- Beranda
- Stories from the Heart
Nan and Sexaworld
...
TS
beavermoon
Nan and Sexaworld

Spoiler for Peringatan:
Cerita ini mengandung unsur seksual vulgar.
Jika belum boleh, disarankan untuk tunggu sampai waktunya.
Jika sudah boleh, mainkan imajinasimu.
Jika belum boleh, disarankan untuk tunggu sampai waktunya.
Jika sudah boleh, mainkan imajinasimu.
Pernahkah kalian menggunakan aplikasi kencan? Apa alasannya? Mencari jodoh? Mencoba peruntungan? Atau mencari pelarian dari sakit hati?
Nanda mulai pengalamannya dengan aplikasi kencan untuk pertama kalinya. Bukan tanpa sebab, sakit hati menjadi alasannya. Ia pun mencoba mencari pelarian di aplikasi tersebut, hingga tak diduga, ia kembali menemukan perasaannya di sana.
Lantas, apakah ia akan kembali jatuh cinta setelah sakit hati sebelumnya?
Spoiler for Episode:
1. Bersemi dengan Indah.
2. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 1)
3. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 2)
4. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 3)
5. Langit Abu-Abu. (Part 1)
6. Langit Abu-Abu. (Part 2)
7. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 1)
8. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 2)
9. When The World Is Yours...
10. Take Your Time...
11. Semua Orang Punya Rahasia.
12. Nan... (Part 1)
13. Nan... (Part 2)
14. Perdebatan Batin. (Part 1)
15. Perdebatan Batin. (Part 2)
16. Tak Sengaja...
17. Di Bawah Hujan, Semuanya Terungkap.
18. Upaya Maksimal. (Part 1)
19. Upaya Maksimal. (Part 2)
20. Dilema. (Part 1)
21. Dilema. (Part 2)
22. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 1)
23. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 2)
24. When The World is Mine... (FINALE)
Behind The Nan...
2. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 1)
3. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 2)
4. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 3)
5. Langit Abu-Abu. (Part 1)
6. Langit Abu-Abu. (Part 2)
7. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 1)
8. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 2)
9. When The World Is Yours...
10. Take Your Time...
11. Semua Orang Punya Rahasia.
12. Nan... (Part 1)
13. Nan... (Part 2)
14. Perdebatan Batin. (Part 1)
15. Perdebatan Batin. (Part 2)
16. Tak Sengaja...
17. Di Bawah Hujan, Semuanya Terungkap.
18. Upaya Maksimal. (Part 1)
19. Upaya Maksimal. (Part 2)
20. Dilema. (Part 1)
21. Dilema. (Part 2)
22. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 1)
23. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 2)
24. When The World is Mine... (FINALE)
Behind The Nan...
Diubah oleh beavermoon 01-04-2023 20:22
bukhorigan dan 2 lainnya memberi reputasi
3
4K
Kutip
30
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#22
Spoiler for 20. Dilema. (Part 1):
Satu minggu, entah waktu yang cukup atau tidak, semuanya terus berjalan begitu adanya. Ada kalanya, rasanya ingin menyerah saja, melihat apa yang sudah menjadi kegiatannya. Ada kalanya pula, semuanya nampak mungkin dan cukup untuk membuatnya kembali percaya akan namanya cinta. Apa mungkin memang sudah tidak ada lagi yang namanya cinta? Ting!
Nanda berjalan dengan santai menelusuri Taman di akhir pekan ini, ia kembali mengarahkan kameranya untuk mengambil foto di sore yang cerah. Setelah dirasa cukup, ia pun duduk di bawah pohon besar. Nanda mengeluarkan ponsel dari saku celananya, teringat ada pesan masuk yang belum ia baca.
“Kamu suka foto?” Kinan.
Nanda melihat ke arah sekeliling, tidak ada Kinan di sekitarannya. Ia kembali menatap ponselnya untuk membalas pesan tersebut.
“Fotoin aku dong…”
Nanda menoleh ke arah belakang di mana Kinan bersembunyi, Kinan pun mendekat lalu duduk di sampingnya.
“...hai Nan.” Ucapnya.
“Hai Nan. Sejak kapan kamu di sini?” Tanya Nanda bingung.
“Sejak… kamu dateng juga ke sini. Aku tadi dari Natanoto, iseng aja sih mampir ke Taman ini. Lagi jalan-jalan, eh aku liat kamu dateng bawa kamera.” Jawabnya.
“Aku ngga liat kamu dari tadi.” Ucap Nanda.
Kinan tersenyum, “Kamu terlalu sibuk sama kamera kamu, jadinya kamu ngga sadar sekalipun aku tadi udah jalan di belakang kamu. Aku juga ngga mau ganggu kamu.”
Nanda terdiam sesaat, dengan cepat ia mengarahkan kamera ke arah Kinan untuk mengambil fotonya. Ckrek!Kinan pun dibuat terkejut dengan apa yang dilakukan Nanda, sampai akhirnya Nanda menunjukkan hasil fotonya kepada Kinan.
“Bagus ngga?” Tanya Nanda.
“Ih bagus banget…” Kinan menatap Nanda, “kok bisa bagus kayak gitu Nan?”
“Objeknya udah bagus…”
Kinan tersenyum mendengar jawaban Nanda.
“...mau aku fotoin lagi?” Tanya Kinan.
Kinan mengangguk dengan antusias, mereka pun bangun dari duduk. Nanda mengarahkan Kinan untuk bersandar pada pohon, ia pun mengambil fotonya beberapa kali.
“Udah?” Tanya Kinan.
Nanda kembali menunjukkan hasil fotonya, tentu saja Kinan terkesima dengan hasilnya. Nampak raut wajahnya senang setelah melihat foto dari Nanda.
“Mau lagi?” Tanya Nanda.
Kinan kembali mengangguk. Mereka sedikit berjalan ke arah tengah, di mana cukup ramai orang-orang berada. Nanda meminta Kinan untuk berdiri di tengah-tengah. Setelah dirasa cukup, ia menjauh untuk mengambil foto Kinan. Hitungan detik berlalu, Nanda kembali menghampiri Kinan untuk menunjukkan hasil fotonya.
“Gimana kalau ini?” Tanya Nanda.
Kinan melihat hasil fotonya. Sebuah foto di mana Kinan sedang berdiri di antara kerumunan, namun foto tersebut tetap menegaskan bahwa Kinanlah objek utama dengan efek bokeh yang dihasilkan Nanda.
“Ih ini paling bagus Nan, aku suka banget.” Ucapnya.
“Nanti aku kirim fotonya…”
Tiba-tiba Kinan memeluk Nanda di antara banyaknya orang yang berada di sana.
“...ke kamu.” Lanjut Nanda.
“Makasih ya Nan…” Kinan melepas pelukannya, “eh kamu mau ikut aku ngga? Aku mau nunjukin desain yang udah aku buat dari inspirasi kemarin.”
“Boleh…” Nanda menunjuk ke arah persimpangan jalan, “mau ke sana aja ngga?”
Kinan mengangguk dengan setuju, mereka pun berjalan bergandengan tangan menuju lokasi yang dipilih oleh Nanda. Tak membutuhkan waktu lama untuk mereka tiba, Nanda dan Kinan memesan di kasir.
“Kamu mau apa?” Tanya Nanda.
“Hm, aku mau Oolong aja deh.” Jawabnya.
Nanda mengangguk lalu memesan pesanan mereka. Kinan mengeluarkan kartu untuk membayar sebelum didahului oleh Nanda.
“Pake ini aja.” Ucap Kinan.
“Ngga usah, aku aja yang bayar.” Ucap Nanda.
“Ngga mau…” Kinan menyerahkan kartunya, “kali ini aku maksa, pokoknya aku yang bayar.”
Nanda hanya bisa mengikuti permintaan Kinan, setelah itu mereka berpindah ke meja yang masih tersedia. Kinan memilih untuk duduk di samping Nanda, ia pun mengeluarkan buku dari tas kecil yang ia kenakan.
“Jadi aku mau nunjukin kamu ini…”
Kinan menunjukan desain sementara yang sudah ia buat. Nanda dapat melihat ada sebuah bentuk gaun panjang buatan Kinan.
“...kan sebelumnya aku udah punya desain, tapi setelah kita kemarin jalan-jalan, aku jadi dapet inspirasi lagi. Kamu liat deh bentuknya, kira-kira itu dari mana?” Tanya Kinan.
“Bentuknya?...” Nanda mempertegas pandangannya, “oh aku tau, ini dari lampu tempat kita duduk ya?”
Kinan mengangguk, “Aku ambil bentuk itu dan aku coba aplikasikan ke desain. Ternyata Natanoto suka sama desainnya, jadi tadi langsung disetujui sama dia.”
“Oh serius?...”
Pelayan datang membawakan pesanan mereka.
“...terima kasih. Wah, kamu keren banget bisa langsung dapet ide kayak gitu. Ngga kepikiran aku kalau lampu-lampu itu bisa jadi desain.” Ucap Nanda.
“Ngga sengaja juga sih, kemarin aku coba-coba desain dan kepikiran lampu-lampu itu, untungnya diterima.” Kata Kinan.
“Kapan mulai dibuat?” Tanya Nanda.
“Besok mau dibuat percobaan untuk nambahin detail-detailnya lagi.” Jawabnya.
Nanda mengangguk kemudian mengambil buku tersebut, sementara Kinan minum secara perlahan. Nanda memandangi gambar tangan Kinan untuk melihat lebih dekat lagi.
“Hijau…”
Kinan menatap Nanda, dalam sekejap Nanda juga menatap ke arah Kinan.
“...aku ngebayangin warna hijau, tapi hijaunya tuh kayak gimana ya. Sedikit putih tapi sedikit gelap juga, kamu paham ngga?” Ucap Nanda.
“Sage maksud kamu?” Tanya Kinan.
“Sage?” Tanya Nanda bingung.
Kinan tertawa kecil, ia mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan apa yang ia maksud tadi.
“Ini kan?” Tanya Kinan lagi.
“Nah ini maksud aku, sedikit putih tapi sedikit gelap juga. Aku baru tau kalau namanya Sage.” Ucap Nanda.
Kinan melihat desainnya, “Ide kamu kayaknya cocok deh buat desain aku yang ini. Aku langsung bisa ngebayangin detail-detail apa aja yang bisa ditambahin.”
Kinan mengambil pensil dari dalam tasnya, Nanda pun memberikan buku itu kepada Kinan. Garis-garis tipis mulai Kinan berikan pada desainnya, Nanda terlihat kagum dengan apa yang Kinan lakukan saat ini. Beberapa saat berlalu, Kinan kembali menunjukkan hasilnya kepada Nanda.
“Gimana menurut kamu?” Tanya Kinan.
“Wah…” Nanda terdiam sesaat, “jadi beda banget sama yang tadi. Buat aku ini bagus banget Nan untuk ukuran aku yang ngga paham fashion.”
“Serius? Aku tiba-tiba kepikiran aja abis kamu ngasih ide buat warnanya. Aku bakalan kasih ini sih ke Natanoto secepetnya.” Ucapnya.
“Tapi kamu hebat sih bisa langsung desain begitu aja.” Ucap Nanda.
“Ya kadang kan ide itu bisa dateng kapan aja, di mana aja, bahkan sama siapa aja. Sekarang, aku lagi sama kamu bisa dapet ide.” Jawabnya.
“Setuju sih, eh iya aku lupa. Kan aku mau kirim foto tadi ke kamu…” Nanda mengeluarkan kamera dari dalam tasnya, “kamu bisa connect ke kamera aku.”
“Oh iya, bentar deh.”
Kinan menyambungkan ponselnya pada kamera Nanda, beberapa foto pun berhasil ditransfer dengan mudah. Kinan kembali melihat hasil foto yang ia lakukan tadi.
“Aku beneran suka deh sama hasil foto kamu.” Ucap Kinan.
“Apa yang bikin kamu suka?” Tanya Nanda.
“Hm, aku ngerasa kalau foto ini hidup. Entah akunya, entah lingkungannya, entah kamunya yang bisa bikin ini keliatan jadi hidup. Itu yang bikin aku suka banget sama foto ini.” Jelas Kinan.
“Aku diajarin untuk bisa bikin sebuah foto itu terasa hidup, ternyata itu susah banget. Udah berapa kali aku foto sana foto sini, masih ngga bisa bikin foto itu hidup. Seiring berjalannya waktu, akhirnya aku bisa juga. Untuk jawab kebingungan kamu, tiga elemen itu penting sih.” Jawab Nanda.
“Kalau di aku ada namanya rule of thirds.” Ucap Kinan.
“Loh, rule of thirds juga namanya? Fotografi juga ada itu.” Ucap Nanda.
“Oh serius? Berarti akan selalu ada rule of thirds apapun kegiatannya ya.” Kata Kinan.
“Secara ngga langsung sih mungkin tiap aspek ada, tinggal kita representasiin aja rule of thirds itu gimana.” Ucap Nanda.
“Setuju sih, bahkan jangan-jangan sekarang kita juga lagi nerapin rule of thirds itu. Jadi…”
Seketika pikiran Nanda melayang setelah mendengar ucapan Kinan. Mungkin memang benar jika saat ini mereka sedang menerapkan rule of thirds, dimana akan ada tiga aspek yang akan bersinggungan satu sama lain. Pertama adalah Nanda, kedua adalah Kinan, dan ketiga adalah…
“Nan?...”
Nanda berkedip beberapa kali, kemudian ia menatap Kinan.
“...kamu kenapa?” Tanya Kinan.
“Eh maaf banget, tiba-tiba aku ngeblank.” Jawabnya.
“Beneran kamu nggapapa?” Tanya Kinan lagi.
“Beneran kok.” Jawabnya bohong.
Kinan menghela nafas, “Ya udah bener ya? Kalau kamu kenapa-napa bilang. Eh iya, kamu abis ini mau ke mana? Kalau kosong, aku mau ngajakin kamu ke tempat aku.”
“Ngga ke mana-mana sih.” Jawabnya singkat.
“Ikut ya ke tempat aku.” Ajak Kinan.
Nanda hanya mengangguk mengikuti ajakan Kinan. Waktu berjalan dengan semestinya, hingga tak terasa malam pun tiba. Kinan membuka kunci pintu lalu mempersilahkan Nanda masuk terlebih dahulu, kemudian ia kembali mengunci pintunya lagi.
“Kamu mau whiskey ngga?” Tanya Kinan.
Nanda mengangguk pertanda setuju. Kinan berlalu mengambil botol minuman di dapur, ia kembali dengan gelas yang sudah terisi dengan es batu. Ia memberikan satu gelas kepada Nanda, kemudian menuangkan whiskey ke dalam gelasnya. Nanda pun meraih botol tersebut dan bergantian menuangkannya ke dalam gelas milik Kinan.
“Makasih…”
Kinan mengulurkan gelasnya pada Nanda. Kling! Mereka minum secara perlahan. Mereka pun duduk di atas kasur menatap ke arah televisi yang tidak menyala.
“...eh iya, kamu masih suka main sama temen kamu yang waktu itu?” Tanya Kinan.
“Masih kok, paling sebentar lagi dia nanyain aku di mana.” Jawab Nanda.
“Kalau yang perempuan juga sama?” Tanya Kinan lagi.
“Masih juga. Kenapa emangnya?” Ucap Nanda.
“Nggapapa, aku ngerasa iri aja sama kamu dan temen-temen kamu. Keliatannya kalian bukan sekedar temen biasa, ada hubungan spesial di antara kalian.” Jawab Kinan.
“Spesial? Aku ngga ngerti.” Tanya Nanda.
“Antara kamu, yang laki-laki, dan yang perempuan, kayak adik kakak aja pas aku liat kalian di sana. Itu yang aku maksud sama spesial sih.” Jelas Kinan.
“Kalau soal itu mungkin ada benernya juga…”
Kinan bersandar pada pundak Nanda selagi ia bercerita.
“...aku sama yang laki-laki itu temenan dari pas dia masuk ke Kantor, dia masih junior saat itu, dan ternyata bisa sampai sekarang. Kalau yang perempuan itu dulunya suka digodain sama temenku yang laki-laki, eh malah sekarang jadi temenan sekalipun beda divisi.” Jelas Nanda.
“Aku dengernya aja udah bisa ngebayangin seseru apa kalian kalau lagi istirahat, atau pulang Kantor main dulu, bahkan akhir pekan juga bisa main bareng.” Ucap Kinan.
“Kamu sama sekali ngga ada temen?” Tanya Nanda.
“Ngga ada, terlebih aku ngga dari Kota ini. Untuk bergaul jadi susah sama orang lain.” Jawabnya.
“Itu juga yang jadi alasan kamu di Sexaworld?” Tanya Nanda.
“Ngga sih, kamu cuma satu-satunya orang dari Sexaworld yang masih berhubungan sama aku, sisanya ya lewat gitu aja.” Jawabnya.
Nanda mengangguk mendengar jawaban Kinan, mereka minum perlahan secara bersamaan, menatap ke arah televisi yang merefleksikan diri mereka. Entah disadari atau tidak, Nanda memandang Kinan dari televisi itu. Ia melihat Kinan dengan tatapannya yang nampak kosong, entah apa yang sedang ia pikirkan. Nanda memilih untuk diam dan tidak mengganggunya, sampai akhirnya Kinan menghela nafas cukup dalam.
“Kamu kenapa?” Tanya Nanda.
“Aku ngerasa capek aja, ngga tau kenapa.” Jawabnya.
“Close your eyes…”
Kinan menuruti ucapan Nanda, ia memejamkan matanya dengan sengaja. Nanda pun memilih diam, membiarkan suasana hening dalam kamar menyelimuti mereka. Terdengar samar suara nafas Kinan yang teratur, ia terlelap dalam tidurnya. Nanda meraih gelas yang masih Kinan genggam, ia meletakkannya di meja yang ada di sampingnya. Nanda kembali minum whiskey yang tersisa di gelasnya secara perlahan. Ting!
Mata Nanda tertuju pada ponsel Kinan yang menyala di dekatnya, secara perlahan ia mengambil ponsel tersebut dan melihatnya. Sebuah pesan masuk dari Sexaworld memberitahukan bahwa ada pengguna yang ingin bertemu dengan Kinan. Nanda menghela nafasnya cukup dalam, itu pun membuat Kinan terbangun dari tidur singkatnya. Dengan cepat Nanda kembali meletakkan ponsel milik Kinan ke tempat semula, seolah-olah tidak ada yang terjadi.
“Aku ketiduran ya Nan?” Tanya Kinan.
“Iya, kamu tiba-tiba aja tidur. Gelas kamu aku taruh di meja samping. Eh iya, tadi ponsel kamu bunyi deh.” Ucap Nanda.
“Oh iya? Aku cek dulu.” Ucap Kinan.
Kinan meraih ponsel yang ada di sampingnya, Nanda membuang pandangannya seolah tidak mau ikut campur, sekalipun ia sudah tau secara diam-diam.
“Nan…”
Kinan duduk dengan tegak, Nanda pun menatapnya.
“...aku ada janji temu sama orang.” Ucap Kinan.
“Oh ya udah pas banget, temen aku tadi ngajakin aku pergi…”
Nanda menghabiskan minumannya dalam sekali teguk, ia meletakkan gelas kosong itu di samping gelas Kinan yang masih terisi.
“...kalau gitu aku sekalian pamit ya.” Ucap Nanda.
Nanda bangun dari duduknya diikuti oleh Kinan, ia berjalan menuju pintu dan membuka kuncinya. Nanda membalikkan badannya untuk berpamitan kepada Kinan, namun semuanya tertahan ketika Kinan mencium bibirnya. Pikiran Nanda kosong sejenak, sampai akhirnya Kinan menjauhkan wajahnya.
“Hati-hati ya Nan.” Ucap Kinan.
“Aku pergi ya Nan.” Ucap Nanda.
Nanda melangkah keluar dari kamar Kinan menuju lift. Setibanya di lobi, ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ada panggilan masuk yang berasal dari Diandra.
“Halo Di.” Jawab Nanda.
“Halo, Mas Nanda lagi di mana?” Tanya Diandra.
“Aku lagi di luar abis hunting foto, kenapa Di?” Ucap Nanda.
“Mau ikut ngga Mas? Aku mau ke Midori sama Bang Batak.” Jawab Diandra.
“Oke, aku ke sana.” Ucap Nanda.
Nanda berjalan dengan santai menelusuri Taman di akhir pekan ini, ia kembali mengarahkan kameranya untuk mengambil foto di sore yang cerah. Setelah dirasa cukup, ia pun duduk di bawah pohon besar. Nanda mengeluarkan ponsel dari saku celananya, teringat ada pesan masuk yang belum ia baca.
“Kamu suka foto?” Kinan.
Nanda melihat ke arah sekeliling, tidak ada Kinan di sekitarannya. Ia kembali menatap ponselnya untuk membalas pesan tersebut.
“Fotoin aku dong…”
Nanda menoleh ke arah belakang di mana Kinan bersembunyi, Kinan pun mendekat lalu duduk di sampingnya.
“...hai Nan.” Ucapnya.
“Hai Nan. Sejak kapan kamu di sini?” Tanya Nanda bingung.
“Sejak… kamu dateng juga ke sini. Aku tadi dari Natanoto, iseng aja sih mampir ke Taman ini. Lagi jalan-jalan, eh aku liat kamu dateng bawa kamera.” Jawabnya.
“Aku ngga liat kamu dari tadi.” Ucap Nanda.
Kinan tersenyum, “Kamu terlalu sibuk sama kamera kamu, jadinya kamu ngga sadar sekalipun aku tadi udah jalan di belakang kamu. Aku juga ngga mau ganggu kamu.”
Nanda terdiam sesaat, dengan cepat ia mengarahkan kamera ke arah Kinan untuk mengambil fotonya. Ckrek!Kinan pun dibuat terkejut dengan apa yang dilakukan Nanda, sampai akhirnya Nanda menunjukkan hasil fotonya kepada Kinan.
“Bagus ngga?” Tanya Nanda.
“Ih bagus banget…” Kinan menatap Nanda, “kok bisa bagus kayak gitu Nan?”
“Objeknya udah bagus…”
Kinan tersenyum mendengar jawaban Nanda.
“...mau aku fotoin lagi?” Tanya Kinan.
Kinan mengangguk dengan antusias, mereka pun bangun dari duduk. Nanda mengarahkan Kinan untuk bersandar pada pohon, ia pun mengambil fotonya beberapa kali.
“Udah?” Tanya Kinan.
Nanda kembali menunjukkan hasil fotonya, tentu saja Kinan terkesima dengan hasilnya. Nampak raut wajahnya senang setelah melihat foto dari Nanda.
“Mau lagi?” Tanya Nanda.
Kinan kembali mengangguk. Mereka sedikit berjalan ke arah tengah, di mana cukup ramai orang-orang berada. Nanda meminta Kinan untuk berdiri di tengah-tengah. Setelah dirasa cukup, ia menjauh untuk mengambil foto Kinan. Hitungan detik berlalu, Nanda kembali menghampiri Kinan untuk menunjukkan hasil fotonya.
“Gimana kalau ini?” Tanya Nanda.
Kinan melihat hasil fotonya. Sebuah foto di mana Kinan sedang berdiri di antara kerumunan, namun foto tersebut tetap menegaskan bahwa Kinanlah objek utama dengan efek bokeh yang dihasilkan Nanda.
“Ih ini paling bagus Nan, aku suka banget.” Ucapnya.
“Nanti aku kirim fotonya…”
Tiba-tiba Kinan memeluk Nanda di antara banyaknya orang yang berada di sana.
“...ke kamu.” Lanjut Nanda.
“Makasih ya Nan…” Kinan melepas pelukannya, “eh kamu mau ikut aku ngga? Aku mau nunjukin desain yang udah aku buat dari inspirasi kemarin.”
“Boleh…” Nanda menunjuk ke arah persimpangan jalan, “mau ke sana aja ngga?”
Kinan mengangguk dengan setuju, mereka pun berjalan bergandengan tangan menuju lokasi yang dipilih oleh Nanda. Tak membutuhkan waktu lama untuk mereka tiba, Nanda dan Kinan memesan di kasir.
“Kamu mau apa?” Tanya Nanda.
“Hm, aku mau Oolong aja deh.” Jawabnya.
Nanda mengangguk lalu memesan pesanan mereka. Kinan mengeluarkan kartu untuk membayar sebelum didahului oleh Nanda.
“Pake ini aja.” Ucap Kinan.
“Ngga usah, aku aja yang bayar.” Ucap Nanda.
“Ngga mau…” Kinan menyerahkan kartunya, “kali ini aku maksa, pokoknya aku yang bayar.”
Nanda hanya bisa mengikuti permintaan Kinan, setelah itu mereka berpindah ke meja yang masih tersedia. Kinan memilih untuk duduk di samping Nanda, ia pun mengeluarkan buku dari tas kecil yang ia kenakan.
“Jadi aku mau nunjukin kamu ini…”
Kinan menunjukan desain sementara yang sudah ia buat. Nanda dapat melihat ada sebuah bentuk gaun panjang buatan Kinan.
“...kan sebelumnya aku udah punya desain, tapi setelah kita kemarin jalan-jalan, aku jadi dapet inspirasi lagi. Kamu liat deh bentuknya, kira-kira itu dari mana?” Tanya Kinan.
“Bentuknya?...” Nanda mempertegas pandangannya, “oh aku tau, ini dari lampu tempat kita duduk ya?”
Kinan mengangguk, “Aku ambil bentuk itu dan aku coba aplikasikan ke desain. Ternyata Natanoto suka sama desainnya, jadi tadi langsung disetujui sama dia.”
“Oh serius?...”
Pelayan datang membawakan pesanan mereka.
“...terima kasih. Wah, kamu keren banget bisa langsung dapet ide kayak gitu. Ngga kepikiran aku kalau lampu-lampu itu bisa jadi desain.” Ucap Nanda.
“Ngga sengaja juga sih, kemarin aku coba-coba desain dan kepikiran lampu-lampu itu, untungnya diterima.” Kata Kinan.
“Kapan mulai dibuat?” Tanya Nanda.
“Besok mau dibuat percobaan untuk nambahin detail-detailnya lagi.” Jawabnya.
Nanda mengangguk kemudian mengambil buku tersebut, sementara Kinan minum secara perlahan. Nanda memandangi gambar tangan Kinan untuk melihat lebih dekat lagi.
“Hijau…”
Kinan menatap Nanda, dalam sekejap Nanda juga menatap ke arah Kinan.
“...aku ngebayangin warna hijau, tapi hijaunya tuh kayak gimana ya. Sedikit putih tapi sedikit gelap juga, kamu paham ngga?” Ucap Nanda.
“Sage maksud kamu?” Tanya Kinan.
“Sage?” Tanya Nanda bingung.
Kinan tertawa kecil, ia mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan apa yang ia maksud tadi.
“Ini kan?” Tanya Kinan lagi.
“Nah ini maksud aku, sedikit putih tapi sedikit gelap juga. Aku baru tau kalau namanya Sage.” Ucap Nanda.
Kinan melihat desainnya, “Ide kamu kayaknya cocok deh buat desain aku yang ini. Aku langsung bisa ngebayangin detail-detail apa aja yang bisa ditambahin.”
Kinan mengambil pensil dari dalam tasnya, Nanda pun memberikan buku itu kepada Kinan. Garis-garis tipis mulai Kinan berikan pada desainnya, Nanda terlihat kagum dengan apa yang Kinan lakukan saat ini. Beberapa saat berlalu, Kinan kembali menunjukkan hasilnya kepada Nanda.
“Gimana menurut kamu?” Tanya Kinan.
“Wah…” Nanda terdiam sesaat, “jadi beda banget sama yang tadi. Buat aku ini bagus banget Nan untuk ukuran aku yang ngga paham fashion.”
“Serius? Aku tiba-tiba kepikiran aja abis kamu ngasih ide buat warnanya. Aku bakalan kasih ini sih ke Natanoto secepetnya.” Ucapnya.
“Tapi kamu hebat sih bisa langsung desain begitu aja.” Ucap Nanda.
“Ya kadang kan ide itu bisa dateng kapan aja, di mana aja, bahkan sama siapa aja. Sekarang, aku lagi sama kamu bisa dapet ide.” Jawabnya.
“Setuju sih, eh iya aku lupa. Kan aku mau kirim foto tadi ke kamu…” Nanda mengeluarkan kamera dari dalam tasnya, “kamu bisa connect ke kamera aku.”
“Oh iya, bentar deh.”
Kinan menyambungkan ponselnya pada kamera Nanda, beberapa foto pun berhasil ditransfer dengan mudah. Kinan kembali melihat hasil foto yang ia lakukan tadi.
“Aku beneran suka deh sama hasil foto kamu.” Ucap Kinan.
“Apa yang bikin kamu suka?” Tanya Nanda.
“Hm, aku ngerasa kalau foto ini hidup. Entah akunya, entah lingkungannya, entah kamunya yang bisa bikin ini keliatan jadi hidup. Itu yang bikin aku suka banget sama foto ini.” Jelas Kinan.
“Aku diajarin untuk bisa bikin sebuah foto itu terasa hidup, ternyata itu susah banget. Udah berapa kali aku foto sana foto sini, masih ngga bisa bikin foto itu hidup. Seiring berjalannya waktu, akhirnya aku bisa juga. Untuk jawab kebingungan kamu, tiga elemen itu penting sih.” Jawab Nanda.
“Kalau di aku ada namanya rule of thirds.” Ucap Kinan.
“Loh, rule of thirds juga namanya? Fotografi juga ada itu.” Ucap Nanda.
“Oh serius? Berarti akan selalu ada rule of thirds apapun kegiatannya ya.” Kata Kinan.
“Secara ngga langsung sih mungkin tiap aspek ada, tinggal kita representasiin aja rule of thirds itu gimana.” Ucap Nanda.
“Setuju sih, bahkan jangan-jangan sekarang kita juga lagi nerapin rule of thirds itu. Jadi…”
Seketika pikiran Nanda melayang setelah mendengar ucapan Kinan. Mungkin memang benar jika saat ini mereka sedang menerapkan rule of thirds, dimana akan ada tiga aspek yang akan bersinggungan satu sama lain. Pertama adalah Nanda, kedua adalah Kinan, dan ketiga adalah…
“Nan?...”
Nanda berkedip beberapa kali, kemudian ia menatap Kinan.
“...kamu kenapa?” Tanya Kinan.
“Eh maaf banget, tiba-tiba aku ngeblank.” Jawabnya.
“Beneran kamu nggapapa?” Tanya Kinan lagi.
“Beneran kok.” Jawabnya bohong.
Kinan menghela nafas, “Ya udah bener ya? Kalau kamu kenapa-napa bilang. Eh iya, kamu abis ini mau ke mana? Kalau kosong, aku mau ngajakin kamu ke tempat aku.”
“Ngga ke mana-mana sih.” Jawabnya singkat.
“Ikut ya ke tempat aku.” Ajak Kinan.
Nanda hanya mengangguk mengikuti ajakan Kinan. Waktu berjalan dengan semestinya, hingga tak terasa malam pun tiba. Kinan membuka kunci pintu lalu mempersilahkan Nanda masuk terlebih dahulu, kemudian ia kembali mengunci pintunya lagi.
“Kamu mau whiskey ngga?” Tanya Kinan.
Nanda mengangguk pertanda setuju. Kinan berlalu mengambil botol minuman di dapur, ia kembali dengan gelas yang sudah terisi dengan es batu. Ia memberikan satu gelas kepada Nanda, kemudian menuangkan whiskey ke dalam gelasnya. Nanda pun meraih botol tersebut dan bergantian menuangkannya ke dalam gelas milik Kinan.
“Makasih…”
Kinan mengulurkan gelasnya pada Nanda. Kling! Mereka minum secara perlahan. Mereka pun duduk di atas kasur menatap ke arah televisi yang tidak menyala.
“...eh iya, kamu masih suka main sama temen kamu yang waktu itu?” Tanya Kinan.
“Masih kok, paling sebentar lagi dia nanyain aku di mana.” Jawab Nanda.
“Kalau yang perempuan juga sama?” Tanya Kinan lagi.
“Masih juga. Kenapa emangnya?” Ucap Nanda.
“Nggapapa, aku ngerasa iri aja sama kamu dan temen-temen kamu. Keliatannya kalian bukan sekedar temen biasa, ada hubungan spesial di antara kalian.” Jawab Kinan.
“Spesial? Aku ngga ngerti.” Tanya Nanda.
“Antara kamu, yang laki-laki, dan yang perempuan, kayak adik kakak aja pas aku liat kalian di sana. Itu yang aku maksud sama spesial sih.” Jelas Kinan.
“Kalau soal itu mungkin ada benernya juga…”
Kinan bersandar pada pundak Nanda selagi ia bercerita.
“...aku sama yang laki-laki itu temenan dari pas dia masuk ke Kantor, dia masih junior saat itu, dan ternyata bisa sampai sekarang. Kalau yang perempuan itu dulunya suka digodain sama temenku yang laki-laki, eh malah sekarang jadi temenan sekalipun beda divisi.” Jelas Nanda.
“Aku dengernya aja udah bisa ngebayangin seseru apa kalian kalau lagi istirahat, atau pulang Kantor main dulu, bahkan akhir pekan juga bisa main bareng.” Ucap Kinan.
“Kamu sama sekali ngga ada temen?” Tanya Nanda.
“Ngga ada, terlebih aku ngga dari Kota ini. Untuk bergaul jadi susah sama orang lain.” Jawabnya.
“Itu juga yang jadi alasan kamu di Sexaworld?” Tanya Nanda.
“Ngga sih, kamu cuma satu-satunya orang dari Sexaworld yang masih berhubungan sama aku, sisanya ya lewat gitu aja.” Jawabnya.
Nanda mengangguk mendengar jawaban Kinan, mereka minum perlahan secara bersamaan, menatap ke arah televisi yang merefleksikan diri mereka. Entah disadari atau tidak, Nanda memandang Kinan dari televisi itu. Ia melihat Kinan dengan tatapannya yang nampak kosong, entah apa yang sedang ia pikirkan. Nanda memilih untuk diam dan tidak mengganggunya, sampai akhirnya Kinan menghela nafas cukup dalam.
“Kamu kenapa?” Tanya Nanda.
“Aku ngerasa capek aja, ngga tau kenapa.” Jawabnya.
“Close your eyes…”
Kinan menuruti ucapan Nanda, ia memejamkan matanya dengan sengaja. Nanda pun memilih diam, membiarkan suasana hening dalam kamar menyelimuti mereka. Terdengar samar suara nafas Kinan yang teratur, ia terlelap dalam tidurnya. Nanda meraih gelas yang masih Kinan genggam, ia meletakkannya di meja yang ada di sampingnya. Nanda kembali minum whiskey yang tersisa di gelasnya secara perlahan. Ting!
Mata Nanda tertuju pada ponsel Kinan yang menyala di dekatnya, secara perlahan ia mengambil ponsel tersebut dan melihatnya. Sebuah pesan masuk dari Sexaworld memberitahukan bahwa ada pengguna yang ingin bertemu dengan Kinan. Nanda menghela nafasnya cukup dalam, itu pun membuat Kinan terbangun dari tidur singkatnya. Dengan cepat Nanda kembali meletakkan ponsel milik Kinan ke tempat semula, seolah-olah tidak ada yang terjadi.
“Aku ketiduran ya Nan?” Tanya Kinan.
“Iya, kamu tiba-tiba aja tidur. Gelas kamu aku taruh di meja samping. Eh iya, tadi ponsel kamu bunyi deh.” Ucap Nanda.
“Oh iya? Aku cek dulu.” Ucap Kinan.
Kinan meraih ponsel yang ada di sampingnya, Nanda membuang pandangannya seolah tidak mau ikut campur, sekalipun ia sudah tau secara diam-diam.
“Nan…”
Kinan duduk dengan tegak, Nanda pun menatapnya.
“...aku ada janji temu sama orang.” Ucap Kinan.
“Oh ya udah pas banget, temen aku tadi ngajakin aku pergi…”
Nanda menghabiskan minumannya dalam sekali teguk, ia meletakkan gelas kosong itu di samping gelas Kinan yang masih terisi.
“...kalau gitu aku sekalian pamit ya.” Ucap Nanda.
Nanda bangun dari duduknya diikuti oleh Kinan, ia berjalan menuju pintu dan membuka kuncinya. Nanda membalikkan badannya untuk berpamitan kepada Kinan, namun semuanya tertahan ketika Kinan mencium bibirnya. Pikiran Nanda kosong sejenak, sampai akhirnya Kinan menjauhkan wajahnya.
“Hati-hati ya Nan.” Ucap Kinan.
“Aku pergi ya Nan.” Ucap Nanda.
Nanda melangkah keluar dari kamar Kinan menuju lift. Setibanya di lobi, ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ada panggilan masuk yang berasal dari Diandra.
“Halo Di.” Jawab Nanda.
“Halo, Mas Nanda lagi di mana?” Tanya Diandra.
“Aku lagi di luar abis hunting foto, kenapa Di?” Ucap Nanda.
“Mau ikut ngga Mas? Aku mau ke Midori sama Bang Batak.” Jawab Diandra.
“Oke, aku ke sana.” Ucap Nanda.
i4munited dan oktavp memberi reputasi
2
Kutip
Balas