- Beranda
- Stories from the Heart
Nan and Sexaworld
...
TS
beavermoon
Nan and Sexaworld

Spoiler for Peringatan:
Cerita ini mengandung unsur seksual vulgar.
Jika belum boleh, disarankan untuk tunggu sampai waktunya.
Jika sudah boleh, mainkan imajinasimu.
Jika belum boleh, disarankan untuk tunggu sampai waktunya.
Jika sudah boleh, mainkan imajinasimu.
Pernahkah kalian menggunakan aplikasi kencan? Apa alasannya? Mencari jodoh? Mencoba peruntungan? Atau mencari pelarian dari sakit hati?
Nanda mulai pengalamannya dengan aplikasi kencan untuk pertama kalinya. Bukan tanpa sebab, sakit hati menjadi alasannya. Ia pun mencoba mencari pelarian di aplikasi tersebut, hingga tak diduga, ia kembali menemukan perasaannya di sana.
Lantas, apakah ia akan kembali jatuh cinta setelah sakit hati sebelumnya?
Spoiler for Episode:
1. Bersemi dengan Indah.
2. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 1)
3. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 2)
4. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 3)
5. Langit Abu-Abu. (Part 1)
6. Langit Abu-Abu. (Part 2)
7. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 1)
8. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 2)
9. When The World Is Yours...
10. Take Your Time...
11. Semua Orang Punya Rahasia.
12. Nan... (Part 1)
13. Nan... (Part 2)
14. Perdebatan Batin. (Part 1)
15. Perdebatan Batin. (Part 2)
16. Tak Sengaja...
17. Di Bawah Hujan, Semuanya Terungkap.
18. Upaya Maksimal. (Part 1)
19. Upaya Maksimal. (Part 2)
20. Dilema. (Part 1)
21. Dilema. (Part 2)
22. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 1)
23. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 2)
24. When The World is Mine... (FINALE)
Behind The Nan...
2. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 1)
3. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 2)
4. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 3)
5. Langit Abu-Abu. (Part 1)
6. Langit Abu-Abu. (Part 2)
7. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 1)
8. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 2)
9. When The World Is Yours...
10. Take Your Time...
11. Semua Orang Punya Rahasia.
12. Nan... (Part 1)
13. Nan... (Part 2)
14. Perdebatan Batin. (Part 1)
15. Perdebatan Batin. (Part 2)
16. Tak Sengaja...
17. Di Bawah Hujan, Semuanya Terungkap.
18. Upaya Maksimal. (Part 1)
19. Upaya Maksimal. (Part 2)
20. Dilema. (Part 1)
21. Dilema. (Part 2)
22. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 1)
23. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 2)
24. When The World is Mine... (FINALE)
Behind The Nan...
Diubah oleh beavermoon 01-04-2023 20:22
bukhorigan dan 2 lainnya memberi reputasi
3
4K
Kutip
30
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#4
Spoiler for 3. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 2):
"Cincin apa ini Bang?..." Andreas melihat tangan Nanda, "baru liat aku kalau kau pakai cincin sekarang. Beli di mana kau Bang? Bagus juga aku lihat-lihat."
"Menurut lo cincin apa ini?" Tanya Nanda.
"Kalau aku lihat-lihat... kau tunangan dengan Naya?" Tanya Andreas penasaran.
Nanda tersenyum menjawab pertanyaan Andreas, dengan segera ia menjabat tangan Nanda dengan penuh suka cita.
"Selamat ya Bang! Ngga nyangka aku kalau kalian akan segera menuju pelaminan, baru aja kemarin kita bicara soal keseriusan." Ucap Andreas.
Nanda mengangguk, "Sebenernya gue juga ngga nyangka akan secepet ini, tapi gue mikir kalau makin lama yang ada gue makin ragu dan susah sama keadaannya. Terlebih Naya juga lagi sibuk-sibuknya."
"Betul juga sih, tetep selamat buat kalian." Ucap Andreas.
"Ada apa ini?"
Dengan cepat Andreas menatap ke arah Diandra yang sudah berdiri di sampingnya.
"Eh Diandra, ini nih Abang kita baru aja tunangan sama pacarnya." Jawab Andreas.
"Serius Mas Nan? Selamat ya Mas atas pertunangannya..." Diandra menjabat tangan Nanda, "eh iya Mas, ngomong-ngomong aku sekalian mau nganterin laporan yang Mas minta buat verifikasi data."
Nanda menerima berkas tersebut, "Oh iya, makasih ya. Laporan ini udah diminta buat pengadaan bulan kemarin, kalau sampai ngga ada bisa-bisa kita yang kena sembur nanti."
"Kita tangkis lah kayak biasanya." Sahut Andreas.
Ucapan Andreas berhasil membuat mereka bertiga tertawa, dan akhirnya Diandra memutuskan untuk kembali ke tempat kerjanya, meninggalkan Andreas yang masih menatapi setiap langkahnya hingga ia hilang masuk ke dalam ruangan.
"Udah masuk dia, masih aja diliatin." Sahut Nanda.
"Macam mana ya Bang, dia itu tipeku kali. Ngga terlalu tinggi, rambutnya ngga terlalu panjang, pokoknya aku kali lah." Jawab Andreas.
"Kalau gitu deketin dong, jangan cuma diliatin doang." Ucap Nanda.
"Itu dia masalahnya Bang..."
Nanda menatap ke arah Andreas dengan serius.
"...kau ingat sama perempuan yang kita ketemu di Paladin kemarin? Tiba-tiba aku deket sama dia Bang." Jawab Andreas.
"Loh, kalau gitu ya deketin dia aja, jangan deketin Diandra juga." Ucap Nanda.
"Niatku sama perempuan itu cuma buat tidur malam itu aja, eh ternyata keterusan sampai sekarang..." Ting!Andreas menunjukkan ponselnya kepada Nanda, "kau lihat sendiri aja lah Bang biar aku ngga disangka menipu."
Nanda membaca pesan itu, "Gila juga lo ya Tak, bisa-bisanya naklukin perempuan hanya dalam satu malam. Jarang-jarang tuh ada orang yang bisa kayak gitu."
"Siapa dulu, Andreas Ezekiel Rajagukguk." Jawabnya.
Siang pun menjelang, Andreas dan Nanda sedang berada di halaman depan Kantor sambil menyalakan sebatang rokok. Andreas sedang sibuk dengan ponselnya sementara Nanda sedang melihat-lihat keadaan sekitar.
"Masih lama ngga lo?" Tanya Nanda.
"Bentar Bang..." Mata Andreas tidak berpaling dari ponsel, "aku balas ini dulu sebentar, abis ini baru kita makan."
Nanda melihat ke arah pintu masuk gedung, di mana ada Diandra yang baru saja keluar dari dalam, ia berjalan mendekat ke arah Nanda lalu berdiri di hadapannya.
"Mas Nanda mau makan apa? Aku boleh ikutan ngga?" Tanya Diandra.
"Ngga tau nih, kayaknya mau makan nasi padang aja. Kamu mau ikut Di?" Ucap Nanda.
"Boleh emang Mas?" Tanya Diandra lagi.
"Ya boleh dong, ayo kalau gitu." Ajak Nanda.
Nanda pun beranjak bersama Diandra meninggalkan Andreas yang masih berkutat dengan ponselnya. Mereka berdua berjalan menuju tepi jalan pada siang hari.
"Bang Batak sibuk banget keliatannya Mas." Ucap Diandra.
"Aku juga ngga ngerti dia lagi ngapain, dari tadi pas kamu ngasih laporan sampai sekarang main ponsel terus." Jawab Nanda.
"Eh iya Mas, tunangannya Mas Nanda kerja di mana kalau aku boleh tau?" Tanya Diandra.
"Dia tuh kerja di Utara, bagian pemeriksaan barang. Dia yang verifikasi barangnya, baru laporan ke Kantor." Jawab Nanda.
Mereka masuk ke dalam sebuah Restoran Masakan Padang yang tidak jauh dari Kantor. Mereka pun melihat-lihat makanan apa saja yang tersedia di sana.
"Mas Nanda mau mesen apa?" Tanya Diandra.
"Menu tengah aja deh, nanti juga si Batak kan gabung sama kita." Jawab Nanda.
Mereka berlalu menuju meja yang tersedia lalu duduk berhadapan, tak lama berselang datanglah seorang pelayan yang membawa beberapa piring secara langsung di ke dua tangannya. Dengan terlatih, ia pun meletakkan satu persatu piring di hadapan mereka dengan rapi, hingga satu bakul berisi nasi menjadi penutup dari yang ia antarkan.
"Selamat makan ya Mas." Ucap Diandra.
Nanda mengangguk seraya tersenyum, tangannya mengambil bakul nasi yang ada di dekat DIandra, ia pun menuangkan satu sendok nasi ke atas piring milik Diandra kemudian ke atas piringnya.
"Aku masih boleh nanya-nanya soal tunangannya Mas Nanda?..."
Nanda mengangguk pertanda setuju sambil memberikan sayur ke atas piring Diandra. Tak lama berselang, dua gelas berisi es teh manis tersaji di hadapan mereka.
"...Kalian ketemu di mana Mas?" Tanya Diandra.
"Kalau pertanyaan kamu pertama kali ngeliat di mana, jawabannya itu di acara pensi sekolah dia dulu. Jadi aku dulu itu suka ngeband, kebetulan aku ngisi acara sebelum bintang tamu. Terus..."
"Bentar Mas..." Diandra memotong ucapannya, "Mas Nanda dulu ngeband? Kok aku ngga percaya ya?"
"Ngga cocok ya kalau jadi anak band?" Tanya Nanda.
"Kalau ngomongin penampilan sih cocok Mas, cuma ngga nyangka aja orang seserius Mas Nanda itu bisa main alat musik, itu sih maksud aku." Jawab Diandra.
"Ya itu dulu sih, kalau dibandingin sama sekarang ya wajar aja kalau banyak orang yang ngga percaya. Nah terus kan nunggu di belakang panggung tuh, eh dia lewat di belakang panggung. Di situ sih pertama kali ketemu dia." Jelas Nanda.
"Kalau kenalnya di mana berarti?" Tanya Diandra antusias.
"Setelah acara pensi itu aku ngga pernah ketemu lagi sama dia. Beberapa tahun kemudian, aku lagi jalan ke luar dari Stasiun mau ke Kantor, saat itu hujan dan aku ngga pernah bawa payung. Dari belakang ada suara payung kebuka dan dia berdiri di samping aku..."
"Wah kacau kali kau Bang..." Andreas datang menghampiri mereka, "kenapa kau tinggalkan aku sendiri di sana?"
"Bukan salah kita dong, Bang Batak yang dari tadi kerjaannya main ponsel terus." Ucap Diandra.
"Denger sendiri kan apa kata Diandra?" Sahut Nanda.
Andreas tersipu malu, "Aku minta maaf lah kalau gitu. Masih boleh gabung kan ya aku? Lapar kali aku belum makan dari pagi."
Nanda dan Diandra tertawa melihat kelakuannya. Nanda mengambil piring kosong lalu menuangkan nasi ke atas piring lalu diberikan kepada Andreas.
"Inilah yang aku suka dari Abangku satu ini." Ucap Andreas.
"Tapi emang Mas Nanda dari dulu begini Bang? Soalnya aku kaget tadi pas dituangin makanan di atas piring." Tanya Diandra.
Andreas mengangguk, "Aku pun juga awal-awal dibuat kaget sama dia. Biasanya nih ya, kita laki-laki cuma melakukan itu ke perempuan saja, ternyata dia ngga. Emang Abang kita ini niatnya murni baik aja."
"Ngomong mulu lo Tak, makan buruan." Ucap Nanda.
"Itu yang aku ngga seneng dari dia." Lanjut Andreas.
Mereka kembali tertawa disela-sela jam makan siang hari ini. Beberapa suapan berlalu, Diandra kembali teringat dengan cerita Nanda yang belum selesai.
"Eh iya Mas, cerita yang tadi belum selesai gara-gara Bang Batak. Lanjutin lagi dong Mas." Ucap Diandra.
"Cerita apa?" Tanya Andreas penasaran.
"Itu Bang, cerita gimana Mas Nanda ketemu sama tunangannya, aku penasaran aja." Jawab Diandra.
"Tadi sampai mana ya... oh iya dia buka payung terus berdiri di samping aku, terus dia nanya..."
"Mau ke sana juga? Semisal iya, barengan aja pakai payung." Ucap Naya.
"Emang nggapapa?" Tanya Nanda.
Naya mengangguk pertanda setuju. Akhirnya Nanda meraih payung tersebut lalu mereka berdua berjalan dengan santai melewati hujan di pagi hari, di bawah payung berwarna putih.
"Lo mau ke mana?" Tanya Nanda.
"Gedung Serbaguna Wilayah Pusat, ada janji temu sama orang pemerintahan buat pengadaan barang. Kalau lo mau ke mana?" Ucap Naya.
"Sebelum Gedung Serbaguna, nanti ada Kantor di sebelah kiri. Ngomong-ngomong, gue Nanda..." Nanda mengulurkan tangannya, "kalau boleh tau, nama lo siapa?"
Naya menjabat tangannya, "Gue Naya, salam kenal ya."
Mereka berjalan dengan santainya, sesekali mereka melihat ke arah sekeliling di mana ada beberapa orang yang sedang berteduh dari derasnya hujan. Sampai akhirnya, Nanda menunjukkan di mana Kantornya berada.
"Sampai sini aja Nay." Ucap Nanda.
"Kantor lo kan masih di sana, gue anter aja sampai lobi biar ngga kehujanan." Ucapnya.
"Eh serius?" Tanya Nanda.
"Udah nggapapa." Jawabnya.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju lobi Kantor Nanda. Akhirnya mereka pun tiba di lobi Kantor yang masih sepi karena hujan.
"Makasih banyak ya Nay udah mau minjemin payung." Ucap Nanda.
"Sama-sama, kebetulan aja. Semisal beda arah juga gue males buat nawarin lo. Eh iya..." Naya mengambil ponselnya dari dalam tas, "gue boleh minta nomor lo ngga?"
Nanda memberikan nomor ponselnya, Naya pun langsung menghubungi nomor tersebut. Nanda pun memperlihatkan layar ponselnya sebagai buktinya.
"Kalau gitu, gue lanjut lagi ya Nan." Ucap Naya.
"Hati-hati Nay." Ucap Nanda.
Naya melanjutkan perjalanannya meninggalkan Nanda yang masih memandanginya dari lobi Kantor. Tak lama berselang, datanglah Andreas dengan pakaiannya yang sudah basah kuyup karena hujan.
"Eh aku lihat kek ada perempuan yang bareng kau tadi, siapa dia Bang?" Tanya Andreas.
"Kayaknya jodoh gue Tak..." Nanda menatap ke arah Andreas, "lo kalau mau ke Kantor emang gue suruh mandi, cuma jangan pakai baju juga. Masa ke Kantor basah kuyup gini."
"Kimak kau Bang..."
"...begitulah kurang lebih awal cerita aku ketemu sama dia." Jelas Nanda.
Diandra mengangguk, "Kalau dari ceritanya Mas Nanda, kayaknya Kak Naya orangnya ngga malu-malu ya Mas, tapi ini menurut aku loh ya. Dari cara dia minta nomor Mas duluan tuh udah nunjukin kalau dia emang bukan perempuan yang malu-malu."
"Kalau itu aku setuju, Naya memang beda dibandingkan dengan perempuan lain, punya pemikiran out of the box dia." Sahut Andreas.
"Terus rencana nikahnya kapan Mas? Eh aku sopan ngga sih nanya soal ini sekarang? Kok aku jadi takut ya." Tanya Diandra ragu.
"Nggapapa kok santai aja. Kalau pertanyaan itu sih aku juga belum tau, soalnya kan harus sepersetujuan Naya juga. Terlebih Naya juga lagi sibuk kerja dan harus cocok-cocokan jadwal juga." Jelas Nanda.
Akhirnya makan siang pun selesai, pelayan sedang menghitung berapa total uang yang harus mereka bayarkan pada hari ini. Struk pun ke luar lalu diletakkan di atas meja.
"Aku berapa Mas?" Tanya Diandra.
"Udah santai aja." Jawabnya.
Nanda memberikan beberapa lembar uang dengan jumlah pas kepada pelayan itu untuk membayar semua makanan yang mereka makan.
"Eh serius Mas? Aku ngga enak." Ucap Diandra.
"Abang kita ini memang begitu, seringkali dia suka bayarin makan kita. Coba sekali-kali kau ikut kita ke luar, sering juga dia bayarin kita." Jawab Andreas.
"Makasih ya Mas." Ucap Diandra.
Akhirnya mereka bertiga pun keluar dari restoran tersebut untuk kembali menuju Kantor. Setibanya di sana, mereka tidak langsung masuk melainkan kembali berkumpul di halaman depan Kantor. Andreas dan Nanda secara bersamaan menyalakan sebatang rokok, Diandra pun juga ikut menyalakan sebatang rokok miliknya.
"Eh Mas, aku boleh nanya lagi ngga?" Tanya Diandra.
"Kau mau nanya apa?" Tanya Andreas.
"Gimana pandangan kalian terhadap perempuan yang merokok kayak aku gini? Masih tabu ngga sih kalau perempuan juga ternyata ngerokok?" Tanyanya.
Andreas menghembuskan asap rokok, "Kalau kau tanya aku, sekarang udah ngga ada yang namanya kek gitu. Semuanya udah sama rata, ngga ada yang bedain."
Nanda mengangguk, "Terlebih sekarang udah sering banget digaungin soal kesetaraan, jadi ya ngga ada masalah. Paling beberapa orang yang masih berpikiran konservatif aja yang susah nerima pemikiran itu."
"Setuju, tapi kenapa kau nanya kayak gitu?" Tanya Andreas.
"Kadang tuh aku masih suka denger selentingan pas aku lagi ngerokok, intinya sih mereka mempertanyakan kenapa aku sebagai perempuan tuh berani merokok di tempat umum." Ucap Diandra.
"Ya berarti mereka masih konservatif aja pemikirannya, belum siap dengan hal-hal baru." Jawab Nanda.
"Bisa dibilang mereka itu norak kali lah." Sahut Andreas.
Diandra tertawa kecil sementara Nanda hanya tersenyum mendengarnya.
Siang pun beranjak dengan sengaja, saat ini Nanda dan Andreas sudah kembali di meja kerja mereka. Mata Nanda masih terpaku dengan layar yang menampilkan ribuan angka, fokusnya masih berpacu untuk menyelesaikan tugasnya sesegera mungkin. Andreas mendekatkan kursinya ke arah Nanda yang masih belum mengalihkan pandangannya.
"Menurut kau Bang, apa iya aku dekati saja si Diandra itu?" Tanyanya.
"Terus hubungan lo sama perempuan itu gimana..." Nanda tak mengalihkan pandangannya, "kalau lo mau deketin Diandra, jauhin dulu perempuan itu."
"Ngga bisa aku dua-duanya sekalian Bang?" Tanya Andreas.
Nanda menatap Andreas, "Percuma juga sih gue nasehatin lo kayak gimana, pasti ujung-ujungnya lo bakalan ngedeketin mereka berdua. Saran gue satu, Diandra ini orang Kantor kita. Jangan bikin ada hubungan buruk sama dia, terlebih dia orang keuangan. Mau lo ngga digaji sama departemennya dia?"
"Betul juga kau Bang, okelah kalau begitu." Jawab Andreas.
Ia kembali menuju meja kerjanya meninggalkan Nanda yang masih memandang ke arahnya, hingga akhirnya Nanda kembali menatap layar untuk kembali mengerjakan pekerjaannya.
Tanpa terasa sore pun tiba, Nanda sudah berada di halaman depan Kantor dengan rokok yang sudah menyala di mulutnya, tangannya sedang sibuk memainkan ponsel tanpa memperdulikan sekitar.
"Bang, ke mana kau malam ini?..." Andreas datang menghampirinya, "kalau ngga ada kegiatan, cemana kau temani aku ke Paladin?"
"Kayaknya gue ngga bisa, Naya mau ngajakin makan malem diluar." Jawabnya.
"Alamak, lupa aku kalau Naya udah pulang. Okelah kalau begitu, aku cabut ya Bang." Sahut Andreas.
Andreas pun meninggalkan Nanda menuju di mana mobilnya terparkir.
"Menurut lo cincin apa ini?" Tanya Nanda.
"Kalau aku lihat-lihat... kau tunangan dengan Naya?" Tanya Andreas penasaran.
Nanda tersenyum menjawab pertanyaan Andreas, dengan segera ia menjabat tangan Nanda dengan penuh suka cita.
"Selamat ya Bang! Ngga nyangka aku kalau kalian akan segera menuju pelaminan, baru aja kemarin kita bicara soal keseriusan." Ucap Andreas.
Nanda mengangguk, "Sebenernya gue juga ngga nyangka akan secepet ini, tapi gue mikir kalau makin lama yang ada gue makin ragu dan susah sama keadaannya. Terlebih Naya juga lagi sibuk-sibuknya."
"Betul juga sih, tetep selamat buat kalian." Ucap Andreas.
"Ada apa ini?"
Dengan cepat Andreas menatap ke arah Diandra yang sudah berdiri di sampingnya.
"Eh Diandra, ini nih Abang kita baru aja tunangan sama pacarnya." Jawab Andreas.
"Serius Mas Nan? Selamat ya Mas atas pertunangannya..." Diandra menjabat tangan Nanda, "eh iya Mas, ngomong-ngomong aku sekalian mau nganterin laporan yang Mas minta buat verifikasi data."
Nanda menerima berkas tersebut, "Oh iya, makasih ya. Laporan ini udah diminta buat pengadaan bulan kemarin, kalau sampai ngga ada bisa-bisa kita yang kena sembur nanti."
"Kita tangkis lah kayak biasanya." Sahut Andreas.
Ucapan Andreas berhasil membuat mereka bertiga tertawa, dan akhirnya Diandra memutuskan untuk kembali ke tempat kerjanya, meninggalkan Andreas yang masih menatapi setiap langkahnya hingga ia hilang masuk ke dalam ruangan.
"Udah masuk dia, masih aja diliatin." Sahut Nanda.
"Macam mana ya Bang, dia itu tipeku kali. Ngga terlalu tinggi, rambutnya ngga terlalu panjang, pokoknya aku kali lah." Jawab Andreas.
"Kalau gitu deketin dong, jangan cuma diliatin doang." Ucap Nanda.
"Itu dia masalahnya Bang..."
Nanda menatap ke arah Andreas dengan serius.
"...kau ingat sama perempuan yang kita ketemu di Paladin kemarin? Tiba-tiba aku deket sama dia Bang." Jawab Andreas.
"Loh, kalau gitu ya deketin dia aja, jangan deketin Diandra juga." Ucap Nanda.
"Niatku sama perempuan itu cuma buat tidur malam itu aja, eh ternyata keterusan sampai sekarang..." Ting!Andreas menunjukkan ponselnya kepada Nanda, "kau lihat sendiri aja lah Bang biar aku ngga disangka menipu."
Nanda membaca pesan itu, "Gila juga lo ya Tak, bisa-bisanya naklukin perempuan hanya dalam satu malam. Jarang-jarang tuh ada orang yang bisa kayak gitu."
"Siapa dulu, Andreas Ezekiel Rajagukguk." Jawabnya.
Siang pun menjelang, Andreas dan Nanda sedang berada di halaman depan Kantor sambil menyalakan sebatang rokok. Andreas sedang sibuk dengan ponselnya sementara Nanda sedang melihat-lihat keadaan sekitar.
"Masih lama ngga lo?" Tanya Nanda.
"Bentar Bang..." Mata Andreas tidak berpaling dari ponsel, "aku balas ini dulu sebentar, abis ini baru kita makan."
Nanda melihat ke arah pintu masuk gedung, di mana ada Diandra yang baru saja keluar dari dalam, ia berjalan mendekat ke arah Nanda lalu berdiri di hadapannya.
"Mas Nanda mau makan apa? Aku boleh ikutan ngga?" Tanya Diandra.
"Ngga tau nih, kayaknya mau makan nasi padang aja. Kamu mau ikut Di?" Ucap Nanda.
"Boleh emang Mas?" Tanya Diandra lagi.
"Ya boleh dong, ayo kalau gitu." Ajak Nanda.
Nanda pun beranjak bersama Diandra meninggalkan Andreas yang masih berkutat dengan ponselnya. Mereka berdua berjalan menuju tepi jalan pada siang hari.
"Bang Batak sibuk banget keliatannya Mas." Ucap Diandra.
"Aku juga ngga ngerti dia lagi ngapain, dari tadi pas kamu ngasih laporan sampai sekarang main ponsel terus." Jawab Nanda.
"Eh iya Mas, tunangannya Mas Nanda kerja di mana kalau aku boleh tau?" Tanya Diandra.
"Dia tuh kerja di Utara, bagian pemeriksaan barang. Dia yang verifikasi barangnya, baru laporan ke Kantor." Jawab Nanda.
Mereka masuk ke dalam sebuah Restoran Masakan Padang yang tidak jauh dari Kantor. Mereka pun melihat-lihat makanan apa saja yang tersedia di sana.
"Mas Nanda mau mesen apa?" Tanya Diandra.
"Menu tengah aja deh, nanti juga si Batak kan gabung sama kita." Jawab Nanda.
Mereka berlalu menuju meja yang tersedia lalu duduk berhadapan, tak lama berselang datanglah seorang pelayan yang membawa beberapa piring secara langsung di ke dua tangannya. Dengan terlatih, ia pun meletakkan satu persatu piring di hadapan mereka dengan rapi, hingga satu bakul berisi nasi menjadi penutup dari yang ia antarkan.
"Selamat makan ya Mas." Ucap Diandra.
Nanda mengangguk seraya tersenyum, tangannya mengambil bakul nasi yang ada di dekat DIandra, ia pun menuangkan satu sendok nasi ke atas piring milik Diandra kemudian ke atas piringnya.
"Aku masih boleh nanya-nanya soal tunangannya Mas Nanda?..."
Nanda mengangguk pertanda setuju sambil memberikan sayur ke atas piring Diandra. Tak lama berselang, dua gelas berisi es teh manis tersaji di hadapan mereka.
"...Kalian ketemu di mana Mas?" Tanya Diandra.
"Kalau pertanyaan kamu pertama kali ngeliat di mana, jawabannya itu di acara pensi sekolah dia dulu. Jadi aku dulu itu suka ngeband, kebetulan aku ngisi acara sebelum bintang tamu. Terus..."
"Bentar Mas..." Diandra memotong ucapannya, "Mas Nanda dulu ngeband? Kok aku ngga percaya ya?"
"Ngga cocok ya kalau jadi anak band?" Tanya Nanda.
"Kalau ngomongin penampilan sih cocok Mas, cuma ngga nyangka aja orang seserius Mas Nanda itu bisa main alat musik, itu sih maksud aku." Jawab Diandra.
"Ya itu dulu sih, kalau dibandingin sama sekarang ya wajar aja kalau banyak orang yang ngga percaya. Nah terus kan nunggu di belakang panggung tuh, eh dia lewat di belakang panggung. Di situ sih pertama kali ketemu dia." Jelas Nanda.
"Kalau kenalnya di mana berarti?" Tanya Diandra antusias.
"Setelah acara pensi itu aku ngga pernah ketemu lagi sama dia. Beberapa tahun kemudian, aku lagi jalan ke luar dari Stasiun mau ke Kantor, saat itu hujan dan aku ngga pernah bawa payung. Dari belakang ada suara payung kebuka dan dia berdiri di samping aku..."
"Wah kacau kali kau Bang..." Andreas datang menghampiri mereka, "kenapa kau tinggalkan aku sendiri di sana?"
"Bukan salah kita dong, Bang Batak yang dari tadi kerjaannya main ponsel terus." Ucap Diandra.
"Denger sendiri kan apa kata Diandra?" Sahut Nanda.
Andreas tersipu malu, "Aku minta maaf lah kalau gitu. Masih boleh gabung kan ya aku? Lapar kali aku belum makan dari pagi."
Nanda dan Diandra tertawa melihat kelakuannya. Nanda mengambil piring kosong lalu menuangkan nasi ke atas piring lalu diberikan kepada Andreas.
"Inilah yang aku suka dari Abangku satu ini." Ucap Andreas.
"Tapi emang Mas Nanda dari dulu begini Bang? Soalnya aku kaget tadi pas dituangin makanan di atas piring." Tanya Diandra.
Andreas mengangguk, "Aku pun juga awal-awal dibuat kaget sama dia. Biasanya nih ya, kita laki-laki cuma melakukan itu ke perempuan saja, ternyata dia ngga. Emang Abang kita ini niatnya murni baik aja."
"Ngomong mulu lo Tak, makan buruan." Ucap Nanda.
"Itu yang aku ngga seneng dari dia." Lanjut Andreas.
Mereka kembali tertawa disela-sela jam makan siang hari ini. Beberapa suapan berlalu, Diandra kembali teringat dengan cerita Nanda yang belum selesai.
"Eh iya Mas, cerita yang tadi belum selesai gara-gara Bang Batak. Lanjutin lagi dong Mas." Ucap Diandra.
"Cerita apa?" Tanya Andreas penasaran.
"Itu Bang, cerita gimana Mas Nanda ketemu sama tunangannya, aku penasaran aja." Jawab Diandra.
"Tadi sampai mana ya... oh iya dia buka payung terus berdiri di samping aku, terus dia nanya..."
"Mau ke sana juga? Semisal iya, barengan aja pakai payung." Ucap Naya.
"Emang nggapapa?" Tanya Nanda.
Naya mengangguk pertanda setuju. Akhirnya Nanda meraih payung tersebut lalu mereka berdua berjalan dengan santai melewati hujan di pagi hari, di bawah payung berwarna putih.
"Lo mau ke mana?" Tanya Nanda.
"Gedung Serbaguna Wilayah Pusat, ada janji temu sama orang pemerintahan buat pengadaan barang. Kalau lo mau ke mana?" Ucap Naya.
"Sebelum Gedung Serbaguna, nanti ada Kantor di sebelah kiri. Ngomong-ngomong, gue Nanda..." Nanda mengulurkan tangannya, "kalau boleh tau, nama lo siapa?"
Naya menjabat tangannya, "Gue Naya, salam kenal ya."
Mereka berjalan dengan santainya, sesekali mereka melihat ke arah sekeliling di mana ada beberapa orang yang sedang berteduh dari derasnya hujan. Sampai akhirnya, Nanda menunjukkan di mana Kantornya berada.
"Sampai sini aja Nay." Ucap Nanda.
"Kantor lo kan masih di sana, gue anter aja sampai lobi biar ngga kehujanan." Ucapnya.
"Eh serius?" Tanya Nanda.
"Udah nggapapa." Jawabnya.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju lobi Kantor Nanda. Akhirnya mereka pun tiba di lobi Kantor yang masih sepi karena hujan.
"Makasih banyak ya Nay udah mau minjemin payung." Ucap Nanda.
"Sama-sama, kebetulan aja. Semisal beda arah juga gue males buat nawarin lo. Eh iya..." Naya mengambil ponselnya dari dalam tas, "gue boleh minta nomor lo ngga?"
Nanda memberikan nomor ponselnya, Naya pun langsung menghubungi nomor tersebut. Nanda pun memperlihatkan layar ponselnya sebagai buktinya.
"Kalau gitu, gue lanjut lagi ya Nan." Ucap Naya.
"Hati-hati Nay." Ucap Nanda.
Naya melanjutkan perjalanannya meninggalkan Nanda yang masih memandanginya dari lobi Kantor. Tak lama berselang, datanglah Andreas dengan pakaiannya yang sudah basah kuyup karena hujan.
"Eh aku lihat kek ada perempuan yang bareng kau tadi, siapa dia Bang?" Tanya Andreas.
"Kayaknya jodoh gue Tak..." Nanda menatap ke arah Andreas, "lo kalau mau ke Kantor emang gue suruh mandi, cuma jangan pakai baju juga. Masa ke Kantor basah kuyup gini."
"Kimak kau Bang..."
"...begitulah kurang lebih awal cerita aku ketemu sama dia." Jelas Nanda.
Diandra mengangguk, "Kalau dari ceritanya Mas Nanda, kayaknya Kak Naya orangnya ngga malu-malu ya Mas, tapi ini menurut aku loh ya. Dari cara dia minta nomor Mas duluan tuh udah nunjukin kalau dia emang bukan perempuan yang malu-malu."
"Kalau itu aku setuju, Naya memang beda dibandingkan dengan perempuan lain, punya pemikiran out of the box dia." Sahut Andreas.
"Terus rencana nikahnya kapan Mas? Eh aku sopan ngga sih nanya soal ini sekarang? Kok aku jadi takut ya." Tanya Diandra ragu.
"Nggapapa kok santai aja. Kalau pertanyaan itu sih aku juga belum tau, soalnya kan harus sepersetujuan Naya juga. Terlebih Naya juga lagi sibuk kerja dan harus cocok-cocokan jadwal juga." Jelas Nanda.
Akhirnya makan siang pun selesai, pelayan sedang menghitung berapa total uang yang harus mereka bayarkan pada hari ini. Struk pun ke luar lalu diletakkan di atas meja.
"Aku berapa Mas?" Tanya Diandra.
"Udah santai aja." Jawabnya.
Nanda memberikan beberapa lembar uang dengan jumlah pas kepada pelayan itu untuk membayar semua makanan yang mereka makan.
"Eh serius Mas? Aku ngga enak." Ucap Diandra.
"Abang kita ini memang begitu, seringkali dia suka bayarin makan kita. Coba sekali-kali kau ikut kita ke luar, sering juga dia bayarin kita." Jawab Andreas.
"Makasih ya Mas." Ucap Diandra.
Akhirnya mereka bertiga pun keluar dari restoran tersebut untuk kembali menuju Kantor. Setibanya di sana, mereka tidak langsung masuk melainkan kembali berkumpul di halaman depan Kantor. Andreas dan Nanda secara bersamaan menyalakan sebatang rokok, Diandra pun juga ikut menyalakan sebatang rokok miliknya.
"Eh Mas, aku boleh nanya lagi ngga?" Tanya Diandra.
"Kau mau nanya apa?" Tanya Andreas.
"Gimana pandangan kalian terhadap perempuan yang merokok kayak aku gini? Masih tabu ngga sih kalau perempuan juga ternyata ngerokok?" Tanyanya.
Andreas menghembuskan asap rokok, "Kalau kau tanya aku, sekarang udah ngga ada yang namanya kek gitu. Semuanya udah sama rata, ngga ada yang bedain."
Nanda mengangguk, "Terlebih sekarang udah sering banget digaungin soal kesetaraan, jadi ya ngga ada masalah. Paling beberapa orang yang masih berpikiran konservatif aja yang susah nerima pemikiran itu."
"Setuju, tapi kenapa kau nanya kayak gitu?" Tanya Andreas.
"Kadang tuh aku masih suka denger selentingan pas aku lagi ngerokok, intinya sih mereka mempertanyakan kenapa aku sebagai perempuan tuh berani merokok di tempat umum." Ucap Diandra.
"Ya berarti mereka masih konservatif aja pemikirannya, belum siap dengan hal-hal baru." Jawab Nanda.
"Bisa dibilang mereka itu norak kali lah." Sahut Andreas.
Diandra tertawa kecil sementara Nanda hanya tersenyum mendengarnya.
Siang pun beranjak dengan sengaja, saat ini Nanda dan Andreas sudah kembali di meja kerja mereka. Mata Nanda masih terpaku dengan layar yang menampilkan ribuan angka, fokusnya masih berpacu untuk menyelesaikan tugasnya sesegera mungkin. Andreas mendekatkan kursinya ke arah Nanda yang masih belum mengalihkan pandangannya.
"Menurut kau Bang, apa iya aku dekati saja si Diandra itu?" Tanyanya.
"Terus hubungan lo sama perempuan itu gimana..." Nanda tak mengalihkan pandangannya, "kalau lo mau deketin Diandra, jauhin dulu perempuan itu."
"Ngga bisa aku dua-duanya sekalian Bang?" Tanya Andreas.
Nanda menatap Andreas, "Percuma juga sih gue nasehatin lo kayak gimana, pasti ujung-ujungnya lo bakalan ngedeketin mereka berdua. Saran gue satu, Diandra ini orang Kantor kita. Jangan bikin ada hubungan buruk sama dia, terlebih dia orang keuangan. Mau lo ngga digaji sama departemennya dia?"
"Betul juga kau Bang, okelah kalau begitu." Jawab Andreas.
Ia kembali menuju meja kerjanya meninggalkan Nanda yang masih memandang ke arahnya, hingga akhirnya Nanda kembali menatap layar untuk kembali mengerjakan pekerjaannya.
Tanpa terasa sore pun tiba, Nanda sudah berada di halaman depan Kantor dengan rokok yang sudah menyala di mulutnya, tangannya sedang sibuk memainkan ponsel tanpa memperdulikan sekitar.
"Bang, ke mana kau malam ini?..." Andreas datang menghampirinya, "kalau ngga ada kegiatan, cemana kau temani aku ke Paladin?"
"Kayaknya gue ngga bisa, Naya mau ngajakin makan malem diluar." Jawabnya.
"Alamak, lupa aku kalau Naya udah pulang. Okelah kalau begitu, aku cabut ya Bang." Sahut Andreas.
Andreas pun meninggalkan Nanda menuju di mana mobilnya terparkir.
*
oktavp dan i4munited memberi reputasi
2
Kutip
Balas