Kaskus

Story

amriakhsanAvatar border
TS
amriakhsan
KERIS - SINGA HITAM
KERIS - SINGA HITAM
Quote:


Quote:


Singkat Cerita:

Jaya adalah seorang pemuda yang baru saja menjalani masa masa mudanya  sebagaimana pemuda normal lainnya. Setelah lulus dari kuliahnya, ia pun kembali pada "keluarga" yang selama ini telah membantunya. Akan tetapi setelah sampai, Jaya mendapati bahwa keluarga yang selama ini membiayainya bukanlah yang ia sama sekali pikirkan. Kemudian bersama keluarga barunya itu Jaya berkenalan dengan Dito, kakak dari Nadya dan satu orang lagi bernama Ardi.

Dalam waktu itu Jaya menghabiskan hari harinya dengan berlatih bela diri bersama Ardi. Namun tiba tiba saja Dito pun mengalami kecelakaan yang tidak normal. Mereka pun menyelidiki kecelakaan itu dan did dala m perjalanannya mereka bertemu dengan salah seorang yang bernama Brama. Kemudian kejadian dengan model yang sama terulang lagi dan lagi yang dapat disimpulkan kalau ini semua adalah perencanaan pembunuhan oleh seseorang.

Penyelidikan serta pelindungan target pembunuhan yang panjang pun berubah menjadi pembersihan saksi mata yang kini mengancam keluarga Jaya. Kali ini mereka semua melarikan diri dari kejaran sang pembunuh.


Diubah oleh amriakhsan 25-03-2023 15:42
sukhhoiAvatar border
bukhoriganAvatar border
ariefdiasAvatar border
ariefdias dan 4 lainnya memberi reputasi
5
3.9K
35
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
amriakhsanAvatar border
TS
amriakhsan
#8
BAB III - Belati dengan Lekukan

i.


Sinar jingga sore hari yang menyengat dari arah barat datang memerahkan langit yang berawan, rasa hangat serta pekatnya cahaya yang datang membuatku pikiranku kosong seakan segala isinya tersedot keluar mengikuti teduhnya mentari yang indah. Debu debu yang berlarian bersama angin diatas tanah lapang yang bersinar dengan indahnya senja membawa beberapa butirnya masuk ke dalam jangka penciumanku yang tajam, merasakan aroma serta rasa tanah yang pekat.
Mataku yang berkaca kaca akan pedihnya kawan kawan dari debu yang datang membuatku kembali lagi ke isi otakku yang masih kusut. Sedari tadi tidak ada hentinya aku mengambil serta mengulik info yang dapat ku olah dan kukembangkan dari apa yang kemarin serta tadi siang Dito katakan. Memang banyak sekali ikatan yang belum tersimpulkan serta beberapa benang yang masih terurai dengan jarak yang jauh membuatku semakin kesulitan harus menentukan bagian mana yang harus disusun.
Lidah serta mulut yang pahit semakin membuat pikiranku gundah dan mulia kehilangan fokusnya. Dalam hal ini kuputuskan untuk mengambil sebuah studi yang pernah kubaca tentang sesuatu untuk memulai semua permasalahan ini yaitu dengan berdiri serta merilekskan badan kemudian mengambil langkah kecil; perlahan untuk menghilangkan tekanan yang ada dipikiranku saat ini. Kuharap dengan melakukan hal ini dapat membuat isi otakku jernih atau bahkan aku bisa mendapatkan sesuatu di jalan nanti yang dapat menginspirasiku.
Suara hentakan sandal karet yang berirama menepak nepak telapak kakiku yang diiringi bunyi gesekan pasir yang sebagian dari mereka masuk ke sela sela kakiku yang telanjang. Berjalan tanpa arah; tak menentu yang membuat sebuah putaran tidak beraturan di atas lapangan yang kosong. Menatap ke bawah ke setiap butiran serta bongkahan tanah yang menggumpal dan mengeras di atas gersangnya lapangan ini.
Beberapa detik kemudian melakukan hal tidak jelas tersebut mendatangkanku sebuah hal yang akhirnya kulupakan sejak tadi siang. Saat dimana Dito menatap hutan jati yang penuh dengan rerumputan dan semak semak yang tinggi menjulang. Kemudian tanpa berpikir panjang langsung saja kuputuskan untuk berjalan ke arah tempat itu dengan membawa segala rasa penasaranku yang telah muncul kembali.
Sebuah perjalanan yang singkat itu akhirnya membawaku tiba di hadapan sebuah semak yang tingginya hampir sekepalaku. Pelan pelan wajahku mendekat serta memperhatikan dedaunan yang lembut dengan tulang tulangnya yang nampak jelas berulir ke ujung daunnya yang sama lembutnya dipenuhi dengan bulu bulu tajam kecil yang bening layaknya serpihan kaca yang tersusun rapi melindungi daun berharga tersebut.
Dalam hal ini akhirnya aku berhasil membuktikan teori yang kupikirkan barusan, namun kali ini otakku malah dipenuhi dengan hal hal yang sama sekali tidak lah penting. Namun entah mengapa dunia sangatlah terasa lambat sekali saat aku melakukan hal semacam ini, apakah memang hal ini sama sekali tidak berguna atau memang hanya pikiranku yang berkata seperti itu.
Sebuah arus yang tenang kemudian tiba dan menghanyutkan pikiranku yang teringat akan kata kata ayahku dahulu. Saat ia masih banyak bicara dengan diriku dan memenuhi isi tengkorak ini dengan omong kosong serta kata kata yang tidak bergunanya tersebut. Sebuah hal kecil yang kau lihat terkadang itu adalah hal yang terbesar yang ada pada hidupmu. Tidak pernah terpikir kalau bualan itu akhirnya muncul kembali di tempat ini. Walau aku menolak hampir semua yang ia katakan, namun bekas dan dampaknya masih terasa di kepalaku.
Tanpa sadar tanganku tiba tiba terangkat dengan sendirinya dan mulai meraih benda mungil tersebut, mengelusnya dengan seksama; pelan pelan mengikuti alurnya sampai ke ujungnya, menghirup aroma pahit yang membuat kelopak mataku terpaksa harus meminjam lebih dalam lagi tuk menghilangkan rasanya.
Ketenangan sesaat yang kudapat tiba tiba hilang saat sebuah suara gesekan dedaunan muncul tepat dari arah dalam hutan yang gelap. Mataku melebar menoleh ke arah tersebut dan mencari cari asal suara tersebut tiba. Dengan cepat leherku memaksa kepala ini berpindah pindah dengan cepat; takut akan kehilangan mangsanya yang takut untuk menunjukan batang hidungnya tersebut.
Kemudian dengan tanpa banyak akal kuputuskan untuk menyingkir kan semak semak yang berada di hadapanku dan melangkah masuk ke dalam hutan. Langkah kaki perlahan yang sudah kusiapkan untuk menginjak licinnya dedaunan tidak disangka malah disambut dengan perasaan keras yang datang dari kokohnya pijakan tanah yang membawa jalurnya masuk ke dalam sana. Sebuah jalan kecil akhirnya nampak setelah tersembunyi di balik semak semak ini.
Langkah kakiku yang telah masuk tidak kutarik mundur dan membawa pasangannya masuk ke dalam pekatnya hutan mengikuti aliran jalan setapak yang berantakan tidak beraturan menembus pilar pilar kayu kurus yang kokoh menjulang tinggi.
Perlahan lahan kakiku menyusuri jalan yang tidak tahu ujungnya kemana, membuat kakiku gatal dengan gesekan gesekan dari rerumputan kecil yang berusaha untuk memberi salam hangat dari mereka. Tidak lupa nyamuk yang mulai menyambar satu persatu memutar menari nari diatas kepalaku. Tidak jarang dari mereka tidak pakai permulaan dan langsung hinggap di bagian tubuhku yang langsung saja kusambut dengan pukulan cepat yang mematikan.
Jumlah nyamuk yang datang membuatku mulai menyerah dan menarik kembali langkah mantapku yang gagal dieksekusi. Namun suara itu datang kembali layaknya memancingku untuk terus masuk ke dalam. Saat itu kuputuskan jugan untuk mengambil umpan tersebut dan menyambarnya dengan cepat. Berlari tepat ke arah suara itu datang tanpa memperdulikan akan resiko kaki yang gatal, sebuah lubang dalam atau bahkan ular yang mungkin saja terinjak.
Pengejaranku yang liar itu kemudian berakhir ketika mataku menatap sebuah objek dengan warna mencolok diantara hijaunya tempat ini. Cepat saja ku berlari ke arah tersebut dan mengejarnya layaknya orang gila.
Adrenalin terpacu, jantung berdebar debar dan otak kosong mulai melakukan hal yang tidak waras akhirnya tiba dan berdiri di hadapan asal bunyi tersebut. Seorang dengan baju lusuh serta bercelana yang hanya sampai ke lutut, tidak menoleh ke keributan yang kubuat dan hanya menampilkan punggungnya yang nampak dengan jelas tulang belakangnya yang membungkus duri duri tajam tersebut agar tidak menusuk orang. Kuda kuda serta tinju di tangan kananku sudah siap memberikan salam pada orang ini saat dia berbalik.

“Gila bener,” ucap orang itu dengan suara seraknya. Orang itu kemudian memalingkan wajahnya yang berkerut serta tatapan yang teduh ke hadapanku. Mbah Saman dengan sebilah golok di tangannya dengan tenangnya menatap ke arahku tanpa rasa takut akan dihajarnya meski kata kata yang baru saja ia lontarkan.

Seketika kuturunkan semua persiapanku dan niatku saat menatap wajahnya yang menatap aneh ke arahku. Perasaan malu serta panik kemudian meluap memaksa mataku untuk melempar pandangannya ke daun daun yang ada di atas pohon sambil menaikan semua otot otot pipiku untuk menahan momen konyol ini.

“Ngapain mbah?” tanyaku berusaha meredakan suasana.

“Ngapain - ngapain … lo yang ngapain?!” pekik Mbah dengan bibirnya yang sambil monyong.

“Maaf mbah … dikira siapa gitu,” jawabku sambil terkekeh kecil.

“Untung belum nonjok orang, kalo orang lain bisa bahaya itu,” imbuhnya.

“Iya iya, maaf mbah, tahu kan situasinya lagi gimana,” jawabku lirih dengan mata memutar sambil mencoba mencari cari alasan lain.

“Iya juga, ya udah selagi disini tolong bantuin bawain kayu ke dapur,” ucap mbah sambil menunjuk ke arah batang dan ranting kayu yang ia sudah ikat menggulung dengan sebuah tali bambu.

“Hadeh … ada ada aja,” keluhku.

“Lu tadi yang ada ada aja, buruan angkat!”

Dengan lemas tanganku terangkat perlahan memberi hormat dengan tangan yang tidak sempurna di atas alis. “Siap ….”

Kuangkat kayu tersebut kemudian kugendong di bahuku, membawanya berjalan membuntuti Mbah yang juga berjalan perlahan ke arah rumah. Langkahnya yang lambat entah mengapa sepertinya ia sengaja lakukan untuk memberi hukuman padaku atas tindakan nekat yang baru saja kulakukan. Walau bisa dimaklumi namun ia juga harusnya tahu kenapa aku sampai bisa bertindak seperti tadi. Tidak ada yang tahu kapan musuh akan datang ke tempat ini dan menyerang kami selagi kami lengah.

“Sepertinya kau lupa ya?” ucap mbah tanpa ada konteks sama sekali.

Sebentar ku berpikir dan mengolah apa yang ia maksud, kuyakin tidak ada satu lagi gulungan kayu yang tertinggal di belakang. “Lupa apaan mbah?” tanyaku menanyakan kejelasannya darinya.

“Wah beneran lupa berarti,” jawabnya.

Alisku seketika menukik mendengar balasannya yang tidak memberikan kejelasan tersebut. “Apaanya mbah?” tanyaku pelan berusaha bersabar.


“Ya … coba ingat pas ke sini waktu itu ngapain?” jawab mbah berusaha memancing ingatanku untuk keluar.

“Waktu itu kesini bukannya ada urusan ya sama Dito?”

“Haah … “

Aku bergumam sebentar sambil mencoba coba mengingat kembali dan mencari tahu apa yang ia maksud. Ku ketuk ketuk kepalaku dengan sisa tanganku yang menganggur dan mencoba mengencerkan isinya agar semua ingatannya mengalir. Namun usaha yang kulakukan sia sia karena tidak ada sama sekali petunjuk yang keluar darinya.

“Nyerah mbah, apaan dah.”

“Alah, baru sebentar coba tebak,” ledek mbah sambil yang semakin memperlambat langkahnya.

Kupejamkan mataku berkali kali, gelap terang yang kubuat sama sekali tidak membuahkan hasil dan tetap membiarkan sis kepalaku kosong tanpa kejelasan dari yang ia maksud.
Kemudian ku coba ingat kembali sejak awal dimana kami datang kemari. Sebuah alasan yang entah mengapa aku sepertinya lenyap dari ingatanku. Kami datang untuk membuat sesuatu, sebuah hal yang entah mengapa jauh jauh kami datang kemari untuk melakukannya. Lalu kuingat kami menginap beberapa hari di hotel dan saat itu Dito pergi dan mengalami kecelakaan, ia selamat namun ida bilang kalau ada yang mencoba untuk membunuhnya.
Setelah itu ia menjelaskan beberapa hal aneh seperti tentara buatan, lalu kami juga harus melindungi beberapa orang dan akhirnya kami tidak sanggup melawannya, kalah lalu datang kemari. Sial aku benar benar tidak ingat asma sekali waktu itu kami datang kemari tujuannya ngapain.

“Sudah menyerah?” ledeknya.

Kuhembuskan nafasku dengan kencang saat ia menanyakan hal itu. “Iya mbah.”

“Hehehe … bisa begitu ya bapak sama anak,” lontar mbah menyinggung masalah ayahku.

“Emang apanya yang sama mbah?” tanyaku penasaran sambil sedikit menggeser kepalaku ke arah wajahnya yang sedikit berseringai.

“Ya … sama sama lupaan.”

“Lupaan? maksudnya?” kejarku yang makin penasaran dengan maksudnya.

“Alah … “ Mbah kemudian berhenti lalu membalikan badannya ke arahku, ia kemudian menunjuk ke arah tanganku dan mencongkel telunjuknya ke atas, menyuruhku untuk mengangkatnya.

“Nih!” sebuah benda dari tangannya menyambar mengguncangkan telapak tanganku, menaruhnya tepat di atasnya. Kemudian mataku melebar saat mengetahui benda yang baru saja ia berikan padaku, sebuah sarung pisau yang dengan sebuah gagang tertempel menyembunyikan isi hartanya yang tidak bisa sama sekali kuingat akhirnya muncul begitu saja di atas tangan ini.
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.