- Beranda
- Stories from the Heart
Nan and Sexaworld
...
TS
beavermoon
Nan and Sexaworld

Spoiler for Peringatan:
Cerita ini mengandung unsur seksual vulgar.
Jika belum boleh, disarankan untuk tunggu sampai waktunya.
Jika sudah boleh, mainkan imajinasimu.
Jika belum boleh, disarankan untuk tunggu sampai waktunya.
Jika sudah boleh, mainkan imajinasimu.
Pernahkah kalian menggunakan aplikasi kencan? Apa alasannya? Mencari jodoh? Mencoba peruntungan? Atau mencari pelarian dari sakit hati?
Nanda mulai pengalamannya dengan aplikasi kencan untuk pertama kalinya. Bukan tanpa sebab, sakit hati menjadi alasannya. Ia pun mencoba mencari pelarian di aplikasi tersebut, hingga tak diduga, ia kembali menemukan perasaannya di sana.
Lantas, apakah ia akan kembali jatuh cinta setelah sakit hati sebelumnya?
Spoiler for Episode:
1. Bersemi dengan Indah.
2. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 1)
3. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 2)
4. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 3)
5. Langit Abu-Abu. (Part 1)
6. Langit Abu-Abu. (Part 2)
7. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 1)
8. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 2)
9. When The World Is Yours...
10. Take Your Time...
11. Semua Orang Punya Rahasia.
12. Nan... (Part 1)
13. Nan... (Part 2)
14. Perdebatan Batin. (Part 1)
15. Perdebatan Batin. (Part 2)
16. Tak Sengaja...
17. Di Bawah Hujan, Semuanya Terungkap.
18. Upaya Maksimal. (Part 1)
19. Upaya Maksimal. (Part 2)
20. Dilema. (Part 1)
21. Dilema. (Part 2)
22. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 1)
23. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 2)
24. When The World is Mine... (FINALE)
Behind The Nan...
2. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 1)
3. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 2)
4. Terlalu Lama? Tidak, bahkan Terlalu Cepat. (Part 3)
5. Langit Abu-Abu. (Part 1)
6. Langit Abu-Abu. (Part 2)
7. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 1)
8. Pelampiasan dari Sisa Kenangan. (Part 2)
9. When The World Is Yours...
10. Take Your Time...
11. Semua Orang Punya Rahasia.
12. Nan... (Part 1)
13. Nan... (Part 2)
14. Perdebatan Batin. (Part 1)
15. Perdebatan Batin. (Part 2)
16. Tak Sengaja...
17. Di Bawah Hujan, Semuanya Terungkap.
18. Upaya Maksimal. (Part 1)
19. Upaya Maksimal. (Part 2)
20. Dilema. (Part 1)
21. Dilema. (Part 2)
22. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 1)
23. Maaf, dan Terima Kasih... (Part 2)
24. When The World is Mine... (FINALE)
Behind The Nan...
Diubah oleh beavermoon 01-04-2023 20:22
bukhorigan dan 2 lainnya memberi reputasi
3
4K
Kutip
30
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#2
Spoiler for 1. Bersemi dengan Indah.:
Hidup tak selamanya tentang pelangi yang indah...
Lalu tentang apa?...
Malam hari dengan suasana hening di dalam kamar. Nanda bersama kekasihnya, Naya, sedang berbincang santai sebelum mereka memasuki waktu tidur.
"...Terus gimana jadinya?" Tanya Naya.
"Palingan kalau kamu mau, kita berangkatnya abis bulan Juni aja. Soalnya pertengahan tahun pasti lagi sepi, atau kalau mau beneran sepi ya menjelang akhir tahun sebelum tahun baru." Jelas Nanda.
"Boleh aja kalau gitu, aku setuju..." Naya merebahkan dirinya di atas kasur, "ngomong-ngomong, minggu depan kayaknya aku bakalan tugas ke luar kota deh, soalnya senior aku ada yang cuti melahirkan."
Nanda pun berbaring di sampingnya, "Yaudah nggapapa santai aja, kita juga ngga ada agenda apa-apa buat minggu depan. Berapa lama tugasnya?"
"Seminggu aja kok." Jawan Naya.
Nanda pun mengangguk seraya tersenyum setelah mendengar jawaban Naya. Dalam keheningan malam, mereka menghabiskan waktu dengan beradu pandang satu sama lain, sesekali tersimpul senyum dari wajah mereka, menggambarkan perasaan satu sama lain.
"Oh iya, aku mau nanya deh..."
Nanda tak melepas pandangannya dari Naya.
"...kamu pernah ngga sih ngerasa kalau apa yang udah kamu lakuin itu bisa sia-sia?" Tanya Naya.
"Sia-sia? Maksudnya gimana?" Tanya Nanda penasaran.
"Ya sia-sia, kayak misalkan kamu udah usaha sampai titik darah penghabisan tapi hasilnya ngga ada, bukannya itu namanya sia-sia ya?" Tanya Naya lagi.
Nanda menghela nafasnya singkat, "Sia-sia? Bisa jadi sih, cuma mungkin akan tetap ada hasilnya, ngga mungkin ngga ada hasilnya. Kenapa kamu nanya kayak gitu?"
" Nggapapa..."
Naya mendekatkan tubuhnya kepada Nanda lalu memeluk dan membenamkan wajahnya pada tubuhnya. Nanda hanya bisa memandangi kepala Naya dengan rambut hitam yang terurai panjang. Ia membalas pelukan Naya, membiarkan semuanya terjadi begitu saja.
Malam berganti dengan sengaja, membiarkan semua terasa sangat cepat. Nanda membuka matanya, pandangannya masih kabur, butuh beberapa saat untuk mengembalikan pandangan normalnya. Ia tidak menemukan Naya di sampingnya, ia sempat melihat ke sisi lain, hasilnya pun sama.
Nanda meraih ponselnya yang ada di atas meja kecil di samping tempat tidur, tidak ada juga pesan dari Naya. Nanda pun bangun lalu duduk bersandar, dalam hitungan detik ia meninggalkan tempat tidur lalu beranjak menuju dapur, namun sayangnya ia tidak menemukan Naya di sana. Namun, pandangannya tertuju pada sebuah mangkuk keramik berwarna biru tua yang ada di atas meja. Nanda yang penasaran pun mendekat ke arah meja makan.
"Jangan lupa dimakan ya, aku berangkat duluan. -nayours-"
Nanda tersenyum membaca secarik kertas yang berada di samping mangkuk tersebut, ia pun menempelkan kertas itu di pintu lemari es. Tampilan pintu lemari es sudah dipenuhi oleh kertas yang biasa ditinggalkan Naya, tak jarang pula beberapa lembar foto mereka ada di sana. Nanda memandangi dengan seksama lembaran-lembaran kertas dan foto tersebut, ia kembali dibuat tersenyum entah bagaimana caranya, sampai akhirnya ia beranjak mengambil mangkuk yang ada di atas meja untuk dimakan pada pagi hari ini.
Siang pun beranjak, Nanda sedang meregangkan tangannya ke atas untuk melepas penat. Tok! Tok! Tok! Nanda memandang ke arah samping di mana suara itu berasal, Andreas sudah memandanginya sambil tersenyum lebar.
"Ngapain lo Tak ngeliatin gue kayak gitu?" Tanya Nanda.
"Jangan gitu lah kau Bang, aku cuma liat-liat aja. Eh cemanakalau kita makan siang dulu? Aku sudah lapar ini, perutku sudah meronta-ronta." Ucap Andreas.
"Ide bagus sih, makan apa kita?" Tanya Nanda.
"Saksang enak kali ini Bang tambah Kidu-Kidu, kita tutup pakai Bir aja sebotol." Ajak Andreas.
"Kadang-kadang otak lo encer juga ya Tak kalau ngomongin makanan, ayo gas." Ucap Nanda setuju.
Nanda dan Andreas bangun dari duduk, Andreas pun menyenggol lengan Nanda dan berhasil membuatnya menoleh ke arahnya. Andreas pun memberikan instruksi dengan matanya untuk menatap ke arah yang dituju. Nanda pun menatap ke arah pintu lift di mana ada seorang karyawan perempuan yang sedang menunggu.
"Lama kali kau Bang, bisa kabur itu jodohku." Protes Andreas.
Nanda hanya bisa menggelengkan kepalanya, kemudian mereka berdua bergegas menuju lift bersama dengan perempuan itu. Andreas memposisikan dirinya dekat dengan perempuan itu sementara Nanda menjaga jarak dengannya. Kedatangan mereka pun disadari oleh perempuan itu.
"Eh Bang Batak..." Perempuan itu menatap Nanda, "hai Mas Nanda."
"Halo Diandra, kau mau makan siang di mana?" Tanya Andreas.
Ting! Pintu lift terbuka, mereka bertiga masuk ke dalam dan menuju lantai dasar. Nanda memilih untuk berdiri paling belakang dengan sengaja untuk melihat tingkah laku Andreas.
"Kayaknya aku mau makan Bakmi yang di seberang deh Bang. Kalau Bang Batak sama Mas Nanda mau makan di mana?" Ucap Diandra.
"Kita mau ke Horas Toba, kamu mau ikut?" Tanya Andreas.
"Kemarin aku baru makan di Lapo Bang, kalau ke sana lagi bisa bosen sama makanannya." Jawab Diandra.
"Keduluan aku nampaknya, next time bisa kayaknya kita makan sama-sama, tak harus makan siang juga, bisa kita sambil santai-santai pulang Kantor." Ungkap Andreas.
Diandra tertawa kecil, "Boleh Bang, jangan dadakan ya tapi ngajakinnya."
Ting! Lift tiba di lantai dasar, mereka bertiga ke luar lalu berjalan menuju halaman depan Kantor.
"Kalau gitu aku duluan ya Bang Batak, mari Mas Nanda." Ucap Diandra pamit.
Diandra pun berjalan meninggalkan mereka. Nanda hanya bisa melihat Andreas yang masih menatap ke arah Diandra tanpa berkedip sekalipun, sampai akhirnya Nanda menjentikkan jarinya dan membuat Andreas sadar.
"Udah pergi dia, masih aja diliatin." Ucap Nanda.
"Alamak, cantik kali ya Diandra. Mana badannya bagus pula, dibikin mabuk kepayang aku ini Bang." Ucap Andreas.
"Jadi makan ngga nih kita?" Tanya Nanda.
"Alamak, lupa aku. Ayo kita berangkat Bang." Ajak Andreas.
Mereka pun masuk ke dalam mobil Andreas lalu meninggalkan Kantor pada siang hari ini. Jalanan bersahabat pada mereka, tidak ada sedikitpun kemacetan. Andreas dan Nanda secara bersamaan menyalakan sebatang rokok mereka masing-masing.
"Menurut kau Bang, cemana kalau aku sama Diandra?" Tanya Andreas.
"Jadi lo beneran suka sama Diandra Tak?" Tanya Nanda.
"Aku ngga bisa bilang suka lah Bang, terlalu cepat itu semua. Aku cuma berandai-andai aja semisal aku sama dia, cocok ngga?" Jelas Andreas.
Nanda menghela nafasnya singkat, "Kalau menurut gue sih ya ngga ada salahnya buat nyoba Tak, terlebih Diandra juga anaknya ramah ke semua orang." Jawab Nanda.
"Nah itu dia Bang yang bikin aku suka sama dia." Sahut Andreas.
"Pertanyaan berikutnya kan tinggal apa dia mau sama lo apa ngga Tak." Ucap Nanda.
"Ngga bakal ada yang bisa nolak pesonaku Bang, Andreas Ezekiel Rajagukguk, Si Manis dari Toba." Jawabnya.
Mereka pun tertawa bersama-sama, sampai akhirnya mobil yang dikendarai Andreas pun parkir di depan Horas Toba, yang sudah menjadi langganan mereka. Andreas masuk dengan hebohnya sementara Nanda hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dion pun sudah hafal dengan pesanan Andreas, ia pun menatap Nanda.
"Abang Nanda mau apa?" Tanyanya.
Nanda berfikir sejenak, "Tambah Babi Kecap aja deh seperempat."
Mereka pun beranjak menuju meja paling ujung, Dion memberikan dua botol Bir yang sudah dibuka tutupnya. Kling! Beberapa teguk Bir berhasil menghilangkan dahaga pada siang hari ini, Andreas pun menyalakan sebatang rokok lagi yang juga diikuti oleh Nanda.
"Eh, cemana kabar Naya Bang? Baik-baik saja kan dia?" Tanya Andreas.
Nanda mengangguk, "Kabarnya baik-baik aja kok Tak, minggu depan dia mau ke luar kota gantiin seniornya yang cuti melahirkan."
"Jadi kapan kalian nih? Belum ada rencana?" Tanya Andreas.
"Belum tau sih, gue juga ngga mau maksain dia juga Tak. Maksud gue kan gini, dia juga wanita karir, kalau gue sampai maksain ini semua jatuhnya gue egois banget." Jelas Nanda.
"Akupun setuju soal itu Bang, cuma ya kalian kan udah bersama empat tahun kalau aku ngga salah, takutnya aja nih ya Bang malah ngga jadi karena kelamaan, atau kalian lupa sama tujuan kalian masing-masing." Ucap Andreas.
"Paham sih, cuma ya balik lagi. Gue ngga mau terlalu maksa sampai akhirnya egois. Mungkin sebentar lagi lah Tak." Jawab Nanda.
"Ku doakan yang terbaik lah buat kalian..." Andreas menatap ke arah depan, "lebih baik kita makan dulu, udah datang rupanya."
Dion datang membawakan pesanan mereka lalu meletakkannya di atas meja, kegiatan makan siang pun dimulai. Beberapa saat berlalu, beberapa piring pun sudah bersih tak bersisa. Andreas sedang duduk dengan sebatang rokok yang sudah menyala di tangannya, Nanda pun kembali menghampirinya.
"Ayo Bang kita bayar dulu." Ajak Andreas.
"Alasan aja kau Bang..." Dion menghampiri mereka berdua, "kau sengaja malas-malasan biar Bang Nanda yang bayar kan? B4 kau."
"Apa itu B4?" Tanya Nanda.
"Basa-Basi Busuk Belaka." Jawabnya.
Dion dan Nanda pun tertawa mendengar itu. Andreas menatap Dion dengan malas, "Bukan aku malas ya kimak, aku juga tak tau kalau Bang Nanda akan bayar duluan. Kukira dia ke kamar mandi."
"Banyak alasan kau Bang." Ejek Dion.
Andreas pun mengambil botol Bir kosong untuk dilempar secara bercanda, Dion pun berlindung di balik Nanda sambil tertawa.
"Udah lah, ayo kita balik, mau masuk nih." Ajak Nanda.
"Awas aja kau kimak, ngga ada Bang Nanda, ku poles kepala kau." Ucap Andreas.
Akhirnya Nanda dan Andreas pergi untuk kembali ke Kantor pada siang ini. Tidak banyak yang mereka bicarakan selama di perjalanan, sampai akhirnya mereka sudah kembali duduk di kursi kerja masing-masing.
Waktu berjalan dengan sengaja hingga tak terasa sore sudah menanti dengan matahari yang akan segera terbenam. Nanda sedang membereskan barang-barang bawaannya ke dalam tas yang ia kenakan, Andreas kembali menatap ke arah Nanda.
"Jadi kan kita?" Tanya Andreas.
Nanda menatap bingung ke arah Andreas, "Jadi? Jadi mau ke mana Tak?"
"Alamak jang, lupa bilang aku rupanya. Cemana kalau kita hangout saja di Paladin? Ada DJ bagus malam ini Bang." Ajak Andreas.
"Paladin? Rame banget pasti kalau hari ini Tak, mana mungkin kita dapet tempat duduk di sana." Ucap Nanda.
"Abangku yang satu ini lupa berkawan dengan siapa, Andreas Ezekiel Rajagukguk. Tenang aja Bang urusan itu, asal kau ikut sama aku malam ini. Cemana? Ayolah Bang sesekali mumpung ngga ada Naya." Jelas Andreas.
Nanda menghela nafasnya, "Jadi menurut lo, Naya jadi penghalang kita buat main nih?"
"Bukan itu maksudku Bang, aku cuma bilang..."
Nanda menatap Andreas dengan pandangan yang tajam hingga membuatnya menghentikan ucapannya. Nanda pun berjalan mendekat ke arah Andreas.
"Berangkat." Ucapnya.
"Kimak juga kau Bang..." Andreas sempat menghela nafasnya, "kukira kau marah, memang jago acting kau."
Nanda tertawa melihat ekspresi Andreas yang nampak panik, akhirnya mereka berdua meninggalkan ruangan menuju lantai dasar. Setibanya di lantai dasar, mereka kembali melihat Diandra yang sedang duduk di kursi halaman Kantor. Andreas kembali menyenggol lengan Nanda untuk memberikan info tersebut.
"Kita ajak aja sekalian kali ya Bang?" Tanya Andreas.
"Yakin lo?" Tanya Nanda ragu.
Andreas dengan percaya diri menghampiri Diandra, sementara Nanda hanya mengamati gerak-geriknya karena tidak mau ikut campur. Nanda pun menerka-nerka apa yang menjadi bahan perbincangan mereka, sampai akhirnya Andreas kembali menghampiri Nanda.
"Next time dia bakalan ikut Bang, hari ini dia mau pergi entah ke mana." Jelas Andreas.
Nanda menganggukkan kepalanya, kemudian mereka berjalan menuju parkiran di mana mobil Andreas terparkir. Namun sebelumnya, Nanda dan Diandra sempat beradu pandang hingga membuat Diandra melambaikan tangannya pelan, Nanda hanya membalas dengan senyum kecilnya.
Mobil pun beranjak meninggalkan Kantor dengan beberapa kendaraan lain, jalanan sudah mulai dipadati oleh orang-orang yang juga baru pulang atau bahkan baru akan pergi. Kepulan asap sudah ke luar dari mulut Andreas dan Nanda, terdengar pula lantunan lagu yang diputar oleh Andreas.
Hampir membutuhkan waktu satu jam untuk mereka tiba di tujuan. Andreas dan Nanda ke luar dari dalam mobil dan memberikan kunci kepada petugas valet, kemudian mereka masuk ke dalam sebuah bangunan bertingkat pada malam hari ini. Seorang petugas keamanan menahan mereka untuk memeriksa identitas mereka, setelah memeriksa dengan seksama, akhirnya mereka diizinkan untuk masuk.
"Selamat datang di Paladin."
Andreas masuk mendahului Nanda, ruangan pun berubah menjadi sangat gelap, sampai akhirnya lampu-lampu laser mulai menembak ke arah sisi-sisi gedung. Lantunan lagu pun mulai terdengar memenuhi ruangan, riuh pengunjung pun mulai terdengar.
"Selamat datang kembali Bang." Ucap Andreas.
Andreas dan Nanda berjalan menuju meja bar di mana ada beberapa Bartender yang sedang beratraksi dengan botol-botol minuman, mereka pun duduk di depan salah satu Bartender yang baru saja menyajikan minuman untuk salah satu pengunjung.
"Biasa ya." Ucap Andreas singkat.
Bartender itu menatap ke arah Andreas, ekspresinya pun berubah menyeringai.
"Gue ngga salah nih ngeliat Batak ke sini ngga sama cewe?..." Ia pun menatap ke arah Nanda, "terlebih sekarang datengnya sama legenda yang udah tertidur lama. Apa kabar kalian?"
Bartender itu bersalaman dengan Andreas dan Nanda. Andreas pun menyalakan sebatang rokok, "Itu dia makanya aku ngga sama perempuan kali ini Mik, seorang legenda yang aku ajak. Aku biasa ya."
Miko pun mengangguk pertanda ia mengerti, ia pun mengambil beberapa botol bahan lalu disatukan ke dalam satu pengocok besar. Beberapa es batu ia masukkan lalu ia tutup dengan rapat. Alunan musik yang semakin menjadi menemani Miko yang sedang membuat minuman untuk mereka berdua, hingga akhirnya dua gelas minuman sudah tersaji di hadapan Andreas dan Nanda.
"Gue buat yang spesial buat kalian." Ucap Miko.
"Makasih ya Mik." Ucap Nanda.
"Kita cheers dulu lah."
Andreas mengangkat gelasnya terlebih dahulu, Miko dan Nanda pun mengangkat gelas mereka lalu sengaja menyentuh gelas Andreas, Kling! Tegukan singkat berhasil menaikkan suasana pada malam ini, Nanda pun menyalakan sebatang rokok.
"Ngomong-ngomong, ada angin apa lo mau ke sini Nan? Apa lo lagi galau? Apa lagi ada masalah pekerjaan, atau jangan-jangan lo putus sama Naya?" Tanya Miko penasaran.
"Bah! Berani kali kau cakap begitu." Ucap Andreas heran.
"Gue penasaran aja Tak, lo tau sendiri kalau Nanda udah ganti aliran. Dulu hampir tiap minggu dia ke sini, sampai akhirnya ketemu Naya, dia jadi lebih sering ke tempat yang lebih enak buat ngobrol." Jelas Miko.
Nanda tertawa kecil, "baik juga lo ya. Tadi di Kantor tiba-tiba aja Batak ngajakin gue ke sini, dan berhubung ada kesempatan ya gue juga ngga nolak-nolak banget Mik."
"Kesempatan? Maksudnya?" Tanya Miko.
Nanda meminum minumannya sedikit, "Naya lagi ke luar kota, ada tugas dadakan di sana. Batak tau dan akhirnya dia ngajakin gue ke sini."
Miko mengangguk pelan, "Pantesan aja, gue kira kalian tuh lagi berantem atau sejenisnya lah makanya lo kesini ngga bilang-bilang. Ngomong-ngomong, kapan nih kalian tebar undangan? Udah lama kan kalian tunangan."
"Kau ini..." Andreas memukul lengan Miko pelan, "jangan kau tanya-tanya soal itu, biarkan mereka selesaikan sendiri. Malam ini kita nikmati aja apa yang ada. Lebih baik kau carikan aku perempuan yang oke."
Mereka bertiga pun tertawa bersama-sama pada malam hari ini. Lantunan musik semakin menjadi-jadi, terlebih seorang perempuan yang bertugas menjadi DJ semakin memeriahkan acara. Entah sudah berapa batang rokok yang dihabiskan oleh Nanda, ia kembali menyalakan sebatang rokok lalu menghembuskan asapnya ke atas. Matanya tertuju kepada Andreas yang sudah bergabung di tengah kerumunan orang-orang yang berdiri di tengah, Andreas sangat menikmati malam dengan menggerakan tangan dan kakinya di tengah perempuan-perempuan dengan percaya dirinya.
"Ngga ikutan lo?..."
Ucapan Miko membuat Nanda berpaling, ia kembali menatap ke arah Miko yang baru saja kembali setelah membuatkan minuman untuk pengunjung lain.
"Sejak kapan gue suka ke tengah situ?" Tanya Nanda.
Miko menghembuskan asap dari mulutnya, "Kurang lebih empat tahun lalu, ada seorang laki-laki yang gue kenal ke tengah sana cuma buat kenalan sama perempuan yang gue pun baru pertama kali ketemu sama dia."
Nanda kembali tersenyum, "Masih inget juga lo. Kalau diinget-inget, bener juga sih. Dulu gue bela-belain ke tengah cuma buat kenalan sama Naya."
"Tapi kalian beneran baik-baik aja kan?" Tanya Miko penasaran.
Nanda mengangguk dengan pasti, ia mengisyaratkan bahwa ia dan Naya dalam keadaan yang baik-baik saja. Tidak lama berselang, Andreas datang menghampiri mereka, namun ia tidak sendiri.
"Guys, kenalin nih..."
Nanda dan Miko pun menjabat tangan seorang perempuan yang tidak mereka kenal. Seorang perempuan berambut pendek sebahu yang mengenakan tank top merah dan jeans pendek. Nanda hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan yang juga disadari oleh Andreas, ia pun hanya bisa tersenyum menyeringai.
"Kalau gitu, gue duluan aja nanti. Lo temenin dia aja." Ucap Nanda.
"Kenapa ngga bareng saja Bang?" Tanya Andreas.
Nanda bangun dari duduknya, "Segala basa-basi, udah santai aja. Minuman lo udah sama gue ya, gue duluan. Mik, gue duluan, thank you ya buat minumannya."
Nanda berjalan menjauh sambil melambaikan tangannya pelan ke arah mereka, Andreas dan Miko pun membalas dengan melambaikan tangan juga.
Nanda berjalan ke luar dari dalam bangunan, menyusuri jalanan yang sudah tidak terlalu ramai oleh kendaraan yang lewat. Ia pun duduk di Halte seraya menyalakan sebatang rokok, badannya bersandar sambil menatap ke layar ponselnya. Sebuah foto dirinya bersama Naya yang menjadi latar belakang cukup membuatnya tersenyum kecil. Layar ponselnya pun menghitam, bukan karena mati, melainkan ada sebuah panggilan masuk.
"Halo Sayang..."
Nanda pun tersenyum, "Hai..."
Sinar rembulan yang terang menemani perbincangan antara dua insan yang sedang berkomunikasi via suara, melepas rindu walau hanya sesaat.
Lalu tentang apa?...
Malam hari dengan suasana hening di dalam kamar. Nanda bersama kekasihnya, Naya, sedang berbincang santai sebelum mereka memasuki waktu tidur.
"...Terus gimana jadinya?" Tanya Naya.
"Palingan kalau kamu mau, kita berangkatnya abis bulan Juni aja. Soalnya pertengahan tahun pasti lagi sepi, atau kalau mau beneran sepi ya menjelang akhir tahun sebelum tahun baru." Jelas Nanda.
"Boleh aja kalau gitu, aku setuju..." Naya merebahkan dirinya di atas kasur, "ngomong-ngomong, minggu depan kayaknya aku bakalan tugas ke luar kota deh, soalnya senior aku ada yang cuti melahirkan."
Nanda pun berbaring di sampingnya, "Yaudah nggapapa santai aja, kita juga ngga ada agenda apa-apa buat minggu depan. Berapa lama tugasnya?"
"Seminggu aja kok." Jawan Naya.
Nanda pun mengangguk seraya tersenyum setelah mendengar jawaban Naya. Dalam keheningan malam, mereka menghabiskan waktu dengan beradu pandang satu sama lain, sesekali tersimpul senyum dari wajah mereka, menggambarkan perasaan satu sama lain.
"Oh iya, aku mau nanya deh..."
Nanda tak melepas pandangannya dari Naya.
"...kamu pernah ngga sih ngerasa kalau apa yang udah kamu lakuin itu bisa sia-sia?" Tanya Naya.
"Sia-sia? Maksudnya gimana?" Tanya Nanda penasaran.
"Ya sia-sia, kayak misalkan kamu udah usaha sampai titik darah penghabisan tapi hasilnya ngga ada, bukannya itu namanya sia-sia ya?" Tanya Naya lagi.
Nanda menghela nafasnya singkat, "Sia-sia? Bisa jadi sih, cuma mungkin akan tetap ada hasilnya, ngga mungkin ngga ada hasilnya. Kenapa kamu nanya kayak gitu?"
" Nggapapa..."
Naya mendekatkan tubuhnya kepada Nanda lalu memeluk dan membenamkan wajahnya pada tubuhnya. Nanda hanya bisa memandangi kepala Naya dengan rambut hitam yang terurai panjang. Ia membalas pelukan Naya, membiarkan semuanya terjadi begitu saja.
Malam berganti dengan sengaja, membiarkan semua terasa sangat cepat. Nanda membuka matanya, pandangannya masih kabur, butuh beberapa saat untuk mengembalikan pandangan normalnya. Ia tidak menemukan Naya di sampingnya, ia sempat melihat ke sisi lain, hasilnya pun sama.
Nanda meraih ponselnya yang ada di atas meja kecil di samping tempat tidur, tidak ada juga pesan dari Naya. Nanda pun bangun lalu duduk bersandar, dalam hitungan detik ia meninggalkan tempat tidur lalu beranjak menuju dapur, namun sayangnya ia tidak menemukan Naya di sana. Namun, pandangannya tertuju pada sebuah mangkuk keramik berwarna biru tua yang ada di atas meja. Nanda yang penasaran pun mendekat ke arah meja makan.
"Jangan lupa dimakan ya, aku berangkat duluan. -nayours-"
Nanda tersenyum membaca secarik kertas yang berada di samping mangkuk tersebut, ia pun menempelkan kertas itu di pintu lemari es. Tampilan pintu lemari es sudah dipenuhi oleh kertas yang biasa ditinggalkan Naya, tak jarang pula beberapa lembar foto mereka ada di sana. Nanda memandangi dengan seksama lembaran-lembaran kertas dan foto tersebut, ia kembali dibuat tersenyum entah bagaimana caranya, sampai akhirnya ia beranjak mengambil mangkuk yang ada di atas meja untuk dimakan pada pagi hari ini.
Siang pun beranjak, Nanda sedang meregangkan tangannya ke atas untuk melepas penat. Tok! Tok! Tok! Nanda memandang ke arah samping di mana suara itu berasal, Andreas sudah memandanginya sambil tersenyum lebar.
"Ngapain lo Tak ngeliatin gue kayak gitu?" Tanya Nanda.
"Jangan gitu lah kau Bang, aku cuma liat-liat aja. Eh cemanakalau kita makan siang dulu? Aku sudah lapar ini, perutku sudah meronta-ronta." Ucap Andreas.
"Ide bagus sih, makan apa kita?" Tanya Nanda.
"Saksang enak kali ini Bang tambah Kidu-Kidu, kita tutup pakai Bir aja sebotol." Ajak Andreas.
"Kadang-kadang otak lo encer juga ya Tak kalau ngomongin makanan, ayo gas." Ucap Nanda setuju.
Nanda dan Andreas bangun dari duduk, Andreas pun menyenggol lengan Nanda dan berhasil membuatnya menoleh ke arahnya. Andreas pun memberikan instruksi dengan matanya untuk menatap ke arah yang dituju. Nanda pun menatap ke arah pintu lift di mana ada seorang karyawan perempuan yang sedang menunggu.
"Lama kali kau Bang, bisa kabur itu jodohku." Protes Andreas.
Nanda hanya bisa menggelengkan kepalanya, kemudian mereka berdua bergegas menuju lift bersama dengan perempuan itu. Andreas memposisikan dirinya dekat dengan perempuan itu sementara Nanda menjaga jarak dengannya. Kedatangan mereka pun disadari oleh perempuan itu.
"Eh Bang Batak..." Perempuan itu menatap Nanda, "hai Mas Nanda."
"Halo Diandra, kau mau makan siang di mana?" Tanya Andreas.
Ting! Pintu lift terbuka, mereka bertiga masuk ke dalam dan menuju lantai dasar. Nanda memilih untuk berdiri paling belakang dengan sengaja untuk melihat tingkah laku Andreas.
"Kayaknya aku mau makan Bakmi yang di seberang deh Bang. Kalau Bang Batak sama Mas Nanda mau makan di mana?" Ucap Diandra.
"Kita mau ke Horas Toba, kamu mau ikut?" Tanya Andreas.
"Kemarin aku baru makan di Lapo Bang, kalau ke sana lagi bisa bosen sama makanannya." Jawab Diandra.
"Keduluan aku nampaknya, next time bisa kayaknya kita makan sama-sama, tak harus makan siang juga, bisa kita sambil santai-santai pulang Kantor." Ungkap Andreas.
Diandra tertawa kecil, "Boleh Bang, jangan dadakan ya tapi ngajakinnya."
Ting! Lift tiba di lantai dasar, mereka bertiga ke luar lalu berjalan menuju halaman depan Kantor.
"Kalau gitu aku duluan ya Bang Batak, mari Mas Nanda." Ucap Diandra pamit.
Diandra pun berjalan meninggalkan mereka. Nanda hanya bisa melihat Andreas yang masih menatap ke arah Diandra tanpa berkedip sekalipun, sampai akhirnya Nanda menjentikkan jarinya dan membuat Andreas sadar.
"Udah pergi dia, masih aja diliatin." Ucap Nanda.
"Alamak, cantik kali ya Diandra. Mana badannya bagus pula, dibikin mabuk kepayang aku ini Bang." Ucap Andreas.
"Jadi makan ngga nih kita?" Tanya Nanda.
"Alamak, lupa aku. Ayo kita berangkat Bang." Ajak Andreas.
Mereka pun masuk ke dalam mobil Andreas lalu meninggalkan Kantor pada siang hari ini. Jalanan bersahabat pada mereka, tidak ada sedikitpun kemacetan. Andreas dan Nanda secara bersamaan menyalakan sebatang rokok mereka masing-masing.
"Menurut kau Bang, cemana kalau aku sama Diandra?" Tanya Andreas.
"Jadi lo beneran suka sama Diandra Tak?" Tanya Nanda.
"Aku ngga bisa bilang suka lah Bang, terlalu cepat itu semua. Aku cuma berandai-andai aja semisal aku sama dia, cocok ngga?" Jelas Andreas.
Nanda menghela nafasnya singkat, "Kalau menurut gue sih ya ngga ada salahnya buat nyoba Tak, terlebih Diandra juga anaknya ramah ke semua orang." Jawab Nanda.
"Nah itu dia Bang yang bikin aku suka sama dia." Sahut Andreas.
"Pertanyaan berikutnya kan tinggal apa dia mau sama lo apa ngga Tak." Ucap Nanda.
"Ngga bakal ada yang bisa nolak pesonaku Bang, Andreas Ezekiel Rajagukguk, Si Manis dari Toba." Jawabnya.
Mereka pun tertawa bersama-sama, sampai akhirnya mobil yang dikendarai Andreas pun parkir di depan Horas Toba, yang sudah menjadi langganan mereka. Andreas masuk dengan hebohnya sementara Nanda hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dion pun sudah hafal dengan pesanan Andreas, ia pun menatap Nanda.
"Abang Nanda mau apa?" Tanyanya.
Nanda berfikir sejenak, "Tambah Babi Kecap aja deh seperempat."
Mereka pun beranjak menuju meja paling ujung, Dion memberikan dua botol Bir yang sudah dibuka tutupnya. Kling! Beberapa teguk Bir berhasil menghilangkan dahaga pada siang hari ini, Andreas pun menyalakan sebatang rokok lagi yang juga diikuti oleh Nanda.
"Eh, cemana kabar Naya Bang? Baik-baik saja kan dia?" Tanya Andreas.
Nanda mengangguk, "Kabarnya baik-baik aja kok Tak, minggu depan dia mau ke luar kota gantiin seniornya yang cuti melahirkan."
"Jadi kapan kalian nih? Belum ada rencana?" Tanya Andreas.
"Belum tau sih, gue juga ngga mau maksain dia juga Tak. Maksud gue kan gini, dia juga wanita karir, kalau gue sampai maksain ini semua jatuhnya gue egois banget." Jelas Nanda.
"Akupun setuju soal itu Bang, cuma ya kalian kan udah bersama empat tahun kalau aku ngga salah, takutnya aja nih ya Bang malah ngga jadi karena kelamaan, atau kalian lupa sama tujuan kalian masing-masing." Ucap Andreas.
"Paham sih, cuma ya balik lagi. Gue ngga mau terlalu maksa sampai akhirnya egois. Mungkin sebentar lagi lah Tak." Jawab Nanda.
"Ku doakan yang terbaik lah buat kalian..." Andreas menatap ke arah depan, "lebih baik kita makan dulu, udah datang rupanya."
Dion datang membawakan pesanan mereka lalu meletakkannya di atas meja, kegiatan makan siang pun dimulai. Beberapa saat berlalu, beberapa piring pun sudah bersih tak bersisa. Andreas sedang duduk dengan sebatang rokok yang sudah menyala di tangannya, Nanda pun kembali menghampirinya.
"Ayo Bang kita bayar dulu." Ajak Andreas.
"Alasan aja kau Bang..." Dion menghampiri mereka berdua, "kau sengaja malas-malasan biar Bang Nanda yang bayar kan? B4 kau."
"Apa itu B4?" Tanya Nanda.
"Basa-Basi Busuk Belaka." Jawabnya.
Dion dan Nanda pun tertawa mendengar itu. Andreas menatap Dion dengan malas, "Bukan aku malas ya kimak, aku juga tak tau kalau Bang Nanda akan bayar duluan. Kukira dia ke kamar mandi."
"Banyak alasan kau Bang." Ejek Dion.
Andreas pun mengambil botol Bir kosong untuk dilempar secara bercanda, Dion pun berlindung di balik Nanda sambil tertawa.
"Udah lah, ayo kita balik, mau masuk nih." Ajak Nanda.
"Awas aja kau kimak, ngga ada Bang Nanda, ku poles kepala kau." Ucap Andreas.
Akhirnya Nanda dan Andreas pergi untuk kembali ke Kantor pada siang ini. Tidak banyak yang mereka bicarakan selama di perjalanan, sampai akhirnya mereka sudah kembali duduk di kursi kerja masing-masing.
Waktu berjalan dengan sengaja hingga tak terasa sore sudah menanti dengan matahari yang akan segera terbenam. Nanda sedang membereskan barang-barang bawaannya ke dalam tas yang ia kenakan, Andreas kembali menatap ke arah Nanda.
"Jadi kan kita?" Tanya Andreas.
Nanda menatap bingung ke arah Andreas, "Jadi? Jadi mau ke mana Tak?"
"Alamak jang, lupa bilang aku rupanya. Cemana kalau kita hangout saja di Paladin? Ada DJ bagus malam ini Bang." Ajak Andreas.
"Paladin? Rame banget pasti kalau hari ini Tak, mana mungkin kita dapet tempat duduk di sana." Ucap Nanda.
"Abangku yang satu ini lupa berkawan dengan siapa, Andreas Ezekiel Rajagukguk. Tenang aja Bang urusan itu, asal kau ikut sama aku malam ini. Cemana? Ayolah Bang sesekali mumpung ngga ada Naya." Jelas Andreas.
Nanda menghela nafasnya, "Jadi menurut lo, Naya jadi penghalang kita buat main nih?"
"Bukan itu maksudku Bang, aku cuma bilang..."
Nanda menatap Andreas dengan pandangan yang tajam hingga membuatnya menghentikan ucapannya. Nanda pun berjalan mendekat ke arah Andreas.
"Berangkat." Ucapnya.
"Kimak juga kau Bang..." Andreas sempat menghela nafasnya, "kukira kau marah, memang jago acting kau."
Nanda tertawa melihat ekspresi Andreas yang nampak panik, akhirnya mereka berdua meninggalkan ruangan menuju lantai dasar. Setibanya di lantai dasar, mereka kembali melihat Diandra yang sedang duduk di kursi halaman Kantor. Andreas kembali menyenggol lengan Nanda untuk memberikan info tersebut.
"Kita ajak aja sekalian kali ya Bang?" Tanya Andreas.
"Yakin lo?" Tanya Nanda ragu.
Andreas dengan percaya diri menghampiri Diandra, sementara Nanda hanya mengamati gerak-geriknya karena tidak mau ikut campur. Nanda pun menerka-nerka apa yang menjadi bahan perbincangan mereka, sampai akhirnya Andreas kembali menghampiri Nanda.
"Next time dia bakalan ikut Bang, hari ini dia mau pergi entah ke mana." Jelas Andreas.
Nanda menganggukkan kepalanya, kemudian mereka berjalan menuju parkiran di mana mobil Andreas terparkir. Namun sebelumnya, Nanda dan Diandra sempat beradu pandang hingga membuat Diandra melambaikan tangannya pelan, Nanda hanya membalas dengan senyum kecilnya.
Mobil pun beranjak meninggalkan Kantor dengan beberapa kendaraan lain, jalanan sudah mulai dipadati oleh orang-orang yang juga baru pulang atau bahkan baru akan pergi. Kepulan asap sudah ke luar dari mulut Andreas dan Nanda, terdengar pula lantunan lagu yang diputar oleh Andreas.
Hampir membutuhkan waktu satu jam untuk mereka tiba di tujuan. Andreas dan Nanda ke luar dari dalam mobil dan memberikan kunci kepada petugas valet, kemudian mereka masuk ke dalam sebuah bangunan bertingkat pada malam hari ini. Seorang petugas keamanan menahan mereka untuk memeriksa identitas mereka, setelah memeriksa dengan seksama, akhirnya mereka diizinkan untuk masuk.
"Selamat datang di Paladin."
Andreas masuk mendahului Nanda, ruangan pun berubah menjadi sangat gelap, sampai akhirnya lampu-lampu laser mulai menembak ke arah sisi-sisi gedung. Lantunan lagu pun mulai terdengar memenuhi ruangan, riuh pengunjung pun mulai terdengar.
"Selamat datang kembali Bang." Ucap Andreas.
Andreas dan Nanda berjalan menuju meja bar di mana ada beberapa Bartender yang sedang beratraksi dengan botol-botol minuman, mereka pun duduk di depan salah satu Bartender yang baru saja menyajikan minuman untuk salah satu pengunjung.
"Biasa ya." Ucap Andreas singkat.
Bartender itu menatap ke arah Andreas, ekspresinya pun berubah menyeringai.
"Gue ngga salah nih ngeliat Batak ke sini ngga sama cewe?..." Ia pun menatap ke arah Nanda, "terlebih sekarang datengnya sama legenda yang udah tertidur lama. Apa kabar kalian?"
Bartender itu bersalaman dengan Andreas dan Nanda. Andreas pun menyalakan sebatang rokok, "Itu dia makanya aku ngga sama perempuan kali ini Mik, seorang legenda yang aku ajak. Aku biasa ya."
Miko pun mengangguk pertanda ia mengerti, ia pun mengambil beberapa botol bahan lalu disatukan ke dalam satu pengocok besar. Beberapa es batu ia masukkan lalu ia tutup dengan rapat. Alunan musik yang semakin menjadi menemani Miko yang sedang membuat minuman untuk mereka berdua, hingga akhirnya dua gelas minuman sudah tersaji di hadapan Andreas dan Nanda.
"Gue buat yang spesial buat kalian." Ucap Miko.
"Makasih ya Mik." Ucap Nanda.
"Kita cheers dulu lah."
Andreas mengangkat gelasnya terlebih dahulu, Miko dan Nanda pun mengangkat gelas mereka lalu sengaja menyentuh gelas Andreas, Kling! Tegukan singkat berhasil menaikkan suasana pada malam ini, Nanda pun menyalakan sebatang rokok.
"Ngomong-ngomong, ada angin apa lo mau ke sini Nan? Apa lo lagi galau? Apa lagi ada masalah pekerjaan, atau jangan-jangan lo putus sama Naya?" Tanya Miko penasaran.
"Bah! Berani kali kau cakap begitu." Ucap Andreas heran.
"Gue penasaran aja Tak, lo tau sendiri kalau Nanda udah ganti aliran. Dulu hampir tiap minggu dia ke sini, sampai akhirnya ketemu Naya, dia jadi lebih sering ke tempat yang lebih enak buat ngobrol." Jelas Miko.
Nanda tertawa kecil, "baik juga lo ya. Tadi di Kantor tiba-tiba aja Batak ngajakin gue ke sini, dan berhubung ada kesempatan ya gue juga ngga nolak-nolak banget Mik."
"Kesempatan? Maksudnya?" Tanya Miko.
Nanda meminum minumannya sedikit, "Naya lagi ke luar kota, ada tugas dadakan di sana. Batak tau dan akhirnya dia ngajakin gue ke sini."
Miko mengangguk pelan, "Pantesan aja, gue kira kalian tuh lagi berantem atau sejenisnya lah makanya lo kesini ngga bilang-bilang. Ngomong-ngomong, kapan nih kalian tebar undangan? Udah lama kan kalian tunangan."
"Kau ini..." Andreas memukul lengan Miko pelan, "jangan kau tanya-tanya soal itu, biarkan mereka selesaikan sendiri. Malam ini kita nikmati aja apa yang ada. Lebih baik kau carikan aku perempuan yang oke."
Mereka bertiga pun tertawa bersama-sama pada malam hari ini. Lantunan musik semakin menjadi-jadi, terlebih seorang perempuan yang bertugas menjadi DJ semakin memeriahkan acara. Entah sudah berapa batang rokok yang dihabiskan oleh Nanda, ia kembali menyalakan sebatang rokok lalu menghembuskan asapnya ke atas. Matanya tertuju kepada Andreas yang sudah bergabung di tengah kerumunan orang-orang yang berdiri di tengah, Andreas sangat menikmati malam dengan menggerakan tangan dan kakinya di tengah perempuan-perempuan dengan percaya dirinya.
"Ngga ikutan lo?..."
Ucapan Miko membuat Nanda berpaling, ia kembali menatap ke arah Miko yang baru saja kembali setelah membuatkan minuman untuk pengunjung lain.
"Sejak kapan gue suka ke tengah situ?" Tanya Nanda.
Miko menghembuskan asap dari mulutnya, "Kurang lebih empat tahun lalu, ada seorang laki-laki yang gue kenal ke tengah sana cuma buat kenalan sama perempuan yang gue pun baru pertama kali ketemu sama dia."
Nanda kembali tersenyum, "Masih inget juga lo. Kalau diinget-inget, bener juga sih. Dulu gue bela-belain ke tengah cuma buat kenalan sama Naya."
"Tapi kalian beneran baik-baik aja kan?" Tanya Miko penasaran.
Nanda mengangguk dengan pasti, ia mengisyaratkan bahwa ia dan Naya dalam keadaan yang baik-baik saja. Tidak lama berselang, Andreas datang menghampiri mereka, namun ia tidak sendiri.
"Guys, kenalin nih..."
Nanda dan Miko pun menjabat tangan seorang perempuan yang tidak mereka kenal. Seorang perempuan berambut pendek sebahu yang mengenakan tank top merah dan jeans pendek. Nanda hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan yang juga disadari oleh Andreas, ia pun hanya bisa tersenyum menyeringai.
"Kalau gitu, gue duluan aja nanti. Lo temenin dia aja." Ucap Nanda.
"Kenapa ngga bareng saja Bang?" Tanya Andreas.
Nanda bangun dari duduknya, "Segala basa-basi, udah santai aja. Minuman lo udah sama gue ya, gue duluan. Mik, gue duluan, thank you ya buat minumannya."
Nanda berjalan menjauh sambil melambaikan tangannya pelan ke arah mereka, Andreas dan Miko pun membalas dengan melambaikan tangan juga.
Nanda berjalan ke luar dari dalam bangunan, menyusuri jalanan yang sudah tidak terlalu ramai oleh kendaraan yang lewat. Ia pun duduk di Halte seraya menyalakan sebatang rokok, badannya bersandar sambil menatap ke layar ponselnya. Sebuah foto dirinya bersama Naya yang menjadi latar belakang cukup membuatnya tersenyum kecil. Layar ponselnya pun menghitam, bukan karena mati, melainkan ada sebuah panggilan masuk.
"Halo Sayang..."
Nanda pun tersenyum, "Hai..."
Sinar rembulan yang terang menemani perbincangan antara dua insan yang sedang berkomunikasi via suara, melepas rindu walau hanya sesaat.
*
oktavp dan i4munited memberi reputasi
2
Kutip
Balas