- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Destiny
...
TS
loveismyname
You Are My Destiny

2008
“SAH!”
Serta merta, kalimat Tahmid bergema ke seluruh ruangan musholla di pagi yang cerah ini. Begitu banyak wajah bahagia sekaligus haru terlihat. Proses akad nikah memang seharusnya menjadi sesuatu yang sakral, yang membawa kebahagiaan bagi setiap orang yang melaluinya.
Aku termasuk orang yang berbahagia itu. Di hadapan seorang laki-laki yang barusan menjabat tanganku, yang selanjutnya, beliau secara resmi akan kupanggil Papa, aku tidak bisa menyembunyikan rasa haruku. Di sampingku, seorang wanita yang telah kupilih untuk mendampingiku seumur hidup, terus menerus menutup mukanya dengan kedua tangan, mengucap syukur tiada terkira.
Hai Cantik, semoga kamu bahagia juga di sana. Tunggu kami ya.
Spoiler for PERHATIAN !!:
Spoiler for DISCLAIMER !!:
Enjoy

Note : Gue akan berusaha agar cerita ini bisa selesai. Update, sebisa dan semampu gue aja, karena cerita ini sebenarnya sudah gue selesaikan dalam bentuk Ms.Word. Tapi maaf, gue gak bisa setiap hari ngaskus. mohon pengertiannya.
Index
prolog
part 1 the meeting
part 2 how come?
part 3 why
part 4 swimming
part 5 second meeting
part 6 aku
part 7 love story
part 8 mbak adelle
part 9 got ya!!
part 10 third meeting
part 11 kejadian malam itu
part 12 4th meeting
part 13 family
part 14 putus
part 15 comeback
part 16 morning surprise
part 17 we are different
Intermezzo - behind the scenes
Intermezzo - behind the scenes 2
part 18 aku di sini untukmu
part 19 a morning with her
part 20 don't mess with me 1
part 21 don't mess with me 2
part 22 my life has changed
part 23 mati gue !!
part 24 old friend
part 25 kenapa sih
Intermezzo - behind the scenes 3
part 26 halo its me again
part 27 balikan?
part 28 happy independent day
part 29 duet
part 30 sorry, i cant
part 31 night call
part 32 preparation
part 33 lets get the party started
part 34 sweetest sin
part 35 late 2001
part 36 ramadhan tiba
part 37 itu hurts
part 38 sebuah nasihat
part 39 happy new year
part 40 ombak besar
part 41 don't leave me
part 42 my hero
part 43 my hero 2
part 44 desperate
part 45 hah??
part 46 goodbye
part 47 ombak lainnya
part 48 no party
part 49 self destruction
part 50 diam
part 51 finally
part 52 our journey begin
part 53 her circle
part 54 my first kiss
part 55 sampai kapan
part 56 lost control
part 57 trauma
part 58 the missing story
part 59 akhirnya ketahuan
part 60 perencanaan ulang
part 61 komitmen
part 62 work hard
part 63 tembok terbesar
part 64 melihat sisi lain
part 65 proud
part 66 working harder
part 67 shocking news
part 68 she's gone
Intermezzo behind the scenes 4
part 69 time is running out
part 70 one more step
part 71 bali the unforgettable 1
part 72 bali the unforgettable 2
intermezzo behind the scenes 5
part 73 a plan
part 74 a plan 2
part 75 ultimatum
part 76 the day 1
part 77 the day 2
part 78 the day 3
part 79 judgement day
part 80 kami bahagia
part 81 kami bahagia 2
part 82 we are family
part 83 another opportunity
part 84 new career level
part 85 a gentlemen agreement
part 86 bidadari surga
part 87 pertanyaan mengejutkan
part 88 new place new hope
part 89 cobaan menjelang pernikahan 1
part 90 cobaan menjelang pernikahan 2
part 91 hancur
part 92 jiwa yang liar
part 93 tersesat
part 94 mungkinkah
part 95 faith
part 96 our happiness
part 97 only you
part 98 cepat sembuh sayang
part 99 our journey ends
part 100 life must go on
part 101 a new chapter
part 102 Bandung
part 103 we meet again
part 104 what's wrong
part 105 nginep
part 106 Adelle's POV 1
part 107 a beautiful morning
part 108 - terlalu khawatir
part 109 semangat !!
part 110 kejutan yang menyenangkan
part 111 aku harus bagaimana
part 112 reaksinya
part 113 menjauh?
part 114 lamaran
part 115 good night
part 116 satu per satu
part 117 si mata elang
part 118 re united
part 119 hari yang baru
part 120 teguran keras
part 121 open up my heart
part 122 pelabuhan hati
part 123 aku akan menjaganya
part 124 masih di rahasiakan
part 125 surprise
part 126 titah ibu
part 127 kembali
part 128 congratulation 1
part 129 congratulation 2
part 130 you are my destiny
epilog 1
epilog 2
epilog 3
epilog 4
epilog 5
side stry 1 mami and clarissa
side story 2 queen
side story 3 us (adelle's pov 2)
tamat
Diubah oleh loveismyname 03-06-2023 11:22
yputra121097703 dan 72 lainnya memberi reputasi
71
103.2K
954
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
loveismyname
#51
Part 33 - Let's Get The Party Started
Malam Seni di mulai ba’da Isya. Semua warga RT kami berkumpul, bahkan ada juga dari RT lain yang datang, hanya untuk menonton. Acara digawangi oleh MC Niko dan Teh Melati. Cocok sekali mereka berdua. Yang satu ramai, yang satu tukang ngomporin. Warga selalu di buat tertawa terbahak-bahak.
Tadinya, Bang Ihsan menginginkan aku dan Magda yang menjadi MC, hanya saja, jelas aku menolak.
“Ayolah Gol, lu sama Magda udah pas dah. Kebanggaan RT kita. Sama sama pinter.” Bang Ihsan saat itu membujukku.
“Pinter dari hongkong! Magda doang yang pinter gue mah kagak. Lagian, ini acara seru-seruan bang, masa nyari yang pinter. Nyari yang bisa bawa suasana meriah. Biar semua ikut rame, menikmati.”
Itulah alasanku. Toh, pilihan Bang Tirta tepat sekali. Niko, memang orang yang ramai. Dia tipe orang yang bisa membaur dengan siapa saja, dan tidak akan kehabisan bahan pembicaraan. Ditambah, timbre suaranya berat dan dalam, suara seperti itu, cocok untuk membawakan acara. Sedangkan Teh Melati si tukang kompor, terus-terusan membakar Niko untuk bercanda dan nyeletuk di atas panggung. Ditambah, kadang kami panitia iseng menimpali mereka, yang membuat keadaan makin heboh.
Acara kami selingi, antara pembagian hadiah dan hiburan. Ada juga doorprize di sela-sela acara. Semua penonton terhibur dengan ulah kami para panitia yang sering bercanda.
Dresscode panitia memakai atasan putih dan bawahan hitam. Boleh jeans atau celana bahan. Dari pengamatanku, jelas Mbak Adelle juaranya.
Mbak Adelle memakai kaus putih sedikit ketat, dan jeans berwarna hitam, simple sebenarnya. Namun, bando berwarna pink dengan aksesoris telinga kelinci berwarna pink di kepalanya, membuat wajah cantik Mbak Adelle semakin terlihat imut. Rambutnya, yang sudah panjang sepunggung, di gerai begitu saja. Jujur, aku sempat terpana melihatnya.
“Heh, ngeliat gue ga usah segitunya. Cakep kan gue Gol?” Mbak Adelle tiba-tiba sudah berada di sampingku, sambil mendekatkan wajahnya ke arahku dan tersenyum jahil.
“Ya elah, lu mah dari dulu udah cakep Mbak.” Aku menjawab santai.
Aku mengucapkan itu, memang kenyataan kan? Dia memang primadona komplek dan kampusnya.
“Ah percuma, elunya ga naksir.” Katanya cemberut.
Hahahaha, jujur, wajahnya cantik sekali kalau cemberut begitu.
“Dih. Cakep mah cakep aja Mbak. Pake nunggu orang naksir." aku tergelak menjawabnya.
"Cakep banget deh lu Mbak, pake bando begitu.”
Kebiasaanku berbicara to the point tanpa beban dan maksud apapun.
“Ihh Dogol. Lu kalo ngomong ga usah to the point gitu kek. Gue geer sumpah.” Mbak Adelle tersipu.
Awalnya aku fikir, dia hanya bercanda, namun setelah kuperhatikan, mukanya memang memerah.
Dih, kenapa ini orang.
“Mbak, coba lu tanya Pacul deh, naksir ga sama lu. Gue jamin naksir deh dia.” Aku menyarankan.
“Yeeeeee, ga mau ah.” Dia kembali merajuk, sambil berjalan menjauh. Ini wanita satu kenapa sih?
Jam 9 malam, Tiba lah giliran aku, Niko, Pacul dan Batan tampil di panggung. Saat kami sedang bersiap-siap, panitia langsung berteriak heboh.
“Aaaa Andi, ai lop yuuuu.” Teriak Bang Ihsan.
“Pacuuull, nikahin gueee.” Teriakan lain di sisi panggung, aku kurang tahu suara siapa.
“Nikooo, aku hamiiillll.”
Buset, siapa yang berteriak seperti itu? Suaranya sih cowok.
“Huahahahahahah.” Semua penonton tertawa. Rusak sudah image ku ketika berdiri dengan mereka.
Kami mulai dengan sebuah lagu berjudul kopi dangdut. Irama gendang dan aksi panggung pacul, membuatku kesulitan menahan cengkok karena ingin tertawa. Tapi, semua orang Nampak menikmati penampilan kami. Ada juga yang tanpa sungkan ikut berjoget, seperti Dinda dan A Krisna.
Lagu kedua, bujangan dari Koes Ploes. Ini nih yang bikin rusuh. Awalnya, aku bernyanyi normal, tapi saat sampai di tengah lagu, batan merusuh dengan mengambil alih vocal.
Begini nasiibbb
Jadi bu Adam
Kemana-mana
Ngajak Pak Adam
Tak pernah, di respon orangnyaaaa
“HUAHAHAHAHAH.” Komplek langsung bergetar.
“KURANG KENCENG NDIII !! ORANGNYA GA NYADAR. HAHAHAHAHAH !! Tante Birdie berteriak dan tertawa terbahak-bahak.
Batan kembali jelalatan mencari mangsa.
Begini nasiiibb
Jadi Bu Jonny
Kemana-mana
Sama Pak Jonny
Pulangnya, sendiri-sendiri
“HUAHAHAHAHAHAH, sialan lu Andi.” Tante Jon terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata. Warga pun tidak bisa menahan tawa.
Akibat terlalu sering bercanda, kami dipaksa turun oleh Teh Melati, karena over durasi. Akhirnya kami hanya membawakan dua lagu saja. Itupun keadaan penonton sudah kacau balau. Benar kata Om Senno, ujungnya pasti kami bercanda.
Setelah melewati beberapa pembagian hadiah dan doorprize, di penghujung acara, tibalah giliranku dan Trixie yang naik berduet. Ketika kami naik ke atas panggung, semua penonton bahkan termasuk panitia terdiam.
Ya, kami memang tidak memberitahukan kepada siapapun, rencana duet ini. Di rundown acara yang di terima Teh Melati dan Niko sebagai MC saja, hanya tertulis ‘Lagu Penutup’.
“Waduuhh, ternyata ini rahasianya ya. Ko, gimana nih? Kita panitia aja ga tau ada duet maut begini.” Teh Melati dengan komporan meleduknya, mulai memanasi Niko.
“Hahahaha. Ada yang jealous ga nih?? Si cantik Trixie berduet dengan Daru gimana jadinya nih Teh? Banyak yang patah hati kayaknya nih.” Niko menambah panas suasana.
“Ahh yang jealous urusan ntar deh Ko. Kita nikmatin dulu yuk, persembahan terakhir dari kami, remaja RT069 sebagai penutup malam seni tahun ini, DARU DAN TRIXIE !!” Teh Melati sudah memberikan aba-aba.
Trixie berjalan ke depan ke panggung dan aku mengikutinya menuju keyboard. Trixie juga sebenarnya tampil cantik hari ini. Dia mengganti bajunya dengan Dress seperti milik Sophia Latjuba di video klip lagu ini.
Dandanannya juga simple, tidak berlebihan. Wajar saja, kulit Trixie putih, kalau berlebihan malah terlihat jelek.
Aku, seperti biasa melakukan ritualku jika ingin tampil serius.
Aku sempat melirik ke arah penonton. Ada Afei dengan wajah yang, ah, aku tidak bisa tebak. Seperti ekspresi orang yang sedang bingung.
Kami pun mulai bernyanyi
Sesaat sebelum lagu usai, Trixie, duduk di sampingku, menyandarkan kepalanya di bahuku dan melingkarkan tangannya di lenganku.
Gawat !!!!
Penonton bertepuk tangan heboh, sambil bersuit-suit. Aku segera berdiri dan mengajak Trixie untuk bersalut di atas panggung. Saat bersalut pun, Trixie sempat-sempatnya menggandeng tanganku. Aku langsung melirik ke arah Afei, yang ternyata sudah tidak berada di tempatnya.
Kemana dia?
Setelah itu, aku langsung turun dari panggung. Dibawah panggung, Trixie mendekatiku.
“Thanks ya Gol, berkesan banget buat aku. Sayang kamu.” Trixie berbisik kepadaku. Aku hanya tersenyum canggung menanggapinya.
***********************
Panggung sudah mulai di bereskan. Kami panitia berkumpul seperti biasa, untuk sekedar evaluasi sambil mengobrol. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam.
“Bro and sis, kalian keren banget. Kerja keras kita nih !! Thank you buat lu semua yang udah mau ngeluangin waktunya. Semoga tahun depan, kita masih bisa ngadain acara lagi ya.” A Krisna mulai berbicara.
“Jangan terhenti di sini aja ya. Kita masih kumpul-kumpul lagi dong ya. Walau hanya sekedar nongkrong. Lagipula, nanti di bulan Ramadhan, kita bisa buat kegiatan lagi.” Lanjut A Krisna.
“Gol, kejutan lu edan sih. Hahahahah. Bagus banget suara lu kayak biasa. Lembut. Keren kalian berdua.” Bang Ihsan memujiku dan Trixie.
“Ah nggak ! kurang bagus ! Suara Trixie kebanting banget sama Dogol.” Mbak Adelle langsung bersuara keras dan menghentak.
Semua langsung terdiam. Mbak Adelle memang sedari tadi diam saja. Wajahnya yang dari awal acara selalu tersenyum, menjadi judes dan mudah marah di akhir acara.
“Yah mendinglah, dari pada suara Batan. Nguukk…nguuukk…nguukk kayak radio rusak.” Pacul langsung menanggapi dengan mulut bocornya.
HUAHAHAHAHAHA. Mulut lu Cul Pacul.” Semua akhirnya tertawa, walau Mbak Adelle sedikit memaksakan. Dia kenapa ya?
Pacul langsung melirik kearahku, aku hanya melihatnya sambil mengangkat bahu. Tanda aku tidak tahu maksudnya.
Pacul nampaknya paham situasi yang terjadi. Padahal, aku sendiri bingung.
Setelah semua selesai, kami panitia akan pulang ke rumah masing-masing. Mbak Adelle langsung menghampiriku dengan wajah yang menyeramkan.
“Lu harus ikut gue ke Bandung!! Ga ada alasan!!” Dia mendesis tepat di depanku.
Aku langsung merinding dibuatnya.
Tadinya, Bang Ihsan menginginkan aku dan Magda yang menjadi MC, hanya saja, jelas aku menolak.
“Ayolah Gol, lu sama Magda udah pas dah. Kebanggaan RT kita. Sama sama pinter.” Bang Ihsan saat itu membujukku.
“Pinter dari hongkong! Magda doang yang pinter gue mah kagak. Lagian, ini acara seru-seruan bang, masa nyari yang pinter. Nyari yang bisa bawa suasana meriah. Biar semua ikut rame, menikmati.”
Itulah alasanku. Toh, pilihan Bang Tirta tepat sekali. Niko, memang orang yang ramai. Dia tipe orang yang bisa membaur dengan siapa saja, dan tidak akan kehabisan bahan pembicaraan. Ditambah, timbre suaranya berat dan dalam, suara seperti itu, cocok untuk membawakan acara. Sedangkan Teh Melati si tukang kompor, terus-terusan membakar Niko untuk bercanda dan nyeletuk di atas panggung. Ditambah, kadang kami panitia iseng menimpali mereka, yang membuat keadaan makin heboh.
Acara kami selingi, antara pembagian hadiah dan hiburan. Ada juga doorprize di sela-sela acara. Semua penonton terhibur dengan ulah kami para panitia yang sering bercanda.
Dresscode panitia memakai atasan putih dan bawahan hitam. Boleh jeans atau celana bahan. Dari pengamatanku, jelas Mbak Adelle juaranya.
Mbak Adelle memakai kaus putih sedikit ketat, dan jeans berwarna hitam, simple sebenarnya. Namun, bando berwarna pink dengan aksesoris telinga kelinci berwarna pink di kepalanya, membuat wajah cantik Mbak Adelle semakin terlihat imut. Rambutnya, yang sudah panjang sepunggung, di gerai begitu saja. Jujur, aku sempat terpana melihatnya.
“Heh, ngeliat gue ga usah segitunya. Cakep kan gue Gol?” Mbak Adelle tiba-tiba sudah berada di sampingku, sambil mendekatkan wajahnya ke arahku dan tersenyum jahil.
“Ya elah, lu mah dari dulu udah cakep Mbak.” Aku menjawab santai.
Aku mengucapkan itu, memang kenyataan kan? Dia memang primadona komplek dan kampusnya.
“Ah percuma, elunya ga naksir.” Katanya cemberut.
Hahahaha, jujur, wajahnya cantik sekali kalau cemberut begitu.
“Dih. Cakep mah cakep aja Mbak. Pake nunggu orang naksir." aku tergelak menjawabnya.
"Cakep banget deh lu Mbak, pake bando begitu.”
Kebiasaanku berbicara to the point tanpa beban dan maksud apapun.
“Ihh Dogol. Lu kalo ngomong ga usah to the point gitu kek. Gue geer sumpah.” Mbak Adelle tersipu.
Awalnya aku fikir, dia hanya bercanda, namun setelah kuperhatikan, mukanya memang memerah.
Dih, kenapa ini orang.
“Mbak, coba lu tanya Pacul deh, naksir ga sama lu. Gue jamin naksir deh dia.” Aku menyarankan.
“Yeeeeee, ga mau ah.” Dia kembali merajuk, sambil berjalan menjauh. Ini wanita satu kenapa sih?
Jam 9 malam, Tiba lah giliran aku, Niko, Pacul dan Batan tampil di panggung. Saat kami sedang bersiap-siap, panitia langsung berteriak heboh.
“Aaaa Andi, ai lop yuuuu.” Teriak Bang Ihsan.
“Pacuuull, nikahin gueee.” Teriakan lain di sisi panggung, aku kurang tahu suara siapa.
“Nikooo, aku hamiiillll.”
Buset, siapa yang berteriak seperti itu? Suaranya sih cowok.
“Huahahahahahah.” Semua penonton tertawa. Rusak sudah image ku ketika berdiri dengan mereka.
Kami mulai dengan sebuah lagu berjudul kopi dangdut. Irama gendang dan aksi panggung pacul, membuatku kesulitan menahan cengkok karena ingin tertawa. Tapi, semua orang Nampak menikmati penampilan kami. Ada juga yang tanpa sungkan ikut berjoget, seperti Dinda dan A Krisna.
Lagu kedua, bujangan dari Koes Ploes. Ini nih yang bikin rusuh. Awalnya, aku bernyanyi normal, tapi saat sampai di tengah lagu, batan merusuh dengan mengambil alih vocal.
Begini nasiibbb
Jadi bu Adam
Kemana-mana
Ngajak Pak Adam
Tak pernah, di respon orangnyaaaa
“HUAHAHAHAHAH.” Komplek langsung bergetar.
“KURANG KENCENG NDIII !! ORANGNYA GA NYADAR. HAHAHAHAHAH !! Tante Birdie berteriak dan tertawa terbahak-bahak.
Spoiler for Om Birdie:
Batan kembali jelalatan mencari mangsa.
Begini nasiiibb
Jadi Bu Jonny
Kemana-mana
Sama Pak Jonny
Pulangnya, sendiri-sendiri
“HUAHAHAHAHAHAH, sialan lu Andi.” Tante Jon terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata. Warga pun tidak bisa menahan tawa.
Spoiler for Om Jonny:
Akibat terlalu sering bercanda, kami dipaksa turun oleh Teh Melati, karena over durasi. Akhirnya kami hanya membawakan dua lagu saja. Itupun keadaan penonton sudah kacau balau. Benar kata Om Senno, ujungnya pasti kami bercanda.
Setelah melewati beberapa pembagian hadiah dan doorprize, di penghujung acara, tibalah giliranku dan Trixie yang naik berduet. Ketika kami naik ke atas panggung, semua penonton bahkan termasuk panitia terdiam.
Ya, kami memang tidak memberitahukan kepada siapapun, rencana duet ini. Di rundown acara yang di terima Teh Melati dan Niko sebagai MC saja, hanya tertulis ‘Lagu Penutup’.
Spoiler for flashback:
“Waduuhh, ternyata ini rahasianya ya. Ko, gimana nih? Kita panitia aja ga tau ada duet maut begini.” Teh Melati dengan komporan meleduknya, mulai memanasi Niko.
“Hahahaha. Ada yang jealous ga nih?? Si cantik Trixie berduet dengan Daru gimana jadinya nih Teh? Banyak yang patah hati kayaknya nih.” Niko menambah panas suasana.
“Ahh yang jealous urusan ntar deh Ko. Kita nikmatin dulu yuk, persembahan terakhir dari kami, remaja RT069 sebagai penutup malam seni tahun ini, DARU DAN TRIXIE !!” Teh Melati sudah memberikan aba-aba.
Trixie berjalan ke depan ke panggung dan aku mengikutinya menuju keyboard. Trixie juga sebenarnya tampil cantik hari ini. Dia mengganti bajunya dengan Dress seperti milik Sophia Latjuba di video klip lagu ini.
Dandanannya juga simple, tidak berlebihan. Wajar saja, kulit Trixie putih, kalau berlebihan malah terlihat jelek.
Aku, seperti biasa melakukan ritualku jika ingin tampil serius.
Aku sempat melirik ke arah penonton. Ada Afei dengan wajah yang, ah, aku tidak bisa tebak. Seperti ekspresi orang yang sedang bingung.
Kami pun mulai bernyanyi
Sesaat sebelum lagu usai, Trixie, duduk di sampingku, menyandarkan kepalanya di bahuku dan melingkarkan tangannya di lenganku.
Gawat !!!!
Penonton bertepuk tangan heboh, sambil bersuit-suit. Aku segera berdiri dan mengajak Trixie untuk bersalut di atas panggung. Saat bersalut pun, Trixie sempat-sempatnya menggandeng tanganku. Aku langsung melirik ke arah Afei, yang ternyata sudah tidak berada di tempatnya.
Kemana dia?
Setelah itu, aku langsung turun dari panggung. Dibawah panggung, Trixie mendekatiku.
“Thanks ya Gol, berkesan banget buat aku. Sayang kamu.” Trixie berbisik kepadaku. Aku hanya tersenyum canggung menanggapinya.
***********************
Panggung sudah mulai di bereskan. Kami panitia berkumpul seperti biasa, untuk sekedar evaluasi sambil mengobrol. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam.
“Bro and sis, kalian keren banget. Kerja keras kita nih !! Thank you buat lu semua yang udah mau ngeluangin waktunya. Semoga tahun depan, kita masih bisa ngadain acara lagi ya.” A Krisna mulai berbicara.
“Jangan terhenti di sini aja ya. Kita masih kumpul-kumpul lagi dong ya. Walau hanya sekedar nongkrong. Lagipula, nanti di bulan Ramadhan, kita bisa buat kegiatan lagi.” Lanjut A Krisna.
“Gol, kejutan lu edan sih. Hahahahah. Bagus banget suara lu kayak biasa. Lembut. Keren kalian berdua.” Bang Ihsan memujiku dan Trixie.
“Ah nggak ! kurang bagus ! Suara Trixie kebanting banget sama Dogol.” Mbak Adelle langsung bersuara keras dan menghentak.
Semua langsung terdiam. Mbak Adelle memang sedari tadi diam saja. Wajahnya yang dari awal acara selalu tersenyum, menjadi judes dan mudah marah di akhir acara.
“Yah mendinglah, dari pada suara Batan. Nguukk…nguuukk…nguukk kayak radio rusak.” Pacul langsung menanggapi dengan mulut bocornya.
HUAHAHAHAHAHA. Mulut lu Cul Pacul.” Semua akhirnya tertawa, walau Mbak Adelle sedikit memaksakan. Dia kenapa ya?
Pacul langsung melirik kearahku, aku hanya melihatnya sambil mengangkat bahu. Tanda aku tidak tahu maksudnya.
Pacul nampaknya paham situasi yang terjadi. Padahal, aku sendiri bingung.
Setelah semua selesai, kami panitia akan pulang ke rumah masing-masing. Mbak Adelle langsung menghampiriku dengan wajah yang menyeramkan.
“Lu harus ikut gue ke Bandung!! Ga ada alasan!!” Dia mendesis tepat di depanku.
Aku langsung merinding dibuatnya.
Diubah oleh loveismyname 06-04-2023 22:49
yuaufchauza dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Tutup
