Kaskus

Story

amriakhsanAvatar border
TS
amriakhsan
KERIS - SINGA HITAM
KERIS - SINGA HITAM
Quote:


Quote:


Singkat Cerita:

Jaya adalah seorang pemuda yang baru saja menjalani masa masa mudanya  sebagaimana pemuda normal lainnya. Setelah lulus dari kuliahnya, ia pun kembali pada "keluarga" yang selama ini telah membantunya. Akan tetapi setelah sampai, Jaya mendapati bahwa keluarga yang selama ini membiayainya bukanlah yang ia sama sekali pikirkan. Kemudian bersama keluarga barunya itu Jaya berkenalan dengan Dito, kakak dari Nadya dan satu orang lagi bernama Ardi.

Dalam waktu itu Jaya menghabiskan hari harinya dengan berlatih bela diri bersama Ardi. Namun tiba tiba saja Dito pun mengalami kecelakaan yang tidak normal. Mereka pun menyelidiki kecelakaan itu dan did dala m perjalanannya mereka bertemu dengan salah seorang yang bernama Brama. Kemudian kejadian dengan model yang sama terulang lagi dan lagi yang dapat disimpulkan kalau ini semua adalah perencanaan pembunuhan oleh seseorang.

Penyelidikan serta pelindungan target pembunuhan yang panjang pun berubah menjadi pembersihan saksi mata yang kini mengancam keluarga Jaya. Kali ini mereka semua melarikan diri dari kejaran sang pembunuh.


Diubah oleh amriakhsan 25-03-2023 15:42
sukhhoiAvatar border
bukhoriganAvatar border
ariefdiasAvatar border
ariefdias dan 4 lainnya memberi reputasi
5
3.9K
35
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.6KAnggota
Tampilkan semua post
amriakhsanAvatar border
TS
amriakhsan
#13
ii.

Belum langkah kami genap sampai sepuluh menit akhirnya mata kami dapat melihat sebuah lekukan jalan aspal yang berada bawah jalan terjal ini. Di tengah mentari pagi yang menyengat rasa gugup serta kekhawatiranku yang awalnya begitu besar kini mulai luntur hanya dengan berjalan dengan pikiran yang sengaja kukosongkan. Masih ada bayang bayang rasa takut itu namun entah mengapa rasanya inis kepalaku menjadi sangat damai tanpa sebuah alasan apapun.
Sedetik kedamaian itu kemudian hilang saat sebuah suara hentakan datang tiba tiba di arah tujuan kami, seolah olah sesuatu ingin sekali memberhentikan kami semua dan menghalangi tujuan kami. Ardi dan Dito bergeming namun tidak ada tanda tanda siaga dari mereka berdua.

Dito menghela nafas. “Ada apa lagi sekarang?”

Sosok itu lalu keluar dari balik sebuah batang pohon yang lumayan besar. Tubuh luntainya datang menatap kami dengan tatapan tajam sambil mengeblok sebuah tas besar dibelakangnya.yang tidak sebanding dengan ukuran tubuhnya itu. Mbah, apa dia mau menghentikan kami?

Mbah saman menggeleng pelan dalam tatapannya yang dalam. Aku bisa merasakan rasa penat serta risau darinya saat ia mengulum kedua bibirnya yang kering itu.

“Gila … itu aja sih,” ujarnya sambil menatap kami lusu.

Dito lalu melipat kedua tangannya. “Oke … mungkin bukan waktu yang pas tapi … saya masih bisa terima masukan saat ini juga, Ngkong.”

Mbah terkekeh. “Aduh … ya pasti gak ada sih, datang jauh jauh kesini ya nunggu buat ngasih ini aja,” ungkapnya sambil menurunkan tas besar itu dari atas punggungnya, suara hentakan serta detingan logam terdengar keras datang dari tas tersebut.

“Kita sebenernya sudah ada senjata sih,” ucap Ardi.

“Mau ada senjata sekalipun juga bukan berarti kalian datang kesana tanpa baju pelindung ato apalah, jagoan sekalipun bakal tewas kalau pakai kaos doang.”

“Jadi nguping juga ya semalem?” tanya Dito dengan alis menukik.

“Sedikit, tapi sudah pasti gak bisa dicegah bukan? bener gitu?” tanya mbah memastikan kemantapan kami.

“Jangan buat kita mikir ketiga kalinya.”

“Kapan yang kedua?” sambung Ardi sambil menoleh ke arah Dito.

“Oh ya … oh … oke kalo udah dipikirin, berarti masalah selesai.”

“Diskusi ini sama sekali gak guna,” ucap Dito sambil menggeleng gelengkan kepalanya.

Kami pun berjalan mengikuti langkah Dito yang mengarah ke Mbah, Dito lalu berhenti tepat di depannya lalu menepuk pundak tuanya itu sampai sampai ia latah karena kaget hampir terjatuh kehilangan keseimbangan.

“Aduh aduh maaf,” ucap Dito sambil tertawa kecil, kemudian raut wajahnya menjadi serius sambil mendekatkan kepalanya ke samping kepala Mbah untuk membisikan sesuatu.

“Tolong, jaga Nadya sama yang lain, jangan sampe yang lain tahu,” ujar Dito.

Mbah bergumam sebentar sampai akhirnya Dito memasukan sesuatu ke saku celana Mbah dengan cepat, sekilas mataku melihat benda itu, berwarna merah dan sedikit muncul suara temukan kertas dari sana.

“Oke siap,” jawab Mbah mantap.

Dito lalu tersenyum kecil dan kembali berdiri tegak dan berjalan melewatinya. Aku yang menuntun Ardi berjalan kemudian berhenti di depan Mbah lalu mengambil tas berat tersebut dan segera memanggulnya.

“Jangan lupa, dipake semua yang udah dipelajari ya,” pesannya pelan.

“Ah .. iya mbah,” balasku gugup, kemudian kami berjalan kembali meninggalkannya.

“Yaudah kalo gitu, semoga selamat ya,” sahutnya.

“Doa lu kagak ngefek!” seru Dito tanpa memalingkan wajahnya.

Tidak lama setelah kami meninggalkan hutan kami pun naik sebuah angkutan umum dan memulai perjalanan pulang kami.


iii.

Tidak butuh waktu lama untuk kami sampai di kota menggunakan kereta cepat, sampai di kota pula kami berusaha setenang mungkin untuk berjalan dan tidak berusaha mencuri perhatian publik dengan barang bawaan kami yang besar. Memang banyak orang di sekitar yang sama sama membawa bawaan yang besar pula, namun bukan berarti kami akan aman kalau tidak berhati hati.
Matahari terik yang menyengat menandakan siang hari yang mulai terlewat. Tidak ada satupun tanda tanda bahaya yang mengintai kami ataupun sambutan hangat yang mungkin akan disajikan sama seperti waktu itu. Bagiku kota ramai ini seperti kota kosong yang hanya dilangkahi oleh kami bertiga dan tidak ada lagi yang mengganggu.

“Oke dari sini kita berpencar ya, saya pergi dulu nemuin seseorang, lu berdua pergi ke rumah, ambil yang lu bisa, oke ada yang mau diomongin?”

“Siap bos, gak ada,” jawabku lesu.

“Aku aslinya laper, tapi mau gimana lagi,” keluh Ardi.

Dito dengan gigi mencuat geregetan dengan cepat merogoh kantongnya dan memberikan sebuah kartu ke tangan Ardi.

“Wow, makasih pak.”

“Jangan panggil pak, dah sana! kita mesti cepet.”

Aku mengangguk dan segera pergi meninggalkan Dito dan berjalan keluar stasiun dan mencari angkutan yang sepi. beberapa kali ku menoleh kesana kemari dan tidak menemukan sebuah mobil yang kosong untuk menaruh barang kami yang cukup banyak.

“Jadi, latihan apa sama Mbah?”

Mataku menyerngit menatap aneh karena pertanyaannya itu. “Lah, tak pikir lu tau,” balasku.

“Ya tahu latihan, tapi gak tahu apa itu, jurus apa itu.”

Yaelah kenapa mesti sekarang. “Ya latihan jurus rahasia, ya gitulah.”

“Jurus dari ayah ya, keren juga,”

“Adeh … udah ya ntar aja di mobil ngomongnya,” pintaku.

“Maunya sih gitu, tapi siapa tau ini bisa jadi terakhir kali kita ngomong, ya … pesan kesan sebelum kematian,” ujarnya sambil memberikan seringai kecil.

Aku sontak kaget mendengar kata kata itu darinya, tidak biasanya Ardi sampai berpikiran begitu. “Jadi takut juga?”

Ardi lalu mencucukan bibirnya. “Dikit sih, tapi gak kayak kau, masih bisa ketahan.”

“Alasannya?” tanyaku balik.

“Mungkin karena lawan, mungkin karena ini mata, mungkin juga karena masih bujang, banyak alasan lah.”

“Ya … tapi jangan sampe lah,” ujarku berusaha tidak terpancing oleh Ardi.

Perlahan tatapanku yang lelah mencari tumpangan yang entah sampai kapan tidak ketemu ketemu entah mengapa membuatku tiba tiba menarik layar fleksibelku dan mencari cari kontak Dewi dengan sendirinya. Sejenak pikiranku terhenti akan sesuatu yang terasa aneh, seperti ada sesuatu dari dalam diriku yang membuatku ingin melakukan apa yang Ardi katakan tadi, masalah pesan, sebuah pesan ke Dewi.
Kudekatkan tanganku dan sambil mengirimkan pesan suara pada Dewi, berharap agar dia mendengarnya dan mengetahui kabarku saat ini.

“Aku udah di rumah,” ucapku pelan.

“Apaan?” sambung Ardi.

Merasa tertangkap basah, sekejap membuatku langsung mengirim pesan tersebut padanya tanpa pikir lagi.

“Apaan tadi bisik bisik, geli dengernya,” ungkap Ardi.

“Udah udah jangan dipikirin.”

Tidak lama setelah bersabar akhirnya mataku dapat menemukan tumpangan yang cocok untuk kami berdua. Aku menuntun Ardi masuk serta menaruh semua barang barang kami perlahan, lalu menyuruh sopir untuk menuju ke alamat kami.

Rasanya bagiku sangat aneh pergi ke rumah seperti orang yang kabur dari tahanan, aku harap rencana Dito berjalan lancar dan kami dapat dengan mudah mengalahkan makhluk ini, hanya sebuah do’a saat ini yang bisa menenangkanku.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.