Saya sebagai penulis mengucapkan terima kasih kepada para suhu-suhu sekalian yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca NAN AND SEXAWORLD.
Cerita ini muncul ketika saya melihat banyak teman-teman saya yang menggunakan sebuah aplikasi "yang tau-tau aja" untuk mendapatkan "servis" secara berbayar. Mulai dari harga yang menurut saya ngga masuk akal murahnya, sampai ngga masuk akal mahalnya. Tiba-tiba, saya kepikiran :
"Ada ngga sih dari mereka yang saling suka? Seenggaknya pihak pelanggan deh yang suka?"
Bermodal awal tanya-tanya sama teman, sampai akhirnya saya menginstal aplikasi itu di handphone saya.
First impressionterhadap aplikasi itu? Biasa aja sih, kayak aplikasi chat pada umumnya. Mungkin yang membedakan, kita bisa lihat secara terang-terangan, orang-orang yang menjajakan "servisnya". Ngga jarang juga sih ada laki-laki "mokondo" berharap dapet gratis dari sana.
Along the way, akhirnya saya coba cari satu orang yang mau untuk dijadikan narasumber cerita ini. Tentu saja, mereke lebih memilih untuk memberikan "servis" daripada harus tanya jawab yang entah tujuannya apa. Beberapa percobaan saya lakukan, dan banyak sekali yang gagal. Sampai akhirnya...
Ting! Saya dapet balesan chat dari beberapa orang yang saya coba, dan akhirnya ada yang mau untuk menjadi narasumber cerita ini. Tanpa nego basa-basi, saya langsung setuju. Akhirnya kami janji temu di salah satu apartemen yang menjadi "base" dari aplikasi itu. Pulang kerja, saya langsung ke sana.
15 menit perjalanan dari kantor, saya masuk ke kawasan apartemen itu. Setelah beres dengan parkiran yang ribet, akhirnya saya beranjak menuju salah satu tower, dan ternyata dia udah nunggu di lobi bawah. Saya coba chat dia sekali lagi, dan dia pun sadar kalau saya yang baru masuk ke dalam lobi. Akhirnya dia mendekat ke saya dan menyapa saya, jabat tangan pun terjadi dan kami pun langsung naik ke dalam lift menuju kamarnya.
Tidak banyak yang kami perbincangkan di dalam lift, terlebih ada beberapa orang juga di dalamnya. Akhirnya kami turun di salah satu lantai, dan berjalan beberapa langkah menuju sebuah kamar. Dengan ramahnya, dia mempersilahkan saya masuk dan menawarkan sekaleng bir. Kami pun minum beberapa teguk di sofa yang menghadap ke kasur, dan menyalakan sebatang rokok.
"Jadi, apa yang mau lo tanya?" Tanya dia.
Gue pun sudah mempersiapkan beberapa pertanyaan yang dirangkai sedemikian rupa, dan sesi tanya jawab pun dimulai begitu saja. Secara ngga diduga, dia menjawab dengan ramah, bahkan sangat jelas untuk pertanyaan-pertanyaan saya yang seadanya. Pertanyaan selanjutnya pun saya lontarkan.
"Pernah ngga sih suka sama salah satu pelanggan?" Tanya saya.
"Pernah..."
Jawaban yang ngga saya duga. Saya kira selama ini, mereka-mereka hanya sekedar memberikan "servis" tanpa adanya perasaan lain. Dia pun mulai bercerita secara runut, bagaimana ia bisa jatuh cinta kepada salah satu pelanggan.
Satu teguk, dua teguk, satu batang, dua batang, berlalu begitu saja. Hingga tak terasa, sudah dua jam berlalu begitu saja. Kenapa semua berlalu tanpa terasa?
Sebuah pengalaman, yang diceritakan dengan derai air mata, berasal dari perasaan yang sesungguhnya, tertuang begitu saja tanpa adanya batasan. Saya hanya bisa mendengarkan semua yang dia ungkapkan, tanpa bisa bertanya lagi, sekalipun masih banyak pertanyaan yang sudah saya siapkan.
Hingga akhirnya, kami berada di sesi akhir tanya jawab. Saya pun mengucapkan terima kasih kepadanya karena sudah mau berbagi kisah, yang semula saya anggap tidak pernah terjadi. Dan sesuai perjanjian, saya membayar penuh sesuai dengan apa yang sudah dibicarakan.
"Lo nggapapa bayar tapi ngga gue servis?" Tanyanya.
Saya cuma bisa senyum sambil menggeleng, karena memang ngga ada rencana untuk coba sekalipun. Apa yang udah saya dapatkan, lebih baik hingga NAN AND SEXAWORLD bisa selesai sesuai dengan apa yang sudah diceritakan.
Saya pun berpamitan, dan dia pun sempat memeluk saya.
"Makasih ya..."
Terima kasih juga, Kinan.