- Beranda
- Stories from the Heart
Nan and Sexaworld
...
TS
beavermoon
Nan and Sexaworld

Spoiler for Peringatan:
Cerita ini mengandung unsur seksual vulgar.
Jika belum boleh, disarankan untuk tunggu sampai waktunya.
Jika sudah boleh, mainkan imajinasimu.
Jika belum boleh, disarankan untuk tunggu sampai waktunya.
Jika sudah boleh, mainkan imajinasimu.
Pernahkah kalian menggunakan aplikasi kencan? Apa alasannya? Mencari jodoh? Mencoba peruntungan? Atau mencari pelarian dari sakit hati?
Nanda mulai pengalamannya dengan aplikasi kencan untuk pertama kalinya. Bukan tanpa sebab, sakit hati menjadi alasannya. Ia pun mencoba mencari pelarian di aplikasi tersebut, hingga tak diduga, ia kembali menemukan perasaannya di sana.
Lantas, apakah ia akan kembali jatuh cinta setelah sakit hati sebelumnya?
Spoiler for Episode:
1. Bersemi dengan Indah.
2. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 1)
3. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 2)
4. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 3)
5. Langit Abu-Abu. (Part 1)
6. Langit Abu-Abu. (Part 2)
7. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 1)
8. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 2)
9. When The World Is Yours...
10. Take Your Time...
11. Semua Orang Punya Rahasia.
12. Nan... (Part 1)
13. Nan... (Part 2)
14. Perdebatan Batin. (Part 1)
15. Perdebatan Batin. (Part 2)
16. Tak Sengaja...
17. Di Bawah Hujan, Semuanya Terungkap.
18. Upaya Maksimal. (Part 1)
19. Upaya Maksimal. (Part 2)
20. Dilema. (Part 1)
21. Dilema. (Part 2)
22. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 1)
23. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 2)
24. When The World is Mine... (FINALE)
Behind The Nan...
2. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 1)
3. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 2)
4. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 3)
5. Langit Abu-Abu. (Part 1)
6. Langit Abu-Abu. (Part 2)
7. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 1)
8. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 2)
9. When The World Is Yours...
10. Take Your Time...
11. Semua Orang Punya Rahasia.
12. Nan... (Part 1)
13. Nan... (Part 2)
14. Perdebatan Batin. (Part 1)
15. Perdebatan Batin. (Part 2)
16. Tak Sengaja...
17. Di Bawah Hujan, Semuanya Terungkap.
18. Upaya Maksimal. (Part 1)
19. Upaya Maksimal. (Part 2)
20. Dilema. (Part 1)
21. Dilema. (Part 2)
22. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 1)
23. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 2)
24. When The World is Mine... (FINALE)
Behind The Nan...
Diubah oleh beavermoon 01-04-2023 20:22
bukhorigan dan 2 lainnya memberi reputasi
3
4K
Kutip
30
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#3
Spoiler for 2. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 1):
"Mau ke mana kau Bang?" Tanya Andreas.
Andreas bertanya setelah melihat Nanda yang sudah membereskan barang-barang bawaannya ke dalam tas. Nanda menatap ke arah Andreas dengan tatapan tajam.
"Ada urusan penting Tak, kalau ada yang nyariin bilang aja gue sakit perut." Jawab Nanda.
"Bah!Jangan gitu kau Bang. Ucapan itu doa." Kata Andreas.
"Lo cariin alasan yang bagus deh kalau gitu, gue cabut duluan ya."
Nanda sempat menepuk pundak Andreas beberapa kali, sebelum akhirnya ia beranjak meninggalkan mejanya dan bergegas menuju lift untuk turun ke lantai dasar. Setibanya di sana, ia berjalan lebih cepat dari biasanya. Setibanya di pinggir jalan, ia menghentikan taksi yang kosong. Nanda pun masuk ke dalamnya seraya mengucapkan, "Bandara ya Pak, saya buru-buru nih."
Taksi yang ia naiki pun berjalan lebih cepat, melewati beberapa kendaraan lain yang juga sejalan dengannya. Nanda menggerakkan kaki kanannya ke atas dan ke bawah dengan cepat, ia seperti dikejar oleh waktu. Sesekali ia melihat ke arah ponselnya untuk melihat jam, ia juga membuang pandangannya ke luar jendela di mana hari ini terlihat cerah pada siang menjelang sore.
"Wah kayaknya macet banget nih Mas." Ucap Pengemudi.
"Lewat bahu jalan aja Pak, saya buru-buru banget." Kata Nanda.
"Kalau ada patroli lalu lintas, saya bisa kena Mas." Ucap Pengemudi itu lagi.
Nanda mendekatkan wajahnya, "Saya yang bayar Pak, pokoknya saya harus segera cepet ke Bandara dalam waktu setengah jam lagi."
Pengemudi taksi itu pun mengangguk pertanda setuju, ia pun segera membanting kemudi melewati bahu jalan yang seharusnya diperuntukkan untuk kondisi darurat. Beberapa saat berlalu akhirnya taksi berhasil melewati kemacetan yang entah disebabkan oleh apa, hitungan beberapa menit lagi taksi akan segera tiba di Bandara.
"Terminal berapa Mas?" Tanya Pengemudi.
Nanda menujuk ke arah papan jalan berwarna biru dengan tulisan jelas berwarna putih yang bertuliskan "Terminal 1", taksi pun berbelok melewati jalan layang untuk berputar menuju jalan bawah. Akhirnya taksi pun berhenti tepat di depan pintu masuk Terminal 1 Bandara, Nanda memberikan beberapa lembar uang untuk membayar jasa taksi, ia pun ke luar dari dalam taksi dan berjalan sedikit lebih cepat menuju lantai atas.
"Penerbangan dengan nomor pesawat QW-091..."
Nanda pun tiba, nafasnya sedikit terengah-engah setelah terburu-buru. Bersamaan dengan itu pula, pandangannya menatap dengan tegas ke satu arah, kali ini ia berjalan dengan pelan. Sebuah pelukan mendarat dengan sempurna, Nanda bisa tersenyum dengan Naya dalam pelukannya.
"Aku kangen banget sama kamu." Ucap Naya.
Nanda pun tersenyum, "Kamu kira aku ngga kangen sama kamu? Apalagi pas kamu ngabarin kalau tugas kamu diperpanjang hampir tiga minggu."
Naya melepas pelukannya, "Aku juga ngga tau kalau tiba-tiba ada hal lain yang harus diselesaiin di sana juga. Semuanya serba dadakan, harus ketemu ini lah itu lah, tapi kan sekarang aku udah bisa ketemu lagi sama kamu."
Nanda tersenyum lalu mengusap kepala Naya, kemudian ia membawakan koper milik Naya sementara Naya menggenggam lengan kiri Nanda. Mereka berjalan dengan santai melewati beberapa orang yang juga sedang menunggu kedatangan orang yang mereka tunggu.
"Kamu mau mampir ke mana dulu? Atau kamu mau langsung pulang aja?" Tanya Nanda.
Naya bergumam, "Aku mau makan di warung gulai yang deket fly over itu kamu inget ngga? Atau kita makan di gubuk sambel yang ada di belakang TK? Oh, oh, atau kita makan di seberang Jembatan Merah, satenya kan enak tuh pas kita ke sana."
Nanda hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar apa yang diucapkan oleh Naya. Mereka pun berhenti di sebuah booth untuk menunggu antrian taksi, dan tak membutuhkan waktu lama untuk mereka mendapatkan taksi karena sedang tidak antre. Pengemudi membuka bagasi untuk memasukkan koper sementara Nanda dan Naya masuk ke dalam.
"Tujuannya mau ke mana Pak?" Tanya Pengemudi.
Nanda menatap ke arah Naya dalam diam dan membuat Pengemudi itu juga menatap ke arah Naya.
"Jembatan Merah Pak." Jawabnya.
Nanda pun tertawa pelan sementara Naya memukul lengannya dengan pelan beberapa kali, taksi pun berjalan menuju tujuan yang diminta. Naya menyandarkan kepalanya pada pundak Nanda, sejenak ia memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa lelah. Nanda hanya bisa memandanginya dalam diam, sengaja membiarkan Naya beristirahat.
Beberapa menit berlalu dalam perjalanan, sebentar lagi mereka akan tiba di tujuan. Nanda membangunkan Naya dengan mengusap kepalanya beberapa kali dengan pelan.
"Sayang, bangun..."
Naya membuka matanya secara perlahan, ia pun menatap Nanda dalam pandangannya yang masih belum sempurna.
"...bentar lagi kita sampe nih." Ucap Nanda.
Tanpa berucap sepatah kata pun, Naya memeluk lengan Nanda, sampai akhirnya taksi berhenti di tepi jalan. Pengemudi itu mengeluarkan koper dari dalam bagasi sementara Nanda dan Naya ke luar dari dalam taksi.
"Makasih ya Pak..." Nanda mengambil koper milik Naya, "ayo mumpung masih buka tuh dan masih ada."
Naya mengangguk dengan ekspresi senangnya, mereka berdua pun berjalan menuju sebuah warung makan kecil yang menjual berbagai jenis macam sate. Mereka pun tiba di depan warung untuk memesan makanan.
"Mau pesen apa Mas Mbanya?" Tanya Penjual itu.
"Aku mau sate ayam dua puluh tusuk, bumbunya kacang. Sama ini deh Mba, sop tetelan sapi satu." Jawab Naya.
"Minumnya mau apa Mba?" Tanya Penjual itu lagi.
"Es jeruk dua, yang satu tanpa gula ya Mba." Jawab Nanda.
Mereka pun masuk ke dalam warung tersebut di mana sudah ada beberapa orang yang sedang makan di sana. Mereka memilih untuk duduk menghadap ke arah sungai di bawah Jembatan Merah. Tidak membutuhkan waktu lama untuk dua gelas es jeruk tiba di hadapan mereka.
"Makasih ya Mba. Eh iya, gimana kerjaan kamu?" Tanya Naya.
Nanda minum sedikit, "Kemarin ada sedikit masalah sama anak keuangan, soalnya invoice yang dicetak beda sama kontraknya. Untung aja masih bisa diperbaikin, kalau ngga rugi."
"Kok bisa salah cetak? Bahaya banget tuh, apalagi kalau bedanya jauh banget." Tanya Naya.
Nanda menggelengkan kepala, "Aku juga ngga paham kenapa bisa kayak gitu, atau emang apes aja kali. Soalnya yang megang bukan anak baru juga, kecuali kalau emang anak baru ya ada sedikit pemakluman."
Tak lama kemudian, pesanan mereka pun disajikan di atas meja. Naya mengucapkan terima kasih, kemudian mereka berdua pun mulai memakan makanan tersebut. Satu suapan pertama untuk sate ayam yang baru saja diangkat dari tempat pembakaran, reaksi mereka pun tidak dapat menutupi bagaimana lezatnya rasa dari makanan tersebut.
"Ya ampun, enak banget astaga. Ngga salah emang aku mau makan di sini."Ucap Naya.
Nanda hanya bisa tersenyum melihat reaksi Naya. Mereka kembali melanjutkan makan pada sore hari ini di mana mulai bertambah ramai orang-orang yang datang untuk memesan. Beberapa saat berlalu, akhirnya makanan mereka sudah habis tak bersisa.
Naya membayar pesanan mereka sementara Nanda membawa koper milik Naya ke arah tepi jalan, kemudian Naya berjalan mendekat lalu menggandeng tangan Nanda.
"Mau ke mana lagi kita? Pulang?" Tanya Naya.
"Aku mau ngajakin kamu ke suatu tempat sih, cuma kayaknya kamu lelah banget. Jadi next time aja kali ya." Ucap Nanda.
"Mau ke mana emang? Aku mau ke sana, aku ngga ngerasa capek, ayo kita ke sana." Sahut Naya.
Naya nampak antusias dengan ajakan Nanda, akhirnya Nanda pun mengajak Naya untuk pergi ke suatu tempat yang sengaja ia rahasiakan darinya.
Matahari hampir saja terbenam, menyisakan setengah dari raganya yang masih nampak di pelupuk mata. Lembayung pun menambah kesan, indah di penghujung waktu. Nanda yang menggandeng tangan Naya berjalan mendekat ke sebuah tepian pembatas lembah, dari sana mereka dapat melihat matahari yang sedang terbenam. Tentu saja ekspresi Naya dapat terbaca dengan jelas, ia sangat menikmati apa yang sedang ia pandangi pada saat ini.
"Bagus banget ini..."
Nanda merangkul Naya yang menatap matahari terbenam tanpa berkedip, sampai akhirnya Naya menatap ke arah Nanda yang sedang tersenyum simpul.
"...makasih ya sayang udah mau ngajak aku ke sini." Ucap Naya.
Nanda tersenyum, "Sebenernya belum selesai sih, coba kita hitung mundur ya, lima.. empat.. tiga.. dua.. satu."
Lampu-lampu gantung pun menyala dengan sempurna mengelilingi sekitaran area perbatasan, mata Naya pun melihat ke arah sekeliling tempat ini dan kembali dibuat takjub.
"Gimana? Suka ngga?" Tanya Nanda.
Naya menatap Nanda, "Kamu sengaja ya ngerencanain ini semua? Kok kayaknya kamu tau banget waktu yang pas buat ngajak aku ke sini?"
"Ngga sengaja aja sih, masa iya aku tau waktu-waktu di tempat ini." Jawab Nanda.
Naya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan. Tanpa diduga Nanda melepas genggaman tangannya kepada Naya, ia pun berjalan mundur dua langkah ke belakang sementara Naya hanya bisa memandanginya dalam kebingungan.
"Kamu ngapain?" Tanyanya heran.
Nanda merogoh saku celananya, ia mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah dan ia pun berlutut satu kaki di hadapan Naya.
"Naya..."
Naya menutup bibirnya dengan ke dua tangannya, ia pun tahu apa yang akan Nanda lakukan di hadapan banyak orang saat ini.
"...aku udah lama mikirin ini semua, dan akhirnya aku semakin yakin sama apa yang aku lakuin. Aku mau kamu jadi teman hidupku untuk selama-lamanya, kamu mau ngga jadi teman hidupku?" Tanya Nanda.
Nanda membuka kotak tersebut, di dalamnya terdapat sepasang cincin bermahkota berlian kecil berwarna perak. Dengan penuh harap, Nanda menunggu jawaban dari Naya.
Nanda pun tersenyum kemudian, melihat Naya menganggukkan kepalanya beberapa kali hingga terlihat ia meneteskan air mata. Ia pun memasangkan cincin di jari manis tangan kiri Naya, kemudian bangun lalu memeluknya. Beberapa orang yang menyaksikan mereka pun bertepuk tangan seraya memberikan selamat, mereka pun tersipu malu melihat keadaan sekitar.
Malam pun beranjak dengan semestinya, memanjakan penghujung hari yang melelahkan, bersiap untuk menyambut esok yang entah apa. Naya sedang merebahkan tubuhnya di balik selimut, tangan kirinya direntangkan ke arah langit-langit kamar, ia kembali memandangi cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Kamu suka?" Tanya Nanda.
Naya mengangguk, "Aku suka banget, aku ngga nyangka kalau kamu bakalan ngelakuin ini di depan banyak orang, berbanding terbalik sama kamu yang ngga suka keramaian. Terlepas dari itu, makasih ya buat hari ini."
Naya menatap ke arah samping di mana Nanda berbaring di sampingnya. Ia pun mencium bibir Nanda untuk ke sekian kalinya, sampai akhirnya ia menjauhkan wajahnya dari hadapan Nanda.
"Lagi?" Tanya Naya menggoda.
"Kamu yakin?" Tanya Nanda balik.
Nanda berbisik, "Aku masih bisa sampai 3 kali lagi, kamu sanggup kan?"
Tanpa menjawab pertanyaan Naya, Nanda menaikkan selimut yang menutupi tubuh mereka berdua. Mereka kembali memadu kasih untuk kesekian kalinya, melepas rindu setelah sekian lama terpisah karena kewajiban, menutup hari dengan sebuah kebahagiaan.
Andreas bertanya setelah melihat Nanda yang sudah membereskan barang-barang bawaannya ke dalam tas. Nanda menatap ke arah Andreas dengan tatapan tajam.
"Ada urusan penting Tak, kalau ada yang nyariin bilang aja gue sakit perut." Jawab Nanda.
"Bah!Jangan gitu kau Bang. Ucapan itu doa." Kata Andreas.
"Lo cariin alasan yang bagus deh kalau gitu, gue cabut duluan ya."
Nanda sempat menepuk pundak Andreas beberapa kali, sebelum akhirnya ia beranjak meninggalkan mejanya dan bergegas menuju lift untuk turun ke lantai dasar. Setibanya di sana, ia berjalan lebih cepat dari biasanya. Setibanya di pinggir jalan, ia menghentikan taksi yang kosong. Nanda pun masuk ke dalamnya seraya mengucapkan, "Bandara ya Pak, saya buru-buru nih."
Taksi yang ia naiki pun berjalan lebih cepat, melewati beberapa kendaraan lain yang juga sejalan dengannya. Nanda menggerakkan kaki kanannya ke atas dan ke bawah dengan cepat, ia seperti dikejar oleh waktu. Sesekali ia melihat ke arah ponselnya untuk melihat jam, ia juga membuang pandangannya ke luar jendela di mana hari ini terlihat cerah pada siang menjelang sore.
"Wah kayaknya macet banget nih Mas." Ucap Pengemudi.
"Lewat bahu jalan aja Pak, saya buru-buru banget." Kata Nanda.
"Kalau ada patroli lalu lintas, saya bisa kena Mas." Ucap Pengemudi itu lagi.
Nanda mendekatkan wajahnya, "Saya yang bayar Pak, pokoknya saya harus segera cepet ke Bandara dalam waktu setengah jam lagi."
Pengemudi taksi itu pun mengangguk pertanda setuju, ia pun segera membanting kemudi melewati bahu jalan yang seharusnya diperuntukkan untuk kondisi darurat. Beberapa saat berlalu akhirnya taksi berhasil melewati kemacetan yang entah disebabkan oleh apa, hitungan beberapa menit lagi taksi akan segera tiba di Bandara.
"Terminal berapa Mas?" Tanya Pengemudi.
Nanda menujuk ke arah papan jalan berwarna biru dengan tulisan jelas berwarna putih yang bertuliskan "Terminal 1", taksi pun berbelok melewati jalan layang untuk berputar menuju jalan bawah. Akhirnya taksi pun berhenti tepat di depan pintu masuk Terminal 1 Bandara, Nanda memberikan beberapa lembar uang untuk membayar jasa taksi, ia pun ke luar dari dalam taksi dan berjalan sedikit lebih cepat menuju lantai atas.
"Penerbangan dengan nomor pesawat QW-091..."
Nanda pun tiba, nafasnya sedikit terengah-engah setelah terburu-buru. Bersamaan dengan itu pula, pandangannya menatap dengan tegas ke satu arah, kali ini ia berjalan dengan pelan. Sebuah pelukan mendarat dengan sempurna, Nanda bisa tersenyum dengan Naya dalam pelukannya.
"Aku kangen banget sama kamu." Ucap Naya.
Nanda pun tersenyum, "Kamu kira aku ngga kangen sama kamu? Apalagi pas kamu ngabarin kalau tugas kamu diperpanjang hampir tiga minggu."
Naya melepas pelukannya, "Aku juga ngga tau kalau tiba-tiba ada hal lain yang harus diselesaiin di sana juga. Semuanya serba dadakan, harus ketemu ini lah itu lah, tapi kan sekarang aku udah bisa ketemu lagi sama kamu."
Nanda tersenyum lalu mengusap kepala Naya, kemudian ia membawakan koper milik Naya sementara Naya menggenggam lengan kiri Nanda. Mereka berjalan dengan santai melewati beberapa orang yang juga sedang menunggu kedatangan orang yang mereka tunggu.
"Kamu mau mampir ke mana dulu? Atau kamu mau langsung pulang aja?" Tanya Nanda.
Naya bergumam, "Aku mau makan di warung gulai yang deket fly over itu kamu inget ngga? Atau kita makan di gubuk sambel yang ada di belakang TK? Oh, oh, atau kita makan di seberang Jembatan Merah, satenya kan enak tuh pas kita ke sana."
Nanda hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar apa yang diucapkan oleh Naya. Mereka pun berhenti di sebuah booth untuk menunggu antrian taksi, dan tak membutuhkan waktu lama untuk mereka mendapatkan taksi karena sedang tidak antre. Pengemudi membuka bagasi untuk memasukkan koper sementara Nanda dan Naya masuk ke dalam.
"Tujuannya mau ke mana Pak?" Tanya Pengemudi.
Nanda menatap ke arah Naya dalam diam dan membuat Pengemudi itu juga menatap ke arah Naya.
"Jembatan Merah Pak." Jawabnya.
Nanda pun tertawa pelan sementara Naya memukul lengannya dengan pelan beberapa kali, taksi pun berjalan menuju tujuan yang diminta. Naya menyandarkan kepalanya pada pundak Nanda, sejenak ia memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa lelah. Nanda hanya bisa memandanginya dalam diam, sengaja membiarkan Naya beristirahat.
Beberapa menit berlalu dalam perjalanan, sebentar lagi mereka akan tiba di tujuan. Nanda membangunkan Naya dengan mengusap kepalanya beberapa kali dengan pelan.
"Sayang, bangun..."
Naya membuka matanya secara perlahan, ia pun menatap Nanda dalam pandangannya yang masih belum sempurna.
"...bentar lagi kita sampe nih." Ucap Nanda.
Tanpa berucap sepatah kata pun, Naya memeluk lengan Nanda, sampai akhirnya taksi berhenti di tepi jalan. Pengemudi itu mengeluarkan koper dari dalam bagasi sementara Nanda dan Naya ke luar dari dalam taksi.
"Makasih ya Pak..." Nanda mengambil koper milik Naya, "ayo mumpung masih buka tuh dan masih ada."
Naya mengangguk dengan ekspresi senangnya, mereka berdua pun berjalan menuju sebuah warung makan kecil yang menjual berbagai jenis macam sate. Mereka pun tiba di depan warung untuk memesan makanan.
"Mau pesen apa Mas Mbanya?" Tanya Penjual itu.
"Aku mau sate ayam dua puluh tusuk, bumbunya kacang. Sama ini deh Mba, sop tetelan sapi satu." Jawab Naya.
"Minumnya mau apa Mba?" Tanya Penjual itu lagi.
"Es jeruk dua, yang satu tanpa gula ya Mba." Jawab Nanda.
Mereka pun masuk ke dalam warung tersebut di mana sudah ada beberapa orang yang sedang makan di sana. Mereka memilih untuk duduk menghadap ke arah sungai di bawah Jembatan Merah. Tidak membutuhkan waktu lama untuk dua gelas es jeruk tiba di hadapan mereka.
"Makasih ya Mba. Eh iya, gimana kerjaan kamu?" Tanya Naya.
Nanda minum sedikit, "Kemarin ada sedikit masalah sama anak keuangan, soalnya invoice yang dicetak beda sama kontraknya. Untung aja masih bisa diperbaikin, kalau ngga rugi."
"Kok bisa salah cetak? Bahaya banget tuh, apalagi kalau bedanya jauh banget." Tanya Naya.
Nanda menggelengkan kepala, "Aku juga ngga paham kenapa bisa kayak gitu, atau emang apes aja kali. Soalnya yang megang bukan anak baru juga, kecuali kalau emang anak baru ya ada sedikit pemakluman."
Tak lama kemudian, pesanan mereka pun disajikan di atas meja. Naya mengucapkan terima kasih, kemudian mereka berdua pun mulai memakan makanan tersebut. Satu suapan pertama untuk sate ayam yang baru saja diangkat dari tempat pembakaran, reaksi mereka pun tidak dapat menutupi bagaimana lezatnya rasa dari makanan tersebut.
"Ya ampun, enak banget astaga. Ngga salah emang aku mau makan di sini."Ucap Naya.
Nanda hanya bisa tersenyum melihat reaksi Naya. Mereka kembali melanjutkan makan pada sore hari ini di mana mulai bertambah ramai orang-orang yang datang untuk memesan. Beberapa saat berlalu, akhirnya makanan mereka sudah habis tak bersisa.
Naya membayar pesanan mereka sementara Nanda membawa koper milik Naya ke arah tepi jalan, kemudian Naya berjalan mendekat lalu menggandeng tangan Nanda.
"Mau ke mana lagi kita? Pulang?" Tanya Naya.
"Aku mau ngajakin kamu ke suatu tempat sih, cuma kayaknya kamu lelah banget. Jadi next time aja kali ya." Ucap Nanda.
"Mau ke mana emang? Aku mau ke sana, aku ngga ngerasa capek, ayo kita ke sana." Sahut Naya.
Naya nampak antusias dengan ajakan Nanda, akhirnya Nanda pun mengajak Naya untuk pergi ke suatu tempat yang sengaja ia rahasiakan darinya.
Matahari hampir saja terbenam, menyisakan setengah dari raganya yang masih nampak di pelupuk mata. Lembayung pun menambah kesan, indah di penghujung waktu. Nanda yang menggandeng tangan Naya berjalan mendekat ke sebuah tepian pembatas lembah, dari sana mereka dapat melihat matahari yang sedang terbenam. Tentu saja ekspresi Naya dapat terbaca dengan jelas, ia sangat menikmati apa yang sedang ia pandangi pada saat ini.
"Bagus banget ini..."
Nanda merangkul Naya yang menatap matahari terbenam tanpa berkedip, sampai akhirnya Naya menatap ke arah Nanda yang sedang tersenyum simpul.
"...makasih ya sayang udah mau ngajak aku ke sini." Ucap Naya.
Nanda tersenyum, "Sebenernya belum selesai sih, coba kita hitung mundur ya, lima.. empat.. tiga.. dua.. satu."
Lampu-lampu gantung pun menyala dengan sempurna mengelilingi sekitaran area perbatasan, mata Naya pun melihat ke arah sekeliling tempat ini dan kembali dibuat takjub.
"Gimana? Suka ngga?" Tanya Nanda.
Naya menatap Nanda, "Kamu sengaja ya ngerencanain ini semua? Kok kayaknya kamu tau banget waktu yang pas buat ngajak aku ke sini?"
"Ngga sengaja aja sih, masa iya aku tau waktu-waktu di tempat ini." Jawab Nanda.
Naya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan. Tanpa diduga Nanda melepas genggaman tangannya kepada Naya, ia pun berjalan mundur dua langkah ke belakang sementara Naya hanya bisa memandanginya dalam kebingungan.
"Kamu ngapain?" Tanyanya heran.
Nanda merogoh saku celananya, ia mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah dan ia pun berlutut satu kaki di hadapan Naya.
"Naya..."
Naya menutup bibirnya dengan ke dua tangannya, ia pun tahu apa yang akan Nanda lakukan di hadapan banyak orang saat ini.
"...aku udah lama mikirin ini semua, dan akhirnya aku semakin yakin sama apa yang aku lakuin. Aku mau kamu jadi teman hidupku untuk selama-lamanya, kamu mau ngga jadi teman hidupku?" Tanya Nanda.
Nanda membuka kotak tersebut, di dalamnya terdapat sepasang cincin bermahkota berlian kecil berwarna perak. Dengan penuh harap, Nanda menunggu jawaban dari Naya.
Nanda pun tersenyum kemudian, melihat Naya menganggukkan kepalanya beberapa kali hingga terlihat ia meneteskan air mata. Ia pun memasangkan cincin di jari manis tangan kiri Naya, kemudian bangun lalu memeluknya. Beberapa orang yang menyaksikan mereka pun bertepuk tangan seraya memberikan selamat, mereka pun tersipu malu melihat keadaan sekitar.
Malam pun beranjak dengan semestinya, memanjakan penghujung hari yang melelahkan, bersiap untuk menyambut esok yang entah apa. Naya sedang merebahkan tubuhnya di balik selimut, tangan kirinya direntangkan ke arah langit-langit kamar, ia kembali memandangi cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Kamu suka?" Tanya Nanda.
Naya mengangguk, "Aku suka banget, aku ngga nyangka kalau kamu bakalan ngelakuin ini di depan banyak orang, berbanding terbalik sama kamu yang ngga suka keramaian. Terlepas dari itu, makasih ya buat hari ini."
Naya menatap ke arah samping di mana Nanda berbaring di sampingnya. Ia pun mencium bibir Nanda untuk ke sekian kalinya, sampai akhirnya ia menjauhkan wajahnya dari hadapan Nanda.
"Lagi?" Tanya Naya menggoda.
"Kamu yakin?" Tanya Nanda balik.
Nanda berbisik, "Aku masih bisa sampai 3 kali lagi, kamu sanggup kan?"
Tanpa menjawab pertanyaan Naya, Nanda menaikkan selimut yang menutupi tubuh mereka berdua. Mereka kembali memadu kasih untuk kesekian kalinya, melepas rindu setelah sekian lama terpisah karena kewajiban, menutup hari dengan sebuah kebahagiaan.
*
oktavp dan i4munited memberi reputasi
2
Kutip
Balas