Kaskus

Story

tyasnitinegoroAvatar border
TS
tyasnitinegoro
TUMBAL TERAKHIR














TUMBAL TERAKHIR

TUMBAL TERAKHIR

"Aku ngerti jalur turunmu seko sopo! Aku yo ngerti dunyo seng tok nduweni saiki sumbere seko ngendi! dadi rausah mbok critakne dowo-dowo, Aku tetep gak setuju Nduk Kom tok rabi!" ( aku tau jalur keturunanmu dari siapa! Aku juga tahu harta yang kamu miliki itu sumbernya darimana! Jadi, gak usaj diceritakan panjang lebar, aku tetep tidak setuju kalau anak perempuan ku kamu nikahi)

Tegas dan berat suara dari seorang laki-laki tua berkopiah jaring kepada seorang pemuda tampan yang berada di hadapanya. Pemuda itu sebentar tertunduk, menatapi lantai tanah tak rata sembari tangannya meremas pegangan kursi kayu. Jiwanya bergolak marah, hatinya panas mendidih mendengar penolakan dari lelaki tua berwajah datar yang ia impikan bakal menjadi mertuanya.

Sang pemuda semakin terbakar emosi kala lelaki tua itu kembali berbicara sedikit menerangkan masa lalu dari kakek dan leluhurnya. Kepulan asap kemenyan dari rokok gulungan yang di hembuskan perlahan sang lelaki tua, tak lagi ia hiraukan meski menyesakkan dada.
Ingin rasanya saat itu ia berdiri dan mengumpat terlebih menghantam bibir tebal hitam lelaki di hadapanya, namun ia tahan, sebab ia sadar jika lelaki yang biasa di panggil Mbah Soko, bukanlah orang biasa.

Terbukti dari penolakanya yang begitu berani dengan perkataan kasar tentang keluarganya. Padahal satu Kampung, Desa atau bahkan tingkat Kecamatan tau siapa dirinya dan juga keluarganya.

"Aku ngerti seng tok pikir saiki, Aku yo ngerti nek koe loro ati! nanging koe yo kudu ngerti nek Aku ora bakal lilo ngeculke anakku dadi TRANGIS SRUNINGE keluargamu nang TANGGAL TELULAS!"
( aku tau yang sekarang kamu pikirkan, aku jg tau kalau kamu sakit hati! Tapi kamu juga harus tau kalau aku tidak bakal ikhlas untuk melepaskan anakku jadi TRANGIS SRUNINGE keluargamu di TANGGAL TIGABELAS)

Terjingkat, ternganga, sosok pemuda biasa di panggil Jasmoro mendengar kalimat yang baru saja di lontarkan Mbah Soko.

"Mripat abang lan tangan jeger seng ngawal koe tekan kene, wes mulai do gemeruh, mulio sak urunge tak bakar kabeh!" Tegas, lagi-lagi ucapan Mbah Soko yang segera menyadarkan Jasmoro akan keadaan di sekelilingnya terasa panas.
( Mata merah dan tangan jeger yang mengawalmu sudah sampai sini, sudah mulai bergemuruh, sekarang pulanglah sebelum tak bakar semua)

Belum sempat ia berdiri dan menyahut, Mbah Soko terlebih dahulu beranjak masuk kedalam. Jasmoro hanya termangu menatapi liukan kain batik berwarna hijau yang menjadi penutup sekaligus penyekat pandangan antara ruang tamu dan ruang dalam rumah Mbah Soko.

Masih tercium sengak aroma kemenyan menyesak ketika kaki Jasmoro mengayun keluar dari rumah Mbah Soko. Hatinya terasa sakit malam itu. Pikirannya di penuhi selingan amarah dan kecewa setelah dengan jelas niatnya untuk mendapatkan Kom, anak bungsu Mbah Soko terpupus karena statusnya sebagai keluarga Murti Rahmi.

Jasmoro memang mengakui akan status keluarga terkhusus dari Nenek dan kini Ibunya. Ia yang telah mengerti dengan liku dan alur semua kekayaan berasal dari mana, tak menampik semua kebenaran yang di jabarkan Mbah Soko.

Namun hal yang membuatnya sangat kecewa dan marah adalah niatnya yang tulus untuk Kom. Bahkan dalam hatinya ia berjanji tak akan melibatkan Kom untuk urusan hitam pekat dalam lingkup keluarganya. Namun itu tak cukup membuat Mbah Soko merelakan Kom untuk di jadikannya Ratu dalam rumah mewah nan megah milik keluarga MURTI RAHMI.

"Rasah mrino atimu Le, bakal tak dadekne awu canang wong tuek seng jenenge Soko! rasah kuwatir Le, Nduk Kom bakal dadi garwomu nang TANGGAL TELULAS sasi Pitu!"
(Tidak usah berkecil hati nak, bakal aku jadikan awu canang orang tua yang namanya Soko itu! Tidak usah khawatir nak, anak perempuan itu akan menjadi istrimu di tanggal tigabelas bulan tujuh)

Jasmoro terjingkat, kaget, saat baru saja masuk kedalam mobil warna hitamnya, telinganya mendengar suara lirih menyengit. Walaupun ia terbiasa akan hal-hal aneh dan menyeramkan, namun untuk kali ini ia sedikit gemetar. Apalagi ketika ia melihat dari kaca kecil yang terpasang di atas kepalanya, bola matanya seketika melebar.

Mulut Jasmoro terkatup rapat, keringat mulai merembes menembus kemeja polos yang menempel di tubuhnya, kala tatapannya dari kaca beradu dengan bola mata putih rata dari satu sosok perempuan tua yang duduk tepat di belakangnya.

"Iling-ilingo Le, TANGGAL TELULAS!"
Diubah oleh tyasnitinegoro 08-04-2023 04:01
mmuji1575Avatar border
j4k4pnturaAvatar border
arieaduhAvatar border
arieaduh dan 32 lainnya memberi reputasi
31
21.9K
160
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
tyasnitinegoroAvatar border
TS
tyasnitinegoro
#78
TUMBAL TERAKHIR PART 12
TUMBAL TERAKHIR PART 12


"Opo gak di kandani karo seng ngongkon awakmu, yen Banyu Mblulu Pitong Puseran, rancak nyowo? Awakmu kui yo ngerti sejatine kanggo ngopo bakale banyu kui?"(Apa tidak di jelaskan sama yang menyuruhmu, bahwa Banyu Mblulu Pitong Puseran, memakan nyawa? Kamu apa juga tau aslinya buat apa air itu?)

Sebentar Kolis menunduk, sebelum memilih menggelengkan pelan kepalanya. Dirinya benar-benar bingung dengan penjelasan sang lelaki yang tak ia dapatkan dari Mbah Sanir.

"Aku ora arep ngalang-ngalangi awakmu. Nek pancen arep tok tutukno, iku, mlakuo nengen terus. Mengko bakal ketemu puseran banyu terakhir seng mbok goleki. Neng pesenku, sak marine oleh banyu kepitu kui, ojo pisan-pisan awakmu ningok memburi. Sampek tok langgar, gak bakal iso bali awakmu!"

(Aku tidak akan menghalang-halangimu. Kalau memang mau kamu selesaikan, itu, jalanlah ke kanan terus. Nanti akan ketemu pusaran air terakhir yang kamu cari. Tapi pesanku, setelah selesai mendapat air ketujuh, jangan sekali-kali kamu noleh kebelakang. Sampai kamu langgar, tak akan bisa pulang kamu!)

Setelah berucap memberitahu Kolis, lelaki itu membalikan tubuhnya dan berlalu. Meninggalkan perasaan gamang pada diri Kolis.

Sebentar Kolis menoleh ke arah yang di tunjukan oleh lelaki itu. Tak lama, dirinya terkejut saat akan bertanya pada sosok lelaki yang baru beberapa detik berlalu, tetapi telah lenyap. Hanya tebaran kabut-kabut putih mulai menebal terlihat oleh Kolis, serta aroma kasturi yang masih pekat tercium.

Menimbang sebentar, Kolis akhirnya memilih arah yang di tunjukan lelaki tak kenal namanya itu. Ia berjalan menuju selatan, arah kanan dari tempatnya berdiri, yang berarti juga arah tempatnya pulang hanya sedikit memutar.

Sekira sepuluh menit berjalan, Kolis merasai hawa berbeda. Di awali dengan liringan angin lembut menyapu tengkuk belakang lehernya, seperti tiupan dari beberapa bibir. Semakin melangkah jauh, tiupan itu semakin kencang. Membuat bulu-bulu halus di tubuh Kolis berdiri meremang, antara takut dan dingin.

Tak berapa lama, Kolis akhirnya mendengar deburan air bersamaan suara tawa ramai dari arah sungai. Keraguan sebentar menyusup diri Kolis. Setelah dirinya dapat melihat pusaran air sedikit deras penuh bebatuan hitam. Namun bukanlah itu yang menjadikan Kolis ragu, tetapi beberapa sosok wanita berkemben yang sedang bersuka ria bermain di sekitaran pusaran.

Tawa riuh dari para wanita berkulit putih dan berambut panjang itu seketika terhenti saat menyadari kehadiran Kolis. Serentak mereka memalingkan wajah dan menatap tajam pada Kolis. Wajah-wajah ayu mereka langsung berubah, melihat Kolis membawa obor dan sebuah bejana seolah tau apa yang akan di lakukan. Membuat mereka menatap sinis atau tepatnya menyeringai tanda ketidaksenangan.

Sampai beberapa saat lamanya, mereka hanya diam. Tak melakukan apapun seperti yang di bayangkan Kolis. Malah sesaat kemudian, beberapa sosok wanita itu menyingkir dan berlalu dari tempat itu. Kesempatan itu tak di sia-siakan Kolis untuk segara mengambil air ke tujuh, meski dalam hatinya bertanya-tanya tentang kepergian sosok-sosok wanita itu yang seperti ketakutan.

Amis, tiba-tiba membaui penciuman Kolis kala dirinya membungkuk akan menggayungkan gelas bambunya. Tetapi hal itu tak mengurungkan niatnya. Kolis tetap memenuhi gelas di tangan kanannya walaupun bau amis semakin tajam. Nafas kelegaan beberapa kali terhempas dari dada Kolis yang telah selesai dan berhasil mendapatkan air dari tujuh aliran sungai.

Kolis segera membalikan badan dan bergegas melangkah. Tapi kembali satu hal tiba-tiba saja mengejutkan dirinya, menahan kakinya, oleh sebab tiap satu langkah kakinya berayun, satu jeritan menyayat menggema di telinganya.

Kejadian itu berlangsung sampai beberapa langkah, sampai pada akhirnya Kolis berhenti.
Sunyi, hening. Tak ada jeritan, tak ada suara tawa, tetapi ketika kakinya di ayunkan, jeritan itu kembali menyayat.

Ciut nyali Kolis. Jiwanya terguncang hebat saat mengenali suara jeritan itu. Tetapi mau tak mau dirinya tetap harus segera kembali agar bisa mengakhiri semuanya. Bukan hal mudah bagi Kolis, walau ia telah berhasil. Di samping harus menekan batinnya agar kuat mendengar jeritan menyayat dari suara seorang wanita, dirinya juga harus bertahan dengan suara-suara memanggil dari belakangnya.

Setelah ratusan meter ia meninggalkan sungai terakhir, jeritan itu menghilang, tetapi suara tawa, memanggil, semakin kencang di belakang. Sampai pada ketika suara itu di iringi derap-derap langkah seperti mengejar di belakang, Kolis berhenti sejenak. Ingin ia menoleh atau memalingkan wajah, untuk memastikan apa sebenarnya yang berada di belakang. Namun belum sempat, satu ngiangan pesan dari sosok lelaki yang telah membantunya, berkelebat di kepala. Membuat Kolis harus menekan kuat-kuat keingintahuannya.

"Lis ... Lis, entenono Bapak. Iki Ibumu yo pingin melu, Lis...."(Lis ... Lis, tunggu Bapak. Ini Ibumu juga mau ikut, Lis....)

Sama dan sangat persis suara di belakang Kolis, milik Bapaknya. Membuatnya lagi-lagi goyah dan terhenti. Sejenak tertunduk dan berpikir Kolis. Menimbang keraguan yang menyeretnya pada ke khawatiran, bila itu benar-benar suara orang tuanya.

Kolis sempat bergumam memanggil Bapaknya lirih tanpa menoleh. Ingin memastikan dengan apa yang di khawatirkannya. Namun, sampai tiga kali panggilan, suara dari Mbah Soko hilang, berganti tawa ngikik suara wanita. Merasa yakin di belakangnya bukanlah sosok orang tuanya, Kolis berlari. Menembus kabut-kabut tipis, melawan hembusan angin yang hampir memadamkan cahaya obor di tangan kanannya.

Tubuh Kolis akhirnya terlunglai lemah dan terduduk sejenak setelah melihat cahaya obor dari rumah milik Pamannya. Namun sedikit aneh, tak seperti biasanya Kolis melihat di halaman depan terpasang beberapa lampu dan obor berderet dan juga terlihat banyak orang-orang lalu lalang yang mungkin para tetangga seperti tengah sibuk menyiapkan sesuatu.

Kolis sebentar tertegun, antara percaya bila itu benar-benar rumah Pamannya, atau masih bagian dari tipu daya para mahluk halus yang ingin mengganggunya. Memikirkan hal itu matang-matang, Kolis kembali melangkah. Mendekat ke arah rumah milik Pamannya yang di yakini batinnya.

Sesampainya di halaman, ia di sambut wajah-wajah heran dari tetangga-tetangga yang berada di tempat itu. Hal itu benar-benar meyakinkan Kolis bila kini dirinya telah berada di rumah Uyut Latip.

"Enek opo iki, Mbah?"(Ada apa ini, Mbah?) ucap Kolis bertanya pada seorang lelaki paling tua di antara tetangga lainnya.

Sebentar lelaki tua itu menatap Kolis penuh rasa heran. Sebelum ia beralih menatap tiga lelaki lain yang berada di sampingnya.

"La koe seko ngendi, Le? Kok subuh-subuh ngene gek tes njedul?"(La Kamu dari mana, Le? Kok Subuh-subuh begini baru saja muncul?) Sedikit tersentak Kolis mendengar jika saat itu waktu telah masuk Subuh. Yang berarti dirinya pergi mencari tujuh mata air, menghabiskan waktu hampir sembilan jam.

"Le, kono gek mlebu."(Le, sana cepat masuk.)

"Ohh, njeh, Mbah."(Ohh, iya, Mbah) Sahut Kolis tergagap dari lamunannya.

Bergegas Kolis melangkah meninggalkan beberapa tetangga yang duduk di bangku panjang terbuat dari bambu, yang masih terheran melihat dirinya. Begitu juga diri Kolis, masih di balut penasaran dan perasaan tak nyaman dengan keadaan rumah Uyut Latip.

Kolis memelankan langkahnya saat menaiki tangga depan. Terus berjalan dengan degupan jantung semakin tak menentu. Setibanya di pintu, seketika tubuh Kolis dingin, sedingin tatapannya pada sebujur tubuh tertutup kain jarit batik dari kaki sampai ujung rambut. Kolis tak melihat wajahnya, tak juga belum jelas siapa yang terbaring tanpa nafas. Namun dari postur tubuhnya, Kolis dapat memastikan jika raga tanpa nyawa itu adalah Mbah Sanir.

"Lis, Mlebu!"

Kolis memalingkan wajahnya kala satu suara berat memanggil dari ruang tengah arah ke dapur. Ia mengenal suara itu, suara yang dalam dua hari ini tak terdengar, Uyut Latip. Kolis cepat-cepat menghambur ke ruang tengah, di mana sosok Pamannya telah duduk bersila menunggunya. Uluran tangan kanannya di sambut wajah sendu sang Paman. Mencerminkan kedukaan dan beban terpendam seperti teramat berat.

"Lek, aku...."(Paman, aku....) ucap Kolis namun terputus.

"Lelek wes ngerti. Saiki dokoken banyu kui nang kamar disek. Melu ngurusi jenazahe Mbah Sanir. Urusan liane mengko di rembuk."(Paman sudah tau. Sekarang simpan air itu di kamar dulu. Ikut urus jenazah Mbah Sanir. Urusan lainnya nanti di bicarakan.) ujar Uyut Latip memotong ucapan Kolis.

Tak menunggu perintah dua kali, Kolis segera masuk ke dalam kamar dan sebentar kemudian keluar dengan pakaian berbeda. Ia mengikuti Uyut Latip dari belakang, menuju ruang tamu, di mana tubuh Mbah Sanir terbaring membujur kaku.

"Iki ora iso nunggu suwi-suwi. Kudu di langsungke saiki."(Ini tidak bisa nunggu lama-lama. Harus di langsungkan sekarang.) ujar Uyut Latip pada beberapa orang yang baru selesai menata wajah membiru Mbah Sanir dengan beberapa kapas dan mengikatkan kain putih dari dagu hingga ujung kepala.

Campur aduk perasaan Kolis saat itu. Banyak hal yang ingin ia tanyakan, tetapi mengingat waktu yang belum tepat, hanya kesedihan mendalam terpancar dari dua bola matanya.

"Uyut, le nggali wes rampung, opo arep di angkati sakniki?"(Uyut, yang menggali sudah selesai, apa mau di berangkatkan sekarang?") ucap seorang lelaki 40an dari arah pintu yang di tujukan pada Uyut Latip.

"Iyo, ki yo wes rampung. Celuk en seng liyane, kon rene karo gowo bandusone."(Iya, ini juga sudah selesai. Panggil yang lainnya suruh ke sini, sekaliyan bawa kerandanya) sahut Uyut Latip pada salah satu tetangga, yang baru saja memberi kabar.

Hari masih terlihat sedikit gelap, hawa dingin juga masih terasa, tetapi pemakaman Mbah Sanir memang seperti tak bisa di tunda. Entah karena apa sebabnya, tak ada yang tau pastinya, selain Uyut Latip dan tetua Kampung lainnya.

Sesampainya di tanah pemakaman, beberapa orang yang telah selesai membuat rumah abadi Mbah Sanir, beringsut mundur, manakala jasad Mbah Sanir di turunkan oleh beberapa orang, dari keranda bambu buatan warga. Ada satu kejadian yang membuat para pelayat terkesiap dan takut. Saat akan meletakkan jasad Mbah Sanir, tiba-tiba saja dari mulut, hidung dan telinganya menyembur darah merah kehitaman membuat terlepasnya kapas-kapas putih penutup lobang indra itu.

Hal itu membuat dua orang yang berada di dalam lobang, tetiba saja tersentak dan melompat naik. Dari raut wajah keduanya, tak tertutupi rasa takut yang hebat dengan kejadian yang baru pertama mereka alami. Suasana sebentar gaduh, para pelayat lain yang tak lebih dari lima belas orang, ikut begidik ngeri setelah mengetahui apa yang terjadi pada jasad Mbah Sanir.

"Ora opo-opo! Tutupen meneh nganggo kapas terus tahan go lemah kui."(Tidak apa-apa! Tutupi lagi dengan kapas terus tahan pakai tanah itu.) seru Uyut Latip, melihat kepanikan para pelayat.

Saat itu, tak ada yang berani masuk ke dalam liang kubur. Mereka hanya saling tatap satu sama lain, seolah menawarkan.

Sepersekian detik tak ada yang maju, Kolis akhirnya bergegas turun ke dalam liang berukuran tak lebih dua meter dengan jasad Mbah Sanir sebagai penghuninya.

Pelan tangan Kolis memasang satu persatu kapas yang sudah berubah merah kehitaman akibat tersembur darah, pada indra wajah Mbah Sanir. Tak di pungkiri, saat itu memang benar-benar berbeda hawa yang di rasakan Kolis. Apalagi ketika tangannya meletakkan tanah pada kapas sebagai penyangga agar tak lagi lepas, Kolis merasa jika ada sesuatu seperti menarik jari-jarinya.

Setelah di rasa cukup, Kolis memasang beberapa keping papan guna menutupi tubuh Mbah Sanir yang telah terbungkus kain putih bernoda darah. Setelahnya, Kolis bergegas melompat naik, dan segera di susul beberapa cangkul yang menarik tanah menimbun kembali lubang berisi jasad Mbah Sanir.

Sebuah batu menjadi penanda rumah baru milik Mbah Sanir. Taburan aneka bunga dan lantunan doa yang selesai di baca Uyut Latip, menjadi acara terakhir para warga mengantar Mbah Sanir beristirahat selamanya. Tak ada isak tangis, tak ada ucapan selamat tinggal untuk Mbah Sanir, seperti pada umumnya di kala seseorang meninggal. Hal itu di sebabkan oleh Mbah Sanir yang tak mempunyai satupun saudara atau kerabat di kampung itu. Bahkan, banyak warga yang hanya tau nama Mbah Sanir, tanpa mengetahui asal usulnya.

Namun dari sekian banyak orang yang langsung memilih pulang, Kolislah yang belum beranjak. Ia kemudian duduk di sebelah gundukan tanah dengan tertunduk. Raut penyesalan tiba-tiba muncul pada wajahnya. Sebab dirinya ingat betul kalimat-kalimat terakhir Mbah Sanir, sebelum menyuruhnya untuk berjuang mencari tujuh air puseran.

"Awakmu gak salah, seng salah ki aku, Lis."(Kamu tidak salah, yang salah itu Saya, Lis.)

"Aku gak ngerti nek le ku intok banyu jebule ngorbanke Mbah Sanir, Lek. Ngerti ngunu, aku gak mangkat."(Saya tidak tau kalau sebab Saya mendapat Air ternyata mengorbankan Mbah Sanir, Lek. Tau begini Saya tidak berangkat.) ungkap Kolis penuh sesal.

"Iki memang dadi jalukane Mbah Sanir. Dadi dewe seng ijek urep, khususe awakmu, ojo di siak-siakne le ngorbanke nyowo kanggo nglereni polahe Rahmi sak anak turune!"(Ini memang jadi permintaan Mbah Sanir. Jadi kita yang masih hidup, khususnya Kamu, jangan di sia-siakan pengorbanan nyawa untuk menghentikan sepak terjangnya Rahmi dan seluruh keturunannya!)

Sedikit geram suara dari Uyut Latip. Matanya menatap ke langit, membayangkan bagaimana semua ini terjadi akibat dari persekutuan Murti Rahmi.

"Saiki seng penting jogo Adikmu. Tanggal telulas wes cedak."(Sekarang yang terpenting jaga Adikmu. Tanggal Tiga Belas sudah dekat.) sambung Uyut Latip wajahnya berubah tegang.

"Opo gunone banyu seng tak jikok seko pitong gon, Lek? Mbah Sanir seng akon wes ora ono."(Apa gunanya Air yang saya ambil dari tujuh tempat, Lek? Mbah Sanir yang menyuruh sudah tidak ada.) sahut Kolis dengan pertanyaan yang mengganjal pikirannya.

"Dewe muleh sek, gak apik crito nang kuburane seng bersangkutan."(Kita pulang dulu, tidak baik cerita di makamnya yang bersangkutan.) ajak Uyut Latip sembari melangkah dan di ikuti Kolis dari belakang.

Hari itu langit seakan ikut berduka. Mendung-mendung tipis menyebar menenggelamkan paparan menyengat Matahari yang seharusnya sudah bercokol. Di bawah kesejukan alam, dua lelaki berjalan beiringan meninggalkan tanah makam umum. Meninggalkan jasad Mbah Sanir yang sudah terpendam pulang ke asal, tanpa teman, kerabat, maupun tetangga.
Sesampainya di halaman, Uyut Latip dan Kolis di sambut seorang wanita setengah baya dengan berlari kecil keluar dari dalam rumah. Wajah wanita itu tampak panik dan tegang, nafasnya tak teratur saat menghampiri Uyut Latip.

"Enek opo, Mi? Kok keweden ngunu!?"(Ada apa, Min? Seperti ketakutan begitu!?) tanya Uyut Latip.

"Anu, Yut! Iku, ponakane sampeyan ngamuk!"(Anu, Yut! Itu, keponakan sampeyan marah!) jawab wanita tetangga Uyut Latip dengan gugup.

Tak membuang waktu, Kolis yang mengerti dengan ucapan wanita itu langsung berlari mendahului Uyut Latip. Ia tau jika yang di maksud adalah Komala. Namun belum tau apa yang sudah di lakukannya.

Beberapa jeritan terdengar oleh Kolis saat tiba di pintu depan. Segera ia bergegas ke dapur, di mana jerit ketakutan berasal. Sesampainya Kolis di dapur, suasana seketika hening. Tak ada jeritan, tak ada teriakan. Yang ada, dua sosok wanita tengah berpelukan di sudut dengan wajah pucat terbasahi keringat.

Tetapi saat mata Kolis menatap di samping pintu, ia pun terperanjat. Dimana matanya menangkap hal aneh pada seorang wanita yang tak lain adalah Komala tengah duduk bersimpuh menghadap sebuah tampir anyaman bambu berisi berbagai macam aneka bunga sisa dari acara pemakaman Mbah Sanir.

"Nduk, Kom! Awakmu ngopo kui!?"(Nduk, Kom! Kamu ngapain itu!?) seru Kolis melihat Komala yang duduk membelakanginya tengah meraup bunga.

Sebentar Komala memalingkan wajah. Menatap sinis dengan seringaian, menjadi jawaban atas seruan Kolis.

"Jarke disek, Lis. Ojo tok parani."(Biarkan dulu, Lis. Jangan Kamu dekati.) Kolis terdiam mengurungkan niatnya untuk mendekati Komala, setelah Uyut Latip yang baru datang mencegahnya. Ia hanya bisa menatapi dengan perasaan ngilu, manakala Komala menyuapkan bunga-bunga khusus untuk acara kematian ke dalam mulutnya.
Suap demi suap bunga-bunga itu masuk mulut dan perut Komala. Tak ada rasa jijik sama sekali, bahkan sebegitu lahapnya hingga tak bersisa selembarpun, aneka macam bunga di atas tampir.

Selesai memakan habis, Komala bangkit, berjalan lenggak lenggok bak seorang sinden menuju ke dalam kamarnya kembali. Satu senyum sinis kembali mengembang saat ia tepat bersampingan dengan Kolis dan Uyut Latip yang berdiri di ambang pintu.

Anggukan dan hempasan nafas panjang, menghantar kepergian dua wanita tetangganya yang sedari tadi ketakutan. Mereka yang seharusnya membantu Uyut Latip membereskan sisa-sisa kesibukan pemberangkatan jenazah Mbah Sanir, harus pulang lebih cepat di karenakan ulah Komala.

Kolis sendiri terlihat lesu. Tak hanya kesedihan, ia juga merasakan kelelahan setelah semalaman berkutat dengan kengerian. Namun dirinya enggan untuk beristirahat, meski Uyut Latip beberapa kali menyuruhnya. Ia lebih memilih membantu Pamannya, merampungkan sisa pekerjaan yang di tinggalkan tetangganya.

"Lek, terus piye banyu seng tak jikok mau bengi?" tanya Kolis sembari duduk di sebelah Pamannya, setelah semua rapi.

"Banyu kui durung saiki le nggunakne. Mengko pas nang tanggal telulas, pas rituale Ratri nyambung tetalen."(Air itu belum sekarang menggunakannya. Nanti, saat tanggal tiga belas, saat ritual Ratri menyambung ikatan perjanjian.) jawab Uyut Latip.

"Maksude piye to, Lek? Aku malah bingung."(Maksudnya gimana sih, Lek. Saya malah bingung.) ujar Kolis belum mengerti.

"Mbah Sanir kui asline wes ngerti nek awakmu iso intok banyu pitong sumber, deweke bakal dadi ijole. Banyu kui salah sijine syarat kanggo mbatalke rituale Ratri seng arep ndadekne Jasmoro karo Komala peneruse. Mulo pinter Jasmoro nandur janine disek nang rahime Nduk Kom. Mbah Sanir karo Bapakmu podo. Podo-podo ngorbanke nyowo kanggo ngancurke Murti Rahmi."

(Mbah Sanir itu aslinya sudah tau jika kamu mendapatkan air dari tujuh sumber, dirinya akan menjadi penebusnya. Air itu salah satunya syarat untuk membatalkan ritualnya Ratri yang akan menjadikan Jasmoro dan Komala sebagai penerusnya. Maka pintarnya Jasmoro menanamkan janinnya terlebih dahulu di rahim Nduk Kom. Mbah Sanir dan Bapakmu sama. Sama-sama mengorbankan nyawa untuk bisa menghancurkan Murti Rahmi.) ucap Uyut Latip menjelaskan.

"Nek hubungane Mbah Sanir karo keluargane Murti Rahmi, nopo, Lek?" (Kalau hubungan Mbah Sanir dengan keluarga Murti Rahmi, apa Lek?) tanya Kolis masih bingung.

"Asline cedak. Bahkan iseh ono gandeng geteh antarane Mbah Sanir karo Ratri." (Aslinya dekat. Bahkan masih ada ikatan darah antara Mbah Sanir dengan Ratri.) jawab Uyut Latip.

"Kabeh iki di awali goro-goro warisan omah, antarane Rahmi karo kakange, Broto. Memang asal mulane seng serakah Broto. Omah prabon peninggalan wong tuone di hak i dewe. Seko kunu lah Rahmi dendam, sampek akhire muja Iblis alas Geong. Gak sitik nyowo seng dadi korbane, mulai bojone dewe, keluargane Broto, lan wong liyo seng di kehendaki, termasuk wong tuoku, seng artine yo Mbahmu dewe. Mbah Sanir kui, keluarga terakhire Broto seng lolos seko Srenggine pati Rahmi."

(Semua ini di awali dari perkara warisan rumah, antara Rahmi dan kakaknya, Broto. Memang asal mulanya Btoto lah yang serakah. Rumah Prabon peninggalan orang tuanya di hak i sendiri. Dari situlah Rahmi dendam, sampai akhirnya bersekutu dengan Iblis hutan geong. Tak sedikit nyawa yang jadi korbannya, mulai suaminya sendiri, keluarga Broto, dan orang lain yang di kehendaki, termasuk orang tuaku, yang artinya Kakek/Nenekmu sendiri. Sedangkan Mbah Sanir, Keluarga terakhirnya Broto yang lolos dari jerat kematian Rahmi.)


***
ariefdias
ifank378
arieaduh
arieaduh dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.