- Beranda
- Stories from the Heart
AMURTI
...
TS
watcheatnsleep
AMURTI

Season 2 dari Awakening : Sixth Sense
Sinopsis :
Di saat Rama telah pulih kembali dari kecelakaan yang menimpanya, semesta seakan belum puas untuk menguji dirinya. Masalah yang baru satu-persatu menghampiri dan menghantamnya secara bertubi-tubi. Menimbulkan keretakan pada sisi keluarga, cinta, dan pertemanan dalam hidupnya. Dekapan kegelapan pun tak bisa terelakkan oleh batin Rama.
Diterpa kerasnya realita hidup akhirnya membuat Rama memutuskan untuk mengikuti Mahendra. Sesosok pria misterius yang acap kali mendorong Rama sampai ke titik nadirnya. Sebuah anomali yang intensinya tak bisa diterka oleh Rama.
Pengalaman demi pengalaman yang dialami Rama pun seakan menuntun dirinya pada rentetan kisah yang sudah lama terkubur, berharap untuk segera dihidupkan kembali. Menghadapkan Rama pada sebuah takdir yang tak akan pernah bisa dihindari.
Diterpa kerasnya realita hidup akhirnya membuat Rama memutuskan untuk mengikuti Mahendra. Sesosok pria misterius yang acap kali mendorong Rama sampai ke titik nadirnya. Sebuah anomali yang intensinya tak bisa diterka oleh Rama.
Pengalaman demi pengalaman yang dialami Rama pun seakan menuntun dirinya pada rentetan kisah yang sudah lama terkubur, berharap untuk segera dihidupkan kembali. Menghadapkan Rama pada sebuah takdir yang tak akan pernah bisa dihindari.
INDEKS :
UPLOAD SETIAP JAM 12 MALAM.
KECUALI SABTU & MINGGU
Wattpad : @vikrama_nirwasita
Karyakarsa : vikrama
Instagram : @vikrama_nirwasita
Diubah oleh watcheatnsleep 12-04-2023 21:06
junti27 dan 14 lainnya memberi reputasi
15
9.1K
92
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
watcheatnsleep
#27
CHAPTER 9
Udara sejuk memasuki sela-sela ruangan. Membelai kulit, menyegarkan jiwa dan raga. Perlahan, langit yang gelap berganti biru tua. Suara aktivitas manusia mulai terjun ke pendengaranku. Suara mesin mobil yang dihidupkan, suara benda-benda yang dipindahkan, dan suara percakapan yang samar.
Hangatnya sinar sang surya telah menyentuh punggung. Tak lama kemudian, suara langkah berat menghampiri posisiku. Ketukan pintu berbunyi tiga kali, membuatku lantas beranjak dan segera membuka kunci dari pintu. Pintu terbuka, cahaya matahari seketika menyilaukan mata hingga membuatku berpaling sesaat.
“Silakan, Mas.” Di tangan Pak Kusno tampak sebuah mangkuk berisikan seporsi nasi berukuran satu kepalan tangan lengkap dengan sendok dan satu botol air mineral.
“Terimakasih, Pak.” Aku menerima nasi dan air itu dan membawanya ke dalam gubuk.
“Bagaimana latihannya, Mas? Lancar?” tanya Pak Kusno sembari mengikutiku masuk ke dalam.
Kutenggak air mineral sejenak lalu perlahan aku menjawab, “Lumayan lancar, Pak.”
“Omong-omong, semalam ada dengar sesuatu dari gubuk gak, pak?” tanyaku penasaran.
Pak Kusno menggeleng kepala seraya menjawab, “Nggak ada mas, justru kemarin malam malah sunyi sekali.”
Aku hanya mengangguk, menyadari memang ada sesuatu yang tidak beres. Aku rasa, makhluk-makhluk itu bukanlah milik Mahendra. Tak tahu itu milik siapa, tapi yang pasti mereka nyatanya bisa mengancam nyawaku.
“Hmmm … Pak Mahendra ada sampaikan sesuatu buat saya nggak, Pak?”
“Nggak ada, Mas. Soalnya Pak Hendra kayaknya lagi sibuk. Dari semalam belum keluar kamar.”
Aku diam, semakin bingung akan situasiku saat ini. Di satu sisi aku merasa Mahendra tampaknya tidak terlalu perduli dan menganggap serius akan latihanku. Di sisi lain, aku sadar bahwa dia yang memasang pelindung di sekeliling gubuk.
“Setelah ini silakan dilanjut lagi, Mas. Nanti kalau butuh apa-apa, bisa panggil saya di depan,” ucap Pak Kusno ramah. “Saya pamit dulu ya, Mas. Soalnya masih banyak kerjaan.”
Dengan singkat aku membalas, “Baik, Pak.”
Sembari duduk bersandar di dinding, aku mulai memasukkan sendok demi sendok nasi ke mulutku. Selain rasa hambar di lidah, hanya ada rasa hangat yang membantuku untuk menelan. Nasi itu dalam sekejap mata habis, hanya mengganjal rasa lapar sesaat.
Aku pun beranjak membawa mangkuk dan air mineral itu menuju ruang tengah. Sembari berjalan aku menyadari suasana sekitar tampak sangat cerah dan nyaman, berbanding terbalik di saat gelap tiba. Seakan ada tabir yang menyelimuti lokasi ini. Aku merasa berada di dunia yang berbeda. Layaknya dunia yang terisolasi alias tertutup dari pengaruh luar.
Sesampainya di ruang tengah, kuletakkan mangkuk dan air mineral di meja. Tak lupa aku ke kamar mandi untuk membuang air kecil. Setelah itu aku langsung kembali ke gubuk dan melanjutkan latihanku.
Entah kenapa, perpindahan pagi menuju siang rasanya sangat singkat. Sekepal nasi yang kulahap tampaknya tak bisa memuaskan perutku. Perut yang keroncongan pun mulai mengundang angin untuk bersemayam di badan.
Meditasi yang kulakukan siang itu pun terasa jauh lebih rileks dan nyaman. Hingga lama kelamaan, rasa bosan dan jenuh mulai muncul menggerogotiku. Pikiran mulai mengajakku berandai-andai tentang kesenangan duniawi.
Berimajinasi tentang makanan yang nikmat hingga menggodaku untuk memutar hiburan seperti musik dan game. Lucunya, dengan membayangkannya saja sudah bisa membuatku merasakan sensasi nikmat di raga.
Belum lagi ditambah dengan hangatnya suasana siang itu, seperti menggodaku untuk lengah dan meluncur ke dunia mimpi. Sesekali aku menggerakkan badanku untuk menyingkirkan rasa kantuk. Menarik nafas dalam-dalam dan menghentakkannya untuk mengumpulkan semangat.
Senja pun juga akhirnya berlalu. Gelapnya langit kembali menghampiri. Tabir yang terbuka mulai mengundang sensasi mistis di sekitarku. Gemerisik daun di pepohonan bagaikan pertanda akan kedatangan mereka.
“Tok … tok … tok ….”
Suara Pak Kusno muncul dari balik pintu. “Mas Rama tolong buka pintunya.”
Aku beranjak dan mulai mendekat ke arah pintu. “Pak Kusno, ya?”
“Iya, Mas. Ada yang mau saya berikan.”
Timbul keraguan di batinku. Aku merasa janggal, tapi kalau itu benar Pak Kusno, aku merasa tidak enak jika menghiraukannya. Lagi pula, langit baru saja gelap, tak mungkin gangguan itu datang secepat ini, pikirku. Saat tanganku sudah menyentuh gagang pintu, sebuah bisikan tiba-tiba muncul di telingaku.
“Jangan dibuka.”
Aku tertegun seketika, bisikan itu seakan memperkuat keraguanku sebelumnya.
“Mas Rama … ini titipan dari Bapak, lho,” ucapnya buru-buru, “kalau masih lama, nanti tak tinggal lho mas.”
Terbesit sebuah ide di otakku. Aku mengambil satu langkah mundur lalu mulai merangkak di lantai. Pelan-pelan kudekatkan kepalaku pada celah di bawah pintu. Keraguanku pun seketika terjawab, sebab di pandanganku tak ada kaki yang sedang menapak di sana.
Suara itu tak juga berhenti, dia kedengaran semakin agresif. “Ini panggilan terakhir ya, Mas. Saya gak tanggung jawab kalau nanti si Bapak marah.”
Suara Pak Kusno yang medok perlahan berubah menjadi suara melengking dari seorang wanita.
“Hampir saja berhasil,” gumamnya.
“HAHAHAHAHA!” Suara tawa histeris itu seketika menghantam telingaku.
Belum sempat aku berpindah posisi, tiba-tiba di hadapanku muncul sebuah tangan pucat yang penuh bekas luka. Tak hanya itu saja, sebuah lidah panjang yang ujungnya bercabang dua mencuat ke arahku.
“Demit asu!” umpatku sembari refleks menghindar ke belakang.
“HAHAHAHA!” Dia menertawakanku dengan puas.
Aku kembali ke posisiku di tengah ruangan lalu duduk bersila. Pada saat itu yang kurasakan bukanlah rasa takut lagi, tapi lebih ke rasa kesal. Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk menghiraukan mereka sepenuhnya dan fokus kepada latihan meditasiku.
Kali ini suara makhluk itu berubah menjadi suara seseorang yang tak asing bagiku. “Ram … tolong, Ram.” Suara yang meringis kesakitan itu persis sama dengan suara Putra.
“Arrghhhhhh.” Jeritan itu seakan ingin menunjukkanku atas penderitaan Putra akibat kecelakaan itu.
Walau merasa sedikit goyah, aku berulang kali menegaskan dalam batinku bahwa itu hanyalah ilusi belaka. Makhluk itu sepertinya sadar bahwa penyamarannya akan Putra tak begitu efektif lagi. Suara rintihan itu seketika berubah menjadi suara merdu dengan nada yang menggoda.
“Ram, aku udah balik buat kamu, nih.” Suara manis itu persis sama dengan wanita yang ada di kenanganku. Makhluk sialan itu bahkan kini menyamar menjadi Adellia.
“Kamu masih marah ke aku, Ram?” ucapnya. “Padahal aku udah minta maaf ke kamu. Aku kangen, Ram.”
Makhluk itu tak bosan-bosannya menggangguku. Aku seperti telanjang di hadapannya. Kemampuannya untuk membaca memori, berhasil membuatnya mengetahui tentang titik-titik lemahku. Baginya, kenangan-kenangan buruk adalah senjata ampuh untuk menyerang mentalku.
“Ayo keluar, Ram,” ajaknya tak henti-henti. “Kamu harus lari dari tempat ini. Kamu gak boleh percaya sama laki-laki itu.”
Makhluk itu diam sejenak lalu berkata, “Dia itu pembunuh.”
Bagiku, apa yang dikatakan makhluk itu terasa konyol. Dari kemarin, aku sudah bisa melihat pihak mana yang lebih berbahaya. Mulai detik itu, semua yang disampaikannya hanya kuanggap sebagai omong kosong.
Aku hanya memerhatikan setiap ucapannya tanpa bergeming sama sekali. Hingga lama kelamaan, aku mulai merasakan sensasi getaran di area mata ketigaku. Bola mataku rasanya seperti sedang ditarik paksa ke arah atas. Sensasi itu berlangsung dalam beberapa saat, kemudian aku merasakan tubuhku seperti menembus sesuatu.
Pada saat itu juga, pandanganku yang gelap berubah menjadi terang, sebab saat itu di hadapanku adalah sebuah air terjun dengan pepohonan yang lebat di sekelilingnya. Air terjun itu cukup tinggi, setara dengan gedung berlantai enam.
Di bawah air terjun, tampak sesosok pria yang sedang duduk bersila sembari memejamkan kedua mata. Wajah pria itu tampak masih muda layaknya seseorang yang berumur 20 tahunan. Tubuhnya yang kurus ternyata sanggup untuk menahan derasnya hantaman air terjun.
Bersemedi di bawah air terjun bukanlah ujian utama yang harus dihadapi pria itu. Melainkan, bermacam-macam makhluk mengerikan yang pandangannya sedang tertuju pada dirinya.
Mulai dari ular sebesar pohon yang hinggap di bebatuan air terjun. Raksasa berbulu hitam dengan mata merah yang mengintip di balik pohon. Beberapa buaya putih dengan mulut yang menganga sedang siap siaga di pinggir batu. Seakan sedang menunggu setitik kelengahan sebagai kesempatan untuk menyusupi jiwa pria itu.
Hingga suara tembang jawa tiba-tiba muncul memecah keheningan. Makhluk-makhluk yang berada di dekat pria itu seketika panik dan kocar-kacir seakan nyawa mereka sedang terancam.
Dari balik pohon, muncul seorang wanita cantik mengenakan kemben lurik berwarna coklat. Rambutnya yang hitam di sanggul dengan sebuah tusuk konde berwarna emas. Bahunya yang terbuka menunjukkan kulit putih yang bersih mulus. Sebuah paduan yang sempurna jika disandingkan dengan kemolekan wajah dan tubuhnya.
Tetapi sayangnya wanita itu bukan datang dari bangsa manusia, sebab aku menyadari bahwa kakinya tak menapak di tanah. Wanita itu lantas melayang di udara dengan ringannya, seolah hukum gravitasi tak berefek padanya. Perlahan dia melayang menghampiri posisi pria yang sedang bersemedi di bawah air terjun.
Mata pria itu lantas terbuka sepenuhnya, tepat saat wanita itu telah berdiri di hadapannya. Mereka berdua saling bertatap-tatapan dengan intens layaknya sedang berkomunikasi lewat batin.
Beberapa saat kemudian, sosok wanita itu menapakkan kakinya di tanah sembari mengulurkan tangannya ke arah si pria. Pria itu pun lantas beranjak dari pertapaannya lalu menyambut hangat uluran tangan sosok wanita itu.
Perlahan mereka berdua berjalan setapak demi setapak, melalui kerikil dan bebatuan, melewati pepohonan yang lebat, hingga akhirnya sampailah mereka di depan sebuah goa. Mereka saling bertatap-tatapan sesaat, lalu mereka menapakkan langkah ke dalam goa secara bersamaan.
Anehnya, yang muncul di dalam goa adalah sebuah interior istana yang megah. Mereka seketika disambut oleh dayang-dayang yang sedang menari. Pasukan memegang tombak mengawal mereka sembari berbaris rapi. Bunyi gamelan dan instrumen musik jawa ikut memeriahkan suasana.
Di atas singgasana, duduk seorang pria paruh baya berwajah garang. Mahkota emas terpasang di kepalanya. Sepasang pria dan wanita itu pun seketika menunduk dan berlutut di hadapannya.
Pria yang duduk di singgasana hanya mengangguk pelan dan suasana menjadi hening seketika. Sambutan musik dan tari yang meriah itu berhenti, seiring pria yang berada di singgasana melempar sebuah selendang merah kepada pasangan itu.
Tiba-tiba, sepasang pria dan wanita yang sedang berlutut itu melepas pakaian mereka. Tanpa sehelai benang di tubuh, mereka melakukan hubungan suami istri di tengah-tengah keramaian. Tanpa memedulikan pandangan mata di sekelilingnya, mereka melakukannya dengan menggebu-gebu, demi memuaskan hasrat yang tak memiliki batas.
Bersambung …
erman123 dan 14 lainnya memberi reputasi
15