- Beranda
- Stories from the Heart
A Man and The Lady
...
TS
robotpintar
A Man and The Lady

Did you know that yesterday I lost the light?, And will you say today feels alright?
Will you cry for yesterday And feel the pain?
This is story about 'a Man and The Lady'
Spoiler for Part #1: A Man and his Little Girl:

Gua menyeruput kopi yang sudah nggak lagi panas sambil berdiri di sisi meja makan. Sementara Anggi menarik ujung kaos gua sambil meracau, ingin cepat berangkat. “Sebentar ya nak”Ucap gua pelan, kemudian membungkuk dan mulai mengikat rambut Anggi yang kini mulai panjang.
“Pake jepit kupu-kupu ya pah?” Tanya Anggi sambil melirik ke arah jepit rambut berbentuk kupu-kupu di tangan gua.
“Iya sayang…” Jawab gua, kemudian mulai memasang jepit rambut berbentuk kupu-kupu di sisi rambutnya.
Begitu selesai, Anggi lantas berlari menuju ke luar. Gua menyambar tas kecil berisi perlengkapan miliknya dan lantas menyusul.
Sepanjang jalan, Anggi nggak berhenti mengoceh. Semua yang baru pertama kali dilihatnya, pasti ia tanyakan. Kenapa burung terbang? Ondel-ondel itu robot atau bukan? Mobil sama motor mahalan mana? Kenapa kita capek? dan banyak pertanyaan-pertanyaan absurd lain yang kadang bikin gua geli sendiri.
Tangannya yang kecil menggenggam ujung jari gua, sementara kakinya sesekali menendang apapun yang menghalangi langkah; bungkus rokok, kaleng soda, hingga kerikil kecil. Kami berjalan menyusuri gang kecil berliku menuju ke Daycare tempatnya bakal menghabiskan waktu hingga siang nanti.
“Hai, Anggi, how are you?” Sapa Miss Rina, salah seorang pengasuh seraya melambai ke arah Anggi, begitu kami tiba di depan gerbang Daycare.
“Titip ya Miss..” Ucap gua seraya menyerahkan tas kecil berisi peralatan milik Anggi. Sementara, Anggi yang langsung berlari masuk ke halaman Daycare bergabung dengan teman-temannya yang lain.
Sebelum pergi, gua menyempatkan berdiri sebentar, bersandar pada pagar besi pembatas daycare seraya memperhatikan Anggi yang kini sibuk kejar-kejaran dengan teman-temannya. Baru saja sebentar ia beraktivitas, rambutnya yang tadi sudah tertata rapi, kini mulai terlihat semrawut.
Juli, empat tahun yang lalu. Gua berjalan mondar-mandir di koridor rumah sakit, tepat di depan ruang operasi. Sesekali gua mencoba mengintip melalui kaca kecil buram di pintu ruang operasi; tak terlihat apapun. Setelah menunggu hampir satu jam yang terasa seperti setahun, pintu ruang operasi terbuka. Lalu terdengar tangisan yang membahana, suara pertama Anggita Laras Brasen di dunia.
Kini sudah empat tahun berlalu, ia tumbuh menjadi gadis cantik, periang yang punya rasa penasaran setinggi gunung. Nggak seperti anak seusianya yang hidup nyaman dengan kedua orang tua. Anggi, hanya punya gua, Bapaknya. Sejak berusia tiga bulan hingga sekarang, ia sama sekali nggak mengenal sosok bernama; Ibu.
Pernah suatu ketika ia menatap teman-teman yang dijemput dari daycare oleh Ibu-nya. “Kenapa?” Tanya gua sambil berlutut di depannya.
“Mamah aku kemana sih, Pah?” Tanya Anggi dengan suara cadelnya yang khas.
“Mamah Anggi kan nggak ada...” Ucap gua seraya membelai kepalanya.
—
Di toko, terlihat Rohman sudah terlebih dulu tiba dan tengah sibuk menggantungkan dagangan di atas kanopi. Rohman merupakan satu-satunya orang yang membantu gua menjalankan toko plastik dan bahan kue yang terletak nggak begitu jauh dari rumah.
Gua nggak mau Anggi yang tumbuh tanpa Ibu, masih harus ditinggal pergi Bapaknya untuk bekerja nine to five, bekerja kantoran. Makanya gua memutuskan untuk membuka toko ini bersama Rohman. Dengan begini, gua bisa terus mengurus Anggi dari ‘dekat’.
“Udah sarapan Je?” Tanya Rohman begitu gua tiba.
“Udah tadi..” Jawab gua. Kemudian masuk ke toko dan mulai membantunya menata dagangan.
Toko tempat gua berjualan terbilang cukup luas. Lebarnya kurang lebih 5 meter, dengan panjang bangunan kira-kira 10 meter. Terdapat dinding pembatas di antara bangunan yang dibuat oleh penyewa sebelumnya. Sepertinya si penyewa sebelumnya menggunakan bangunan ini sebagai tempat usaha sekaligus tempat tinggal, jadi sekatnya berfungsi memisahkan area usaha dengan tempat tinggal si penyewa.
Ditangan gua, sekat pembatas sengaja nggak gua hilangkan. Bagian belakang sekat gua fungsikan sebagai tempat untuk Anggi beristirahat. Tentu saja lengkap dengan karpet, kasur lantai, Televisi dan meja kecil multifungsi ntuk Anggi makan, menggambar atau mewarnai.
Agak sedikit mundur ke belakang terdapat area dapur yang berbatasan dengan kamar mandi. Namun, gua dan Rohman jarang menggunakan area dapur, karena sempit dan tak ada ventilasi udara. Membayangkan masak dan berkegiatan di sana saja rasanya sudah gerah bukan kepalang. Jadi, dari seluruh area dapur yang sering kami gunakan hanya wastafel untuk mencuci tangan.
Sementara, pada bagian depan toko terdapat area parkir yang luas. Ya setidaknya cukup luas jika digunakan satu mobil parkir. Gua memasang kanopi penutup diseluruh area halaman toko, selain untuk tempat memajang dagangan dengan cara digantung pada kanopi, juga agar halaman ini bisa digunakan Anggi sebagai tempat bermainnya.
“Gua belom nih…”
“Yaudah sono sarapan…”
Rohman lantas meninggalkan bungkusan besar kemasan styrofoam yang sebelumnya ingin ia gantungkan dan menyebrang, menuju ke warteg untuk memesan kopi. Gua kembali keluar, mengambil bungkusan besar kemasan styrofoam yang ditinggalkan Rohman dan mulai menggantungnya.
Gua tengah duduk di kursi kayu depan toko, merokok, sambil menunggu pelanggan saat sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan toko. Pintu mobil terbuka, seorang perempuan berpenampilan modis turun; “Mas, ada plastik bubble wrap nggak?”
“Ada, berapa meter?” Tanya gua seraya menyelipkan batangan rokok pada penyangga kursi kayu.
“Oh jualnya meteran ya? satu meter deh” Jawabnya.
Jalan tempat toko gua berada nggak cukup lebar, hanya cukup untuk dua mobil berpapasan. Saat ada mobil berhenti sembarangan seperti yang dilakukan oleh perempuan ini, tentu saja bakal menyebabkan antrian kendaraan di belakangnya.
“Mbak, mobilnya masukin aja kesini biar nggak macet…” Ucap gua ke perempuan tersebut sambil menunjuk ke arah halaman toko.
“Udah nggak usah, lo nya aja yang cepetan…” Keluh si perempuan itu.
Gua menghela nafas panjang, kemudian buru-buru menyiapkan pesanan miliknya dan memasukan ke dalam plastik berukuran besar.
“Berapa?” Tanyanya seraya mengeluarkan dompet untuk membayar.
“Enam ribu…” Jawab gua singkat.
Dengan cekatan ia mengeluarkan lembaran uang pecahan 100 ribu dan menyerahkannya. Tentu saja gua nggak langsung menerimanya, karena kondisi masih pagi dan belum ada pembeli, jadi toko jelas nggak ada uang kembalian sebanyak itu. Sementara, uang hasil penjualan kemarin sudah disetorkan oleh Rohman ke Bank.
“Nggak ada uang kecil aja?” Tanya gua, masih belum meraih uang yang ia sodorkan. Perempuan itu lalu kembali memeriksa dompetnya. Sementara antrian di belakang mobilnya semakin panjang, suara klakson pun semarak membuat bising di telinga.
"Nggak ada. Elo kalo di Jepang bisa dituntut, orang jualan kok nggak nyapain kembalian. ” Gumamnya, masih mencari-cari uang receh dari sela-sela dompet.
“Emang lo di Jepang?” Gumam gua pelan, sengaja agar ia nggak mendengarnya.
“Apa?” Tanyanya, sementara tangannya masih sibuk mencari uang receh dari dalam dompet.
“Yaudah nggak usah bayar, bawa aja…” Jawab gua. Mencoba mengikhlaskan uang enam ribu, ketimbang jadi sasaran kemurkaan pengendara jalan yang mengantri di belakang mobilnya.
Tiba-tiba, perempuan tersebut melempar lembaran uang yang sudah digumpal, meraih barang belanjaannya, masuk ke mobil dan bergegas pergi. Sementara, gua hanya menatap ke arah mobil yang perlahan menjauh. Meraih lembaran uang 100 ribuan lecek yang baru saja ia lemparkan dan menaruhnya dalam laci meja kasir.
Sementara dari kejauhan terlihat Rohman berjalan gontai menuju ke arah toko.
“Ada apaan, rame banget?” Tanyanya saat melihat kondisi jalan di depan toko yang masih menyisakan kemacetan, sementara tangannya sibuk memainkan tusuk gigi yang mencuat keluar dari bibirnya.
Gua lalu menceritakan kejadian barusan ke Rohman, tentang seorang perempuan modis yang belanja enam ribu tapi bayar dengan uang 100 ribuan. Dan akibat yang ditimbulkan olehnya; kemacetan.
“Alhamdulillah, rejeki pagi-pagi” Ucapnya.
“Rejeki apanya. Ntar kalo dia kesini lagi dan gua nggak ada, lo balikin duitnya”
Hari semakin siang, satu persatu pelanggan mulai berdatangan. Kebanyakan pelanggan toko plastik kami merupakan pedagang juga. Dari mulai pedagang pecel ayam, tukang nasi goreng hingga bubur ayam. Biasanya barang yang mereka beli berupa kertas bungkus nasi, plastik berukuran kecil untuk wadah sambal, plastik transparan besar hingga kemasan styrofoam untuk wadah makanan.
Selain itu ada pula pelanggan yang merupakan produsen kue, roti dan cake. Pelanggan tipe ini biasanya membeli bahan-bahan makanan seperti; margarin curah, coklat tabur, kertas roti, loyang cetakan, hingga obat pengembang kue.
Ada pula pelanggan yang diistilahkan oleh Rohman sebagai ‘Bebek Kanyut’, yaitu jenis pelanggan yang emang pas mau beli barang, kebetulan melihat toko kami di pinggir jalan. Untuk tipe pelanggan seperti ini biasanya, Rohman bakal nanya tempat tinggal si pelanggan. Kalau tinggalnya dekat, ia bakal memberikan bonus kecil, seperti tambahan barang yang dibeli. Agar mereka merasa diperlakukan istimewa, dan kembali berbelanja disini.
Rohman juga nggak segan untuk mengantar pesanan walaupun jumlah barang yang dibeli nggak banyak. Ya asal nganternya nggak terlalu jauh aja.
Ia sejatinya bukan orang dengan pendidikan yang tinggi. Tapi, ia tipe orang yang mau belajar dan mencoba banyak hal baru. Gua bahkan hanya perlu mengarahkan kelicikan yang ia punya, untuk membuatnya menjadi pakar strategi marketing low-end business seperti sekarang.
“Assalamualaikum…” Sapa Pak Haji Ramlan yang datang dengan sepeda motor.
“Waalaikumsalam…” Jawab gua, kemudian berdiri dan menghampirinya.
“Je, anterin terigu 2 karung yak” Ucap Pak Haji Ramlan seraya mengeluarkan gepokan uang dari saku celananya.
“Anter ke rumah apa kemana nih Pak Haji?” Tanya Gua.
“Ya kerumah lah…” Jawabnya seraya menyerahkan uang pembayaran.
Pak Haji Ramlan adalah pemilik bangunan Toko yang gua tempati saat ini. Tak hanya toko ini saja, Counter ponsel di sebelah, Warung sembako di sebelahnya lagi, Bengkel sepeda motor di sebelahnya lagi dan Kios penjual Fried Chicken di ujung, juga merupakan miliknya.
Selain itu, ia juga punya puluhan kontrakan, pabrik genteng, konveksi dan puluhan toko kain di Cipadu, Cipulir juga Tanah Abang. Rumahnya yang besar dan megah berdiri nggak begitu jauh dari lokasi toko. Saking megah dan besar, bagian rooftop rumahnya bisa terlihat dari depan toko.
Akhir-akhir ini beliau sering mondar-mandir ke toko untuk membeli bahan kue. Konon, Anak bungsunya tengah melakukan riset untuk memproduksi kue kering.
“Ntar Rohman yang nganter yak Pak Haji…” Ucap gua sebelum Pak Haji Ramlan pergi.
“Iya…” Jawabnya.
Semakin siang, intensitas pelanggan yang datang semakin tinggi. Saking sibuknya, kadang kami sama sekali nggak punya kesempatan untuk duduk, apalagi saat harus jaga sendirian seperti sekarang ini, karena Rohman harus mengantar barang.
Gua melirik ke arah jam tangan yang menunjukkan pukul 12 siang lebih sedikit. Sebentar lagi Anggi selesai dari Daycare-nya, dan gua harus menjemputnya.
Sejatinya, ada dua pilihan saat gua mendaftarkan Anggi ke Daycare. Full day dan Half Day, Sesuai namanya; Full Day berarti si anak akan terus berada di Daycare sepanjang hari. Kebanyakan yang mengambil paket ini adalah para anak yang kedua orang tuanya sibuk bekerja, hingga tak ada waktu untuk mengasuh anak. Sementara, untuk yang Half Day, pengasuhan akan selesai setelah jam 1 siang. Seandainya, kita telat menjemput maka sisa waktu yang dihabiskan anak di daycare akan di charge di bulan berikutnya.
Gua jelas nggak mengambil opsi Full day. Buat apa? toh gua membuka usaha toko plastik agar bisa punya lebih banyak waktu untuk Anggi.
Rohman baru kembali ke toko begitu jam menunjukkan pukul setengah satu. Setelah memarkir sepeda motornya, Rohman nggak langsung masuk ke toko. Ia duduk di kursi kayu panjang di depan toko dan mulai merokok.
“Gua jemput Anggi dulu ya Man…” Ucap gua, sambil meraih topi dan bergegas pergi.
“Nggak pake motor?” Tanya Rohman.
“Nggak ah jalan aja…”
Lokasi Daycare tempat gua menitipkan Anggi nggak begitu jauh. Jika ditempuh lewat jalan utama, paling hanya menghabiskan waktu 5 menit dengan berjalan kaki. Kalau jalan mundur, ya mungkin bisa setengah jam.
Ada alternatif jalan lain, yaitu lewat jalan ‘ngampung’. Melalui gang kecil berliku yang tentu saja memakan waktu sedikit lebih lama. Dan, gua selalu memilih jalan ‘ngampung’ jika berjalan bersama dengan Anggi, karena relatif aman tanpa ada kendaraan yang ngebut.
Anggi terlihat sedang duduk di ujung perosotan saat gua tiba di Daycare. Seperti biasa, ia duduk sambil menatap teman-teman dijemput oleh ibunya. Gua berjalan mendekat, begitu menyadari kehadiran gua, Anggi lantas berdiri dan berteriak; “Papah..” kemudian berlari dan memeluk gua.
“Ayo bilang apa ke Miss Rina…” Bisik gua ke Anggi.
“Thank you, miss…” Ucapnya cadel.
“You’re welcome, take care Anggi” Balas Miss Rina, si pembimbing di Daycare.
Gua lantas melepas topi yang gua kenakan dan memasangkannya di kepala Anggi. Sinar matahari hari ini sedang terik, dan gua meninggalkan payung satu-satunya di rumah. Sambil membetulkan posisi topi gua yang menutupi hampir seluruh kepalanya, Anggi mulai bercerita tentang kejadian-kejadian di Daycare. Gua mendengarkannya dengan serius sambil sesekali memberi tanggapan, layaknya tengah ngobrol dengan orang dewasa.
Setibanya di Toko, gua mendudukan Anggi di kursi dan menyiapkan makan untuknya. Sejak ia bisa makan, gua sudah membiasakannya untuk makan sendiri. Banyak orang yang komplain tentang cara gua memberi makan Anggi. Ada yang bilang ‘Kalo anak kecil makan sendiri pasti berantakan’ ya, kalo berantakan tinggal di beresin, apa susahnya. Ada juga yang bilang ‘Kok tega anak kecil disuruh makan sendiri’ ya harus tega, biar dia terbiasa mandiri.
Gua meletakkan piring plastik berwarna pink yang berisi nasi, telur dadar dan sayur sop di atas meja. Menu favorit Anggi yang gua beli di warteg seberang jalan. Ia tersenyum kemudian mulai makan. Sementara gua memeriksa isi tas milik Anggi. Mengeluarkan kotak makan miliknya yang kini kosong lalu mencucinya.
Begitu Anggi selesai makan ia langsung bermain. Iya, Anggi banyak menghabiskan waktunya bermain di dalam toko. Kadang ia berkeliling rak barang, sambil berlagak menjadi seorang pelari atau duduk di meja kasir, berpura-pura melayani pelanggan. Toko ini merupakan wahana permainannya.
Biasanya setelah puas bermain dan kelelahan, ia akan berbaring di kasur kecil di belakang toko dengan botol susu di tangannya. Nggak butuh waktu lama buatnya untuk tidur begitu berbaring. Iya Pelor; Nempel langsung Molor.
Anggi bakal bangun saat hari menjelang sore. Setelah tidur, gua memberikannya kesempatan untuk bermain di luar toko. Biasanya, Galih, anak pemilik Konter Ponsel yang jadi teman bermainnya. Atau, ia akan ke belakang toko, tempat dimana banyak anak-anak seusianya menghabiskan sore dengan bermain bersama.
Selepas Maghrib, gua tengah duduk di kursi kayu depan toko, bersiap-siap untuk pulang sambil menunggu Rohman mengantarkan pesanan. Sementara, Anggi sibuk menonton acara kartun di televisi di dalam toko. Dari kejauhan terlihat mobil sedan hitam yang tadi pagi pengemudinya melempar uang ke arah gua. Ia berhenti tepat di depan toko, kali ini ia memarkir mobilnya dengan benar dan santun hingga nggak mengganggu kendaraan lain yang lewat.
Perempuan itu turun dari mobil dan berjalan mendekat. Sementara gua langsung bergegas masuk ke dalam, mengambil lembaran uang 100 ribuan lecek dari laci meja kasir untuk mengembalikan uang itu padanya.
“Jadi berapa yang tadi?” Tanyanya.
“Nggak usah…” Jawab gua seraya mengembalikan lembaran uang miliknya. Dengan cepat ia meraih lembaran uang tersebut dan menukarnya dengan selembar 10 ribuan.
Gua tersenyum, dan mengulang kembali ucapan sebelumnya; “Nggak usah mbak”
Ia menatap gua tajam, sebelum akhirnya memasukkan kembali lembaran uang tersebut ke dalam dompet. Tanpa kata, ia berbalik dan pergi menuju ke mobilnya. Gua menebak kalau perempuan tersebut bukan orang sembarangan, atau paling tidak anak orang kaya, terlihat dari mobil sedan yang ia kendarai; terlampau mewah untuk seorang pekerja kantoran biasa.
Sebelum pulang, gua menyempatkan diri untuk membeli ayam goreng dari kios di ujung bangunan untuk makan malam Anggi. Begitu Rohman kembali dari mengantar pesanan, gua lantas mengajak Anggi untuk pulang. Agak sulit memisahkan Anggi dengan acara kartun kesayangannya itu, hingga gua harus rela menunggu sampai acara tersebut selesai.
Gua menggendong Anggi di punggung sementara tangan kanan gua memegang tas dan plastik bungkusan berisi ayam goreng. Dengan Anggi di gendongan, gua melangkah menyusuri jalan tanpa trotoar. Sesekali gua merapat ke sisi jalan saat ada sorotan lampu mobil mendekat, takut keserempet. Gua sengaja memilih lewat sisi jalan utama agar bisa sampai di rumah lebih cepat.
Di kejauhan gua melihat sedan hitam berhenti di tepi jalan dengan kedua lampu hazard menyala dan bagasi belakang dibiarkan terbuka. Di sisi mobil terlihat, seorang perempuan tengah sibuk dengan ponselnya, perempuan yang sama dengan yang melempar uang ke arah gua, ia tengah menunduk dan memeriksa ban bagian depan sebelah kiri.
“Kenapa mbak?” Tanya gua, sementara Anggi menggeliat di punggung gua, penasaran dengan apa yang terjadi.
Perempuan itu lalu menoleh, lalu dengan cepat mengarahkan senter dari ponselnya ke arah gua. Sambil memicingkan mata dan mengangkat tangan karena silau.
“Nggak tau, tadi pas lagi jalan tiba-tiba kayak bocor gitu..” Jawabnya seraya menunjuk ke arah ban depan sebelah kiri dengan senter dari ponselnya.
“Perlu bantuan?” Tanya gua pelan. Perempuan tersebut nggak langsung menjawab. Ekspresi wajahnya menunjukkan rasa was was yang nggak bisa disembunyikan. Lumrah sih, seorang perempuan menyematkan kecurigaan kepada pria asing di pinggir jalan. Pun, kami sudah dua kali bertemu, sebagai pembeli dan penjual.
Ia menggelengkan kepalanya.
Gua mengangguk dan berlalu melewatinya, melanjutkan perjalanan dengan Anggi masih berada di gendongan gua menuju ke rumah.
Sesampainya dirumah, gua dan Anggi langsung makan malam. Setelah makan, Anggi langsung menuang kotak plastik besar berisi mainan dan mulai bermain sendiri. Sesekali, ia mencoba mengajak gua untuk bermain peran dengannya.
Lelah bermain, ia mendekat dan bicara; “Pah, susu…” Pintanya manja.
“Yaudah beresin mainannya, cuci kaki, sikat gigi terus masuk kamar, nanti papah bikinin susu…” Jawab gua.
Anggi lantas mulai menuruti permintaan gua, memunguti satu persatu mainan yang berserakan ke dalam kotak plastik besar. Lalu berlari menuju ke kamar mandi untuk sikat gigi dan mencuci kakinya.
Setelah membuat susu dan menemani Anggi tidur, gua keluar menuju teras, duduk di kursi bambu dan mulai merokok. Sesekali gua mengecek email melalui ponsel dan beberapa pesan masuk yang perlu untuk segera gua respon.
Gua meraih bungkus rokok yang kini kosong. ‘Yah..’

Diubah oleh robotpintar 01-09-2023 09:23
introfetish dan 244 lainnya memberi reputasi
241
348K
Kutip
2.3K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
robotpintar
#477
#45 - I Could Not Ask For More
Spoiler for #45 - I Could Not Ask For More:

Malamnya, menjelang tidur, gua mulai bicara ke Jeje perkara permintaan Reni. Jeje hanya terdiam, duduk membelakangi gua di tepi ranjang, menatap keluar melalui tirai jendela. Ia begitu menyayangi Reni, mungkin melebihi rasa sayang terhadap dirinya sendiri. Gua tau ia pasti berat untuk melepas Reni yang harus tinggal sendirian di Jakarta. Di kota yang liar, yang keras dan asing baginya.
“Je…”Gua memanggil namanya. Jeje masih bergeming. Nggak menggubris panggilan gua, Ia lalu berdiri, keluar dari kamar menuju ke Kamar Reni. Gua mengikutinya dari belakang.
“Ren..” Panggil Jeje seraya mengetuk pintu kamar.
Reni membuka pintu kamar.
“Ya..”
“Lo bener mau ngelanjutin sekolah di Jakarta?” Tanya Jeje, nggak pake basa-basi.
“Iya, boleh nggak bang?” Reni gantian bicara.
“Duduk..” Ucap Jeje seraya menunjuk ke arah kursi meja makan. Mereka berdua lalu duduk di kursi meja makan, sementara gua mulai membuat kopi untuk Jeje. Terdengar, Jeje bicara, memberi penjelasan dan pengertian ke Reni. Namun, semua itu nggak ada artinya saat di akhir kalimat Jeje bilang; “Begitu lo sampe disana, langsung ke rumah Rohman. Terus telpon abang...”
“Jadi boleh bang?” Tanya Reni mencoba menahan senyum.
“Boleh…” Jeje menjawab pelan.
“Inget ya Ren, nggak ada satupun cowok yang boleh masuk ke dalam rumah tanpa abang tau…”
“Iya bang.. Reni mah aman masalah gitu-gituan” Jawab Reni sambil tersenyum dan mengerlingkan mata ke arah gua; memberi sindiran.
—
Kini hanya tinggal gua dan Jeje. Menjalani hidup indah nan berbahagia di rumah mungil dengan segala kenyamanan di dalamnya.
Apalagi sekarang gua sudah mulai bekerja sebagai konsultan, yang bayarannya terbilang lumayan untuk ditabung dan pekerjaannya bisa dilakukan dari rumah. Ya paling gua harus pergi ke kantor dua sampai tiga kali dalam seminggu.
Sementara, Jeje kini semakin tenggelam dalam kesibukannya. Ada kalanya gua harus tinggal sendirian, karena Jeje nggak pulang untuk pergi ke Toronto atau ke London untuk bekerja. Sementara hari liburnya ia gunakan untuk belajar atau ke kampus, menyelesaikan program S2 nya.
Seperti yang sudah gua bilang sebelumnya, kalau Jeje bekerja di sebuah perusahaan Venture Capital. Tugasnya menganalisa plan dan proses bisnis sebuah perusahaan rintisan sebelum pengajuan investasi disetujui. Ia khusus menangani perusahaan rintisan yang berasal dari Asia Tenggara, Indonesia, Singapore dan Thailand khususnya. Di tangannya lah keputusan perusahaan rintisan kecil bisa berhasil mendapat investasi atau malah gagal.
Sebelum mendapat investasi para perusahaan rintisan biasanya harus melengkapi dokumen untuk urusan legalitas. Setelahnya, mereka diwajibkan menyertakan plan atau strategi bisnis selama satu hingga dua tahun kedepan dan laporan keuangan lengkap dari bisnis yang sudah berjalan sebelumnya. Nantinya, Jeje akan melakukan analisa mendalam terhadap plan atau strategi bisnis tersebut. Jika dirasa masih memungkinkan, ia akan memberikan feedback untuk mereka revisi dan diajukan kembali setelah masa tenggang.
Untuk itu, Jeje banyak mendapat tawaran ilegal dari para pemilik perusahaan rintisan yang ingin investasinya disetujui tanpa melalui tahap yang jujur. Dan bukan Jeje namanya kalau ia menerima tawaran tersebut.
Tapi nggak semua perusahaan rintisan berlaku ‘nakal’ seperti itu. Banyak juga yang penuh kejujuran dan tanggung jawab, mereka bahkan menghubungi Jeje secara pribadi hanya untuk meminta feedback atau konsultasi sebelum mereka mengirim plan bisnis. Salah satunya, perempuan blasteran bernama Rossi.
“Ini siapa?” Tanya gua saat melihat kontak baru di ponselnya. Menunjuk ke arah display picture pada kontak yang menampilkan foto wanita cantik dengan rambut hitam sebahu.
“Mana?” Respon Jeje seraya melihat ke arah layar ponsel.
“...”
“... Oh Itu kan ada namanya” Tambahnya.
“Iya, tapi gue nggak nanya namanya. Yang gue tanya kenapa ada panggilan masuk dari dia ke elo tengah malam kemarin?” Tanya gua lagi.
“Klien. Calon klien dari Jakarta.. Mungkin dia nelpon pas jam kerja disana” Jawabnya.
“Bener klien?”
“Ya lo pikir siapa?”
“Jangan macem-macem ya Je..”
“Yaelah Ce.. emang siapa sih yang mau sama cowok kayak gua. Rendah banget seleranya”
“Gue mau sama lo, selera gue rendah dong”
“Iya… Hehe..”
“Jangan bercanda, gue serius nih”
“Iya gua juga serius. Lusa mau ketemuan sama dia” Ucapnya, menggoda.
“Yaudah gue ikut”
“Mau ngapain ikut segala?”
“Nggak ngapa-ngapain, gue ikut aja..”
“Lo takut gua nanti genit?”
“Nggak. Gue takut dia yang nanti genit” Ucap gua ketus seraya menunjuk ke arah layar ponsel Jeje yang masih menampilkan display picture bernama ‘Rossi’.
Nyatanya, memang kecurigaan gua nggak beralasan. Gua dan Jeje bertemu dengannya di sebuah restoran seafood di Halifax. Rossi tampak ramah dan ternyata ia datang bersama dengan ayahnya yang juga merupakan salah satu pemilik modal di perusahaan rintisan yang tengah ia coba kembangkan.
“Waah, your wife?” Tanya Rossi seraya menunjuk ke arah gua setelah kami berkenalan.
“Iya..”
“Cantiknya…” Rossi memberi pujian seraya tersenyum ke arah gua.
“Thank you lho..”
Mereka bertiga lalu terlibat perbincangan seputar bisnis, dengan menyingkirkan semua piring berisi makanan dengan laptop yang terbuka. Jeje menunjuk dan menjelaskan grafik yang tampil pada layar laptop ke Rossi dan ayahnya. Sementara, gua kembali jatuh cinta dengan sosok pria di sebelah gua. Jatuh cinta dengan caranya bicara, jatuh cinta dengan sikapnya dan jatuh cinta dengan rasa tanggung jawabnya.
Urusan pekerjaan Jeje memang sudah jaminan lancar, tapi tidak dengan gua. Sebagai konsultan, gua dituntut untuk selalu pasang senyum dan ramah, entah kepada klien ataupun ke pihak internal perusahaan. Dan sepertinya, gua memang nggak dibekali kesabaran oleh tuhan. Acap kali gua terlibat perdebatan dengan pihak internal perusahaan yang nggak mau menerima input dari gua tanpa alasan yang jelas.
Ujung-ujungnya, gua jadi uring-uringan, galau dan stress. Beberapa kali Jeje mendapati gua tengah berteriak sambil berdebat saat meeting melalui sambungan video conference. Selesai meeting, ia mendekat, meletakkan tangan tepat dikepala gua dan mulai membelainya. Ia sama sekali nggak menyalahkan gua, sama sekali nggak menyudutkan gua atas pilihan yang sebelumnya kami debatkan.
Padahal jika mau, Jeje bisa saja bilang; ‘Tuh kan, apa gua bilang. Jangan kerja’.
Ia lalu mendekatkan kepalanya di sisi telinga gua dan berbisik; “Sabar…”
“Sabar gimana! tuh orang emang kepalanya isi cendol, masa hal simple aja harus dikasih tau berkali-kali..” Seru gua ke Jeje, yang selalu jadi ‘bantalan’ saat gua kesal.
Hal semacam itu, terjadi berulang-ulang. Akibatnya, gua jadi banyak pikiran, stres dan gampang sakit.
Saat kunjungan terakhir kami ke rumah sakit, dokter mendiagnosa ginjal gua sudah akut dan proses cuci darah nggak bakal banyak membantu. Akhirnya, kami memutuskan untuk mendaftarkan diri pada program transplantasi ginjal yang disarankan oleh pihak rumah sakit. Walaupun menunggu untuk waktu yang tak terbatas, Jeje tetap menghadapi semuanya dengan positif.
“Tenang aja Ce, pasti dapet kok…”
“Kalo nggak dapet gimana?”
“Kan masih ada ginjal gua..” Ucapnya pelan sambil tersenyum.
“Jangan Je…” Jawab gua sambil menggeleng. Bagaimana mungkin gua setega itu kepadanya. Ia sudah mengorbankan banyak hal untuk gua, dan gua nggak mau lagi ia semakin terbebani kalau harus mendonorkan ginjalnya untuk gua.
Tapi, bukan Jeje namanya kalau ia melepaskan beban.
Tanpa sepengetahuan gua, Jeje ternyata memasukan namanya ke daftar pendonor ginjal. That’s why ia sering bolak-balik ke rumah sakit tanpa gua, dengan alasan mengurus administrasi untuk antrian transplantasi ginjal. Nyatanya, ia melakukan berbagai tes, untuk mendapatkan kecocokan ginjalnya dengan tubuh penerima donor; tubuh gua.
Berita baik datang saat gua menerima email dan panggilan dari rumah sakit yang memberitahu bahwa donor ginjal untuk gua sudah siap.
Hingga menjelang operasi, Jeje terus menyembunyikan fakta bahwa dialah pemilik ginjal yang akan dipindahkan ke gua.
“Lho, elo kok pake baju pasien? Jangan bilang kalau…” Tanya gua saat melihatnya mengenakan baju rumah sakit begitu gua tengah bersiap masuk ke ruang operasi. Jeje nggak menjawab, ia hanya tersenyum.
Senyumnya menyiratkan semuanya. Barulah gua tersadar kalau Jeje akan memberikan satu ginjalnya ke gua. Secepat kilat, gua mencoba melepas selang infus dan bersiap untuk bangun. Namun, beberapa perawat mencegah gua. Sementara efek obat bius mulai terasa, perlahan rasa kantuk luar biasa menyerang gua, lalu semuanya gelap.
—
Gua tersadar saat rasa sakit terasa pada bagian pinggang sebelah kiri. Ruang perawatan dengan dinding berwarna putih dan bunyi monitor pemantau saturasi oksigen menyambut gua. Gua berdehem sebentar, merasakan rasa kering di tenggorokan.
Seorang perawat masuk dengan menggunakan baju APD lengkap dengan masker dan penutup kepala. Ia mulai memeriksa denyut nadi dan beberapa angka pada monitor dan mencatatnya.
“Do you feel thirsty maam?” Tanya si perawat.
“Ya..” Gua menjawab lirih.
“Can you hold it for a little bit?”
“Ya, but why?” Gua balik bertanya.
Si perawat lalu menjelaskan kalau gua masih dalam tahap pemantauan pasca operasi. Saat ini dokter tengah memantau kondisi ginjal baru gua. Apakah ada penolakan atau tidak, saat proses ini gua dilarang sama sekali mengkonsumsi apapun, termasuk air putih.
Setelah hampir dua jam, barulah seorang perawat yang berbeda, masih dengan menggunakan APD lengkap masuk ke dalam ruangan dan memberikan gua segelas air putih melalui sedotan. Nggak lama berselang, dokter yang mengoperasi gua masuk ke dalam ruangan, ia lalu menjelaskan kalau gua masih harus menjalani perawatan intensif dan akan dipindahkan ke ruangan lain.
Hampir tiga hari gua menjalani perawatan intensif tanpa ada satu orang pun yang boleh mengunjungi gua secara langsung. Katanya, mencegah penularan virus dan bakteri dari luar, karena kondisi tubuh dan imun gua yang masih lemah.
Barulah setelah hari kelima, Dokter memperbolehkan gua untuk menerima kunjungan. Menurut dokter kondisi gua sudah sangat baik. Ginjal baru gua juga mulai bekerja dengan normal dan tubuh gua menerimanya dengan baik.
Pintu ruangan terbuka, Jeje muncul dari ambang pintu dan melangkah masuk dengan perlahan. Gua menatapnya dengan mata berkaca-kaca, lalu memukulnya begitu ia berada di dekat gua.
Lami kami saling terdiam. Gua jelas marah kepadanya, karena ia sama sekali nggak menggubris permintaan gua yang mencegahnya melakukan donor.
Jeje lalu membelai kepala, menyentuh hidung dan bibir gua dengan ujung jarinya. Rasa marah perlahan mulai menghilang, berganti dengan kekaguman luar biasa pada dirinya.
“Elo kenapa nggak bilang-bilang sih” Ucap gua.
“Kalo gua bilang lo pasti nggak bakal setuju”
“Sakit nggak Je?” Tanya gua.
“Mmm, kan dibius ya, jadi nggak terasa sih. Sakit dikit pas abis operasi, pas biusnya ilang” Jawab Jeje. Ia lalu mengangkat ujung kaosnya, menunjukkan perban berukuran besar di pinggang hingga sisi perutnya.
“Gue masih nggak percaya lho, kita sekarang berbagi ginjal.. Berarti lo juga harus jaga kesehatan ya Je. Sekarang kan ginjal lo tinggal satu…” Ucap gua.
“Haha, iya tenang aja..”
“Tenang gimana, lo selama ini ngerokok kan?” Tanya gua dengan tatapan curiga.
“Kok tau?” Ia balik bertanya, tak nampak ekspresi takut di wajahnya, ia hanya tersenyum.
“Gue sering liat bungkus rokok di tas lo” Jawab gua ketus. Kerap kali gua mendapati bungkus rokok dan korek api di dalam tas milik Jeje. Gua pribadi sih nggak masalah kalau ia merokok. Tapi dengan kondisinya saat ini, sepertinya merokok bukan pilihan yang bijak.
Hampir satu bulan gua menghabiskan hari di rumah sakit. Setiap dua hari sekali, Jeje datang menjenguk. Di sini, di Kanada, rumah sakit punya aturan dimana para penunggu dilarang untuk menemani pasien, kecuali pada jam besuk. Jadi, nggak ada tuh orang yang tidur di dalam kamar pasien saat malam hari. Para pasien datang ke rumah sakit untuk berobat, untuk beristirahat. Ada kalanya penunggu pasien bukannya menemani, malah bikin si pasien nggak bisa beristirahat dengan tenang.
Setelah kurang lebih sebulan menjalani perawatan dan terapi. Gua akhirnya diperbolehkan untuk pulang. Jeje mengerlingkan matanya saat gua bertanya tentang biaya yang ia habiskan untuk rumah sakit.
“Abis berapa Je semua?” Tanya gua saat kami berada di mobil dalam perjalanan pulang ke rumah.
“Nggak ngitungin…” Jawabnya singkat.
“Bon, struk, sama bukti pembayaran masih ada semua kan?” Tanya gua lagi.
“Ada di rumah…”
“Rumah berantakan nggak?”
“Ya nggak dong”
“Gue kangen tidur kasur kita, tidur di kasur rumah sakit nggak enak banget…” Ucap gua seraya meregangkan tubuh dengan meregangkan tangan.
“Kangen sama kasurnya, apa kangen tidur sama gua nya?” Tanya Jeje, seraya melirik ke arah gua.
“Dua-duanya sih…” Jawab gua sok manja.
“...”
“... Oiya, besok anterin gue ke kantor ya Je.. Kemaren belum sempet ngabarin ke Desi..” Gua menambahkan.
“Udah.. Udah gua kabarin. Dan kerjaan lo juga udah gua handle…”
“Hah!?”
Ternyata tanpa sepengetahuan gua, Jeje menggantikan posisi gua sebagai konsultan di tempat gua bekerja.
“Gila lo ya! bisa mati kecapean lo ntar…” Gua menambahkan.
“Nggak, kan yang kerjaan konsultan nggak mesti ke kantor…” Jawabnya santai.
“Iya, sebelumnya ginjal lo dua. Sekarang kan tinggal satu..”
“Gapapa, masih bisa kok…”
“Ah.. elo mah. Nanti gue ngomong deh sama Desi…”
“Nggak perlu. Gua udah terlanjur sign kontrak…”
“Ih… batalin. Batalin aja..”
“Nggak bisa Ce… Gua terminate kontrak bisa kena pinalti. Itu aja mereka udah berbaik hati, nggak sue elo karena wanprestasi gara-gara elo berobat nggak ngasih kabar”
“Hhhh…” Gua menghela nafas panjang. Nggak habis pikir dengan dirinya; kok bisa-bisanya ada orang kerja di tiga tempat sekaligus.
“Udah nggak usah khawatir, tenang aja… Gua bakal jaga kesehatan kok” Ucap Jeje, mencoba menenangkan gua.
“Iya, tapi kalo kecapean lo bilang ya…”
Ia menoleh dan berpaling menatap ke arah gua sambil bicara pelan; “Iya Ce..”
—
Beberapa hari berselang, disela-sela kesibukannya bekerja. Jeje menyempatkan diri mengajak gua untuk makan diluar. Setelah makan, kami berjalan santai, mengelilingi sudut kota sambil sesekali bernostalgia di masa saat pertama kali kami datang ke kota ini.
Dengan hembusan angin semilir yang membuai wajah dan bikin mengantuk, dengan cahaya matahari sore yang cukup menyilaukan, dan guguran daun maple yang terbang kesana kemari seperti tanpa tujuan, kami berjalan bergandengan tangan.
Hingga gua menghentikan langkah tepat di depan sebuah bangunan kecil dengan jendela kaca besar bertuliskan Tattoo studio. “Bikin tato yuk Je…”
“Ngawur… Tato kan nggak bisa dihapus” Jawabnya dengan nada serius.
“Kecil aja Je…” Rayu gua seraya memeluknya.
“Nggak ah..”
“Yaah, ayolah Je…”
“Emang mau buat tato apaan?” Tanyanya
“Inisial kita; A sama J, kayak logo payung je…”
“Dimana?”
“Ini disini…” Jawab gua sambil menunjuk ke arah Studio tato di depan kami.
“Bukan, maksud gua, mau di tato di bagian mana?” Tanyanya lagi.
“Gue sih rencananya disini…” Jawab gua seraya menunjuk ke punggung tangan, posisi antara ibu jari dan jari telunjuk.
“Kenapa disitu?”
“Biar selalu keliatan…”
“Yaudah elo aja, gua ogah..”
“Yaah..”
Nyatanya, saat kami sudah berada di dalam studio tato, Jeje yang ikut menemani gua lebih banyak mengajukan pertanyaan ke si tato artis. Dan ujung-ujungnya, ia menyerah; sebuah tato dengan gambar yang sama akhirnya bersanding di tubuhnya. Berbeda dengan gua, ia membuat tato di bagian punggung, tepat pada pangkal tengkuknya. Sementara, tato milik gua hanya berbentuk inisial huruf A dan J yang menyerupai payung. Tato milik Jeje, terlihat lebih kompleks, dengan inisial huruf A dan J yang dikelilingi oleh nyala api.
I Could Not Ask For More - Edwin McCain
Lying here with you
Listening to the rain
Smiling just to see the smile upon your face
These are the moments I thank God that I'm alive
These are the moments I'll remember all my life
I found all I've waited for
And I could not ask for more
Looking in your eyes
Seeing all I need
Everything you are is everything to me
These are the moments
I know heaven must exist
These are the moments I know all I need is this
I have all I've waited for
And I could not ask for more
I could not ask for more than this time together
I could not ask for more than this time with you
Every prayer has been answered
Every dream I have's come true
And right here in this moment is right where I'm meant to be
Here with you here with me
These are the moments I thank God that I'm alive
These are the moments I'll remember all my life
I've got all I've waited for
And I could not ask for more
I could not ask for more than the love you give me
'Coz it's all I've waited for
And I could not ask for more
I could not ask for more
Diubah oleh robotpintar 19-04-2023 21:26
medina12 dan 61 lainnya memberi reputasi
62
Kutip
Balas
Tutup