecil. Kami berjalan menyusuri gang kecil berliku menuju ke Daycare tempatnya bakal menghabiskan waktu hingga siang nanti.
“Hai, Anggi, how are you?” Sapa Miss Rina, salah seorang pengasuh seraya melambai ke arah Anggi, begitu kami tiba di depan gerbang Daycare.
“Titip ya Miss..” Ucap gua seraya menyerahkan tas kecil berisi peralatan milik Anggi. Sementara, Anggi yang langsung berlari masuk ke halaman Daycare bergabung dengan teman-temannya yang lain.
Sebelum pergi, gua menyempatkan berdiri sebentar, bersandar pada pagar besi pembatas daycare seraya memperhatikan Anggi yang kini sibuk kejar-kejaran dengan teman-temannya. Baru saja sebentar ia beraktivitas, rambutnya yang tadi sudah tertata rapi, kini mulai terlihat semrawut.
Juli, empat tahun yang lalu. Gua berjalan mondar-mandir di koridor rumah sakit, tepat di depan ruang operasi. Sesekali gua mencoba mengintip melalui kaca kecil buram di pintu ruang operasi; tak terlihat apapun. Setelah menunggu hampir satu jam yang terasa seperti setahun, pintu ruang operasi terbuka. Lalu terdengar tangisan yang membahana, suara pertama Anggita Laras Brasen di dunia.
Kini sudah empat tahun berlalu, ia tumbuh menjadi gadis cantik, periang yang punya rasa penasaran setinggi gunung. Nggak seperti anak seusianya yang hidup nyaman dengan kedua orang tua. Anggi, hanya punya gua, Bapaknya. Sejak berusia tiga bulan hingga sekarang, ia sama sekali nggak mengenal sosok bernama; Ibu.
Pernah suatu ketika ia menatap teman-teman yang dijemput dari daycare oleh Ibu-nya. “Kenapa?” Tanya gua sambil berlutut di depannya.
“Mamah aku kemana sih, Pah?” Tanya Anggi dengan suara cadelnya yang khas.
“Mamah Anggi kan nggak ada...” Ucap gua seraya membelai kepalanya.
—
Di toko, terlihat Rohman sudah terlebih dulu tiba dan tengah sibuk menggantungkan dagangan di atas kanopi. Rohman merupakan satu-satunya orang yang membantu gua menjalankan toko plastik dan bahan kue yang terletak nggak begitu jauh dari rumah.
Gua nggak mau Anggi yang tumbuh tanpa Ibu, masih harus ditinggal pergi Bapaknya untuk bekerja nine to five, bekerja kantoran. Makanya gua memutuskan untuk membuka toko ini bersama Rohman. Dengan begini, gua bisa terus mengurus Anggi dari ‘dekat’.
“Udah sarapan Je?” Tanya Rohman begitu gua tiba.
“Udah tadi..” Jawab gua. Kemudian masuk ke toko dan mulai membantunya menata dagangan.
Toko tempat gua berjualan terbilang cukup luas. Lebarnya kurang lebih 5 meter, dengan panjang bangunan kira-kira 10 meter. Terdapat dinding pembatas di antara bangunan yang dibuat oleh penyewa sebelumnya. Sepertinya si penyewa sebelumnya menggunakan bangunan ini sebagai tempat usaha sekaligus tempat tinggal, jadi sekatnya berfungsi memisahkan area usaha dengan tempat tinggal si penyewa.
Ditangan gua, sekat pembatas sengaja nggak gua hilangkan. Bagian belakang sekat gua fungsikan sebagai tempat untuk Anggi beristirahat. Tentu saja lengkap dengan karpet, kasur lantai, Televisi dan meja kecil multifungsi ntuk Anggi makan, menggambar atau mewarnai.
Agak sedikit mundur ke belakang terdapat area dapur yang berbatasan dengan kamar mandi. Namun, gua dan Rohman jarang menggunakan area dapur, karena sempit dan tak ada ventilasi udara. Membayangkan masak dan berkegiatan di sana saja rasanya sudah gerah bukan kepalang. Jadi, dari seluruh area dapur yang sering kami gunakan hanya wastafel untuk mencuci tangan.
Sementara, pada bagian depan toko terdapat area parkir yang luas. Ya setidaknya cukup luas jika digunakan satu mobil parkir. Gua memasang kanopi penutup diseluruh area halaman toko, selain untuk tempat memajang dagangan dengan cara digantung pada kanopi, juga agar halaman ini bisa digunakan Anggi sebagai tempat bermainnya.
“Gua belom nih…”
“Yaudah sono sarapan…”
Rohman lantas meninggalkan bungkusan besar kemasan styrofoam yang sebelumnya ingin ia gantungkan dan menyebrang, menuju ke warteg untuk memesan kopi. Gua kembali keluar, mengambil bungkusan besar kemasan styrofoam yang ditinggalkan Rohman dan mulai menggantungnya.
Gua tengah duduk di kursi kayu depan toko, merokok, sambil menunggu pelanggan saat sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan toko. Pintu mobil terbuka, seorang perempuan berpenampilan modis turun; “Mas, ada plastik bubble wrap nggak?”
“Ada, berapa meter?” Tanya gua seraya menyelipkan batangan rokok pada penyangga kursi kayu.
“Oh jualnya meteran ya? satu meter deh” Jawabnya.
Jalan tempat toko gua berada nggak cukup lebar, hanya cukup untuk dua mobil berpapasan. Saat ada mobil berhenti sembarangan seperti yang dilakukan oleh perempuan ini, tentu saja bakal menyebabkan antrian kendaraan di belakangnya.
“Mbak, mobilnya masukin aja kesini biar nggak macet…” Ucap gua ke perempuan tersebut sambil menunjuk ke arah halaman toko.
“Udah nggak usah, lo nya aja yang cepetan…” Keluh si perempuan itu.
Gua menghela nafas panjang, kemudian buru-buru menyiapkan pesanan miliknya dan memasukan ke dalam plastik berukuran besar.
“Berapa?” Tanyanya seraya mengeluarkan dompet untuk membayar.
“Enam ribu…” Jawab gua singkat.
Dengan cekatan ia mengeluarkan lembaran uang pecahan 100 ribu dan menyerahkannya. Tentu saja gua nggak langsung menerimanya, karena kondisi masih pagi dan belum ada pembeli, jadi toko jelas nggak ada uang kembalian sebanyak itu. Sementara, uang hasil penjualan kemarin sudah disetorkan oleh Rohman ke Bank.
“Nggak ada uang kecil aja?” Tanya gua, masih belum meraih uang yang ia sodorkan. Perempuan itu lalu kembali memeriksa dompetnya. Sementara antrian di belakang mobilnya semakin panjang, suara klakson pun semarak membuat bising di telinga.
"Nggak ada. Elo kalo di Jepang bisa dituntut, orang jualan kok nggak nyapain kembalian. ” Gumamnya, masih mencari-cari uang receh dari sela-sela dompet.
“Emang lo di Jepang?” Gumam gua pelan, sengaja agar ia nggak mendengarnya.
“Apa?” Tanyanya, sementara tangannya masih sibuk mencari uang receh dari dalam dompet.
“Yaudah nggak usah bayar, bawa aja…” Jawab gua. Mencoba mengikhlaskan uang enam ribu, ketimbang jadi sasaran kemurkaan pengendara jalan yang mengantri di belakang mobilnya.
Tiba-tiba, perempuan tersebut melempar lembaran uang yang sudah digumpal, meraih barang belanjaannya, masuk ke mobil dan bergegas pergi. Sementara, gua hanya menatap ke arah mobil yang perlahan menjauh. Meraih lembaran uang 100 ribuan lecek yang baru saja ia lemparkan dan menaruhnya dalam laci meja kasir.
Sementara dari kejauhan terlihat Rohman berjalan gontai menuju ke arah toko.
“Ada apaan, rame banget?” Tanyanya saat melihat kondisi jalan di depan toko yang masih menyisakan kemacetan, sementara tangannya sibuk memainkan tusuk gigi yang mencuat keluar dari bibirnya.
Gua lalu menceritakan kejadian barusan ke Rohman, tentang seorang perempuan modis yang belanja enam ribu tapi bayar dengan uang 100 ribuan. Dan akibat yang ditimbulkan olehnya; kemacetan.
“Alhamdulillah, rejeki pagi-pagi” Ucapnya.
“Rejeki apanya. Ntar kalo dia kesini lagi dan gua nggak ada, lo balikin duitnya”
Hari semakin siang, satu persatu pelanggan mulai berdatangan. Kebanyakan pelanggan toko plastik kami merupakan pedagang juga. Dari mulai pedagang pecel ayam, tukang nasi goreng hingga bubur ayam. Biasanya barang yang mereka beli berupa kertas bungkus nasi, plastik berukuran kecil untuk wadah sambal, plastik transparan besar hingga kemasan styrofoam untuk wadah makanan.
Selain itu ada pula pelanggan yang merupakan produsen kue, roti dan cake. Pelanggan tipe ini biasanya membeli bahan-bahan makanan seperti; margarin curah, coklat tabur, kertas roti, loyang cetakan, hingga obat pengembang kue.
Ada pula pelanggan yang diistilahkan oleh Rohman sebagai ‘Bebek Kanyut’, yaitu jenis pelanggan yang emang pas mau beli barang, kebetulan melihat toko kami di pinggir jalan. Untuk tipe pelanggan seperti ini biasanya, Rohman bakal nanya tempat tinggal si pelanggan. Kalau tinggalnya dekat, ia bakal memberikan bonus kecil, seperti tambahan barang yang dibeli. Agar mereka merasa diperlakukan istimewa, dan kembali berbelanja disini.
Rohman juga nggak segan untuk mengantar pesanan walaupun jumlah barang yang dibeli nggak banyak. Ya asal nganternya nggak terlalu jauh aja.
Ia sejatinya bukan orang dengan pendidikan yang tinggi. Tapi, ia tipe orang yang mau belajar dan mencoba banyak hal baru. Gua bahkan hanya perlu mengarahkan kelicikan yang ia punya, untuk membuatnya menjadi pakar strategi marketing low-end business seperti sekarang.
“Assalamualaikum…” Sapa Pak Haji Ramlan yang datang dengan sepeda motor.
“Waalaikumsalam…” Jawab gua, kemudian berdiri dan menghampirinya.
“Je, anterin terigu 2 karung yak” Ucap Pak Haji Ramlan seraya mengeluarkan gepokan uang dari saku celananya.
“Anter ke rumah apa kemana nih Pak Haji?” Tanya Gua.
“Ya kerumah lah…” Jawabnya seraya menyerahkan uang pembayaran.
Pak Haji Ramlan adalah pemilik bangunan Toko yang gua tempati saat ini. Tak hanya toko ini saja, Counter ponsel di sebelah, Warung sembako di sebelahnya lagi, Bengkel sepeda motor di sebelahnya lagi dan Kios penjual Fried Chicken di ujung, juga merupakan miliknya.
Selain itu, ia juga punya puluhan kontrakan, pabrik genteng, konveksi dan puluhan toko kain di Cipadu, Cipulir juga Tanah Abang. Rumahnya yang besar dan megah berdiri nggak begitu jauh dari lokasi toko. Saking megah dan besar, bagian rooftop rumahnya bisa terlihat dari depan toko.
Akhir-akhir ini beliau sering mondar-mandir ke toko untuk membeli bahan kue. Konon, Anak bungsunya tengah melakukan riset untuk memproduksi kue kering.
“Ntar Rohman yang nganter yak Pak Haji…” Ucap gua sebelum Pak Haji Ramlan pergi.
“Iya…” Jawabnya.
Semakin siang, intensitas pelanggan yang datang semakin tinggi. Saking sibuknya, kadang kami sama sekali nggak punya kesempatan untuk duduk, apalagi saat harus jaga sendirian seperti sekarang ini, karena Rohman harus mengantar barang.
Gua melirik ke arah jam tangan yang menunjukkan pukul 12 siang lebih sedikit. Sebentar lagi Anggi selesai dari Daycare-nya, dan gua harus menjemputnya.
Sejatinya, ada dua pilihan saat gua mendaftarkan Anggi ke Daycare. Full day dan Half Day, Sesuai namanya; Full Day berarti si anak akan terus berada di Daycare sepanjang hari. Kebanyakan yang mengambil paket ini adalah para anak yang kedua orang tuanya sibuk bekerja, hingga tak ada waktu untuk mengasuh anak. Sementara, untuk yang Half Day, pengasuhan akan selesai setelah jam 1 siang. Seandainya, kita telat menjemput maka sisa waktu yang dihabiskan anak di daycare akan di charge di bulan berikutnya.
Gua jelas nggak mengambil opsi Full day. Buat apa? toh gua membuka usaha toko plastik agar bisa punya lebih banyak waktu untuk Anggi.
Rohman baru kembali ke toko begitu jam menunjukkan pukul setengah satu. Setelah memarkir sepeda motornya, Rohman nggak langsung masuk ke toko. Ia duduk di kursi kayu panjang di depan toko dan mulai merokok.
“Gua jemput Anggi dulu ya Man…” Ucap gua, sambil meraih topi dan bergegas pergi.
“Nggak pake motor?” Tanya Rohman.
“Nggak ah jalan aja…”
Lokasi Daycare tempat gua menitipkan Anggi nggak begitu jauh. Jika ditempuh lewat jalan utama, paling hanya menghabiskan waktu 5 menit dengan berjalan kaki. Kalau jalan mundur, ya mungkin bisa setengah jam.
Ada alternatif jalan lain, yaitu lewat jalan ‘ngampung’. Melalui gang kecil berliku yang tentu saja memakan waktu sedikit lebih lama. Dan, gua selalu memilih jalan ‘ngampung’ jika berjalan bersama dengan Anggi, karena relatif aman tanpa ada kendaraan yang ngebut.
Anggi terlihat sedang duduk di ujung perosotan saat gua tiba di Daycare. Seperti biasa, ia duduk sambil menatap teman-teman dijemput oleh ibunya. Gua berjalan mendekat, begitu menyadari kehadiran gua, Anggi lantas berdiri dan berteriak; “Papah..” kemudian berlari dan memeluk gua.
“Ayo bilang apa ke Miss Rina…” Bisik gua ke Anggi.
“Thank you, miss…” Ucapnya cadel.
“You’re welcome, take care Anggi” Balas Miss Rina, si pembimbing di Daycare.
Gua lantas melepas topi yang gua kenakan dan memasangkannya di kepala Anggi. Sinar matahari hari ini sedang terik, dan gua meninggalkan payung satu-satunya di rumah. Sambil membetulkan posisi topi gua yang menutupi hampir seluruh kepalanya, Anggi mulai bercerita tentang kejadian-kejadian di Daycare. Gua mendengarkannya dengan serius sambil sesekali memberi tanggapan, layaknya tengah ngobrol dengan orang dewasa.
Setibanya di Toko, gua mendudukan Anggi di kursi dan menyiapkan makan untuknya. Sejak ia bisa makan, gua sudah membiasakannya untuk makan sendiri. Banyak orang yang komplain tentang cara gua memberi makan Anggi. Ada yang bilang ‘Kalo anak kecil makan sendiri pasti berantakan’ ya, kalo berantakan tinggal di beresin, apa susahnya. Ada juga yang bilang ‘Kok tega anak kecil disuruh makan sendiri’ ya harus tega, biar dia terbiasa mandiri.
Gua meletakkan piring plastik berwarna pink yang berisi nasi, telur dadar dan sayur sop di atas meja. Menu favorit Anggi yang gua beli di warteg seberang jalan. Ia tersenyum kemudian mulai makan. Sementara gua memeriksa isi tas milik Anggi. Mengeluarkan kotak makan miliknya yang kini kosong lalu mencucinya.
Begitu Anggi selesai makan ia langsung bermain. Iya, Anggi banyak menghabiskan waktunya bermain di dalam toko. Kadang ia berkeliling rak barang, sambil berlagak menjadi seorang pelari atau duduk di meja kasir, berpura-pura melayani pelanggan. Toko ini merupakan wahana permainannya.
Biasanya setelah puas bermain dan kelelahan, ia akan berbaring di kasur kecil di belakang toko dengan botol susu di tangannya. Nggak butuh waktu lama buatnya untuk tidur begitu berbaring. Iya Pelor; Nempel langsung Molor.
Anggi bakal bangun saat hari menjelang sore. Setelah tidur, gua memberikannya kesempatan untuk bermain di luar toko. Biasanya, Galih, anak pemilik Konter Ponsel yang jadi teman bermainnya. Atau, ia akan ke belakang toko, tempat dimana banyak anak-anak seusianya menghabiskan sore dengan bermain bersama.
Selepas Maghrib, gua tengah duduk di kursi kayu depan toko, bersiap-siap untuk pulang sambil menunggu Rohman mengantarkan pesanan. Sementara, Anggi sibuk menonton acara kartun di televisi di dalam toko. Dari kejauhan terlihat mobil sedan hitam yang tadi pagi pengemudinya melempar uang ke arah gua. Ia berhenti tepat di depan toko, kali ini ia memarkir mobilnya dengan benar dan santun hingga nggak mengganggu kendaraan lain yang lewat.
Perempuan itu turun dari mobil dan berjalan mendekat. Sementara gua langsung bergegas masuk ke dalam, mengambil lembaran uang 100 ribuan lecek dari laci meja kasir untuk mengembalikan uang itu padanya.
“Jadi berapa yang tadi?” Tanyanya.
“Nggak usah…” Jawab gua seraya mengembalikan lembaran uang miliknya. Dengan cepat ia meraih lembaran uang tersebut dan menukarnya dengan selembar 10 ribuan.
Gua tersenyum, dan mengulang kembali ucapan sebelumnya; “Nggak usah mbak”
Ia menatap gua tajam, sebelum akhirnya memasukkan kembali lembaran uang tersebut ke dalam dompet. Tanpa kata, ia berbalik dan pergi menuju ke mobilnya. Gua menebak kalau perempuan tersebut bukan orang sembarangan, atau paling tidak anak orang kaya, terlihat dari mobil sedan yang ia kendarai; terlampau mewah untuk seorang pekerja kantoran biasa.
Sebelum pulang, gua menyempatkan diri untuk membeli ayam goreng dari kios di ujung bangunan untuk makan malam Anggi. Begitu Rohman kembali dari mengantar pesanan, gua lantas mengajak Anggi untuk pulang. Agak sulit memisahkan Anggi dengan acara kartun kesayangannya itu, hingga gua harus rela menunggu sampai acara tersebut selesai.
Gua menggendong Anggi di punggung sementara tangan kanan gua memegang tas dan plastik bungkusan berisi ayam goreng. Dengan Anggi di gendongan, gua melangkah menyusuri jalan tanpa trotoar. Sesekali gua merapat ke sisi jalan saat ada sorotan lampu mobil mendekat, takut keserempet. Gua sengaja memilih lewat sisi jalan utama agar bisa sampai di rumah lebih cepat.
Di kejauhan gua melihat sedan hitam berhenti di tepi jalan dengan kedua lampu hazard menyala dan bagasi belakang dibiarkan terbuka. Di sisi mobil terlihat, seorang perempuan tengah sibuk dengan ponselnya, perempuan yang sama dengan yang melempar uang ke arah gua, ia tengah menunduk dan memeriksa ban bagian depan sebelah kiri.
“Kenapa mbak?” Tanya gua, sementara Anggi menggeliat di punggung gua, penasaran dengan apa yang terjadi.
Perempuan itu lalu menoleh, lalu dengan cepat mengarahkan senter dari ponselnya ke arah gua. Sambil memicingkan mata dan mengangkat tangan karena silau.
“Nggak tau, tadi pas lagi jalan tiba-tiba kayak bocor gitu..” Jawabnya seraya menunjuk ke arah ban depan sebelah kiri dengan senter dari ponselnya.
“Perlu bantuan?” Tanya gua pelan. Perempuan tersebut nggak langsung menjawab. Ekspresi wajahnya menunjukkan rasa was was yang nggak bisa disembunyikan. Lumrah sih, seorang perempuan menyematkan kecurigaan kepada pria asing di pinggir jalan. Pun, kami sudah dua kali bertemu, sebagai pembeli dan penjual.
Ia menggelengkan kepalanya.
Gua mengangguk dan berlalu melewatinya, melanjutkan perjalanan dengan Anggi masih berada di gendongan gua menuju ke rumah.
Sesampainya dirumah, gua dan Anggi langsung makan malam. Setelah makan, Anggi langsung menuang kotak plastik besar berisi mainan dan mulai bermain sendiri. Sesekali, ia mencoba mengajak gua untuk bermain peran dengannya.
Lelah bermain, ia mendekat dan bicara; “Pah, susu…” Pintanya manja.
“Yaudah beresin mainannya, cuci kaki, sikat gigi terus masuk kamar, nanti papah bikinin susu…” Jawab gua.
Anggi lantas mulai menuruti permintaan gua, memunguti satu persatu mainan yang berserakan ke dalam kotak plastik besar. Lalu berlari menuju ke kamar mandi untuk sikat gigi dan mencuci kakinya.
Setelah membuat susu dan menemani Anggi tidur, gua keluar menuju teras, duduk di kursi bambu dan mulai merokok. Sesekali gua mengecek email melalui ponsel dan beberapa pesan masuk yang perlu untuk segera gua respon.
Gua meraih bungkus rokok yang kini kosong. ‘Yah..’

Diubah oleh robotpintar 01-09-2023 09:23
teguhjepang9932 dan 245 lainnya memberi reputasi
242
351.1K
Kutip
2.3K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#519
#47 - You’re My One and Only
Spoiler for #47 - You’re My One and Only:

Gua terdiam, hanya menatap punggungnya yang perlahan menjauh. Sambil bersimpuh di lantai area parkir yang keras, gua menangis seraya menutupi wajah dengan kedua tangan. Menyesal setengah mati.
Setelah cukup lama menangis, seorang satpam mencoba membangunkan gua dan bertanya; “Ada apa mbak?”
“Gapapa”Gua menjawab, lalu pergi kembali masuk ke lobby apartemen.
Suci dan Izar duduk menunggu gua di dalam. Gua menarik lengan Izar, mendorongnya keluar dari apartemen dan segera menutup pintu. Sementara, Suci berdiri lalu menyerahkan lembaran kertas yang terlihat seperti sebuah foto kepada gua. Sebuah lembaran kertas yang tadi dibawa dan dilempar oleh Jeje.
Gua meraih lembaran foto tersebut. Terlihat foto seorang bayi mungil yang tengah tersenyum dengan lembaran kertas di perutnya berisi tulisan tangan Jeje; “We Miss you”. Gua lantas menangis sejadi-jadinya, berteriak sambil memukuli lantai. Sementara, Suci berusaha memberi pelukan, mencoba menenangkan gua.
—
Beberapa minggu berselang, sebuah ketukan di pintu apartemen mengagetkan gua. Iyam kini suara ketukan di pintu apartemen saja sudah bisa membuat gua gila. Apalagi kalau mengingat Jeje pernah berdiri di pintu yang sama dan menatap gua dengan matanya yang curiga.
Perlahan, gua mendekat ke arah pintu dan mengintip melalui lubang kecil. Seorang perempuan muda berjaket jeans dengan rambut dikepang dua berdiri.
Gua buru-buru memutar kunci dan membuka pintu.
“Reni…” Sapa gua.
“Hi Kak..” Balasnya sambil tersenyum.
Tanpa aba-aba, Reni mendekat dan langsung memeluk gua.
Sementara gua masih nggak menduga dengan kehadirannya dan merasa kalau Reni pasti akan membenci gua, karena perlakuan gua ke abangnya.
“Lo nggak ikut benci sama gue kan Ren?” Tanya gua ke Reni begitu kami sudah duduk di dalam. Reni nggak langsung menjawab, matanya berkeliling, menatap seisi ruangan.
Sesaat berikutnya ia meraih tangan gua, menggenggamnya dan mulai bicara; “Dari kecil aku nggak kenal sosok ibu, aku nggak pernah dapet belai lembut kakak perempuan, sampai akhirnya Kak Dina datang dan memberikan semua yang nggak pernah aku rasain…”
“...”
“... yang sabar jagain aku waktu masih kecil, yang nggak lelah nemenin aku do the homework, yang selalu berlaku sebagai kakak, ibu bahkan sahabat buat aku…”
“...”
“... Bagaimana mungkin Reni bisa membenci Kak Dina. Seandainya seluruh dunia membenci Kakak, ingatlah kalau masih ada Aku on your side…”
“...”
“... Tapi, nggak benci bukan berarti aku nggak kecewa kak..”
“Iya, gue tau… lo emang pantes buat kecewa sama gue…" Jawab gua sambil menahan tangis.
Setelah saling melepas rindu. Reni mengeluarkan sebuah amplop coklat besar dari dalam tas yang sejak tadi berada di gendongannya.
“Apa itu?” Tanya gua begitu Reni menyodorkan amplop coklat besar tersebut ke arah gua.
“Kemarin Abang titip ini sebelum balik ke Kanada…”
“Hah, Jeje udah balik?”
“Iya…”
Dengan cepat gua meraih amplop besar tersebut dan mengeluarkan kertas yang berisi surat gugatan cerai. Dengan nama Jeje sebagai yang tergugat.
Gua lantas menutup mulut dengan telapak tangan dan berusaha sekuat tenaga agar nggak menangis. Sementara Reni langsung mendekat, memberi pelukan dan tepukan di punggung seraya berbisik; "Sabar ya kak..”
“Gue nggak mau Ren, gue nggak mau…” Ucap gua sambil terus menangis.
“...”
—
Hampir berminggu-minggu gua mengabaikan dokumen perceraian yang dikirim oleh Jeje melalui Reni. Nggak ingin membubuhkan tanda tangan gua disana. Merasa, gua masih bisa kembali dan memperbaiki ini semuanya.
Sementara kondisi fisik gua mulai menurun. Kepala terasa pusing dan tubuh tak bertenaga, keringat dingin juga mulai keluar membasahi pakaian yang gua kenakan. Dengan sisa tenaga, gua mencoba menghubungi Suci.
Suci datang nggak lama berselang. Sebelum kehilangan kesadaran, gua merasakan tangan hangat Suci yang mencoba membangunkan gua, lalu semuanya gelap.
Gua tersadar, terbangun di atas ranjang rumah sakit. Tak ada siapapun di dalam kamar perawatan hanya gua sendirian. Seorang perawat perempuan lalu masuk seraya melayangkan senyum sambil mendorong troli besi yang berisi jatah obat dan makanan untuk pasien. Ia mengecek cairan infus yang tergantung pada tiang di sisi ranjang, lalu mengecek tekanan darah gua dan mulai melakukan pencatatan.
“Langsung dimakan ya kak, nanti obatnya diminum sesuai urutan ya…” Ucap si perawat seraya meletakkan baki berisi makanan dan menyusun deretan mangkok plastik super kecil sesuai urutan. Sementara rasa lapar luar biasa langsung menyerang gua.
“Iya, Thank you ya…”
“Pasti laper deh kak, udah dua hari baru bangun..” Ia menambahkan.
“Hah? yang bener sus?” Tanya gua memastikan.
“Iya..”
“Sus, dokternya udah visit belum?” Tanya gua pelan.
“Besok pagi baru visit lagi kak, kenapa? ada yang sakit?…” Si perawat balik bertanya.
“Nggak, cuma mau ngasih tau riwayat kesehatan aku aja. Biar dokter nggak salah kasih obat…” Ucap gua mencoba menjelaskan.
“Oh, udah kok.. Suaminya kemarin udah jelasin ke dokter..” Jawabnya.
“Hah? terus dimana dia?”
“Suami kakak? Oh tadi sih keliatan keluar”
Nggak seberapa lama, pintu kamar terbuka. Reni melongok sebelum akhirnya masuk, ia mendekat sambil tersenyum lalu memeluk gua yang masih terbaring.
“Pake sakit segala deh…” Ucapnya seraya menepuk pelan lengan gua dan duduk di kursi kecil sebelah ranjang.
Ia menatap baki berisi makanan jatah gua yang masih utuh di atas meja. Nggak banyak bicara, Reni menekan tombol pada sisi ranjang, membuat ranjang bagian kepala sedikit terangkat. Ia meraih baki berisi makanan, membuka plastik tipis pembungkusnya dan mulai menyuapi gua.
Sesekali Reni tersenyum saat tengah menyuapi gua.
“Kenapa?” Tanya gua, curiga dengan senyum di wajahnya.
“Jadi inget dulu, waktu Kak Dina masih sering nyuapin aku. Dulu Kak Dince sering marah-marah gara-gara aku susah makan” Ucapnya.
“Iya…”
“Inget juga nggak pas kita lupa matiin air terus apartemen jadi banjir?”
“Inget…”
“Pas abang dateng, dia kaget terus langsung bersih-bersih apartemen..”
“Iya… kita waktu itu pergi ke waterfront ya kalo nggak salah”
“Abang marah nggak ke kita?”
Gua lalu menggeleng.
“Pas Kak Dince, nggak sengaja ngilangin laptop abang. Apa abang marah?”
Gua kembali menggeleng.
“Reni tau, Abang sayang banget sama Reni, That’s why he never gets mad at me. Dan Reni tau kalo Abang lebih sayang lagi ke Kak Dince, jadi kayaknya dia nggak pernah dan nggak bakal marah sama Kakak..”
“...”
“... Makanya Kak Dina nggak usah takut abang marah, Sama kayak Reni, mungkin abang hanya kecewa aja.. Nggak usah terlalu dipikirin, nanti malah kak Dina jadi sakit sakitan…”
“Tapi kan kesalahan gue sekarang lebih dari sekedar lupa matiin air dan ngilangin laptop Ren” Ucap gua pelan.
“Kalo abang marah ke Kak Dince, ngapain dia bela-belain dateng kesini, nungguin Kak Dince setiap malem selama dua hari?”
“Dia nginep disini?” Gua balik bertanya, terkejut dengan ucapannya barusan.
“Iya.. tadi baru aja pulang. Terus langsung nelpon Reni. Reni disuruh nemenin Kak Dince…” Jawabnya.
“Terus dokumen cerai, dia tarik lagi kan?”
Reni lalu memberi jawaban dengan gelengan kepala.
Gua menghela nafas, lalu menghabiskan suapan terakhir makanan yang disodorkan oleh Reni.
Setelah membantu gua makan dan menyeka wajah, lengan dan kaki gua dengan lap basah, Reni pamit untuk pulang. Dan gua kembali sendirian.
Dulu waktu dirawat di Kanada, gua nggak masalah kala harus sendirian di rumah sakit. Karena tau ada seseorang yang tengah menunggu gua untuk pulang. Kini rasanya begitu menyakitkan, sendirian dan tau ada surat perpisahan yang menunggu untuk ditandatangani.
Sore berganti malam. Pintu kamar terbuka, Suci masuk seraya berseru; “Hai, hai, udah bangun rupanya…”. Di Belakangnya berdiri Izar yang lalu menyusul masuk.
“Gimana? udah mendingan?” Tanya Izar seraya duduk di kursi kecil. Sementara Suci naik ke atas ranjang pasien dan duduk tepat dekat kaki gua.
“Yah lumayan..” Jawab gua pelan.
Kami bertiga lalu ngobrol, membahas tren terkini. Sementara, Izar menggembar-gemborkan niatnya untuk mengajak gua bergabung di perusahaan rintisan tempatnya bekerja.
“Lo jangan janjiin sesuatu yang masih khayalan…” Ucap Suci seraya mengacak-acak rambut Izar.
“Serius... Eh elo lulusan bisnis kan Din?” Tanya Izar ke gua.
“Iya…”
“Punya basic marketing dong… ntar jadi tim marketing gua yah…” Ucap Izar sambil tersenyum.
Setelah hampir satu jam berselang, Suci dan Izar pamit untuk pulang. Sebelum pergi Izar sempat mendekat dan bicara; “Besok mau gue temenin nggak?” Tanyanya seraya berbisik.
Gua menggelengkan kepala sambil tersenyum; “Nggak usah, makasih”
Nggak sampai semenit setelah mereka berdua pergi, pintu kamar gua kembali terbuka.
Awalnya gua pikir Suci atau Izar yang kembali karena ada barangnya yang tertinggal. Namun yang terlihat malah sosok Jeje yang masuk dan berjalan mendekat ke arah ranjang.
Saat ini, gua nggak tau harus berbuat apa. Hanya terdiam sambil menatap wajahnya yang datar. Ia lalu duduk di sofa di sudut ruangan, meraih majalah yang tergeletak di atas meja dan mulai membacanya.
Ia hanya berjarak beberapa meter, tapi dirinya terasa jauh dan sulit untuk gua gapai. Berada di dalam satu ruangan kecil tanpa bicara, Jeje sibuk membaca majalah, sementara gua sibuk memandangnya.
“Pokoknya gue nggak mau pisah..” Ucap gua pelan.
Jeje meletakkan majalah yang dibacanya di atas meja, bangkit dan duduk di kursi kecil sebelah ranjang.
“Sembuh aja dulu, baru ngomongin yang lain” Balasnya pelan.
“Tapi janji, kalo gue udah sembuh, kita harus ngelurusin ini…” Ucap gua seraya menyodorkan jari kelingking, mengajaknya membuat ikatan janji.
Jeje menurunkan tangan gua dan menarik selimut hingga menutupi tubuh lalu kembali duduk di sofa dan berbaring dengan tangannya ia letakkan di dahi. Ia nggak memejamkan mata, hanya menatap kosong ke langit-langit ruangan.
Setelah sekian lama, barulah gua tersadar. Jangan-jangan Jeje sudah sejak lama datang dan ia mengetahui kalau Izar baru saja datang menjenguk. Gua lantas bangun, meraih tiang infus yang menggantung, mendekat ke sofa dan duduk dekat dengan kakinya.
“Je..”
Ia menatap gua, bangun, meraih tiang infus dan berusaha membawa gua kembali ke ranjang. Tapi, gua bergeming. Gua lantas mulai memeluknya, menghirup dalam-dalam aroma cologne murah yang ia pakai, ingin membawa aroma ini sampai ke dalam mimpi.
Dengan sedikit paksaan, Jeje akhirnya berhasil membawa gua kembali ke ranjang. Meletakkan kembali tiang infus di posisinya dan menarik selimut hingga menutupi tubuh. Kali ini nggak kembali duduk di sofa, melainkan pergi keluar dari kamar.
“Ck…”
—
Besoknya gua sudah diperbolehkan untuk pulang.
Suci yang gua mintai tolong untuk melunasi administrasi rumah sakit kembali ke kamar; “Udah dibayar sama Jeje” Ucapnya seraya mengembalikan kartu kredit milik gua.
“Oh.. terus Jejenya mana?” Tanya gua.
“Nggak tau..” Jawab Suci sambil mengangkat kedua bahunya.
Malamnya, ponsel gua berdering, layarnya menampilkan deretan nomor yang asing. Penuh keraguan, gua menjawabnya.
Terdengar suara familiar Jeje di ujung sana; “Gua di lobby bawah…” Ucapnya.
“Yauda naik aja…” Jawab gua.
“Nggak, lo aja yang turun…”
“Nggak mau…” Seru gua.
Jeje nggak menjawab, ia lalu mengakhiri panggilan. Sementara, gua dengan cepat menuju ke kamar mandi. Tepat di depan cermin, gua merapikan rambut, mengoleskan krim pelembab pada wajah dan menorehkan sedikit lipgloss di bibir.
Nggak lama terdengar suara ketukan pada pintu apartemen. Gua langsung berlari untuk membuka pintu. Jeje berdiri dengan ekspresi wajahnya yang datar, tangan kanannya menenteng kantong plastik berukuran besar.
“Masuk” Ucap gua.
Jeje masuk, mengikuti gua. Sebelum duduk, ia menyerahkan plastik yang dibawanya ke gua, plastik berisi aneka buah-buahan. Gua memasukkan buah-buahan tersebut ke dalam kulkas dan menuju ke dapur untuk membuat kopi.
Saat kembali dengan secangkir kopi, terlihat Jeje tengah memeriksa obat-obatan yang berada dalam bungkusan bening dari rumah sakit. Beberapa jenis obat ia singkirkan, sementara sisanya kembali dimasukkan ke dalam plastik. Menyadari kehadiran gua, ia berpaling dan menyerahkan beberapa jenis obat ke gua; “Yang ini nggak usah diminum…”
“Iya…” Jawab gua pelan. Lalu membuang obat-obatan tersebut ke tempat sampah. Sejak dulu, Jeje yang selalu aware dengan jenis obat yang boleh kami konsumsi dan mana yang tidak. Pemilik ginjal tunggal seperti gua dan Jeje memang harus lebih berhati-hati dengan jenis obat yang akan kami konsumsi.
“Kalo sakit ke dokter aja. Jangan sembarangan minum obat warung” Ucapnya.
“Iya…” Jawab gua lagi.
Jeje kembali duduk, lalu menatap gua.
“Suratnya gimana?” Tanya Jeje.
Deg! perasaan yang sebelumnya mulai terangkat karena perhatiannya, kini kembali jatuh saat ia bertanya tentang dokumen perceraian kami.
“Belum” Jawab gua, tanpa berani menatap ke arahnya.
“...”
“... Je, bisa nggak kita hindari ini. Gue cuma pengen balik kayak dulu lagi…” Ucap gua.
“Kayak dulu, kayak gimana?” Ia bertanya. Bukan sebuah pertanyaan langsung, hanya sebuah klise yang sepertinya tak perlu gua jawab.
“Gue mau nyoba lagi, please kasih gue kesempatan…”
“Wow, lo mau nyoba lagi. Terus kalo gagal, lo nyerah dan pergi lagi. Jangan-jangan lo cuma anggap semua ini game simulasi, yang kalo gagal bisa coba lagi dari awal…”
“Please Je… Anggi kan juga anak gue Je..”
“Iya justru karena Anggi anak lo Ce, makanya gue ngomong gitu. Kalo lo masih butuh waktu buat tanda tangan dokumen itu, yaudah gapapa, gue tunggu aja…”
“Lo kapan balik ke Kanada?” Tanya gua.
“Balik ke Kanada? Ngapain?” Ia balik bertanya.
“Ya… Kerja?”
Jeje nggak langsung menjawab, ia menyeringai. Sesaat kemudian barulah ia menjawab; “Gua mau resign”
“Hah, Lo nggak serius kan Je?
“Ya nggak ada pilihan lain Ce. Siapa yang mau ngurusin Anggi kalo gua kerja?”
“Ya makannya bawa gue balik, gue ngurus Anggi, sementara lo pergi kerja. Jadi, lo nggak harus ninggalin Kerjaan…”
“Lo nggak mikir kayak gini sebelum pergi?” Tanyanya.
Ia nggak menunggu jawaban. Ia meminum kopi dari cangkir, menghabiskannya dan berdiri bersiap untuk pergi.
“Je…” Gua ikut berdiri, lalu mengambil dokumen dan pulpen dari laci. Kemudian mendekat ke arahnya.
“... Gue mau tanda tangani ini tapi ada syaratnya” Ucap gua seraya meletakkan dokumen diatas meja dan bersiap membubuhkan tanda tangan, sementara mata gua menatap ke arah Jeje.
“Apa syaratnya?” Tanyanya pelan.
“Kasih gue kesempatan untuk kembali ke kalian.. Kesempatan yang sama saat kita pertama kali bertemu. Kasih gue kesempatan untuk jadi Aldina lagi, jadi Aldina yang sama seperti saat kita bertemu. Kasih gue kesempatan untuk membuat lo jatuh cinta lagi sama gue…”
“Nggak mungkin Ce..”
“Kenapa nggak mungkin?”
“Gua nggak bisa jatuh cinta dua kali ke lo. Dari dulu sampe sekarang, gua masih merasa jatuh cinta sama elo. Gua bahkan nggak bisa dan nggak sanggup marah ke elo, gua cuma kecewa, kecewa banget…” Jeje bicara, sementara matanya mulai berlinang.
Ia lalu tersenyum dan melangkah pergi. Gua berusaha mengejar dan memeluk tubuhnya dari belakang.
“Gue punya satu permintaan lagi…”
“Apa?”
“Lo harus janji, saat lo nanti udah melupakan gue. Saat nanti ada perempuan baru di hidup lo… jangan pernah ceritakan tentang gua kepadanya. Karena di cerita lo nanti, gue yang bakal jadi penjahatnya…”
“Iya…”
Jeje lalu melepas pelukan, ia berbalik, membelai wajah gua dengan punggung tangannya dan mulai mencium gua tepat di bibir. Gua membalas ciumannya yang terasa seperti ciuman pertama kami dulu.
Ia melepas kecupannya dan berbisik; “Jangan sakit lagi ya…” kemudian mundur beberapa langkah, berbalik dan pergi.
Gua menjatuhkan diri di lantai, dan kembali menangis. Masih dengan air mata yang bercucuran deras, gua membubuhkan tanda tangan diatas dokumen perceraian, seraya menggumam pelan; “You’re my one and only”
—
Pas Band feat. Tere - Kesepian Kita
Ingatkah kawan kita pernah saling memimpikan
Berlari-lari tuk wujudkan kenyataan
Lewati segala keterasingan
Lalui jalan sempit yang tak pernah bertuan
Ingatkah kawan kita pernah berpeluh cacian
Digerayangi dan digeliati kesepian
Walaupun sejenak nafas dari beban
Tuk lewati ruang gelap yang teramat dalam
Hidup ini hanya kepingan yang terasing dilautan
Memaksa kita memendam kepedihan
Tapi kita juga pernah duduk bermahkota
Pucuk-pucuk mimpi yang berubah jadi nyata
Dicumbui harumnya putik-putik bunga
Putik impian yang membawa kita lupa
Hidup ini hanya kepingan yang terasing dilautan
Memaksa kita merubah kepedihan
Hidup ini hanya kepingan yang terasing dilautan
Memaksa kita merubah jadi tawa
Diubah oleh robotpintar 21-04-2023 15:37
jiyanq dan 60 lainnya memberi reputasi
61
Kutip
Balas
Tutup