Kaskus

Story

amriakhsanAvatar border
TS
amriakhsan
KERIS - SINGA HITAM
KERIS - SINGA HITAM
Quote:


Quote:


Singkat Cerita:

Jaya adalah seorang pemuda yang baru saja menjalani masa masa mudanya  sebagaimana pemuda normal lainnya. Setelah lulus dari kuliahnya, ia pun kembali pada "keluarga" yang selama ini telah membantunya. Akan tetapi setelah sampai, Jaya mendapati bahwa keluarga yang selama ini membiayainya bukanlah yang ia sama sekali pikirkan. Kemudian bersama keluarga barunya itu Jaya berkenalan dengan Dito, kakak dari Nadya dan satu orang lagi bernama Ardi.

Dalam waktu itu Jaya menghabiskan hari harinya dengan berlatih bela diri bersama Ardi. Namun tiba tiba saja Dito pun mengalami kecelakaan yang tidak normal. Mereka pun menyelidiki kecelakaan itu dan did dala m perjalanannya mereka bertemu dengan salah seorang yang bernama Brama. Kemudian kejadian dengan model yang sama terulang lagi dan lagi yang dapat disimpulkan kalau ini semua adalah perencanaan pembunuhan oleh seseorang.

Penyelidikan serta pelindungan target pembunuhan yang panjang pun berubah menjadi pembersihan saksi mata yang kini mengancam keluarga Jaya. Kali ini mereka semua melarikan diri dari kejaran sang pembunuh.


Diubah oleh amriakhsan 25-03-2023 15:42
sukhhoiAvatar border
bukhoriganAvatar border
ariefdiasAvatar border
ariefdias dan 4 lainnya memberi reputasi
5
3.9K
35
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.8KAnggota
Tampilkan semua post
amriakhsanAvatar border
TS
amriakhsan
#3
Selesai mengikuti ocehan tadi membuatku kembali bisa tenang dan membaca kembali apa yang kulewatkan. Namun mataku dipenuhi dengan rasa geram menatap yang kali ini gangguan itu berasal tepat di layar kacaku. Jajaran iklan yang bertebaran menutupi kolom berita dan memaksaku menekan tombol kembali dan mencari cari bacaan lainnya. Usapan jari yang meninggalkan bekas jejaknya di hangatnya layar sembari membalik satu persatu kolom bacaan menarik lainnya. Tapi tidak sampai sedetik setelahnya ibu jariku dibuat membeku di udara, dengan kerutan dahi yang berusaha memantapkan pandangan membaca sebuah kalimat yang tidak tidak asing dan juga terasa sangat dekat di kepalaku.
Penghuni Rumah Mewah di Jakarta Ditemukan Tewas. Jari jariku mulai bergetar dengan konflik yang yang kini sedang beradu untuk menentukan apakah ini sesuatu yang harus kubaca atau harus kulewatkan. Kemudian dengan sentuhan kecil di jariku menentukan hasilnya dan memaksaku membaca yang satu ini.
Ada firasat buruk yang entah darimana muncul dan tiba tiba datang memasuki pikiranku, membuat getaran di tanganku semakin menjadi jadi. Dengan bibir kering mulutku berusaha mengucapkan apa yang berada di depan bola mataku saat ini.

“Empat orang … tewas … berinisial AGN, JTW, RS, dan RA … masih belum jelas penyebab dari kejadian ini, tapi menurut pendapat tetangga diperkirakan terjadi … adu mulut … saling cekcok, perkelahian … menggunakan senjata tajam,” ucapku dengan menghembuskan nafas terakhir yang ku bisa keluarkan dari mulut gersang ini. Perlahan kedua tanganku meletakan layar bodoh itu ke atas dashboard mobil sembari menarik kedua jari telunjukku dan pelan pelan menusukannya ke masing tulang pelipis yang hangat ini, menekannya sedikit demi sedikit lalu melakukan gerakan memutar, membiarkan semua darah yang tertahan tadi lewat dan mengalirkan beban itu ke seluruh tubuh dengan seimbang.

“Oh … Siet …”

ii.

“Jadi … sebenernya jangan jangan kita udah mati, trus sekarang arwah kita lagi menghayal jalan kemana mana,” gumam Ardi dengan seringai kecilnya.

“Lu mau tau ini beneran ato gak?” tawar Dito dengan wajah jengkel.

“Ah bol- oke gak jadi,” jawab Ardi tersenyum.

“Tapi menurut lu aneh gak sih? semua nama ada kecuali saya sama Nadya,” ungkap Dito sambil mengusap usap batang hidungnya.

“Iya sih, emang aneh juga kalo ada yang kurang, tapi kan lu dah mati Bos, masa ada konfirmasi kematian dua kali.”

Dito terkekeh menyembulkan gigi gigi serinya. “Iya sih, tapi keren juga ya kalo gelarnya dimasukin ke nama saya; M.Alm. Hanindito.”

Kami juga ikut tertawa mendengar leluconnya itu. Aneh sekali bukan walau dalam situasi krisis seperti ini pun orang orang masih bisa tertawa dan bahkan membuat bencana menjadi candaan. Semoga saja itu bukan pertanda kalau masing masing dari kami telah kehilangan kewarasannya karena kelelahan yang teramat sangat.

“Menurut lu gimana Jay, teori konspirasi macam apa lagi yang bisa bikin nama lu pada masuk ke berita?”

Sesaat aku berpikir; bergumam sambil memasukan bibirku ke dalam mulutku, menggigitnya serta membasahi retakan retakan yang muncul. “Kayaknya sih ini entah ini permainan uang dari pihak sana atau emang Brama punya masing masing DNA kita.”

Ardi bergumam. “ Aneh gak sih padahal kan tinggal lihat wajahnya saja terus sudah bisa ketahuan kan siapa korbannya. Aku yakin kalo bagian itu gak bisa dipalsukan ya, kan?”

“Ah … kalo masalah itu sih sebenernya emang metode identifikasi wajah malah jarang dipake dan karena tes DNA udah secepat kilat, jadi udah kurang laku. Ya tahu sendiri sekarang rata rata operasi plastik dimana mana, malah dari kecil anak anak udah beda beda wajahnya,” jelasku.

“Kalo sidik jari?” celetuk Dito.

Bola mataku langsung melayang ke langit langit mendengar bagian yang terlewat itu. “Wah … ia juga ya.”

“Yak. Berarti emang kita udah gak bisa ngandelin aparat kalau begini.”

“Bisa dibilang udah telat, lu sendiri kan Bos yang awalnya gak mau bawa bawa nih ke polisi.”

“Ya … memang rencananya begitu, dilema antara masalah kita nanti jadi terekspos atau malah kasusnya bakal lama terus berbelit belit sampe kita udah tewas semua baru jalan lagi kasusnya,” ungkap Dito.

“Sebegitu gak percayanya sama aparat?” tanyaku memastikan.

“Ya … emang begitu bukan dari dulu.”

Aku tidak pernah begitu paham dengan jalan pemikiran Dito, namun mungkin ia jauh lebih tahu dan berpengalaman tentang masalah ini dan dengan alasan apapun ia berusaha menghindari urusan ini dan jangan sampai jatuh ke tangan kepolisian. Mungkin saja ini masalah bisnisnya atau yang seperti kupikirkan; ia memiliki sesuatu yang sangat berharga yang disembunyikan dari kami semua.

“Lama sekali mereka semua,” keluh Ardi.

“Santai aja dulu, jangan samakan energi mereka dengan kita semua.”

“Kalau kita gak cepet cepet sampai ke tempat Mbah bisa bisa kita ketahuan.”

“Asal kita bertiga gak keluar mah aman aman aja.”

“Emangnya ada apa di rumah Mbah sih sampe bisa dibilang aman?” tanyaku penasaran.

“Ya … satu satunya orang luar yang kita bisa percaya, lagian juga disana minim sinyal, jadi malah makin aman lagi bukan.”

Alasan pertama rupanya ya, kalau bagian kedua mungkin tidak tepat karena mau bagaimanapun caranya kalau memang kita sudah terlacak maka tidak ada lagi jalan untuk menghindar selain membuang semua alat elektronik kami dan kembali ke zaman batu. Namun aku yakin selama kami tidak melakukan kontak dengan orang orang yang terkait maka tidak ada salahnya.

“Oh iya, kalian jangan kasih tahu masalah ini ke Nadya sama yang lainnya ya,” ucap Dito.

“Kenapa Bos, bukannya kalo semua tahu malah jadi lebih bagus buat jaga masing masing?” balasku berusaha menyanggah perintahnya secara logis.

“Kalau mereka tahu mereka semua mati, kemungkinan besar mereka bakal panik terus minta pulang segala dan juga bisa membuat mereka shock yang berujung mempertaruhkan kewarasan mereka. Ini semua berlangsung kurang dari 24 jam, pasti berat bagi mereka. Walau kecil kita gak bisa ambil resiko semacam itu terlebih lagi masih ada kejanggalan sama konfirmasi kematiannya,” jawab Dito menguraikan prediksinya.

“Kau peduli sekali sama mereka, sampe sampe kita gak dipikirin,” sahut Ardi menggerutu.

“Santai aja kalo kalian mah, lu lu idiot pada juga bisa jaga diri sendiri kan, lagian dari awal juga udah gak waras.”

“Ya terserah lah,” pungkas Ardi.


Beberapa menit kemudian Nadya dan yang lainnya masuk kembali ke dalam mobil dengan membawa makanan serta jajanan yang banyak. Kami semua makan bersama di dalam mobil yang kali ini penuh dengan bau santan serta sambal yang kental memenuhi mobil, bahkan kami sampai terpaksa untuk membuka pintu sedikit untuk membuang segala aroma yang mulai tidak sedap ini. Kami hanya terdiam dan sibuk dengan makanan masing masing. Tidak ada canda ataupun tawa, memang tentu saja bukan saat yang tepat bagi kami untuk bersikap ceria namun bukan berarti kami semua harus memurungkan diri bagai jejeran patung di dalam mobil.
Sesaat setelahnya Nadya menanyakan tentang berita atau keadaan terbaru dari rumahnya. Sesuai permintaan Dito aku sama sekali tidak menjawab dan hanya bilang kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan.Dito bilang kalau masalah itu sudah diurus temannya. Namun aneh saja kalau Nadya bertanya namun tidak mengecek saja sendiri lewat internet, entahlah mungkin dia sendiri juga takut mengeceknya.
Tebakan Dito ada benarnya tapi juga tetap membuatku gundah menutup mulut serta kebenaran dari mereka semua, mereka tentu saja berhak memiliki jawaban tersebut, namun tentu saja ada resiko yang lain yang aku sendiri tidak tahu.

“Semuanya sudah siap?” tanya Dito dengan tenang.

“Siap kak, waktunya tidur lagi.”

Nafas kecil menyembuh dari batang hidung Dito. “Yasudah kalau begitu, supir dipersilahkan.”
uken276
uken276 memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.