- Beranda
- Stories from the Heart
Nan and Sexaworld
...
TS
beavermoon
Nan and Sexaworld

Spoiler for Peringatan:
Cerita ini mengandung unsur seksual vulgar.
Jika belum boleh, disarankan untuk tunggu sampai waktunya.
Jika sudah boleh, mainkan imajinasimu.
Jika belum boleh, disarankan untuk tunggu sampai waktunya.
Jika sudah boleh, mainkan imajinasimu.
Pernahkah kalian menggunakan aplikasi kencan? Apa alasannya? Mencari jodoh? Mencoba peruntungan? Atau mencari pelarian dari sakit hati?
Nanda mulai pengalamannya dengan aplikasi kencan untuk pertama kalinya. Bukan tanpa sebab, sakit hati menjadi alasannya. Ia pun mencoba mencari pelarian di aplikasi tersebut, hingga tak diduga, ia kembali menemukan perasaannya di sana.
Lantas, apakah ia akan kembali jatuh cinta setelah sakit hati sebelumnya?
Spoiler for Episode:
1. Bersemi dengan Indah.
2. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 1)
3. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 2)
4. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 3)
5. Langit Abu-Abu. (Part 1)
6. Langit Abu-Abu. (Part 2)
7. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 1)
8. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 2)
9. When The World Is Yours...
10. Take Your Time...
11. Semua Orang Punya Rahasia.
12. Nan... (Part 1)
13. Nan... (Part 2)
14. Perdebatan Batin. (Part 1)
15. Perdebatan Batin. (Part 2)
16. Tak Sengaja...
17. Di Bawah Hujan, Semuanya Terungkap.
18. Upaya Maksimal. (Part 1)
19. Upaya Maksimal. (Part 2)
20. Dilema. (Part 1)
21. Dilema. (Part 2)
22. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 1)
23. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 2)
24. When The World is Mine... (FINALE)
Behind The Nan...
2. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 1)
3. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 2)
4. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 3)
5. Langit Abu-Abu. (Part 1)
6. Langit Abu-Abu. (Part 2)
7. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 1)
8. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 2)
9. When The World Is Yours...
10. Take Your Time...
11. Semua Orang Punya Rahasia.
12. Nan... (Part 1)
13. Nan... (Part 2)
14. Perdebatan Batin. (Part 1)
15. Perdebatan Batin. (Part 2)
16. Tak Sengaja...
17. Di Bawah Hujan, Semuanya Terungkap.
18. Upaya Maksimal. (Part 1)
19. Upaya Maksimal. (Part 2)
20. Dilema. (Part 1)
21. Dilema. (Part 2)
22. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 1)
23. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 2)
24. When The World is Mine... (FINALE)
Behind The Nan...
Diubah oleh beavermoon 01-04-2023 20:22
bukhorigan dan 2 lainnya memberi reputasi
3
4K
Kutip
30
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#16
Spoiler for 14. Perdebatan Batin. (Part 1):
“Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu tiba…”
Nanda menatap ke arah Andreas.
“...aku bisa berhenti menatap angka-angka ini dan beranjak pergi dari tempat ini. Terima kasih Tuhan…”
Andreas menyadari bahwa Nanda sedang menatap ke arahnya, ia pun juga menatap ke arah Nanda.
“...eh ada Abang awakyang sedang memantau. Marilah kita pulang Bang, tinggalkan lah ini untuk esok hari. Kita turun ke bawah, marisap rokok, abis itu pulang dengan cantik.” Ucap Andreas.
Nanda hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab ajakan Andreas, namun ia pun membereskan barang-barangnya untuk menyudahi jam kerja pada hari ini, yang tentu saja diikuti oleh Andreas.
Mereka berjalan menuju halaman depan Kantor, lalu duduk menghadap ke arah jalan seraya menyalakan sebatang rokok. Andreas menunjukkan layar ponselnya kepada Nanda.
“Kek mana menurutmu Bang? Cocok ngga sama aku?” Tanya Andreas.
“Siapa tuh? Ngga kenal gue.” Jawab Nanda.
“Wajarlah kau ngga kenal Bang, aku juga nemu dia di Photo Buddy. Ngga sengaja pula aku nemunya, tapi cemana menurutmu?” Ucap Andreas.
“Selera lo banget sih, ajak ketemuan langsung.” Ucap Nanda.
“Nah, besok kita ajak minum di Paladin gimana?” Ajak Andreas.
“Lah, lo mau ngajak gue juga? Ngapain?” Tanya Nanda heran.
“Ayolah Bang, temani aku. Udah lama kali aku ngga jumpa perempuan macam ini, takut salah tingkah aku.” Jawabnya.
“Boleh lah, asal lo traktir gue aja.” Ucap Nanda.
“Bills on me.” Jawabnya.
Ting! Nanda mengambil ponselnya dari saku kemeja. Ada sebuah pesan masuk yang berasal dari Kinan, ia pun menyempatkan untuk membalas pesan tersebut. Tentu saja ia mendapatkan perhatian dari Andreas.
“Perempuan mana Bang?...”
Ucapannya berhasil membuat Nanda menatapnya.
“...udah ada yang baru nampaknya.” Ucap Andreas.
Nanda menghisap rokoknya, “Tak, lo pernah ngga sih, tiba-tiba aja ngerasa klik sama seseorang yang baru lo kenal di hari pertama?”
Andreas menghembuskan asap, “Kalau yang kau maksud klik itu jatuh cinta, kayaknya belum pernah aku. Sekedar kagum sama kecantikan dan kemolekan tubuhnya saja, kalau di hari pertama langsung klik belum pernah.”
Nanda menghela nafas, “Ada seseorang lah, yang menurut gue berhasil bikin gue klik sama dia di hari pertama kita kenalan. Jangankan hari pertama, beberapa jam pertama.”
“Ngeri kali nampaknya gadis itu. Cemana bisa dia bikin kau langsung klik sama dia? Apa variabel yang kau pertimbangkan sampai bisa klik begitu?” Tanya Andreas.
“Gimana caranya dia memperlakukan orang asing aja, gue kan termasuk orang asing. Hanya dalam beberapa jam dia berhasil bikin gue kayak udah kenal lama banget.” Jawab Nanda.
“Bah! Makin penasaran kali aku sama dia. Sudah pasti bukan adek kita Diandra kan? Karena kalau Diandra, pasti aku sudah tau sejak awal.” Ucap Andreas.
Nanda mengangguk, “Gue nganggep Diandra udah kayak saudara, bahkan kalau dia mau ya jadi adik gue, adek kita lah. Levelnya udah bukan untuk kita dekati dengan rasa suka, tapi rasa pengen jagain.”
“Setuju kali aku sama kau Bang, apalagi setelah ceritanya kemarin. Kalau begitu, benar-benar orang asing perempuan ini Bang? Bukan dari circle kita?” Kata Andreas.
“Bukan, sama sekali bukan. Itu sih yang jadi pertimbangan gue, apa gue salah kalau langsung klik sama orang yang baru gue kenal sehari.” Jelas Nanda.
“Menurutku, ngga ada yang salah. Mana tau kita bisa klik sama seseorang dalam waktu sehari, bisa saja besok aku yang klik sama orang lain. Jadi ya lanjutkan saja Bang, terlebih udah lama kali kau menyendiri.” Jawab Andreas.
Perbincangan singkat berhasil membunuh waktu, setelah sebatang rokok habis, mereka memutuskan untuk pergi meninggalkan Kantor.
Bus berhenti di Halte, Nanda keluar bersama beberapa orang lainnya. Ia melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kediamannya pada malam ini. Tidak membutuhkan waktu lama untuknya tiba, ia kembali mengunci pintu setelah masuk ke dalam. Ia meletakkan tas di atas meja, lalu kembali ke dapur untuk membuka lemari es.
Ctek! Satu kaleng minuman soda berhasil meredakan lelahnya setelah seharian beraktifitas. Nanda berlalu menuju ruang tamu untuk menonton televisi. Ting! Pesan masuk datang bersamaan dengan ia yang duduk bersandar pada sofa. Nanda mengambil ponsel dari saku kemejanya.
“Kamu udah pulang?” Kinan.
“Baru banget duduk di sofa. Kamu lagi apa?” Nanda.
Nanda menyalakan sebatang rokok lalu menghembuskan asapnya. Ting!
“Baru selesai ngerjain request klien.” Kinan.
“Klien? Aku belum tau kamu kerja apa selain itu.” Nanda.
“Oh iya aku belum cerita ya. Aku salah satu designer yang bantuin Natanoto, kamu tau ngga?” Kinan.
“Serius Natanoto??? Aku tau dia.” Nanda.
Ada panggilan masuk dari Kinan, Nanda pun menjawab panggilan tersebut.
“Hai Nan, aku ganggu ngga?” Tanya Kinan.
“Ngga kok, aku juga lagi santai-santai aja pulang kerja.” Jawabnya.
“Kamu serius tau Natanoto?” Tanya Kinan lagi.
“Serius aku tau, dulu tuh Natanoto pernah jadi salah satu klien aku pas dia mau ngembangin butiknya dia. Kamu udah lama kerja sama dia?” Ucap Nanda.
“Wah, ngga nyangka aku kalau kalian pernah kerja sama. Kurang lebih ada dua tahun aku kerja sama dia. Jadi, dulu tuh aku ngga sengaja apply salah satu design aku, ternyata dia suka. Akhirnya dia nawarin untuk jadi salah satu Assistant Designer di sana.” Jelas Kinan.
“Aku bisa narik kesimpulan kalau design kamu bagus banget, karena aku tau gayanya Natanoto tuh gimana. Aku inget tuh ada satu dress bahan kain satin yang dia bikin ada pita di pinggangnya.” Ucap Nanda.
“Ih, itu aku yang ngerjain.” Ucap Kinan.
“Serius? Wah keren sih asli, aku pas liat dress itu kayak beda dari dress yang lain. Sebenernya sederhana, cuma punya karakter aja.” Jawab Nanda.
“Iya serius, aku masih ada gambar tangannya kalau kamu mau liat. Nah, itu dia. Natanoto mau setiap karya yang dia bikin tuh ada karakternya, sekalipun sesimpel dress doang.” Jawab Kinan.
“Wah kamu keren sih. Tadi abis ngerjain apa?” Tanya Nanda.
“Tadi tuh ada request dari salah satu vendor perbankan yang mau bikin expo. Mereka minta empat design khusus untuk acara itu doang.” Ucapnya.
“Udah sampai tahap mana designnya?” Tanya Nanda.
“Masih sketsa kasar sama penentuan bahan aja sih, karena baru tadi pagi diminta sama mereka.”
Nanda meminum minuman kaleng beberapa teguk, ia kembali menyalakan sebatang rokok.
“Udah makan?” Tanya Nanda.
“Belum, bingung mau makan apa. Kamu sendiri gimana?” Jawabnya.
“Aku juga belum, masih agak males.” Jawabnya.
“Eh iya, gimana kerjaan kamu tadi?” Tanya Kinan.
“Aman sih, semuanya berjalan sesuai jadwal. Paling seminggu atau dua minggu lagi nih bakalan cukup rame.” Jawab Nanda.
Malam berlalu dengan sengaja, hingga tak terasa sudah hampir satu jam mereka berbincang jarak jauh. Nanda meletakan ponselnya di atas meja, tak lama ia juga mematikan rokok ke dalam asbak. Ia menghela nafas sesaat lalu menatap kosong ke arah serial yang sedang tayang di televisi.
Pikirannya mulai bermain dengan apa yang ia rasakan mengenai menyukai seseorang yang baru saja ia kenal. Beberapa saat berlalu, ia pun menyadari akan satu hal. Bukan soal menyukai orang yang baru saja ia kenal, ia pun mengalami hal yang sama kepada Naya beberapa tahun lalu. Ini semua mengenai Kinan dan pekerjaannya. Tentu saja bukan Kinan sebagai designer, melainkan Kinan yang menjadi dirinya yang lainnya.
Ada perdebatan batin yang ia rasakan, Kinan menjadi seseorang yang ia suka setelah sekian lama menutup diri, namun Kinan juga yang bisa menjadi milik siapa saja di Sexaworld.
Nanda kembali menghela nafasnya lalu memejamkan mata. Rasanya ia ingin melupakan apa yang baru saja terpikirkan, menganggap tidak ada yang terjadi setelah perbincangan mereka lewat ponsel. Malam pun berlanjut hingga esok hari tiba.
Nanda kembali menuju meja kerjanya sekembalinya menyerahkan laporan. Ia duduk seraya menyandarkan badannya, pandangannya beralih ke arah Andreas yang sudah menatapnya entah sejak kapan.
“Lo mau gue pukul atau bola mata lo gue gores pake kartu remi?” Tanya Nanda.
“Galak kali kau Bang. Ayolah kita cabut, berangkat kita ke Paladin bertemu dengan Silvi.” Ucap Andreas.
“Bolehlah, ajak Diandra ya.” Sahut Nanda.
“Sudah pasti dong, adek kita satu itu jangan ditinggalkan.” Jawab Andreas.
Nanda mengambil ponselnya untuk mengirim pesan kepada Diandra, dan tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan balasan pesan darinya.
“Sip, dia mau. Ayo deh berangkat.” Ucap Nanda.
Mereka pun membereskan barang-barang bawaan mereka, kemudian pergi menuju lantai dasar di mana Diandra sudah menunggu sambil menghisap rokoknya. Ia menatap ke belakang menyadari kedatangan mereka.
“Jadi Mas ke Paladin?” Tanya Diandra.
Nanda mengangguk, “Pokoknya hari ini ditraktir sama Batak, pesen yang banyak nanti Di, jangan sungkan-sungkan. Kita habiskan uang gajinya dia sampai kosong.”
“Mak, jangan dihabiskan juga. Makan apa aku kalau dihabiskan, makan angin?” Keluh Andreas.
Nanda dan Diandra tertawa, Andreas pun berlalu menuju parkiran sementara mereka menyusul di belakang. Diandra menyenggol tangan Nanda pelan dan berhasil membuatnya menatap ke arah Diandra.
“Bang Batak ada acara apaan Mas ngajakin kita ke Paladin?” Tanyanya dengan suara pelan.
“Katanya sih dia mau ketemu sama perempuan, karena udah lama dan canggung makanya dia ngajak aku. Yaudah lah sekalian aku ngajak kamu, daripada nanti jadi nyamuk.” Jelasnya.
“Oalah, kenalan dari Sexaworld?” Tanyanya lagi.
“Kalau itu ngga tau deh, tau sendiri kan Batak punya sumber dari mana-mana. Akan selalu ada kejutan, tunggu aja kalau ngga percaya.” Ucap Nanda.
Mereka pun masuk ke dalam mobil. Formasi duduk berubah ketika ada Diandra, ia duduk di samping kemudi sementara Nanda duduk di bangku tengah. Mobil bergerak menuju Paladin di hari yang menjelang malam, beberapa kendaraan menemani mereka hingga menimbulkan sedikit kemacetan. TIdak banyak yang mereka perbincangkan selama perjalanan, sampai akhirnya mobil parkir di pelataran lalu mereka masuk ke dalam Paladin.
Andreas berjalan terlebih dahulu, ia melihat ke arah sekeliling sambil sesekali menatap layar ponselnya. Nanda dan Diandra berjalan di belakangnya. Mereka berjalan menuju meja bar lalu bertemu Miko.
“Nah, legenda udah kembali muncul, berarti akan ada perempuan yang lo bungkus malam ini…”
Miko menjabat tangan Andreas.
“...ngomong-ngomong siapa yang sama kalian?” Tanya Miko.
“Kenalin adik kami, Diandra…” Nanda menatap Diandra, “kenalin nih mahaguru dunia permabukan, Miko.”
Mereka berjabat tangan, Miko pun juga menyambut Nanda.
“Jadi, mau pesen apa nih kalian? Yang udah pasti kan scotch buat Nanda, sisanya apa nih?” Tanya Miko.
“Mau Daiquiri aja deh.” Ucap Diandra.
“Aku apa saja lah. Bentar ya aku mau ke sana dulu.” Sahut Andreas.
Andreas berjalan menjauh ke arah depan, meninggalkan Miko yang menatapnya dengan heran. Ia pun menatap ke arah Nanda seraya mengangkat kedua alisnya.
“Biasalah, ada kenalan yang mau dia temuin.” Jawab Nanda.
“Nah kan bener. Duduk dulu lah sekalian gue bikinin pesenan kalian, santai aja.” Ucap Miko.
Nanda dan Diandra duduk di atas kursi, mereka pun menyalakan sebatang rokok sambil melihat Miko yang sedang membuatkan minuman mereka.
“Mas Nanda udah kenal sama Bartendernya?” Tanya Diandra.
“Udah, dari dulu kita sama-sama baru di sini sampai sekarang dia jadi Captain. Batak juga sih yang awalnya sok deket sama dia, eh malah jadi temenan sama aku juga.” Jawabnya.
“Bang Batak emang pemecah kecanggungan ya, tapi soal perempuan dia butuh bantuan Mas Nanda.” Ucap Diandra.
“Alasannya sih karena udah lama ngga deketin perempuan, nanti ujung-ujungnya juga paling dia pamer doang ke aku.” Ucap Nanda.
Diandra tertawa kecil, pesanan mereka pun disajikan di hadapan mereka, sementara gelas milik Andreas diletakkan sedikit jauh.
“Enjoy ya, tapi sorry banget gue ngga bisa nemenin. Ada tugas lain di belakang sama Bos, nanti kasih tau ya siapa targetnya si Batak.” Ucap Miko.
Miko berlalu untuk mengerjakan tugasnya. Nanda mengangkat gelasnya, Diandra pun juga melakukan hal yang sama. Kling!
Nanda menatap ke arah Andreas.
“...aku bisa berhenti menatap angka-angka ini dan beranjak pergi dari tempat ini. Terima kasih Tuhan…”
Andreas menyadari bahwa Nanda sedang menatap ke arahnya, ia pun juga menatap ke arah Nanda.
“...eh ada Abang awakyang sedang memantau. Marilah kita pulang Bang, tinggalkan lah ini untuk esok hari. Kita turun ke bawah, marisap rokok, abis itu pulang dengan cantik.” Ucap Andreas.
Nanda hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab ajakan Andreas, namun ia pun membereskan barang-barangnya untuk menyudahi jam kerja pada hari ini, yang tentu saja diikuti oleh Andreas.
Mereka berjalan menuju halaman depan Kantor, lalu duduk menghadap ke arah jalan seraya menyalakan sebatang rokok. Andreas menunjukkan layar ponselnya kepada Nanda.
“Kek mana menurutmu Bang? Cocok ngga sama aku?” Tanya Andreas.
“Siapa tuh? Ngga kenal gue.” Jawab Nanda.
“Wajarlah kau ngga kenal Bang, aku juga nemu dia di Photo Buddy. Ngga sengaja pula aku nemunya, tapi cemana menurutmu?” Ucap Andreas.
“Selera lo banget sih, ajak ketemuan langsung.” Ucap Nanda.
“Nah, besok kita ajak minum di Paladin gimana?” Ajak Andreas.
“Lah, lo mau ngajak gue juga? Ngapain?” Tanya Nanda heran.
“Ayolah Bang, temani aku. Udah lama kali aku ngga jumpa perempuan macam ini, takut salah tingkah aku.” Jawabnya.
“Boleh lah, asal lo traktir gue aja.” Ucap Nanda.
“Bills on me.” Jawabnya.
Ting! Nanda mengambil ponselnya dari saku kemeja. Ada sebuah pesan masuk yang berasal dari Kinan, ia pun menyempatkan untuk membalas pesan tersebut. Tentu saja ia mendapatkan perhatian dari Andreas.
“Perempuan mana Bang?...”
Ucapannya berhasil membuat Nanda menatapnya.
“...udah ada yang baru nampaknya.” Ucap Andreas.
Nanda menghisap rokoknya, “Tak, lo pernah ngga sih, tiba-tiba aja ngerasa klik sama seseorang yang baru lo kenal di hari pertama?”
Andreas menghembuskan asap, “Kalau yang kau maksud klik itu jatuh cinta, kayaknya belum pernah aku. Sekedar kagum sama kecantikan dan kemolekan tubuhnya saja, kalau di hari pertama langsung klik belum pernah.”
Nanda menghela nafas, “Ada seseorang lah, yang menurut gue berhasil bikin gue klik sama dia di hari pertama kita kenalan. Jangankan hari pertama, beberapa jam pertama.”
“Ngeri kali nampaknya gadis itu. Cemana bisa dia bikin kau langsung klik sama dia? Apa variabel yang kau pertimbangkan sampai bisa klik begitu?” Tanya Andreas.
“Gimana caranya dia memperlakukan orang asing aja, gue kan termasuk orang asing. Hanya dalam beberapa jam dia berhasil bikin gue kayak udah kenal lama banget.” Jawab Nanda.
“Bah! Makin penasaran kali aku sama dia. Sudah pasti bukan adek kita Diandra kan? Karena kalau Diandra, pasti aku sudah tau sejak awal.” Ucap Andreas.
Nanda mengangguk, “Gue nganggep Diandra udah kayak saudara, bahkan kalau dia mau ya jadi adik gue, adek kita lah. Levelnya udah bukan untuk kita dekati dengan rasa suka, tapi rasa pengen jagain.”
“Setuju kali aku sama kau Bang, apalagi setelah ceritanya kemarin. Kalau begitu, benar-benar orang asing perempuan ini Bang? Bukan dari circle kita?” Kata Andreas.
“Bukan, sama sekali bukan. Itu sih yang jadi pertimbangan gue, apa gue salah kalau langsung klik sama orang yang baru gue kenal sehari.” Jelas Nanda.
“Menurutku, ngga ada yang salah. Mana tau kita bisa klik sama seseorang dalam waktu sehari, bisa saja besok aku yang klik sama orang lain. Jadi ya lanjutkan saja Bang, terlebih udah lama kali kau menyendiri.” Jawab Andreas.
Perbincangan singkat berhasil membunuh waktu, setelah sebatang rokok habis, mereka memutuskan untuk pergi meninggalkan Kantor.
Bus berhenti di Halte, Nanda keluar bersama beberapa orang lainnya. Ia melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kediamannya pada malam ini. Tidak membutuhkan waktu lama untuknya tiba, ia kembali mengunci pintu setelah masuk ke dalam. Ia meletakkan tas di atas meja, lalu kembali ke dapur untuk membuka lemari es.
Ctek! Satu kaleng minuman soda berhasil meredakan lelahnya setelah seharian beraktifitas. Nanda berlalu menuju ruang tamu untuk menonton televisi. Ting! Pesan masuk datang bersamaan dengan ia yang duduk bersandar pada sofa. Nanda mengambil ponsel dari saku kemejanya.
“Kamu udah pulang?” Kinan.
“Baru banget duduk di sofa. Kamu lagi apa?” Nanda.
Nanda menyalakan sebatang rokok lalu menghembuskan asapnya. Ting!
“Baru selesai ngerjain request klien.” Kinan.
“Klien? Aku belum tau kamu kerja apa selain itu.” Nanda.
“Oh iya aku belum cerita ya. Aku salah satu designer yang bantuin Natanoto, kamu tau ngga?” Kinan.
“Serius Natanoto??? Aku tau dia.” Nanda.
Ada panggilan masuk dari Kinan, Nanda pun menjawab panggilan tersebut.
“Hai Nan, aku ganggu ngga?” Tanya Kinan.
“Ngga kok, aku juga lagi santai-santai aja pulang kerja.” Jawabnya.
“Kamu serius tau Natanoto?” Tanya Kinan lagi.
“Serius aku tau, dulu tuh Natanoto pernah jadi salah satu klien aku pas dia mau ngembangin butiknya dia. Kamu udah lama kerja sama dia?” Ucap Nanda.
“Wah, ngga nyangka aku kalau kalian pernah kerja sama. Kurang lebih ada dua tahun aku kerja sama dia. Jadi, dulu tuh aku ngga sengaja apply salah satu design aku, ternyata dia suka. Akhirnya dia nawarin untuk jadi salah satu Assistant Designer di sana.” Jelas Kinan.
“Aku bisa narik kesimpulan kalau design kamu bagus banget, karena aku tau gayanya Natanoto tuh gimana. Aku inget tuh ada satu dress bahan kain satin yang dia bikin ada pita di pinggangnya.” Ucap Nanda.
“Ih, itu aku yang ngerjain.” Ucap Kinan.
“Serius? Wah keren sih asli, aku pas liat dress itu kayak beda dari dress yang lain. Sebenernya sederhana, cuma punya karakter aja.” Jawab Nanda.
“Iya serius, aku masih ada gambar tangannya kalau kamu mau liat. Nah, itu dia. Natanoto mau setiap karya yang dia bikin tuh ada karakternya, sekalipun sesimpel dress doang.” Jawab Kinan.
“Wah kamu keren sih. Tadi abis ngerjain apa?” Tanya Nanda.
“Tadi tuh ada request dari salah satu vendor perbankan yang mau bikin expo. Mereka minta empat design khusus untuk acara itu doang.” Ucapnya.
“Udah sampai tahap mana designnya?” Tanya Nanda.
“Masih sketsa kasar sama penentuan bahan aja sih, karena baru tadi pagi diminta sama mereka.”
Nanda meminum minuman kaleng beberapa teguk, ia kembali menyalakan sebatang rokok.
“Udah makan?” Tanya Nanda.
“Belum, bingung mau makan apa. Kamu sendiri gimana?” Jawabnya.
“Aku juga belum, masih agak males.” Jawabnya.
“Eh iya, gimana kerjaan kamu tadi?” Tanya Kinan.
“Aman sih, semuanya berjalan sesuai jadwal. Paling seminggu atau dua minggu lagi nih bakalan cukup rame.” Jawab Nanda.
Malam berlalu dengan sengaja, hingga tak terasa sudah hampir satu jam mereka berbincang jarak jauh. Nanda meletakan ponselnya di atas meja, tak lama ia juga mematikan rokok ke dalam asbak. Ia menghela nafas sesaat lalu menatap kosong ke arah serial yang sedang tayang di televisi.
Pikirannya mulai bermain dengan apa yang ia rasakan mengenai menyukai seseorang yang baru saja ia kenal. Beberapa saat berlalu, ia pun menyadari akan satu hal. Bukan soal menyukai orang yang baru saja ia kenal, ia pun mengalami hal yang sama kepada Naya beberapa tahun lalu. Ini semua mengenai Kinan dan pekerjaannya. Tentu saja bukan Kinan sebagai designer, melainkan Kinan yang menjadi dirinya yang lainnya.
Ada perdebatan batin yang ia rasakan, Kinan menjadi seseorang yang ia suka setelah sekian lama menutup diri, namun Kinan juga yang bisa menjadi milik siapa saja di Sexaworld.
Nanda kembali menghela nafasnya lalu memejamkan mata. Rasanya ia ingin melupakan apa yang baru saja terpikirkan, menganggap tidak ada yang terjadi setelah perbincangan mereka lewat ponsel. Malam pun berlanjut hingga esok hari tiba.
Nanda kembali menuju meja kerjanya sekembalinya menyerahkan laporan. Ia duduk seraya menyandarkan badannya, pandangannya beralih ke arah Andreas yang sudah menatapnya entah sejak kapan.
“Lo mau gue pukul atau bola mata lo gue gores pake kartu remi?” Tanya Nanda.
“Galak kali kau Bang. Ayolah kita cabut, berangkat kita ke Paladin bertemu dengan Silvi.” Ucap Andreas.
“Bolehlah, ajak Diandra ya.” Sahut Nanda.
“Sudah pasti dong, adek kita satu itu jangan ditinggalkan.” Jawab Andreas.
Nanda mengambil ponselnya untuk mengirim pesan kepada Diandra, dan tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan balasan pesan darinya.
“Sip, dia mau. Ayo deh berangkat.” Ucap Nanda.
Mereka pun membereskan barang-barang bawaan mereka, kemudian pergi menuju lantai dasar di mana Diandra sudah menunggu sambil menghisap rokoknya. Ia menatap ke belakang menyadari kedatangan mereka.
“Jadi Mas ke Paladin?” Tanya Diandra.
Nanda mengangguk, “Pokoknya hari ini ditraktir sama Batak, pesen yang banyak nanti Di, jangan sungkan-sungkan. Kita habiskan uang gajinya dia sampai kosong.”
“Mak, jangan dihabiskan juga. Makan apa aku kalau dihabiskan, makan angin?” Keluh Andreas.
Nanda dan Diandra tertawa, Andreas pun berlalu menuju parkiran sementara mereka menyusul di belakang. Diandra menyenggol tangan Nanda pelan dan berhasil membuatnya menatap ke arah Diandra.
“Bang Batak ada acara apaan Mas ngajakin kita ke Paladin?” Tanyanya dengan suara pelan.
“Katanya sih dia mau ketemu sama perempuan, karena udah lama dan canggung makanya dia ngajak aku. Yaudah lah sekalian aku ngajak kamu, daripada nanti jadi nyamuk.” Jelasnya.
“Oalah, kenalan dari Sexaworld?” Tanyanya lagi.
“Kalau itu ngga tau deh, tau sendiri kan Batak punya sumber dari mana-mana. Akan selalu ada kejutan, tunggu aja kalau ngga percaya.” Ucap Nanda.
Mereka pun masuk ke dalam mobil. Formasi duduk berubah ketika ada Diandra, ia duduk di samping kemudi sementara Nanda duduk di bangku tengah. Mobil bergerak menuju Paladin di hari yang menjelang malam, beberapa kendaraan menemani mereka hingga menimbulkan sedikit kemacetan. TIdak banyak yang mereka perbincangkan selama perjalanan, sampai akhirnya mobil parkir di pelataran lalu mereka masuk ke dalam Paladin.
Andreas berjalan terlebih dahulu, ia melihat ke arah sekeliling sambil sesekali menatap layar ponselnya. Nanda dan Diandra berjalan di belakangnya. Mereka berjalan menuju meja bar lalu bertemu Miko.
“Nah, legenda udah kembali muncul, berarti akan ada perempuan yang lo bungkus malam ini…”
Miko menjabat tangan Andreas.
“...ngomong-ngomong siapa yang sama kalian?” Tanya Miko.
“Kenalin adik kami, Diandra…” Nanda menatap Diandra, “kenalin nih mahaguru dunia permabukan, Miko.”
Mereka berjabat tangan, Miko pun juga menyambut Nanda.
“Jadi, mau pesen apa nih kalian? Yang udah pasti kan scotch buat Nanda, sisanya apa nih?” Tanya Miko.
“Mau Daiquiri aja deh.” Ucap Diandra.
“Aku apa saja lah. Bentar ya aku mau ke sana dulu.” Sahut Andreas.
Andreas berjalan menjauh ke arah depan, meninggalkan Miko yang menatapnya dengan heran. Ia pun menatap ke arah Nanda seraya mengangkat kedua alisnya.
“Biasalah, ada kenalan yang mau dia temuin.” Jawab Nanda.
“Nah kan bener. Duduk dulu lah sekalian gue bikinin pesenan kalian, santai aja.” Ucap Miko.
Nanda dan Diandra duduk di atas kursi, mereka pun menyalakan sebatang rokok sambil melihat Miko yang sedang membuatkan minuman mereka.
“Mas Nanda udah kenal sama Bartendernya?” Tanya Diandra.
“Udah, dari dulu kita sama-sama baru di sini sampai sekarang dia jadi Captain. Batak juga sih yang awalnya sok deket sama dia, eh malah jadi temenan sama aku juga.” Jawabnya.
“Bang Batak emang pemecah kecanggungan ya, tapi soal perempuan dia butuh bantuan Mas Nanda.” Ucap Diandra.
“Alasannya sih karena udah lama ngga deketin perempuan, nanti ujung-ujungnya juga paling dia pamer doang ke aku.” Ucap Nanda.
Diandra tertawa kecil, pesanan mereka pun disajikan di hadapan mereka, sementara gelas milik Andreas diletakkan sedikit jauh.
“Enjoy ya, tapi sorry banget gue ngga bisa nemenin. Ada tugas lain di belakang sama Bos, nanti kasih tau ya siapa targetnya si Batak.” Ucap Miko.
Miko berlalu untuk mengerjakan tugasnya. Nanda mengangkat gelasnya, Diandra pun juga melakukan hal yang sama. Kling!
i4munited dan oktavp memberi reputasi
2
Kutip
Balas