- Beranda
- Stories from the Heart
Nan and Sexaworld
...
TS
beavermoon
Nan and Sexaworld

Spoiler for Peringatan:
Cerita ini mengandung unsur seksual vulgar.
Jika belum boleh, disarankan untuk tunggu sampai waktunya.
Jika sudah boleh, mainkan imajinasimu.
Jika belum boleh, disarankan untuk tunggu sampai waktunya.
Jika sudah boleh, mainkan imajinasimu.
Pernahkah kalian menggunakan aplikasi kencan? Apa alasannya? Mencari jodoh? Mencoba peruntungan? Atau mencari pelarian dari sakit hati?
Nanda mulai pengalamannya dengan aplikasi kencan untuk pertama kalinya. Bukan tanpa sebab, sakit hati menjadi alasannya. Ia pun mencoba mencari pelarian di aplikasi tersebut, hingga tak diduga, ia kembali menemukan perasaannya di sana.
Lantas, apakah ia akan kembali jatuh cinta setelah sakit hati sebelumnya?
Spoiler for Episode:
1. Bersemi dengan Indah.
2. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 1)
3. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 2)
4. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 3)
5. Langit Abu-Abu. (Part 1)
6. Langit Abu-Abu. (Part 2)
7. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 1)
8. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 2)
9. When The World Is Yours...
10. Take Your Time...
11. Semua Orang Punya Rahasia.
12. Nan... (Part 1)
13. Nan... (Part 2)
14. Perdebatan Batin. (Part 1)
15. Perdebatan Batin. (Part 2)
16. Tak Sengaja...
17. Di Bawah Hujan, Semuanya Terungkap.
18. Upaya Maksimal. (Part 1)
19. Upaya Maksimal. (Part 2)
20. Dilema. (Part 1)
21. Dilema. (Part 2)
22. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 1)
23. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 2)
24. When The World is Mine... (FINALE)
Behind The Nan...
2. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 1)
3. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 2)
4. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 3)
5. Langit Abu-Abu. (Part 1)
6. Langit Abu-Abu. (Part 2)
7. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 1)
8. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 2)
9. When The World Is Yours...
10. Take Your Time...
11. Semua Orang Punya Rahasia.
12. Nan... (Part 1)
13. Nan... (Part 2)
14. Perdebatan Batin. (Part 1)
15. Perdebatan Batin. (Part 2)
16. Tak Sengaja...
17. Di Bawah Hujan, Semuanya Terungkap.
18. Upaya Maksimal. (Part 1)
19. Upaya Maksimal. (Part 2)
20. Dilema. (Part 1)
21. Dilema. (Part 2)
22. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 1)
23. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 2)
24. When The World is Mine... (FINALE)
Behind The Nan...
Diubah oleh beavermoon 01-04-2023 20:22
bukhorigan dan 2 lainnya memberi reputasi
3
4K
Kutip
30
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#20
Spoiler for 18. Upaya Maksimal. (Part 1):
Tit!Andreas mengunci mobilnya yang sudah terparkir, ia pun berjalan menuju halaman depan Kantor. Tiba-tiba saja ia berbelok ke arah luar.
“Minum kopi dulu ah.” Ucapnya seorang diri.
Andreas masuk ke dalam kedai kopi yang bersebelahan dengan Kantornya, ia pun mendekat ke arah kasir yang sedang melayani seorang perempuan. Matanya sedikit menegas, ia pun mengenali perempuan itu lalu berdiri di sampingnya.
“Sekalian latte panas ya Mba…” Andreas mengeluarkan selembar uang, “biar aku yang bayar.”
“Eh Bang Batak, aku kira siapa. Makasih ya Bang.” Ucap Diandra.
“Santai lah.” Jawabnya singkat.
Pesanan mereka pun tiba, mereka kembali menuju halaman Kantor. Mereka duduk di salah satu bangku yang tersedia, Andreas menyalakan sebatang rokok sementara Diandra meminum kopinya secara perlahan.
“Eh Bang, aku mau cerita. Masa tadi aku pas berangkat ke sini ngeliat ada perempuan sama laki-laki berantem di Halte.” Sahut Diandra.
“Pagi-pagi gini?” Tanya Andreas heran.
“Iya Bang, mana si perempuannya ditarik-tarik tangannya sama si laki-laki.” Lanjut Diandra.
“Baku hantam mereka? Kek mana ada laki-laki macam itu? Aneh kali dia.” Ucap Andreas,
“Itu dia, mana bikin macet banget lagi.” Ucap Diandra.
“Eh aku juga punya cerita. Tadi pas aku lagi berhenti di lampu merah, ada perempuan cantik kali lagi nyebrang. Kupantau dia terus, pas di seberang jalan tiba-tiba dia jongkok…”
Diandra menyalakan rokok seraya menatap Andreas.
“…Kutengok lagi, dia gendong anak kecil. Penasaran, kubukalah jendela, anak itu panggil dia 'Mama'. Alamak!” Ucap Andreas.
Diandra tertawa mendengar cerita Andreas hingga ia sedikit tersedak, Andreas pun juga ikut tertawa pada akhirnya.
“Ngga jodoh berarti Bang.” Sahut Diandra.
“Itu dia, apa iya semua perempuan cantik sudah berjodoh sama orang ya? Ngga dapat aku sisa-sisanya.” Ucap Andreas.
“Ada, Bang Batak aja kali yang ngga sadar. Bisa aja, mungkin emang Bang Batak yang belum ketemu sama dia. Mungkin minggu depan, bulan depan, atau bisa aja besok.” Jawab Diandra.
“Semoga secepatnya lah.” Ucap Andreas.
“Amin…”
Andreas dan Diandra menatap ke arah belakang dimana Nanda berjalan mendekat ke arah mereka. Ia pun mengambil posisi duduk di antara mereka.
“Eh, pagi Mas Nanda.” Ucap Diandra.
“Nah ini dia, Abangku yang selalu mendukung.” Ucap Andreas.
“Pagi Di…” Nanda merangkul Andreas, “tapi kerjain dulu tugas-tugas lo yang nyangkut di atas, kalau ngga gue masukin ke dalam daftar.”
“Iya Bang, ini langsung kubantai semuanya.” Jawab Andreas.
Nanda menyalakan sebatang rokok.
“Eh Mas, emang bener katanya hari ini bakalan ada rapat soal mutasi itu? Aku dapet kabar dari grup divisi aku, dan jadinya rame banget.” Sahut Diandra.
“Rapat? Soal apa Bang?” Tanya Andreas.
“Ya bahas persyaratan awal aja, apa aja sih yang bakalan jadi aspek orang itu mutasi apa ngga, dan kemungkinan sih udah ada lokasi mutasinya.” Jawab Nanda.
“Aku kena ngga Bang?” Tanya Andreas.
“Kan baru mau mulai Batak, gue juga belum tau apa aja nih yang bakalan dibahas.” Jawab Nanda.
Diandra tertawa mendengar percakapan mereka. Perbincangan singkat pun usai menjelang jam masuk Kantor, mereka masuk ke dalam Kantor dan mulai mengerjakan tugas mereka masing-masing.
Menjelang siang, Nanda sedang berada di dalam ruang rapat bersama jajaran direksi lainnya. Ia sempat melihat ke arah luar lewat kaca jendela, langit mendung menyelimuti kota. Selayang pandang, Nanda kembali melihat ke arah depan di mana presentasi sedang dimulai.
Rapat pun selesai, Nanda kembali menatap ke arah luar di mana hujan sudah turun dengan intensitas sedang. Ia pun bangun dari duduk dan keluar bersama beberapa orang lainnya. Ia kembali ke lantai kerjanya, sudah ada Andreas dan Diandra di meja kerjanya.
“Loh, ngapain kalian? Kan udah jam istirahat.” Ucap Nanda.
“Kau tak nampak Bang, hujan di luar.” Ucap Andreas.
“Iya juga ya. Yaudah, kalian mau makan apa? Gue yang beliin deh ke sebelah.” Ucap Nanda.
“Eh serius Mas? Aku temenin deh.” Sahut Diandra.
“Ngga usah, kalian di sini aja. Mau makan apa nih?” Tanya Nanda.
“Bento aja lah Bang yang praktis.” Jawab Andreas.
“Aku juga mau deh. Nanti aku transfer ya Mas.” Jawab Diandra juga.
“Oke kalau begitu.” Ucap Nanda.
Nanda turun ke lantai dasar, ia berlari menuju minimarket yang ada di sebelah Kantor. Pakaiannya sedikit basah, ia masuk ke dalam minimarket untuk membeli pesanan mereka. Setelah membayar, ia kembali berlari menuju Kantor. Akhirnya mereka makan bersama di meja kerja Nanda.
“Eh, aku mau nanya Bang…”
Nanda menatap ke arah Andreas.
“...cemana sama Kinan? Kau masih mau kejar dia?” Tanya Andreas.
“Menurut lo gimana? Apa mending gue lupain aja dia?” Tanya Nanda.
“Aku pun bingung Bang. Kau mau lanjut bisa saja, cuma apa iya harus Bang? Maksudku, kau ngga seharusnya macam itu. Kau bisa dapat yang lain menurutku.” Jawab Andreas.
“Kalau menurut kamu gimana Di?” Tanya Nanda lagi.
“Kalau emang udah nyebur, kenapa ngga nyelem aja sekalian?...”
Andreas pun ikut menatap Diandra.
“...Anggap aja Mas Nanda udah setengah basah, kenapa ngga sekalian aja? Biar basah semuanya, Mas Nanda ngga ngerasa nyesel, dan puas sama semuanya, terlepas dari apapun hasilnya ya.” Jelas Diandra.
“Ada benarnya juga sih…” Andreas menatap Nanda, “macam sekarang aja Bang, kau sudah setengah basah, mending habis makan kau mandi hujan di luar.”
“Kuseret kau ikut sama aku.” Sahut Nanda.
Mereka tertawa disela makan siang ini. Waktu terus berlanjut hingga malam pun tiba. Nanda merentangkan tangannya ke atas, ia melihat ke arah sekeliling, hanya ia sendiri yang tersisa. Ia melihat ke arah luar, gerimis masih turun. Nanda memutuskan untuk membereskan barang-barangnya, ia pun turun ke lantai bawah.
Nanda berhenti sejenak di halaman depan, ia merogoh saku celananya lalu mengeluarkan bungkus rokok. Ia mengambil satu batang lalu menyalakannya. Asap rokok pun ia hembuskan ke arah depan, bersamaan dengan Kinan yang berjalan mendekat dengan payung yang ia kenakan. Tentu saja kedatangan Kinan membuat Nanda mematung dalam sekejap.
“Kamu…”
“Kamu lembur apa gimana?...” Kinan memotong ucapan Nanda, “kok sisa kamu sendirian di sini?”
“Aku… lembur. Kok kamu bisa tau aku di sini?” Ucap Nanda.
“Hm, ngga tau. Tiba-tiba aja aku mau ke sini, dan kebetulan ada kamu. Ngomong-ngomong, kamu ngga bawa payung kan? Mau bareng?...”
Kinan mengulurkan tangannya yang sedang memegang payung.
Nanda menatap payung itu. Gerimis masih saja turun, bus pun berhenti di sebuah halte. Nanda membuka payung dan keluar dari dalam bus bersama Kinan. Mereka lanjut berjalan bersampingan menelusuri jalanan yang sudah mulai sepi.
“Kamu emang sering lembur apa gimana?” Tanya Kinan.
“Jarang sih, paling satu kali dalam sebulan kayak hari ini.” Jawab Nanda.
“Gimana kerjaan kamu?” Tanya Kinan lagi.
“Sedikit lebih sibuk sih bulan ini, jajaran atas minta ada perputaran. Jadi nanti akan banyak banget yang dimutasi ke luar daerah, dan dari daerah ke sini.” Jelas Nanda.
“Oh iya? Kamu termasuk?” Tanya Kinan.
“Bisa jadi, lebih tepatnya ngga tau. Jadi tugasku itu ngasih catatan penilaian anak-anak, sementara nilaiku sendiri kan jajaran atas yang nyatet.” Jelas Nanda.
Mereka berbelok menuju jalanan yang lebih kecil.
“Kamu sendiri gimana?” Tanya Nanda.
“Lagi cari-cari ide aja sih, Natanoto mau ngeluarin produk buat akhir tahun nanti. Jadi aku masih riset-riset aja.” Jawab Kinan.
“Kalau Sexaworld?” Tanya Nanda.
“Aku belum buka lagi, terakhir kemarin. Aku liat-liat, kamu udah lumayan lama ngga aktif di sana.” Ucap Kinan.
Nanda hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan itu. Akhirnya mereka masuk ke dalam kawasan tempat tinggal Nanda dan berteduh di halaman depan.
“Kamu mau mampir?” Tanya Nanda.
“Nggapapa aku mampir?” Tanya Kinan balik.
Nanda kembali mengangguk, Kinan pun setuju lalu melipat payung yang ia bawa. Mereka berjalan masuk ke dalam lift untuk menuju kamar Nanda. Lift pun tiba, mereka berjalan beberapa langkah hingga berhenti di depan pintu kamar Nanda.
Nanda membuka kunci pintu, ia mempersilahkan Kinan untuk masuk terlebih dahulu. Kinan pun nampak canggung dengan tempat yang baru ia kunjungi malam ini, ia menunggu Nanda untuk memberikan instruksi.
“Kamu duduk aja dulu di sofa…”
Kinan pun berjalan menuju sofa dan duduk, Nanda beranjak menuju dapur lalu membuka lemari es.
“...kamu mau minum apa?” Tanya Nanda.
“Apa aja boleh kok Nan.” Jawabnya.
Nanda mengambil beberapa es batu yang ia masukkan ke dalam gelas. Ia membuka laci dan mengeluarkan satu botol whiskey yang ia tuangkan juga ke dalam gelas. Nanda membawa dua gelas ke arah Kinan dan memberikan satu untuknya.
“Makasih ya…”
Kling! Mereka minum secara perlahan.
“...aku suka deh sama tempat tinggal kamu, kesannya nyaman dan bersih untuk ukuran laki-laki yang tinggal sendiri.” Ucap Kinan.
“Kalau nyaman aku setuju, makanya dulu pas survey ke tempat ini aku langsung setuju. Kalau bersih, aku ngga tau deh.” Jawabnya.
“Tapi beneran bersih tau. Biasanya kalau laki-laki suka males bersih-bersih, tapi ini bersih dan rapi.” Sahut Kinan.
“Aku anggep itu sebagai pujian, terima kasih.” Ucap Nanda.
Kinan melempar senyum menanggapinya, namun matanya menajam ke arah kemeja yang dikenakan oleh Nanda. Tangannya pun mengusap lengan kemeja Nanda beberapa kali.
“Kemeja kamu kok basah?” Tanya Kinan.
“Oh ini…” Nanda menatap tangan Kinan, “tadi siang aku beli makan di sebelah Kantor, sayangnya ngga bawa payung. Jadinya sedikit hujan-hujanan.”
“Ganti baju dulu, nanti kamu sakit.” Ucap Kinan.
“Aku sekalian mandi deh, kamu tunggu sebentar ya.” Ucap Nanda.
Kinan mengangguk pertanda setuju. Nanda bangun dari duduknya lalu bergegas menuju kamarnya. Ia membuka kemeja yang ia kenakan lalu beranjak menuju kamar mandi. Beberapa saat berlalu, Nanda keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaian yang ia kenakan. Ia kembali menuju sofa dimana Kinan masih duduk sambil memainkan ponselnya.
“Lama ngga?” Tanya Nanda.
“Ngga kok…” Kinan meletakkan ponselnya di atas meja, “oh iya, kamu udah makan belum? Aku baru kepikiran pas kamu ngasih aku minum.”
“Makan siang sih tadi, pulang Kantor langsung ketemu kamu.” Jawabnya.
“Kamu mau makan apa?” Tanya Kinan.
“Makan apa ya? Aku bingung. Kamu mau makan apa?” Tanya Nanda balik.
“Kamu ngga ada bahan-bahan buat dimasak? Kalau ada bisa aku masakin, semisal ngga ada berarti delivery aja.” Jawabnya.
Nanda menengok ke arah dapur, “Aku lupa sih ada bahan-bahan apa aja yang ada, apa mau kamu cek dulu?”
“Boleh…”
Kinan beranjak menuju dapur, ia melihat-lihat isi lemari es dan laci di mana Nanda menyimpan bahan-bahan. Nanda pun mendekat ke arah Kinan.
“...ada beberapa bahan nih, mau aku masakin aja?” Tanya Kinan.
“Ngerepotin ngga?” Tanya Nanda.
Kinan tersenyum menjawabnya. Ia mengeluarkan beberapa bahan dari lemari es dan juga laci, Ia juga mengambil alat-alat yang dibutuhkan. Nanda berdiri di samping Kinan.
“Mau aku bantuin ngga?” Tanya Nanda.
“Ngga usah, kamu duduk aja…”
Kinan mendorong Nanda secara perlahan hingga ia duduk di sofa, ia menepuk pundak Nanda beberapa kali secara perlahan.
“...Udah kamu santai aja.” Jawabnya.
Kinan kembali ke dapur untuk kembali mempersiapkan makan malam untuk mereka, Nanda hanya bisa menatapnya dalam diam dan membiarkan apa yang ingin ia lakukan.
Kinan mulai memotong-motong bahan-bahan, ia menyalakan kompor elektrik dan mulai memasukkan bahan-bahan tersebut ke dalam wajan. Sesekali Kinan menengok ke arah Nanda dan melempar senyum, ia pun hanya bisa membalas dengan senyuman juga. Akhirnya makanan pun siap, Kinan membawakan dua piring ke sofa di mana Nanda berada.
“Silahkan…” Kinan duduk di samping Nanda, “kalau ngga enak maaf ya, aku udah mulai jarang masak.”
“Kalau diliat dari penampilannya, kemungkinan ngga enaknya sangat kecil. Makasih ya Nan.” Ucap Nanda.
“Makasih Nan, ayo dimakan.” Ajak Kinan.
Mereka mulai makan malam bersama dengan menu sederhana. Suapan pertama berhasil membuat Nanda menatap Kinan.
“Ini enak banget Nan, sumpah aku ngga bohong.” Ucapnya.
“Serius?...” Kinan tersenyum, “makasih ya.”
Mereka kembali melanjutkan makan malam di sela hujan yang masih turun. Beberapa suapan berlalu, akhirnya makanan pun habis tak bersisa di piring. Nanda sedang mencuci piring sementara Kinan sedang minum di sofa. Nanda pun kembali duduk di samping Kinan dan menyalakan sebatang rokok yang juga diikuti oleh Kinan.
“Kamu besok kerja jam berapa?” Tanya Kinan.
“Biasa sih jam 7 berangkat.” Jawabnya.
“Ya udah, minuman ini abis, kamu langsung tidur. Udah jam sebelas nih ngga berasa.” Ucap Kinan.
“Kamu mau pulang?” Tanya Nanda.
“Iya, kan kamu harus berangkat pagi besok.” Jawabnya.
“Aku anterin ya.” Ucap Nanda.
“Ngga usah Nan, aku bisa pulang sendiri.” Jawabnya.
Nanda hanya menghela nafasnya. Mereka kembali meminum whiskey yang masih tersisa, sesekali mereka menghisap rokok yang masih ada di tangan, dan tak terasa gelas pun kosong.
“Aku pulang sekarang ya.” Ucap Kinan.
Nanda mengangguk setuju, mereka bangun dari duduk lalu berjalan menuju pintu. Nanda membuka kunci pintu sementara Kinan memakai sweater yang ia kenakan. Ia pun berjalan keluar pintu dan kembali menatap Kinan.
“Makasih ya Nan udah mau…”
Nanda terdiam ketika Kinan menciumnya. Ia melihat mata Kinan yang sudah terpejam, Nanda pun ikut memejamkan matanya, menikmati momen yang ada meskipun hanya sesaat. Kinan menjauhkan wajahnya, mereka pun kembali membuka mata dan saling beradu tatap.
“Aku pulang dulu ya.” Ucap Kinan.
Kinan melambaikan tangannya lalu berjalan menjauh dari Nanda, langkahnya terhenti menunggu lift hingga ia hilang dari pandangan Nanda. Ia kembali masuk ke dalam lalu beranjak menuju kamarnya. Ting! Nanda merebahkan dirinya di atas kasur, ia membaca pesan dari ponselnya.
“Good Night Nan…” Kinan.
Nanda membalas pesan itu, kemudian ia merentangkan tangannya dan membuat ponselnya terletak sedikit jauh. Nanda memejamkan matanya, membiarkan hari ini berakhir sampai detik ini saja.
Pagi menjelang, Nanda keluar dari dalam lift menuju halaman depan tempat tinggalnya. Gerimis masih turun sejak kemarin, dengan jaket yang ia kenakan, ia berjalan menuju Halte.
Bus pun berhenti di Halte, Nanda keluar bersama beberapa orang lain dengan langkah yang sedikit lebih cepat. Beberapa langkah lagi ia akan memasuki kawasan Kantornya.
“Mas Nanda…”
Nanda menatap ke arah belakang, Diandra menghampirinya dengan payung yang ia kenakan.
“...pagi Mas.” Sapa Diandra.
“Pagi Di. Nah, mumpung ketemu kamu, mau ngopi dulu ngga sekalian ngobrol? Kalau kamu mau kita mampir dulu ke situ?” Tanya Nanda.
“Boleh Mas, aku juga santai kok.” Jawabnya.
Mereka mampir untuk membeli kopi. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka kembali berjalan masuk ke dalam kawasan Kantor. Nanda dan Diandra menyempatkan singgah di halaman Kantor.
“Makasih ya Mas kopinya.” Ucap Diandra.
“Sama-sama…” Nanda menyalakan sebatang rokok, “eh aku mau nanya deh. Apa yang bikin kamu tertarik sama laki-laki? Maksudku, apa yang pertama kamu liat dari dia?”
“Minum kopi dulu ah.” Ucapnya seorang diri.
Andreas masuk ke dalam kedai kopi yang bersebelahan dengan Kantornya, ia pun mendekat ke arah kasir yang sedang melayani seorang perempuan. Matanya sedikit menegas, ia pun mengenali perempuan itu lalu berdiri di sampingnya.
“Sekalian latte panas ya Mba…” Andreas mengeluarkan selembar uang, “biar aku yang bayar.”
“Eh Bang Batak, aku kira siapa. Makasih ya Bang.” Ucap Diandra.
“Santai lah.” Jawabnya singkat.
Pesanan mereka pun tiba, mereka kembali menuju halaman Kantor. Mereka duduk di salah satu bangku yang tersedia, Andreas menyalakan sebatang rokok sementara Diandra meminum kopinya secara perlahan.
“Eh Bang, aku mau cerita. Masa tadi aku pas berangkat ke sini ngeliat ada perempuan sama laki-laki berantem di Halte.” Sahut Diandra.
“Pagi-pagi gini?” Tanya Andreas heran.
“Iya Bang, mana si perempuannya ditarik-tarik tangannya sama si laki-laki.” Lanjut Diandra.
“Baku hantam mereka? Kek mana ada laki-laki macam itu? Aneh kali dia.” Ucap Andreas,
“Itu dia, mana bikin macet banget lagi.” Ucap Diandra.
“Eh aku juga punya cerita. Tadi pas aku lagi berhenti di lampu merah, ada perempuan cantik kali lagi nyebrang. Kupantau dia terus, pas di seberang jalan tiba-tiba dia jongkok…”
Diandra menyalakan rokok seraya menatap Andreas.
“…Kutengok lagi, dia gendong anak kecil. Penasaran, kubukalah jendela, anak itu panggil dia 'Mama'. Alamak!” Ucap Andreas.
Diandra tertawa mendengar cerita Andreas hingga ia sedikit tersedak, Andreas pun juga ikut tertawa pada akhirnya.
“Ngga jodoh berarti Bang.” Sahut Diandra.
“Itu dia, apa iya semua perempuan cantik sudah berjodoh sama orang ya? Ngga dapat aku sisa-sisanya.” Ucap Andreas.
“Ada, Bang Batak aja kali yang ngga sadar. Bisa aja, mungkin emang Bang Batak yang belum ketemu sama dia. Mungkin minggu depan, bulan depan, atau bisa aja besok.” Jawab Diandra.
“Semoga secepatnya lah.” Ucap Andreas.
“Amin…”
Andreas dan Diandra menatap ke arah belakang dimana Nanda berjalan mendekat ke arah mereka. Ia pun mengambil posisi duduk di antara mereka.
“Eh, pagi Mas Nanda.” Ucap Diandra.
“Nah ini dia, Abangku yang selalu mendukung.” Ucap Andreas.
“Pagi Di…” Nanda merangkul Andreas, “tapi kerjain dulu tugas-tugas lo yang nyangkut di atas, kalau ngga gue masukin ke dalam daftar.”
“Iya Bang, ini langsung kubantai semuanya.” Jawab Andreas.
Nanda menyalakan sebatang rokok.
“Eh Mas, emang bener katanya hari ini bakalan ada rapat soal mutasi itu? Aku dapet kabar dari grup divisi aku, dan jadinya rame banget.” Sahut Diandra.
“Rapat? Soal apa Bang?” Tanya Andreas.
“Ya bahas persyaratan awal aja, apa aja sih yang bakalan jadi aspek orang itu mutasi apa ngga, dan kemungkinan sih udah ada lokasi mutasinya.” Jawab Nanda.
“Aku kena ngga Bang?” Tanya Andreas.
“Kan baru mau mulai Batak, gue juga belum tau apa aja nih yang bakalan dibahas.” Jawab Nanda.
Diandra tertawa mendengar percakapan mereka. Perbincangan singkat pun usai menjelang jam masuk Kantor, mereka masuk ke dalam Kantor dan mulai mengerjakan tugas mereka masing-masing.
Menjelang siang, Nanda sedang berada di dalam ruang rapat bersama jajaran direksi lainnya. Ia sempat melihat ke arah luar lewat kaca jendela, langit mendung menyelimuti kota. Selayang pandang, Nanda kembali melihat ke arah depan di mana presentasi sedang dimulai.
Rapat pun selesai, Nanda kembali menatap ke arah luar di mana hujan sudah turun dengan intensitas sedang. Ia pun bangun dari duduk dan keluar bersama beberapa orang lainnya. Ia kembali ke lantai kerjanya, sudah ada Andreas dan Diandra di meja kerjanya.
“Loh, ngapain kalian? Kan udah jam istirahat.” Ucap Nanda.
“Kau tak nampak Bang, hujan di luar.” Ucap Andreas.
“Iya juga ya. Yaudah, kalian mau makan apa? Gue yang beliin deh ke sebelah.” Ucap Nanda.
“Eh serius Mas? Aku temenin deh.” Sahut Diandra.
“Ngga usah, kalian di sini aja. Mau makan apa nih?” Tanya Nanda.
“Bento aja lah Bang yang praktis.” Jawab Andreas.
“Aku juga mau deh. Nanti aku transfer ya Mas.” Jawab Diandra juga.
“Oke kalau begitu.” Ucap Nanda.
Nanda turun ke lantai dasar, ia berlari menuju minimarket yang ada di sebelah Kantor. Pakaiannya sedikit basah, ia masuk ke dalam minimarket untuk membeli pesanan mereka. Setelah membayar, ia kembali berlari menuju Kantor. Akhirnya mereka makan bersama di meja kerja Nanda.
“Eh, aku mau nanya Bang…”
Nanda menatap ke arah Andreas.
“...cemana sama Kinan? Kau masih mau kejar dia?” Tanya Andreas.
“Menurut lo gimana? Apa mending gue lupain aja dia?” Tanya Nanda.
“Aku pun bingung Bang. Kau mau lanjut bisa saja, cuma apa iya harus Bang? Maksudku, kau ngga seharusnya macam itu. Kau bisa dapat yang lain menurutku.” Jawab Andreas.
“Kalau menurut kamu gimana Di?” Tanya Nanda lagi.
“Kalau emang udah nyebur, kenapa ngga nyelem aja sekalian?...”
Andreas pun ikut menatap Diandra.
“...Anggap aja Mas Nanda udah setengah basah, kenapa ngga sekalian aja? Biar basah semuanya, Mas Nanda ngga ngerasa nyesel, dan puas sama semuanya, terlepas dari apapun hasilnya ya.” Jelas Diandra.
“Ada benarnya juga sih…” Andreas menatap Nanda, “macam sekarang aja Bang, kau sudah setengah basah, mending habis makan kau mandi hujan di luar.”
“Kuseret kau ikut sama aku.” Sahut Nanda.
Mereka tertawa disela makan siang ini. Waktu terus berlanjut hingga malam pun tiba. Nanda merentangkan tangannya ke atas, ia melihat ke arah sekeliling, hanya ia sendiri yang tersisa. Ia melihat ke arah luar, gerimis masih turun. Nanda memutuskan untuk membereskan barang-barangnya, ia pun turun ke lantai bawah.
Nanda berhenti sejenak di halaman depan, ia merogoh saku celananya lalu mengeluarkan bungkus rokok. Ia mengambil satu batang lalu menyalakannya. Asap rokok pun ia hembuskan ke arah depan, bersamaan dengan Kinan yang berjalan mendekat dengan payung yang ia kenakan. Tentu saja kedatangan Kinan membuat Nanda mematung dalam sekejap.
“Kamu…”
“Kamu lembur apa gimana?...” Kinan memotong ucapan Nanda, “kok sisa kamu sendirian di sini?”
“Aku… lembur. Kok kamu bisa tau aku di sini?” Ucap Nanda.
“Hm, ngga tau. Tiba-tiba aja aku mau ke sini, dan kebetulan ada kamu. Ngomong-ngomong, kamu ngga bawa payung kan? Mau bareng?...”
Kinan mengulurkan tangannya yang sedang memegang payung.
Nanda menatap payung itu. Gerimis masih saja turun, bus pun berhenti di sebuah halte. Nanda membuka payung dan keluar dari dalam bus bersama Kinan. Mereka lanjut berjalan bersampingan menelusuri jalanan yang sudah mulai sepi.
“Kamu emang sering lembur apa gimana?” Tanya Kinan.
“Jarang sih, paling satu kali dalam sebulan kayak hari ini.” Jawab Nanda.
“Gimana kerjaan kamu?” Tanya Kinan lagi.
“Sedikit lebih sibuk sih bulan ini, jajaran atas minta ada perputaran. Jadi nanti akan banyak banget yang dimutasi ke luar daerah, dan dari daerah ke sini.” Jelas Nanda.
“Oh iya? Kamu termasuk?” Tanya Kinan.
“Bisa jadi, lebih tepatnya ngga tau. Jadi tugasku itu ngasih catatan penilaian anak-anak, sementara nilaiku sendiri kan jajaran atas yang nyatet.” Jelas Nanda.
Mereka berbelok menuju jalanan yang lebih kecil.
“Kamu sendiri gimana?” Tanya Nanda.
“Lagi cari-cari ide aja sih, Natanoto mau ngeluarin produk buat akhir tahun nanti. Jadi aku masih riset-riset aja.” Jawab Kinan.
“Kalau Sexaworld?” Tanya Nanda.
“Aku belum buka lagi, terakhir kemarin. Aku liat-liat, kamu udah lumayan lama ngga aktif di sana.” Ucap Kinan.
Nanda hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan itu. Akhirnya mereka masuk ke dalam kawasan tempat tinggal Nanda dan berteduh di halaman depan.
“Kamu mau mampir?” Tanya Nanda.
“Nggapapa aku mampir?” Tanya Kinan balik.
Nanda kembali mengangguk, Kinan pun setuju lalu melipat payung yang ia bawa. Mereka berjalan masuk ke dalam lift untuk menuju kamar Nanda. Lift pun tiba, mereka berjalan beberapa langkah hingga berhenti di depan pintu kamar Nanda.
Nanda membuka kunci pintu, ia mempersilahkan Kinan untuk masuk terlebih dahulu. Kinan pun nampak canggung dengan tempat yang baru ia kunjungi malam ini, ia menunggu Nanda untuk memberikan instruksi.
“Kamu duduk aja dulu di sofa…”
Kinan pun berjalan menuju sofa dan duduk, Nanda beranjak menuju dapur lalu membuka lemari es.
“...kamu mau minum apa?” Tanya Nanda.
“Apa aja boleh kok Nan.” Jawabnya.
Nanda mengambil beberapa es batu yang ia masukkan ke dalam gelas. Ia membuka laci dan mengeluarkan satu botol whiskey yang ia tuangkan juga ke dalam gelas. Nanda membawa dua gelas ke arah Kinan dan memberikan satu untuknya.
“Makasih ya…”
Kling! Mereka minum secara perlahan.
“...aku suka deh sama tempat tinggal kamu, kesannya nyaman dan bersih untuk ukuran laki-laki yang tinggal sendiri.” Ucap Kinan.
“Kalau nyaman aku setuju, makanya dulu pas survey ke tempat ini aku langsung setuju. Kalau bersih, aku ngga tau deh.” Jawabnya.
“Tapi beneran bersih tau. Biasanya kalau laki-laki suka males bersih-bersih, tapi ini bersih dan rapi.” Sahut Kinan.
“Aku anggep itu sebagai pujian, terima kasih.” Ucap Nanda.
Kinan melempar senyum menanggapinya, namun matanya menajam ke arah kemeja yang dikenakan oleh Nanda. Tangannya pun mengusap lengan kemeja Nanda beberapa kali.
“Kemeja kamu kok basah?” Tanya Kinan.
“Oh ini…” Nanda menatap tangan Kinan, “tadi siang aku beli makan di sebelah Kantor, sayangnya ngga bawa payung. Jadinya sedikit hujan-hujanan.”
“Ganti baju dulu, nanti kamu sakit.” Ucap Kinan.
“Aku sekalian mandi deh, kamu tunggu sebentar ya.” Ucap Nanda.
Kinan mengangguk pertanda setuju. Nanda bangun dari duduknya lalu bergegas menuju kamarnya. Ia membuka kemeja yang ia kenakan lalu beranjak menuju kamar mandi. Beberapa saat berlalu, Nanda keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaian yang ia kenakan. Ia kembali menuju sofa dimana Kinan masih duduk sambil memainkan ponselnya.
“Lama ngga?” Tanya Nanda.
“Ngga kok…” Kinan meletakkan ponselnya di atas meja, “oh iya, kamu udah makan belum? Aku baru kepikiran pas kamu ngasih aku minum.”
“Makan siang sih tadi, pulang Kantor langsung ketemu kamu.” Jawabnya.
“Kamu mau makan apa?” Tanya Kinan.
“Makan apa ya? Aku bingung. Kamu mau makan apa?” Tanya Nanda balik.
“Kamu ngga ada bahan-bahan buat dimasak? Kalau ada bisa aku masakin, semisal ngga ada berarti delivery aja.” Jawabnya.
Nanda menengok ke arah dapur, “Aku lupa sih ada bahan-bahan apa aja yang ada, apa mau kamu cek dulu?”
“Boleh…”
Kinan beranjak menuju dapur, ia melihat-lihat isi lemari es dan laci di mana Nanda menyimpan bahan-bahan. Nanda pun mendekat ke arah Kinan.
“...ada beberapa bahan nih, mau aku masakin aja?” Tanya Kinan.
“Ngerepotin ngga?” Tanya Nanda.
Kinan tersenyum menjawabnya. Ia mengeluarkan beberapa bahan dari lemari es dan juga laci, Ia juga mengambil alat-alat yang dibutuhkan. Nanda berdiri di samping Kinan.
“Mau aku bantuin ngga?” Tanya Nanda.
“Ngga usah, kamu duduk aja…”
Kinan mendorong Nanda secara perlahan hingga ia duduk di sofa, ia menepuk pundak Nanda beberapa kali secara perlahan.
“...Udah kamu santai aja.” Jawabnya.
Kinan kembali ke dapur untuk kembali mempersiapkan makan malam untuk mereka, Nanda hanya bisa menatapnya dalam diam dan membiarkan apa yang ingin ia lakukan.
Kinan mulai memotong-motong bahan-bahan, ia menyalakan kompor elektrik dan mulai memasukkan bahan-bahan tersebut ke dalam wajan. Sesekali Kinan menengok ke arah Nanda dan melempar senyum, ia pun hanya bisa membalas dengan senyuman juga. Akhirnya makanan pun siap, Kinan membawakan dua piring ke sofa di mana Nanda berada.
“Silahkan…” Kinan duduk di samping Nanda, “kalau ngga enak maaf ya, aku udah mulai jarang masak.”
“Kalau diliat dari penampilannya, kemungkinan ngga enaknya sangat kecil. Makasih ya Nan.” Ucap Nanda.
“Makasih Nan, ayo dimakan.” Ajak Kinan.
Mereka mulai makan malam bersama dengan menu sederhana. Suapan pertama berhasil membuat Nanda menatap Kinan.
“Ini enak banget Nan, sumpah aku ngga bohong.” Ucapnya.
“Serius?...” Kinan tersenyum, “makasih ya.”
Mereka kembali melanjutkan makan malam di sela hujan yang masih turun. Beberapa suapan berlalu, akhirnya makanan pun habis tak bersisa di piring. Nanda sedang mencuci piring sementara Kinan sedang minum di sofa. Nanda pun kembali duduk di samping Kinan dan menyalakan sebatang rokok yang juga diikuti oleh Kinan.
“Kamu besok kerja jam berapa?” Tanya Kinan.
“Biasa sih jam 7 berangkat.” Jawabnya.
“Ya udah, minuman ini abis, kamu langsung tidur. Udah jam sebelas nih ngga berasa.” Ucap Kinan.
“Kamu mau pulang?” Tanya Nanda.
“Iya, kan kamu harus berangkat pagi besok.” Jawabnya.
“Aku anterin ya.” Ucap Nanda.
“Ngga usah Nan, aku bisa pulang sendiri.” Jawabnya.
Nanda hanya menghela nafasnya. Mereka kembali meminum whiskey yang masih tersisa, sesekali mereka menghisap rokok yang masih ada di tangan, dan tak terasa gelas pun kosong.
“Aku pulang sekarang ya.” Ucap Kinan.
Nanda mengangguk setuju, mereka bangun dari duduk lalu berjalan menuju pintu. Nanda membuka kunci pintu sementara Kinan memakai sweater yang ia kenakan. Ia pun berjalan keluar pintu dan kembali menatap Kinan.
“Makasih ya Nan udah mau…”
Nanda terdiam ketika Kinan menciumnya. Ia melihat mata Kinan yang sudah terpejam, Nanda pun ikut memejamkan matanya, menikmati momen yang ada meskipun hanya sesaat. Kinan menjauhkan wajahnya, mereka pun kembali membuka mata dan saling beradu tatap.
“Aku pulang dulu ya.” Ucap Kinan.
Kinan melambaikan tangannya lalu berjalan menjauh dari Nanda, langkahnya terhenti menunggu lift hingga ia hilang dari pandangan Nanda. Ia kembali masuk ke dalam lalu beranjak menuju kamarnya. Ting! Nanda merebahkan dirinya di atas kasur, ia membaca pesan dari ponselnya.
“Good Night Nan…” Kinan.
Nanda membalas pesan itu, kemudian ia merentangkan tangannya dan membuat ponselnya terletak sedikit jauh. Nanda memejamkan matanya, membiarkan hari ini berakhir sampai detik ini saja.
Pagi menjelang, Nanda keluar dari dalam lift menuju halaman depan tempat tinggalnya. Gerimis masih turun sejak kemarin, dengan jaket yang ia kenakan, ia berjalan menuju Halte.
Bus pun berhenti di Halte, Nanda keluar bersama beberapa orang lain dengan langkah yang sedikit lebih cepat. Beberapa langkah lagi ia akan memasuki kawasan Kantornya.
“Mas Nanda…”
Nanda menatap ke arah belakang, Diandra menghampirinya dengan payung yang ia kenakan.
“...pagi Mas.” Sapa Diandra.
“Pagi Di. Nah, mumpung ketemu kamu, mau ngopi dulu ngga sekalian ngobrol? Kalau kamu mau kita mampir dulu ke situ?” Tanya Nanda.
“Boleh Mas, aku juga santai kok.” Jawabnya.
Mereka mampir untuk membeli kopi. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka kembali berjalan masuk ke dalam kawasan Kantor. Nanda dan Diandra menyempatkan singgah di halaman Kantor.
“Makasih ya Mas kopinya.” Ucap Diandra.
“Sama-sama…” Nanda menyalakan sebatang rokok, “eh aku mau nanya deh. Apa yang bikin kamu tertarik sama laki-laki? Maksudku, apa yang pertama kamu liat dari dia?”
i4munited dan oktavp memberi reputasi
2
Kutip
Balas