- Beranda
- Stories from the Heart
AMURTI
...
TS
watcheatnsleep
AMURTI

Season 2 dari Awakening : Sixth Sense
Sinopsis :
Di saat Rama telah pulih kembali dari kecelakaan yang menimpanya, semesta seakan belum puas untuk menguji dirinya. Masalah yang baru satu-persatu menghampiri dan menghantamnya secara bertubi-tubi. Menimbulkan keretakan pada sisi keluarga, cinta, dan pertemanan dalam hidupnya. Dekapan kegelapan pun tak bisa terelakkan oleh batin Rama.
Diterpa kerasnya realita hidup akhirnya membuat Rama memutuskan untuk mengikuti Mahendra. Sesosok pria misterius yang acap kali mendorong Rama sampai ke titik nadirnya. Sebuah anomali yang intensinya tak bisa diterka oleh Rama.
Pengalaman demi pengalaman yang dialami Rama pun seakan menuntun dirinya pada rentetan kisah yang sudah lama terkubur, berharap untuk segera dihidupkan kembali. Menghadapkan Rama pada sebuah takdir yang tak akan pernah bisa dihindari.
Diterpa kerasnya realita hidup akhirnya membuat Rama memutuskan untuk mengikuti Mahendra. Sesosok pria misterius yang acap kali mendorong Rama sampai ke titik nadirnya. Sebuah anomali yang intensinya tak bisa diterka oleh Rama.
Pengalaman demi pengalaman yang dialami Rama pun seakan menuntun dirinya pada rentetan kisah yang sudah lama terkubur, berharap untuk segera dihidupkan kembali. Menghadapkan Rama pada sebuah takdir yang tak akan pernah bisa dihindari.
INDEKS :
UPLOAD SETIAP JAM 12 MALAM.
KECUALI SABTU & MINGGU
Wattpad : @vikrama_nirwasita
Karyakarsa : vikrama
Instagram : @vikrama_nirwasita
Diubah oleh watcheatnsleep 12-04-2023 21:06
junti27 dan 14 lainnya memberi reputasi
15
9K
92
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
watcheatnsleep
#4
CHAPTER 2
Tepat pada jam sebelas malam, akhirnya shift kerjaku berakhir. Sebelum pulang, aku pamit dengan Aryo dan pak Eka terlebih dahulu, lalu mengendarai motorku menuju destinasi yang selama ini kukunjungi rutin. Tempatku bersinggah sebelum pulang ke kos.
Kisaran lima belas sampai dua puluh menit kemudian, akhirnya aku sampai di depan sebuah gedung bertingkat dengan nuansa klasik bangunan belanda.
Di bagian depan, tampak beberapa pengunjung sedang duduk menikmati segelas kopi di kursi dan meja jati yang telah tersusun rapi. Menembus ke dalam, terpampang banyak bingkai foto dengan berbagai macam figur yang menempel di dinding bangunan.
Tampaknya malam itu tak banyak pengunjung yang bersinggah di sana. Mungkin karena malam sudah semakin larut dan cafenya juga tak lama lagi akan closing.
Dari luar, aku melihat sesosok wanita dengan gaya rambut messy bun alias cepol. Garis hitam putih bagaikan zebra menjadi corak kemejanya. Tatapan matanya yang tajam dibalut dengan senyuman tipis di bibirnya, kerap kali membuat para kaum adam berpaling hanya untuk sekedar mencuri pandang.
Sosok wanita itu adalah Melissa, teman dekatku yang terkesan galak dan tomboy. Padahal sebenarnya dia memiliki sifat asli yang lembut. Cuma saja, dia hanya menunjukkan sifat itu kepada orang terdekatnya saja.
Saat itu, Melissa sedang memegang satu set bolpoin dan memo. Dia tampak bersiap untuk mencatat pesanan dari seorang pria yang sedang sibuk membolak-balik buku menu.
Sementara itu, pintu cafe terbuka dan seorang pria mengenakan setelan yang sama dengan Melissa, kini tersenyum dan mengangguk ke arahku. Sambutan yang selama ini hampir setiap hari kudapatkan, dari orang yang sama.
Aku pun memutuskan untuk menunggu Melissa di luar dan duduk di kursi pelataran. Menyaksikan kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan sembari menghirup senyapnya udara malam.
Hingga tak lama kemudian, pandanganku terjatuh pada cincin yang melekat di jari manisku. Terukir huruf inisial pertama dari nama seseorang di sana. Dia … wanita yang dulu pernah mengukir kenangan manis di dalam hidupku. Kenangan yang tak dapat dibendung. Kenangan yang selalu memaksa muncul untuk kembali ke permukaan.
Entah kenapa, heningnya malam itu terasa berbeda. Timbul segelintir kerisauan yang menjadi gejolak di dalam batin. Gejolak batin yang tiba-tiba muncul tanpa deklarasi, memaksa pikiran untuk bekerja lebih.
Muncul siluet dari kaca pintu kamar di rumah sakit yang kutempati. Diikuti dengan suara gagang pintu yang tertekan, pintu terbuka dan menampilkan sesosok pria tegap layaknya seorang atlit. Wajah blasteran bule yang hampir setiap hari kupandang. Siapa lagi kalau bukan pria yang bernama Steven. Kehadirannya pun seakan menjadi jawaban atas firasat yang terbesit di batinku.
Raut wajahnya murung, sikapnya kaku, tak seperti Steven yang biasanya kukenal. Dia berjalan menghampiriku sambil memegang sebuah amplop putih. Setiap langkahnya seakan memperkuat sinyal darurat yang semakin mengacaukan situasi batinku.
“Titipan Adel buat lo.” Steven menjulurkan amplop putih ke arahku.
Seketika jantungku berdebar dengan kencang. Walau tangan sudah serasa dingin membeku, perlahan aku memberanikan diri membuka amplop itu. Di dalamnya, terdapat secarik kertas dan sebuah cincin dengan ukiran huruf berinisial A. Sejenak, kuhiraukan cincin itu dan pelan-pelan, aku mulai mengangkat secarik kertas di dalamnya.
Sejenak aku memejamkan kedua mata sembari menarik nafas dalam-dalam. Kucoba untuk menenangkan diri dan menghimpun seluruh keberanianku, lalu perhatianku pun terjatuh ke dalam tulisan di balik secarik kertas itu.
Sebelum baca surat ini lebih lanjut, aku harap kamu nggak coba nyariin aku lagi, Ram. Mungkin kamu bingung kenapa aku tiba-tiba menghilang. Tapi yang pasti, aku udah pindah kota dan kemungkinan besar gak akan pernah kembali lagi.
Kamu berhak untuk marah dan kecewa, tapi aku berharap kamu bisa lupain semua tentang aku. Jangan tanya alasannya kenapa. Cukup salahkan aku yang tak mampu mengubah jalannya takdir. Lebih baik kamu membuka lembaran baru, dengan mereka yang selama ini tulus dengan kamu.
Walau pertemuan kita cuma singkat, makasih karena udah ngajarin aku arti cinta. Seumur hidupku, kamu satu-satunya orang yang bisa membuatku merasakan perasaan itu. Aku akan selalu ingat perasaan itu, walau kita tak berakhir bersama.
Semoga kamu dapat wanita yang jauh lebih pantas dari aku. Dan yang paling penting, semoga kamu cepat pulih kembali. Jaga diri dan kesehatan kamu baik-baik. Jangan lupa untuk selalu berbuat baik dan memegang prinsip. Tetaplah jadi Rama yang selama ini aku kenal.
Untuk terakhir kalinya, aku hanya mau bilang …
Aku cinta sama kamu.
Selamat berpisah,
Sekilas kisah kasih yang tak akan pernah terlupakan.
-Adellia
Membaca setiap kata yang tertulis di surat itu membuat terasa sesak di dada. Pertahananku kian goyah, derasnya kekecewaan selaras dengan jatuhnya tetesan air mata yang membasahi pipi ini. Aku pun tersadar, betapa lemahnya diri ini, yang tak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya telah pergi.
Steven hanya diam berdiri tanpa berucap apa pun. Dia hanya menepuk pelan pundakku berkali-kali, seakan berharap agar aku bisa sabar dan bisa melalui semua ini.
Secarik surat itu berhasil membuatku gagal untuk memejamkan mata pada malam itu. Sepanjang malam itu, seluruh otakku terngiang akan dua kata yang tercantum di dalam surat itu.
“Selamat berpisah.”
“RAMAAAA!”
Aku kaget dan refleks menoleh ke belakang. Ternyata ada Melissa yang sedang berulang kali menusuk pelan leherku dengan jari telunjuknya.
“Eh, kerjanya udah kelar, Mel?” tanyaku spontan.
“Baru aja kelar, Ram,” jawab Melissa singkat tetapi tatapan matanya berfokus pada cincin yang terpasang di jariku.
“Masih belum ada kabar dari dia, Ram?”
“Maksudnya siapa, Mel?” tanyaku balik, berpura-pura tak mengerti.
Melissa seketika diam membisu. Sebuah diam yang tak kupahami maknanya. Aku penasaran, apa sebenarnya yang sedang terbesit dipikirannya saat itu. Aku berharap, semoga dia tak bertanya lebih lanjut, sebab aku juga tak ingin membahas tentang orang yang dimaksudnya.
Seakan bisa membaca pikiranku, raut wajah Melissa yang tadinya tampak dingin seketika berubah menjadi tersenyum.
“Pulang yuk, Ram. Kayaknya kamu udah capek karena kelamaan nungguin aku,” ucap Melissa mengalihkan pembicaraan.
Aku mengangguk tanpa membalas perkataannya. Sebenarnya aku bingung akan pergantian suasana yang terjadi dalam sekejap mata. Bahkan sampai detik ini pun, sesungguhnya aku masih sulit untuk memahami perasaan mereka, para wanita.
Larutnya malam seakan meredam aktivitas para manusia. Di sisi lain, larutnya malam malah menjadi saksi, akan adanya para eksistensi lain yang juga sibuk menjalani dunianya sendiri. Tak jarang, mereka berani menyeberangi dunia sebelah, hanya semata iseng ataupun untuk memenuhi orderan dari mereka yang berani membayar.
Di balik kegelapan gang-gang, mata-mata merah bermunculan. Bayang demi bayang berkeliaran. Tetapi tak satu pun dari mereka berani mendekatiku, sebab aku bukanlah lagi manusia yang sama.
Usai mengantarkan Melissa pulang, Aku kembali ke kos. Setelahnya, aku langsung bergegas mandi untuk menghilangkan lengket bekas keringat yang telah seharian menempel di badanku.
Semua pintu kamar penghuni kos tampak tertutup rapat. Sepertinya mereka sudah terlelap dalam tidurnya. Aku pun masuk ke kamarku sendiri dan langsung berbaring di atas kasur. Kurasa, berbaring di atas kasur adalah hal paling nikmat setelah mandi dan pulang kerja. Sejuknya tubuh seketika melenyapkan beban yang selama ini telah menumpuk.
Tatapan mata yang tertuju pada langit-langit kamar kian membebaskan pikiran. Telinga dan otakku mencoba untuk bersinkronisasi, menghayati perpaduan antara keheningan malam dan bisingnya suara pikiranku. Hingga tanpa kusadari, aku tenggelam di dalam naungan memori.
Sudah hampir setahun kecelakaan itu berlalu. Kecelakaan berlandaskan inisiatifku, yang pada akhirnya merenggut nyawa Putra. Berminggu-minggu berbaring di tempat tidur, membuat memori itu kerap muncul dan selalu menghantuiku.
Walau sudah dinyatakan pulih oleh dokter, tapi nyatanya aku kerap menderita sakit. Bukan sakit fisik, tetapi sakit yang muncul dari serpihan memori kecelakaan itu. Timbul rasa bersalah yang menggerogotiku dari dalam.
Syukurnya, ada Steven, Melissa, Riska dan Nadia yang sering berkunjung menjengukku. Mereka masih menyempatkan datang walau di tengah-tengah kesibukan mereka.
Di saat keadaan tubuhku mulai pulih, aku pun kembali pada rutinitasku yang semula. Kembali ke lingkungan yang sama. Merasakan pengapnya udara kamar kos yang sempit, sembari sesekali menangkap bermacam jenis suara yang muncul dari bilik penghuni kos lainnya. Baik itu penghuni manusia ataupun mereka penghuni tak kasat mata.
Selain itu, aku juga telah kembali bertemu dan berinteraksi dengan teman-teman kampus, walau hanya sekedar berbasa-basi. Pribadiku yang introvert ditambah lagi dengan situasiku yang telah kelamaan menyendiri di kamar, menambah kecanggunganku untuk berinteraksi kembali dengan mereka.
Sebelum kembali ke rutinitas kehidupan kampus, seminggu sebelumnya aku meninggalkan kos dan kembali tinggal di rumah. Malam ketiga, di saat aku ingin ke dapur untuk mengambil air minum, tak sengaja aku mendengar suara samar dari arah kamar orangtuaku.
“Udah … aku coba hubungin saudaraku dulu, ya. Mereka pasti bisa bantu masukin kamu di perusahaan mereka, kok,” bujuk Ibu halus.
“Jangan, mereka ga perlu tahu,” tolak Bapak mentah-mentah.
Suara Ibu seketika meninggi, tak kuasa untuk membendung emosinya. “Keadaan sudah begini, tapi kamu masih lebih milih mentingin harga diri kamu ketimbang masa depan keluarga kita?”
“Aku masih bisa coba cari pekerjaan lain,” balas Bapak tegas. “Kasih aku waktu untuk pulih sebentar. Aku pasti bisa bangkit secepatnya.”
“Jalan ke depan rumah aja kamu udah sempoyongan. Memang seharusnya udah waktunya kamu untuk pensiun,” sanggah Ibu. “Gak usah maksain diri kamu. Kamu tau sendiri kan, kondisi badan kamu udah kayak apa sekarang.”
Tetapi Bapak masih tak mau menyerah, dia tetap coba meyakinkan Ibu. “Percaya sama aku.”
Ibu frustasi dan spontan membalasnya dengan setengah berteriak. “Kamu masih aja bersikeras memuaskan ego kamu! Padahal taruhannya adalah keluarga kita! Masa depan anak kita!”
“Iya, aku tau ini memang salahku. Tapi daripada harus menyusahkan keluargamu, aku tetap memilih pendirianku.”
Percakapan terhenti sampai disitu saja. Sejenak kemudian, hanya ada isak tangis Ibu yang muncul dari balik pintu.
Bersambung …
Kisaran lima belas sampai dua puluh menit kemudian, akhirnya aku sampai di depan sebuah gedung bertingkat dengan nuansa klasik bangunan belanda.
Di bagian depan, tampak beberapa pengunjung sedang duduk menikmati segelas kopi di kursi dan meja jati yang telah tersusun rapi. Menembus ke dalam, terpampang banyak bingkai foto dengan berbagai macam figur yang menempel di dinding bangunan.
Tampaknya malam itu tak banyak pengunjung yang bersinggah di sana. Mungkin karena malam sudah semakin larut dan cafenya juga tak lama lagi akan closing.
Dari luar, aku melihat sesosok wanita dengan gaya rambut messy bun alias cepol. Garis hitam putih bagaikan zebra menjadi corak kemejanya. Tatapan matanya yang tajam dibalut dengan senyuman tipis di bibirnya, kerap kali membuat para kaum adam berpaling hanya untuk sekedar mencuri pandang.
Sosok wanita itu adalah Melissa, teman dekatku yang terkesan galak dan tomboy. Padahal sebenarnya dia memiliki sifat asli yang lembut. Cuma saja, dia hanya menunjukkan sifat itu kepada orang terdekatnya saja.
Saat itu, Melissa sedang memegang satu set bolpoin dan memo. Dia tampak bersiap untuk mencatat pesanan dari seorang pria yang sedang sibuk membolak-balik buku menu.
Sementara itu, pintu cafe terbuka dan seorang pria mengenakan setelan yang sama dengan Melissa, kini tersenyum dan mengangguk ke arahku. Sambutan yang selama ini hampir setiap hari kudapatkan, dari orang yang sama.
Aku pun memutuskan untuk menunggu Melissa di luar dan duduk di kursi pelataran. Menyaksikan kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan sembari menghirup senyapnya udara malam.
Hingga tak lama kemudian, pandanganku terjatuh pada cincin yang melekat di jari manisku. Terukir huruf inisial pertama dari nama seseorang di sana. Dia … wanita yang dulu pernah mengukir kenangan manis di dalam hidupku. Kenangan yang tak dapat dibendung. Kenangan yang selalu memaksa muncul untuk kembali ke permukaan.
<><><>
Entah kenapa, heningnya malam itu terasa berbeda. Timbul segelintir kerisauan yang menjadi gejolak di dalam batin. Gejolak batin yang tiba-tiba muncul tanpa deklarasi, memaksa pikiran untuk bekerja lebih.
Muncul siluet dari kaca pintu kamar di rumah sakit yang kutempati. Diikuti dengan suara gagang pintu yang tertekan, pintu terbuka dan menampilkan sesosok pria tegap layaknya seorang atlit. Wajah blasteran bule yang hampir setiap hari kupandang. Siapa lagi kalau bukan pria yang bernama Steven. Kehadirannya pun seakan menjadi jawaban atas firasat yang terbesit di batinku.
Raut wajahnya murung, sikapnya kaku, tak seperti Steven yang biasanya kukenal. Dia berjalan menghampiriku sambil memegang sebuah amplop putih. Setiap langkahnya seakan memperkuat sinyal darurat yang semakin mengacaukan situasi batinku.
“Titipan Adel buat lo.” Steven menjulurkan amplop putih ke arahku.
Seketika jantungku berdebar dengan kencang. Walau tangan sudah serasa dingin membeku, perlahan aku memberanikan diri membuka amplop itu. Di dalamnya, terdapat secarik kertas dan sebuah cincin dengan ukiran huruf berinisial A. Sejenak, kuhiraukan cincin itu dan pelan-pelan, aku mulai mengangkat secarik kertas di dalamnya.
Sejenak aku memejamkan kedua mata sembari menarik nafas dalam-dalam. Kucoba untuk menenangkan diri dan menghimpun seluruh keberanianku, lalu perhatianku pun terjatuh ke dalam tulisan di balik secarik kertas itu.
<><><>
Sebelum baca surat ini lebih lanjut, aku harap kamu nggak coba nyariin aku lagi, Ram. Mungkin kamu bingung kenapa aku tiba-tiba menghilang. Tapi yang pasti, aku udah pindah kota dan kemungkinan besar gak akan pernah kembali lagi.
Kamu berhak untuk marah dan kecewa, tapi aku berharap kamu bisa lupain semua tentang aku. Jangan tanya alasannya kenapa. Cukup salahkan aku yang tak mampu mengubah jalannya takdir. Lebih baik kamu membuka lembaran baru, dengan mereka yang selama ini tulus dengan kamu.
Walau pertemuan kita cuma singkat, makasih karena udah ngajarin aku arti cinta. Seumur hidupku, kamu satu-satunya orang yang bisa membuatku merasakan perasaan itu. Aku akan selalu ingat perasaan itu, walau kita tak berakhir bersama.
Semoga kamu dapat wanita yang jauh lebih pantas dari aku. Dan yang paling penting, semoga kamu cepat pulih kembali. Jaga diri dan kesehatan kamu baik-baik. Jangan lupa untuk selalu berbuat baik dan memegang prinsip. Tetaplah jadi Rama yang selama ini aku kenal.
Untuk terakhir kalinya, aku hanya mau bilang …
Aku cinta sama kamu.
Selamat berpisah,
Sekilas kisah kasih yang tak akan pernah terlupakan.
-Adellia
<><><>
Membaca setiap kata yang tertulis di surat itu membuat terasa sesak di dada. Pertahananku kian goyah, derasnya kekecewaan selaras dengan jatuhnya tetesan air mata yang membasahi pipi ini. Aku pun tersadar, betapa lemahnya diri ini, yang tak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya telah pergi.
Steven hanya diam berdiri tanpa berucap apa pun. Dia hanya menepuk pelan pundakku berkali-kali, seakan berharap agar aku bisa sabar dan bisa melalui semua ini.
Secarik surat itu berhasil membuatku gagal untuk memejamkan mata pada malam itu. Sepanjang malam itu, seluruh otakku terngiang akan dua kata yang tercantum di dalam surat itu.
“Selamat berpisah.”
<><><>
“RAMAAAA!”
Aku kaget dan refleks menoleh ke belakang. Ternyata ada Melissa yang sedang berulang kali menusuk pelan leherku dengan jari telunjuknya.
“Eh, kerjanya udah kelar, Mel?” tanyaku spontan.
“Baru aja kelar, Ram,” jawab Melissa singkat tetapi tatapan matanya berfokus pada cincin yang terpasang di jariku.
“Masih belum ada kabar dari dia, Ram?”
“Maksudnya siapa, Mel?” tanyaku balik, berpura-pura tak mengerti.
Melissa seketika diam membisu. Sebuah diam yang tak kupahami maknanya. Aku penasaran, apa sebenarnya yang sedang terbesit dipikirannya saat itu. Aku berharap, semoga dia tak bertanya lebih lanjut, sebab aku juga tak ingin membahas tentang orang yang dimaksudnya.
Seakan bisa membaca pikiranku, raut wajah Melissa yang tadinya tampak dingin seketika berubah menjadi tersenyum.
“Pulang yuk, Ram. Kayaknya kamu udah capek karena kelamaan nungguin aku,” ucap Melissa mengalihkan pembicaraan.
Aku mengangguk tanpa membalas perkataannya. Sebenarnya aku bingung akan pergantian suasana yang terjadi dalam sekejap mata. Bahkan sampai detik ini pun, sesungguhnya aku masih sulit untuk memahami perasaan mereka, para wanita.
<><><>
Larutnya malam seakan meredam aktivitas para manusia. Di sisi lain, larutnya malam malah menjadi saksi, akan adanya para eksistensi lain yang juga sibuk menjalani dunianya sendiri. Tak jarang, mereka berani menyeberangi dunia sebelah, hanya semata iseng ataupun untuk memenuhi orderan dari mereka yang berani membayar.
Di balik kegelapan gang-gang, mata-mata merah bermunculan. Bayang demi bayang berkeliaran. Tetapi tak satu pun dari mereka berani mendekatiku, sebab aku bukanlah lagi manusia yang sama.
Usai mengantarkan Melissa pulang, Aku kembali ke kos. Setelahnya, aku langsung bergegas mandi untuk menghilangkan lengket bekas keringat yang telah seharian menempel di badanku.
Semua pintu kamar penghuni kos tampak tertutup rapat. Sepertinya mereka sudah terlelap dalam tidurnya. Aku pun masuk ke kamarku sendiri dan langsung berbaring di atas kasur. Kurasa, berbaring di atas kasur adalah hal paling nikmat setelah mandi dan pulang kerja. Sejuknya tubuh seketika melenyapkan beban yang selama ini telah menumpuk.
Tatapan mata yang tertuju pada langit-langit kamar kian membebaskan pikiran. Telinga dan otakku mencoba untuk bersinkronisasi, menghayati perpaduan antara keheningan malam dan bisingnya suara pikiranku. Hingga tanpa kusadari, aku tenggelam di dalam naungan memori.
<><><>
Sudah hampir setahun kecelakaan itu berlalu. Kecelakaan berlandaskan inisiatifku, yang pada akhirnya merenggut nyawa Putra. Berminggu-minggu berbaring di tempat tidur, membuat memori itu kerap muncul dan selalu menghantuiku.
Walau sudah dinyatakan pulih oleh dokter, tapi nyatanya aku kerap menderita sakit. Bukan sakit fisik, tetapi sakit yang muncul dari serpihan memori kecelakaan itu. Timbul rasa bersalah yang menggerogotiku dari dalam.
Syukurnya, ada Steven, Melissa, Riska dan Nadia yang sering berkunjung menjengukku. Mereka masih menyempatkan datang walau di tengah-tengah kesibukan mereka.
Di saat keadaan tubuhku mulai pulih, aku pun kembali pada rutinitasku yang semula. Kembali ke lingkungan yang sama. Merasakan pengapnya udara kamar kos yang sempit, sembari sesekali menangkap bermacam jenis suara yang muncul dari bilik penghuni kos lainnya. Baik itu penghuni manusia ataupun mereka penghuni tak kasat mata.
Selain itu, aku juga telah kembali bertemu dan berinteraksi dengan teman-teman kampus, walau hanya sekedar berbasa-basi. Pribadiku yang introvert ditambah lagi dengan situasiku yang telah kelamaan menyendiri di kamar, menambah kecanggunganku untuk berinteraksi kembali dengan mereka.
Sebelum kembali ke rutinitas kehidupan kampus, seminggu sebelumnya aku meninggalkan kos dan kembali tinggal di rumah. Malam ketiga, di saat aku ingin ke dapur untuk mengambil air minum, tak sengaja aku mendengar suara samar dari arah kamar orangtuaku.
“Udah … aku coba hubungin saudaraku dulu, ya. Mereka pasti bisa bantu masukin kamu di perusahaan mereka, kok,” bujuk Ibu halus.
“Jangan, mereka ga perlu tahu,” tolak Bapak mentah-mentah.
Suara Ibu seketika meninggi, tak kuasa untuk membendung emosinya. “Keadaan sudah begini, tapi kamu masih lebih milih mentingin harga diri kamu ketimbang masa depan keluarga kita?”
“Aku masih bisa coba cari pekerjaan lain,” balas Bapak tegas. “Kasih aku waktu untuk pulih sebentar. Aku pasti bisa bangkit secepatnya.”
“Jalan ke depan rumah aja kamu udah sempoyongan. Memang seharusnya udah waktunya kamu untuk pensiun,” sanggah Ibu. “Gak usah maksain diri kamu. Kamu tau sendiri kan, kondisi badan kamu udah kayak apa sekarang.”
Tetapi Bapak masih tak mau menyerah, dia tetap coba meyakinkan Ibu. “Percaya sama aku.”
Ibu frustasi dan spontan membalasnya dengan setengah berteriak. “Kamu masih aja bersikeras memuaskan ego kamu! Padahal taruhannya adalah keluarga kita! Masa depan anak kita!”
“Iya, aku tau ini memang salahku. Tapi daripada harus menyusahkan keluargamu, aku tetap memilih pendirianku.”
Percakapan terhenti sampai disitu saja. Sejenak kemudian, hanya ada isak tangis Ibu yang muncul dari balik pintu.
Bersambung …
erman123 dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Tutup