- Beranda
- Stories from the Heart
KELOPAK BUNGA ANGGREK
...
TS
beavermoon
KELOPAK BUNGA ANGGREK

Halo semuanya.
Beavermoon kembali hadir dengan cerita terbaru, dan kali ini kita akan mengusung tema detektif.
Kenapa tema detektif? Karena sebenarnya cerita ini berawal dari cerita pendek yang dibuat untuk perlombaan. Berhubung terbatasnya jumlah kata saat itu, akhirnya dibuatlah versi lengkapnya yang baru selesai beberapa bulan lalu.
Kenapa tidak buat cerita romantis lagi? Kehabisan ide, atau bisa dibilang butuh waktu untuk mengistirahatkan diri dari romansa-romansa yang sudah semakin banyak.
Apa tidak akan membuat cerita romantis lagi? Masih dalam pembuatan.
Jika ada dari suhu-suhu sekalian yang belum sempat membaca karya-karya Beavermoon sebelumnya, bisa langsung ke TKP :
Semoga suhu-suhu terhibur dengan cerita tema detektif perdana dari Beavermoon.
Salam Lemon.
Spoiler for Ringkasan:
Kasus pembunuhan kembali terjadi setelah sekian lama. Ali dan Damar, yang bekerja sebagai detektif pun mulai memecahkan kasus yang ada. Sayangnya, belum selesai dengan satu kasus, muncul kasus lain yang semakin memperkeruh keadaan.
Teringat akan satu kasus beberapa tahun silam, dimana sang pembunuh memiliki pola yang terstruktur hingga sulit untuk dipecahkan. Ali dan Damar menjadikan laporan kasus itu sebagai alat bantu untuk mencari, siapa pembunuh yang kembali beraksi. Dugaan demi dugaan terus bermunculan, mulai dari orang yang belum pernah mereka temui, hingga orang-orang terdekat.
Lalu, siapakah pembunuh kali ini?
Spoiler for Episode:
1. Kasus Lama yang Terulang. (Part 1)
2. Kasus Lama yang Terulang. (Part 2)
3. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 1)
4. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 2)
5. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 1)
6. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 2)
7. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 1)
8. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 2)
9. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 1)
10. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 2)
11. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 1)
12. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 2)
13. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 1)
14. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 2)
15. Kebetulan? (Part 1)
16. Kebetulan? (Part 2)
17. Semakin Dekat? (Part 1)
18. Semakin Dekat? (Part 2)
19. Hilangnya Penunjuk Arah.
20. Lembaran Baru dengan Cerita yang Sama.
21. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 1)(FINALE)
22. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 2) (FINALE)
2. Kasus Lama yang Terulang. (Part 2)
3. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 1)
4. Sudah Menemukan Petunjuk? (Part 2)
5. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 1)
6. Terbang Terlalu Tinggi, Namun Jatuh Dengan Keras. (Part 2)
7. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 1)
8. Setitik Lentera dari Gelap Gulita. (Part 2)
9. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 1)
10. Lentera Lain di Gelap Berbeda. (Part 2)
11. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 1)
12. Kejutan Demi Kejutan pun Berdatangan. (Part 2)
13. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 1)
14. Lalu, Siapakah Pelakunya? (Part 2)
15. Kebetulan? (Part 1)
16. Kebetulan? (Part 2)
17. Semakin Dekat? (Part 1)
18. Semakin Dekat? (Part 2)
19. Hilangnya Penunjuk Arah.
20. Lembaran Baru dengan Cerita yang Sama.
21. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 1)(FINALE)
22. Upaya Terakhir yang Membuahkan Hasil. (Part 2) (FINALE)
Diubah oleh beavermoon 20-05-2023 18:38
sukhhoi dan 2 lainnya memberi reputasi
3
3.4K
Kutip
35
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#2
Spoiler for 2. Kasus Lama yang Terulang. (Part 2):
Mobil diparkirkan di tepi jalan. Damar turun lalu berjalan menuju sebuah gerai yang menjual minuman.
“Bang, bungkus dua ya.” Ucap Damar.
Penjual minuman itu membungkuskan pesanannya. Tak membutuhkan waktu lama untuk menyerahkan pesanan Damar yang ditukar dengan beberapa lembar uang.
“Makasih ya.” Ucap Damar.
Ia berjalan menuju Ali yang sudah duduk di bagasi mobilnya yang terbuka. Damar menyerahkan satu minuman untuk Ali lalu dia ikut duduk di sampingnya.
“Kapan kita mau balik ke tempat kejadian?” Tanya Ali.
“Sore atau malem aja...” Damar menyalakan sebatang rokok, “masih banyak petugas kepolisian, kasih mereka ruang juga untuk bergerak.”
Ali mengangguk lalu menyalakan rokoknya, “Oh iya, gimana kabarnya Sasa? Udah lama gue ngga ketemu sama dia. Ada kali ya enam bulan gue ngga ketemu.”
“Baik kok, dia lagi sibuk aja.” Ucap Damar.
“Lagi sibuk apa dia sekarang?” Tanya Ali.
“Persiapan peragaan busana di Balai Kota.” Jawab Damar.
“Oh, acara tahunan kayak biasa?” Tanya Ali lagi.
Damar mengangguk, “Makanya dia lagi sibuk sekarang, ngga terasa tinggal beberapa hari lagi acaranya. Nanti gue kasih tiket masuk buat lo sama Anggi.”
“Nah, berhubung lo menyinggung nama Anggi, ada yang pengen gue ceritain soal dia.” Sahut Ali.
“Kenapa sama Anggi?” Tanya Damar.
Ali menghembuskan asap rokok, “Lo tau kan gue sama Anggi udah nikah cukup lama. Kita udah terlalu sibuk sama pekerjaan sendiri sampai lupa kalau kita belum punya anak. Gue coba tanya ke Anggi soal itu, cuma dia selalu bisa menghindar dengan jawaban-jawaban dia.”
“Kenapa lo baru pertanyakan ini sekarang?” Tanya Damar.
“Jawabannya sesederhana umur aja...”
Damar menatap Ali.
“...ngga sadar gue udah masuk akhir tiga puluh, Anggi pun juga. Gue takut kalau semakin tua, semakin susah kita untuk punya keturunan.” Jawabnya.
“Apa karena karirnya Anggi?” Tanya Damar.
Ali mengangguk, “Dia lagi ada di puncak karirnya sebagai pembawa acara berita, terlebih dia baru dapat kontrak acara berita baru, mungkin itu sih yang bikin dia ngga mau.”
“Ngga kepikiran untuk adopsi aja?...”
Ali pun menatap Damar.
“...mungkin bisa jadi solusi. Anggi mungkin aja menghindar karena bisa beresiko untuk karirnya, ada pilihan adopsi anak untuk kalian.” Ucap Damar.
“Ngga kepikiran gue buat adopsi anak, kayaknya bisa jadi solusi. Nanti gue tanya ke Anggi, dan semoga dia setuju ya.” Ucap Ali.
“Semisal dia ngga mau juga gimana?” Tanya Damar.
“Itu yang belum gue tau.” Jawabnya.
“Jangan terlalu dipaksain.” Sahut Damar.
Ali mengangguk setuju, mereka kembali menghisap rokok masing-masing untuk menutup istirahat siang ini. Sore tiba dengan matahari yang akan segera terbenam, Ali dan Damar kembali datang ke tempat kejadian. Damar masuk melewati garis pembatas untuk kembali memeriksa selokan, sementara Ali melihat ke arah sekeliling untuk mencari petunjuk. Ada seseorang mendekat ke arah garis pembatas yang disadari oleh Damar, hingga membuatnya menoleh ke arah orang tersebut.
“Sore Pak.” Ucap Talia.
“Eh, yang dari LTV kan ya?” Tanya Damar.
“Betul Pak. Saya mau tanya soal perkembangan kasus, apakah ada yang baru?” Ucap Talia.
Damar membelakangi Talia, “Otopsi baru selesai di Rumah Sakit, kita tinggal tunggu sampai hasilnya keluar. Kami masih mencari petunjuk untuk tindak lanjut berikutnya...”
Damar mengeluarkan kulit dari sakunya lalu menatapnya dengan seksama.
“...kamu ngga ke Rumah Sakit untuk peliputan?” Tanya Damar.
“Ada rekan saya di sana Pak.” Jawabnya.
Damar kembali memasukkan kulit ke dalam saku, kemudian ia mendekat ke arah Talia bersamaan dengan Ali yang juga datang.
“Loh, Talia masih di sini?” Tanya Ali.
“Iya Pak. Teman saya yang meliput di Rumah Sakit, jadi saya tunggu di sini dalam waktu satu hari. Mungkin aja ada petunjuk yang bisa jadi berita eksklusif.” Jelas Talia.
“Sayangnya masih belum ada.” Jawab Ali.
“Saya masih punya beberapa jam lagi Pak.” Sahut Talia.
“Oh iya, kamu dari LTV ya?...”
Talia mengangguk.
“...Kamu kenal sama Anggi?” Tanya Ali.
“Anggi?...” Talia berpikir sejenak, ”ada Anggi bagian keuangan, ada Anggi bagian kreatif, sama ada Kak Anggi pembawa acara berita. Salah satunya ada kenalan Bapak?”
“Oh iya, Anggi di LTV juga ya.” Sahut Damar.
“Anggi yang pembawa acara berita itu kenalan saya, sebenarnya istri saya sih.” Ucap Ali.
“Serius Kak Anggi istrinya Bapak?” Tanya Talia terkejut.
“Iya serius, apa perlu saya kasih tunjuk catatan pernikahan kami? Tapi ada di rumah, nanti kapan-kapan saya tunjukin untuk buktinya.” Jawab Ali.
Talia tersenyum, “Ngga perlu, saya percaya Pak. Sudah berapa lama kalian menikah kalau boleh saya tau?”
“Kalau saya ngga salah sih delapan tahun.” Jawab Ali.
“Kok delapan?...” Damar memukul lengan Ali pelan, “sembilan tahun dong, masa iya gue yang inget pernikahan kalian.”
Ali nampak bingung, ia sempat menghitung dengan jari tangannya sesaat. Ia pun menepuk dahinya ketika mengetaui kebenarannya.
“Oh iya, sembilan tahun.” Jawabnya.
Talia tertawa singkat. “Lucu juga ya kalau temannya yang inget berapa lama pernikahan Bapak. Apa kalian sudah sedekat itu dari lama?”
Ali mengangguk, “Sudah lima belas tahun kami berteman, bahkan lebih lama dibandingkan dengan istri saya sendiri.”
“Pantes aja sih.” Sahut Talia.
“Oh iya...” Ali merogoh sakunya, “semisal kamu nemuin sesuatu, mungkin kamu bisa hubungi saya. Siapa tau kamu lebih dulu nemuin petunjuk dibanding kita.”
Talia menerima kartu pengenal milik Ali seraya mengangguk, ia pun memasukkan kartu nama tersebut ke dalam saku kemeja yang ia kenakan. Sore pun berganti, matahari sudah memendamkan wajahnya. Dua orang dari pihak kepolisian sedang berjaga di tempat kejadian ditemani beberapa warga sekitar. Damar, Ali dan juga Talia berjalan ke tempat di mana mobil Ali berada.
“Kamu mau bareng aja?” Tanya Damar.
“Oh iya, bareng aja kalau mau.” Sahut Ali.
“Terima kasih Pak, tapi saya nunggu temen, nah itu dia...”
Sebuah mobil dari LTV pun datang.
“...kalau gitu saya pamit duluan ya Pak. Jangan lupa untuk kabari semisal ada perkembangan kasus.” Ucap Talia.
Damar tersenyum sementara Ali menganggukkan kepalanya. Talia pun masuk ke dalam mobil itu dan meninggalkan mereka berdua. Ali dan Damar pun masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan lokasi ini.
Jalanan tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa kendaraan yang silih berganti. Ali pun memutuskan untuk membuka kaca jendela, sementara Damar menyalakan sebatang rokok miliknya.
“Mau balik ke kantor kita?” Tanya Ali.
“Ngga usah, pulang aja.” Jawab Damar.
“Lo mampir ya ke rumah gue, Anggi masak hari ini.” Ajak Ali.
“Masak apa dia?” Tanya Damar.
“Ngga ngasih tau dia, kejutan katanya.” Jawab Ali.
“Boleh deh.” Jawab Damar.
Beberapa saat berlalu, akhirnya Ali menepikan mobilnya di tepi jalan, tepat di belakang mobil merah milik Anggi. Mereka pun turun dari mobil lalu berjalan mendekat ke arah pintu rumah. Ali mengetuk pintu beberapa kali, lalu pintu dibuka dari dalam.
“Eh ada Damar...”
Damar tersenyum menanggapinya.
“...ayo masuk.” Ajak Anggi.
Ali mengecup bibir Anggi singkat, kemudian mereka masuk ke dalam rumah. Mereka berjalan menuju meja makan di mana beberapa makanan tersaji di sana.
“Wah, masak apa aja kamu?” Tanya Ali.
“Ada sandung lamur lada hitam, jamur tiram asam manis, dan tumis sayuran.” Jawab Anggi.
“Kalian lagi ada acara spesial atau emang tiap Anggi masak selalu mewah kayak gini?” Tanya Damar.
“Pilihan kedua itu jawabannya. Lo tau kan Anggi sibuk, jadi tiap dia masak udah pasti mewah lah kayak gini.” Sahut Ali.
Anggi tersenyum, “Ayo duduk Mar.”
Ali dan Anggi duduk berdampingan sementara Damar duduk di hadapan mereka. Anggi mulai menuangkan nasi ke piring mereka, kemudian mereka mulai mengambil makanan masing-masing dan mulai makan malam hari ini.
Suapan pertama berhasil membuat Ali dan Damar terkesima, Damar mengacungkan ibu jarinya yang disambut senyuman oleh Anggi.
“Ngga salah nih Nggi? Ini enak banget.” Ucap Damar.
“Makasih Mar.” Jawabnya.
“Ajak-ajak lagi lah kalau lo masak lagi.” Pinta Damar.
Anggi mengangguk, “Nanti ajak Sasa juga sekalian, udah lama gue ngga ketemu sama dia. Ada kali ya beberapa bulan lalu, gimana dia sekarang?”
“Ya baik-baik aja sih, lagi sibuk persiapan peragaan busana.” Jawab Damar.
“Oh yang di Balai Kota kan?” Tanya Anggi.
Damar mengangguk, “Jadi beberapa minggu ini lagi agak ribet dia, gue pun juga ketemu pas sarapan doang. Selebihnya ya antara guenya udah tidur atau dianya yang tidur duluan.”
“Tapi lo serius kan sama dia?” Sahut Ali.
“Serius gimana maksudnya?” Tanya Damar.
“Ya ada rencana buat menikah sama dia.” Ucap Ali.
“Ada sih, cuma gue belum tau dia mau apa ngga.” Jawab Damar.
“Wanita mana yang ngga mau diajak nikah Mar, kita semua pasti mau kok. Contoh aja gue sama Ali...”
Damar menatap dengan seksama.
“...Ali sibuk jadi detektif sama kayak lo, gue sibuk jadi pembawa berita. Sesibuk-sibuknya kami, ada hasrat terpendam untuk menikah. Jadi pasti Sasa juga mau kalau lo ajak nikah.” Jelas Anggi.
Ali mengangguk, “Setuju sih. Dulu gue juga mikirnya sama kayak lo. Gue takut ganggu kegiatannya dia kalau menikah, tapi pada kenyataannya ngga sama sekali.”
“Coba ajak Sasa ngobrol soal pernikahan setelah acara.” Ucap Anggi.
Damar menganggukkan kepalanya. Malam terus berlanjut, mereka bertiga sedang duduk di halaman belakang dengan bir kaleng di tangan masing-masing.
“Eh iya, ada perkembangan apa soal kasus pembunuhan tadi pagi?” Tanya Anggi.
“Masih nunggu hasil otopsi pihak forensik, karena ngga ada paksaan dari luka di bagian luar. Ada kemungkinan kalau kematian disebabkan dari dalam.” Jawab Damar.
“Diracun?” Tanya Anggi.
“Bisa jadi sih.” Jawab Damar singkat.
“Kok ada ya orang-orang kayak gitu, serem banget.” Ucap Anggi.
“Kayaknya ada yang niru Payung Kuning.” Sahut Ali.
“Payung Kuning?” Tanya Anggi.
Ali mengangguk, “Beberapa tahun lalu pas aku sama Damar masih jadi asisten detektif, ada sebuah kasus pembunuhan berantai. Semua korbannya mati dalam posisi duduk dan sambil pegang payung kuning di tangan mereka. Jadi ketika payung diangkat baru bisa dilihat siapa korbannya.”
“Jadi payung itu nutupin korbannya?” Tanya Anggi.
Damar mengangguk, “Bisa dibilang kalau itu jadi bentuk kejutan dari si pembunuh, apa yang dia lakukan ke korban menjadi kejutan bagi siapa yang membuka payung itu pertama kali. Ada yang ngga ada matanya, ada yang dikuliti sekujur tubuh, bahkan ada yang tanpa kepala.”
“Ih kok serem banget sih?” Keluh Anggi.
“Lebih serem pas pelakunya ditangkap dan diinterogasi, jawabannya itu dia suka kasih kejutan ke orang-orang. Karena dia sudah kehabisan ide, akhirnya dia memilih untuk membunuh dan dia senang orang-orang tertuju pada kejutannya dia.” Jawab Ali.
“Demi apa?” Tanya Anggi terkejut.
“Tanya aja Damar.” Ucap Ali.
Anggi menatap Damar yang mengangguk dengan pasti. Ali dan Damar kembali menghisap rokok yang ada di tangan mereka.
“Gue jadi kepikiran soal omongan lo barusan.” Ucap Damar.
“Bener kan?” Tanya Ali.
Damar menghela nafasnya, “Kalau ini sampai beneran, berarti kejadian beberapa tahun lalu akan terulang lagi. Kita harus cari tau polanya biar ngga kecolongan kayak dulu.”
“Kecolongan? Maksudnya gimana?” Tanya Anggi.
“Detektif kita salah satu korbannya...”
Anggi membuka matanya cukup lebar.
“...kita ngga nyangka kalau dia juga jadi target. Korban yang ngga ada matanya, itu dia.” Jawab Ali.
“Jadi si pelaku ini tau siapa yang coba untuk mengusut kasus ini, yaitu detektif kita saat itu. Akhirnya dia datang ke kantor dan membunuh detektif di kursi. Untuk memberi petunjuk, dia cabut paksa matanya dengan maksud agar jangan ada yang usut kasus ini lagi.” Jelas Damar.
Anggi menggenggam tangan Ali cukup kuat hingga berhasil membuat Ali menatap ke arahnya. Tentunya ia menyadari bahwa Anggi dibuat ketakutan, terlebih dengan pekerjaan Ali yang sekarang menjadi detektif.
“Kamu jangan khawatir...” Ali menggenggam tangan Anggi, “semuanya akan baik-baik saja, terlebih aku ngga sendiri.”
“Tetep aja aku takut.” Ucapnya.
“Udah, nggapapa kok.” Sahut Ali.
Ali pun merangkul Anggi untuk menenangkannya. Malam pun berlalu, Damar sedang berjalan seorang diri menuju kediamannya. Ia merogoh saku celananya untuk mengambil kunci, sampai akhirnya ia mendekat ke salah satu rumah dengan pohon besar di halamannya. Ia memasukkan kunci tersebut untuk membuka pintu, Damar pun masuk lalu kembali mengunci pintu.
Hanya lampu dapur yang menemaninya, ia berjalan melewati ruang tamu menuju sebuah pintu yang tertutup. Damar membuka pintu secara perlahan, ia melihat Sasa yang sudah terlelap dalam tidurnya entah sedari kapan. Langkahnya yang ringan mendekat ke arah Sasa, ia pun duduk di tepi kasur menatap wajahnya.
Secara perlahan, tangannya menyeka sebagian rambut yang menyeka wajah Sasa. Damar pun mencium keningnya, Sasa yang sudah terpejam pun tersenyum tanpa sadar. Damar pun membalas senyumnya dalam diam, hingga ia pun kembali bangun dan meninggalkan Sasa.
Ia menutup pintu secara perlahan, Damar menuju ruangan yang ada di sebelah. Ia pun duduk di kursi lalu menyalakan komputernya. Tangan kanannya mulai mengarahkan penunjuk ke salah satu folder berisi data-data pekerjaannya. Ada sebuah folder yang ia tatap lebih lama, Damar pun membuka folder tersebut.
“Payung Kuning...”
Damar kembali melihat data-data yang sudah terkumpul mengenai kasus Payung Kuning, ia mulai membaca laporan mengenai tindakan si pelaku.
“Kasus Payung Kuning, sebuah tindak pembunuhan berantai yang dilakukan oleh seorang pria berumur tiga puluh. Pria yang disebut “Leo” ini mempunyai pekerjaan sebagai ahli sulap. Belakangan ini mulai bermunculan ahli-ahli sulap lainnya, yang membuat nama Leo meredup karena teknik sulapnya yang bisa dikatakan sedikit ketinggalan.
Leo memiliki ide untuk memberikan kejutan dengan cara menutupi korban-korbannya dengan payung berwarna kuning, dengan maksud untuk membuat siapa yang mengusut kasus ini menebak-nebak apa yang dia lakukan untuk membunuh korbannya.
Salah satunya, korban wanita berumur dua puluh satu…”
Ada sebuah foto yang menampilkan seorang wanita yang terduduk tanpa busana di depan Gereja, dengan kondisi tangan kanannya yang putus lalu disumpal ke dalam mulutnya sendiri, seolah-olah ada orang yang ingin keluar dari dalam tubuhnya. Leo pun memberikan alasan kenapa dia membunuh wanita itu.
“Dia salah satu orang munafik. Wujud aslinya yang penuh dosa terperangkap dalam tubuh seorang pengabdi Tuhan. Untuk apa ia mengabdi, menyerahkan hatinya untuk Tuhan jika raganya ia serahkan kepada pria yang membutuhkannya? Munafik bukan?”
Damar melihat laporan kedua, di mana ada foto seorang pria berumur delapan belas yang terduduk di depan makam wanita yang berumuran sama. Kelamin korban dipotong lalu dimasukkan ke dalam tubuhnya yang sudah dibuat lubang, tepat di hatinya. Leo kembali memberikan jawabannya.
“Makam itu adalah makam pacarnya, yang sudah ia rudapaksa bersama teman-temannya di suatu malam. Bermula dengan segala bujuk rayu, wanita itu menolak hingga membuat pria ini memaksa. Wanita itu memilih terjun dari lantai lima daripada harus menjadi budak seks untuk pacar dan teman-temannya. Di balik raganya, ada sebuah nafsu yang tidak bisa dikontrol oleh dirinya sendiri.”
Berlanjut ke foto berikutnya, di mana ada seorang anak wanita berumur sebelas taun yang terduduk hanya mengenakan popok ukuran besar, dengan tidak ada kulit yang tersisa di tubuhnya.
“Seorang anak yang selalu berbuat sesukanya hingga membuat orang tuanya sakit hati. Tindakannya yang kasar dan tutur katanya yang kotor membuatku ingin mengembalikannya ke saat dia masih bayi, di mana dia hanya bisa menangis meminta tolong kepada ayah dan ibunya. Dia harusnya beruntung masih bisa merasakan kasih sayang orang tua, tidak sepertiku.”
“Dari mana anda tau semua latar belakang mereka?...”
Damar sedang menginterogasi Leo di hadapan pihak kepolisian, ada Ali juga yang sedang berdiri di sudut ruangan, menatap ke arah mereka dengan matanya yang masih sembab setelah kehilangan detektif.
“...ada hubungan apa dengan mereka semua? Sementara semua korban tidak ada hubungannya satu sama lain?” Tanya Damar.
“Hubungannya... tidak ada...”
Damar memandang heran ke arahnya.
“...tentu saja saya hanya mengarang semua alasan itu.” Jawabnya.
“Maksud anda apa?” Tanya Damar heran.
“Saya hanya iseng.” Jawabnya singkat.
“Tidak ada motif apa-apa?” Tanya Damar lagi.
Leo tertawa, “Saya hanya iseng.”
BRUK! Ali memukul Leo tepat di mata kirinya, dengan cepat Damar menahan Ali yang terlihat sudah emosi dengan apa yang sudah Leo lakukan.
“Bajingan! Ngapain lo bunuh detektif kalau cuma iseng! Mati aja lo bajingan!” Ucapnya marah.
Dengan mata yang sedikit membiru, Leo hanya tertawa dengan lantangnya melihat reaksi Ali yang sudah tersulut emosi.
Akhirnya, Leo sang Payung Kuning pun dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan setelah apa yang sudah ia lakukan. Ia diberikan hak untuk memilih beberapa pilihan untuk mengakhiri hidupnya. Ada kursi listrik, tembak, hingga suntik mati.
“Saya memilih untuk ditembak...”
DOR!
“Astaga...”
Damar dibuat terkejut dengan tangan yang menyentuh pundaknya, Sasa sudah berdiri di sampingnya entah sejak kapan.
“...kamu bikin kaget aja.” Ucap Damar.
“Kamu dipanggil ngga nengok, makanya aku ke sini, malah kamu yang kaget sendiri.” Ucap Sasa.
Damar bangun dari duduknya, kemudian ia menarik tangan Sasa lalu memeluknya dengan hangat. Sasa membalas pelukannya dengan mengusap punggung Damar dengan pelan.
“Kamu nggapapa?” Tanya Sasa.
“Nggapapa, aku kangen aja sama kamu.” Jawab Damar.
Sasa tersenyum mendengarnya, mereka pun melepas pelukan dan Sasa menatap ke arah layar komputer yang menyala.
“Kamu lagi baca apa sih...” Sasa mendekat ke arah layar, “payung kuning?”
“Iya, aku lagi baca ulang laporan beberapa tahun lalu.” Jawabnya.
“Soal kasus tadi pagi?” Tanya Sasa.
Damar mengangguk. Sasa mengusap pipi Damar beberapa kali, kemudian mereka berlalu menuju ruang tengah. Damar duduk menyandarkan tubuhnya, Sasa kembali dari dapur dengan membawa dua cangkir teh panas yang baru saja ia buat.
“Kamu minum dulu, biar ngga pusing.” Ucap Sasa.
Damar meraih cangkir itu dan minum secara perlahan bersamaan dengan Sasa yang duduk di sampingnya. Aroma dan rasa dari teh chamomile berhasil menenangkan pikiran Damar saat ini, setelah melalui hari yang panjang.
“Makasih ya.” Ucap Damar.
“Gimana soal kasus itu?” Tanya Sasa.
“Masih cari petunjuk selagi nunggu hasil otopsi keluar. Kamu sendiri gimana sama persiapan peragaan busana itu? Aman-aman aja kan?” Ucap Damar.
Sasa mengangguk, “Aman sih, beberapa hari lalu aja yang agak nyebelin, karena tiba-tiba banyak model yang batal. Untungnya ada beberapa model yang siap buat gantiin, kalau ngga bakalan bingung aku.”
“Kamu masih ada tiket buat Ali sama Anggi kan?” Tanya Damar.
Sasa mengangguk, “Aku titip ya, nanti tolong kamu kasih ke mereka.”
Damar mengangguk setuju bersamaan dengan mereka yang kembali meminum teh secara perlahan, membiarkan malam terlewat begitu saja hingga akhirnya tiba waktunya untuk mereka beristirahat.
“Bang, bungkus dua ya.” Ucap Damar.
Penjual minuman itu membungkuskan pesanannya. Tak membutuhkan waktu lama untuk menyerahkan pesanan Damar yang ditukar dengan beberapa lembar uang.
“Makasih ya.” Ucap Damar.
Ia berjalan menuju Ali yang sudah duduk di bagasi mobilnya yang terbuka. Damar menyerahkan satu minuman untuk Ali lalu dia ikut duduk di sampingnya.
“Kapan kita mau balik ke tempat kejadian?” Tanya Ali.
“Sore atau malem aja...” Damar menyalakan sebatang rokok, “masih banyak petugas kepolisian, kasih mereka ruang juga untuk bergerak.”
Ali mengangguk lalu menyalakan rokoknya, “Oh iya, gimana kabarnya Sasa? Udah lama gue ngga ketemu sama dia. Ada kali ya enam bulan gue ngga ketemu.”
“Baik kok, dia lagi sibuk aja.” Ucap Damar.
“Lagi sibuk apa dia sekarang?” Tanya Ali.
“Persiapan peragaan busana di Balai Kota.” Jawab Damar.
“Oh, acara tahunan kayak biasa?” Tanya Ali lagi.
Damar mengangguk, “Makanya dia lagi sibuk sekarang, ngga terasa tinggal beberapa hari lagi acaranya. Nanti gue kasih tiket masuk buat lo sama Anggi.”
“Nah, berhubung lo menyinggung nama Anggi, ada yang pengen gue ceritain soal dia.” Sahut Ali.
“Kenapa sama Anggi?” Tanya Damar.
Ali menghembuskan asap rokok, “Lo tau kan gue sama Anggi udah nikah cukup lama. Kita udah terlalu sibuk sama pekerjaan sendiri sampai lupa kalau kita belum punya anak. Gue coba tanya ke Anggi soal itu, cuma dia selalu bisa menghindar dengan jawaban-jawaban dia.”
“Kenapa lo baru pertanyakan ini sekarang?” Tanya Damar.
“Jawabannya sesederhana umur aja...”
Damar menatap Ali.
“...ngga sadar gue udah masuk akhir tiga puluh, Anggi pun juga. Gue takut kalau semakin tua, semakin susah kita untuk punya keturunan.” Jawabnya.
“Apa karena karirnya Anggi?” Tanya Damar.
Ali mengangguk, “Dia lagi ada di puncak karirnya sebagai pembawa acara berita, terlebih dia baru dapat kontrak acara berita baru, mungkin itu sih yang bikin dia ngga mau.”
“Ngga kepikiran untuk adopsi aja?...”
Ali pun menatap Damar.
“...mungkin bisa jadi solusi. Anggi mungkin aja menghindar karena bisa beresiko untuk karirnya, ada pilihan adopsi anak untuk kalian.” Ucap Damar.
“Ngga kepikiran gue buat adopsi anak, kayaknya bisa jadi solusi. Nanti gue tanya ke Anggi, dan semoga dia setuju ya.” Ucap Ali.
“Semisal dia ngga mau juga gimana?” Tanya Damar.
“Itu yang belum gue tau.” Jawabnya.
“Jangan terlalu dipaksain.” Sahut Damar.
Ali mengangguk setuju, mereka kembali menghisap rokok masing-masing untuk menutup istirahat siang ini. Sore tiba dengan matahari yang akan segera terbenam, Ali dan Damar kembali datang ke tempat kejadian. Damar masuk melewati garis pembatas untuk kembali memeriksa selokan, sementara Ali melihat ke arah sekeliling untuk mencari petunjuk. Ada seseorang mendekat ke arah garis pembatas yang disadari oleh Damar, hingga membuatnya menoleh ke arah orang tersebut.
“Sore Pak.” Ucap Talia.
“Eh, yang dari LTV kan ya?” Tanya Damar.
“Betul Pak. Saya mau tanya soal perkembangan kasus, apakah ada yang baru?” Ucap Talia.
Damar membelakangi Talia, “Otopsi baru selesai di Rumah Sakit, kita tinggal tunggu sampai hasilnya keluar. Kami masih mencari petunjuk untuk tindak lanjut berikutnya...”
Damar mengeluarkan kulit dari sakunya lalu menatapnya dengan seksama.
“...kamu ngga ke Rumah Sakit untuk peliputan?” Tanya Damar.
“Ada rekan saya di sana Pak.” Jawabnya.
Damar kembali memasukkan kulit ke dalam saku, kemudian ia mendekat ke arah Talia bersamaan dengan Ali yang juga datang.
“Loh, Talia masih di sini?” Tanya Ali.
“Iya Pak. Teman saya yang meliput di Rumah Sakit, jadi saya tunggu di sini dalam waktu satu hari. Mungkin aja ada petunjuk yang bisa jadi berita eksklusif.” Jelas Talia.
“Sayangnya masih belum ada.” Jawab Ali.
“Saya masih punya beberapa jam lagi Pak.” Sahut Talia.
“Oh iya, kamu dari LTV ya?...”
Talia mengangguk.
“...Kamu kenal sama Anggi?” Tanya Ali.
“Anggi?...” Talia berpikir sejenak, ”ada Anggi bagian keuangan, ada Anggi bagian kreatif, sama ada Kak Anggi pembawa acara berita. Salah satunya ada kenalan Bapak?”
“Oh iya, Anggi di LTV juga ya.” Sahut Damar.
“Anggi yang pembawa acara berita itu kenalan saya, sebenarnya istri saya sih.” Ucap Ali.
“Serius Kak Anggi istrinya Bapak?” Tanya Talia terkejut.
“Iya serius, apa perlu saya kasih tunjuk catatan pernikahan kami? Tapi ada di rumah, nanti kapan-kapan saya tunjukin untuk buktinya.” Jawab Ali.
Talia tersenyum, “Ngga perlu, saya percaya Pak. Sudah berapa lama kalian menikah kalau boleh saya tau?”
“Kalau saya ngga salah sih delapan tahun.” Jawab Ali.
“Kok delapan?...” Damar memukul lengan Ali pelan, “sembilan tahun dong, masa iya gue yang inget pernikahan kalian.”
Ali nampak bingung, ia sempat menghitung dengan jari tangannya sesaat. Ia pun menepuk dahinya ketika mengetaui kebenarannya.
“Oh iya, sembilan tahun.” Jawabnya.
Talia tertawa singkat. “Lucu juga ya kalau temannya yang inget berapa lama pernikahan Bapak. Apa kalian sudah sedekat itu dari lama?”
Ali mengangguk, “Sudah lima belas tahun kami berteman, bahkan lebih lama dibandingkan dengan istri saya sendiri.”
“Pantes aja sih.” Sahut Talia.
“Oh iya...” Ali merogoh sakunya, “semisal kamu nemuin sesuatu, mungkin kamu bisa hubungi saya. Siapa tau kamu lebih dulu nemuin petunjuk dibanding kita.”
Talia menerima kartu pengenal milik Ali seraya mengangguk, ia pun memasukkan kartu nama tersebut ke dalam saku kemeja yang ia kenakan. Sore pun berganti, matahari sudah memendamkan wajahnya. Dua orang dari pihak kepolisian sedang berjaga di tempat kejadian ditemani beberapa warga sekitar. Damar, Ali dan juga Talia berjalan ke tempat di mana mobil Ali berada.
“Kamu mau bareng aja?” Tanya Damar.
“Oh iya, bareng aja kalau mau.” Sahut Ali.
“Terima kasih Pak, tapi saya nunggu temen, nah itu dia...”
Sebuah mobil dari LTV pun datang.
“...kalau gitu saya pamit duluan ya Pak. Jangan lupa untuk kabari semisal ada perkembangan kasus.” Ucap Talia.
Damar tersenyum sementara Ali menganggukkan kepalanya. Talia pun masuk ke dalam mobil itu dan meninggalkan mereka berdua. Ali dan Damar pun masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan lokasi ini.
Jalanan tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa kendaraan yang silih berganti. Ali pun memutuskan untuk membuka kaca jendela, sementara Damar menyalakan sebatang rokok miliknya.
“Mau balik ke kantor kita?” Tanya Ali.
“Ngga usah, pulang aja.” Jawab Damar.
“Lo mampir ya ke rumah gue, Anggi masak hari ini.” Ajak Ali.
“Masak apa dia?” Tanya Damar.
“Ngga ngasih tau dia, kejutan katanya.” Jawab Ali.
“Boleh deh.” Jawab Damar.
Beberapa saat berlalu, akhirnya Ali menepikan mobilnya di tepi jalan, tepat di belakang mobil merah milik Anggi. Mereka pun turun dari mobil lalu berjalan mendekat ke arah pintu rumah. Ali mengetuk pintu beberapa kali, lalu pintu dibuka dari dalam.
“Eh ada Damar...”
Damar tersenyum menanggapinya.
“...ayo masuk.” Ajak Anggi.
Ali mengecup bibir Anggi singkat, kemudian mereka masuk ke dalam rumah. Mereka berjalan menuju meja makan di mana beberapa makanan tersaji di sana.
“Wah, masak apa aja kamu?” Tanya Ali.
“Ada sandung lamur lada hitam, jamur tiram asam manis, dan tumis sayuran.” Jawab Anggi.
“Kalian lagi ada acara spesial atau emang tiap Anggi masak selalu mewah kayak gini?” Tanya Damar.
“Pilihan kedua itu jawabannya. Lo tau kan Anggi sibuk, jadi tiap dia masak udah pasti mewah lah kayak gini.” Sahut Ali.
Anggi tersenyum, “Ayo duduk Mar.”
Ali dan Anggi duduk berdampingan sementara Damar duduk di hadapan mereka. Anggi mulai menuangkan nasi ke piring mereka, kemudian mereka mulai mengambil makanan masing-masing dan mulai makan malam hari ini.
Suapan pertama berhasil membuat Ali dan Damar terkesima, Damar mengacungkan ibu jarinya yang disambut senyuman oleh Anggi.
“Ngga salah nih Nggi? Ini enak banget.” Ucap Damar.
“Makasih Mar.” Jawabnya.
“Ajak-ajak lagi lah kalau lo masak lagi.” Pinta Damar.
Anggi mengangguk, “Nanti ajak Sasa juga sekalian, udah lama gue ngga ketemu sama dia. Ada kali ya beberapa bulan lalu, gimana dia sekarang?”
“Ya baik-baik aja sih, lagi sibuk persiapan peragaan busana.” Jawab Damar.
“Oh yang di Balai Kota kan?” Tanya Anggi.
Damar mengangguk, “Jadi beberapa minggu ini lagi agak ribet dia, gue pun juga ketemu pas sarapan doang. Selebihnya ya antara guenya udah tidur atau dianya yang tidur duluan.”
“Tapi lo serius kan sama dia?” Sahut Ali.
“Serius gimana maksudnya?” Tanya Damar.
“Ya ada rencana buat menikah sama dia.” Ucap Ali.
“Ada sih, cuma gue belum tau dia mau apa ngga.” Jawab Damar.
“Wanita mana yang ngga mau diajak nikah Mar, kita semua pasti mau kok. Contoh aja gue sama Ali...”
Damar menatap dengan seksama.
“...Ali sibuk jadi detektif sama kayak lo, gue sibuk jadi pembawa berita. Sesibuk-sibuknya kami, ada hasrat terpendam untuk menikah. Jadi pasti Sasa juga mau kalau lo ajak nikah.” Jelas Anggi.
Ali mengangguk, “Setuju sih. Dulu gue juga mikirnya sama kayak lo. Gue takut ganggu kegiatannya dia kalau menikah, tapi pada kenyataannya ngga sama sekali.”
“Coba ajak Sasa ngobrol soal pernikahan setelah acara.” Ucap Anggi.
Damar menganggukkan kepalanya. Malam terus berlanjut, mereka bertiga sedang duduk di halaman belakang dengan bir kaleng di tangan masing-masing.
“Eh iya, ada perkembangan apa soal kasus pembunuhan tadi pagi?” Tanya Anggi.
“Masih nunggu hasil otopsi pihak forensik, karena ngga ada paksaan dari luka di bagian luar. Ada kemungkinan kalau kematian disebabkan dari dalam.” Jawab Damar.
“Diracun?” Tanya Anggi.
“Bisa jadi sih.” Jawab Damar singkat.
“Kok ada ya orang-orang kayak gitu, serem banget.” Ucap Anggi.
“Kayaknya ada yang niru Payung Kuning.” Sahut Ali.
“Payung Kuning?” Tanya Anggi.
Ali mengangguk, “Beberapa tahun lalu pas aku sama Damar masih jadi asisten detektif, ada sebuah kasus pembunuhan berantai. Semua korbannya mati dalam posisi duduk dan sambil pegang payung kuning di tangan mereka. Jadi ketika payung diangkat baru bisa dilihat siapa korbannya.”
“Jadi payung itu nutupin korbannya?” Tanya Anggi.
Damar mengangguk, “Bisa dibilang kalau itu jadi bentuk kejutan dari si pembunuh, apa yang dia lakukan ke korban menjadi kejutan bagi siapa yang membuka payung itu pertama kali. Ada yang ngga ada matanya, ada yang dikuliti sekujur tubuh, bahkan ada yang tanpa kepala.”
“Ih kok serem banget sih?” Keluh Anggi.
“Lebih serem pas pelakunya ditangkap dan diinterogasi, jawabannya itu dia suka kasih kejutan ke orang-orang. Karena dia sudah kehabisan ide, akhirnya dia memilih untuk membunuh dan dia senang orang-orang tertuju pada kejutannya dia.” Jawab Ali.
“Demi apa?” Tanya Anggi terkejut.
“Tanya aja Damar.” Ucap Ali.
Anggi menatap Damar yang mengangguk dengan pasti. Ali dan Damar kembali menghisap rokok yang ada di tangan mereka.
“Gue jadi kepikiran soal omongan lo barusan.” Ucap Damar.
“Bener kan?” Tanya Ali.
Damar menghela nafasnya, “Kalau ini sampai beneran, berarti kejadian beberapa tahun lalu akan terulang lagi. Kita harus cari tau polanya biar ngga kecolongan kayak dulu.”
“Kecolongan? Maksudnya gimana?” Tanya Anggi.
“Detektif kita salah satu korbannya...”
Anggi membuka matanya cukup lebar.
“...kita ngga nyangka kalau dia juga jadi target. Korban yang ngga ada matanya, itu dia.” Jawab Ali.
“Jadi si pelaku ini tau siapa yang coba untuk mengusut kasus ini, yaitu detektif kita saat itu. Akhirnya dia datang ke kantor dan membunuh detektif di kursi. Untuk memberi petunjuk, dia cabut paksa matanya dengan maksud agar jangan ada yang usut kasus ini lagi.” Jelas Damar.
Anggi menggenggam tangan Ali cukup kuat hingga berhasil membuat Ali menatap ke arahnya. Tentunya ia menyadari bahwa Anggi dibuat ketakutan, terlebih dengan pekerjaan Ali yang sekarang menjadi detektif.
“Kamu jangan khawatir...” Ali menggenggam tangan Anggi, “semuanya akan baik-baik saja, terlebih aku ngga sendiri.”
“Tetep aja aku takut.” Ucapnya.
“Udah, nggapapa kok.” Sahut Ali.
Ali pun merangkul Anggi untuk menenangkannya. Malam pun berlalu, Damar sedang berjalan seorang diri menuju kediamannya. Ia merogoh saku celananya untuk mengambil kunci, sampai akhirnya ia mendekat ke salah satu rumah dengan pohon besar di halamannya. Ia memasukkan kunci tersebut untuk membuka pintu, Damar pun masuk lalu kembali mengunci pintu.
Hanya lampu dapur yang menemaninya, ia berjalan melewati ruang tamu menuju sebuah pintu yang tertutup. Damar membuka pintu secara perlahan, ia melihat Sasa yang sudah terlelap dalam tidurnya entah sedari kapan. Langkahnya yang ringan mendekat ke arah Sasa, ia pun duduk di tepi kasur menatap wajahnya.
Secara perlahan, tangannya menyeka sebagian rambut yang menyeka wajah Sasa. Damar pun mencium keningnya, Sasa yang sudah terpejam pun tersenyum tanpa sadar. Damar pun membalas senyumnya dalam diam, hingga ia pun kembali bangun dan meninggalkan Sasa.
Ia menutup pintu secara perlahan, Damar menuju ruangan yang ada di sebelah. Ia pun duduk di kursi lalu menyalakan komputernya. Tangan kanannya mulai mengarahkan penunjuk ke salah satu folder berisi data-data pekerjaannya. Ada sebuah folder yang ia tatap lebih lama, Damar pun membuka folder tersebut.
“Payung Kuning...”
Damar kembali melihat data-data yang sudah terkumpul mengenai kasus Payung Kuning, ia mulai membaca laporan mengenai tindakan si pelaku.
“Kasus Payung Kuning, sebuah tindak pembunuhan berantai yang dilakukan oleh seorang pria berumur tiga puluh. Pria yang disebut “Leo” ini mempunyai pekerjaan sebagai ahli sulap. Belakangan ini mulai bermunculan ahli-ahli sulap lainnya, yang membuat nama Leo meredup karena teknik sulapnya yang bisa dikatakan sedikit ketinggalan.
Leo memiliki ide untuk memberikan kejutan dengan cara menutupi korban-korbannya dengan payung berwarna kuning, dengan maksud untuk membuat siapa yang mengusut kasus ini menebak-nebak apa yang dia lakukan untuk membunuh korbannya.
Salah satunya, korban wanita berumur dua puluh satu…”
Ada sebuah foto yang menampilkan seorang wanita yang terduduk tanpa busana di depan Gereja, dengan kondisi tangan kanannya yang putus lalu disumpal ke dalam mulutnya sendiri, seolah-olah ada orang yang ingin keluar dari dalam tubuhnya. Leo pun memberikan alasan kenapa dia membunuh wanita itu.
“Dia salah satu orang munafik. Wujud aslinya yang penuh dosa terperangkap dalam tubuh seorang pengabdi Tuhan. Untuk apa ia mengabdi, menyerahkan hatinya untuk Tuhan jika raganya ia serahkan kepada pria yang membutuhkannya? Munafik bukan?”
Damar melihat laporan kedua, di mana ada foto seorang pria berumur delapan belas yang terduduk di depan makam wanita yang berumuran sama. Kelamin korban dipotong lalu dimasukkan ke dalam tubuhnya yang sudah dibuat lubang, tepat di hatinya. Leo kembali memberikan jawabannya.
“Makam itu adalah makam pacarnya, yang sudah ia rudapaksa bersama teman-temannya di suatu malam. Bermula dengan segala bujuk rayu, wanita itu menolak hingga membuat pria ini memaksa. Wanita itu memilih terjun dari lantai lima daripada harus menjadi budak seks untuk pacar dan teman-temannya. Di balik raganya, ada sebuah nafsu yang tidak bisa dikontrol oleh dirinya sendiri.”
Berlanjut ke foto berikutnya, di mana ada seorang anak wanita berumur sebelas taun yang terduduk hanya mengenakan popok ukuran besar, dengan tidak ada kulit yang tersisa di tubuhnya.
“Seorang anak yang selalu berbuat sesukanya hingga membuat orang tuanya sakit hati. Tindakannya yang kasar dan tutur katanya yang kotor membuatku ingin mengembalikannya ke saat dia masih bayi, di mana dia hanya bisa menangis meminta tolong kepada ayah dan ibunya. Dia harusnya beruntung masih bisa merasakan kasih sayang orang tua, tidak sepertiku.”
“Dari mana anda tau semua latar belakang mereka?...”
Damar sedang menginterogasi Leo di hadapan pihak kepolisian, ada Ali juga yang sedang berdiri di sudut ruangan, menatap ke arah mereka dengan matanya yang masih sembab setelah kehilangan detektif.
“...ada hubungan apa dengan mereka semua? Sementara semua korban tidak ada hubungannya satu sama lain?” Tanya Damar.
“Hubungannya... tidak ada...”
Damar memandang heran ke arahnya.
“...tentu saja saya hanya mengarang semua alasan itu.” Jawabnya.
“Maksud anda apa?” Tanya Damar heran.
“Saya hanya iseng.” Jawabnya singkat.
“Tidak ada motif apa-apa?” Tanya Damar lagi.
Leo tertawa, “Saya hanya iseng.”
BRUK! Ali memukul Leo tepat di mata kirinya, dengan cepat Damar menahan Ali yang terlihat sudah emosi dengan apa yang sudah Leo lakukan.
“Bajingan! Ngapain lo bunuh detektif kalau cuma iseng! Mati aja lo bajingan!” Ucapnya marah.
Dengan mata yang sedikit membiru, Leo hanya tertawa dengan lantangnya melihat reaksi Ali yang sudah tersulut emosi.
Akhirnya, Leo sang Payung Kuning pun dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan setelah apa yang sudah ia lakukan. Ia diberikan hak untuk memilih beberapa pilihan untuk mengakhiri hidupnya. Ada kursi listrik, tembak, hingga suntik mati.
“Saya memilih untuk ditembak...”
DOR!
“Astaga...”
Damar dibuat terkejut dengan tangan yang menyentuh pundaknya, Sasa sudah berdiri di sampingnya entah sejak kapan.
“...kamu bikin kaget aja.” Ucap Damar.
“Kamu dipanggil ngga nengok, makanya aku ke sini, malah kamu yang kaget sendiri.” Ucap Sasa.
Damar bangun dari duduknya, kemudian ia menarik tangan Sasa lalu memeluknya dengan hangat. Sasa membalas pelukannya dengan mengusap punggung Damar dengan pelan.
“Kamu nggapapa?” Tanya Sasa.
“Nggapapa, aku kangen aja sama kamu.” Jawab Damar.
Sasa tersenyum mendengarnya, mereka pun melepas pelukan dan Sasa menatap ke arah layar komputer yang menyala.
“Kamu lagi baca apa sih...” Sasa mendekat ke arah layar, “payung kuning?”
“Iya, aku lagi baca ulang laporan beberapa tahun lalu.” Jawabnya.
“Soal kasus tadi pagi?” Tanya Sasa.
Damar mengangguk. Sasa mengusap pipi Damar beberapa kali, kemudian mereka berlalu menuju ruang tengah. Damar duduk menyandarkan tubuhnya, Sasa kembali dari dapur dengan membawa dua cangkir teh panas yang baru saja ia buat.
“Kamu minum dulu, biar ngga pusing.” Ucap Sasa.
Damar meraih cangkir itu dan minum secara perlahan bersamaan dengan Sasa yang duduk di sampingnya. Aroma dan rasa dari teh chamomile berhasil menenangkan pikiran Damar saat ini, setelah melalui hari yang panjang.
“Makasih ya.” Ucap Damar.
“Gimana soal kasus itu?” Tanya Sasa.
“Masih cari petunjuk selagi nunggu hasil otopsi keluar. Kamu sendiri gimana sama persiapan peragaan busana itu? Aman-aman aja kan?” Ucap Damar.
Sasa mengangguk, “Aman sih, beberapa hari lalu aja yang agak nyebelin, karena tiba-tiba banyak model yang batal. Untungnya ada beberapa model yang siap buat gantiin, kalau ngga bakalan bingung aku.”
“Kamu masih ada tiket buat Ali sama Anggi kan?” Tanya Damar.
Sasa mengangguk, “Aku titip ya, nanti tolong kamu kasih ke mereka.”
Damar mengangguk setuju bersamaan dengan mereka yang kembali meminum teh secara perlahan, membiarkan malam terlewat begitu saja hingga akhirnya tiba waktunya untuk mereka beristirahat.
ø
pulaukapok memberi reputasi
1
Kutip
Balas