- Beranda
- Stories from the Heart
Nan and Sexaworld
...
TS
beavermoon
Nan and Sexaworld

Spoiler for Peringatan:
Cerita ini mengandung unsur seksual vulgar.
Jika belum boleh, disarankan untuk tunggu sampai waktunya.
Jika sudah boleh, mainkan imajinasimu.
Jika belum boleh, disarankan untuk tunggu sampai waktunya.
Jika sudah boleh, mainkan imajinasimu.
Pernahkah kalian menggunakan aplikasi kencan? Apa alasannya? Mencari jodoh? Mencoba peruntungan? Atau mencari pelarian dari sakit hati?
Nanda mulai pengalamannya dengan aplikasi kencan untuk pertama kalinya. Bukan tanpa sebab, sakit hati menjadi alasannya. Ia pun mencoba mencari pelarian di aplikasi tersebut, hingga tak diduga, ia kembali menemukan perasaannya di sana.
Lantas, apakah ia akan kembali jatuh cinta setelah sakit hati sebelumnya?
Spoiler for Episode:
1. Bersemi dengan Indah.
2. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 1)
3. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 2)
4. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 3)
5. Langit Abu-Abu. (Part 1)
6. Langit Abu-Abu. (Part 2)
7. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 1)
8. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 2)
9. When The World Is Yours...
10. Take Your Time...
11. Semua Orang Punya Rahasia.
12. Nan... (Part 1)
13. Nan... (Part 2)
14. Perdebatan Batin. (Part 1)
15. Perdebatan Batin. (Part 2)
16. Tak Sengaja...
17. Di Bawah Hujan, Semuanya Terungkap.
18. Upaya Maksimal. (Part 1)
19. Upaya Maksimal. (Part 2)
20. Dilema. (Part 1)
21. Dilema. (Part 2)
22. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 1)
23. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 2)
24. When The World is Mine... (FINALE)
Behind The Nan...
2. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 1)
3. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 2)
4. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 3)
5. Langit Abu-Abu. (Part 1)
6. Langit Abu-Abu. (Part 2)
7. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 1)
8. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 2)
9. When The World Is Yours...
10. Take Your Time...
11. Semua Orang Punya Rahasia.
12. Nan... (Part 1)
13. Nan... (Part 2)
14. Perdebatan Batin. (Part 1)
15. Perdebatan Batin. (Part 2)
16. Tak Sengaja...
17. Di Bawah Hujan, Semuanya Terungkap.
18. Upaya Maksimal. (Part 1)
19. Upaya Maksimal. (Part 2)
20. Dilema. (Part 1)
21. Dilema. (Part 2)
22. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 1)
23. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 2)
24. When The World is Mine... (FINALE)
Behind The Nan...
Diubah oleh beavermoon 01-04-2023 20:22
bukhorigan dan 2 lainnya memberi reputasi
3
4K
Kutip
30
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#14
Spoiler for 12. Nan... (Part 1):
Angin semilir datang entah dari mana, meredam panas yang sedang terik di sore ini. Terlihat ramai orang-orang yang sedang duduk di tepian Taman Kota, berlindung pada pepohonan yang tumbuh rindang, begitu juga dengan Nanda.
Ia mengambil karet gelang dari lengan tangan kirinya, kemudian ia mengikat rambutnya yang mulai panjang ke arah belakang. Ia kembali menatap layar kamera yang sedang mengambil momen.
Beberapa bulan sudah berlalu, bahkan hampir satu tahun lamanya. Nanda mulai mendapatkan hobi baru untuk mengisi waktu luangnya, terlebih rutinitas yang membuat pusing kepala.
Klik!Nanda melihat hasil foto yang baru saja ia ambil, tangan kirinya memutar lensa untuk mendapatkan foto yang lebih baik dari sebelumnya. Beberapa foto sudah ia ambil, nampaknya ia cukup puas dengan hasilnya. Akhirnya ia memasukkan kameranya kembali ke dalam tas, lalu ia bangun dari duduknya meninggalkan Taman ini. Langkah kakinya membawanya ke Halte yang belum ramai diisi oleh orang-orang, ia pun memilih duduk sambil memainkan ponselnya. Ting!
“Malam ini ke mana kita Bang? Naikkan pamor lagi atau live music saja? Kalau mau live music, kuajak Diandra sekalian biar makin ramai.”
Nanda tersenyum sambil membalas pesan, di waktu bersamaan bus pun datang. Nanda memasuki bus tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel, ia pun beranjak menuju kursi paling belakang seraya bus berjalan menuju pemberhentian berikutnya.
Bus berhenti di salah satu Halte, Nanda pun keluar bersama dengan beberapa orang lainnya. Ia pun lanjut berjalan menuju jalan setapak yang sedikit menanjak, untungnya pepohonan rindang yang berada di kedua sisi jalan berhasil meredam panas pada sore hari ini.
Nanda mengeluarkan kameranya, ia pun mulai mengambil beberapa foto orang-orang yang juga sedang berjalan dengannya, kemudian ia beralih untuk mengambil foto pemandangan yang ada di sekitarnya. Sesekali ia berhenti, di mana ada momen yang sempurna untuk ia ambil. Ketika hasilnya sesuai yang ia inginkan, Nanda lanjut berjalan.
Langkahnya terhenti dengan sengaja, ketika ia sudah berada di jalanan yang mendatar. Hamparan pemandangan memanjakan matanya, ia dapat melihat dengan jelas langit perkotaan. Barisan gedung-gedung tinggi mempercantik apa yang ia lihat, tanpa menunggu lama ia mengambil foto dengan kamera yang sudah ada di genggamannya.
Dari sudut satu ke sudut yang lain, Nanda tak melepas pandangannya dari layar kamera. Ia tidak mau melewatkan momen yang tepat untuk mendapatkan foto yang baik pada saat ini. Waktu berjalan terus menerus, membiarkan Nanda memanjakan matanya yang lelah akan rutinitas kesehariannya, hingga tak terasa matahari akan segera terbenam.
Nanda berjalan untuk kembali ke Halte bersama beberapa orang, lebih banyak orang yang naik untuk melihat pemandangan pada malam hari. Ia pun tiba, namun tidak langsung untuk menunggu bus di Halte. Nanda berdiri beberapa langkah di belakang Halte dengan rokok yang sudah menyala di tangan kirinya, sementara tangan kanannya sedang menggenggam ponsel yang sedang ia tatap.
Ting! Ada balasan pesan masuk, Nanda sempat membaca pesan tersebut, kemudian ia mematikan rokok yang masih panjang lalu berjalan menuju Halte, berpapasan dengan bus yang baru tiba. Nanda masuk ke dalam bus untuk menuju pemberhentian berikutnya.
Malam menjelang, Nanda turun di salah satu Halte. Ia lanjut berjalan masuk ke dalam lobi dan berlalu menuju lift bersama beberapa orang lain. Ting! Nanda keluar di lantai 5 seorang diri, kemudian ia berjalan ke arah kiri beberapa langkah, sampai akhirnya ia berhenti di pintu bernomor 515. Nanda kembali menatap ponselnya untuk memastikan nomor yang sesuai dengan Sexaworld, setelah yakin ia mengetuk pintu.
“Silahkan masuk, ngga dikunci kok.”
Nanda membuka pintu lalu masuk ke dalam. Ia melihat seorang perempuan yang sedang berdiri di depan lemari es, dengan baju hitam dan celana pendek dengan warna selaras.
“Minum alkohol ngga? Kalau mau aku tuangin sekalian.” Ucap perempuan itu.
“Boleh kalau ngga keberatan.” Jawab Nanda.
Perempuan itu menuangkan whiskey ke dalam gelas, kemudian ia berlalu menuju di mana Nanda berdiri. Ia mengulurkan tangannya memberikan gelas kepada Nanda.
“Silah… kan. Loh, kayaknya pernah liat.” Ucapnya.
Nanda menatap perempuan itu seraya menerima gelas yang diberikan untuknya. Ia menatap dengan seksama perempuan itu selagi mengingat-ingat siapa dia.
“Ketemu di mana ya?” Tanya Nanda bingung.
“Dulu kamu pernah beli jajanan di deket Taman Kota, terus pas balik badan kita tabrakan ngga sengaja. Kalau ngga salah, kamu beli sate panjang empat.” Jelas perempuan itu.
“Oh inget…” Nanda mengangguk beberapa kali, “sorry banget ya waktu itu.”
“Nggapapa kok, lagian juga ngga kenapa-napa, oh iya…” Perempuan itu mengulurkan tangannya pada Nanda, “aku Kinandia, panggil aja Kinan.”
Nanda menjabat tangannya, “Abhinandan, panggil aja Nanda.”
“Duduk dulu yuk.” Ajaknya.
Mereka pun duduk di kursi yang menghadap ke arah kasur, kemudian mereka minum secara perlahan bersama-sama. Kinan mengeluarkan bungkus rokok lalu menawarkannya kepada Nanda.
“Ada kok…” Nanda mengeluarkan bungkus rokok miliknya, “boleh ngerokok di sini?”
“Boleh kok, santai aja.” Jawabnya.
Mereka menyalakan rokok masing-masing lalu menghembuskan asap ke seisi ruangan.
“Eh kamu buru-buru ngga? Semisal buru-buru mau langsung aja atau gimana?” Tanya Kinan.
“Ngga kok, aman. Malahan kamu yang buru-buru atau ngga? Takutnya masih ada lagi yang mau ke sini selain aku.” Ucap Nanda.
Kinan menggeleng, “Ngga kok. Aku ngga nerima banyak-banyak, paling banyak dua orang doang dalam sehari, itu juga jaraknya beberapa jam. Terlebih ini cuma sampingan aja bukan yang tetap.”
Nanda mengangguk, “Baru pertama kali sih aku ketemu sama yang ngga buka banyak-banyak, terlebih aku juga baru main Sexaworld ini.”
“Keliatan kok dari logo akun kamu.” Jawab Kinan.
“Emang bisa keliatan ya?” Tanya Nanda.
“Bisa tau, kamu liat deh ponsel kamu…”
Nanda mengeluarkan ponselnya lalu membuka Sexaworld di hadapan Kinan.
“...kamu liat di profil, nah di samping nama tuh ada logonya. Kalau kamu baru atau jarang main, warnanya abu-abu. Semakin sering kamu main, nanti warnanya berubah, dari hijau, kuning, merah, sampai biru yang paling tinggi.” Jelas Kinan.
“Iya juga ya, baru tau aku…” Nanda membuka profil Kinan, “punya kamu juga masih abu-abu, berarti emang sejarang itu kamu main ini ya.”
Kinan mengangguk seraya tersenyum. Beberapa saat berlalu, rokok mereka pun sudah habis, begitu juga dengan minuman yang ada di gelas.
“Mau mulai sekarang?” Tanya Nanda.
“Boleh kok, kita pindah ke kasur yuk.” Ajak Kinan.
Mereka pun pindah ke atas kasur. Nanda baru akan membuka kancing kemeja yang ia kenakan, namun tangan Kinan menahan tangannya hingga mereka beradu tatap satu sama lain.
“Jangan buru-buru…”
Kinan mendekatkan wajahnya lalu mencium Nanda, yang berhasil membuat Nanda sedikit terkejut. Ia melihat Kinan yang memejamkan mata sambil menciumnya dengan penuh kelembutan. Nanda pun larut dalam suasana, hingga ia juga memejamkan mata seraya memeluk Kinan.
Ciuman terhenti, mereka saling membuka mata satu sama lain. Kecupan singkat diberikan kepada Nanda, Kinan pun tersenyum setelah melakukannya. Wajah Nanda memerah, entah karena segelas whiskey atau apa yang baru ia terima.
Jari-jemari Kinan mulai membuka kancing kemeja yang dikenakan Nanda secara perlahan, matanya mengikuti kemana jari-jarinya berada. Kinan pun berhasil menanggalkan kemeja, ia pun meletakkan kemeja itu di atas meja.
“Kamu suka olahraga?...”
Nanda kembali dibuat bingung. Kinan bukan sekedar meletakkan kemejanya di atas meja, melainkan ia melipatnya dengan rapi. Kinan pun kembali menatapnya.
“...keliatan bagus badan kamu.” Ucap Kinan.
“Ngga terlalu sering sih, paling dua kali seminggu. Soalnya udah keburu capek sama kerjaan.” Jelas Nanda.
“Kamu kerja apa?” Tanya Kinan.
“Gampangnya sih data analis. Jadi tugasnya tuh kalau ada data yang masuk, aku evaluasi dan kasih saran dengan kualitas yang paling baik.” Jelas Nanda.
Kinan tersenyum mendengar penjelasan Nanda, ia kembali menciumnya sesaat. Kinan menanggalkan baju yang ia kenakan, ia mengarahkan tangan Nanda untuk memegang kedua payudaranya. Kinan memejamkan matanya, ia pun menikmati permulaan pada malam ini.
Dalam keadaan memejamkan mata, Kinan meninggalkan tangan Nanda yang masih bermain dengan payudaranya, kali ini tangannya mengarah pada kancing celana panjang Nanda. Dengan sedikit usaha, akhirnya ia berhasil melepas kancing tersebut.
Ia membuka matanya, kecupan singkat kembali diberikan oleh Kinan, sebelum akhirnya ia berlutut di hadapan Nanda dengan matanya yang penuh harap. Ia menarik celana panjang Nanda hingga tertanggal begitu saja. Matanya pun tertuju pada kelamin Nanda yang sudah membesar. Kinan kembali melempar senyum, lalu kembali berfokus pada kelamin Nanda seraya menggenggamnya dengan tenaga seperlunya.
Nanda menikmati dalam pandangannya, kemudian Kinan melumat kelaminnya hingga berhasil membuat Nanda memejamkan matanya. Secara perlahan Kinan memainkan temponya, sesekali ia menatap Nanda yang sudah masuk dalam permainannya.
Beberapa saat berlalu begitu saja, Nanda mengangkat kedua tangan Kinan hingga berhasil membuatnya berdiri. Ia mengarahkannya untuk berbaring di atas kasur, Kinan pun menurut. Di hadapannya sudah terbaring Kinan, tangannya mulai menanggalkan celana pendek yang Kinan kenakan. Kepalanya mulai mendekat ke arah kelamin Kinan dan Nanda pun mulai menjilatinya. Apa yang ia lakukan berhasil membuat Kinan memejamkan mata, tangannya mengarahkan kepala Nanda untuk lebih dekat ke arah kelaminnya. Desahan mulai terdengar samar, Nanda mulai memainkan temponya.
Pemanasan dirasa cukup, Nanda pun berada di atas Kinan dan mulai memasukkan kelaminnya secara perlahan. Kinan mendesah cukup jelas seraya memejamkan matanya, kemudian ia kembali menatap Nanda lalu mengalungkan tangannya pada leher Nanda.
“Be gentle.” Pinta Kinan.
“I will.” Jawabnya.
Nanda mulai memainkan tempo secara perlahan, Kinan pun nampak menikmatinya dengan senyuman yang ia lempar kepada Nanda. Sesekali ia memaksa Nanda untuk mendekatkan wajahnya lalu menciumnya sesaat. Waktu berhasil terbunuh begitu saja, Nanda pun menghentikan gerakannya.
“Mau gantian ngga?” Tanya Kinan.
“Kamu mau?” Tanya Nanda balik.
Kinan mengangguk sambil tersenyum, akhirnya posisi mereka bertukar dengan sengaja. Kinan mengarahkan kelamin milik Nanda, secara perlahan ia pun menurunkan badannya hingga memendamkan kelamin Nanda ke dalam kelaminnya.
Kinan kembali memejamkan matanya seraya mengatur tempo, ia pun mengarahkan tangan Nanda untuk kembali memegang payudaranya.
Beberapa saat berlalu dengan sengaja, Kinan pun berhenti untuk istirahat, masih di posisi yang sama. Nafasnya sedikit terengah, Nanda pun dapat mendengarnya dengan mudah.
“Capek?” Tanya Nanda.
Kinan mengangguk, “Lumayan, karena kamu kuat. Aku udah lama banget ngga secapek ini, biasanya baru sebentar aja mereka langsung udahan.”
“Mau gantian lagi?” Tanya Nanda.
Kinan tersenyum lagi lalu mendekatkan wajahnya untuk kembali mencium Nanda. Matanya terpejam, tergambar dengan jelas bahwa ia menikmati setiap momen yang ada. Nanda pun memeluknya, dengan sengaja ia mengajak Kinan untuk berguling ke arah kiri hingga posisi mereka kembali seperti awal.
Secara perlahan Nanda memainkan tempo, ia pun juga menikmati setiap momennya. Perlahan tapi pasti, Nanda mulai mempercepat gerakannya hingga membuat Kinan mendesah semakin menjadi-jadi. Sayangnya, tidak semudah itu bagi Nanda untuk sampai pada puncaknya. Ia harus berusaha lebih keras lagi, bahkan di ruangan berpendingin ini, wajahnya memerah hingga ia sedikit mengeluarkan keringat. Kinan yang melihat itu menyeka keringat Nanda dengan tangannya kemudian tersenyum.
“Keluarin di muka aku.” Pinta Kinan.
“Yakin?” Tanya Nanda dengan terengah-engah.
“Please.” Pintanya lagi.
Dengan usaha sekuat tenaga, akhirnya Nanda mencapai puncaknya. Ia mendekatkan kelaminnya ke arah wajah Kinan dan cairan sperma pun keluar membasahi sebagian wajahnya. Nanda mengatur nafasnya yang sedang terengah-engah, seraya menatap ke arah Kinan. Tanpa diduga, Kinan mendekatkan wajahnya ke arah kelamin Nanda dan kembali melumatnya. Nanda dibuat memejamkan matanya, dalam arti ia sangat menikmatinya. Akhirnya Kinan kembali merebahkan dirinya, mereka pun beradu pandang satu sama lain.
“Makasih ya.” Ucap Kinan.
“Aku yang harusnya bilang terima kasih sama kamu.” Sahut Nanda.
Kinan tersenyum, “Mandi dulu yuk biar ngga gerah. Aku ada handuk lagi kalau kamu mau, atau kamu mau pake handuk aku juga?”
“Aku ikut aja, selagi ngga bikin repot.” Jawab Nanda.
Ia mengambil karet gelang dari lengan tangan kirinya, kemudian ia mengikat rambutnya yang mulai panjang ke arah belakang. Ia kembali menatap layar kamera yang sedang mengambil momen.
Beberapa bulan sudah berlalu, bahkan hampir satu tahun lamanya. Nanda mulai mendapatkan hobi baru untuk mengisi waktu luangnya, terlebih rutinitas yang membuat pusing kepala.
Klik!Nanda melihat hasil foto yang baru saja ia ambil, tangan kirinya memutar lensa untuk mendapatkan foto yang lebih baik dari sebelumnya. Beberapa foto sudah ia ambil, nampaknya ia cukup puas dengan hasilnya. Akhirnya ia memasukkan kameranya kembali ke dalam tas, lalu ia bangun dari duduknya meninggalkan Taman ini. Langkah kakinya membawanya ke Halte yang belum ramai diisi oleh orang-orang, ia pun memilih duduk sambil memainkan ponselnya. Ting!
“Malam ini ke mana kita Bang? Naikkan pamor lagi atau live music saja? Kalau mau live music, kuajak Diandra sekalian biar makin ramai.”
Nanda tersenyum sambil membalas pesan, di waktu bersamaan bus pun datang. Nanda memasuki bus tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel, ia pun beranjak menuju kursi paling belakang seraya bus berjalan menuju pemberhentian berikutnya.
Bus berhenti di salah satu Halte, Nanda pun keluar bersama dengan beberapa orang lainnya. Ia pun lanjut berjalan menuju jalan setapak yang sedikit menanjak, untungnya pepohonan rindang yang berada di kedua sisi jalan berhasil meredam panas pada sore hari ini.
Nanda mengeluarkan kameranya, ia pun mulai mengambil beberapa foto orang-orang yang juga sedang berjalan dengannya, kemudian ia beralih untuk mengambil foto pemandangan yang ada di sekitarnya. Sesekali ia berhenti, di mana ada momen yang sempurna untuk ia ambil. Ketika hasilnya sesuai yang ia inginkan, Nanda lanjut berjalan.
Langkahnya terhenti dengan sengaja, ketika ia sudah berada di jalanan yang mendatar. Hamparan pemandangan memanjakan matanya, ia dapat melihat dengan jelas langit perkotaan. Barisan gedung-gedung tinggi mempercantik apa yang ia lihat, tanpa menunggu lama ia mengambil foto dengan kamera yang sudah ada di genggamannya.
Dari sudut satu ke sudut yang lain, Nanda tak melepas pandangannya dari layar kamera. Ia tidak mau melewatkan momen yang tepat untuk mendapatkan foto yang baik pada saat ini. Waktu berjalan terus menerus, membiarkan Nanda memanjakan matanya yang lelah akan rutinitas kesehariannya, hingga tak terasa matahari akan segera terbenam.
Nanda berjalan untuk kembali ke Halte bersama beberapa orang, lebih banyak orang yang naik untuk melihat pemandangan pada malam hari. Ia pun tiba, namun tidak langsung untuk menunggu bus di Halte. Nanda berdiri beberapa langkah di belakang Halte dengan rokok yang sudah menyala di tangan kirinya, sementara tangan kanannya sedang menggenggam ponsel yang sedang ia tatap.
Ting! Ada balasan pesan masuk, Nanda sempat membaca pesan tersebut, kemudian ia mematikan rokok yang masih panjang lalu berjalan menuju Halte, berpapasan dengan bus yang baru tiba. Nanda masuk ke dalam bus untuk menuju pemberhentian berikutnya.
Malam menjelang, Nanda turun di salah satu Halte. Ia lanjut berjalan masuk ke dalam lobi dan berlalu menuju lift bersama beberapa orang lain. Ting! Nanda keluar di lantai 5 seorang diri, kemudian ia berjalan ke arah kiri beberapa langkah, sampai akhirnya ia berhenti di pintu bernomor 515. Nanda kembali menatap ponselnya untuk memastikan nomor yang sesuai dengan Sexaworld, setelah yakin ia mengetuk pintu.
“Silahkan masuk, ngga dikunci kok.”
Nanda membuka pintu lalu masuk ke dalam. Ia melihat seorang perempuan yang sedang berdiri di depan lemari es, dengan baju hitam dan celana pendek dengan warna selaras.
“Minum alkohol ngga? Kalau mau aku tuangin sekalian.” Ucap perempuan itu.
“Boleh kalau ngga keberatan.” Jawab Nanda.
Perempuan itu menuangkan whiskey ke dalam gelas, kemudian ia berlalu menuju di mana Nanda berdiri. Ia mengulurkan tangannya memberikan gelas kepada Nanda.
“Silah… kan. Loh, kayaknya pernah liat.” Ucapnya.
Nanda menatap perempuan itu seraya menerima gelas yang diberikan untuknya. Ia menatap dengan seksama perempuan itu selagi mengingat-ingat siapa dia.
“Ketemu di mana ya?” Tanya Nanda bingung.
“Dulu kamu pernah beli jajanan di deket Taman Kota, terus pas balik badan kita tabrakan ngga sengaja. Kalau ngga salah, kamu beli sate panjang empat.” Jelas perempuan itu.
“Oh inget…” Nanda mengangguk beberapa kali, “sorry banget ya waktu itu.”
“Nggapapa kok, lagian juga ngga kenapa-napa, oh iya…” Perempuan itu mengulurkan tangannya pada Nanda, “aku Kinandia, panggil aja Kinan.”
Nanda menjabat tangannya, “Abhinandan, panggil aja Nanda.”
“Duduk dulu yuk.” Ajaknya.
Mereka pun duduk di kursi yang menghadap ke arah kasur, kemudian mereka minum secara perlahan bersama-sama. Kinan mengeluarkan bungkus rokok lalu menawarkannya kepada Nanda.
“Ada kok…” Nanda mengeluarkan bungkus rokok miliknya, “boleh ngerokok di sini?”
“Boleh kok, santai aja.” Jawabnya.
Mereka menyalakan rokok masing-masing lalu menghembuskan asap ke seisi ruangan.
“Eh kamu buru-buru ngga? Semisal buru-buru mau langsung aja atau gimana?” Tanya Kinan.
“Ngga kok, aman. Malahan kamu yang buru-buru atau ngga? Takutnya masih ada lagi yang mau ke sini selain aku.” Ucap Nanda.
Kinan menggeleng, “Ngga kok. Aku ngga nerima banyak-banyak, paling banyak dua orang doang dalam sehari, itu juga jaraknya beberapa jam. Terlebih ini cuma sampingan aja bukan yang tetap.”
Nanda mengangguk, “Baru pertama kali sih aku ketemu sama yang ngga buka banyak-banyak, terlebih aku juga baru main Sexaworld ini.”
“Keliatan kok dari logo akun kamu.” Jawab Kinan.
“Emang bisa keliatan ya?” Tanya Nanda.
“Bisa tau, kamu liat deh ponsel kamu…”
Nanda mengeluarkan ponselnya lalu membuka Sexaworld di hadapan Kinan.
“...kamu liat di profil, nah di samping nama tuh ada logonya. Kalau kamu baru atau jarang main, warnanya abu-abu. Semakin sering kamu main, nanti warnanya berubah, dari hijau, kuning, merah, sampai biru yang paling tinggi.” Jelas Kinan.
“Iya juga ya, baru tau aku…” Nanda membuka profil Kinan, “punya kamu juga masih abu-abu, berarti emang sejarang itu kamu main ini ya.”
Kinan mengangguk seraya tersenyum. Beberapa saat berlalu, rokok mereka pun sudah habis, begitu juga dengan minuman yang ada di gelas.
“Mau mulai sekarang?” Tanya Nanda.
“Boleh kok, kita pindah ke kasur yuk.” Ajak Kinan.
Mereka pun pindah ke atas kasur. Nanda baru akan membuka kancing kemeja yang ia kenakan, namun tangan Kinan menahan tangannya hingga mereka beradu tatap satu sama lain.
“Jangan buru-buru…”
Kinan mendekatkan wajahnya lalu mencium Nanda, yang berhasil membuat Nanda sedikit terkejut. Ia melihat Kinan yang memejamkan mata sambil menciumnya dengan penuh kelembutan. Nanda pun larut dalam suasana, hingga ia juga memejamkan mata seraya memeluk Kinan.
Ciuman terhenti, mereka saling membuka mata satu sama lain. Kecupan singkat diberikan kepada Nanda, Kinan pun tersenyum setelah melakukannya. Wajah Nanda memerah, entah karena segelas whiskey atau apa yang baru ia terima.
Jari-jemari Kinan mulai membuka kancing kemeja yang dikenakan Nanda secara perlahan, matanya mengikuti kemana jari-jarinya berada. Kinan pun berhasil menanggalkan kemeja, ia pun meletakkan kemeja itu di atas meja.
“Kamu suka olahraga?...”
Nanda kembali dibuat bingung. Kinan bukan sekedar meletakkan kemejanya di atas meja, melainkan ia melipatnya dengan rapi. Kinan pun kembali menatapnya.
“...keliatan bagus badan kamu.” Ucap Kinan.
“Ngga terlalu sering sih, paling dua kali seminggu. Soalnya udah keburu capek sama kerjaan.” Jelas Nanda.
“Kamu kerja apa?” Tanya Kinan.
“Gampangnya sih data analis. Jadi tugasnya tuh kalau ada data yang masuk, aku evaluasi dan kasih saran dengan kualitas yang paling baik.” Jelas Nanda.
Kinan tersenyum mendengar penjelasan Nanda, ia kembali menciumnya sesaat. Kinan menanggalkan baju yang ia kenakan, ia mengarahkan tangan Nanda untuk memegang kedua payudaranya. Kinan memejamkan matanya, ia pun menikmati permulaan pada malam ini.
Dalam keadaan memejamkan mata, Kinan meninggalkan tangan Nanda yang masih bermain dengan payudaranya, kali ini tangannya mengarah pada kancing celana panjang Nanda. Dengan sedikit usaha, akhirnya ia berhasil melepas kancing tersebut.
Ia membuka matanya, kecupan singkat kembali diberikan oleh Kinan, sebelum akhirnya ia berlutut di hadapan Nanda dengan matanya yang penuh harap. Ia menarik celana panjang Nanda hingga tertanggal begitu saja. Matanya pun tertuju pada kelamin Nanda yang sudah membesar. Kinan kembali melempar senyum, lalu kembali berfokus pada kelamin Nanda seraya menggenggamnya dengan tenaga seperlunya.
Nanda menikmati dalam pandangannya, kemudian Kinan melumat kelaminnya hingga berhasil membuat Nanda memejamkan matanya. Secara perlahan Kinan memainkan temponya, sesekali ia menatap Nanda yang sudah masuk dalam permainannya.
Beberapa saat berlalu begitu saja, Nanda mengangkat kedua tangan Kinan hingga berhasil membuatnya berdiri. Ia mengarahkannya untuk berbaring di atas kasur, Kinan pun menurut. Di hadapannya sudah terbaring Kinan, tangannya mulai menanggalkan celana pendek yang Kinan kenakan. Kepalanya mulai mendekat ke arah kelamin Kinan dan Nanda pun mulai menjilatinya. Apa yang ia lakukan berhasil membuat Kinan memejamkan mata, tangannya mengarahkan kepala Nanda untuk lebih dekat ke arah kelaminnya. Desahan mulai terdengar samar, Nanda mulai memainkan temponya.
Pemanasan dirasa cukup, Nanda pun berada di atas Kinan dan mulai memasukkan kelaminnya secara perlahan. Kinan mendesah cukup jelas seraya memejamkan matanya, kemudian ia kembali menatap Nanda lalu mengalungkan tangannya pada leher Nanda.
“Be gentle.” Pinta Kinan.
“I will.” Jawabnya.
Nanda mulai memainkan tempo secara perlahan, Kinan pun nampak menikmatinya dengan senyuman yang ia lempar kepada Nanda. Sesekali ia memaksa Nanda untuk mendekatkan wajahnya lalu menciumnya sesaat. Waktu berhasil terbunuh begitu saja, Nanda pun menghentikan gerakannya.
“Mau gantian ngga?” Tanya Kinan.
“Kamu mau?” Tanya Nanda balik.
Kinan mengangguk sambil tersenyum, akhirnya posisi mereka bertukar dengan sengaja. Kinan mengarahkan kelamin milik Nanda, secara perlahan ia pun menurunkan badannya hingga memendamkan kelamin Nanda ke dalam kelaminnya.
Kinan kembali memejamkan matanya seraya mengatur tempo, ia pun mengarahkan tangan Nanda untuk kembali memegang payudaranya.
Beberapa saat berlalu dengan sengaja, Kinan pun berhenti untuk istirahat, masih di posisi yang sama. Nafasnya sedikit terengah, Nanda pun dapat mendengarnya dengan mudah.
“Capek?” Tanya Nanda.
Kinan mengangguk, “Lumayan, karena kamu kuat. Aku udah lama banget ngga secapek ini, biasanya baru sebentar aja mereka langsung udahan.”
“Mau gantian lagi?” Tanya Nanda.
Kinan tersenyum lagi lalu mendekatkan wajahnya untuk kembali mencium Nanda. Matanya terpejam, tergambar dengan jelas bahwa ia menikmati setiap momen yang ada. Nanda pun memeluknya, dengan sengaja ia mengajak Kinan untuk berguling ke arah kiri hingga posisi mereka kembali seperti awal.
Secara perlahan Nanda memainkan tempo, ia pun juga menikmati setiap momennya. Perlahan tapi pasti, Nanda mulai mempercepat gerakannya hingga membuat Kinan mendesah semakin menjadi-jadi. Sayangnya, tidak semudah itu bagi Nanda untuk sampai pada puncaknya. Ia harus berusaha lebih keras lagi, bahkan di ruangan berpendingin ini, wajahnya memerah hingga ia sedikit mengeluarkan keringat. Kinan yang melihat itu menyeka keringat Nanda dengan tangannya kemudian tersenyum.
“Keluarin di muka aku.” Pinta Kinan.
“Yakin?” Tanya Nanda dengan terengah-engah.
“Please.” Pintanya lagi.
Dengan usaha sekuat tenaga, akhirnya Nanda mencapai puncaknya. Ia mendekatkan kelaminnya ke arah wajah Kinan dan cairan sperma pun keluar membasahi sebagian wajahnya. Nanda mengatur nafasnya yang sedang terengah-engah, seraya menatap ke arah Kinan. Tanpa diduga, Kinan mendekatkan wajahnya ke arah kelamin Nanda dan kembali melumatnya. Nanda dibuat memejamkan matanya, dalam arti ia sangat menikmatinya. Akhirnya Kinan kembali merebahkan dirinya, mereka pun beradu pandang satu sama lain.
“Makasih ya.” Ucap Kinan.
“Aku yang harusnya bilang terima kasih sama kamu.” Sahut Nanda.
Kinan tersenyum, “Mandi dulu yuk biar ngga gerah. Aku ada handuk lagi kalau kamu mau, atau kamu mau pake handuk aku juga?”
“Aku ikut aja, selagi ngga bikin repot.” Jawab Nanda.
Diubah oleh beavermoon 15-03-2023 19:36
i4munited dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas
Tutup