Kaskus

Story

tyasnitinegoroAvatar border
TS
tyasnitinegoro
TUMBAL TERAKHIR














TUMBAL TERAKHIR

TUMBAL TERAKHIR

"Aku ngerti jalur turunmu seko sopo! Aku yo ngerti dunyo seng tok nduweni saiki sumbere seko ngendi! dadi rausah mbok critakne dowo-dowo, Aku tetep gak setuju Nduk Kom tok rabi!" ( aku tau jalur keturunanmu dari siapa! Aku juga tahu harta yang kamu miliki itu sumbernya darimana! Jadi, gak usaj diceritakan panjang lebar, aku tetep tidak setuju kalau anak perempuan ku kamu nikahi)

Tegas dan berat suara dari seorang laki-laki tua berkopiah jaring kepada seorang pemuda tampan yang berada di hadapanya. Pemuda itu sebentar tertunduk, menatapi lantai tanah tak rata sembari tangannya meremas pegangan kursi kayu. Jiwanya bergolak marah, hatinya panas mendidih mendengar penolakan dari lelaki tua berwajah datar yang ia impikan bakal menjadi mertuanya.

Sang pemuda semakin terbakar emosi kala lelaki tua itu kembali berbicara sedikit menerangkan masa lalu dari kakek dan leluhurnya. Kepulan asap kemenyan dari rokok gulungan yang di hembuskan perlahan sang lelaki tua, tak lagi ia hiraukan meski menyesakkan dada.
Ingin rasanya saat itu ia berdiri dan mengumpat terlebih menghantam bibir tebal hitam lelaki di hadapanya, namun ia tahan, sebab ia sadar jika lelaki yang biasa di panggil Mbah Soko, bukanlah orang biasa.

Terbukti dari penolakanya yang begitu berani dengan perkataan kasar tentang keluarganya. Padahal satu Kampung, Desa atau bahkan tingkat Kecamatan tau siapa dirinya dan juga keluarganya.

"Aku ngerti seng tok pikir saiki, Aku yo ngerti nek koe loro ati! nanging koe yo kudu ngerti nek Aku ora bakal lilo ngeculke anakku dadi TRANGIS SRUNINGE keluargamu nang TANGGAL TELULAS!"
( aku tau yang sekarang kamu pikirkan, aku jg tau kalau kamu sakit hati! Tapi kamu juga harus tau kalau aku tidak bakal ikhlas untuk melepaskan anakku jadi TRANGIS SRUNINGE keluargamu di TANGGAL TIGABELAS)

Terjingkat, ternganga, sosok pemuda biasa di panggil Jasmoro mendengar kalimat yang baru saja di lontarkan Mbah Soko.

"Mripat abang lan tangan jeger seng ngawal koe tekan kene, wes mulai do gemeruh, mulio sak urunge tak bakar kabeh!" Tegas, lagi-lagi ucapan Mbah Soko yang segera menyadarkan Jasmoro akan keadaan di sekelilingnya terasa panas.
( Mata merah dan tangan jeger yang mengawalmu sudah sampai sini, sudah mulai bergemuruh, sekarang pulanglah sebelum tak bakar semua)

Belum sempat ia berdiri dan menyahut, Mbah Soko terlebih dahulu beranjak masuk kedalam. Jasmoro hanya termangu menatapi liukan kain batik berwarna hijau yang menjadi penutup sekaligus penyekat pandangan antara ruang tamu dan ruang dalam rumah Mbah Soko.

Masih tercium sengak aroma kemenyan menyesak ketika kaki Jasmoro mengayun keluar dari rumah Mbah Soko. Hatinya terasa sakit malam itu. Pikirannya di penuhi selingan amarah dan kecewa setelah dengan jelas niatnya untuk mendapatkan Kom, anak bungsu Mbah Soko terpupus karena statusnya sebagai keluarga Murti Rahmi.

Jasmoro memang mengakui akan status keluarga terkhusus dari Nenek dan kini Ibunya. Ia yang telah mengerti dengan liku dan alur semua kekayaan berasal dari mana, tak menampik semua kebenaran yang di jabarkan Mbah Soko.

Namun hal yang membuatnya sangat kecewa dan marah adalah niatnya yang tulus untuk Kom. Bahkan dalam hatinya ia berjanji tak akan melibatkan Kom untuk urusan hitam pekat dalam lingkup keluarganya. Namun itu tak cukup membuat Mbah Soko merelakan Kom untuk di jadikannya Ratu dalam rumah mewah nan megah milik keluarga MURTI RAHMI.

"Rasah mrino atimu Le, bakal tak dadekne awu canang wong tuek seng jenenge Soko! rasah kuwatir Le, Nduk Kom bakal dadi garwomu nang TANGGAL TELULAS sasi Pitu!"
(Tidak usah berkecil hati nak, bakal aku jadikan awu canang orang tua yang namanya Soko itu! Tidak usah khawatir nak, anak perempuan itu akan menjadi istrimu di tanggal tigabelas bulan tujuh)

Jasmoro terjingkat, kaget, saat baru saja masuk kedalam mobil warna hitamnya, telinganya mendengar suara lirih menyengit. Walaupun ia terbiasa akan hal-hal aneh dan menyeramkan, namun untuk kali ini ia sedikit gemetar. Apalagi ketika ia melihat dari kaca kecil yang terpasang di atas kepalanya, bola matanya seketika melebar.

Mulut Jasmoro terkatup rapat, keringat mulai merembes menembus kemeja polos yang menempel di tubuhnya, kala tatapannya dari kaca beradu dengan bola mata putih rata dari satu sosok perempuan tua yang duduk tepat di belakangnya.

"Iling-ilingo Le, TANGGAL TELULAS!"
Diubah oleh tyasnitinegoro 08-04-2023 04:01
mmuji1575Avatar border
j4k4pnturaAvatar border
arieaduhAvatar border
arieaduh dan 32 lainnya memberi reputasi
31
21.8K
160
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.3KAnggota
Tampilkan semua post
tyasnitinegoroAvatar border
TS
tyasnitinegoro
#77
TUMBAL TERAKHIR PART 11
TUMBAL TERAKHIR PART 11


kaskus-image


"Opo wae saiki kudu sanggup aku, Mbah. Aku wes kesel karo urusan iki. Aku pingin urep tenang, tentrem bareng keluargaku."(Apa saja sekarang harus sanggup Saya, Mbah. Saya sudah lelah dengan urusan ini. Saya ingin hidup tenang, tentram bersama keluargaku.) sahut Kolis penuh kemantapan.

"Yo wes, ko bengi lakonono. Ben aku seng jogo Adikmu."(Ya sudah, nanti malam kerjakan. Biar Saya yang jaga Adikmu.) timpal Mbah Sanir antusias.

"Budalo mengko nek surup sengkolo wes ketutup. Ojo mbok gagas opo wae seng tok temoni, sak durunge awakmu intok banyu pitu kali tempuran."(Berangkatlah nanti kalau gelap sengkala sudah tertutup. Jangan tanggapi apa saja yg Kamu temui, lihat, sebelum Kamu mendapat sungai benturan cabang.)

Kolis mengangguk, mengerti dengan apa yang di ucapkan Mbah Sanir. Tekat Kolis benar-benar bulat, tak perduli lagi seberapa bahaya dan sulitnya mencari persyaratan yaitu Air dari tujuh tempat yang berbeda dgn ketentuan terdapat benturan dari cabang sungai mengalir ke laut.

Meski area pesisir kampung itu banyak terdapat parit atau sungai kecil, namun bukan hal mudah jika sesuatu di dapatkan guna untuk sebuah ritual atau kepentingan tertentu. Di samping waktu yang di butuhkan sesingkat mungkin, juga keadaan malam sebagai salah satu syaratnya, menjadi sebuah tantangan mental yg tinggi.

Sebuah wadah atau tempat berwarna coklat kekuningan dari tanah liat, pemberian Mbah Sanir, segera Kolis kemas. Tak lupa sebuah obor dari bambu dengan sumbu kain, juga ia persiapkan untuk menemani perjalanannya malam ini.

Setelah semua siap, Kolis terlebih dulu beristirahat sembari menunggu waktu. Sedangkan Mbah Sanir, sedari mengantar makanan untuk jatah sore, memilih berdiam diri di halaman belakang, menikmati hembusan angin sore. Ratusan detik, puluhan menit, dan beberapa jam telah berlalu. Suasana alam sudah bertukar, dari terang dgn sengatan sang bola api dunia, menjadi gelap tanpa adanya lampu gantung langit yang sepertinya enggan untuk keluar.
Suasana sunyi sangat kentara di rumah Uyut Latip, cahaya remang dari tiga buah lampu teplok hanya mampu menerangi di sebagian tempat saja, sedang yang lain terlihat sangat gelap.

Di lihat dari luar, suasana itu sekilas seperti rumah kosong, namun di dalam, tepatnya di bagian belakang rumah, tengah duduk bersimpuh sendiri sesosok wanita tua bertubuh gempal, berikat kain batik di kepala.

Sesekali sosok wanita tak lain dan tak bukan adalah Mbah Sanir, menengadahkan kepalanya, menatap langit yg hanya terlihat hitam. Seolah sedang mencari sesuatu, atau menunggu. Sepuluh, dua puluh, hingga tiga puluhan menit hal itu berlangsung. Namun tetap saja Mbah Sanir masih terdiam dalam keheningan.

Lain halnya dgn yg di lakukan Kolis. Meski dirinya berada di dalam kamar, tetapi ketegangan, kegelisahan terpancar dari sorot matanya yang mengedar kesana kemari. Sepertinya Kolis tau, bila waktu untuknya berjuang sudah dekat. Terbayang olehnya apa yang bakal ia temui dan lihat dalam perjalanannya nanti. Memikirkan semua itu, nafas berat terhempas kuat dari dadanya, berusaha melipat gandakan mental serta keberaniannya.

"Le, Kolis, tangi! wes wektune."(Nak, Kolis, bangun! sudah waktunya.) Satu suara akhirnya menyudahi lamunan Kolis. Ia yang mengenali suara itu, segera bangkit. Dengan bermodalkan jaket bludru lumayan tebal, Kolis melangkah menuju arah belakang. Sesampainya, Kolis di sambut oleh wajah keriput Mbah Sanir.

"Budalo, iling-ilingen welingku. Opo wae seng motomu weruh, seng tok rasakke, ojo sampek awakmu mundur. Iku ngunu ujianmu kanggo iso intok banyu pitong werno."(Berangkatlah, ingat-ingat pesanku. Apapun yang matamu lihat, yang kamu rasakan, jangan sampai Kamu mundur. Itu adalah ujianmu untuk bisa mendapat Air tujuh warna.) Ujar Mbah Sanir memberi pesan, di sambut anggukan kepala oleh Kolis.

Perlahan, setapak demi setapak kaki Kolis mulai menyusuri jalanan Kampung, menuju ke utara pesisir. Dengan obor di tangan kanan sebagai penerang jalan berkelok-kelok, Kolis mengikis rasa takut yg sebenarnya mulai mengendap.

Sesekali Kolis berhenti, mengedarkan pandangan ke sekeliling dan juga menajamkan pendengaran berharap bisa segera menemukan satu aliran sungai yg mengarah ke Laut. Namun, sudah hampir Seribu Kilo Meter kakinya melangkah, belum satu sumber pun ia temukan. Tanpa putus asa Kolis terus melangkah, mengabaikan peluh yang mulai menetes dari dahinya.

Harapannya akhirnya mulai menuai hasil. Tak jauh dari tempatnya, sejurus lima meter ke kanan, telinganya mendengar gemericik air.

Semangat Kolis pun kembali membara, kakinya mengayun cepat, menghampiri sumber aliran sungai. Sesampainya, sejenak ia mengamati arus aliran sungai. Tak lama, dirinya mengikuti arah air mengalir hingga tiba di satu titik, dimana terdapat tiga aliran saling menghubungkan. Kolis segera mengeluarkan wadah dari tanah liat pemberian Mbah Sanir, berniat mengambil secangkir ukuran gelas bambu di tengah2 pusaran air.

Namun, baru saja Kolis membungkukan badan, satu bayangan tiba-tiba melompati dirinya.
Terkejut bukan main Kolis saat itu, ia segera kembali tegak, mencari bayangan hitam yg baru saja mengganggunya. Sampai puluhan detik Kolis diam menatapi sekeliling, hanya hitamnya malam dirinya lihat. Tak ada apapun, tak ada bayangan yang baru saja sekilas muncul melompati dirinya.

Helaan nafas tegang, mengawali Kolis kembali membungkuk, walau dalam hati masih terasa was-was, tapi akhirnya Kolis berhasil mengisi penuh sebuah gelas terbuat dari bambu. Tak ingin berlama-lama, Kolis segera pergi meninggalkan tempat pertamanya mengambil air syarat dan memasukan ke dalam wadah mirip bejana.

Tetapi langkah Kolis setelah meninggalkan tempat itu sedikit berbeda. Terlihat ia sesekali berhenti, sesekali berjalan cepat, sembari memalingkan wajahnya ke samping. Hal itu Kolis lakukan sebab ia merasa jika dirinya tengah di ikuti oleh sepasang mata. Entah sosok bayangan tadi, yang muncul secara tiba-tiba, atau ada sosok lain. Semakin Kolis merasakan sepasang mata itu dekat mengawasinya, semakin cepat juga langkahnya berayun. Sampai akhirnya, ia menemukan kembali sebuah mata air mengalir tak seberapa jauh dari tempat pertama.

Kali ini Kolis sedikit lebih waspada. Sebelum ia mengambil Air yang tepat di hadapannya terbentuk pusaran dari tiga cabang mata air, matanya mengedar terlebih dahulu. Merasa aman, kolis pun memenuhi segelas air dengan gelas bambu dan memasukan ke dalam bejana. Tetapi ketika baru akan melangkah, mendadak tubuh Kolis terasa dingin dan kaku.
"Lancang temen koe njikok banyu nang kene tanpo pamit!"(Lancang sekali Kamu mengambil air di sini tanpa ijin)

Semakin tergagu Kolis mendengar bentakan dari sesosok laki-laki tua bungkuk, yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Jarak yang hanya semeteran, membuatnya tersesap rasa kaget dan takut. Ingin Kolis berangsur mundur, namun lagi-lagi kakinya seolah terikat kuat sehingga tak mampu ia gerakkan. Membuat sosok lelaki tua bungkuk menyeringai, seakan tau ketakutan yang di alami Kolis.

"Balekne banyuku, opo pilih ganti getehmu!"(Kembalikan airku, apa pilih di ganti darahmu!)
Menggigil tubuh Kolis mendengar ucapan bernada ancaman dari sosok lelaki tua itu. Hampir saja bejana berisi air ia tumpahkan, namun sebelum tangannya melempar, satu suara lirih masuk ke telinganya.

"Ojo tok gugoni, kuatno batinmu! Saiki mlakuo terus!"(Jangan di turuti, kuatkan batinmu! Sekarang jalan terus!)

Kebimbangan seketika menyirat di wajah Kolis. Antara menuruti sosok kakek tua bungkuk, atau bisikan lirih dari suara wanita yang ia kenal, Mbah Sanir.

"Saiki cepet lungo seko kono!"(Sekarang cepat pergi dari situ)

Seperti tersengat tusukan jarum, tubuh Kolis tiba-tiba tergerak untuk melangkah. Tak perduli dengan sosok lelaki tua bungkuk yang melotot. Terheran Kolis saat itu. Kakinya terasa ringan menapak di jalanan berpasir. Seolah tak ada beban apapun.

Sama halnya ketika akan melewati sosok lelaki tua bungkuk, ia mampu mengabaikan bau busuk yang menyambut hidungnya. Namun tak lama, gidikan ngeri menyusup spontan, kala matanya melihat bagian tubuh bungkuk sosok itu, penuh lobang luka bernanah dan darah.
Keanehan sebentar juga tak luput dari perasaan Kolis, saat ia tepat bersampingan, sosok itu hanya diam dan hanya melebarkan bola mata, menatap tanpa bicara.

Kelegaan menghiasi wajah Kolis setelah jauh meninggalkan tempat di mana dia mendapatkan air ke dua. Ketakutannya berangsur menjadi semangat kembali. Rasa ingin segera mendapat air ketiga, menyemangati dirinya sendiri yang mulai sedikit lelah. Namun hingga puluhan menit ia berjalan, belum juga menemukan lagi aliran sungai.

Kolis kemudian berhenti sejenak setelah melihat sebuah batu besar tertanam, berdampingan dengan sebatang pohon khas pantai. Sebentar ia menyeka keringat di wajah, setelah menacapkan obor di pasir sisi kakannya.

Gelap dan semakin gelap, langit terlihat di mata Kolis. Ia tak dapat lagi menghitung waktu, tak perduli lagi, meski harus menuntaskan semalaman asal bisa segera mendapat tujuh air puseran.

Dalam angan Kolis, seharusnya ia tak begitu berat untuk mendapatkan persyaratan itu. Dirinya ingat betul jika di sekitaran tempat Pamannya tinggal, banyak aliran sungai yang menyambung kelaut. Tapi malam itu, saat dirinya ingin menjadikan airnya sebagai syarat, ia merasa kesulitan.

Hampir seperempat jam Kolis beristirahat duduk di atas batu. Tiupan angin lembut dari arah Laut, mulai melenakan tubuhnya. Tak berapa lama, matanya pun mulai terasa sayu, menandakan rasa kantuk mulai menyerang. Hampir saja Kolis memejamkan matanya setelah turun dari atas batu dan menselonjorkan kedua kakinya. Tapi belum sempat pelupuk matanya terkatup rapat, ia di kejutkan suara gaduh di belakangnya.

Kolis segara bangkit dan memalingkan wajah. Menatap ke arah sumber suara gaduh yang berasal dari segerombolan orang tengah memanggul keranda mayat. Terlihat aneh bagi Kolis saat itu, di mana matanya tak menangkap sebujur tubuh pun di atas keranda yang hanya tertutupi bambu melingkar berjarak sedikit lebar.

Keanehan semakin jelas, saat gerombolan itu semakin mendekat ke arahnya dan hanya berjarak tinggal beberapa meter. Kolis melihat para pemikul keranda dan para pengiring yang memegang beberapa obor tak lebih dari sepuluh orang, berwajah pucat pasi tanpa alis, memakai kain sewek dengan kapas putih menutup lubang hidung dan telinga, serta menebar aroma bunga bercampur pandan menyengat.

Kolis akhirnya tersadar jika gerombolan itu bukanlah manusia. Ia pun segera mundur beberapa langkah sembari terus mengamati. Kini iring-iringan pemikul keranda berjalan tepat di depannya. Membuat dada Kolis berdebar kencang seirama derap langkah para pemikul keranda. Tubuh Kolis semakin dingin, kaku, takkala dengan jelas mendengar suara serentak mereka satu kalimat" Jer Pati ... Jer pati ... Jer Pati...."

Namun di luar dugaan, mereka mengabaikan dirinya dan hanya melewati tanpa peduli akan kehadirannya. Kolis akhirnya bisa menguasai dirinya dari rasa takut, setelah iring-iringan itu menghilang di balik kegelapan tanpa tau kemana tujuan mereka. Meski gema kalimat "Jer pati" yang tak ia mengerti maknanya, masih terdengar sayup menggema.

Cepat-cepat Kolis bergegas menyudahi istirahatnya. Memilih jalan menyimpangi arah yang di tuju iringan para pemikul keranda.

Tak berapa lama, atau sekitar tiga puluhan meter Kolis berjalan, telingannya mendengar gemercik air yang deras. Membuatnya mempercepat langkah dengan penuh harap. Akan tetapi, ketika dirinya terasa begitu dekat dengan suara gemercik air yang terdengar semakin jelas, Kolis mendadak menghentikan langkahnya. Ia terdiam, tertegun seperti ragu untuk meneruskan langkah yang harus melewati rimbunan pohon pandan setinggi lutut untuk bisa sampai pada mata air.

Seluas mata Kolis memandang dari pantulan cahaya obor di tangannya, tak sampai matanya melihat sungai yang terdengar begitu dekat. Menandakan jika rimbunan pohon pandan di depannya luas.

Tak putus asa, Kolis pun berjalan mengitari, mencoba mencari celah yang bisa dirinya lewati. Sampai pada akhirnya ia menemukan sebuah gang terapit dua buah batu besar, seperti sebuah tanda sebagai pintu masuk.

Sejenak Kolis berpikir, menimbang-nimbang antara memasukinya, atau mencari jalan lain. Bukan tanpa sebab hal itu ia lakukan, di karenakan dirinya merasakan hawa aneh yang ada di depan jalan selebar dua depa itu. Tetapi tak lama Kolis memilih memasukinya. Melangkah perlahan, menjejak masuk ke dalam dengan perasaan was-was. Lembab dan sangat gelap, suasana tempat yang Kolis lewati layaknya sebuah Gua. Tak ada hembusan angin atau suara serangga malam seperti suasana sebelumnya. Hening dan begitu mencekam di rasa Kolis saat ia semakin masuk ke dalam.

Akhirnya secercah kelegaan terpancar di wajah Kolis, manakala gemericik air deras berada tak jauh di depannya. Buru-buru ia menuangkan gelas bambu di antara sela bebatuan kecil, mengisinya hingga penuh dengan air jernih nan sejuk.

Selesai memasukan air dari gelas bambu ke dalam bejana, Kolis bangkit dan berniat segera meninggalkan sungai sedikit lebih besar dari dua tempat sebelumnya. Namun baru saja ia berdiri dan membalikan badan, Kolis terperanjat. Tempat itu, di mana dirinya pertama lihat adalah rerimbunan lebat pohon pandan yang lembab dan hening, kini berubah ramai layaknya sebuah perkampungan. Di mana matanya melihat lalu lalang aktifitas puluhan orang berpakaian sedikit aneh.

Kolis sadar dan sangat tau, jika itu bukanlah alam nyata atau alamnya manusia. Tetapi jelas itu adalah perkampungan para penunggu di tempat itu.

"Koe golek opo nang kene, Le?"(Kamu mencari apa di sini, Nak?)

Satu sapaan lembut dari belakang seketika menghentak lamunan Kolis. Perlahan ia pun menoleh, memapasi tatapan sepasang mata dari sesosok wanita berwajah ayu.

"Sepurone, aku rene njalok banyu arep tak go tombo."(Mohon maat, Saya ke sini minta air untuk obat.) jawab Kolis gugup.

"Banyu kui, banyu biasa. Nek gelem tak kei obat seng luweh apik ketimbang banyu kui."(Air itu, air biasa. Kalau mau Saya beri obat yang lebih bagus dari pada air itu.) ucap sosok wanita ayu sembari mengulas senyum tipis dari sudut bibirnya.

Kolis terdiam, perang batin akhirnya terjadi dalam dirinya antara percaya dan tidak.

"Ojo wedi, aku ora ngapusi. Penting koe manut aku."(Jangan takut, Saya tidak berbohong. Penting Kamu nurut Saya.) ujar kembali sosok itu seraya mengusap pelan pundak Kolis.
Hal itu semakin membuat batin Kolis berkecamuk. Apalagi saat matanya kembali bersitatap, jiwa Kolis terguncang. Mengabaikan asal mula tempat itu dan harum aroma pandan yang menebar dari tubuh sosok wanita di depannya. Hampir saja Kolis terjerat dan melupakan tujuannya. Namun sebelum dirinya mengikuti tarikan tangan wanita bertapi kain jarit batik, satu bisikan tegas menusuk gendang telinganya.

"Ojo mbok peloni! Iku dudu menungso!"(Jangan Kamu ikuti! itu bukan manusia!)
Seketika Kolis menarik tangannya dan mundur menjauh dari sosok wanita itu. Dan tepat setelah tangannya terlepas, gemuruh angin menghembus kencang mengiringi lenyapnya keriuhan tempat itu.

Kini, Kolis kembali menyaksikan tempatnya berdiri seperti pertama masuk, rerimbunan lebat pohon pandan. Akan tetapi, bukan itu yang membuatnya ketakutan, melainkan sosok wanita itu bukan lagi berwajah ayu, melainkan berwajah hancur penuh luka dengan bola mata putih rata menonjol ke depan seperti ingin terlepas.

Tak ingin terlalu lama berurusan dengan sosok wanita berwajah hancur, Kolis mundur dan berlari menjauh dari rimbunan pohon pandan. Terus dan terus berlari tanpa memperdulikan ngilu di kaki, Kolis menerjang pesisir pantai berpasir. Menjadikan kibasan gelombang api obor tak terarah hingga ia tersungkur tepat di bawah pohon rindang yang hanya terlihat seperti gumpalan awan hitam.

Udara dingin dari hembusan angin pantai, tak mampu mengeringkan keringat yang menempel di baju berbalut jaket bludru yang di kenakan Kolis. Nafasnya tersengal, degup jantungnya seolah terlepas, membayangkan kuku-kuku tajam sosok wanita yang baru saja membuatnya kalang kabut.

Hampir saja dirinya terpedaya oleh rayuannya. Tentu saja jika hal itu terjadi maka sia-sialah usahanya yang telah sampai di tengah jalan. Setelah beberapa menit mengatur nafas, Kolis kembali bangkit meneruskan perjalanan. Tak perduli lagi akan bahaya yang bakal ia hadapi di depannya, sebab dari usahanya.

Selempangan kabut-kabut tipis mulai bertebaran melayang membentuk bayang-bayang. Menandakan jika malam kian larut, tetapi tetap tak membuat niat dan tekat Kolis surut. Ia terus melangkah dan melangkah menyusuri kegelapan pesisir pantai demi sesuatu yang sangat berharga baginya.

Tibalah Kolis di tempat ke empat. Kali ini, tak ada gangguan apapun. Begitu juga di tempat kelima dan ke enam yang letaknya berdekatan, dirinya tak mendapat gangguan dari mahluk apapun. Hal itu semakin membuat yakin akan keberhasilan usahanya sehingga dengan semangat menggebu, Kolis mencari tempat terakhir, tempat ke tujuh.

Rasa lelah, ngilu, serta kejiwaan yang telah sampai di titik terendah dari keberaniannya, hampir terbayarkan kala satu kilatan air memantul tersorot obor serasa berada di depannya. Namun saat kakinya mendekat sampai berpuluh-puluh langkah, Kolis tak juga bisa sampai dan seperti malah menjauh. Hal ini seketika menggoyahkan dan membuat bingung Kolis.
Ia berdiri mematung, menatapi kilatan air yang di pandang begitu dekat tetapi terasa sangat jauh jika di dekati. Kegusaran seketika menghantui diri Kolis. Mundur pun ia tak ingin, untuk maju ia tak tau apa yang ada di depannya.

Di tengah-tengah keraguan itu, Kolis tersentak kaget, merasakan sentuhan seperti tepukan pelan pada pundaknya. Seraut wajah berkumis tipis dengan balutan kulit di penuhi kerutan, terpampang jelas dari sosok lelaki memakai setelan baju hitam dombor telah berdiri tepat di belakang Kolis.

"Golek i opo koe, Le?"(Mencari apa kamu, Nak?) sapa lelaki dengan raut tegas.

Bingung, takut, membaur di benak Kolis, membuatnya hanya bisa menatap sosok lelaki di depannya tanpa berucap.

"Muliho kono, Le. Percuma tok kejaro gak bakal iso mbok candak."(Pulanglah sana, Nak. Percuma di kejar pun tidak bisa Kamu dapatkan.) ujar kembali lelaki tua seraya menatap lurus ke depan.

Kolis mengerti dengan maksud ucapan lelaki di hadapannya. Namun lidahnya masih kaku untuk menyahut. Hingga sang lelaki tua mendekat, menepuk pelan pundaknya, aroma kasturi menebar dari tubuhnya.

"Aku ngerti perjuanganmu. Tapi sio-sio nek arep ngejar Tlogo Geges iku. Muliho mumpung durung do ngrubung awakmu."(Saya tau perjuanganmu. Tapi sia-sia kalau mau mengejar Tlogo Geges itu. Pulanglah sebelum mereka mengerubungi Dirimu.)

"Ora, Mbah. Aku ora arep muleh sak durunge oleh opo seng tak golek i."(Tidak, Mbah. Saya tidak akan pulang sebelum mendapat apa yang saya cari.) sahut Kolis memberanikan diri. Membuat lelaki tua berjenggot terdiam.

Di tatapnya dalam-dalam wajah Kolis. Seperti tengah mendalami sesuatu. Sampai lima tarikan nafas, lelaki itu mundur hendak meninggalkan Kolis.

"Sampean sopo, Mbah?"(Kamu siapa, Mbah?) terhenyak sebentar lelaki tua yang sudah satu langkah berjalan. Kemudian ia pun membalikan badan mendengar pertanyaan dari Kolis.

"Aku dudu sopo-sopo, Le. Neng aku ngerti opo seng tok golek i. Abot kui, masio awakmu oleh, tapi bakal ono bayarane!" (Saya bukan siapa-siapa, Nak. Tapi Saya tau apa yang kamu cari. Berat itu, walaupun kamu mendapatkannya, tapi akan ada bayarannya.)

"Bayaran opo, Mbah?"(Bayaran apa, Mbah?)

"Nyowo!"(Nyawa!)

Meremang tubuh Kolis mendengar penjelasan lelaki itu. Ia tak menyangka jika apa yang di perintahkan Mbah Sanir merupakan salah satu pertukaran nyawa.

"Opo gak di kandani karo seng ngongkon awakmu, yen Banyu Mblulu Pitong Puseran, rancak nyowo? Awakmu kui yo ngerti sejatine kanggo ngopo bakale banyu kui?"

(Apa tidak di jelaskan sama yang menyuruhmu, bahwa Banyu Mblulu Pitong Puseran, memakan nyawa? Kamu apa juga tau aslinya buat apa air itu?)



***
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.