- Beranda
- Stories from the Heart
KELOPAK BUNGA ANGGREK
...
TS
beavermoon
KELOPAK BUNGA ANGGREK

Halo semuanya.
Beavermoon kembali hadir dengan cerita terbaru, dan kali ini kita akan mengusung tema detektif.
Kenapa tema detektif? Karena sebenarnya cerita ini berawal dari cerita pendek yang dibuat untuk perlombaan. Berhubung terbatasnya jumlah kata saat itu, akhirnya dibuatlah versi lengkapnya yang baru selesai beberapa bulan lalu.
Kenapa tidak buat cerita romantis lagi? Kehabisan ide, atau bisa dibilang butuh waktu untuk mengistirahatkan diri dari romansa-romansa yang sudah semakin banyak.
Apa tidak akan membuat cerita romantis lagi? Masih dalam pembuatan.
Jika ada dari suhu-suhu sekalian yang belum sempat membaca karya-karya Beavermoon sebelumnya, bisa langsung ke TKP :
Semoga suhu-suhu terhibur dengan cerita tema detektif perdana dari Beavermoon.
Salam Lemon.
Spoiler for Ringkasan:
Kasus pembunuhan kembali terjadi setelah sekian lama. Ali dan Damar, yang bekerja sebagai detektif pun mulai memecahkan kasus yang ada. Sayangnya, belum selesai dengan satu kasus, muncul kasus lain yang semakin memperkeruh keadaan.
Teringat akan satu kasus beberapa tahun silam, dimana sang pembunuh memiliki pola yang terstruktur hingga sulit untuk dipecahkan. Ali dan Damar menjadikan laporan kasus itu sebagai alat bantu untuk mencari, siapa pembunuh yang kembali beraksi. Dugaan demi dugaan terus bermunculan, mulai dari orang yang belum pernah mereka temui, hingga orang-orang terdekat.
Lalu, siapakah pembunuh kali ini?
Spoiler for Episode:
1. Kasus Lama yang Terulang. (Part 1)
2. Kasus Lama yang Terulang. (Part 2)
3. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 1)
4. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 2)
5. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 1)
6. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 2)
7. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 1)
8. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 2)
9. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 1)
10. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 2)
11. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 1)
12. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 2)
13. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 1)
14. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 2)
15. Kebetulan? (Part 1)
16. Kebetulan? (Part 2)
17. Semakin Dekat? (Part 1)
18. Semakin Dekat? (Part 2)
19. Hilangnya Penunjuk Arah.
20. Lembaran Baru dengan Cerita yang Sama.
21. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 1)(FINALE)
22. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 2) (FINALE)
2. Kasus Lama yang Terulang. (Part 2)
3. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 1)
4. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 2)
5. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 1)
6. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 2)
7. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 1)
8. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 2)
9. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 1)
10. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 2)
11. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 1)
12. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 2)
13. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 1)
14. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 2)
15. Kebetulan? (Part 1)
16. Kebetulan? (Part 2)
17. Semakin Dekat? (Part 1)
18. Semakin Dekat? (Part 2)
19. Hilangnya Penunjuk Arah.
20. Lembaran Baru dengan Cerita yang Sama.
21. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 1)(FINALE)
22. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 2) (FINALE)
Diubah oleh beavermoon 20-05-2023 18:38
sukhhoi dan 2 lainnya memberi reputasi
3
3.4K
Kutip
35
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#7
Spoiler for 6. Terbang Menuju Langit, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 2):
Damar mengangguk seraya menerima kunci tersebut. Ia mengusap kepala Sasa beberapa kali sebelum akhirnya meninggalkan ambulans. Ia pun masuk ke dalam mobil dan bergegas menuju Rumah Sakit.
Tak membutuhkan waktu lama untuk Damar tiba, ia pun menerobos kerumunan untuk masuk ke dalam ruang otopsi dengan bantuan beberapa pihak kepolisian. Damar pun mendekat untuk berdiri di samping Agung, sementara Kania dan dua dokter lainnya sedang mempersiapkan peralatan untuk otopsi.
“Mana Ali?” Tanya Agung.
“Ke kantor polisi mendampingi saksi Pak.” Jawabnya.
“Pak Agung, Pak Damar...”
Mereka pun berjalan mendekat.
“...kita mulai sekarang ya.” Ucap Kania.
Anggukan kepala dari mereka memberikan tanda untuk memulai otopsi kali ini. Kania mulai mengambil pinset untuk membuka jahitan yang ada di pipi korban, dengan penuh hati-hati, jahitan itu pun terlepas. Bibir yang semula tersenyum kini datar, Kania pun memeriksa apakah ada petunjuk di pipi korban.
“Tidak ada apa-apa, hanya lubang dari benang dan bunga anggrek ini.” Ucapnya.
Ia pun beralih menuju badan korban untuk melepas jahitan dengan bantuan dua dokter lainnya. Damar mendekat untuk ikut menyaksikan apakah ada sebuah petunjuk yang bisa ia temukan.
Satu demi satu benang jahit dilepas secara perlahan, hingga akhirnya pakaian yang semula permanen pun bisa dilepas dari tubuh korban. Ada banyak lubang yang disebabkan oleh jarum untuk memasukkan benang di tubuh korban, bahkan darahnya pun sudah mengering dan tak ada lagi yang menetes.
“Itu...”
Damar menunjuk ke sisi kiri perut korban, di mana ia melihat ada sebuah lapisan lilin yang masih mengkilap hingga mudah tertangkap dengan mata.
“Kamu coba buka pelan-pelan.” Ucap Kania.
Salah satu dokter mulai membersihkan lilin dari tubuh korban, sementara Kania dan satu dokter lain memeriksa tubuh korban secara keseluruhan. Agung pun ikut mendekat dan berdiri di samping Damar.
“Kehilangan ginjal lagi?” Tanyanya.
“Kemungkinan besar Pak.” Jawab Damar.
Kania selesai memeriksa tubuh korban, bersamaan dengan lapisan lilin yang sudah dibersihkan oleh salah satu dokter. Ada sebuah jahitan yang terlihat sama dengan korban sebelumnya.
“Buka jahitannya.” Ucap Kania.
Dokter itu mengangguk, dengan pinset di tangannya, ia mulai menarik benang yang ada di sana. Beberapa benang pun sudah ia lepas, sisi kiri perut korban terbuka. Kania mulai memeriksa apakah ada organ yang ikut menghilang seperti kasus sebelumnya. Ia mengambil pinset yang lebih besar untuk memeriksa bagian dalam tubuh korban.
“Gimana dok?” Tanya Agung.
Pinset pun ditarik keluar, namun bukan organ yang keluar dari dalam. Ada sebuah plastik yang melindungi bunga anggrek dan sebuah kertas putih yang terlipat. Kania meletakkan plastik itu di bak penampung, kemudian salah satu dokter menyinari bagian tubuh korban yang terbuka dengan senter.
“Ginjalnya ngga ada dok.” Ucapnya.
Suasana menjadi semakin hening di dalam ruangan. Agung dan Damar sengaja untuk membiarkan plastik itu, mereka menunggu hasil otopsi selesai dilakukan.
Beralih menuju kaki korban di mana plat besi panjang menjadi tumpuan bagi besi-besi yang menancap pada korban. Salah satu dokter menghubungi bantuan, dan tak lama dua orang pria dari pihak Rumah Sakit pun datang dengan membawa alat-alat pemotong besi. Dengan penuh perhitungan, mereka mulai memotong plat besi itu untuk bisa melepas besi-besi yang ada. Dua dokter sudah berada di belakang tubuh korban untuk berjaga-jaga, dan benar saja. Ketika plat besi terpotong, tubuh korban yang sudah tak bernyawa pun jatuh ke belakang. Mereka pun memindahkan tubuh korban ke atas kasur.
“Apa bisa dilepas semua dok?” Tanya Agung.
Kania mengangguk, “Korban sudah kehabisan darah kurang lebih empat jam lalu, kami bisa langsung melepas semua besi yang ada di tubuhnya.”
Seorang dokter mencabut besi yang menancap di kaki, Kania dan satu dokter lainnya secara perlahan mencabut besi yang menembus kepala korban. Besi-besi itu pun akhirnya bisa dipisahkan dari tubuh korban, lubang-lubang besar pada tubuh korban pun menjadi perhatian, terlebih lubang di kepala dengan bentuk otak yang sudah berceceran.
“Berikutnya bagaimana dok?” Tanya Damar.
“Kami butuh persetujuan keluarga dari korban untuk melakukan pembedahan dalam. Apakan sudah ada kabar dari keluarga Pak?” Ucap Kania.
“Anggota saya masih mencari informasi korban.” Jawabnya.
“Selagi menunggu...”
Kania menatap ke arah plastik yang ada di bak penampung.
“...mau kita periksa dulu?” Tanya Kania.
Salah satu dokter mendekat untuk memberikan sarung tangan karet kepada Agung dan juga Damar. Mereka pun mengenakan sarung tangan tersebut, Agung mengambil plastik itu dari wadahnya.
Secara perlahan ia membuka plastik itu, ia mengambil bunga anggrek terlebih dahulu kemudian kertas putih yang terlipat. Damar mengambil bunga itu untuk dilihat secara seksama. Hanya bunga anggrek pada umumnya, tidak ada satu yang membedakan dengan anggrek lainnya. Ia kembali meletakkan bunga anggrek itu pada bak penampung.
Agung menghela nafasnya setelah membaca apa yang tertulis pada kertas itu, ia memberikan kertas tersebut kepada Damar dengan tatapan bingung. Kania mendekat untuk ikut membaca apa yang ada di sana.
“Terbang menuju langit, namun jatuh dengan keras. Untuk detektif Damar, terima kasih sudah menatap senyumanku tanpa sengaja hari lalu.”
“Pak Damar beradu pandang sama pelaku?” Tanya Kania.
“Bener yang waktu itu.” Ucap Damar.
“Maksudnya gimana?” Tanya Agung.
“Beberapa hari lalu, saat konferensi pers mengenai korban pembunuhan di selokan. Saya melihat ke arah wartawan, di antara mereka, ada seseorang yang menatap saya lalu tersenyum dan menghilang begitu saja.” Jelas Damar.
“Dia ada di konferensi pers?” Tanya Kania terkejut.
Damar mengangguk, “Saya kira hanya perasaan saya saja, maka dari itu saya memilih diam. Sampai akhirnya beberapa hari lalu saya mendapatkan surat di meja kerja saya.”
Damar mengeluarkan sepucuk surat dari saku celananya, ia memberikan surat itu kepada Agung yang juga ikut dibaca oleh Kania.
"Kamu sudah buat laporan ke kantor polisi?” Tanya Agung.
“Terlalu abu-abu Pak untuk melapor. Pertama, itu semua berlangsung di kantor kami sementara akses sangat terbatas. Saya menaruh curiga kepada orang kantor. Kedua, pemeriksaan CCTV tidak menunjukan adanya pergerakan di sekitar ruangan saya dan Ali. Kecurigaan saya yang pertama pun terbantah dengan sangat mentah.” Jelasnya.
“Ada yang aneh...”
Kania berhasil mendapatkan perhatian Agung dan Damar.
“...coba kalian liat, tulisannya berbeda...”
Mereka pun menyandingkan kedua surat itu dan melihat dengan seksama. Benar saja, tulisan tangan dari dua kertas itu berbeda jika dilihat dari tarikan garis tintanya.
“...apa iya pelakunya berbeda alias lebih dari satu?” Tanya Kania.
“Bisa jadi satu orang, pelaku dengan sengaja membedakan tulisan tangannya agar memberikan hipotesa bahwa ada dua orang pelaku yang berbeda.” Jawab Damar.
“Permisi Pak...”
Seorang pihak kepolisian mendekat ke arah Agung untuk memberikan laporan. Agung mengangguk lalu orang itu kembali meninggalkan ruangan.
“Keluarga korban dalam perjalanan, kita mendapat persetujuan otopsi setelah keluarga melihat korban.” Ucap Agung.
Kania menundukkan kepalanya sementara Damar menghela nafasnya cukup dalam. Beberapa saat berlalu, akhirnya keluarga korban masuk ke dalam ruang otopsi. Kesedihan pun tak bisa dihindari, melihat anggota keluarganya mati mengenaskan entah karena apa. Damar hanya bisa menunggu di sudut ruangan, melihat Kania dan juga Agung yang mencoba menenangkan keluarga tersebut.
“Ibu yang sabar ya.” Ucap Kania.
“Saya berjanji akan mengusut kasus ini hingga tuntas.” Ucap Agung.
Sesuai persetujuan, bedah dalam pun akan dilakukan untuk memeriksa keadaan korban. Kania sedang mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan, Agung bersiap untuk melakukan konferensi pers dengan wartawan. Ia pun memberikan surat itu kepada Damar.
“Kamu bawa ini ke grafolog.” Ucap Agung.
“Baik Pak.” Ucap Damar.
Mereka pun keluar dari ruangan dengan arah yang berbeda, beruntungnya kerumunan wartawan menghampiri Agung, yang membuat Damar mudah untuk berjalan. Ia sempat menghentikan langkah lalu melihat ke arah kerumunan wartawan dengan seksama. Sayangnya ia tidak menemukan orang yang dicurigai, hingga akhirnya Damar kembali menuju mobil dan bertemu dengan grafolog.
Damar mengemudikan mobil menuju Kantor Kepolisian Resor 1, bersamaan di mana Ali, Anggi, dan juga Sasa berada. Tidak banyak yang ia lakukan selama perjalanan singkat, hingga akhirnya ia memarkirkan mobil lalu masuk ke dalam.
Damar berjalan menuju ruangan grafolog yang ada di lantai dua. Ia melewati ruangan penyelidikan dan sempat berhenti, Damar melihat Sasa dan Anggi yang sedang diwawancara oleh pihak kepolisian, sementara Ali sedang berbincang dengan petugas yang lain. Damar melanjutkan perjalanan menuju lantai dua. Setibanya di lantai dua, Damar menuju ruangan paling ujung lalu mengetuk pintu.
“Silahkan masuk.” Ucap seseorang dari dalam.
Damar membuka pintu lalu masuk ke dalam. Ia melihat ada seorang pria yang sedang duduk di kursinya sambil memeriksa beberapa lembar kertas. Damar mendekat bersamaan dengan pria itu yang menatap ke arahnya.
“Permisi Pak.” Sapa Damar.
“Oh, kamu detektif itu kan? Silahkan duduk.” Ucapnya.
Damar pun duduk, “Iya Pak. Saya dapat perintah dari Pak Agung untuk menemui Bapak terkait kasus pembunuhan di gedung pertemuan Balai Kota."
"Oke, ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya.
Damar merogoh sakunya, kemudian ia memberikan plastik penemuan otopsi kepadanya, dan juga satu kertas lain yang berasal dari meja kerjanya. Pria itu menerima benda-benda itu dan melihat secara singkat.
“Saya minta tolong untuk diperiksa, apakah dua tulisan itu berbeda atau berasal dari orang yang sama.” Ucap Damar.
“Tunggu sebentar ya.” Jawabnya.
Pria itu mengeluarkan kaca pembesar dari laci mejanya, ia mulai memeriksa dua tulisan tangan yang ada di kertas terpisah. Ia melakukan itu beberapa kali untuk memastikan apa yang sedang ia periksa. Pria itu pun kembali membuka laci mejanya untuk memasukkan kaca pembesar yang ia gunakan.
“Secara guratan, mungkin memang tulisan ini sekilas terlihat berbeda. Namun pada kenyataannya, ini berasal dari tangan yang sama. Bisa dilihat dari guratan tangan yang ada di huruf U masing-masing kertas...”
Pria itu menunjukkan kepada Damar.
“...coba Pak detektif liat, apakah huruf U berbeda? Tanya Pria itu.
Damar melihat dengan seksama kedua surat itu. Benar saja, meskipun sekilas terlihat berbeda, namun huruf U nya memiliki guratan dan bentuk yang sama.
“Apakah huruf U ini menjadi satu-satunya petunjuk Pak?” Tanya Damar.
“Dalam surat ini, hanya huruf itu yang bisa menjadi petunjuk. Sebenarnya, bisa dalam satu pemeriksaan ada beberapa huruf yang menjadi acuan. Kemudian bisa dilihat kekuatan dari tekanannya, dua-duanya memiliki warna yang sama. Dan terakhir, batas di tiap sisi kertas sama persis. Kesimpulan yang bisa saya berikan itu bahwa ini berasal dari orang yang sama.” Jelasnya.
Damar menganggukan kepalanya setelah mendengar penjelasan pria itu. Ia pun berpamitan dengan pria itu lalu keluar dari ruangan tersebut. Damar kembali berjalan menuju lantai bawah untuk menuju ruang penyelidikan.
“Permisi...”
Damar berhasil mendapat perhatian semua orang yang ada di dalam. Ia pun masuk dan berjalan mendekat ke arah Sasa, tentu saja Sasa memberikan sambutan berupa pelukan. Damar mengusap kepala Sasa beberapa kali untuk menenangkannya, hingga Sasa kembali duduk di kursinya, lalu Damar menjabat tangan petugas yang ada.
“Maaf mengganggu pemeriksaannya Pak, silahkan dilanjutkan." Ucap Damar.
Damar pun duduk di kursi panjang, Ali pun datang dan duduk di sampingnya.
“Gimana hasil penyelidikan?” Tanya Ali.
“Keluarga korban setuju untuk diotopsi. Penemuan sementara, ginjal korban hilang. Namun, ada temuan plastik yang mengisi posisi ginjal.” Ucap Damar.
“Plastik?” Tanya Ali.
“Iya, plastik berisi bunga anggrek dan kertas yang terlipat. Gue pun ngasih liat kertas yang ada di meja gue waktu itu. Dokter Kania melihat kalau tulisan tangan yang ada di masing-masing kertas berbeda, dia merasa jika mungkin pelakunya berbeda dengan korban sebelumnya.” Ucap Damar.
“Terus gimana?” Tanya Ali penasaran.
“Gue barusan ketemu sama grafolog di lantai dua. Hasilnya bilang kalau ini berasal dari satu tangan yang sama, alias pelakunya sama dengan kasus sebelumnya.” Jelas Damar.
“Berarti orang yang sama?” Tanya Ali memastikan.
“Menurut hasil penelitian begitu...” Damar menyandarakan tubuhnya, “gimana Anggi sama Sasa? Aman-aman aja?”
“Aman kok. Sebelum pemeriksaan, ada bantuan dari psikolog untuk menenangkan mereka berdua. Setelah tenang, baru mereka diperiksa di sini.” Jawab Ali.
“Mereka akan ditahan sementara?” Tanya Damar.
“Ngga kok, mereka bisa pulang.” Ucap Ali.
“Apa Sasa gue suruh tidur di rumah Ibunya dulu ya?” Tanya Damar.
“Gue juga kepikiran buat nyuruh Anggi nginep di rumah Ibu gue dulu, biar mereka bisa tenang dulu dan ngga mikirin apa-apa buat sementara.” Ucap Ali.
“Semoga mereka mau.” Ucap Damar.
Beberapa jam berlalu, akhirnya pemeriksaan pun selesai. Mereka berempat keluar dari ruangan menuju di mana mobil Ali terparkir.
“Kamu mau nginep dulu di rumah Ibu?” Tanya Damar.
Sasa hanya menggelengkan kepalanya dalam diam, ia menggenggam lengan Damar lebih kuat dari biasanya.
“Kalau kamu?” Tanya Ali.
“Ngga, aku mau sama kamu aja.” Jawab Anggi.
“Kamu nggapapa?” Tanya Ali lagi.
“Mending aku sama kamu.” Jawabnya.
Ali dan Damar beradu pandang dalam diam, rencana mereka sepertinya gagal. Akhirnya mereka masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kantor polisi.
Mobil pun tiba, Damar dan Sasa keluar dari dalam mobil. Setelah berpamitan, Ali dan Anggi melanjutkan perjalanan menuju rumah mereka. Anggi berpindah ke kursi depan setelah melangkahi posisi transmisi mobil. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi seraya menatap ke luar jendela.
“Kamu beneran nggapapa?” Tanya Ali.
Anggi menatapnya, “Aku nggapapa kok, beneran deh. Aku cuma takut bikin repot Ibu kamu aja kalau aku harus nginep di sana, pasti dia khawatir banget.”
“Bener juga sih.” Sahut Ali.
Tangan Anggi menyentuh tangan Ali yang memegang transmisi, ia ingin memberitahu kepadanya bahwa ia baik-baik saja selagi bersamanya. Mobil pun berhenti di tepi jalan, Anggi dan Ali masuk ke dalam rumah.
Anggi menuju dapur untuk mengambil dua kaleng bir, sementara Ali sudah duduk di sofa dengan televisi yang menyiarkan berita tentang pembunuhan tadi. Anggi pun ikut bergabung untuk duduk di sofa lalu memberikan satu kaleng kepada Ali. Ctek! Ali memberikan kaleng yang sudah terbuka untuk Anggi, ia pun mengambil kaleng lain yang masih tertutup.
“Aku masih ngga ngebayangin deh motifnya apa.” Ucap Ali.
“Sama sekali ngga ada petunjuk?” Tanya Anggi.
Ctek! “Sama sekali ngga ada, lebih rapi dari Leo.” Jawabnya.
“Apa iya kita disuruh nunggu untuk korban berikutnya lagi?” Tanya Anggi.
“Dua kasus tanpa ada petunjuk, mau ngga mau harus ada korban lagi, dan berharap kali ini pelakunya ceroboh dan ninggalin jejak." Jawab Ali.
Mereka pun meminum bir kaleng yang sudah ada di tangan mereka masing-masing. Hari yang tidak diduga bagi mereka, di mana semula untuk merayakan keberhasilan yang berubah begitu saja menjadi petaka dan menimbulkan trauma. Malam pun datang untuk mengakhiri peristiwa yang terjadi.
Tak membutuhkan waktu lama untuk Damar tiba, ia pun menerobos kerumunan untuk masuk ke dalam ruang otopsi dengan bantuan beberapa pihak kepolisian. Damar pun mendekat untuk berdiri di samping Agung, sementara Kania dan dua dokter lainnya sedang mempersiapkan peralatan untuk otopsi.
“Mana Ali?” Tanya Agung.
“Ke kantor polisi mendampingi saksi Pak.” Jawabnya.
“Pak Agung, Pak Damar...”
Mereka pun berjalan mendekat.
“...kita mulai sekarang ya.” Ucap Kania.
Anggukan kepala dari mereka memberikan tanda untuk memulai otopsi kali ini. Kania mulai mengambil pinset untuk membuka jahitan yang ada di pipi korban, dengan penuh hati-hati, jahitan itu pun terlepas. Bibir yang semula tersenyum kini datar, Kania pun memeriksa apakah ada petunjuk di pipi korban.
“Tidak ada apa-apa, hanya lubang dari benang dan bunga anggrek ini.” Ucapnya.
Ia pun beralih menuju badan korban untuk melepas jahitan dengan bantuan dua dokter lainnya. Damar mendekat untuk ikut menyaksikan apakah ada sebuah petunjuk yang bisa ia temukan.
Satu demi satu benang jahit dilepas secara perlahan, hingga akhirnya pakaian yang semula permanen pun bisa dilepas dari tubuh korban. Ada banyak lubang yang disebabkan oleh jarum untuk memasukkan benang di tubuh korban, bahkan darahnya pun sudah mengering dan tak ada lagi yang menetes.
“Itu...”
Damar menunjuk ke sisi kiri perut korban, di mana ia melihat ada sebuah lapisan lilin yang masih mengkilap hingga mudah tertangkap dengan mata.
“Kamu coba buka pelan-pelan.” Ucap Kania.
Salah satu dokter mulai membersihkan lilin dari tubuh korban, sementara Kania dan satu dokter lain memeriksa tubuh korban secara keseluruhan. Agung pun ikut mendekat dan berdiri di samping Damar.
“Kehilangan ginjal lagi?” Tanyanya.
“Kemungkinan besar Pak.” Jawab Damar.
Kania selesai memeriksa tubuh korban, bersamaan dengan lapisan lilin yang sudah dibersihkan oleh salah satu dokter. Ada sebuah jahitan yang terlihat sama dengan korban sebelumnya.
“Buka jahitannya.” Ucap Kania.
Dokter itu mengangguk, dengan pinset di tangannya, ia mulai menarik benang yang ada di sana. Beberapa benang pun sudah ia lepas, sisi kiri perut korban terbuka. Kania mulai memeriksa apakah ada organ yang ikut menghilang seperti kasus sebelumnya. Ia mengambil pinset yang lebih besar untuk memeriksa bagian dalam tubuh korban.
“Gimana dok?” Tanya Agung.
Pinset pun ditarik keluar, namun bukan organ yang keluar dari dalam. Ada sebuah plastik yang melindungi bunga anggrek dan sebuah kertas putih yang terlipat. Kania meletakkan plastik itu di bak penampung, kemudian salah satu dokter menyinari bagian tubuh korban yang terbuka dengan senter.
“Ginjalnya ngga ada dok.” Ucapnya.
Suasana menjadi semakin hening di dalam ruangan. Agung dan Damar sengaja untuk membiarkan plastik itu, mereka menunggu hasil otopsi selesai dilakukan.
Beralih menuju kaki korban di mana plat besi panjang menjadi tumpuan bagi besi-besi yang menancap pada korban. Salah satu dokter menghubungi bantuan, dan tak lama dua orang pria dari pihak Rumah Sakit pun datang dengan membawa alat-alat pemotong besi. Dengan penuh perhitungan, mereka mulai memotong plat besi itu untuk bisa melepas besi-besi yang ada. Dua dokter sudah berada di belakang tubuh korban untuk berjaga-jaga, dan benar saja. Ketika plat besi terpotong, tubuh korban yang sudah tak bernyawa pun jatuh ke belakang. Mereka pun memindahkan tubuh korban ke atas kasur.
“Apa bisa dilepas semua dok?” Tanya Agung.
Kania mengangguk, “Korban sudah kehabisan darah kurang lebih empat jam lalu, kami bisa langsung melepas semua besi yang ada di tubuhnya.”
Seorang dokter mencabut besi yang menancap di kaki, Kania dan satu dokter lainnya secara perlahan mencabut besi yang menembus kepala korban. Besi-besi itu pun akhirnya bisa dipisahkan dari tubuh korban, lubang-lubang besar pada tubuh korban pun menjadi perhatian, terlebih lubang di kepala dengan bentuk otak yang sudah berceceran.
“Berikutnya bagaimana dok?” Tanya Damar.
“Kami butuh persetujuan keluarga dari korban untuk melakukan pembedahan dalam. Apakan sudah ada kabar dari keluarga Pak?” Ucap Kania.
“Anggota saya masih mencari informasi korban.” Jawabnya.
“Selagi menunggu...”
Kania menatap ke arah plastik yang ada di bak penampung.
“...mau kita periksa dulu?” Tanya Kania.
Salah satu dokter mendekat untuk memberikan sarung tangan karet kepada Agung dan juga Damar. Mereka pun mengenakan sarung tangan tersebut, Agung mengambil plastik itu dari wadahnya.
Secara perlahan ia membuka plastik itu, ia mengambil bunga anggrek terlebih dahulu kemudian kertas putih yang terlipat. Damar mengambil bunga itu untuk dilihat secara seksama. Hanya bunga anggrek pada umumnya, tidak ada satu yang membedakan dengan anggrek lainnya. Ia kembali meletakkan bunga anggrek itu pada bak penampung.
Agung menghela nafasnya setelah membaca apa yang tertulis pada kertas itu, ia memberikan kertas tersebut kepada Damar dengan tatapan bingung. Kania mendekat untuk ikut membaca apa yang ada di sana.
“Terbang menuju langit, namun jatuh dengan keras. Untuk detektif Damar, terima kasih sudah menatap senyumanku tanpa sengaja hari lalu.”
“Pak Damar beradu pandang sama pelaku?” Tanya Kania.
“Bener yang waktu itu.” Ucap Damar.
“Maksudnya gimana?” Tanya Agung.
“Beberapa hari lalu, saat konferensi pers mengenai korban pembunuhan di selokan. Saya melihat ke arah wartawan, di antara mereka, ada seseorang yang menatap saya lalu tersenyum dan menghilang begitu saja.” Jelas Damar.
“Dia ada di konferensi pers?” Tanya Kania terkejut.
Damar mengangguk, “Saya kira hanya perasaan saya saja, maka dari itu saya memilih diam. Sampai akhirnya beberapa hari lalu saya mendapatkan surat di meja kerja saya.”
Damar mengeluarkan sepucuk surat dari saku celananya, ia memberikan surat itu kepada Agung yang juga ikut dibaca oleh Kania.
"Kamu sudah buat laporan ke kantor polisi?” Tanya Agung.
“Terlalu abu-abu Pak untuk melapor. Pertama, itu semua berlangsung di kantor kami sementara akses sangat terbatas. Saya menaruh curiga kepada orang kantor. Kedua, pemeriksaan CCTV tidak menunjukan adanya pergerakan di sekitar ruangan saya dan Ali. Kecurigaan saya yang pertama pun terbantah dengan sangat mentah.” Jelasnya.
“Ada yang aneh...”
Kania berhasil mendapatkan perhatian Agung dan Damar.
“...coba kalian liat, tulisannya berbeda...”
Mereka pun menyandingkan kedua surat itu dan melihat dengan seksama. Benar saja, tulisan tangan dari dua kertas itu berbeda jika dilihat dari tarikan garis tintanya.
“...apa iya pelakunya berbeda alias lebih dari satu?” Tanya Kania.
“Bisa jadi satu orang, pelaku dengan sengaja membedakan tulisan tangannya agar memberikan hipotesa bahwa ada dua orang pelaku yang berbeda.” Jawab Damar.
“Permisi Pak...”
Seorang pihak kepolisian mendekat ke arah Agung untuk memberikan laporan. Agung mengangguk lalu orang itu kembali meninggalkan ruangan.
“Keluarga korban dalam perjalanan, kita mendapat persetujuan otopsi setelah keluarga melihat korban.” Ucap Agung.
Kania menundukkan kepalanya sementara Damar menghela nafasnya cukup dalam. Beberapa saat berlalu, akhirnya keluarga korban masuk ke dalam ruang otopsi. Kesedihan pun tak bisa dihindari, melihat anggota keluarganya mati mengenaskan entah karena apa. Damar hanya bisa menunggu di sudut ruangan, melihat Kania dan juga Agung yang mencoba menenangkan keluarga tersebut.
“Ibu yang sabar ya.” Ucap Kania.
“Saya berjanji akan mengusut kasus ini hingga tuntas.” Ucap Agung.
Sesuai persetujuan, bedah dalam pun akan dilakukan untuk memeriksa keadaan korban. Kania sedang mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan, Agung bersiap untuk melakukan konferensi pers dengan wartawan. Ia pun memberikan surat itu kepada Damar.
“Kamu bawa ini ke grafolog.” Ucap Agung.
“Baik Pak.” Ucap Damar.
Mereka pun keluar dari ruangan dengan arah yang berbeda, beruntungnya kerumunan wartawan menghampiri Agung, yang membuat Damar mudah untuk berjalan. Ia sempat menghentikan langkah lalu melihat ke arah kerumunan wartawan dengan seksama. Sayangnya ia tidak menemukan orang yang dicurigai, hingga akhirnya Damar kembali menuju mobil dan bertemu dengan grafolog.
Damar mengemudikan mobil menuju Kantor Kepolisian Resor 1, bersamaan di mana Ali, Anggi, dan juga Sasa berada. Tidak banyak yang ia lakukan selama perjalanan singkat, hingga akhirnya ia memarkirkan mobil lalu masuk ke dalam.
Damar berjalan menuju ruangan grafolog yang ada di lantai dua. Ia melewati ruangan penyelidikan dan sempat berhenti, Damar melihat Sasa dan Anggi yang sedang diwawancara oleh pihak kepolisian, sementara Ali sedang berbincang dengan petugas yang lain. Damar melanjutkan perjalanan menuju lantai dua. Setibanya di lantai dua, Damar menuju ruangan paling ujung lalu mengetuk pintu.
“Silahkan masuk.” Ucap seseorang dari dalam.
Damar membuka pintu lalu masuk ke dalam. Ia melihat ada seorang pria yang sedang duduk di kursinya sambil memeriksa beberapa lembar kertas. Damar mendekat bersamaan dengan pria itu yang menatap ke arahnya.
“Permisi Pak.” Sapa Damar.
“Oh, kamu detektif itu kan? Silahkan duduk.” Ucapnya.
Damar pun duduk, “Iya Pak. Saya dapat perintah dari Pak Agung untuk menemui Bapak terkait kasus pembunuhan di gedung pertemuan Balai Kota."
"Oke, ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya.
Damar merogoh sakunya, kemudian ia memberikan plastik penemuan otopsi kepadanya, dan juga satu kertas lain yang berasal dari meja kerjanya. Pria itu menerima benda-benda itu dan melihat secara singkat.
“Saya minta tolong untuk diperiksa, apakah dua tulisan itu berbeda atau berasal dari orang yang sama.” Ucap Damar.
“Tunggu sebentar ya.” Jawabnya.
Pria itu mengeluarkan kaca pembesar dari laci mejanya, ia mulai memeriksa dua tulisan tangan yang ada di kertas terpisah. Ia melakukan itu beberapa kali untuk memastikan apa yang sedang ia periksa. Pria itu pun kembali membuka laci mejanya untuk memasukkan kaca pembesar yang ia gunakan.
“Secara guratan, mungkin memang tulisan ini sekilas terlihat berbeda. Namun pada kenyataannya, ini berasal dari tangan yang sama. Bisa dilihat dari guratan tangan yang ada di huruf U masing-masing kertas...”
Pria itu menunjukkan kepada Damar.
“...coba Pak detektif liat, apakah huruf U berbeda? Tanya Pria itu.
Damar melihat dengan seksama kedua surat itu. Benar saja, meskipun sekilas terlihat berbeda, namun huruf U nya memiliki guratan dan bentuk yang sama.
“Apakah huruf U ini menjadi satu-satunya petunjuk Pak?” Tanya Damar.
“Dalam surat ini, hanya huruf itu yang bisa menjadi petunjuk. Sebenarnya, bisa dalam satu pemeriksaan ada beberapa huruf yang menjadi acuan. Kemudian bisa dilihat kekuatan dari tekanannya, dua-duanya memiliki warna yang sama. Dan terakhir, batas di tiap sisi kertas sama persis. Kesimpulan yang bisa saya berikan itu bahwa ini berasal dari orang yang sama.” Jelasnya.
Damar menganggukan kepalanya setelah mendengar penjelasan pria itu. Ia pun berpamitan dengan pria itu lalu keluar dari ruangan tersebut. Damar kembali berjalan menuju lantai bawah untuk menuju ruang penyelidikan.
“Permisi...”
Damar berhasil mendapat perhatian semua orang yang ada di dalam. Ia pun masuk dan berjalan mendekat ke arah Sasa, tentu saja Sasa memberikan sambutan berupa pelukan. Damar mengusap kepala Sasa beberapa kali untuk menenangkannya, hingga Sasa kembali duduk di kursinya, lalu Damar menjabat tangan petugas yang ada.
“Maaf mengganggu pemeriksaannya Pak, silahkan dilanjutkan." Ucap Damar.
Damar pun duduk di kursi panjang, Ali pun datang dan duduk di sampingnya.
“Gimana hasil penyelidikan?” Tanya Ali.
“Keluarga korban setuju untuk diotopsi. Penemuan sementara, ginjal korban hilang. Namun, ada temuan plastik yang mengisi posisi ginjal.” Ucap Damar.
“Plastik?” Tanya Ali.
“Iya, plastik berisi bunga anggrek dan kertas yang terlipat. Gue pun ngasih liat kertas yang ada di meja gue waktu itu. Dokter Kania melihat kalau tulisan tangan yang ada di masing-masing kertas berbeda, dia merasa jika mungkin pelakunya berbeda dengan korban sebelumnya.” Ucap Damar.
“Terus gimana?” Tanya Ali penasaran.
“Gue barusan ketemu sama grafolog di lantai dua. Hasilnya bilang kalau ini berasal dari satu tangan yang sama, alias pelakunya sama dengan kasus sebelumnya.” Jelas Damar.
“Berarti orang yang sama?” Tanya Ali memastikan.
“Menurut hasil penelitian begitu...” Damar menyandarakan tubuhnya, “gimana Anggi sama Sasa? Aman-aman aja?”
“Aman kok. Sebelum pemeriksaan, ada bantuan dari psikolog untuk menenangkan mereka berdua. Setelah tenang, baru mereka diperiksa di sini.” Jawab Ali.
“Mereka akan ditahan sementara?” Tanya Damar.
“Ngga kok, mereka bisa pulang.” Ucap Ali.
“Apa Sasa gue suruh tidur di rumah Ibunya dulu ya?” Tanya Damar.
“Gue juga kepikiran buat nyuruh Anggi nginep di rumah Ibu gue dulu, biar mereka bisa tenang dulu dan ngga mikirin apa-apa buat sementara.” Ucap Ali.
“Semoga mereka mau.” Ucap Damar.
Beberapa jam berlalu, akhirnya pemeriksaan pun selesai. Mereka berempat keluar dari ruangan menuju di mana mobil Ali terparkir.
“Kamu mau nginep dulu di rumah Ibu?” Tanya Damar.
Sasa hanya menggelengkan kepalanya dalam diam, ia menggenggam lengan Damar lebih kuat dari biasanya.
“Kalau kamu?” Tanya Ali.
“Ngga, aku mau sama kamu aja.” Jawab Anggi.
“Kamu nggapapa?” Tanya Ali lagi.
“Mending aku sama kamu.” Jawabnya.
Ali dan Damar beradu pandang dalam diam, rencana mereka sepertinya gagal. Akhirnya mereka masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kantor polisi.
Mobil pun tiba, Damar dan Sasa keluar dari dalam mobil. Setelah berpamitan, Ali dan Anggi melanjutkan perjalanan menuju rumah mereka. Anggi berpindah ke kursi depan setelah melangkahi posisi transmisi mobil. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi seraya menatap ke luar jendela.
“Kamu beneran nggapapa?” Tanya Ali.
Anggi menatapnya, “Aku nggapapa kok, beneran deh. Aku cuma takut bikin repot Ibu kamu aja kalau aku harus nginep di sana, pasti dia khawatir banget.”
“Bener juga sih.” Sahut Ali.
Tangan Anggi menyentuh tangan Ali yang memegang transmisi, ia ingin memberitahu kepadanya bahwa ia baik-baik saja selagi bersamanya. Mobil pun berhenti di tepi jalan, Anggi dan Ali masuk ke dalam rumah.
Anggi menuju dapur untuk mengambil dua kaleng bir, sementara Ali sudah duduk di sofa dengan televisi yang menyiarkan berita tentang pembunuhan tadi. Anggi pun ikut bergabung untuk duduk di sofa lalu memberikan satu kaleng kepada Ali. Ctek! Ali memberikan kaleng yang sudah terbuka untuk Anggi, ia pun mengambil kaleng lain yang masih tertutup.
“Aku masih ngga ngebayangin deh motifnya apa.” Ucap Ali.
“Sama sekali ngga ada petunjuk?” Tanya Anggi.
Ctek! “Sama sekali ngga ada, lebih rapi dari Leo.” Jawabnya.
“Apa iya kita disuruh nunggu untuk korban berikutnya lagi?” Tanya Anggi.
“Dua kasus tanpa ada petunjuk, mau ngga mau harus ada korban lagi, dan berharap kali ini pelakunya ceroboh dan ninggalin jejak." Jawab Ali.
Mereka pun meminum bir kaleng yang sudah ada di tangan mereka masing-masing. Hari yang tidak diduga bagi mereka, di mana semula untuk merayakan keberhasilan yang berubah begitu saja menjadi petaka dan menimbulkan trauma. Malam pun datang untuk mengakhiri peristiwa yang terjadi.
ø
pulaukapok memberi reputasi
1
Kutip
Balas
Tutup