- Beranda
- The Lounge
Kumpulan Kisah Nyata Kekuatan Doa
...
TS
newandipurnomo
Kumpulan Kisah Nyata Kekuatan Doa
Daftar Isi
01. Sungguh, Allah Tak Pernah Tidur!
02. Tak Ada Jalan Buntu Selama Yakin Pada Allah
03. Aku Berharap Ada Kavling Surga Di Salah Satu Kaki Ibu Ku
04. Skenario Allah Dibalik Kegagalan Ku
05. Pertolongan Allah Tak Pernah Telat
06. Ketika Allah Telah Berkehendak
07. Dimana Ada Kemauan, Disitu Ada Jalan
08. Kiriman Amplop Itu Datang Bertubi-tubi
09. Durhaka, Berbuah Celaka
10. Allah Tak Pernah Ingkar Janji
Sungguh, Allah Tak Pernah Tidur!
Aku hanya bisa pasrah memandang Saidah, istriku yang berbaring lemah di sebuah Rumah Sakit (RS) di kota Madinah. Namun, keteganganku mendapati istri yang harus menjalani persalinan di tanah rantau dan jauh dari keluarga rupanya belum cukup. Sebab ternyata, istri telah divonis operasi cesar oleh dokter yang menanganinya.
Sekonyong-konyong, seorang petugas langsung menghampiriku dan menyodorkan secarik tagihan berisi beberapa angka.
“Iya, benar! hanya Rp. 17.000.000 dan harus dibayar cash sekarang,” kata petugas itu datar.
Tanpa sadar, bola mataku perlahan mulai mengair. Ya Rabb, darimana uang sebanyak itu? Jangankan tabungan atau celengan, handphone pun adalah barang yang sangat mewah bagiku yang masih berstatus mahasiswa Universitas Islam Madinah (UIM).
“Kami baru bisa bertindak jika biaya administrasi itu sudah lunas,” kata- petugas rumah sakit itu terngiang kembali, layaknya palu godam yang menghantam kepalaku.
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [QS: Al Baqarah: 153]
Penggalan surat yang sudah lama kuhafalkan itu tiba-tiba berkelebat dalam fikiranku. Seolah ada yang menggerakkan, tanpa fikir panjang aku langsung melangkah mengambil air wudhu dan bersimpuh di hadapan-Nya.
Seolah tanpa jarak, saat itu aku benar-benar menumpahkan segala curhatku kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Shalat dan berdoa, itu saja yang kuulang-ulang terus. Entahlah, rupanya beberapa dokter iba melihat perbuatanku. Mereka lalu bersedia membantu proses operasi tanpa perlu dibayar.
“Alhamdulillah, pertolongan Allah mulai terbuka,” demikian batinku dalam diam.
Ibarat pepatah, “Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.” Saat menghadap direktur rumah sakit, para dokter spesialis itu malah langsung kena semprot oleh sang direktur.
“Memangnya ini rumah sakit punya bapak kalian. Semua peralatan dan obat-obat itu harus dibayar? Kalian di sini hanya bekerja menjalankan tugas saja, tidak punya hak untuk membebaskan biaya pasien cecar, “ demikian direktur yang emosi.
Aku hanya diam membisu di belakang. Dalam hati, aku kasihan juga melihat para dokter itu. Mereka kena marah hanya karena ingin membantu urusanku saja.
Entah mengapa, lagi-lagi aku ingin shalat dan mengadu kepada-Nya lagi. Entah mengapa, tiba-tiba hati ini terasa sejuk dalam lautan doa yang terus kupanjatkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Akhirnya, tiba-tiba Allah Subhanahu Wata’ala mempertemukanku dengan salah seorang pengurus rumah sakit.
Uniknya, orang yang baru kukenal itu kaget dan sontak merangkul badanku dengan akrab. Usut punya usut, ternyata ia membaca nama yang tertera di kartu lembaran identitasku, Nashirul Haq al-Bilawi. Rupanya orang itu mengira diriku berasal dari suatu daerah dan semarga dengannya dari dataran Arab, yaitu Alwi atau Alawi. Entah apa karena saya dianggap garis keturunan Alawi dari Hadramaut. Padahal “Bilawi” itu adalah Bilawa, nama sebuah kampung di pelosok Sulawesi Selatan.
Singkat kata, semua biaya operasi ditanggung olehnya. Subhanallah Wallhamdulillah.
Qaddarallahu, ternyata kisah ketegangan di Rumah Sakit Madinah itu rupanya belum tuntas. Pasca operasi cesar dilakukan, sontak sesaat rumah sakit itu langsung heboh. Ternyata ada inspeksi mendadak (sidak) alias razia bagi penduduk kota Madinah yang tak memiliki identitas lengkap.
Ya Rabb, sekali lagi aku hanya bisa berharap dan meminta kepada-Mu. Sebab wanita yang baru saja melahirkan anak pertamaku itu tak punya identitas sama sekali, kecuali ia adalah istriku yang sah.
Sudah maklum bagi pendatang, pasien gelap atau siapa saja yang ketahuan tak punya identitas terancam dipulangkan dengan paksa. Meski bersama bayi merahnya sekalipun.
Subhanallah. Allah Subhanahu Wata’ala tak pernah tidur dan membiarkan hamba-Nya dirundung kesusahan. Allah berkuasa atas segala tipu daya yang ada.
Saat petugas pemeriksa itu datang, mereka hanya melewati istriku yang masih terbaring lemah. Rupanya petugas itu mengira diriku adalah seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) alias pembantu dan istriku disangkanya seorang majikan orang Arab yang sedang kujaga. Allahu Akbar!
*/Roidatun Nahdhah, pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Putri. Kisah nyata ini disampaikan oleh Nashirul Haq dalam sebuah kesempatan majelis taklim, di Gunung Tembak, Balikpapan
01. Sungguh, Allah Tak Pernah Tidur!
02. Tak Ada Jalan Buntu Selama Yakin Pada Allah
03. Aku Berharap Ada Kavling Surga Di Salah Satu Kaki Ibu Ku
04. Skenario Allah Dibalik Kegagalan Ku
05. Pertolongan Allah Tak Pernah Telat
06. Ketika Allah Telah Berkehendak
07. Dimana Ada Kemauan, Disitu Ada Jalan
08. Kiriman Amplop Itu Datang Bertubi-tubi
09. Durhaka, Berbuah Celaka
10. Allah Tak Pernah Ingkar Janji
Sungguh, Allah Tak Pernah Tidur!
Aku hanya bisa pasrah memandang Saidah, istriku yang berbaring lemah di sebuah Rumah Sakit (RS) di kota Madinah. Namun, keteganganku mendapati istri yang harus menjalani persalinan di tanah rantau dan jauh dari keluarga rupanya belum cukup. Sebab ternyata, istri telah divonis operasi cesar oleh dokter yang menanganinya.
Sekonyong-konyong, seorang petugas langsung menghampiriku dan menyodorkan secarik tagihan berisi beberapa angka.
“Iya, benar! hanya Rp. 17.000.000 dan harus dibayar cash sekarang,” kata petugas itu datar.
Tanpa sadar, bola mataku perlahan mulai mengair. Ya Rabb, darimana uang sebanyak itu? Jangankan tabungan atau celengan, handphone pun adalah barang yang sangat mewah bagiku yang masih berstatus mahasiswa Universitas Islam Madinah (UIM).
“Kami baru bisa bertindak jika biaya administrasi itu sudah lunas,” kata- petugas rumah sakit itu terngiang kembali, layaknya palu godam yang menghantam kepalaku.
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [QS: Al Baqarah: 153]
Penggalan surat yang sudah lama kuhafalkan itu tiba-tiba berkelebat dalam fikiranku. Seolah ada yang menggerakkan, tanpa fikir panjang aku langsung melangkah mengambil air wudhu dan bersimpuh di hadapan-Nya.
Seolah tanpa jarak, saat itu aku benar-benar menumpahkan segala curhatku kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Shalat dan berdoa, itu saja yang kuulang-ulang terus. Entahlah, rupanya beberapa dokter iba melihat perbuatanku. Mereka lalu bersedia membantu proses operasi tanpa perlu dibayar.
“Alhamdulillah, pertolongan Allah mulai terbuka,” demikian batinku dalam diam.
Ibarat pepatah, “Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.” Saat menghadap direktur rumah sakit, para dokter spesialis itu malah langsung kena semprot oleh sang direktur.
“Memangnya ini rumah sakit punya bapak kalian. Semua peralatan dan obat-obat itu harus dibayar? Kalian di sini hanya bekerja menjalankan tugas saja, tidak punya hak untuk membebaskan biaya pasien cecar, “ demikian direktur yang emosi.
Aku hanya diam membisu di belakang. Dalam hati, aku kasihan juga melihat para dokter itu. Mereka kena marah hanya karena ingin membantu urusanku saja.
Entah mengapa, lagi-lagi aku ingin shalat dan mengadu kepada-Nya lagi. Entah mengapa, tiba-tiba hati ini terasa sejuk dalam lautan doa yang terus kupanjatkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Akhirnya, tiba-tiba Allah Subhanahu Wata’ala mempertemukanku dengan salah seorang pengurus rumah sakit.
Uniknya, orang yang baru kukenal itu kaget dan sontak merangkul badanku dengan akrab. Usut punya usut, ternyata ia membaca nama yang tertera di kartu lembaran identitasku, Nashirul Haq al-Bilawi. Rupanya orang itu mengira diriku berasal dari suatu daerah dan semarga dengannya dari dataran Arab, yaitu Alwi atau Alawi. Entah apa karena saya dianggap garis keturunan Alawi dari Hadramaut. Padahal “Bilawi” itu adalah Bilawa, nama sebuah kampung di pelosok Sulawesi Selatan.
Singkat kata, semua biaya operasi ditanggung olehnya. Subhanallah Wallhamdulillah.
Qaddarallahu, ternyata kisah ketegangan di Rumah Sakit Madinah itu rupanya belum tuntas. Pasca operasi cesar dilakukan, sontak sesaat rumah sakit itu langsung heboh. Ternyata ada inspeksi mendadak (sidak) alias razia bagi penduduk kota Madinah yang tak memiliki identitas lengkap.
Ya Rabb, sekali lagi aku hanya bisa berharap dan meminta kepada-Mu. Sebab wanita yang baru saja melahirkan anak pertamaku itu tak punya identitas sama sekali, kecuali ia adalah istriku yang sah.
Sudah maklum bagi pendatang, pasien gelap atau siapa saja yang ketahuan tak punya identitas terancam dipulangkan dengan paksa. Meski bersama bayi merahnya sekalipun.
Subhanallah. Allah Subhanahu Wata’ala tak pernah tidur dan membiarkan hamba-Nya dirundung kesusahan. Allah berkuasa atas segala tipu daya yang ada.
Saat petugas pemeriksa itu datang, mereka hanya melewati istriku yang masih terbaring lemah. Rupanya petugas itu mengira diriku adalah seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) alias pembantu dan istriku disangkanya seorang majikan orang Arab yang sedang kujaga. Allahu Akbar!
*/Roidatun Nahdhah, pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Putri. Kisah nyata ini disampaikan oleh Nashirul Haq dalam sebuah kesempatan majelis taklim, di Gunung Tembak, Balikpapan
Diubah oleh newandipurnomo 01-03-2023 21:53
0
2.3K
10
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•106.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
newandipurnomo
#8
“Durhaka” Berbuah Celaka
“Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah, “ demikian pepatah masyhur yang menunjukkan bagaimana peran ibu pada anak-anaknya.
Hanya saja, teramat sedikit anak yang mengerti dan menghargai ibu mereka. Padahal, dalam al-Quran banyak disebutkan, ridha ibu merupakan ridha Allah dan murka ibu bisa membuat murkan Allah. Setidaknya tercermin dalam kisah ini.
Peristiwa ini terjadi pada naas yang pernah dialami oleh Ali, pemuda asal Madura, pada pertengahan tahun 2005 silam.
Menurut pengakuan laki-laki berperawakan murah senyum ini, peristiwa yang hampir merenggut nyawanya tersebut, bermuara pada keinginannya melanjutkan studi, seusai menamatkan proses pembelajaran Sekolah Menengah Aliyah (SMA), di salah satu pondok pesantren di kota garam tersebut.
Setelah berbagi pikiran dengan salah satu temannya, diambillah keputusan untuk melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi Islam yang terletak di Situbondo, Jawa Timur.
Tak disangka, ketika mengutarakan keinginannya tersebut kepada kedua orangtuanya, ternyata keinginan mereka bertolakbelaka dengan apa yang dikehendaki Ali. Alasannya, selain jauh, dia juga tidak memiliki teman sekampung yang hendak melakukan studi di sana.
”Ndak usah kuliah di sana. Kamu kan gak ada teman dari sini (kampung). Nanti kamu berangkat dan pulang sendirian. Kalau terjadi apa-apa di jalan, bagaimana?” papar Ali, menirukan keberatan ibunya.
Sekalipun telah mendapat sinyal ketidakridhaan orangtuanya, terutama ibu, Ali nampaknya tetap bersikeras untuk melanjutkan misinya. Peringatan-peringatan orangtuanya akan kemudharatan kalau dia bersikukuh kuliah di sana, sama sekali tak digubris. “Anjing menggonggong, kafilah terus berlalu.”
Akhirnya, melihat kengototan si-buah hati yang gak bisa ditawar-tawar, mereka pun dengan berat hati menyetujui keberangkatan Ali.
”Kalau kamu masih bersikeras, ya, terserah kamu,” ujar mereka dengan nada berat, penuh keterpaksaan
Kecelakaan
Tidak lama setelah mendapat ’lampu hijau’ dari orangtua, bersama si-teman, Ali akhirnya berangkat ke daerah perantauan. Perjalanan pertama ini, bertujuan untuk observasi, memastikan akan kebenaran berita, bahwa di pondok yang mereka tuju itu ada perguruan tingginya, atau tidak.
Memang, perburuan mereka akan perguruan tinggi, bisa dibilang sedikit agak liar. Menurut pengakuan Ali, mereka sama sekali buta akan perguruan tinggi tersebut. Anehnya, mereka sudah tergiur untuk kuliah di sana.
Tanda-tana kurang baik mulai cium. Ketika mereka telah menapakkan telapak kaki di lokasi yang mereka tuju. Setelah menggali informasi dari pengurus pesantren, terungkap, bahwa pondok tersebut tidak memiliki perguruan tinggi, sebagaimana informasi yang mereka dapatkan.
”Saya sangat kecewa. Jauh-jauh dari madura ke Situbondo, ternyata hasilnya nihil,” terang Ali.
Karena perburuannya tidak sukses, Ali pun langsung balik kanan, pulang kampung. Namun, perjalanan kali ini, dia harus tempuh sendiri, karena sahabatnya masih ada keperluan yang lain. Dan hal ini lah yang sangat dikhawatirkan oleh kedua orangtuanyai.
Ceritanya, ketika bus yang dikendarai Ali tiba di salah satu terminal di Madura, ia bersiap-siap turun. Tak ada angin, tak ada hujan, ketika kaki kirinya menginjakkan tanah, tiba-tiba dia langsung lunglai, pingsan. Naasnya, kepala bagian belakang, terbentur tortoar, yang mengakibatkan goresan luka tepat pada salah satu sarafnya, yang kemudian menyebabkan Ali berlumuran darah.
Ali langsung tidak berdaya. Sekujur tubuhnya kaku, tak ubahnya sebuah mayat.
”Menurut informasi yang saya peroleh, saat itu tangan saya dalam posisi terlentang. Tidak bisa diubah posisinya, karena kaku. Akhirnya, untuk mengganti pakaianku yan berlumuran darah, pihak medis memotong-motong bajuku,” jelasnya.
Celakanya lagi, saat itu, pria yang memiliki kemampuan bahasa Arab ini, tidak membawa satu pun kartu identitas, sehingga membuat orang-orang di sekitarnya kebingungan untuk menghubungi pihak keluarga.
Sebuah keajaiaban, di tengah kondisi keritisnya, Ali sempat mengucapkan nama pondok almamaternya, sehingga memudahkan para relawan melacak keberadaan keluarganya.
”Sudah pasti itu pertolongan Allah. Dalam kondisi demikian, aku bisa memberitahu nama almamaterku. Dan terus-terang, saya sendiri tidak menyadari akan hal itu,” akunya dengan nada terbata-bata.
Pasca kecelakaan itu, selama empat hari Ali tidak sadarkan diri. Dalam kurun waktu itu, ± delapan infus dan dua oksigen dia habiskan.
Buta, Bisu dan Tuli
Setelah mengalami masa kritis, pada hari kelima, Ali mulai siuman. Sayangnya, kondisi ini, justru membuat Ali semakin terpukul. Bagaimana tidak, ketika awal siuman, dia mendapatkan dirinya tidak mampu melihat, mendengar, dan berbicara. ”Saya sangat terpukul,” tegasnya.
Untunglah, Ali bukan tipe orang yang mudah menyerah dengan keadaan. Seiring dengan berjalannya waktu, kondisi Ali sedikit demi sedikit membaik. Dia sudah mampu memdengar dan melihat. Tapi, untuk berbicara, dia mengalami kesulitan. Banyak lawan bicaranya, termasuk ibu bapaknya sendiri, tidak mengerti dengan apa yang dia katakan.
”Keluar suara, tapi mereka pada tidak mengerti dengan apa yang saya ucapkan,” terangnya.
Selama kurang lebih satu bulan, Ali mengalami kondisi yang demikian. Alhamdulillah, setelah itu kondisinya kembali membaik, normal seperti sediakala, meskipun, kadang kala dia masih merasakan rasa nyeri di kepalanya.
Sedari itu, Ali tidak pernah lagi mengacuhkan perkataan orangtuanya. Peristiwa tersebut, benar-benar dijadikan pelajaran penting bagi kehidupannya.
”Ini adalah teguran Allah yang sangat berharga bagiku. Intinya, jangan pernah kita mendurhakai orangtua. Ingat, ridha Allah itu terletak pada ridha orangtua, dan murka Allah, itu terletak pada murka orangtua,” ujarnya mengingatkan, sembari menyitir salah satu hadits Nabi Muhammad Shalallahu ’alahi Wasallam. Semoga kisah ini bisa dijadikan pelajaran bagi semuanya, ujar Ali mengakhiri ceritanya.*
Cerita ini dikisahkah Ali, pemuda asal guluk-guluk, Madura.
Hanya saja, teramat sedikit anak yang mengerti dan menghargai ibu mereka. Padahal, dalam al-Quran banyak disebutkan, ridha ibu merupakan ridha Allah dan murka ibu bisa membuat murkan Allah. Setidaknya tercermin dalam kisah ini.
Peristiwa ini terjadi pada naas yang pernah dialami oleh Ali, pemuda asal Madura, pada pertengahan tahun 2005 silam.
Menurut pengakuan laki-laki berperawakan murah senyum ini, peristiwa yang hampir merenggut nyawanya tersebut, bermuara pada keinginannya melanjutkan studi, seusai menamatkan proses pembelajaran Sekolah Menengah Aliyah (SMA), di salah satu pondok pesantren di kota garam tersebut.
Setelah berbagi pikiran dengan salah satu temannya, diambillah keputusan untuk melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi Islam yang terletak di Situbondo, Jawa Timur.
Tak disangka, ketika mengutarakan keinginannya tersebut kepada kedua orangtuanya, ternyata keinginan mereka bertolakbelaka dengan apa yang dikehendaki Ali. Alasannya, selain jauh, dia juga tidak memiliki teman sekampung yang hendak melakukan studi di sana.
”Ndak usah kuliah di sana. Kamu kan gak ada teman dari sini (kampung). Nanti kamu berangkat dan pulang sendirian. Kalau terjadi apa-apa di jalan, bagaimana?” papar Ali, menirukan keberatan ibunya.
Sekalipun telah mendapat sinyal ketidakridhaan orangtuanya, terutama ibu, Ali nampaknya tetap bersikeras untuk melanjutkan misinya. Peringatan-peringatan orangtuanya akan kemudharatan kalau dia bersikukuh kuliah di sana, sama sekali tak digubris. “Anjing menggonggong, kafilah terus berlalu.”
Akhirnya, melihat kengototan si-buah hati yang gak bisa ditawar-tawar, mereka pun dengan berat hati menyetujui keberangkatan Ali.
”Kalau kamu masih bersikeras, ya, terserah kamu,” ujar mereka dengan nada berat, penuh keterpaksaan
Kecelakaan
Tidak lama setelah mendapat ’lampu hijau’ dari orangtua, bersama si-teman, Ali akhirnya berangkat ke daerah perantauan. Perjalanan pertama ini, bertujuan untuk observasi, memastikan akan kebenaran berita, bahwa di pondok yang mereka tuju itu ada perguruan tingginya, atau tidak.
Memang, perburuan mereka akan perguruan tinggi, bisa dibilang sedikit agak liar. Menurut pengakuan Ali, mereka sama sekali buta akan perguruan tinggi tersebut. Anehnya, mereka sudah tergiur untuk kuliah di sana.
Tanda-tana kurang baik mulai cium. Ketika mereka telah menapakkan telapak kaki di lokasi yang mereka tuju. Setelah menggali informasi dari pengurus pesantren, terungkap, bahwa pondok tersebut tidak memiliki perguruan tinggi, sebagaimana informasi yang mereka dapatkan.
”Saya sangat kecewa. Jauh-jauh dari madura ke Situbondo, ternyata hasilnya nihil,” terang Ali.
Karena perburuannya tidak sukses, Ali pun langsung balik kanan, pulang kampung. Namun, perjalanan kali ini, dia harus tempuh sendiri, karena sahabatnya masih ada keperluan yang lain. Dan hal ini lah yang sangat dikhawatirkan oleh kedua orangtuanyai.
Ceritanya, ketika bus yang dikendarai Ali tiba di salah satu terminal di Madura, ia bersiap-siap turun. Tak ada angin, tak ada hujan, ketika kaki kirinya menginjakkan tanah, tiba-tiba dia langsung lunglai, pingsan. Naasnya, kepala bagian belakang, terbentur tortoar, yang mengakibatkan goresan luka tepat pada salah satu sarafnya, yang kemudian menyebabkan Ali berlumuran darah.
Ali langsung tidak berdaya. Sekujur tubuhnya kaku, tak ubahnya sebuah mayat.
”Menurut informasi yang saya peroleh, saat itu tangan saya dalam posisi terlentang. Tidak bisa diubah posisinya, karena kaku. Akhirnya, untuk mengganti pakaianku yan berlumuran darah, pihak medis memotong-motong bajuku,” jelasnya.
Celakanya lagi, saat itu, pria yang memiliki kemampuan bahasa Arab ini, tidak membawa satu pun kartu identitas, sehingga membuat orang-orang di sekitarnya kebingungan untuk menghubungi pihak keluarga.
Sebuah keajaiaban, di tengah kondisi keritisnya, Ali sempat mengucapkan nama pondok almamaternya, sehingga memudahkan para relawan melacak keberadaan keluarganya.
”Sudah pasti itu pertolongan Allah. Dalam kondisi demikian, aku bisa memberitahu nama almamaterku. Dan terus-terang, saya sendiri tidak menyadari akan hal itu,” akunya dengan nada terbata-bata.
Pasca kecelakaan itu, selama empat hari Ali tidak sadarkan diri. Dalam kurun waktu itu, ± delapan infus dan dua oksigen dia habiskan.
Buta, Bisu dan Tuli
Setelah mengalami masa kritis, pada hari kelima, Ali mulai siuman. Sayangnya, kondisi ini, justru membuat Ali semakin terpukul. Bagaimana tidak, ketika awal siuman, dia mendapatkan dirinya tidak mampu melihat, mendengar, dan berbicara. ”Saya sangat terpukul,” tegasnya.
Untunglah, Ali bukan tipe orang yang mudah menyerah dengan keadaan. Seiring dengan berjalannya waktu, kondisi Ali sedikit demi sedikit membaik. Dia sudah mampu memdengar dan melihat. Tapi, untuk berbicara, dia mengalami kesulitan. Banyak lawan bicaranya, termasuk ibu bapaknya sendiri, tidak mengerti dengan apa yang dia katakan.
”Keluar suara, tapi mereka pada tidak mengerti dengan apa yang saya ucapkan,” terangnya.
Selama kurang lebih satu bulan, Ali mengalami kondisi yang demikian. Alhamdulillah, setelah itu kondisinya kembali membaik, normal seperti sediakala, meskipun, kadang kala dia masih merasakan rasa nyeri di kepalanya.
Sedari itu, Ali tidak pernah lagi mengacuhkan perkataan orangtuanya. Peristiwa tersebut, benar-benar dijadikan pelajaran penting bagi kehidupannya.
”Ini adalah teguran Allah yang sangat berharga bagiku. Intinya, jangan pernah kita mendurhakai orangtua. Ingat, ridha Allah itu terletak pada ridha orangtua, dan murka Allah, itu terletak pada murka orangtua,” ujarnya mengingatkan, sembari menyitir salah satu hadits Nabi Muhammad Shalallahu ’alahi Wasallam. Semoga kisah ini bisa dijadikan pelajaran bagi semuanya, ujar Ali mengakhiri ceritanya.*
Cerita ini dikisahkah Ali, pemuda asal guluk-guluk, Madura.
0