- Beranda
- Stories from the Heart
Nan and Sexaworld
...
TS
beavermoon
Nan and Sexaworld

Spoiler for Peringatan:
Cerita ini mengandung unsur seksual vulgar.
Jika belum boleh, disarankan untuk tunggu sampai waktunya.
Jika sudah boleh, mainkan imajinasimu.
Jika belum boleh, disarankan untuk tunggu sampai waktunya.
Jika sudah boleh, mainkan imajinasimu.
Pernahkah kalian menggunakan aplikasi kencan? Apa alasannya? Mencari jodoh? Mencoba peruntungan? Atau mencari pelarian dari sakit hati?
Nanda mulai pengalamannya dengan aplikasi kencan untuk pertama kalinya. Bukan tanpa sebab, sakit hati menjadi alasannya. Ia pun mencoba mencari pelarian di aplikasi tersebut, hingga tak diduga, ia kembali menemukan perasaannya di sana.
Lantas, apakah ia akan kembali jatuh cinta setelah sakit hati sebelumnya?
Spoiler for Episode:
1. Bersemi dengan Indah.
2. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 1)
3. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 2)
4. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 3)
5. Langit Abu-Abu. (Part 1)
6. Langit Abu-Abu. (Part 2)
7. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 1)
8. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 2)
9. When The World Is Yours...
10. Take Your Time...
11. Semua Orang Punya Rahasia.
12. Nan... (Part 1)
13. Nan... (Part 2)
14. Perdebatan Batin. (Part 1)
15. Perdebatan Batin. (Part 2)
16. Tak Sengaja...
17. Di Bawah Hujan, Semuanya Terungkap.
18. Upaya Maksimal. (Part 1)
19. Upaya Maksimal. (Part 2)
20. Dilema. (Part 1)
21. Dilema. (Part 2)
22. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 1)
23. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 2)
24. When The World is Mine... (FINALE)
Behind The Nan...
2. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 1)
3. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 2)
4. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 3)
5. Langit Abu-Abu. (Part 1)
6. Langit Abu-Abu. (Part 2)
7. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 1)
8. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 2)
9. When The World Is Yours...
10. Take Your Time...
11. Semua Orang Punya Rahasia.
12. Nan... (Part 1)
13. Nan... (Part 2)
14. Perdebatan Batin. (Part 1)
15. Perdebatan Batin. (Part 2)
16. Tak Sengaja...
17. Di Bawah Hujan, Semuanya Terungkap.
18. Upaya Maksimal. (Part 1)
19. Upaya Maksimal. (Part 2)
20. Dilema. (Part 1)
21. Dilema. (Part 2)
22. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 1)
23. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 2)
24. When The World is Mine... (FINALE)
Behind The Nan...
Diubah oleh beavermoon 01-04-2023 20:22
bukhorigan dan 2 lainnya memberi reputasi
3
4K
Kutip
30
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#8
Spoiler for 7. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 1):
Nanda membuka matanya dengan sangat berat, kepalanya terasa sakit hingga membuat pandangannya sedikit goyang. Beberapa saat ia memutuskan untuk tetap diam, sampai akhirnya pandangannya kembali pulih, namun tidak dengan sakit kepalanya. Ia memutuskan untuk bangun secara perlahan lalu duduk dengan tangannya yang menopang tubuh di atas kasur. Beberapa kedipan mata secara singkat, ia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Nanda menghela nafasnya setelah mengingat kejadian kemarin, ia memejamkan matanya sesaat lalu kembali membuka matanya dan bangun dari duduknya.
Secara perlahan ia menuju dapur lalu membuka lemari es, ia mengambil minuman kelapa kalengan untuk meredakan pengar. Ctek!Beberapa tegukan ia lakukan dalam satu tarikan nafas, kemudian ia menghela nafas panjang. Kepalanya sudah tidak terlalu pusing, Nanda berjalan menuju balkon kamarnya lalu menyalakan sebatang rokok. Matahari masih belum menampakkan dirinya, rasa sejuk masih terasa menyelimuti pagi ini.
Dalam tatapannya yang entah kosong atau tidak, ia memandang jauh ke depan. Sesekali tangannya mengarahkan rokok ke arah mulutnya untuk dihisap, hingga asap tebalnya sesekali menghalangi pandangannya sendiri. Beberapa kali pengulangan, rokok pun habis lalu dimatikan ke dalam asbak. Nanda kembali masuk ke dalam kamarnya.
Ia duduk di atas kasur lalu meraih ponselnya yang terletak di tepian, ada beberapa pesan masuk yang terlihat, di antaranya berasal dari Andreas.
"Kau tak usah masuk Bang, udah aku bilang ke Bos kalau kau sakit. Lebih baik kau istirahat atau jalan-jalan saja."
Nanda tak membalas pesan itu, ia beralih ke pesan-pesan lain yang juga tak ia balas. Sampai akhirnya Nanda bangun dari duduknya lalu beranjak menuju kamar mandi. Ia sempat terdiam menatap cermin, melihat refleksi dirinya saat ini yang sedang tidak baik-baik saja. Senyum simpul sempat ia lemparkan pada cermin, sebelum akhirnya ia masuk ke dalam kamar mandi.
Ting! Nanda keluar dari dalam lift kemudian berjalan ke luar dari kediamannya, dengan santai ia berjalan bersama dengan beberapa orang yang juga dengan urusannya masing-masing. Setibanya di Halte, ia naik ke dalam bus yang hampir dipenuhi oleh orang-orang. Nanda memilih untuk berdiri dan akhirnya Bus bergerak menuju pemberhentian berikutnya.
Tak banyak yang ia lakukan selama di perjalanan, hanya mendengarkan lagu menggunakan earphone sambil menatap ke luar kaca jendela. Sesekali ia menatap ke arah bangku penumpang, namun tidak bertahan lama sampai ia kembali menatap ke luar. Beberapa saat berlalu, ia pun turun di Halte bersama dengan beberapa orang lainnya. Nanda berjalan seraya menyalakan sebatang rokok, asap yang keluar pun tersapu oleh angin pagi yang menyambut dirinya.
Nanda menoleh ke arah samping setelah ia merasakan pundaknya ditepuk beberapa kali dengan cukup kuat, ia pun melepas earphone dari telinganya.
"Pagi Mas Nanda." Sahut Diandra.
"Pagi Di." Jawab Nanda.
"Keliatan suntuk banget Mas, is everything okay?" Tanya Diandra.
"I'm fine." Jawab Nanda singkat.
Diandra tersenyum, "Kadang aku suka bingung sama orang-orang yang masih bisa bilang nggapapa, padahal dia keliatan banget sedang ada masalah, salah satunya ya Mas Nanda sendiri."
Nanda melirik, "Emang keliatan banget ya Di?"
"Ngga tau deh kalau orang lain liatnya gimana, cuma buat aku yang hampir tiap hari bersinggungan sama Mas Nanda keliatan banget sih. There's something wrong with you, tapi aku ngga bisa maksa Mas Nanda buat cerita. Aku cuma bisa bilang, kalau Mas butuh apa-apa, kabarin aku aja."
"Sibuk ngga hari ini?" Tanya Nanda.
Diandra menatap ke arah Nanda hingga mereka beradu pandang dalam waktu yang singkat.
Nanda datang ke arah Diandra yang sudah duduk di bangku halaman depan Kantor dengan membawa dua gelas kertas berisi kopi panas yang baru saja ia beli, ia memberikan salah satunya kepada Diandra.
"Makasih ya Mas." Ucap Diandra.
Nanda mengangguk, kemudian ia menyalakan sebatang rokok yang juga diikuti oleh Diandra. Nanda sempat meminum kopinya sedikit sebelum akhirnya ia menatap Diandra yang sudah menatapnya terlebih dahulu.
"Jadi, Mas Nanda sedang ada masalah apa?" Tanya Diandra.
"Kamu tau kan aku udah tunangan?" Tanya Nanda.
Diandra mengangguk pelan.
"Awalnya Batak ngabarin kalau dia ketemu sama tunanganku di salah satu apartemen. Aku kira dia salah liat karena yang aku tau itu tunanganku lagi tugas di luar kota. Batak pun ngasih buktinya kalau dia ngga salah liat. Aku sama Batak akhirnya nyamperin dia ke apartemen itu..."
Diandra menghisap rokoknya sambil menatap Nanda.
"...Kita sampai di sana dan bener aja, tunanganku ada di salah satu kamar. Itu semua semakin buruk ketika ternyata dia ngga sendiri, ada laki-laki lain di dalam kamar itu yang manggil dia 'sayang'. Pada akhirnya dia balikin cincin pertunangan kita gitu aja dan tetep milih untuk sama laki-laki itu." Jelas Nanda.
Diandra meletakkan tangannya pada pundak Nanda, "Apa Mas Nanda sebelumnya ada masalah sama dia?"
Nanda menggeleng seraya menghembuskan asap rokok dari mulutnya, "Sama sekali ngga ada masalah, semuanya baik-baik aja. Semisal ada masalah, kita berdua sama-sama orang yang harus menyelesaikan masalah itu sampai selesai. Kenyataannya berubah jauh banget sama dia kemarin, kayak bukan dia yang aku kenal."
Diandra mengusap pundak Nanda, "Apa jangan-jangan selama ini tunangannya Mas Nanda cuma alasan aja untuk ke luar kota?"
"Aku ngga tau, bisa jadi." Jawabnya singkat.
"Terlalu banyak kemungkinan sih. Mas Nanda ngga mau nemuin dia buat nanya kejelasan?" Tanya Diandra.
"Buat apa Di? Bukannya semuanya udah jelas?" Tanya Nanda.
Diandra menggeleng, "Belum jelas. Mas Nanda harus tau alasannya dia kenapa bisa ngelakuin ini semua. Beda urusan kalau Mas masih pacaran, tapi Mas Nanda udah tunangan sama dia, jauh lebih serius."
Ting! Ponsel milik Nanda berbunyi, ia menyempatkan untuk membaca pesan yang baru saja masuk. Matanya cukup terbuka lebar setelah melihat pesan tersebut, ia memperlihatkan pesan itu kepada Diandra.
"Bisa ketemu?" Naya.
"Ayo Mas, aku temenin." Ucap Diandra.
"Aku sih udah diizinin ngga masuk hari ini, kamu gimana?" Tanya Nanda.
"Udah gampang Mas, ayo kita berangkat." Ajak Diandra.
Akhirnya mereka berdua bergegas meninggalkan Kantor menuju Halte, Nanda sempat membalas pesan Naya untuk menentukan lokasi di mana mereka akan bertemu, sampai akhirnya bus datang lalu mereka berdua masuk ke dalamnya.
Beberapa saat dalam perjalanan, akhirnya mereka turun di salah satu Halte bersama dengan beberapa orang lain. Nanda dan Diandra berjalan berdampingan melewati beberapa gerai yang menjual jajanan pada pagi hari. Akhirnya mereka tiba di tempat tujuan, namun Nanda menahan langkah Diandra.
"Itu dia, kamu mau nunggu di sini aja?" Tanya Nanda.
Diandra mengangguk pertanda setuju. Nanda berjalan mendekat ke arah Naya yang sedang berdiri di tepian jalan sambil memainkan ponselnya. Ia pun menyadari kedatangan Nanda dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil yang ia pegang.
"Kamu sendiri ke sini?" Tanya Naya.
Nanda tak menjawab pertanyaannya, ia hanya diam memandangi Naya yang saat ini ada di hadapannya setelah apa yang telah terjadi kemarin. Secara diam-diam, Diandra mendekat ke arah mereka tanpa diketahui.
"Aku sadar kalau kamu masih ngga terima sama kejadian kemarin, kamu ngga biasanya diem kayak gini. Kalau gitu aku mulai aja..."
Nanda mematung mendengarkan.
"...Kalau kamu mau tau siapa dia, dia itu salah satu klien aku, namanya Jo. Bukan tanpa sengaja kita ketemu, setelah pekerjaan kita selesai, Jo ngajakin aku ke salah satu kedai di luar kota saat itu. Aku kira cuma untuk hari itu aja, ternyata ngga. Jo berturut-turut selalu ajak aku ke tempat-tempat di sana. Sampai akhirnya Jo nyatain perasaannya ke aku..."
Nanda menghela nafasnya singkat.
"...aku bilang kalau kita udah tunangan, tapi yang diucapin sama Jo bener-bener bikin aku kaget..."
"Sorry banget Jo, lo harus liat ini." Ucap Naya.
Naya menunjukkan jari manis tangan kirinya, di mana ada cincin yang melekat pemberian dari Nanda. Jo memegang tangan Naya untuk mendekatkan tangannya agar lebih mudah ia lihat.
"What if..." Jo melepas cincin tersebut, "see? Sekarang kamu menjadi wanita single seutuhnya. Bener ngga?"
"Ngga gitu dong Jo. Tunangan gue tetep masih ada di sana, dia masih nungguin gue pulang dari sini." Ucap Naya.
"Kasih gue kesempatan satu kali aja. Semisal lo masih mikirin tunangan lo, gue akan mundur dengan jantan. Semisal lo bisa ngelupain dia, you're mine." Kata Jo.
"Apa yang mau lo lakuin?" Tanya Naya.
"24 jam bersama Jo, itu dia. Lo balik 3 hari lagi kan? Gue akan bikin agenda dimana gue bisa bikin lo lupa sama tunangan lo dalam waktu 24 jam. Gimana?" Jelas Jo.
"Ngga mungkin banget cuma 24 jam Jo." Sanggah Naya.
"Berarti lo ngga takut dong buat ngelakuin itu?" Tanya Jo.
Naya menghela nafasnya, "Oke, gue setuju dengan 24 jam bersama Jo. Jangan pernah kejar gue lagi kalau lo ngga berhasil, pegang omongan lo tadi."
"Deal..." Jo mengulurkan tangannya, "begitu juga dengan sebaliknya ya, kalau gue berhasil, tinggalin tunangan lo itu begitu aja."
Naya menjabat tangan Jo begitu saja, ia akan membuktikan bahwa tidak akan mungkin hanya dalam waktu 24 jam ia bisa melupakan Nanda begitu saja.
"...Jo berhasil, aku sama sekali ngga nyangka kalau dia berhasil bikin aku lupa sama kamu begitu aja dalam waktu 24 jam." Jelas Naya.
"Semudah itu?" Tanya Nanda.
Naya menghela nafasnya, "Aku tau kamu ngga akan percaya dan ngga akan terima, tapi itu kenyataannya. Aku minta maaf sama kamu soal semua kejadian itu."
Angin berhembus dengan sengaja melewati mereka yang sedang beradu pandang, hembusannya berhasil membuat rambut Naya menutupi sebagian wajahnya hingga ia harus menahan dengan tangannya. Bersamaan dengan itu pula, Nanda menghela nafasnya untuk kesekian kalinya.
"Aku rasa cukup penjelasan dari kamu..." Nanda mengulurkan tanganya, "kamu udah nentuin semuanya, dan aku juga harus bisa terima keadaannya."
Naya menatap ke arah uluran tangan Nanda, sebelum akhirnya ia kembali menatap kedua matanya. Ada rasa yang mengganjal kemudian, Naya dapat merasakannya dengan sangat jelas. Seperti ada rasa yang menyesakkan dada, namun entah apa alasannya, hingga ia secara tiba-tiba meneteskan air mata.
Dengan cepat Naya menyeka air matanya, membiarkan Nanda yang masih mengulurkan tangannya. Hanya membutuhkan beberapa detik aja, hingga Naya pun akhirnya menjabat tangan Nanda.
"Makasih ya buat semuanya..."
Nanda sempat melihat ke arah Diandra yang masih berdiri di seberang jalan, kemudian ia kembali menatap Naya.
"...semoga kamu bahagia sama dia ya." Ucap Nanda.
Naya menarik tangan Nanda lalu memeluknya dengan erat, sebuah tindakan yang diluar dugaan. Nanda hanya dapat melihat Naya yang memendamkan wajahnya dalam pelukan, ia memilih untuk diam, hingga Naya melepas pelukannya lalu pergi meninggalkan Nanda begitu saja. Pandangan Nanda masih tertuju pada langkah kaki Naya yang semakin lama semakin menjauh, hingga ia disadarkan pada kedatangan Diandra.
"Gimana Mas?" Tanya Diandra.
Nanda menatapnya, "Udah ngga ada yang perlu dijelasin lagi, dan ngga ada yang harus aku perjuangin lagi. Semuanya udah berjalan dengan semestinya, dan aku harus nerima semuanya."
Diandra menghela nafas, "Kalau gitu, gimana sekarang kita ke alun-alun Mas? Kalau aku ngga salah ya, ada bazar kuliner di sana. Dari pada aku udah bolos kerja ngga dapet apa-apaan, mending kita ke sana."
Nanda tersenyum, "Boleh, ayo kita ke sana."
Akhirnya mereka berjalan berdampingan menuju lokasi yang sudah ditentukan.
Tanpa terasa, malam menjelang. Nanda melangkahkan kakinya sambil memainkan ponsel, sesekali ia melihat sekeliling. Langkahnya sempat terhenti sesaat, kemudian ia masuk ke dalam sebuah tempat. Setibanya di dalam, ia sempat melihat-lihat seisi ruangan dengan seksama.
"Bang!..."
Nanda melihat ke arah sumber suara, ada Andreas yang sudah duduk di sebuah kursi dengan tangannya yang melambai-lambai ke arahnya. Ia pun berjalan mendekat ke arahnya.
"...akhirnya datang juga kau. Duduk dulu lah, biar aku pesankan minum. Kau mau apa? Scotch kek biasa atau mau yang lain?" Ucap Andreas.
"Boleh lah." Jawab Nanda singkat.
Andreas bangun untuk memesankan minuman sementara Nanda duduk di kursi yang tersedia. Tak membutuhkan waktu lama bagi Andreas membawakan segelas minuman pesanan Nanda.
"Minum Bang..." Andreas meletakkan gelas di meja, "cemana harimu Bang? Baik-baik saja kan?"
"Mendingan lah, gue tadi ketemu lagi sama Naya ditemenin Diandra." Ucap Nanda.
"Ngga salah dengar aku Bang? Ngapain kau ketemu lagi sama Naya? Bentar, sama Diandra juga? Pantas saja dia tak nampak di Kantor tadi." Tanya Andreas.
Nanda meminum sedikit, "Gue ceritain satu-satu. Jadi gue ngga sengaja ketemu sama Diandra tadi, gue cerita ke dia. Dia nyaranin gue buat ketemu sama Naya, beruntungnya Naya pas ngabarin gue. Jadinya gue sama dia ketemu sama Naya."
"Akhirnya cemana Bang?" Tanya Andreas.
"Ya udah semuanya udah jelas, dia milih cowo itu dan kita udahan." Jawabnya.
Mereka kembali meminum minuman mereka masing-masing, kemudian Nanda menyalakan sebatang rokok.
"Kau masih galau-galau gitu Bang?" Tanya Andreas.
Nanda bergumam, "Ngga tau lah ini namanya apaan, tapi yang jelas sih gue lagi males ngapa-ngapain."
"Macam ngga ada gairah gitu Bang?" Tanya Andreas lagi.
Nanda mengangguk dengan setuju, kemudian ia kembali menghisap rokok yang sudah menyala.
"Ikut saja kau nanti malam." Ajak Andreas.
"Mau ke mana?" Tanya Nanda.
Secara perlahan ia menuju dapur lalu membuka lemari es, ia mengambil minuman kelapa kalengan untuk meredakan pengar. Ctek!Beberapa tegukan ia lakukan dalam satu tarikan nafas, kemudian ia menghela nafas panjang. Kepalanya sudah tidak terlalu pusing, Nanda berjalan menuju balkon kamarnya lalu menyalakan sebatang rokok. Matahari masih belum menampakkan dirinya, rasa sejuk masih terasa menyelimuti pagi ini.
Dalam tatapannya yang entah kosong atau tidak, ia memandang jauh ke depan. Sesekali tangannya mengarahkan rokok ke arah mulutnya untuk dihisap, hingga asap tebalnya sesekali menghalangi pandangannya sendiri. Beberapa kali pengulangan, rokok pun habis lalu dimatikan ke dalam asbak. Nanda kembali masuk ke dalam kamarnya.
Ia duduk di atas kasur lalu meraih ponselnya yang terletak di tepian, ada beberapa pesan masuk yang terlihat, di antaranya berasal dari Andreas.
"Kau tak usah masuk Bang, udah aku bilang ke Bos kalau kau sakit. Lebih baik kau istirahat atau jalan-jalan saja."
Nanda tak membalas pesan itu, ia beralih ke pesan-pesan lain yang juga tak ia balas. Sampai akhirnya Nanda bangun dari duduknya lalu beranjak menuju kamar mandi. Ia sempat terdiam menatap cermin, melihat refleksi dirinya saat ini yang sedang tidak baik-baik saja. Senyum simpul sempat ia lemparkan pada cermin, sebelum akhirnya ia masuk ke dalam kamar mandi.
Ting! Nanda keluar dari dalam lift kemudian berjalan ke luar dari kediamannya, dengan santai ia berjalan bersama dengan beberapa orang yang juga dengan urusannya masing-masing. Setibanya di Halte, ia naik ke dalam bus yang hampir dipenuhi oleh orang-orang. Nanda memilih untuk berdiri dan akhirnya Bus bergerak menuju pemberhentian berikutnya.
Tak banyak yang ia lakukan selama di perjalanan, hanya mendengarkan lagu menggunakan earphone sambil menatap ke luar kaca jendela. Sesekali ia menatap ke arah bangku penumpang, namun tidak bertahan lama sampai ia kembali menatap ke luar. Beberapa saat berlalu, ia pun turun di Halte bersama dengan beberapa orang lainnya. Nanda berjalan seraya menyalakan sebatang rokok, asap yang keluar pun tersapu oleh angin pagi yang menyambut dirinya.
Nanda menoleh ke arah samping setelah ia merasakan pundaknya ditepuk beberapa kali dengan cukup kuat, ia pun melepas earphone dari telinganya.
"Pagi Mas Nanda." Sahut Diandra.
"Pagi Di." Jawab Nanda.
"Keliatan suntuk banget Mas, is everything okay?" Tanya Diandra.
"I'm fine." Jawab Nanda singkat.
Diandra tersenyum, "Kadang aku suka bingung sama orang-orang yang masih bisa bilang nggapapa, padahal dia keliatan banget sedang ada masalah, salah satunya ya Mas Nanda sendiri."
Nanda melirik, "Emang keliatan banget ya Di?"
"Ngga tau deh kalau orang lain liatnya gimana, cuma buat aku yang hampir tiap hari bersinggungan sama Mas Nanda keliatan banget sih. There's something wrong with you, tapi aku ngga bisa maksa Mas Nanda buat cerita. Aku cuma bisa bilang, kalau Mas butuh apa-apa, kabarin aku aja."
"Sibuk ngga hari ini?" Tanya Nanda.
Diandra menatap ke arah Nanda hingga mereka beradu pandang dalam waktu yang singkat.
Nanda datang ke arah Diandra yang sudah duduk di bangku halaman depan Kantor dengan membawa dua gelas kertas berisi kopi panas yang baru saja ia beli, ia memberikan salah satunya kepada Diandra.
"Makasih ya Mas." Ucap Diandra.
Nanda mengangguk, kemudian ia menyalakan sebatang rokok yang juga diikuti oleh Diandra. Nanda sempat meminum kopinya sedikit sebelum akhirnya ia menatap Diandra yang sudah menatapnya terlebih dahulu.
"Jadi, Mas Nanda sedang ada masalah apa?" Tanya Diandra.
"Kamu tau kan aku udah tunangan?" Tanya Nanda.
Diandra mengangguk pelan.
"Awalnya Batak ngabarin kalau dia ketemu sama tunanganku di salah satu apartemen. Aku kira dia salah liat karena yang aku tau itu tunanganku lagi tugas di luar kota. Batak pun ngasih buktinya kalau dia ngga salah liat. Aku sama Batak akhirnya nyamperin dia ke apartemen itu..."
Diandra menghisap rokoknya sambil menatap Nanda.
"...Kita sampai di sana dan bener aja, tunanganku ada di salah satu kamar. Itu semua semakin buruk ketika ternyata dia ngga sendiri, ada laki-laki lain di dalam kamar itu yang manggil dia 'sayang'. Pada akhirnya dia balikin cincin pertunangan kita gitu aja dan tetep milih untuk sama laki-laki itu." Jelas Nanda.
Diandra meletakkan tangannya pada pundak Nanda, "Apa Mas Nanda sebelumnya ada masalah sama dia?"
Nanda menggeleng seraya menghembuskan asap rokok dari mulutnya, "Sama sekali ngga ada masalah, semuanya baik-baik aja. Semisal ada masalah, kita berdua sama-sama orang yang harus menyelesaikan masalah itu sampai selesai. Kenyataannya berubah jauh banget sama dia kemarin, kayak bukan dia yang aku kenal."
Diandra mengusap pundak Nanda, "Apa jangan-jangan selama ini tunangannya Mas Nanda cuma alasan aja untuk ke luar kota?"
"Aku ngga tau, bisa jadi." Jawabnya singkat.
"Terlalu banyak kemungkinan sih. Mas Nanda ngga mau nemuin dia buat nanya kejelasan?" Tanya Diandra.
"Buat apa Di? Bukannya semuanya udah jelas?" Tanya Nanda.
Diandra menggeleng, "Belum jelas. Mas Nanda harus tau alasannya dia kenapa bisa ngelakuin ini semua. Beda urusan kalau Mas masih pacaran, tapi Mas Nanda udah tunangan sama dia, jauh lebih serius."
Ting! Ponsel milik Nanda berbunyi, ia menyempatkan untuk membaca pesan yang baru saja masuk. Matanya cukup terbuka lebar setelah melihat pesan tersebut, ia memperlihatkan pesan itu kepada Diandra.
"Bisa ketemu?" Naya.
"Ayo Mas, aku temenin." Ucap Diandra.
"Aku sih udah diizinin ngga masuk hari ini, kamu gimana?" Tanya Nanda.
"Udah gampang Mas, ayo kita berangkat." Ajak Diandra.
Akhirnya mereka berdua bergegas meninggalkan Kantor menuju Halte, Nanda sempat membalas pesan Naya untuk menentukan lokasi di mana mereka akan bertemu, sampai akhirnya bus datang lalu mereka berdua masuk ke dalamnya.
Beberapa saat dalam perjalanan, akhirnya mereka turun di salah satu Halte bersama dengan beberapa orang lain. Nanda dan Diandra berjalan berdampingan melewati beberapa gerai yang menjual jajanan pada pagi hari. Akhirnya mereka tiba di tempat tujuan, namun Nanda menahan langkah Diandra.
"Itu dia, kamu mau nunggu di sini aja?" Tanya Nanda.
Diandra mengangguk pertanda setuju. Nanda berjalan mendekat ke arah Naya yang sedang berdiri di tepian jalan sambil memainkan ponselnya. Ia pun menyadari kedatangan Nanda dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil yang ia pegang.
"Kamu sendiri ke sini?" Tanya Naya.
Nanda tak menjawab pertanyaannya, ia hanya diam memandangi Naya yang saat ini ada di hadapannya setelah apa yang telah terjadi kemarin. Secara diam-diam, Diandra mendekat ke arah mereka tanpa diketahui.
"Aku sadar kalau kamu masih ngga terima sama kejadian kemarin, kamu ngga biasanya diem kayak gini. Kalau gitu aku mulai aja..."
Nanda mematung mendengarkan.
"...Kalau kamu mau tau siapa dia, dia itu salah satu klien aku, namanya Jo. Bukan tanpa sengaja kita ketemu, setelah pekerjaan kita selesai, Jo ngajakin aku ke salah satu kedai di luar kota saat itu. Aku kira cuma untuk hari itu aja, ternyata ngga. Jo berturut-turut selalu ajak aku ke tempat-tempat di sana. Sampai akhirnya Jo nyatain perasaannya ke aku..."
Nanda menghela nafasnya singkat.
"...aku bilang kalau kita udah tunangan, tapi yang diucapin sama Jo bener-bener bikin aku kaget..."
"Sorry banget Jo, lo harus liat ini." Ucap Naya.
Naya menunjukkan jari manis tangan kirinya, di mana ada cincin yang melekat pemberian dari Nanda. Jo memegang tangan Naya untuk mendekatkan tangannya agar lebih mudah ia lihat.
"What if..." Jo melepas cincin tersebut, "see? Sekarang kamu menjadi wanita single seutuhnya. Bener ngga?"
"Ngga gitu dong Jo. Tunangan gue tetep masih ada di sana, dia masih nungguin gue pulang dari sini." Ucap Naya.
"Kasih gue kesempatan satu kali aja. Semisal lo masih mikirin tunangan lo, gue akan mundur dengan jantan. Semisal lo bisa ngelupain dia, you're mine." Kata Jo.
"Apa yang mau lo lakuin?" Tanya Naya.
"24 jam bersama Jo, itu dia. Lo balik 3 hari lagi kan? Gue akan bikin agenda dimana gue bisa bikin lo lupa sama tunangan lo dalam waktu 24 jam. Gimana?" Jelas Jo.
"Ngga mungkin banget cuma 24 jam Jo." Sanggah Naya.
"Berarti lo ngga takut dong buat ngelakuin itu?" Tanya Jo.
Naya menghela nafasnya, "Oke, gue setuju dengan 24 jam bersama Jo. Jangan pernah kejar gue lagi kalau lo ngga berhasil, pegang omongan lo tadi."
"Deal..." Jo mengulurkan tangannya, "begitu juga dengan sebaliknya ya, kalau gue berhasil, tinggalin tunangan lo itu begitu aja."
Naya menjabat tangan Jo begitu saja, ia akan membuktikan bahwa tidak akan mungkin hanya dalam waktu 24 jam ia bisa melupakan Nanda begitu saja.
"...Jo berhasil, aku sama sekali ngga nyangka kalau dia berhasil bikin aku lupa sama kamu begitu aja dalam waktu 24 jam." Jelas Naya.
"Semudah itu?" Tanya Nanda.
Naya menghela nafasnya, "Aku tau kamu ngga akan percaya dan ngga akan terima, tapi itu kenyataannya. Aku minta maaf sama kamu soal semua kejadian itu."
Angin berhembus dengan sengaja melewati mereka yang sedang beradu pandang, hembusannya berhasil membuat rambut Naya menutupi sebagian wajahnya hingga ia harus menahan dengan tangannya. Bersamaan dengan itu pula, Nanda menghela nafasnya untuk kesekian kalinya.
"Aku rasa cukup penjelasan dari kamu..." Nanda mengulurkan tanganya, "kamu udah nentuin semuanya, dan aku juga harus bisa terima keadaannya."
Naya menatap ke arah uluran tangan Nanda, sebelum akhirnya ia kembali menatap kedua matanya. Ada rasa yang mengganjal kemudian, Naya dapat merasakannya dengan sangat jelas. Seperti ada rasa yang menyesakkan dada, namun entah apa alasannya, hingga ia secara tiba-tiba meneteskan air mata.
Dengan cepat Naya menyeka air matanya, membiarkan Nanda yang masih mengulurkan tangannya. Hanya membutuhkan beberapa detik aja, hingga Naya pun akhirnya menjabat tangan Nanda.
"Makasih ya buat semuanya..."
Nanda sempat melihat ke arah Diandra yang masih berdiri di seberang jalan, kemudian ia kembali menatap Naya.
"...semoga kamu bahagia sama dia ya." Ucap Nanda.
Naya menarik tangan Nanda lalu memeluknya dengan erat, sebuah tindakan yang diluar dugaan. Nanda hanya dapat melihat Naya yang memendamkan wajahnya dalam pelukan, ia memilih untuk diam, hingga Naya melepas pelukannya lalu pergi meninggalkan Nanda begitu saja. Pandangan Nanda masih tertuju pada langkah kaki Naya yang semakin lama semakin menjauh, hingga ia disadarkan pada kedatangan Diandra.
"Gimana Mas?" Tanya Diandra.
Nanda menatapnya, "Udah ngga ada yang perlu dijelasin lagi, dan ngga ada yang harus aku perjuangin lagi. Semuanya udah berjalan dengan semestinya, dan aku harus nerima semuanya."
Diandra menghela nafas, "Kalau gitu, gimana sekarang kita ke alun-alun Mas? Kalau aku ngga salah ya, ada bazar kuliner di sana. Dari pada aku udah bolos kerja ngga dapet apa-apaan, mending kita ke sana."
Nanda tersenyum, "Boleh, ayo kita ke sana."
Akhirnya mereka berjalan berdampingan menuju lokasi yang sudah ditentukan.
Tanpa terasa, malam menjelang. Nanda melangkahkan kakinya sambil memainkan ponsel, sesekali ia melihat sekeliling. Langkahnya sempat terhenti sesaat, kemudian ia masuk ke dalam sebuah tempat. Setibanya di dalam, ia sempat melihat-lihat seisi ruangan dengan seksama.
"Bang!..."
Nanda melihat ke arah sumber suara, ada Andreas yang sudah duduk di sebuah kursi dengan tangannya yang melambai-lambai ke arahnya. Ia pun berjalan mendekat ke arahnya.
"...akhirnya datang juga kau. Duduk dulu lah, biar aku pesankan minum. Kau mau apa? Scotch kek biasa atau mau yang lain?" Ucap Andreas.
"Boleh lah." Jawab Nanda singkat.
Andreas bangun untuk memesankan minuman sementara Nanda duduk di kursi yang tersedia. Tak membutuhkan waktu lama bagi Andreas membawakan segelas minuman pesanan Nanda.
"Minum Bang..." Andreas meletakkan gelas di meja, "cemana harimu Bang? Baik-baik saja kan?"
"Mendingan lah, gue tadi ketemu lagi sama Naya ditemenin Diandra." Ucap Nanda.
"Ngga salah dengar aku Bang? Ngapain kau ketemu lagi sama Naya? Bentar, sama Diandra juga? Pantas saja dia tak nampak di Kantor tadi." Tanya Andreas.
Nanda meminum sedikit, "Gue ceritain satu-satu. Jadi gue ngga sengaja ketemu sama Diandra tadi, gue cerita ke dia. Dia nyaranin gue buat ketemu sama Naya, beruntungnya Naya pas ngabarin gue. Jadinya gue sama dia ketemu sama Naya."
"Akhirnya cemana Bang?" Tanya Andreas.
"Ya udah semuanya udah jelas, dia milih cowo itu dan kita udahan." Jawabnya.
Mereka kembali meminum minuman mereka masing-masing, kemudian Nanda menyalakan sebatang rokok.
"Kau masih galau-galau gitu Bang?" Tanya Andreas.
Nanda bergumam, "Ngga tau lah ini namanya apaan, tapi yang jelas sih gue lagi males ngapa-ngapain."
"Macam ngga ada gairah gitu Bang?" Tanya Andreas lagi.
Nanda mengangguk dengan setuju, kemudian ia kembali menghisap rokok yang sudah menyala.
"Ikut saja kau nanti malam." Ajak Andreas.
"Mau ke mana?" Tanya Nanda.
oktavp dan i4munited memberi reputasi
2
Kutip
Balas