- Beranda
- Stories from the Heart
KELOPAK BUNGA ANGGREK
...
TS
beavermoon
KELOPAK BUNGA ANGGREK

Halo semuanya.
Beavermoon kembali hadir dengan cerita terbaru, dan kali ini kita akan mengusung tema detektif.
Kenapa tema detektif? Karena sebenarnya cerita ini berawal dari cerita pendek yang dibuat untuk perlombaan. Berhubung terbatasnya jumlah kata saat itu, akhirnya dibuatlah versi lengkapnya yang baru selesai beberapa bulan lalu.
Kenapa tidak buat cerita romantis lagi? Kehabisan ide, atau bisa dibilang butuh waktu untuk mengistirahatkan diri dari romansa-romansa yang sudah semakin banyak.
Apa tidak akan membuat cerita romantis lagi? Masih dalam pembuatan.
Jika ada dari suhu-suhu sekalian yang belum sempat membaca karya-karya Beavermoon sebelumnya, bisa langsung ke TKP :
Semoga suhu-suhu terhibur dengan cerita tema detektif perdana dari Beavermoon.
Salam Lemon.
Spoiler for Ringkasan:
Kasus pembunuhan kembali terjadi setelah sekian lama. Ali dan Damar, yang bekerja sebagai detektif pun mulai memecahkan kasus yang ada. Sayangnya, belum selesai dengan satu kasus, muncul kasus lain yang semakin memperkeruh keadaan.
Teringat akan satu kasus beberapa tahun silam, dimana sang pembunuh memiliki pola yang terstruktur hingga sulit untuk dipecahkan. Ali dan Damar menjadikan laporan kasus itu sebagai alat bantu untuk mencari, siapa pembunuh yang kembali beraksi. Dugaan demi dugaan terus bermunculan, mulai dari orang yang belum pernah mereka temui, hingga orang-orang terdekat.
Lalu, siapakah pembunuh kali ini?
Spoiler for Episode:
1. Kasus Lama yang Terulang. (Part 1)
2. Kasus Lama yang Terulang. (Part 2)
3. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 1)
4. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 2)
5. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 1)
6. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 2)
7. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 1)
8. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 2)
9. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 1)
10. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 2)
11. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 1)
12. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 2)
13. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 1)
14. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 2)
15. Kebetulan? (Part 1)
16. Kebetulan? (Part 2)
17. Semakin Dekat? (Part 1)
18. Semakin Dekat? (Part 2)
19. Hilangnya Penunjuk Arah.
20. Lembaran Baru dengan Cerita yang Sama.
21. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 1)(FINALE)
22. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 2) (FINALE)
2. Kasus Lama yang Terulang. (Part 2)
3. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 1)
4. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 2)
5. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 1)
6. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 2)
7. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 1)
8. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 2)
9. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 1)
10. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 2)
11. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 1)
12. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 2)
13. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 1)
14. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 2)
15. Kebetulan? (Part 1)
16. Kebetulan? (Part 2)
17. Semakin Dekat? (Part 1)
18. Semakin Dekat? (Part 2)
19. Hilangnya Penunjuk Arah.
20. Lembaran Baru dengan Cerita yang Sama.
21. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 1)(FINALE)
22. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 2) (FINALE)
Diubah oleh beavermoon 20-05-2023 18:38
sukhhoi dan 2 lainnya memberi reputasi
3
3.4K
Kutip
35
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#8
Spoiler for 7. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 1):
Pagi pun tiba, sinar matahari berhasil menembus gorden yang sedikit terbuka di kamar Ali dan juga Anggi. Secara perlahan, Anggi membuka matanya. Beberapa saat ia terdiam, sampai akhirnya ia bangun dan duduk bersandar menatap Ali yang masih terpejam. Tangannya pun mengusap pipi Ali secara perlahan, mata Ali pun perlahan terbuka.
Beberapa kedipan mata ia lakukan dengan pelan, sampai akhirnya ia menyadari tangan Anggi yang sedang mengusap pipinya. Ali tersenyum begitu saja, ia pun ikut duduk dan bersandar.
“Selamat pagi.” Sapa Ali.
“Selamat pagi...” Anggi mencium pipi Ali, “kamu mau sarapan apa pagi ini?”
“Kamu mau bikin apa?” Tanya Ali.
“Telur mata sapi dan sosis?” Jawab Anggi.
“Aku minta dua.” Pinta Ali.
Anggi mengangguk seraya tersenyum, ia pun meninggalkan kasur terlebih dahulu menuju kamar mandi. Ali merentangkan tangannya ke atas, ia pun juga ikut bangun dari atas kasur.
Ali beranjak menuju meja, ia meraih ponsel untuk melihat pesan dan pemberitahuan. Banyak berita yang membahas tentang kasus pembunuhan kemarin, ia tak menemukan berita lain. Ali kembali meletakkan ponselnya di atas meja bersamaan dengan Anggi yang keluar dari kamar mandi.
“Kamu sikat gigi dulu.” Ucap Anggi.
Ali mengangguk sambil berjalan mendekat ke arahnya, ia sempat mencium pipi Anggi sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Ali mengambil sikat giginya yang bergagang biru, ia menaruh pasta gigi lalu mulai menyikat giginya. Setelah selesai, Ali membasuh wajahnya dengan air. Ia meraih handuk yang ada di samping untuk mengusap wajahnya yang basah. Ali pun keluar dari kamar mandi lalu turun ke lantai bawah.
Setibanya di bawah, ia menuju dapur di mana Anggi sedang menyiapkan sarapan untuk mereka. Ali memeluk Anggi dari belakang hingga sedikit membuatnya terkejut.
“Astaga, kamu bikin kaget aja.” Ucapnya.
Ali tak menanggapi ucapannya, ia sengaja diam membiarkan Anggi melanjutkan apa yang sedang ia lakukan. Anggi pun memecahkan tiga telur di atas wajan berisi minyak panas, kemudian ia memasukkan juga tiga sosis ke dalam wajan tersebut.
“Kamu mau minum kopi?” Tanya Ali.
“Boleh deh, biar siaran nanti ngga ngantuk.” Jawab Anggi.
Ali kembali mencium pipi Anggi sebelum ia berlalu menuju mesin kopi. Ia menyalakan mesin itu lalu memasukkan dua kapsul berisi bubuk kopi ke dalamnya. Ali mengambil dua cangkir lalu ia letakkan di bawah mesin. Kopi pun keluar mengisi cangkir secara perlahan hingga berhenti secara otomatis.
Ali membuang kapsul yang sudah digunakan ke dalam tempat sampah, ia membawa cangkir tersebut ke meja makan bersamaan dengan Anggi yang membawa dua piring berisi menu sarapan yang sudah ia buat. Mereka pun duduk berhadapan dan minum kopi secara perlahan.
“Kamu siaran tentang kasus kemarin?” Tanya Ali.
Anggi mengangguk, “Pasti sih, ngga mungkin bahas berita lain, kecuali ada yang lebih menggemparkan dari kasus kemarin. Narasumbernya juga polisi yang kemarin datang pertama kali.”
“Pak Agung maksud kamu?” Tanya Ali.
“Iya Pak Agung, aku lupa namanya siapa. Dia kan Kepala Kepolisan Sektor di tempat kejadian, jadinya dia narasumberku hari ini.” Jawab Anggi.
“Ada narasumber lain?” Tanya Ali lanjut.
“Dokter forensik belum ngasih konfirmasi bisa dateng apa ngga, katanya sih dia masih otopsi korban kemarin. Jadi, kemungkinan dia jadi narasumber sedikit kecil.” Jelas Anggi.
Ali menganggukan kepala seraya menyantap makanannya.
“Kamu sendiri gimana? Hari ini mau ngapain?” Tanya Anggi.
“Aku mau ke Rumah Sakit, siapa tau ada informasi baru. Mungkin juga aku mau ke lokasi kejadian sama Damar, aku takut ada yang kelewatan pas investigasi kemarin.” Jawab Ali.
“Semisal ngga ada yang kelewat?” Tanya Anggi.
“Aku ngga tau harus gimana...”
Anggi menatap Ali serius.
“...berarti akan buntu lagi kayak kasus sebelumnya. Aku cuma bisa pasrah, dan berharap ada kejadian berikutnya dengan petunjuk.” Jelas Ali.
“Kamu yang sabar ya...” Anggi mengusap tangan Ali, “pasti akan ada petunjuk secara ngga langsung. Sepintar-pintarnya pelaku, dia pasti punya kelalaian.”
“Aku harap demikian.” Sahut Ali.
Mereka saling melempar senyum kemudian melanjutkan sarapan pagi. Ali sempat mencuri pandang ke arah Anggi dalam diam, ia sempat menghela nafasnya sesaat.
“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.” Ucap Ali.
Anggi menatap Ali bingung, “Soal apa?”
“Soal... anak...”
Anggi sempat menghela nafasnya.
“...bentar, kamu dengerin aku dulu. Aku tau kalau kamu emang fokus dengan karir, tapi kita ngga boleh lupa kalau kita harus jadi orang tua. Aku pun cerita ke Damar soal ini, dan dia ngasih aku saran untuk adopsi anak.” Ucap Ali.
“Adopsi anak?” Tanya Anggi.
Ali mengangguk, “Itu bisa jadi salah satu pilihan, dan setelah aku pikir-pikir, itu bisa jadi pilihan terbaik saat ini. Kita bisa pergi ke yayasan dan mengadopsi salah satu anak dari sana.”
Anggi menghela nafas, “Kamu bisa kasih aku waktu untuk jawab itu semua? Aku ngga mau terburu-buru sekalipun itu bisa jadi salah satu pilihan.”
Ali mengangguk seraya tersenyum, mereka kembali melanjutkan makan di pagi hari ini. Beberapa saat berlalu, Anggi turun dari lantai atas sudah dengan pakaian kerjanya, dari belakang menyusul Ali yang juga sudah siap. Mereka berjalan menuju halaman rumah, Ali pun mengunci pintu.
“Kamu hati-hati ya.” Ucap Anggi.
“Kamu juga...” Ali mencium bibir Anggi, “titip salam buat Pak Agung nanti, jangan lupa kabarin kalau udah di sana.”
Anggi mengangguk seraya tersenyum, kemudian ia berlalu menuju mobilnya. Ali berjalan mendekat seraya Anggi membuka kaca jendela mobilnya. Ia pun melambaikan tangan lalu mengendarai mobil menuju kantornya. Ali pun masuk ke dalam mobil lalu bergerak menuju rumah Damar.
Setibanya di depan rumah Damar, ia membunyikan klakson satu kali. Tak membutuhkan waktu lama bagi Damar dan Sasa keluar dari dalam rumah. Damar menyempatkan diri untuk mencium bibir Sasa lalu berjalan mendekat ke arah Ali. Damar membuka pintu lalu masuk ke dalam.
“Berangkat.” Ucap Damar singkat.
Ali sempat melambaikan tangan kepada Sasa yang juga dibalas olehnya, kemudian mobil pun pergi menjauh bersama dengan beberapa kendaraan lain.
“Ke tempat kejadian atau Rumah Sakit?” Tanya Ali.
“Balai Kota dulu deh, gue masih ngga percaya kalau ngga ada barang bukti buat jadi petunjuk. Dokter Kania juga belum ngasih kabar soal hasil otopsi.” Jawab Damar.
“Setuju, kita ke sana.” Sahut Ali.
Mobil pun melaju pada pagi hari ini. Tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di Balai Kota. Ali dan Damar berjalan mendekat ke arah garis pembatas yang dijaga oleh beberapa pihak kepolisian dan keamanan. Ali dan Damar menunjukkan identitas, mereka pun dipersilahkan untuk melewati garis pembatas menuju tempat kejadian.
Pintu sudah terbuka sejak kemarin, mereka masuk dan melihat seisi ruangan. Damar mengeluarkan sarung tangan karet yang ia bawa, ia memberikan sepasang kepada Ali untuk dikenakan.
“Coba lo cek sudut sana...”
Ali sedang mengenakan sarung tangan tersebut.
“...gue periksa yang di sana.” Ucap Damar.
Ali menganggukkan kepalanya, lalu mereka berpencar sesuai dengan arahan sebelumnya. Ali melihat ke arah lokasi di mana korban berada, ada garis yang digambar oleh tim forensik dengan kapur berwarna. Kemudian ia melihat ke arah plafon dan ventilasi.
Di sisi lain, Damar memeriksa meja yang ada di sudut ruangan. Ia beralih menuju sisi bawah meja, secara teliti ia memeriksa apakah ada sesuatu yang dapat membantu. Tanpa adanya hasil, Damar pun beralih menuju cermin berdiri yang ada di dekat meja. Ia melihat ke arah sisi belakang cermin dan menemukan plastik yang ditempelkan dengan perekat.
“Li...”
Ali melihat lalu mendekat ke arahnya, bersamaan dengan Damar yang mengambil plastik tersebut.
“...ada di balik cermin.” Ucap Damar.
“Belakang cermin? Kemarin ngga ada apa-apa.” Sahutnya.
“Serius lo?” Tanya Damar heran.
“Serius, bahkan tim forensik yang periksa duluan baru gue.” Jawabnya.
Damar menatap ke arah plastik yang ia pegang dengan penuh curiga. Dengan penuh pertanyaan, ia pun membuka plastik tersebut. Ada sebuah surat terlipat di dalamnya, beserta bunga anggrek seperti petunjuk sebelumnya. Damar pun membuka surat tersebut.
“Apa yang kamu lihat mungkin terlewatkan.”
Mereka berpikir keras untuk menangkap apa yang dimaksud dari tulisan tersebut. Damar memberikan surat itu kepada Ali, lalu ia kembali memeriksa bagian belakang cermin.
“Apa maksudnya?” Tanya Ali.
Damar berpindah menuju bagian depan cermin, ia dapat melihat refleksi dirinya dengan sangat jelas beradu tatap. Damar menyadari akan satu hal yang baru ia temukan.
“Posisi cermin ini ngga berubah kan?” Tanya Damar.
“Ngga ada yang berubah sama sekali.” Jawab Ali.
Cermin berdiri ini disanggah oleh sebuah besi kecil di belakangnya, posisinya sedikit menatap ke arah atas. Ketika Damar sedang bercermin, ia dapat melihat keseluruhan tubuhnya, begitu juga dengan satu bagian plafon di ruangan ini. Damar membalikkan badannya, lalu menatap ke arah plafon yang terlihat di cermin.
“Ada tangga ngga?” Tanya Damar.
“Tangga? Buat apa?” Tanya Ali.
Damar mendekat ke arah satu bagian plafon diikuti Ali.
“Coba periksa plafon yang ini.” Ucap Damar.
“Naik ke atas gue.” Sahut Ali.
Ali berjongkok di depan Damar. Secara postur tubuh, Ali memang lebih besar. Damar naik ke pundak Ali kemudian Ali pun berdiri. Damar merentangkan tangannya dan berhasil mengangkat satu bagian plafon yang bisa terbuka.
Seutas benang yang tersangkut di plafon pun terjuntai ke bawah dengan plastik yang terikat pada ujung benang. Damar menarik benang hingga terlepas dari plafon, kemudian ia kembali menutup plafon tersebut seperti keadaan semula.
“Turunin gue Li.” Ucap Damar.
Ali kembali berjongkok, lalu Damar turun dari pundaknya. Damar pun menunjukkan apa yang ada di genggamanya, Ali pun meraih plastik tersebut lalu menatap ke arah Damar.
“Dari plafon?” Tanya Ali.
Damar menganggukkan kepalanya, Ali pun menatap plastik itu lalu membukanya. Ada sebuah sobekan foto yang menampilkan foto korban di sebuah lokasi entah di mana. Korban terlihat tersenyum di dalam foto, persis dengan bagaimana ia tersenyum paksa saat ditemukan.
“Ada pundak orang lain...”
Ada pundak yang sedikit terlihat di tepian sobekan foto itu.
“...apa mungkin sesama model?” Tanya Damar.
“Terlalu luas, bisa jadi sesama model, bisa jadi orang belakang panggung, keluarga, saudara, dan masih banyak kemungkinan lain...”
Ali memasukkan sobekan foto itu ke dalam plastik dan memasukannya ke dalam saku celananya.
“...Kita simpan dulu, jangan sampai ada pihak lain yang tau.” Ucapnya.
Damar menganggukkan kepalanya pertanda setuju, mereka pun keluar dari ruangan dengan menunjukkan ekspresi yang biasa saja. Mereka berjalan keluar dari gedung pertemuan untuk kembali masuk ke dalam mobil Ali.
“Mau kita apain barang itu?” Tanya Damar.
“Kita cari tau latar belakang korban, mungkin kita bisa nemuin siapa aja yang deket sama dia. Beruntung kalau kita bisa lihat foto versi aslinya.” Jawab Ali.
“Oke gue setuju, tapi kita ke Rumah Sakit dulu.” Ucap Damar.
Mobil pun melaju menuju Rumah Sakit. Setibanya di sana, mereka tidak melihat kerumunan wartawan seperti hari lalu. Hanya terlihat beberapa wartawan saja yang sedang duduk berkumpul di halaman depan. Ali dan Damar pun berjalan dengan santai menuju ruang otopsi.
“Permisi...”
Ali dan Damar menengok ke arah belakang.
“...selamat pagi Pak, apa ada kabar terbaru mengenai kasus pembunuhan kemarin?” Tanya Talia.
“Belum ada, kami masih menunggu hasil otopsi oleh dokter forensik. Kami pun juga belum menemukan adanya petunjuk yang mendekatkan kami kepada pelaku.” Jawab Damar.
“Talia, kok ngga banyak wartawan hari ini? Biasanya kalau ada kasus macam ini, beberapa hari ke depan akan ramai terus.” Tanya Ali.
“Oh, barusan ada pergerakan demonstran menuju Istana terkait kebijakan yang hari ini diterbitkan. Permasalahannya bukan hanya golongan mahasiswa aja yang turun, melainkan ada pekerja-pekerja juga.” Jawab Talia.
“Oh iya? Kebijakan apa sampai harus didemo?” Tanya Ali.
“Biasa Pak, kenaikan harga minyak.” Jawabnya.
“Serius kamu? Bukannya tahun lalu baru naik ya?” Tanya Damar.
“Itu dia yang jadi pokok permasalahan demonstran Pak. Ada apa dengan pemerintah sampai harus menaikkan harga minyak setiap tahunnya.” Jawab Talia lagi.
“Bahaya kalau tiap tahun naik terus...”
Ali dan Damar berhenti di depan ruangan otopsi.
“...kami masuk dulu, nanti kalau ada kabar segera kami hubungi kembali.” Ucap Damar.
“Baik, terima kasih Pak.” Sahut Talia.
Ali dan Damar masuk ke dalam ruang otopsi yang masih dijaga oleh pihak keamanan. Mereka pun mendekat ke arah Kania yang sedang memeriksa bagian kepala korban. Kania menyadari kedatangan mereka dengan melempar senyum, Ali memberikan isyarat untuk tetap melakukan apa yang sedang Kania kerjakan.
Mereka beranjak menuju sebuah meja yang menyimpan benda-benda yang berasal dari tubuh korban, seperti benang, bunga anggrek, dan plat besi.
“Gimana caranya dia masang plat besi ya?” Tanya Ali.
“Setuju sih, itu kan butuh waktu lama.” Sahut Damar.
“Selain waktu lama, alat dan bahannya juga besar. Seenggaknya ketahuan lah apa yang dia bawa.” Lanjut Ali.
“Mungkin ngga sih itu semua dari belakang panggung?” Tanya Damar.
"Bisa jadi sih, ada panggung juga ya.” Ucap Ali.
Mereka kembali menatap Kania yang sudah menyelesaikan pekerjaannya, ia pun berjalan mendekat ke arah mereka seraya membawa minuman kaleng untuk diberikan kepada mereka.
“Terima kasih dok.” Ucap Damar.
“Gimana hasil pemeriksaannya dok?” Tanya Ali.
“Tidak ada racun di dalam tubuh yang menyebabkan gagal fungsi organ. Bagian kepala pun hancur karena besi yang ditancapkan dengan paksa, sementara bagian kaki menjadi bagian terakhir yang dikerjakan.” Jelas Kania.
“Semisal ngga ada racun dan organ ginjalnya hilang, apa ada kemungkinan kalau ginjalnya bisa dipergunakan lagi dok?” Tanya Damar.
“Jika yang dimaksud adalah donor ginjal, ada kemungkinan bisa dilakukan. Namun prosedurnya pun akan cukup sulit jika dilakukan tanpa alat yang memadai dan ilmu yang cukup.” Jawab Kania.
“Apa mungkin ginjalnya dikonsumsi oleh pelaku?” Tanya Damar.
“Ih, kok serem sih.” Keluh Kania.
“Cuma kanibal yang bisa kayak gitu.” Sahut Ali.
“Ngomong-ngomong, Pak Agung kok ngga sama kalian?” Tanya Kania.
“Oh, dia lagi jadi narasumber di LTV.” Jawab Ali.
“Acaranya Anggi?” Tanya Damar.
Ali mengangguk seraya tersenyum.
“Anggi LTV? Kamu kenal sama dia?” Tanya Kania.
“Dia istri saya dok.” Jawab Ali.
“Serius? Wah keren banget. Eh, gimana kita nonton dulu di sebelah sambil nunggu hasil lab keluar?” Ajak Kania.
“Boleh dok.” Jawab Damar.
Mereka pun beranjak menuju koridor. Kania menyalakan televisi dan mencari saluran LTV, sementara Ali dan Damar sudah duduk di kursi panjang.
“Nah ini dia...” Kania ikut duduk, “kayaknya baru mulai.”
“Selamat pagi pemirsa, kembali lagi bersama saya Anggi Mahardika dalam acara Usut Tuntas. Kemarin, ada sebuah peristiwa di mana ditemukan korban pembunuhan dengan kondisi yang mengenaskan. Penemuan korban di belakang panggung acara peragaan busana di Balai Kota membuat kita semua bertanya-tanya, bagaimana bisa semua itu terjadi dikeramaian? Untuk itu, saya mengundang Kepala Kepolisian Sektor 1A, Komisaris Polisi Agung Setiabudi. Selamat pagi Pak Agung.” Ucap Anggi.
“Selamat pagi Mba Anggi.” Sapanya.
“Saya langsung to the point aja ya Pak. Apakah sudah ada barang bukti yang menjadi petunjuk untuk kasus ini?” Tanya Anggi.
“Baik. Untuk saat ini, kami dari pihak kepolisian, dibantu pihak detektif dan juga dokter forensik, masih memeriksa tempat kejadian dan juga kondisi korban. Mungkin dalam beberapa jam ke depan, akan ada pengumuman mengenai informasi yang ditemukan.” Jawabnya.
“Bagaimana dengan CCTV tempat kejadian?” Tanya Anggi.
“CCTV hanya merekam bagian depan Balai Kota dan juga dalam ruangan, sementara CCTV yang ada di belakang panggung tidak berfungsi dengan baik.” Jelas Agung.
“Apakah CCTV rusak sejak lama?” Tanya Anggi.
“Menurut pihak keamanan dari Balai Kota, belakang panggung menjadi salah satu tempat yang kurang mendapatkan perhatian untuk perawatan. Alhasil, ketika saat genting seperti ini, CCTV tidak bisa bekerja dengan semestinya.” Jawabnya.
“Bukankah pihak keamanan juga memantau CCTV di ruangan terbatas? Apa ada permainan dengan pihak keamanan Balai Kota juga?” Tanya Anggi.
“Sampai saat ini, anggota saya masih memeriksa beberapa orang dari pihak keamanan mengenai tugas yang mereka lakukan. Jika memang ada pelanggaran, kami bisa menindak tegas pihak tersebut dan juga Balai Kota itu sendiri.” Jawab Agung.
“Baik. Lalu apakah ada hubungannya korban kemarin dengan korban beberapa waktu lalu yang ditemukan di selokan? Apakah dilakukan oleh pelaku yang sama?” Tanya Anggi.
“Pihak detektif masih menggali informasi terkait kabar yang beredar. Segera akan kami umumkan hasil pencarian.” Jawab Agung.
“Aneh juga ya...”
Ucapan Kania mendapatkan perhatian Ali dan Damar.
“...masa iya CCTV bisa ngga berfungsi gitu aja? Karena CCTV di Rumah Sakit ini pun tergolong lama dan berfungsi dengan baik-baik aja.” Ucap Kania.
“Kayaknya udah jadi rahasia umum kalau orang-orang Balai Kota tuh ngga ada yang beres kerjanya.” Sahut Damar.
“Setuju, apalagi soal prasarana kecil kayak CCTV. Pasti ngga diurusin lah sama mereka.” Ucap Ali.
Kania menghela nafas, “Eh iya, ngomong-ngomong kalian ada temuan baru dari tempat kejadian atau petunjuk lain dari kasus ini?”
“Kami masih cari sih dok.” Jawab Ali.
“Permisi dok...”
Seorang dokter lain mendekat ke arah mereka.
“...saya mau ngasih hasil lab.” Ucapnya.
Kania menerima laporan tersebut, “Oh iya, makasih ya.”
Mereka pun berpindah kembali ke ruang otopsi. Kania membuka amplop berisi laporan yang menunjukkan hasil laboratorium. Setelah selesai, ia memberikan laporan itu kepada Ali.
“Hasil lab juga menunjukkan kalau korban tidak punya riwayat penyakit, dan kemungkinan seorang kanibal mengonsumsi ginjalnya menjadi makin besar.” Ucap Kania.
“Jenis benangnya beda dok?” Tanya Ali.
“Benang yang digunakan ternyata berbeda, ada kandungan yang berbeda meskipun terlihat sama antara benang ini dengan benang pada kejadian lalu.” Jelas Kania.
Damar meliaht ke arah meja.
“Saya boleh pinjam benang itu dok? Kami tau ke mana harus bertanya mengenai benang itu.” Ucap Damar.
Kania menganggukkan kepala, Damar pun memasukkan benang di dalam plastik itu ke dalam saku celananya. Mereka pun pamit lalu keluar dari ruang otopsi menuju parkiran.
“Kabarin Pak Candra kalau kita mau ke sana.” Ucap Damar.
Sambil berjalan, Ali menghubungi Candra bahwa mereka akan mampir ke sana.
“Oke, kita ke sana.” Jawabnya.
“Pak...”
Mereka menoleh dengan tetap berjalan.
“...saya boleh ikut ya Pak.” Ucap Talia.
Damar sempat menoleh ke arah Ali seraya mengangkat kedua alisnya. Ali pun membalikan badannya seraya berjalan mundur untuk melihat kondisi yang ada di belakangnya. Mereka tiba di mobil, Ali pun membuka pintu belakang.
“Masuk cepetan.” Ucapnya.
Talia masuk dengan cepat ke kursi belakang, Ali pun menutup pintu lalu menghampiri Damar yang masih berdiri di depan mobil.
“Lo yakin mau ajak dia?” Tanya Damar.
“Nggapapa lah Mar, dia dari LTV juga tempatnya Anggi.” Jawabnya.
Damar menghela nafasnya, mereka pun akhirnya masuk ke dalam mobil dan bergegas menuju toko jahit milik Candra.
Ali menghentikan mobilnya setelah tiba di toko jahit Candra. Damar menatap ke arah belakang di mana Talia duduk.
“Kamu cuma bisa rekam suara, ngga ada rekam video. Semisal ada pertanyaan, sampaikan dulu ke kita, biar kita yang aja yang nanya.” Ucap Damar.
“Siap Pak.” Jawab Talia.
Mereka keluar dari mobil dan mendekat ke dalam toko. Candra sedang menggunting kain panjang berwarna biru mengkilap, ia pun menyadari kedatangan mereka.
“Masuk dulu...”
Mereka pun masuk ke dalam.
“...saya gunting ini sebentar ya.” Ucapnya.
“Silahkan Pak.” Sahut Damar.
Beberapa kedipan mata ia lakukan dengan pelan, sampai akhirnya ia menyadari tangan Anggi yang sedang mengusap pipinya. Ali tersenyum begitu saja, ia pun ikut duduk dan bersandar.
“Selamat pagi.” Sapa Ali.
“Selamat pagi...” Anggi mencium pipi Ali, “kamu mau sarapan apa pagi ini?”
“Kamu mau bikin apa?” Tanya Ali.
“Telur mata sapi dan sosis?” Jawab Anggi.
“Aku minta dua.” Pinta Ali.
Anggi mengangguk seraya tersenyum, ia pun meninggalkan kasur terlebih dahulu menuju kamar mandi. Ali merentangkan tangannya ke atas, ia pun juga ikut bangun dari atas kasur.
Ali beranjak menuju meja, ia meraih ponsel untuk melihat pesan dan pemberitahuan. Banyak berita yang membahas tentang kasus pembunuhan kemarin, ia tak menemukan berita lain. Ali kembali meletakkan ponselnya di atas meja bersamaan dengan Anggi yang keluar dari kamar mandi.
“Kamu sikat gigi dulu.” Ucap Anggi.
Ali mengangguk sambil berjalan mendekat ke arahnya, ia sempat mencium pipi Anggi sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Ali mengambil sikat giginya yang bergagang biru, ia menaruh pasta gigi lalu mulai menyikat giginya. Setelah selesai, Ali membasuh wajahnya dengan air. Ia meraih handuk yang ada di samping untuk mengusap wajahnya yang basah. Ali pun keluar dari kamar mandi lalu turun ke lantai bawah.
Setibanya di bawah, ia menuju dapur di mana Anggi sedang menyiapkan sarapan untuk mereka. Ali memeluk Anggi dari belakang hingga sedikit membuatnya terkejut.
“Astaga, kamu bikin kaget aja.” Ucapnya.
Ali tak menanggapi ucapannya, ia sengaja diam membiarkan Anggi melanjutkan apa yang sedang ia lakukan. Anggi pun memecahkan tiga telur di atas wajan berisi minyak panas, kemudian ia memasukkan juga tiga sosis ke dalam wajan tersebut.
“Kamu mau minum kopi?” Tanya Ali.
“Boleh deh, biar siaran nanti ngga ngantuk.” Jawab Anggi.
Ali kembali mencium pipi Anggi sebelum ia berlalu menuju mesin kopi. Ia menyalakan mesin itu lalu memasukkan dua kapsul berisi bubuk kopi ke dalamnya. Ali mengambil dua cangkir lalu ia letakkan di bawah mesin. Kopi pun keluar mengisi cangkir secara perlahan hingga berhenti secara otomatis.
Ali membuang kapsul yang sudah digunakan ke dalam tempat sampah, ia membawa cangkir tersebut ke meja makan bersamaan dengan Anggi yang membawa dua piring berisi menu sarapan yang sudah ia buat. Mereka pun duduk berhadapan dan minum kopi secara perlahan.
“Kamu siaran tentang kasus kemarin?” Tanya Ali.
Anggi mengangguk, “Pasti sih, ngga mungkin bahas berita lain, kecuali ada yang lebih menggemparkan dari kasus kemarin. Narasumbernya juga polisi yang kemarin datang pertama kali.”
“Pak Agung maksud kamu?” Tanya Ali.
“Iya Pak Agung, aku lupa namanya siapa. Dia kan Kepala Kepolisan Sektor di tempat kejadian, jadinya dia narasumberku hari ini.” Jawab Anggi.
“Ada narasumber lain?” Tanya Ali lanjut.
“Dokter forensik belum ngasih konfirmasi bisa dateng apa ngga, katanya sih dia masih otopsi korban kemarin. Jadi, kemungkinan dia jadi narasumber sedikit kecil.” Jelas Anggi.
Ali menganggukan kepala seraya menyantap makanannya.
“Kamu sendiri gimana? Hari ini mau ngapain?” Tanya Anggi.
“Aku mau ke Rumah Sakit, siapa tau ada informasi baru. Mungkin juga aku mau ke lokasi kejadian sama Damar, aku takut ada yang kelewatan pas investigasi kemarin.” Jawab Ali.
“Semisal ngga ada yang kelewat?” Tanya Anggi.
“Aku ngga tau harus gimana...”
Anggi menatap Ali serius.
“...berarti akan buntu lagi kayak kasus sebelumnya. Aku cuma bisa pasrah, dan berharap ada kejadian berikutnya dengan petunjuk.” Jelas Ali.
“Kamu yang sabar ya...” Anggi mengusap tangan Ali, “pasti akan ada petunjuk secara ngga langsung. Sepintar-pintarnya pelaku, dia pasti punya kelalaian.”
“Aku harap demikian.” Sahut Ali.
Mereka saling melempar senyum kemudian melanjutkan sarapan pagi. Ali sempat mencuri pandang ke arah Anggi dalam diam, ia sempat menghela nafasnya sesaat.
“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.” Ucap Ali.
Anggi menatap Ali bingung, “Soal apa?”
“Soal... anak...”
Anggi sempat menghela nafasnya.
“...bentar, kamu dengerin aku dulu. Aku tau kalau kamu emang fokus dengan karir, tapi kita ngga boleh lupa kalau kita harus jadi orang tua. Aku pun cerita ke Damar soal ini, dan dia ngasih aku saran untuk adopsi anak.” Ucap Ali.
“Adopsi anak?” Tanya Anggi.
Ali mengangguk, “Itu bisa jadi salah satu pilihan, dan setelah aku pikir-pikir, itu bisa jadi pilihan terbaik saat ini. Kita bisa pergi ke yayasan dan mengadopsi salah satu anak dari sana.”
Anggi menghela nafas, “Kamu bisa kasih aku waktu untuk jawab itu semua? Aku ngga mau terburu-buru sekalipun itu bisa jadi salah satu pilihan.”
Ali mengangguk seraya tersenyum, mereka kembali melanjutkan makan di pagi hari ini. Beberapa saat berlalu, Anggi turun dari lantai atas sudah dengan pakaian kerjanya, dari belakang menyusul Ali yang juga sudah siap. Mereka berjalan menuju halaman rumah, Ali pun mengunci pintu.
“Kamu hati-hati ya.” Ucap Anggi.
“Kamu juga...” Ali mencium bibir Anggi, “titip salam buat Pak Agung nanti, jangan lupa kabarin kalau udah di sana.”
Anggi mengangguk seraya tersenyum, kemudian ia berlalu menuju mobilnya. Ali berjalan mendekat seraya Anggi membuka kaca jendela mobilnya. Ia pun melambaikan tangan lalu mengendarai mobil menuju kantornya. Ali pun masuk ke dalam mobil lalu bergerak menuju rumah Damar.
Setibanya di depan rumah Damar, ia membunyikan klakson satu kali. Tak membutuhkan waktu lama bagi Damar dan Sasa keluar dari dalam rumah. Damar menyempatkan diri untuk mencium bibir Sasa lalu berjalan mendekat ke arah Ali. Damar membuka pintu lalu masuk ke dalam.
“Berangkat.” Ucap Damar singkat.
Ali sempat melambaikan tangan kepada Sasa yang juga dibalas olehnya, kemudian mobil pun pergi menjauh bersama dengan beberapa kendaraan lain.
“Ke tempat kejadian atau Rumah Sakit?” Tanya Ali.
“Balai Kota dulu deh, gue masih ngga percaya kalau ngga ada barang bukti buat jadi petunjuk. Dokter Kania juga belum ngasih kabar soal hasil otopsi.” Jawab Damar.
“Setuju, kita ke sana.” Sahut Ali.
Mobil pun melaju pada pagi hari ini. Tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di Balai Kota. Ali dan Damar berjalan mendekat ke arah garis pembatas yang dijaga oleh beberapa pihak kepolisian dan keamanan. Ali dan Damar menunjukkan identitas, mereka pun dipersilahkan untuk melewati garis pembatas menuju tempat kejadian.
Pintu sudah terbuka sejak kemarin, mereka masuk dan melihat seisi ruangan. Damar mengeluarkan sarung tangan karet yang ia bawa, ia memberikan sepasang kepada Ali untuk dikenakan.
“Coba lo cek sudut sana...”
Ali sedang mengenakan sarung tangan tersebut.
“...gue periksa yang di sana.” Ucap Damar.
Ali menganggukkan kepalanya, lalu mereka berpencar sesuai dengan arahan sebelumnya. Ali melihat ke arah lokasi di mana korban berada, ada garis yang digambar oleh tim forensik dengan kapur berwarna. Kemudian ia melihat ke arah plafon dan ventilasi.
Di sisi lain, Damar memeriksa meja yang ada di sudut ruangan. Ia beralih menuju sisi bawah meja, secara teliti ia memeriksa apakah ada sesuatu yang dapat membantu. Tanpa adanya hasil, Damar pun beralih menuju cermin berdiri yang ada di dekat meja. Ia melihat ke arah sisi belakang cermin dan menemukan plastik yang ditempelkan dengan perekat.
“Li...”
Ali melihat lalu mendekat ke arahnya, bersamaan dengan Damar yang mengambil plastik tersebut.
“...ada di balik cermin.” Ucap Damar.
“Belakang cermin? Kemarin ngga ada apa-apa.” Sahutnya.
“Serius lo?” Tanya Damar heran.
“Serius, bahkan tim forensik yang periksa duluan baru gue.” Jawabnya.
Damar menatap ke arah plastik yang ia pegang dengan penuh curiga. Dengan penuh pertanyaan, ia pun membuka plastik tersebut. Ada sebuah surat terlipat di dalamnya, beserta bunga anggrek seperti petunjuk sebelumnya. Damar pun membuka surat tersebut.
“Apa yang kamu lihat mungkin terlewatkan.”
Mereka berpikir keras untuk menangkap apa yang dimaksud dari tulisan tersebut. Damar memberikan surat itu kepada Ali, lalu ia kembali memeriksa bagian belakang cermin.
“Apa maksudnya?” Tanya Ali.
Damar berpindah menuju bagian depan cermin, ia dapat melihat refleksi dirinya dengan sangat jelas beradu tatap. Damar menyadari akan satu hal yang baru ia temukan.
“Posisi cermin ini ngga berubah kan?” Tanya Damar.
“Ngga ada yang berubah sama sekali.” Jawab Ali.
Cermin berdiri ini disanggah oleh sebuah besi kecil di belakangnya, posisinya sedikit menatap ke arah atas. Ketika Damar sedang bercermin, ia dapat melihat keseluruhan tubuhnya, begitu juga dengan satu bagian plafon di ruangan ini. Damar membalikkan badannya, lalu menatap ke arah plafon yang terlihat di cermin.
“Ada tangga ngga?” Tanya Damar.
“Tangga? Buat apa?” Tanya Ali.
Damar mendekat ke arah satu bagian plafon diikuti Ali.
“Coba periksa plafon yang ini.” Ucap Damar.
“Naik ke atas gue.” Sahut Ali.
Ali berjongkok di depan Damar. Secara postur tubuh, Ali memang lebih besar. Damar naik ke pundak Ali kemudian Ali pun berdiri. Damar merentangkan tangannya dan berhasil mengangkat satu bagian plafon yang bisa terbuka.
Seutas benang yang tersangkut di plafon pun terjuntai ke bawah dengan plastik yang terikat pada ujung benang. Damar menarik benang hingga terlepas dari plafon, kemudian ia kembali menutup plafon tersebut seperti keadaan semula.
“Turunin gue Li.” Ucap Damar.
Ali kembali berjongkok, lalu Damar turun dari pundaknya. Damar pun menunjukkan apa yang ada di genggamanya, Ali pun meraih plastik tersebut lalu menatap ke arah Damar.
“Dari plafon?” Tanya Ali.
Damar menganggukkan kepalanya, Ali pun menatap plastik itu lalu membukanya. Ada sebuah sobekan foto yang menampilkan foto korban di sebuah lokasi entah di mana. Korban terlihat tersenyum di dalam foto, persis dengan bagaimana ia tersenyum paksa saat ditemukan.
“Ada pundak orang lain...”
Ada pundak yang sedikit terlihat di tepian sobekan foto itu.
“...apa mungkin sesama model?” Tanya Damar.
“Terlalu luas, bisa jadi sesama model, bisa jadi orang belakang panggung, keluarga, saudara, dan masih banyak kemungkinan lain...”
Ali memasukkan sobekan foto itu ke dalam plastik dan memasukannya ke dalam saku celananya.
“...Kita simpan dulu, jangan sampai ada pihak lain yang tau.” Ucapnya.
Damar menganggukkan kepalanya pertanda setuju, mereka pun keluar dari ruangan dengan menunjukkan ekspresi yang biasa saja. Mereka berjalan keluar dari gedung pertemuan untuk kembali masuk ke dalam mobil Ali.
“Mau kita apain barang itu?” Tanya Damar.
“Kita cari tau latar belakang korban, mungkin kita bisa nemuin siapa aja yang deket sama dia. Beruntung kalau kita bisa lihat foto versi aslinya.” Jawab Ali.
“Oke gue setuju, tapi kita ke Rumah Sakit dulu.” Ucap Damar.
Mobil pun melaju menuju Rumah Sakit. Setibanya di sana, mereka tidak melihat kerumunan wartawan seperti hari lalu. Hanya terlihat beberapa wartawan saja yang sedang duduk berkumpul di halaman depan. Ali dan Damar pun berjalan dengan santai menuju ruang otopsi.
“Permisi...”
Ali dan Damar menengok ke arah belakang.
“...selamat pagi Pak, apa ada kabar terbaru mengenai kasus pembunuhan kemarin?” Tanya Talia.
“Belum ada, kami masih menunggu hasil otopsi oleh dokter forensik. Kami pun juga belum menemukan adanya petunjuk yang mendekatkan kami kepada pelaku.” Jawab Damar.
“Talia, kok ngga banyak wartawan hari ini? Biasanya kalau ada kasus macam ini, beberapa hari ke depan akan ramai terus.” Tanya Ali.
“Oh, barusan ada pergerakan demonstran menuju Istana terkait kebijakan yang hari ini diterbitkan. Permasalahannya bukan hanya golongan mahasiswa aja yang turun, melainkan ada pekerja-pekerja juga.” Jawab Talia.
“Oh iya? Kebijakan apa sampai harus didemo?” Tanya Ali.
“Biasa Pak, kenaikan harga minyak.” Jawabnya.
“Serius kamu? Bukannya tahun lalu baru naik ya?” Tanya Damar.
“Itu dia yang jadi pokok permasalahan demonstran Pak. Ada apa dengan pemerintah sampai harus menaikkan harga minyak setiap tahunnya.” Jawab Talia lagi.
“Bahaya kalau tiap tahun naik terus...”
Ali dan Damar berhenti di depan ruangan otopsi.
“...kami masuk dulu, nanti kalau ada kabar segera kami hubungi kembali.” Ucap Damar.
“Baik, terima kasih Pak.” Sahut Talia.
Ali dan Damar masuk ke dalam ruang otopsi yang masih dijaga oleh pihak keamanan. Mereka pun mendekat ke arah Kania yang sedang memeriksa bagian kepala korban. Kania menyadari kedatangan mereka dengan melempar senyum, Ali memberikan isyarat untuk tetap melakukan apa yang sedang Kania kerjakan.
Mereka beranjak menuju sebuah meja yang menyimpan benda-benda yang berasal dari tubuh korban, seperti benang, bunga anggrek, dan plat besi.
“Gimana caranya dia masang plat besi ya?” Tanya Ali.
“Setuju sih, itu kan butuh waktu lama.” Sahut Damar.
“Selain waktu lama, alat dan bahannya juga besar. Seenggaknya ketahuan lah apa yang dia bawa.” Lanjut Ali.
“Mungkin ngga sih itu semua dari belakang panggung?” Tanya Damar.
"Bisa jadi sih, ada panggung juga ya.” Ucap Ali.
Mereka kembali menatap Kania yang sudah menyelesaikan pekerjaannya, ia pun berjalan mendekat ke arah mereka seraya membawa minuman kaleng untuk diberikan kepada mereka.
“Terima kasih dok.” Ucap Damar.
“Gimana hasil pemeriksaannya dok?” Tanya Ali.
“Tidak ada racun di dalam tubuh yang menyebabkan gagal fungsi organ. Bagian kepala pun hancur karena besi yang ditancapkan dengan paksa, sementara bagian kaki menjadi bagian terakhir yang dikerjakan.” Jelas Kania.
“Semisal ngga ada racun dan organ ginjalnya hilang, apa ada kemungkinan kalau ginjalnya bisa dipergunakan lagi dok?” Tanya Damar.
“Jika yang dimaksud adalah donor ginjal, ada kemungkinan bisa dilakukan. Namun prosedurnya pun akan cukup sulit jika dilakukan tanpa alat yang memadai dan ilmu yang cukup.” Jawab Kania.
“Apa mungkin ginjalnya dikonsumsi oleh pelaku?” Tanya Damar.
“Ih, kok serem sih.” Keluh Kania.
“Cuma kanibal yang bisa kayak gitu.” Sahut Ali.
“Ngomong-ngomong, Pak Agung kok ngga sama kalian?” Tanya Kania.
“Oh, dia lagi jadi narasumber di LTV.” Jawab Ali.
“Acaranya Anggi?” Tanya Damar.
Ali mengangguk seraya tersenyum.
“Anggi LTV? Kamu kenal sama dia?” Tanya Kania.
“Dia istri saya dok.” Jawab Ali.
“Serius? Wah keren banget. Eh, gimana kita nonton dulu di sebelah sambil nunggu hasil lab keluar?” Ajak Kania.
“Boleh dok.” Jawab Damar.
Mereka pun beranjak menuju koridor. Kania menyalakan televisi dan mencari saluran LTV, sementara Ali dan Damar sudah duduk di kursi panjang.
“Nah ini dia...” Kania ikut duduk, “kayaknya baru mulai.”
“Selamat pagi pemirsa, kembali lagi bersama saya Anggi Mahardika dalam acara Usut Tuntas. Kemarin, ada sebuah peristiwa di mana ditemukan korban pembunuhan dengan kondisi yang mengenaskan. Penemuan korban di belakang panggung acara peragaan busana di Balai Kota membuat kita semua bertanya-tanya, bagaimana bisa semua itu terjadi dikeramaian? Untuk itu, saya mengundang Kepala Kepolisian Sektor 1A, Komisaris Polisi Agung Setiabudi. Selamat pagi Pak Agung.” Ucap Anggi.
“Selamat pagi Mba Anggi.” Sapanya.
“Saya langsung to the point aja ya Pak. Apakah sudah ada barang bukti yang menjadi petunjuk untuk kasus ini?” Tanya Anggi.
“Baik. Untuk saat ini, kami dari pihak kepolisian, dibantu pihak detektif dan juga dokter forensik, masih memeriksa tempat kejadian dan juga kondisi korban. Mungkin dalam beberapa jam ke depan, akan ada pengumuman mengenai informasi yang ditemukan.” Jawabnya.
“Bagaimana dengan CCTV tempat kejadian?” Tanya Anggi.
“CCTV hanya merekam bagian depan Balai Kota dan juga dalam ruangan, sementara CCTV yang ada di belakang panggung tidak berfungsi dengan baik.” Jelas Agung.
“Apakah CCTV rusak sejak lama?” Tanya Anggi.
“Menurut pihak keamanan dari Balai Kota, belakang panggung menjadi salah satu tempat yang kurang mendapatkan perhatian untuk perawatan. Alhasil, ketika saat genting seperti ini, CCTV tidak bisa bekerja dengan semestinya.” Jawabnya.
“Bukankah pihak keamanan juga memantau CCTV di ruangan terbatas? Apa ada permainan dengan pihak keamanan Balai Kota juga?” Tanya Anggi.
“Sampai saat ini, anggota saya masih memeriksa beberapa orang dari pihak keamanan mengenai tugas yang mereka lakukan. Jika memang ada pelanggaran, kami bisa menindak tegas pihak tersebut dan juga Balai Kota itu sendiri.” Jawab Agung.
“Baik. Lalu apakah ada hubungannya korban kemarin dengan korban beberapa waktu lalu yang ditemukan di selokan? Apakah dilakukan oleh pelaku yang sama?” Tanya Anggi.
“Pihak detektif masih menggali informasi terkait kabar yang beredar. Segera akan kami umumkan hasil pencarian.” Jawab Agung.
“Aneh juga ya...”
Ucapan Kania mendapatkan perhatian Ali dan Damar.
“...masa iya CCTV bisa ngga berfungsi gitu aja? Karena CCTV di Rumah Sakit ini pun tergolong lama dan berfungsi dengan baik-baik aja.” Ucap Kania.
“Kayaknya udah jadi rahasia umum kalau orang-orang Balai Kota tuh ngga ada yang beres kerjanya.” Sahut Damar.
“Setuju, apalagi soal prasarana kecil kayak CCTV. Pasti ngga diurusin lah sama mereka.” Ucap Ali.
Kania menghela nafas, “Eh iya, ngomong-ngomong kalian ada temuan baru dari tempat kejadian atau petunjuk lain dari kasus ini?”
“Kami masih cari sih dok.” Jawab Ali.
“Permisi dok...”
Seorang dokter lain mendekat ke arah mereka.
“...saya mau ngasih hasil lab.” Ucapnya.
Kania menerima laporan tersebut, “Oh iya, makasih ya.”
Mereka pun berpindah kembali ke ruang otopsi. Kania membuka amplop berisi laporan yang menunjukkan hasil laboratorium. Setelah selesai, ia memberikan laporan itu kepada Ali.
“Hasil lab juga menunjukkan kalau korban tidak punya riwayat penyakit, dan kemungkinan seorang kanibal mengonsumsi ginjalnya menjadi makin besar.” Ucap Kania.
“Jenis benangnya beda dok?” Tanya Ali.
“Benang yang digunakan ternyata berbeda, ada kandungan yang berbeda meskipun terlihat sama antara benang ini dengan benang pada kejadian lalu.” Jelas Kania.
Damar meliaht ke arah meja.
“Saya boleh pinjam benang itu dok? Kami tau ke mana harus bertanya mengenai benang itu.” Ucap Damar.
Kania menganggukkan kepala, Damar pun memasukkan benang di dalam plastik itu ke dalam saku celananya. Mereka pun pamit lalu keluar dari ruang otopsi menuju parkiran.
“Kabarin Pak Candra kalau kita mau ke sana.” Ucap Damar.
Sambil berjalan, Ali menghubungi Candra bahwa mereka akan mampir ke sana.
“Oke, kita ke sana.” Jawabnya.
“Pak...”
Mereka menoleh dengan tetap berjalan.
“...saya boleh ikut ya Pak.” Ucap Talia.
Damar sempat menoleh ke arah Ali seraya mengangkat kedua alisnya. Ali pun membalikan badannya seraya berjalan mundur untuk melihat kondisi yang ada di belakangnya. Mereka tiba di mobil, Ali pun membuka pintu belakang.
“Masuk cepetan.” Ucapnya.
Talia masuk dengan cepat ke kursi belakang, Ali pun menutup pintu lalu menghampiri Damar yang masih berdiri di depan mobil.
“Lo yakin mau ajak dia?” Tanya Damar.
“Nggapapa lah Mar, dia dari LTV juga tempatnya Anggi.” Jawabnya.
Damar menghela nafasnya, mereka pun akhirnya masuk ke dalam mobil dan bergegas menuju toko jahit milik Candra.
Ali menghentikan mobilnya setelah tiba di toko jahit Candra. Damar menatap ke arah belakang di mana Talia duduk.
“Kamu cuma bisa rekam suara, ngga ada rekam video. Semisal ada pertanyaan, sampaikan dulu ke kita, biar kita yang aja yang nanya.” Ucap Damar.
“Siap Pak.” Jawab Talia.
Mereka keluar dari mobil dan mendekat ke dalam toko. Candra sedang menggunting kain panjang berwarna biru mengkilap, ia pun menyadari kedatangan mereka.
“Masuk dulu...”
Mereka pun masuk ke dalam.
“...saya gunting ini sebentar ya.” Ucapnya.
“Silahkan Pak.” Sahut Damar.
0
Kutip
Balas