- Beranda
- Stories from the Heart
You Are My Destiny
...
TS
loveismyname
You Are My Destiny

2008
“SAH!”
Serta merta, kalimat Tahmid bergema ke seluruh ruangan musholla di pagi yang cerah ini. Begitu banyak wajah bahagia sekaligus haru terlihat. Proses akad nikah memang seharusnya menjadi sesuatu yang sakral, yang membawa kebahagiaan bagi setiap orang yang melaluinya.
Aku termasuk orang yang berbahagia itu. Di hadapan seorang laki-laki yang barusan menjabat tanganku, yang selanjutnya, beliau secara resmi akan kupanggil Papa, aku tidak bisa menyembunyikan rasa haruku. Di sampingku, seorang wanita yang telah kupilih untuk mendampingiku seumur hidup, terus menerus menutup mukanya dengan kedua tangan, mengucap syukur tiada terkira.
Hai Cantik, semoga kamu bahagia juga di sana. Tunggu kami ya.
Spoiler for PERHATIAN !!:
Spoiler for DISCLAIMER !!:
Enjoy

Note : Gue akan berusaha agar cerita ini bisa selesai. Update, sebisa dan semampu gue aja, karena cerita ini sebenarnya sudah gue selesaikan dalam bentuk Ms.Word. Tapi maaf, gue gak bisa setiap hari ngaskus. mohon pengertiannya.
Index
prolog
part 1 the meeting
part 2 how come?
part 3 why
part 4 swimming
part 5 second meeting
part 6 aku
part 7 love story
part 8 mbak adelle
part 9 got ya!!
part 10 third meeting
part 11 kejadian malam itu
part 12 4th meeting
part 13 family
part 14 putus
part 15 comeback
part 16 morning surprise
part 17 we are different
Intermezzo - behind the scenes
Intermezzo - behind the scenes 2
part 18 aku di sini untukmu
part 19 a morning with her
part 20 don't mess with me 1
part 21 don't mess with me 2
part 22 my life has changed
part 23 mati gue !!
part 24 old friend
part 25 kenapa sih
Intermezzo - behind the scenes 3
part 26 halo its me again
part 27 balikan?
part 28 happy independent day
part 29 duet
part 30 sorry, i cant
part 31 night call
part 32 preparation
part 33 lets get the party started
part 34 sweetest sin
part 35 late 2001
part 36 ramadhan tiba
part 37 itu hurts
part 38 sebuah nasihat
part 39 happy new year
part 40 ombak besar
part 41 don't leave me
part 42 my hero
part 43 my hero 2
part 44 desperate
part 45 hah??
part 46 goodbye
part 47 ombak lainnya
part 48 no party
part 49 self destruction
part 50 diam
part 51 finally
part 52 our journey begin
part 53 her circle
part 54 my first kiss
part 55 sampai kapan
part 56 lost control
part 57 trauma
part 58 the missing story
part 59 akhirnya ketahuan
part 60 perencanaan ulang
part 61 komitmen
part 62 work hard
part 63 tembok terbesar
part 64 melihat sisi lain
part 65 proud
part 66 working harder
part 67 shocking news
part 68 she's gone
Intermezzo behind the scenes 4
part 69 time is running out
part 70 one more step
part 71 bali the unforgettable 1
part 72 bali the unforgettable 2
intermezzo behind the scenes 5
part 73 a plan
part 74 a plan 2
part 75 ultimatum
part 76 the day 1
part 77 the day 2
part 78 the day 3
part 79 judgement day
part 80 kami bahagia
part 81 kami bahagia 2
part 82 we are family
part 83 another opportunity
part 84 new career level
part 85 a gentlemen agreement
part 86 bidadari surga
part 87 pertanyaan mengejutkan
part 88 new place new hope
part 89 cobaan menjelang pernikahan 1
part 90 cobaan menjelang pernikahan 2
part 91 hancur
part 92 jiwa yang liar
part 93 tersesat
part 94 mungkinkah
part 95 faith
part 96 our happiness
part 97 only you
part 98 cepat sembuh sayang
part 99 our journey ends
part 100 life must go on
part 101 a new chapter
part 102 Bandung
part 103 we meet again
part 104 what's wrong
part 105 nginep
part 106 Adelle's POV 1
part 107 a beautiful morning
part 108 - terlalu khawatir
part 109 semangat !!
part 110 kejutan yang menyenangkan
part 111 aku harus bagaimana
part 112 reaksinya
part 113 menjauh?
part 114 lamaran
part 115 good night
part 116 satu per satu
part 117 si mata elang
part 118 re united
part 119 hari yang baru
part 120 teguran keras
part 121 open up my heart
part 122 pelabuhan hati
part 123 aku akan menjaganya
part 124 masih di rahasiakan
part 125 surprise
part 126 titah ibu
part 127 kembali
part 128 congratulation 1
part 129 congratulation 2
part 130 you are my destiny
epilog 1
epilog 2
epilog 3
epilog 4
epilog 5
side stry 1 mami and clarissa
side story 2 queen
side story 3 us (adelle's pov 2)
tamat
Diubah oleh loveismyname 03-06-2023 11:22
teguhjepang9932 dan 73 lainnya memberi reputasi
72
104.5K
954
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
loveismyname
#6
Part 5 - Second Meeting
Aku sudah di mushola sebelum Isya. Kerajinan ? Tidak juga. Semua persiapan kegiatan Senin sampai Rabu sudah selesai. Tugas juga sudah. Aku jadi merasa ‘gabut’ di rumah. Iya deh, aku jamaah karena gabut di rumah, bukan karena alim. Terima kasih untuk teman-temanku yang membuat aku pulang lebih cepat tadi pagi. Aku jadi punya waktu lebih untuk istirahat dan menyiapkan tugas.
Jam 19.08. Waktu sholat akan masuk sebentar lagi, yang berarti, Wak Mahmud sang muadzin akan mengumandangkan adzan. Aku masih berkomat kamit di belakang, menghapalkan beberapa materi sosiologi. Tak lama, datang Bang Tirta dan Pacul.
“Lah ini orang mau jamaah juga ?” Heranku saat melihat sosok Pacul.
Pacul berjalan ke arahku sambil cengengesan, Bang Tirta langsung ke tempat wudhu.
“Gue liat tadi lu jalan, eh, gue dapet hidayah buat jamaah di mushola.” Pacul bicara sambil cengengesan.
Wak Mahmud, tiba-tiba masuk tergesa. Matanya melirik ke sekeliling mushola.
“Tong, lu adzan ya. Suara gue serak banget ini. Lagi sakit.” Wak Mahmud entah berbicara ke siapa. Tatapannya sih ke aku dan Pacul. Ya iya, belum ada jamaah lain soalnya. Suaranya memang serak-serak basah, khas orang sakit tenggorokan.
“Ah nggak ah Wak, ga bisa gue. Nih si dogol aja. Anak ROHIS dia.” Pacul langsung mengelak.
“Apa hubungannya anak ROHIS sama bisa adzan, Cul?” Aku berkata heran. “Bang Tirta aja Wak. Lagi wudhu orangnya.” Lanjutku ke Wak Mahmud.
“Apaan lu dogol? Tirta tirta aja.” Bang Tirta melangkah masuk. Masih dalam keadaan basah mukanya.
“Itu Wak Mahmud sakit tenggorokan, lu gantiin adzan bang.” Aku menjelaskan.
“Bused. Lu mau ngebuat orang se RT koit berjamaah Gol denger suara gue.” Bang Tirta menolak.
“Tau lu Gol. Suara Bang Tirta dikira terompet sangkakala ntar ama warga. Bukan di panggil sholat, dipanggil Yang Maha Kuasa itu.” Sambar Pacul.
“Bangkek !!” Sahut Bang Tirta sambil tertawa.
“Ya udah, tunggu Bang Ihsan. Dia kan biasa gantiin adzan.” Usulku.
“Ini udah masuk waktu. Ihsan belum dateng berarti dia dateng mepet waktu sholat. Kalo ga mah, dia udah di sini dari Maghrib. Lah tadi Maghrib aja ga ada. Maghrib tadi, Pak Ujang yang adzan. Dia mah biasanya dateng Maghrib doang, isya kagak. Udah, siapa ini yang adzan? Tolongin kek!” Wak Mahmud memohon.
“Yailah, yaudah gue deh Wak. Ini gimana cara nyalainnya?” Akhirnya aku mengalah. Duh, sudah lama sekali aku tidak melakukan adzan begini. Grogi. Sialan memang si Pacul, pakai mengelak segala.
Wak Mahmud dengan sigap menyiapkan sound system untuk adzan.
“Nih udah !” Ujar Wak Mahmud
Akupun bergerak ke depan untuk Adzan.
“Bismillah.” Bisikku dalam hati.
Selesai sholat dan berdoa, aku langsung menuju ruangan tempat rapat, sama seperti kemarin. Sudah ada pacul dan Bang Tirta yang sedang merokok. Bang Ihsan, seperti biasa, sedang dzikir dan wirid. Mungkin supaya jodohnya dipermudah. Betul kata Wak Mahmud tadi, saat aku melakukan iqomat, Bang Ihsan baru datang.
Pacul dan Bang Tirta yang melihatku langsung senyum-senyum. Lah ini anak dua kesambet jin mushola kali ya?
“Anjir suara lu Gol! Udah lama ga ketemu, kenapa suara lu jadi bening gitu? Baru kali ini gw nikmatin bener suara adzan. Demen dah gue kalo ada remaja yang bisa gantiin Wak Mahmud di mushola. Menurut gue, malah bagusan adzan lu daripada Wak Mahmud.” Bang Tirta tiba-tiba berkata.
“Apaan? Kerenan bang Ihsan lah” Jawabku cuek.
“Dih, Bang Ihsan mah gantiin adzan Cuma karena dia punya satu kelebihan Gol. Suaranya kedengaran sampe satu komplek, bahkan mungkin satu kelurahan! Lu perhatiin dah, kalo bang Ihsan adzan, tukang becak depan komplek sampe tutup kuping! Apalagi kalo bangunin sahur, beuh, itu keluarganya Afei sampe ikutan sahur karena kebangun dan ga bisa tidur lagi.” Pacul berkelakar.
“HAHAHAHAHAH, KAMFRET LU PACUL!! MULUT LU LOSS BANGET KAYAK REM BLONG!” Suara Bang Ihsan meledak dari dalam ruangan.
“Lah dia denger ! Doa lu kagak khusyu itu Bang ! Kagak dikabulin dah ! Makin jauh aja jodoh lu.” Pacul bukannya berhenti, malah menjadi-jadi. Aku dan Bang Tirta sampai tertawa berguling-guling.
Tak lama, Bang Ihsan mendekati kami. Sempat tersenyum ke arahku, namun lanjut bercanda dengan kami sambil menyiapkan bahan rapat. Bang Ihsan juga minta usulku untuk mengatur point-point apa yang akan di bahas. Aku meminta selembar kertas dan pulpen ke Bang Ihsan.
Aku terbiasa melakukan itu, membuat konsep, mencoret-coret apa yang menjadi pertimbanganku, baru berbicara. Setelah itu, baru aku berdiskusi dengan Bang Ihsan, dan dua mahluk ghaib penunggu pohon mangga di pertigaan RT, Bang Tirta dan Pacul. Aku menjelaskan pokok-pokok ideku dengan corat coret di kertas tadi.
“Cakep Gol. Tapi yang tahap dua itu bisa di pecah ga? Terlalu berat dan man power sedikit. Gue takut ada kecemburuan di team nanti. Lu tau kan? Gue paling males kalo ada orang ngerasa kalo dia yang paling bekerja keras.” Ujar Bang Ihsan.
“Betul juga.” Sahutku dalam hati. Memang agak sulit, karena seakrab-akrabnya kami, yang Namanya remaja, pasti ada sisi sensitifnya. Ujungnya nanti ngomong, “Gue nih udah kerja dari kemarin, capek. Lu ngapain aja?” Padahal sebenarnya, ya itu pembagian tugas saja. Toh nanti ada saatnya team lain yang capek.
Aku kembali mencoret-coret kertas. Saat itulah.....
“Assalammu’alaikum.” Suara Mbak Adelle yang merdu terdengar.
“Wa’alaikumsalam.” Sahut kami bersamaan.
Aku yang masih serius mencorat coret tidak melihat siapa saja yang datang. Dari suara berisik yang terdengar, nampaknya satu rombongan datang, pria wanita, tidak terpisah seperti kemarin. Lumayan ramai. Bodo amat deh !! Aku memang seperti itu jika sedang fokus.
“Gol, serius amat? Nih minum dulu, tadi kita beli di depan komplek. Yah, itung-itung konsumsi.” Terdengar suara wanita, kemudian, terjulur tangan kurus berkulit putih yang memegang gelas plastik berisi minuman ke arahku. Aku langsung menoleh. Trixie.
“Oh. Thanks ya Trix.” Jawabku singkat, kemudian mengambil gelas dari tangan Trixie dan meminumnya.
“Dogol doang yang dikasih Trix?” Pacul kembali membuat ulah.
Trixie hanya menjawab dengan juluran lidah ke arah Pacul.
Trixie langsung duduk di sampingku. Tak lama, terdengar Bang Ihsan memulai rapat malam ini.
**********************
Jam 20.52
“Oke, thanks banget buat yang udah hadir hari ini. Semua hampir matang. Seneng deh gue kalo ga bertele-tele gini. Sampe ketemu minggu depan ya. Hari Sabtu, jam yang sama, ba’da Isya. Yang mau ngapel, atau ga bisa hadir, boleh kok izin. Tapi, harus menerima keputusan rapat ya. Tidak menerima complain.” Ujar A Krisna yang menutup rapat malam ini.
Aku yang selama rapat focus ke A Krisna sambil mengoreksi penjelasannya -karena dia memegang kertas coretanku- benar-benar tidak menyadari siapa saja yang hadir rapat malam ini. Sebegitu cueknya diriku saat itu. Aku malah terkadang mengobrol dengan Trixie yang ada di sebelahku. Si gadis Palembang yang sekarang tumbuh cantik dengan tubuh ‘kutilang’, rambut lurus sebahu dan berkacamata frameless.
“Eh, tadi siapa yang adzan sih? Enak bener suaranya” Tiba-tiba Rista bertanya.
“Eh iya bener. Tadi bokap gue aja sampe nikmatin bener tuh adzan sama sholawatnya. Baguus banget suaranya.” Mbak Adelle menyahut.
“Sumpah. Itu kata bokap gue, kalo orang batak udah disuruh nyanyi tuh.” Magda menyambar berapi-api.
“Suaranya kayak adzan di tivi yah? Apa rekaman tivi kali? Ga mungkin Wak Mahmud deh.” Tanya A Krisna.
“Waduh, males deh gue yang begini-begini nih.” Aku berseru khawatir dalam hati.
Bang Tirta, Pacul, dan Bang Ihsan, langsung senyum-senyum sambil menatapku.
“Elu Gol?” Afei yang menyadari pandangan mereka bertiga ke arahku, bertanya dan menatapku lembut kemudian tersenyum. “Nyokap gue aja sampe kagum loh sama suaranya.” Lanjutnya.
“Eh, i… iya. Wak Mahmud lagi sakit tadi. Kebetulan gue dateng agak cepet ke sini.” Ujarku. Agak tidak nyambung sih memang.
Ya mau bagaimana? Sudah keringat dingin gara-gara masalah adzan, ditambah Afei pula yang bertanya. Entah kenapa, grogi terus kalau dekat dia.
“Ihh Dogol, suaranya adem banget. Keren deh.” Teh Melati tiba-tiba bersuara. “Tuh, kalo adzan kaya dogol dong, San! Lu kalo adzan kayak ngajak berantem!” Teh Melati malah menegur bang Ihsan.
“Eh Fei, masa kata Pacul, kalo Bang Ihsan bangunin sahur pakai toa mushola, keluarga lu sampe bangun terus sawan seharian. Emang bener, Fei?” Bang Tirta tiba-tiba mengalihkan pembicaraan, yang membuatku merasa lega sekaligus geli, karena redaksinya jadi sedikit berbeda dengan omongan awal Pacul.
“Hahahahahah. Ya nggaklah. Pacul parah banget, ih!” Afei tertawa geli, sambil menutup mulutnya.
“HAHAHAHAHAHA!” Meledaklah tawa semua orang.
Di saat itu, aku tersihir. Afei bertambah cantik saat tertawa. Mata sipitnya ‘menghilang’ namun malah menambah kesan imut di wajahnya. Ditambah rona merah yang muncul di sekitar pipinya, membuat aku benar-benar terpakau.
"Duh, kelamaan disini, makin gak bisa fokus nih gue !" Ujarku dalam hati, ketika menyadari, pandanganku terlalu lama berhenti di sosok Afei. Afei yang menyadari hal itu, melirikku sambil tersenyum manis.
“Eh, udah malem nih, gue cabut dulu ya. Besok berangkat pagi. Yuk, semuanya.” Aku akhirnya memutuskan untuk pulang. Aku segera memakai sandal lalu bersiap melangkah.
“Cul, bareng nggak?” Aku bertanya kepada Pacul.
“Nggak ah, nongkrong dulu bentaran. Masih jam 9 lewat dikit, Gol.” Pacul menjawab.
Akupun mengangguk, lalu melirik teman yang lain. Para wanita, seperti biasa, melakukan gerakan lambaian tangan. Aku kembali melirik Afei. Ternyata dia juga sedang melihatku.
“Hati-hati.” Bibirnya yang mungil, berbicara tanpa suara. Namun aku bisa membacanya. Aku hanya tersenyum sambil mengangguk, lalu melangkah keluar mushola.
“Gol tungguin ! Gue juga balik yak. Sekolah gue jauh banget, nih! Bisa telat kalo pulang kemaleman. Dahhh!” Trixie berteriak sambil berlari ke arahku. Aku tertawa menyambutnya.
“Jauuuh banget sekolah lu Trix. Hahahaha.” Sahutku sambil tertawa. Jelas aku tertawa, SMA Trixie sebenarnya termasuk yang paling dekat. Hanya 1.5km saja dari rumah. Naik sepeda paling 15 menit sampai.
Kami berjalan beriringan dalam diam. Trixie di samping kiriku sambil memainkan ikat rambut yang dia pegang.
“Gol, lu masih aja mengejutkan ya. Gue yakin, sebenernya, masih banyak yang tersembunyi dari lu.” Trixie berkata.
“Udahlah Trix. Ga usah dibahas.” Aku berkata singkat. “Cuma adzan aja, semua orang juga bisa kok.” Lanjutku sambil tersenyum malu.
“Gol, please.” Trixie memegang lenganku, berhenti berjalan dan membuatku berhenti berjalan juga.
“Sifat pemalu lu kurangin dikit lah.” Trixie tiba-tiba berkata lembut sekali.
“Ga usah terlalu rendah diri, be confident!” Trixie melanjutkan.
Namun, kejadian berikutnya membuat jantungku hampir berhenti berdetak. Trixie memeluk lenganku, lalu jemarinya masuk ke sela-sela jariku. Kami pun bergandengan, lebih tepatnya, Trixie menggandengku, karena jemariku tidak mampu merespon genggamannya. Aku langsung berkeringat dingin. Rasa merinding menjalar ke seluruh tubuhku.
“Sok tau.” Ujarku pelan sambil tersenyum. Aku bingung harus bagaimana. Digandeng seorang wanita cantik seperti Trixie, membuat jantungku berdetak kencang. Halus tangan Trixie, terasa di jari-jariku.
“I know you so well. You were my classmate in elementary.”
“Time flies Trix. Time changes almost everything.” Aku lanjut berjalan, namun Trixie tidak melepaskan jemarinya dari tanganku, dan diapun ikut berjalan pelan.
“Time doesn’t change anything. Dari cara lu bersikap, gue yakin, lu masih sama kayak dulu, Daru.”
“Ah, males deh gue begini nih.” Aku berujar dalam hati, ketika menyadari, Trixie masih sama seperti dulu, Agresif.
Kami lanjut berjalan, bergandengan, dalam diam. Tak lama, kami tiba di depan rumah Trixie. Masih dalam keadaan Trixie menggandeng tanganku, dia berkata,
“You’re unpredictable, Daru. Bye!!” Trixie akhirnya melepaskan tangannya, dan beranjak menuju rumahnya.
Aku masih berdiri membeku, sampai dia masuk ke dalam rumahnya. Sebelum masuk, Trixie sempat menoleh ke arahku dan tersenyum manis.
Aku terkejut ketika melihat gorden tersingkap dari jendela depan.
“Waduh, emaknya ngintip !!”
Jam 19.08. Waktu sholat akan masuk sebentar lagi, yang berarti, Wak Mahmud sang muadzin akan mengumandangkan adzan. Aku masih berkomat kamit di belakang, menghapalkan beberapa materi sosiologi. Tak lama, datang Bang Tirta dan Pacul.
“Lah ini orang mau jamaah juga ?” Heranku saat melihat sosok Pacul.
Pacul berjalan ke arahku sambil cengengesan, Bang Tirta langsung ke tempat wudhu.
“Gue liat tadi lu jalan, eh, gue dapet hidayah buat jamaah di mushola.” Pacul bicara sambil cengengesan.
Wak Mahmud, tiba-tiba masuk tergesa. Matanya melirik ke sekeliling mushola.
“Tong, lu adzan ya. Suara gue serak banget ini. Lagi sakit.” Wak Mahmud entah berbicara ke siapa. Tatapannya sih ke aku dan Pacul. Ya iya, belum ada jamaah lain soalnya. Suaranya memang serak-serak basah, khas orang sakit tenggorokan.
“Ah nggak ah Wak, ga bisa gue. Nih si dogol aja. Anak ROHIS dia.” Pacul langsung mengelak.
“Apa hubungannya anak ROHIS sama bisa adzan, Cul?” Aku berkata heran. “Bang Tirta aja Wak. Lagi wudhu orangnya.” Lanjutku ke Wak Mahmud.
“Apaan lu dogol? Tirta tirta aja.” Bang Tirta melangkah masuk. Masih dalam keadaan basah mukanya.
“Itu Wak Mahmud sakit tenggorokan, lu gantiin adzan bang.” Aku menjelaskan.
“Bused. Lu mau ngebuat orang se RT koit berjamaah Gol denger suara gue.” Bang Tirta menolak.
“Tau lu Gol. Suara Bang Tirta dikira terompet sangkakala ntar ama warga. Bukan di panggil sholat, dipanggil Yang Maha Kuasa itu.” Sambar Pacul.
“Bangkek !!” Sahut Bang Tirta sambil tertawa.
“Ya udah, tunggu Bang Ihsan. Dia kan biasa gantiin adzan.” Usulku.
“Ini udah masuk waktu. Ihsan belum dateng berarti dia dateng mepet waktu sholat. Kalo ga mah, dia udah di sini dari Maghrib. Lah tadi Maghrib aja ga ada. Maghrib tadi, Pak Ujang yang adzan. Dia mah biasanya dateng Maghrib doang, isya kagak. Udah, siapa ini yang adzan? Tolongin kek!” Wak Mahmud memohon.
“Yailah, yaudah gue deh Wak. Ini gimana cara nyalainnya?” Akhirnya aku mengalah. Duh, sudah lama sekali aku tidak melakukan adzan begini. Grogi. Sialan memang si Pacul, pakai mengelak segala.
Wak Mahmud dengan sigap menyiapkan sound system untuk adzan.
“Nih udah !” Ujar Wak Mahmud
Akupun bergerak ke depan untuk Adzan.
“Bismillah.” Bisikku dalam hati.
Selesai sholat dan berdoa, aku langsung menuju ruangan tempat rapat, sama seperti kemarin. Sudah ada pacul dan Bang Tirta yang sedang merokok. Bang Ihsan, seperti biasa, sedang dzikir dan wirid. Mungkin supaya jodohnya dipermudah. Betul kata Wak Mahmud tadi, saat aku melakukan iqomat, Bang Ihsan baru datang.
Pacul dan Bang Tirta yang melihatku langsung senyum-senyum. Lah ini anak dua kesambet jin mushola kali ya?
“Anjir suara lu Gol! Udah lama ga ketemu, kenapa suara lu jadi bening gitu? Baru kali ini gw nikmatin bener suara adzan. Demen dah gue kalo ada remaja yang bisa gantiin Wak Mahmud di mushola. Menurut gue, malah bagusan adzan lu daripada Wak Mahmud.” Bang Tirta tiba-tiba berkata.
“Apaan? Kerenan bang Ihsan lah” Jawabku cuek.
“Dih, Bang Ihsan mah gantiin adzan Cuma karena dia punya satu kelebihan Gol. Suaranya kedengaran sampe satu komplek, bahkan mungkin satu kelurahan! Lu perhatiin dah, kalo bang Ihsan adzan, tukang becak depan komplek sampe tutup kuping! Apalagi kalo bangunin sahur, beuh, itu keluarganya Afei sampe ikutan sahur karena kebangun dan ga bisa tidur lagi.” Pacul berkelakar.
“HAHAHAHAHAH, KAMFRET LU PACUL!! MULUT LU LOSS BANGET KAYAK REM BLONG!” Suara Bang Ihsan meledak dari dalam ruangan.
“Lah dia denger ! Doa lu kagak khusyu itu Bang ! Kagak dikabulin dah ! Makin jauh aja jodoh lu.” Pacul bukannya berhenti, malah menjadi-jadi. Aku dan Bang Tirta sampai tertawa berguling-guling.
Tak lama, Bang Ihsan mendekati kami. Sempat tersenyum ke arahku, namun lanjut bercanda dengan kami sambil menyiapkan bahan rapat. Bang Ihsan juga minta usulku untuk mengatur point-point apa yang akan di bahas. Aku meminta selembar kertas dan pulpen ke Bang Ihsan.
Aku terbiasa melakukan itu, membuat konsep, mencoret-coret apa yang menjadi pertimbanganku, baru berbicara. Setelah itu, baru aku berdiskusi dengan Bang Ihsan, dan dua mahluk ghaib penunggu pohon mangga di pertigaan RT, Bang Tirta dan Pacul. Aku menjelaskan pokok-pokok ideku dengan corat coret di kertas tadi.
“Cakep Gol. Tapi yang tahap dua itu bisa di pecah ga? Terlalu berat dan man power sedikit. Gue takut ada kecemburuan di team nanti. Lu tau kan? Gue paling males kalo ada orang ngerasa kalo dia yang paling bekerja keras.” Ujar Bang Ihsan.
“Betul juga.” Sahutku dalam hati. Memang agak sulit, karena seakrab-akrabnya kami, yang Namanya remaja, pasti ada sisi sensitifnya. Ujungnya nanti ngomong, “Gue nih udah kerja dari kemarin, capek. Lu ngapain aja?” Padahal sebenarnya, ya itu pembagian tugas saja. Toh nanti ada saatnya team lain yang capek.
Aku kembali mencoret-coret kertas. Saat itulah.....
“Assalammu’alaikum.” Suara Mbak Adelle yang merdu terdengar.
“Wa’alaikumsalam.” Sahut kami bersamaan.
Aku yang masih serius mencorat coret tidak melihat siapa saja yang datang. Dari suara berisik yang terdengar, nampaknya satu rombongan datang, pria wanita, tidak terpisah seperti kemarin. Lumayan ramai. Bodo amat deh !! Aku memang seperti itu jika sedang fokus.
“Gol, serius amat? Nih minum dulu, tadi kita beli di depan komplek. Yah, itung-itung konsumsi.” Terdengar suara wanita, kemudian, terjulur tangan kurus berkulit putih yang memegang gelas plastik berisi minuman ke arahku. Aku langsung menoleh. Trixie.
“Oh. Thanks ya Trix.” Jawabku singkat, kemudian mengambil gelas dari tangan Trixie dan meminumnya.
“Dogol doang yang dikasih Trix?” Pacul kembali membuat ulah.
Trixie hanya menjawab dengan juluran lidah ke arah Pacul.
Trixie langsung duduk di sampingku. Tak lama, terdengar Bang Ihsan memulai rapat malam ini.
**********************
Jam 20.52
“Oke, thanks banget buat yang udah hadir hari ini. Semua hampir matang. Seneng deh gue kalo ga bertele-tele gini. Sampe ketemu minggu depan ya. Hari Sabtu, jam yang sama, ba’da Isya. Yang mau ngapel, atau ga bisa hadir, boleh kok izin. Tapi, harus menerima keputusan rapat ya. Tidak menerima complain.” Ujar A Krisna yang menutup rapat malam ini.
Aku yang selama rapat focus ke A Krisna sambil mengoreksi penjelasannya -karena dia memegang kertas coretanku- benar-benar tidak menyadari siapa saja yang hadir rapat malam ini. Sebegitu cueknya diriku saat itu. Aku malah terkadang mengobrol dengan Trixie yang ada di sebelahku. Si gadis Palembang yang sekarang tumbuh cantik dengan tubuh ‘kutilang’, rambut lurus sebahu dan berkacamata frameless.
“Eh, tadi siapa yang adzan sih? Enak bener suaranya” Tiba-tiba Rista bertanya.
“Eh iya bener. Tadi bokap gue aja sampe nikmatin bener tuh adzan sama sholawatnya. Baguus banget suaranya.” Mbak Adelle menyahut.
“Sumpah. Itu kata bokap gue, kalo orang batak udah disuruh nyanyi tuh.” Magda menyambar berapi-api.
“Suaranya kayak adzan di tivi yah? Apa rekaman tivi kali? Ga mungkin Wak Mahmud deh.” Tanya A Krisna.
“Waduh, males deh gue yang begini-begini nih.” Aku berseru khawatir dalam hati.
Bang Tirta, Pacul, dan Bang Ihsan, langsung senyum-senyum sambil menatapku.
“Elu Gol?” Afei yang menyadari pandangan mereka bertiga ke arahku, bertanya dan menatapku lembut kemudian tersenyum. “Nyokap gue aja sampe kagum loh sama suaranya.” Lanjutnya.
“Eh, i… iya. Wak Mahmud lagi sakit tadi. Kebetulan gue dateng agak cepet ke sini.” Ujarku. Agak tidak nyambung sih memang.
Ya mau bagaimana? Sudah keringat dingin gara-gara masalah adzan, ditambah Afei pula yang bertanya. Entah kenapa, grogi terus kalau dekat dia.
“Ihh Dogol, suaranya adem banget. Keren deh.” Teh Melati tiba-tiba bersuara. “Tuh, kalo adzan kaya dogol dong, San! Lu kalo adzan kayak ngajak berantem!” Teh Melati malah menegur bang Ihsan.
“Eh Fei, masa kata Pacul, kalo Bang Ihsan bangunin sahur pakai toa mushola, keluarga lu sampe bangun terus sawan seharian. Emang bener, Fei?” Bang Tirta tiba-tiba mengalihkan pembicaraan, yang membuatku merasa lega sekaligus geli, karena redaksinya jadi sedikit berbeda dengan omongan awal Pacul.
“Hahahahahah. Ya nggaklah. Pacul parah banget, ih!” Afei tertawa geli, sambil menutup mulutnya.
“HAHAHAHAHAHA!” Meledaklah tawa semua orang.
Di saat itu, aku tersihir. Afei bertambah cantik saat tertawa. Mata sipitnya ‘menghilang’ namun malah menambah kesan imut di wajahnya. Ditambah rona merah yang muncul di sekitar pipinya, membuat aku benar-benar terpakau.
"Duh, kelamaan disini, makin gak bisa fokus nih gue !" Ujarku dalam hati, ketika menyadari, pandanganku terlalu lama berhenti di sosok Afei. Afei yang menyadari hal itu, melirikku sambil tersenyum manis.
“Eh, udah malem nih, gue cabut dulu ya. Besok berangkat pagi. Yuk, semuanya.” Aku akhirnya memutuskan untuk pulang. Aku segera memakai sandal lalu bersiap melangkah.
“Cul, bareng nggak?” Aku bertanya kepada Pacul.
“Nggak ah, nongkrong dulu bentaran. Masih jam 9 lewat dikit, Gol.” Pacul menjawab.
Akupun mengangguk, lalu melirik teman yang lain. Para wanita, seperti biasa, melakukan gerakan lambaian tangan. Aku kembali melirik Afei. Ternyata dia juga sedang melihatku.
“Hati-hati.” Bibirnya yang mungil, berbicara tanpa suara. Namun aku bisa membacanya. Aku hanya tersenyum sambil mengangguk, lalu melangkah keluar mushola.
“Gol tungguin ! Gue juga balik yak. Sekolah gue jauh banget, nih! Bisa telat kalo pulang kemaleman. Dahhh!” Trixie berteriak sambil berlari ke arahku. Aku tertawa menyambutnya.
“Jauuuh banget sekolah lu Trix. Hahahaha.” Sahutku sambil tertawa. Jelas aku tertawa, SMA Trixie sebenarnya termasuk yang paling dekat. Hanya 1.5km saja dari rumah. Naik sepeda paling 15 menit sampai.
Kami berjalan beriringan dalam diam. Trixie di samping kiriku sambil memainkan ikat rambut yang dia pegang.
“Gol, lu masih aja mengejutkan ya. Gue yakin, sebenernya, masih banyak yang tersembunyi dari lu.” Trixie berkata.
“Udahlah Trix. Ga usah dibahas.” Aku berkata singkat. “Cuma adzan aja, semua orang juga bisa kok.” Lanjutku sambil tersenyum malu.
“Gol, please.” Trixie memegang lenganku, berhenti berjalan dan membuatku berhenti berjalan juga.
“Sifat pemalu lu kurangin dikit lah.” Trixie tiba-tiba berkata lembut sekali.
“Ga usah terlalu rendah diri, be confident!” Trixie melanjutkan.
Namun, kejadian berikutnya membuat jantungku hampir berhenti berdetak. Trixie memeluk lenganku, lalu jemarinya masuk ke sela-sela jariku. Kami pun bergandengan, lebih tepatnya, Trixie menggandengku, karena jemariku tidak mampu merespon genggamannya. Aku langsung berkeringat dingin. Rasa merinding menjalar ke seluruh tubuhku.
“Sok tau.” Ujarku pelan sambil tersenyum. Aku bingung harus bagaimana. Digandeng seorang wanita cantik seperti Trixie, membuat jantungku berdetak kencang. Halus tangan Trixie, terasa di jari-jariku.
“I know you so well. You were my classmate in elementary.”
“Time flies Trix. Time changes almost everything.” Aku lanjut berjalan, namun Trixie tidak melepaskan jemarinya dari tanganku, dan diapun ikut berjalan pelan.
“Time doesn’t change anything. Dari cara lu bersikap, gue yakin, lu masih sama kayak dulu, Daru.”
“Ah, males deh gue begini nih.” Aku berujar dalam hati, ketika menyadari, Trixie masih sama seperti dulu, Agresif.
Kami lanjut berjalan, bergandengan, dalam diam. Tak lama, kami tiba di depan rumah Trixie. Masih dalam keadaan Trixie menggandeng tanganku, dia berkata,
“You’re unpredictable, Daru. Bye!!” Trixie akhirnya melepaskan tangannya, dan beranjak menuju rumahnya.
Aku masih berdiri membeku, sampai dia masuk ke dalam rumahnya. Sebelum masuk, Trixie sempat menoleh ke arahku dan tersenyum manis.
Aku terkejut ketika melihat gorden tersingkap dari jendela depan.
“Waduh, emaknya ngintip !!”
Diubah oleh loveismyname 02-04-2023 15:17
yuaufchauza dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Tutup