- Beranda
- Stories from the Heart
Nan and Sexaworld
...
TS
beavermoon
Nan and Sexaworld

Spoiler for Peringatan:
Cerita ini mengandung unsur seksual vulgar.
Jika belum boleh, disarankan untuk tunggu sampai waktunya.
Jika sudah boleh, mainkan imajinasimu.
Jika belum boleh, disarankan untuk tunggu sampai waktunya.
Jika sudah boleh, mainkan imajinasimu.
Pernahkah kalian menggunakan aplikasi kencan? Apa alasannya? Mencari jodoh? Mencoba peruntungan? Atau mencari pelarian dari sakit hati?
Nanda mulai pengalamannya dengan aplikasi kencan untuk pertama kalinya. Bukan tanpa sebab, sakit hati menjadi alasannya. Ia pun mencoba mencari pelarian di aplikasi tersebut, hingga tak diduga, ia kembali menemukan perasaannya di sana.
Lantas, apakah ia akan kembali jatuh cinta setelah sakit hati sebelumnya?
Spoiler for Episode:
1. Bersemi dengan Indah.
2. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 1)
3. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 2)
4. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 3)
5. Langit Abu-Abu. (Part 1)
6. Langit Abu-Abu. (Part 2)
7. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 1)
8. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 2)
9. When The World Is Yours...
10. Take Your Time...
11. Semua Orang Punya Rahasia.
12. Nan... (Part 1)
13. Nan... (Part 2)
14. Perdebatan Batin. (Part 1)
15. Perdebatan Batin. (Part 2)
16. Tak Sengaja...
17. Di Bawah Hujan, Semuanya Terungkap.
18. Upaya Maksimal. (Part 1)
19. Upaya Maksimal. (Part 2)
20. Dilema. (Part 1)
21. Dilema. (Part 2)
22. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 1)
23. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 2)
24. When The World is Mine... (FINALE)
Behind The Nan...
2. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 1)
3. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 2)
4. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 3)
5. Langit Abu-Abu. (Part 1)
6. Langit Abu-Abu. (Part 2)
7. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 1)
8. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 2)
9. When The World Is Yours...
10. Take Your Time...
11. Semua Orang Punya Rahasia.
12. Nan... (Part 1)
13. Nan... (Part 2)
14. Perdebatan Batin. (Part 1)
15. Perdebatan Batin. (Part 2)
16. Tak Sengaja...
17. Di Bawah Hujan, Semuanya Terungkap.
18. Upaya Maksimal. (Part 1)
19. Upaya Maksimal. (Part 2)
20. Dilema. (Part 1)
21. Dilema. (Part 2)
22. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 1)
23. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 2)
24. When The World is Mine... (FINALE)
Behind The Nan...
Diubah oleh beavermoon 01-04-2023 20:22
bukhorigan dan 2 lainnya memberi reputasi
3
4K
Kutip
30
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#24
Spoiler for 22. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 1):
“Selamat pagi semuanya. Pagi ini, saya akan mengumumkan…”
Seisi ruangan berkumpul untuk mendengarkan pengumuman mengenai mutasi yang dilakukan oleh perusahaan, termasuk juga dengan Andreas yang berdiri di sudut ruangan. Ia beradu tatap dengan Nanda yang berdiri di barisan depan bersama Kepala Divisi, Andreas pun tersenyum setelah tau bahwa ia akan tetap di Kota ini.
Satu persatu nama mulai disebutkan beserta alasan mutasi dan juga lokasinya. Andreas pun menahan tawa mendengar nama-nama tersebut.
“Andreas Ezekiel Rajagukguk…”
Andreas dengan cepat merubah ekspresinya menjadi datar, jantungnya pun berpacu lebih cepat dari biasanya.
“...Kamu harusnya masuk ke dalam daftar dan dimutasi…”
Tanpa sadar, keringat Andreas sedikit muncul di dahinya.
“...ada satu orang yang berhasil bikin saya percaya kalau kamu bisa berubah jadi lebih baik, bahkan dia berani pertaruhkan jabatannya. Kamu harus berterima kasih sama dia dan buktikan semuanya.” Ucap Kepala Divisi.
Andreas melirik ke arah Nanda yang sedang menahan tawa, kemudian ia kembali menatap Kepala Divisi. Beberapa saat berlalu, pengumuman pun selesai. Mereka kembali ke meja masing-masing, termasuk juga dengan Nanda. Dari belakang, Andreas mendekat ke arahnya lalu merangkul Nanda.
“Abang awak…”
Nanda menatap ke arah Andreas.
“...makan apa kita siang ini? Saksang? Bihun Bebek? Mie Gomak?Ku traktir semuanya hari ini sebagai wujud terima kasihku padamu Bang, karena kau sudah selamatkan karirku.” Ucap Andreas.
“Mending lo selesaiin laporan kita yang terakhir, nanti sore mau gue kasih buat penutup triwulan terakhir nih. Kalau ngga selesai, gue masih bisa ngerubah keputusan Kepala Divisi kita tadi sih.” Jawab Nanda.
“Akan ku selesaikan nanti siang sebelum jam makan siang, itu janjiku padamu. Kalau tak selesai, berikan aku sedikit waktu lagi.” Sahut Andreas.
“Deal ya, awas aja lo ngga beres lagi…” Nanda merangkul Andreas, “tapi kayaknya Mie Gomak enak juga, Bihun Bebek juga enak sih, tapi udah lama juga ngga makan Saksang. Lo traktir gue semuanya deh.”
“Alamak, dibuat miskin aku dalam sehari. Pilih satu aja lah Bang, aku kan harus berhemat buat liburan kita nanti.” Ucap Andreas.
Nanda tertawa mendengar ucapannya, akhirnya mereka kembali ke kursi mereka masing-masing dan mulai bekerja seperti biasa. Menjelang waktu makan siang, Andreas menepati janjinya. Ia menyerahkan hasil kerjanya ke meja Nanda, tentu saja apa yang ia lakukan berhasil membuat Nanda menatapnya heran.
“Kenapa kau tatap aku macam itu Bang? Sesuai janjiku, sebelum makan siang sudah ku selesaikan tugasku.” Ucap Andreas.
“Gokil juga lo Tak, semoga ngga ada revisi ya.” Sahut Nanda.
“Pede kali aku ngga akan ada revisi, coba kau cek dulu Bang…”
Nanda pun setuju, ia memeriksa hasil laporan yang diberikan oleh Andreas. Lembar demi lembar, Nanda membaca secara teliti sementara Andreas berdiri dengan sabar. Akhirnya, Nanda pun menutup laporan itu dan meletakkannya di meja.
“...kek mana Bang? Aman kan?” Tanya Andreas.
“Taaak Tak…”
Andreas dibuat terkejut dengan ucapan Nanda.
“...kenapa ngga dari dulu lo kerja kayak gini? Kan gue jadi ngga ribet, gue ngga harus marah-marah, lo jadi bisa istirahat lebih cepet…”
Nanda menatap Andreas seraya mengacungkan ibu jarinya.
“...istirahat sana, aman semuanya.” Jawab Nanda.
“Puji Tuhan…” Andreas mengusap wajahnya, “udah lama kali aku ngga istirahat duluan macam ini. Okelah kalau begitu, aku ke pantry dulu cari kopi, sekalian cari jodoh.”
Nanda tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, ia menatap ke arah Andreas yang berjalan menjauh dari mejanya. Nanda pun kembali pada layar laptopnya untuk menyelesaikan laporan yang harus ia serahkan sebelum sore tiba.
Siang menjelang, Nanda keluar dari ruangan Kepala Divisi setelah menyerahkan laporan. Ia berjalan menuju lift seraya merentangkan tangannya ke arah atas. Pintu lift terbuka setelah ia menunggu beberapa saat.
“Mas Nanda.” Sapa Diandra.
“Eh Di…” Nanda masuk ke dalam lift, “mau makan apa hari ini?”
“Aku ikut Bang Batak aja Mas, katanya hari ini dia mau traktir kita makan siang.” Jawabnya.
“Oh kamu diajak juga sama dia?” Tanya Nanda.
Diandra mengangguk, “Tiba-tiba aja tadi Bang Batak ngabarin aku, katanya mau traktir makan siang sama Mas Nanda juga. Ada acara apaan Mas? Bang Batak ulang tahun?”
“Ulang tahunnya nanti pas awal tahun. Nanti kamu tanya aja kenapa dia tiba-tiba ngajak kita makan siang.” Jawab Nanda.
Ting! Pintu lift terbuka, mereka berjalan menuju halaman Kantor di mana Andreas sudah duduk sambil menghisap rokoknya. Ia pun menyadari kedatangan mereka.
“Akhirnya datang juga, lama kali kalian ini.” Sahutnya.
“Gayanya, mentang-mentang bisa istirahat duluan kimak.” Sahut Nanda.
“Bang Batak istirahat duluan?” Tanya Diandra.
“Duduk dulu, kalian marisap, kuceritakan.” Ajak Andreas.
Nanda dan Diandra pun menuruti ucapan Andreas, mereka pun menyalakan sebatang rokok secara bersamaan.
“Jadi gini Di, pagi tadi kan ada pengumuman siapa yang akan dimutasi. Bos kita bilang kalau seharusnya aku dimutasi, tapi ada orang yang pasang badan atas nama jabatannya untuk mempertahankan aku, kau tau lah siapa dia…”
Diandra sempat melirik Nanda seraya tersenyum.
“...sebagai bentuk terima kasihku sama dia, kubantai semua tugasku dan berhasil. Kuserahkanlah tugas itu sama Abang kita, hebatnya tak ada revisi sama sekali. Akhirnya dia suruh aku istirahat duluan, dan di sinilah aku sekarang.” Jelas Andreas.
“Jadi karena itu juga Bang Batak ajak aku sama Mas Nanda makan siang?” Tanya Diandra.
“Tepat sekali! Aku traktir kalian apapun yang ingin kalian makan siang ini, tapi jangan kalian miskinkan aku.” Ucap Andreas.
“Makan apa nih kita Mas?” Tanya Diandra.
“Kamu udah pernah makan Mie Gomak belum?” Tanya Nanda.
“Mie Gomak? Apa itu Mas?” Tanya Diandra lagi.
“Mi kuning pake kuah gitu Di, enak kok.” Jawabnya.
“Kayaknya enak, ayo makan itu aja.” Ucap Diandra.
“Berangkatlah kita.” Ajak Andreas.
Mereka menghabiskan rokok sebelum pergi menuju tempat makan yang telah disetujui. Makan siang berlanjut, tiga mangkuk Mie Gomak dan satu piring Saksang disajikan di depan mereka.
“Enak banget keliatannya.” Sahut Diandra.
“Ayolah kita makan.” Ajak Andreas.
Mereka mulai makan bersama. Suapan pertama berhasil membuat Diandra takjub dengan rasa dari makanan yang baru pertama kali ia makan. Nanda pun menyadari ekspresi Diandra.
“Gimana Di? Enak kan?” Tanya Nanda.
“Enak banget Mas, sumpah aku ngga bohong.” Jawabnya.
“Habiskan, tambahlah kita nanti.” Sahut Andreas.
Nanda tertawa kecil kemudian mereka kembali makan. Benar saja, satu mangkuk Mie Gomak kembali disajikan di atas meja untuk Diandra. Andreas menatap ke arah Diandra dalam diam, tentu saja ia dibuat heran. Nanda hanya tersenyum seraya meminum bir yang ada di dalam gelas.
“Kamu ngga salah Di?” Tanya Andreas.
“Abis enak banget Bang, nggapapa kan?” Ucap Diandra.
“Ya nggapapa, aku…”
Ting! Nanda mengambil ponsel dari saku kemejanya untuk membaca pesan yang masuk. Nanda pun membalas pesan tersebut lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku kemeja.
“Kau mau nambah bir Bang?” Tanya Andreas.
“Cukuplah.” Jawabnya singkat.
“Eh Mas Nanda, gimana sama Kinan?” Tanya Diandra.
“Baru aja dia kirim pesan ke aku.” Jawabnya.
“Cakap apa dia Bang?” Tanya Andreas.
“Minta ketemu dia.” Jawab Nanda lagi.
“Terus gimana Bang?” Tanya Diandra.
Nanda menyalakan rokok, “Aku setuju buat ketemu, terlebih kan ini hari terakhir buat aku berusaha ke dia. Jadi, emang harus ketemu.”
“Menurut kau, kek mana hasil usahamu sama dia?” Tanya Andreas.
Nanda mengangkat bahunya, “Ngga ada yang tau Tak, karena ngga ada perubahan dari dia. Dia masih dengan sikapnya dan masih dengan kegiatannya.”
“Gagal berarti Mas?...” Diandra mengusap bibirnya dengan tisu, “atau masih ada peluang?”
“Aku berharap sih masih ada.” Jawabnya singkat.
Andreas menghela nafas, “Aku ikutlah sama kau Bang. Barangkali ada apa-apa, aku bisa bantu. Ngeri kali aku tau ini hari terakhir kau usaha. Kau setuju tak setuju, pokoknya aku ikut.”
“Aku juga mau ikut Mas.” Sahut Diandra.
“Kenapa jadi kalian yang semangat ya?” Tanya Nanda.
“Please Mas, aku juga mau ikut kalau Bang Batak juga ikut. Nggapapa deh aku nunggu di mobil, yang penting aku ikut.” Jawab Diandra.
“Kek mana lah kau Bang nolak dia?” Tanya Andreas.
Nanda menghela nafasnya, “Ngga bisa aku nolak dia, kek skakmat aja. Yaudahlah nanti kalian ikut pas pulang kerja, kita kumpul di halaman depan.”
Makan siang pun selesai dengan persetujuan antara mereka bertiga. Hari berlanjut seperti biasa, hingga tak terasa sore pun tiba. Diandra membereskan barang-barangnya untuk dimasukkan ke dalam tas, ia pun beranjak keluar dari ruangan. Diandra masuk ke dalam lift bersama beberapa orang lain, sampai akhirnya ia tiba di lantai dasar.
Dengan santai ia berjalan menuju halaman Kantor, di mana sudah ada Andreas yang duduk di sana. Diandra mengeluarkan bungkus rokok dari tasnya, ia mengambil satu batang dari dalam selagi Andreas menatap ke arahnya.
“Nah, ini dia yang ditunggu.” Sahut Andreas.
“Bang, aku pinjem korek ya. korekku ngga nyala…”
Andreas memberikan koreknya kepada Diandra setelah ia duduk. Diandra pun menyalakan sebatang rokok,
“...Mas Nanda mana Bang?” Tanya Diandra.
“Dipanggil dia sama Bos, ngga tau mau ngobrolin apa mereka sampai masuk ke dalam ruangan. Kita tunggu dia disini.” Jawabnya.
Diandra mengangguk pertanda setuju. Tak berapa lama, Nanda keluar dari lift bersama Kepala Divisi. Andreas dan Diandra pun menyadari kedatangannya. Nanda dan Kepala Divisi pun berpisah di pintu depan, ia pun menghampiri mereka.
“Ada urusan apa sama Bos Bang?” Tanya Andreas.
“Soal mutasi, besok atau lusa orang-orang itu udah gabung sama kita.” Jawabnya.
“Divisi aku juga Mas?” Tanya Diandra.
“Iya, bareng kok semuanya…” Nanda menyalakan sebatang rokok, “kalian jadi mau ikut?”
“Jadilah Bang, ngapain aku nunggu di sini sama Diandra dari tadi kalau ngga ikut. Mau ke mana kita Bang?” Ucap Andreas.
Mobil pun meninggalkan Kantor pada sore yang cerah ini. Jalanan belum terlalu ramai dilewati oleh kendaraan hingga membuat Andreas bisa menambah kecepatan mobilnya.
“Bang Batak jangan ngebut-ngebut.” Protes Diandra.
“Santai saja, kapan lagi jalanan ngga macet macam ini. Harus dimanfaatkan sebaik-baiknya Di.” Jawabnya.
Nanda masih terdiam seraya menatap ke arah ponsel yang ia genggam, sampai akhirnya ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku kemeja.
“Eh Bang…”
Nanda menatap ke arah Andreas.
“...ini misal aja ya Bang. Misalkan kau berhasil malam ini, ya sudah. Andai-andai kau gagal, kek mana lah aku sama Diandra?” Tanya Andreas.
“Bang Batak!…” Diandra memukul lengan Andreas pelan, “kok ngomongnya gitu sih? Ketemu juga belum, ngapain segala diomongin juga.”
“Aku cuma nanya.” Jawabnya singkat.
“Mas Nanda…” Diandra menoleh ke belakang, “jangan didengerin omongannya Bang Batak.”
Nanda tersenyum simpul seraya menggelengkan kepalanya. Satu jam berlalu hingga akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Andreas parkir di antara mobil-mobil lain. Mereka pun keluar satu persatu dan berkumpul di depan mobil.
“Kalian jalan di belakang aku aja, sampai atas nanti kasih jarak. Kalau terlalu deket nanti dia curiga.” Ucap Nanda.
“Aman Bang, silahkan jalan duluan.” Ucap Andreas.
Nanda pun jalan terlebih dahulu, beberapa langkah setelah itu barulah Andreas dan Diandra mulai melangkah bersama-sama.
“Bang Batak udah pernah ke sini?” Tanya Diandra.
Andreas menggeleng, “Agak jarang aku ke tempat-tempat macam ini. Satu, aku ngga kayak Abang kita yang suka hunting foto. Tempat ini kan diperuntukkan untuk itu atau untuk kencan. Nah, barusan juga sudah ku katakan alasan kedua. Mau kencan sama siapa aku ke sini? Pacar pun tak ada.”
“Jadi Bang Batak mending minum sendirian di Bar daripada ke sini?” Tanya Diandra.
Andreas mengangguk, “Itu lebih masuk akal menurutku. Cuma kan tidak ada yang tau kedepannya kek mana, bisa jadi aku tiba-tiba suka sama tempat ini dan jadi sering ke sini.”
Mereka berjalan bersampingan menyeberangi jalan. Jalanan mulai menanjak dengan lampu penerangan seadanya, namun banyak orang-orang yang datang ke tempat ini.
“Ramai kali rupanya.” Ucap Andreas.
“Iya juga ya, padahal udah jam segini dan di hari kerja. Aku ngga ngebayangin kalau dateng ke sini pas akhir pekan dan masih sore.” Sahut Diandra.
“Kalau kau kek mana?” Tanya Andreas.
“Aku?” Tanya Diandra bingung.
“Kau suka ngga datang ke tempat-tempat macam ini?” Tanya Andreas lagi.
Diandra menghela nafas, “Dulu aku suka banget Bang, bener-bener sesuka itu. Mungkin bisa dibilang kalau aku sama kayak Mas Nanda, bisa dateng ke tempat ini sendirian…”
Andreas menatap Diandra.
“...tapi semenjak udah mulai kerja dan tinggal sendirian, aku lebih milih di Rumah aja. Malah jadi kayak Bang Batak, ke Bar minum sendirian gitu.” Jawab Diandra.
“Orang tuamu masih ada?” Tanya Andreas.
Diandra menatap Andreas, “Mungkin jawabannya aku ngga tau Bang, karena terakhir aku ketemu mereka itu pas umurku 13 tahun. Mulai saat itu aku tinggal sama Nenek.”
“Alamak, aku minta maaf ya Di.” Sahut Andreas.
“Nggapapa kok Bang…” Diandra tersenyum, “santai aja.”
Andreas melihat ke depan di mana ia masih bisa melihat Nanda yang sedang berjalan seorang diri. Ia sempat melihat ke arah sekeliling untuk memastikan apakah ada Kinan di dekat mereka atau tidak.
“Kalau Mamaknya Bang Batak…”
Ucapan Diandra berhasil membuat Andreas menatapnya.
“...udah lama meninggalnya?” Tanya Diandra.
“Sudah ada 13 tahun yang lalu, pas umurku masih 13. Mamakku sakit sejak dulu, bahkan sebelum aku ada. Sampai akhirnya tubuhnya sudah tak kuat, Tuhan panggil dia menuju Surga.” Jawab Andreas.
“Kalau Bapaknya Bang Batak?” Tanya Diandra lanjut.
“Apa itu Bapak?...”
Diandra memandang Andreas serius.
“...aku memilih untuk tidak kenal dengan orang itu. Orang yang mengaku 'Bapak' tapi tidak dengan tanggung jawabnya, justru lebih kukenal sebagai iblis…”
Diandra dibuat terkejut dengan ucapan Andreas.
“...kek mana dia bisa dibilang sebagai 'Bapak' kalau kerjanya hanya mabuk setiap malam, main judi sana-sini, tak mau kerja. Itu pula yang bikin Mamak harus bekerja saat sakit. Mamak meninggal pun, malamnya masih judi dia. Dari situ aku makin benci sama dia, itu pula yang bikin aku merantau ke sini.” Jawab Andreas.
“Aku minta maaf ya Bang.” Ucap Diandra.
“Kenapa kau minta maaf? Kau tak salah, aku memang mau bercerita saja. Jadi saat ini, hanya Bang Nanda dan kau yang tau…” Andreas tertawa singkat, “aku jadi ingat saat pertama kali minum sama Bang Nanda, aku curhat panjang lebar sama dia.”
Kling! Andreas dan Nanda kembali meminum whiskey untuk gelas ketiga. Mereka kembali menyalakan sebatang rokok lalu menghembuskan asapnya ke arah atas.
“Bang, aku mau tanya sama kau. Tapi janji, jangan kau sebarkan ke orang lain.” Ucap Andreas.
Nanda mengangguk dalam diam.
“Kek mana semisal aku ngga siap jadi Bapak? Aku berasal dari keluarga yang kurang. Bapakku pemabuk, tukang judi, pemalas. Dia juga yang buat Mamak meninggal karena harus bekerja.” Ucap Andreas.
“Muncungmu…” Nanda memukul bibir Andreas pelan, “jaga muncungmu! Itu Bapak kau sendiri.”
“Salah aku apa Bang? Memang benar dia yang buat Mamak meninggal…”
Andreas meneteskan air matanya.
“...kalau bukan karena dia, Mamakku masih bisa hidup sampai sekarang.” Jawab Andreas.
“Ngga perlu lo ngomong gitu juga, mau gimana juga dia itu Bapak lo. Hargai dia sebagai orang tua, sekalipun dia biang masalahnya. Lo kan beragama, aduin semuanya sama Tuhan keluh kesah lo sekarang.” Sahut Nanda.
“Kek mana aku mau mengadu, aku sedang mabuk sama kau.” Sahut Andreas.
“Maksudku nanti kimak…”
Nanda kembali memukul bibir Andreas pelan.
“...aduin semuanya dan minta petunjuk, sekalian doa buat Mamak di Surga.” Jawab Nanda.
Andreas mengangguk perlahan, mereka kembali minum secara perlahan dan kembali menyalakan rokok.
“Cemana cara aku jadi Bapak yang baik Bang?” Tanya Andreas lagi.
“Gue ngga tau Tak.” Jawab Nanda singkat.
“Kau kan lebih pintar dari aku Bang, masa iya kau tak tau.” Protes Andreas.
“Gue ngga pernah ketemu sama orang tua gue…”
Andreas terkejut dengan jawaban Nanda.
“...gue ditemuin di tong sampah sama warga, terus gue diserahin ke panti asuhan. Selama di sana, gue ngga pernah tau sosok orang tua itu kayak gimana, yang ada cuma pegawai-pegawai panti asuhan…”
Tanpa sadar, Nanda meneteskan air mata.
“...jadi, gue juga ngga tau gimana caranya jadi Bapak.” Jawabnya.
“Bang…” Andreas menangis, “aku minta maaf lah, aku tak tau sama sekali soal kau. Sumpah Bang.”
Nanda tersenyum seraya meneteskan air matanya, ia menepuk pundak Andreas beberapa kali secara pelan.
“Lo ngga salah Tak. Semua pertanyaan lo akan terjawab dengan sendirinya, sama kayak gue. Nanti akan ada waktunya atas jawaban dari itu semua.” Jawab Nanda.
Andreas mengangguk sambil mengusap air matanya. Mereka kembali mengangkat gelas lalu minum dalam sekali tegukan.
“Mas Nanda…”
Andreas mengangguk sebelum Diandra menyelesaikan ucapannya. Ia memandang ke arah depan dimana Nanda masih berjalan dengan tegap.
“Abang kita sosok yang luar biasa. Dibalik badannya yang tegap, ada perasaan yang memilukan di dalamnya…” Andreas kembali menatap Diandra, “itu yang buat aku… Kau kenapa?”
Diandra meneteskan air mata, ia kembali mengingat tentang apa yang pernah ia ceritakan kepada Nanda. Dengan cepat ia menyeka air matanya.
“Aku ngerasa sedih baru tau cerita kalian.” Jawabnya.
Andreas menghela nafasnya, “Aku pun demikian, satu persatu rahasia kita semua akan terbongkar atas izin waktu. Mungkin hari ini, besok, akan ada lagi rahasia-rahasia yang terbongkar.”
Akhirnya mereka tiba, jalanan sudah kembali datar. Andreas dan Diandra dibuat terkesima dengan pemandangan dari Bukit Bintang, pemandangan yang benar-benar memanjakan mata mereka sekalipun hari sudah malam.
“Ini… bagus banget Bang.” Ucap Diandra.
“Alamak… benar-benar bagus.” Sahut Andreas.
Pemandangan langit berbintang terlihat jelas dengan mata, kelap-kelip lampu kota pun menambah keindahan yang dinikmati oleh banyaknya orang yang datang ke tempat ini.
“Bang Batak, ini bagus banget sumpah.” Ucap Diandra.
“Pantas saja dia sering kali ke sini seorang diri…” Andreas melihat sekeliling, “mana ya Abang kita?”
Nanda berjalan dengan santai menuju sudut area tempat ini, ia menyandarkan tangannya pada pembatas lalu menatap ke arah langit yang bertaburan bintang. Ia menghela nafas pelan lalu memandang ke arah kejauhan di mana Kota berada.
“Hai Nan…”
Nanda membalikkan badannya, Kinan sudah berdiri di belakangnya.
“...udah lama?” Tanya Kinan.
“Baru banget kok.” Jawabnya.
Kinan berdiri di samping Nanda lalu menatap ke arah langit. Nanda kembali menyandarkan tangannya dan juga ikut menatap ke arah langit.
“Gimana Kantor? Ada kendala?” Tanya Kinan.
“Aman sih sejauh ini, baru aja selesai rapat soal mutasi sama laporan akhir tahun. Kamu sendiri gimana sama desain kamu?” Ucap Nanda.
“Lagi tahap pembuatan…” Kinan menatap Nanda, ”dan pilihan warna kamu disukai sama Natanoto. Aku jadi dipuji soal itu, dan aku harus berterima kasih sama kamu. Makasih ya Nan.”
Nanda menatap Kinan seraya tersenyum. Kinan kembali menatap jauh ke arah depan, namun kali ini Nanda menyadari bahwa pandangan Kinan kosong. Ia pun ikut menatap ke arah depan dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Kamu udah tau kan soal video aku?…”
Nanda memilih diam dan tetap memandang ke arah depan.
Seisi ruangan berkumpul untuk mendengarkan pengumuman mengenai mutasi yang dilakukan oleh perusahaan, termasuk juga dengan Andreas yang berdiri di sudut ruangan. Ia beradu tatap dengan Nanda yang berdiri di barisan depan bersama Kepala Divisi, Andreas pun tersenyum setelah tau bahwa ia akan tetap di Kota ini.
Satu persatu nama mulai disebutkan beserta alasan mutasi dan juga lokasinya. Andreas pun menahan tawa mendengar nama-nama tersebut.
“Andreas Ezekiel Rajagukguk…”
Andreas dengan cepat merubah ekspresinya menjadi datar, jantungnya pun berpacu lebih cepat dari biasanya.
“...Kamu harusnya masuk ke dalam daftar dan dimutasi…”
Tanpa sadar, keringat Andreas sedikit muncul di dahinya.
“...ada satu orang yang berhasil bikin saya percaya kalau kamu bisa berubah jadi lebih baik, bahkan dia berani pertaruhkan jabatannya. Kamu harus berterima kasih sama dia dan buktikan semuanya.” Ucap Kepala Divisi.
Andreas melirik ke arah Nanda yang sedang menahan tawa, kemudian ia kembali menatap Kepala Divisi. Beberapa saat berlalu, pengumuman pun selesai. Mereka kembali ke meja masing-masing, termasuk juga dengan Nanda. Dari belakang, Andreas mendekat ke arahnya lalu merangkul Nanda.
“Abang awak…”
Nanda menatap ke arah Andreas.
“...makan apa kita siang ini? Saksang? Bihun Bebek? Mie Gomak?Ku traktir semuanya hari ini sebagai wujud terima kasihku padamu Bang, karena kau sudah selamatkan karirku.” Ucap Andreas.
“Mending lo selesaiin laporan kita yang terakhir, nanti sore mau gue kasih buat penutup triwulan terakhir nih. Kalau ngga selesai, gue masih bisa ngerubah keputusan Kepala Divisi kita tadi sih.” Jawab Nanda.
“Akan ku selesaikan nanti siang sebelum jam makan siang, itu janjiku padamu. Kalau tak selesai, berikan aku sedikit waktu lagi.” Sahut Andreas.
“Deal ya, awas aja lo ngga beres lagi…” Nanda merangkul Andreas, “tapi kayaknya Mie Gomak enak juga, Bihun Bebek juga enak sih, tapi udah lama juga ngga makan Saksang. Lo traktir gue semuanya deh.”
“Alamak, dibuat miskin aku dalam sehari. Pilih satu aja lah Bang, aku kan harus berhemat buat liburan kita nanti.” Ucap Andreas.
Nanda tertawa mendengar ucapannya, akhirnya mereka kembali ke kursi mereka masing-masing dan mulai bekerja seperti biasa. Menjelang waktu makan siang, Andreas menepati janjinya. Ia menyerahkan hasil kerjanya ke meja Nanda, tentu saja apa yang ia lakukan berhasil membuat Nanda menatapnya heran.
“Kenapa kau tatap aku macam itu Bang? Sesuai janjiku, sebelum makan siang sudah ku selesaikan tugasku.” Ucap Andreas.
“Gokil juga lo Tak, semoga ngga ada revisi ya.” Sahut Nanda.
“Pede kali aku ngga akan ada revisi, coba kau cek dulu Bang…”
Nanda pun setuju, ia memeriksa hasil laporan yang diberikan oleh Andreas. Lembar demi lembar, Nanda membaca secara teliti sementara Andreas berdiri dengan sabar. Akhirnya, Nanda pun menutup laporan itu dan meletakkannya di meja.
“...kek mana Bang? Aman kan?” Tanya Andreas.
“Taaak Tak…”
Andreas dibuat terkejut dengan ucapan Nanda.
“...kenapa ngga dari dulu lo kerja kayak gini? Kan gue jadi ngga ribet, gue ngga harus marah-marah, lo jadi bisa istirahat lebih cepet…”
Nanda menatap Andreas seraya mengacungkan ibu jarinya.
“...istirahat sana, aman semuanya.” Jawab Nanda.
“Puji Tuhan…” Andreas mengusap wajahnya, “udah lama kali aku ngga istirahat duluan macam ini. Okelah kalau begitu, aku ke pantry dulu cari kopi, sekalian cari jodoh.”
Nanda tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, ia menatap ke arah Andreas yang berjalan menjauh dari mejanya. Nanda pun kembali pada layar laptopnya untuk menyelesaikan laporan yang harus ia serahkan sebelum sore tiba.
Siang menjelang, Nanda keluar dari ruangan Kepala Divisi setelah menyerahkan laporan. Ia berjalan menuju lift seraya merentangkan tangannya ke arah atas. Pintu lift terbuka setelah ia menunggu beberapa saat.
“Mas Nanda.” Sapa Diandra.
“Eh Di…” Nanda masuk ke dalam lift, “mau makan apa hari ini?”
“Aku ikut Bang Batak aja Mas, katanya hari ini dia mau traktir kita makan siang.” Jawabnya.
“Oh kamu diajak juga sama dia?” Tanya Nanda.
Diandra mengangguk, “Tiba-tiba aja tadi Bang Batak ngabarin aku, katanya mau traktir makan siang sama Mas Nanda juga. Ada acara apaan Mas? Bang Batak ulang tahun?”
“Ulang tahunnya nanti pas awal tahun. Nanti kamu tanya aja kenapa dia tiba-tiba ngajak kita makan siang.” Jawab Nanda.
Ting! Pintu lift terbuka, mereka berjalan menuju halaman Kantor di mana Andreas sudah duduk sambil menghisap rokoknya. Ia pun menyadari kedatangan mereka.
“Akhirnya datang juga, lama kali kalian ini.” Sahutnya.
“Gayanya, mentang-mentang bisa istirahat duluan kimak.” Sahut Nanda.
“Bang Batak istirahat duluan?” Tanya Diandra.
“Duduk dulu, kalian marisap, kuceritakan.” Ajak Andreas.
Nanda dan Diandra pun menuruti ucapan Andreas, mereka pun menyalakan sebatang rokok secara bersamaan.
“Jadi gini Di, pagi tadi kan ada pengumuman siapa yang akan dimutasi. Bos kita bilang kalau seharusnya aku dimutasi, tapi ada orang yang pasang badan atas nama jabatannya untuk mempertahankan aku, kau tau lah siapa dia…”
Diandra sempat melirik Nanda seraya tersenyum.
“...sebagai bentuk terima kasihku sama dia, kubantai semua tugasku dan berhasil. Kuserahkanlah tugas itu sama Abang kita, hebatnya tak ada revisi sama sekali. Akhirnya dia suruh aku istirahat duluan, dan di sinilah aku sekarang.” Jelas Andreas.
“Jadi karena itu juga Bang Batak ajak aku sama Mas Nanda makan siang?” Tanya Diandra.
“Tepat sekali! Aku traktir kalian apapun yang ingin kalian makan siang ini, tapi jangan kalian miskinkan aku.” Ucap Andreas.
“Makan apa nih kita Mas?” Tanya Diandra.
“Kamu udah pernah makan Mie Gomak belum?” Tanya Nanda.
“Mie Gomak? Apa itu Mas?” Tanya Diandra lagi.
“Mi kuning pake kuah gitu Di, enak kok.” Jawabnya.
“Kayaknya enak, ayo makan itu aja.” Ucap Diandra.
“Berangkatlah kita.” Ajak Andreas.
Mereka menghabiskan rokok sebelum pergi menuju tempat makan yang telah disetujui. Makan siang berlanjut, tiga mangkuk Mie Gomak dan satu piring Saksang disajikan di depan mereka.
“Enak banget keliatannya.” Sahut Diandra.
“Ayolah kita makan.” Ajak Andreas.
Mereka mulai makan bersama. Suapan pertama berhasil membuat Diandra takjub dengan rasa dari makanan yang baru pertama kali ia makan. Nanda pun menyadari ekspresi Diandra.
“Gimana Di? Enak kan?” Tanya Nanda.
“Enak banget Mas, sumpah aku ngga bohong.” Jawabnya.
“Habiskan, tambahlah kita nanti.” Sahut Andreas.
Nanda tertawa kecil kemudian mereka kembali makan. Benar saja, satu mangkuk Mie Gomak kembali disajikan di atas meja untuk Diandra. Andreas menatap ke arah Diandra dalam diam, tentu saja ia dibuat heran. Nanda hanya tersenyum seraya meminum bir yang ada di dalam gelas.
“Kamu ngga salah Di?” Tanya Andreas.
“Abis enak banget Bang, nggapapa kan?” Ucap Diandra.
“Ya nggapapa, aku…”
Ting! Nanda mengambil ponsel dari saku kemejanya untuk membaca pesan yang masuk. Nanda pun membalas pesan tersebut lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku kemeja.
“Kau mau nambah bir Bang?” Tanya Andreas.
“Cukuplah.” Jawabnya singkat.
“Eh Mas Nanda, gimana sama Kinan?” Tanya Diandra.
“Baru aja dia kirim pesan ke aku.” Jawabnya.
“Cakap apa dia Bang?” Tanya Andreas.
“Minta ketemu dia.” Jawab Nanda lagi.
“Terus gimana Bang?” Tanya Diandra.
Nanda menyalakan rokok, “Aku setuju buat ketemu, terlebih kan ini hari terakhir buat aku berusaha ke dia. Jadi, emang harus ketemu.”
“Menurut kau, kek mana hasil usahamu sama dia?” Tanya Andreas.
Nanda mengangkat bahunya, “Ngga ada yang tau Tak, karena ngga ada perubahan dari dia. Dia masih dengan sikapnya dan masih dengan kegiatannya.”
“Gagal berarti Mas?...” Diandra mengusap bibirnya dengan tisu, “atau masih ada peluang?”
“Aku berharap sih masih ada.” Jawabnya singkat.
Andreas menghela nafas, “Aku ikutlah sama kau Bang. Barangkali ada apa-apa, aku bisa bantu. Ngeri kali aku tau ini hari terakhir kau usaha. Kau setuju tak setuju, pokoknya aku ikut.”
“Aku juga mau ikut Mas.” Sahut Diandra.
“Kenapa jadi kalian yang semangat ya?” Tanya Nanda.
“Please Mas, aku juga mau ikut kalau Bang Batak juga ikut. Nggapapa deh aku nunggu di mobil, yang penting aku ikut.” Jawab Diandra.
“Kek mana lah kau Bang nolak dia?” Tanya Andreas.
Nanda menghela nafasnya, “Ngga bisa aku nolak dia, kek skakmat aja. Yaudahlah nanti kalian ikut pas pulang kerja, kita kumpul di halaman depan.”
Makan siang pun selesai dengan persetujuan antara mereka bertiga. Hari berlanjut seperti biasa, hingga tak terasa sore pun tiba. Diandra membereskan barang-barangnya untuk dimasukkan ke dalam tas, ia pun beranjak keluar dari ruangan. Diandra masuk ke dalam lift bersama beberapa orang lain, sampai akhirnya ia tiba di lantai dasar.
Dengan santai ia berjalan menuju halaman Kantor, di mana sudah ada Andreas yang duduk di sana. Diandra mengeluarkan bungkus rokok dari tasnya, ia mengambil satu batang dari dalam selagi Andreas menatap ke arahnya.
“Nah, ini dia yang ditunggu.” Sahut Andreas.
“Bang, aku pinjem korek ya. korekku ngga nyala…”
Andreas memberikan koreknya kepada Diandra setelah ia duduk. Diandra pun menyalakan sebatang rokok,
“...Mas Nanda mana Bang?” Tanya Diandra.
“Dipanggil dia sama Bos, ngga tau mau ngobrolin apa mereka sampai masuk ke dalam ruangan. Kita tunggu dia disini.” Jawabnya.
Diandra mengangguk pertanda setuju. Tak berapa lama, Nanda keluar dari lift bersama Kepala Divisi. Andreas dan Diandra pun menyadari kedatangannya. Nanda dan Kepala Divisi pun berpisah di pintu depan, ia pun menghampiri mereka.
“Ada urusan apa sama Bos Bang?” Tanya Andreas.
“Soal mutasi, besok atau lusa orang-orang itu udah gabung sama kita.” Jawabnya.
“Divisi aku juga Mas?” Tanya Diandra.
“Iya, bareng kok semuanya…” Nanda menyalakan sebatang rokok, “kalian jadi mau ikut?”
“Jadilah Bang, ngapain aku nunggu di sini sama Diandra dari tadi kalau ngga ikut. Mau ke mana kita Bang?” Ucap Andreas.
Mobil pun meninggalkan Kantor pada sore yang cerah ini. Jalanan belum terlalu ramai dilewati oleh kendaraan hingga membuat Andreas bisa menambah kecepatan mobilnya.
“Bang Batak jangan ngebut-ngebut.” Protes Diandra.
“Santai saja, kapan lagi jalanan ngga macet macam ini. Harus dimanfaatkan sebaik-baiknya Di.” Jawabnya.
Nanda masih terdiam seraya menatap ke arah ponsel yang ia genggam, sampai akhirnya ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku kemeja.
“Eh Bang…”
Nanda menatap ke arah Andreas.
“...ini misal aja ya Bang. Misalkan kau berhasil malam ini, ya sudah. Andai-andai kau gagal, kek mana lah aku sama Diandra?” Tanya Andreas.
“Bang Batak!…” Diandra memukul lengan Andreas pelan, “kok ngomongnya gitu sih? Ketemu juga belum, ngapain segala diomongin juga.”
“Aku cuma nanya.” Jawabnya singkat.
“Mas Nanda…” Diandra menoleh ke belakang, “jangan didengerin omongannya Bang Batak.”
Nanda tersenyum simpul seraya menggelengkan kepalanya. Satu jam berlalu hingga akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Andreas parkir di antara mobil-mobil lain. Mereka pun keluar satu persatu dan berkumpul di depan mobil.
“Kalian jalan di belakang aku aja, sampai atas nanti kasih jarak. Kalau terlalu deket nanti dia curiga.” Ucap Nanda.
“Aman Bang, silahkan jalan duluan.” Ucap Andreas.
Nanda pun jalan terlebih dahulu, beberapa langkah setelah itu barulah Andreas dan Diandra mulai melangkah bersama-sama.
“Bang Batak udah pernah ke sini?” Tanya Diandra.
Andreas menggeleng, “Agak jarang aku ke tempat-tempat macam ini. Satu, aku ngga kayak Abang kita yang suka hunting foto. Tempat ini kan diperuntukkan untuk itu atau untuk kencan. Nah, barusan juga sudah ku katakan alasan kedua. Mau kencan sama siapa aku ke sini? Pacar pun tak ada.”
“Jadi Bang Batak mending minum sendirian di Bar daripada ke sini?” Tanya Diandra.
Andreas mengangguk, “Itu lebih masuk akal menurutku. Cuma kan tidak ada yang tau kedepannya kek mana, bisa jadi aku tiba-tiba suka sama tempat ini dan jadi sering ke sini.”
Mereka berjalan bersampingan menyeberangi jalan. Jalanan mulai menanjak dengan lampu penerangan seadanya, namun banyak orang-orang yang datang ke tempat ini.
“Ramai kali rupanya.” Ucap Andreas.
“Iya juga ya, padahal udah jam segini dan di hari kerja. Aku ngga ngebayangin kalau dateng ke sini pas akhir pekan dan masih sore.” Sahut Diandra.
“Kalau kau kek mana?” Tanya Andreas.
“Aku?” Tanya Diandra bingung.
“Kau suka ngga datang ke tempat-tempat macam ini?” Tanya Andreas lagi.
Diandra menghela nafas, “Dulu aku suka banget Bang, bener-bener sesuka itu. Mungkin bisa dibilang kalau aku sama kayak Mas Nanda, bisa dateng ke tempat ini sendirian…”
Andreas menatap Diandra.
“...tapi semenjak udah mulai kerja dan tinggal sendirian, aku lebih milih di Rumah aja. Malah jadi kayak Bang Batak, ke Bar minum sendirian gitu.” Jawab Diandra.
“Orang tuamu masih ada?” Tanya Andreas.
Diandra menatap Andreas, “Mungkin jawabannya aku ngga tau Bang, karena terakhir aku ketemu mereka itu pas umurku 13 tahun. Mulai saat itu aku tinggal sama Nenek.”
“Alamak, aku minta maaf ya Di.” Sahut Andreas.
“Nggapapa kok Bang…” Diandra tersenyum, “santai aja.”
Andreas melihat ke depan di mana ia masih bisa melihat Nanda yang sedang berjalan seorang diri. Ia sempat melihat ke arah sekeliling untuk memastikan apakah ada Kinan di dekat mereka atau tidak.
“Kalau Mamaknya Bang Batak…”
Ucapan Diandra berhasil membuat Andreas menatapnya.
“...udah lama meninggalnya?” Tanya Diandra.
“Sudah ada 13 tahun yang lalu, pas umurku masih 13. Mamakku sakit sejak dulu, bahkan sebelum aku ada. Sampai akhirnya tubuhnya sudah tak kuat, Tuhan panggil dia menuju Surga.” Jawab Andreas.
“Kalau Bapaknya Bang Batak?” Tanya Diandra lanjut.
“Apa itu Bapak?...”
Diandra memandang Andreas serius.
“...aku memilih untuk tidak kenal dengan orang itu. Orang yang mengaku 'Bapak' tapi tidak dengan tanggung jawabnya, justru lebih kukenal sebagai iblis…”
Diandra dibuat terkejut dengan ucapan Andreas.
“...kek mana dia bisa dibilang sebagai 'Bapak' kalau kerjanya hanya mabuk setiap malam, main judi sana-sini, tak mau kerja. Itu pula yang bikin Mamak harus bekerja saat sakit. Mamak meninggal pun, malamnya masih judi dia. Dari situ aku makin benci sama dia, itu pula yang bikin aku merantau ke sini.” Jawab Andreas.
“Aku minta maaf ya Bang.” Ucap Diandra.
“Kenapa kau minta maaf? Kau tak salah, aku memang mau bercerita saja. Jadi saat ini, hanya Bang Nanda dan kau yang tau…” Andreas tertawa singkat, “aku jadi ingat saat pertama kali minum sama Bang Nanda, aku curhat panjang lebar sama dia.”
Kling! Andreas dan Nanda kembali meminum whiskey untuk gelas ketiga. Mereka kembali menyalakan sebatang rokok lalu menghembuskan asapnya ke arah atas.
“Bang, aku mau tanya sama kau. Tapi janji, jangan kau sebarkan ke orang lain.” Ucap Andreas.
Nanda mengangguk dalam diam.
“Kek mana semisal aku ngga siap jadi Bapak? Aku berasal dari keluarga yang kurang. Bapakku pemabuk, tukang judi, pemalas. Dia juga yang buat Mamak meninggal karena harus bekerja.” Ucap Andreas.
“Muncungmu…” Nanda memukul bibir Andreas pelan, “jaga muncungmu! Itu Bapak kau sendiri.”
“Salah aku apa Bang? Memang benar dia yang buat Mamak meninggal…”
Andreas meneteskan air matanya.
“...kalau bukan karena dia, Mamakku masih bisa hidup sampai sekarang.” Jawab Andreas.
“Ngga perlu lo ngomong gitu juga, mau gimana juga dia itu Bapak lo. Hargai dia sebagai orang tua, sekalipun dia biang masalahnya. Lo kan beragama, aduin semuanya sama Tuhan keluh kesah lo sekarang.” Sahut Nanda.
“Kek mana aku mau mengadu, aku sedang mabuk sama kau.” Sahut Andreas.
“Maksudku nanti kimak…”
Nanda kembali memukul bibir Andreas pelan.
“...aduin semuanya dan minta petunjuk, sekalian doa buat Mamak di Surga.” Jawab Nanda.
Andreas mengangguk perlahan, mereka kembali minum secara perlahan dan kembali menyalakan rokok.
“Cemana cara aku jadi Bapak yang baik Bang?” Tanya Andreas lagi.
“Gue ngga tau Tak.” Jawab Nanda singkat.
“Kau kan lebih pintar dari aku Bang, masa iya kau tak tau.” Protes Andreas.
“Gue ngga pernah ketemu sama orang tua gue…”
Andreas terkejut dengan jawaban Nanda.
“...gue ditemuin di tong sampah sama warga, terus gue diserahin ke panti asuhan. Selama di sana, gue ngga pernah tau sosok orang tua itu kayak gimana, yang ada cuma pegawai-pegawai panti asuhan…”
Tanpa sadar, Nanda meneteskan air mata.
“...jadi, gue juga ngga tau gimana caranya jadi Bapak.” Jawabnya.
“Bang…” Andreas menangis, “aku minta maaf lah, aku tak tau sama sekali soal kau. Sumpah Bang.”
Nanda tersenyum seraya meneteskan air matanya, ia menepuk pundak Andreas beberapa kali secara pelan.
“Lo ngga salah Tak. Semua pertanyaan lo akan terjawab dengan sendirinya, sama kayak gue. Nanti akan ada waktunya atas jawaban dari itu semua.” Jawab Nanda.
Andreas mengangguk sambil mengusap air matanya. Mereka kembali mengangkat gelas lalu minum dalam sekali tegukan.
“Mas Nanda…”
Andreas mengangguk sebelum Diandra menyelesaikan ucapannya. Ia memandang ke arah depan dimana Nanda masih berjalan dengan tegap.
“Abang kita sosok yang luar biasa. Dibalik badannya yang tegap, ada perasaan yang memilukan di dalamnya…” Andreas kembali menatap Diandra, “itu yang buat aku… Kau kenapa?”
Diandra meneteskan air mata, ia kembali mengingat tentang apa yang pernah ia ceritakan kepada Nanda. Dengan cepat ia menyeka air matanya.
“Aku ngerasa sedih baru tau cerita kalian.” Jawabnya.
Andreas menghela nafasnya, “Aku pun demikian, satu persatu rahasia kita semua akan terbongkar atas izin waktu. Mungkin hari ini, besok, akan ada lagi rahasia-rahasia yang terbongkar.”
Akhirnya mereka tiba, jalanan sudah kembali datar. Andreas dan Diandra dibuat terkesima dengan pemandangan dari Bukit Bintang, pemandangan yang benar-benar memanjakan mata mereka sekalipun hari sudah malam.
“Ini… bagus banget Bang.” Ucap Diandra.
“Alamak… benar-benar bagus.” Sahut Andreas.
Pemandangan langit berbintang terlihat jelas dengan mata, kelap-kelip lampu kota pun menambah keindahan yang dinikmati oleh banyaknya orang yang datang ke tempat ini.
“Bang Batak, ini bagus banget sumpah.” Ucap Diandra.
“Pantas saja dia sering kali ke sini seorang diri…” Andreas melihat sekeliling, “mana ya Abang kita?”
Nanda berjalan dengan santai menuju sudut area tempat ini, ia menyandarkan tangannya pada pembatas lalu menatap ke arah langit yang bertaburan bintang. Ia menghela nafas pelan lalu memandang ke arah kejauhan di mana Kota berada.
“Hai Nan…”
Nanda membalikkan badannya, Kinan sudah berdiri di belakangnya.
“...udah lama?” Tanya Kinan.
“Baru banget kok.” Jawabnya.
Kinan berdiri di samping Nanda lalu menatap ke arah langit. Nanda kembali menyandarkan tangannya dan juga ikut menatap ke arah langit.
“Gimana Kantor? Ada kendala?” Tanya Kinan.
“Aman sih sejauh ini, baru aja selesai rapat soal mutasi sama laporan akhir tahun. Kamu sendiri gimana sama desain kamu?” Ucap Nanda.
“Lagi tahap pembuatan…” Kinan menatap Nanda, ”dan pilihan warna kamu disukai sama Natanoto. Aku jadi dipuji soal itu, dan aku harus berterima kasih sama kamu. Makasih ya Nan.”
Nanda menatap Kinan seraya tersenyum. Kinan kembali menatap jauh ke arah depan, namun kali ini Nanda menyadari bahwa pandangan Kinan kosong. Ia pun ikut menatap ke arah depan dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Kamu udah tau kan soal video aku?…”
Nanda memilih diam dan tetap memandang ke arah depan.
i4munited dan oktavp memberi reputasi
2
Kutip
Balas