- Beranda
- Sejarah & Xenology
Saat Megabintang Hollywood Sekaligus Jenderal Terbang Dlm Misi Bomber B-52 Di Vietnam
...
TS
newandipurnomo
Saat Megabintang Hollywood Sekaligus Jenderal Terbang Dlm Misi Bomber B-52 Di Vietnam
Penerbangan sebuah B-52 yang kembali ke Guam dari misi pemboman rahasia Arc Light di Vietnam berjalan lancar sampai mereka memulai pendekatan terakhir mereka, ketika co-pilot berteriak, “Flap-nya terbelah!” Sudah hampir 12 jam sejak Kapten Bob Amos lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Andersen di Guam dalam misi pengeboman B-52 untuk menyerang sasaran di dekat Saigon. Saat dia mengemudikan Stratofortress-nya bersiap untuk mendarat kembali di Andersen, ia terbang melambat hingga kecepatan 220 knot (407 km/jam) dan menurunkan sayapnya, co-pilotnya, Kapten Lee Meyers, berteriak, “Flap-nya terbelah!” Amos lalu memerintahkan Meyers untuk menaikkan sayap saat dia mengoreksi momen bergulir ke kiri, dan kemudian menyatakan keadaan darurat saat dia keluar dari formasi pesawat pengebom dan naik untuk mendapatkan ketinggian.
Penerbangan yang tadinya lancar sekarang menjadi tegang, terlebih lagi karena pria yang duduk di belakang Amos di kursi pilot instruktur. Bayangan tentang berita utama surat kabar yang sensasional mencapai ambang pintu di seluruh Amerika berpacu di kepalanya: “Jimmy Stewart Tewas dalam Kecelakaan pesawat Pengebom dengan Bob Amos sebagai Pilot!”

Pada tahun 1966, Brigadir Jenderal James Stewart secara diam-diam mengikuti misi pemboman B-52 di Vietnam. Stewart sendiri adalah seorang aktor kelas satu di Hollywood. (Sumber: https://www.historynet.com/)
Daftar Isi
Part 1 Penumpang Kejutan
Part 2 Misi Panjang
Part 3 Sukarela Membantu Usaha Perang
Part 4 Kembali Ke Hollywood
Part 5 Mendekat Ke Vietnam
Part 6 Situasi Darurat
Part 7 Kargo Berharga
Part 8 Karir Selanjutnya
Credit
Part 1
PENUMPANG KEJUTAN
Dini hari sebelumnya, tanggal 20 Februari 1966, Kapten Amos membolak-balik jadwal penerbangan untuk persiapan misi yang akan dia dan krunya terbangkan keesokan harinya, dan dia terkejut melihat ada nama “Brigjen Stewart” terdaftar sebagai pilot tambahan untuk terbang bersama mereka. Mengira Stewart ini mungkin dari markas Komando Udara Strategis (SAC) yang datang sebagai pengamat. Awak B-52 muda ini agak ngeri untuk berpikir bahwa ada orang Pentagon yang akan melihat dari balik bahu mereka untuk salah satu misi panjang dan berbahaya ini.
Amos dengan acuh tak acuh bertanya kepada komandan skuadronnya, Letnan Kolonel Collins Mitchell, siapa pengunjung itu. “Kau tahu, Bob, ini Brigadir Jenderal Jimmy Stewart, sang aktor! Dia di sini dalam tur cadangan tugas aktif, dan kami ingin dia terbang dengan kru muda yang akan mengingatkan pada kru Perang Dunia II yang dia perintahkan saat menerbangkan B-24 Liberator keluar dari Inggris, dan untuk melihat bagaimana kami mendukung pasukan di Vietnam.” Amos kemudian tidak sabar untuk menyampaikan kabar tersebut kepada krunya, yakninkru utama yang telah menerbangkan 20 misi tempur di Vietnam Selatan. Bersama Amos di pesawat B-52 yang akan menerbangkan Stewart terdapat juga Capt. Lee Meyers (Co-Pilot), Capt. Irby Terrell (Navigator Radar), Capt. Kenny Rahn (Navigator) dan Tech. Sergeant Demp Johnson (penembak ekor). Dirancang untuk menjadi tulang punggung penangkal nuklir Komando Udara Strategis, B-52 menjalankan dinas Perang Dingin yang vital dengan siap untuk menerbangkan misi serangan bom atom terhadap Uni Soviet, menggunakan serangkaian senjata yang semakin menghancurkan.
Pada tahun 1965, Stratofortresses dikerahkan ke Asia Tenggara, di mana mereka menjadi tulang punggung kampanye pengeboman USAF di Vietnam, Kamboja dan Laos. Komando Udara Strategis sebenarnya enggan mengirimkan armada B-52-nya berpartisipasi dalam perang di Vietnam, tetapi Jenderal William Westmoreland meminta pembom-pembom B-52 untuk menyerang perkubuan Viet Cong (VC) yang terkenal di selatan. Pesawat ini pertama kali menjalani misi tempur di hutan Vietnam selama Operasi Arc Light pada bulan Juni 1965. B-52 pertama yang dikerahkan ke wilayah tersebut adalah model B, tetapi varian pertama yang menjalani misi tempur adalah B-52F yang luar biasa.

Kapten Bob Amos, pilot B-52, dengan kode Green-2. Amos awalnya tidak menyangka akan menjalankan misi pemboman dengan membawa sosok sekaliber Jimmy Stewart. (Sumber: https://www.sofmag.com/)

Foto dokumentasi awak pembom B-52 ketika mendapat perintah darurat. Dirancang untuk menjadi tulang punggung penangkal nuklir Komando Udara Strategis, B-52 menjalankan dinas Perang Dingin yang vital dengan siap untuk menerbangkan misi serangan bom atom terhadap Uni Soviet, menggunakan serangkaian senjata yang semakin menghancurkan. (Sumber: https://theaviationgeekclub.com/)

Aksi pemboman B-52 dalam misi Arc Light di Vietnam. Komando Udara Strategis sebenarnya enggan mengirimkan armada B-52-nya berpartisipasi dalam perang di Vietnam, tetapi Jenderal William Westmoreland meminta pembom-pembom B-52 untuk menyerang perkubuan Viet Cong (VC) yang terkenal di selatan. (Sumber: https://www.8af.af.mil/)
didukung terlalu kuat oleh aktor Hollywood terkenal itu, seperti yang diceritakan oleh Jon Lake dalam bukunya B-52 Stratofortress Units in Combat 1955-73, mengenai pengerahan B-52F dalam perang. Oleh karena itu para kru sangat senang ketika brigadir jenderal unit Cadangan USAF tiba di Andersen AFB sebagai bagian dari tur inspeksi dua minggu, dimana perwira itu tidak lain adalah Jimmy Stewart. Stewart berencana untuk terbang bersama pembom B-52 dengan nomor 57-0149 yang dipiloti oleh Amos. Di sisi lain Amos dan kru-nya berasal dari Skuadron Pembom ke-736, dari Wing Pembom ke-454, di bawah komando Divisi Udara ke-3. Berasal dari Andersen AFB, Guam, maka itu berarti tidak ada misi penerbangan yang pendek—misi umumnya membutuhkan waktu setidaknya lima jam hanya untuk mencapai target mereka.
Namun, keberadaan Stewart dalam misi khusus ini dirahasiakan dari pers dan kru, karena takut jika bocor. Informasi intelijen semacam ini jika bocor akan memungkinkan dilakukannya intersepsi yang sangat terkonsentrasi dan spesifik oleh pihak musuh. Soviet dan Vietnam Utara secara terbuka menawarkan banyak uang hadiah untuk kematian atau penangkapan selebritis Amerika selama perang, yang diharapkan akan menghancurkan moral lawan mereka. Di sisi lain informasi ini dapat membuat gelisah para awak yang tanpa harus ditemani sosok penting seperti Stewart sudah khawatir tentang tembakan anti-pesawat dari pihak musuh. Yang pasti, berita pra-penerbangan akan keberadaan Jimmy Stewart di atas pesawat akan menarik perhatian musuh untuk memberikan sambutan yang mematikan.
Penerbangan yang tadinya lancar sekarang menjadi tegang, terlebih lagi karena pria yang duduk di belakang Amos di kursi pilot instruktur. Bayangan tentang berita utama surat kabar yang sensasional mencapai ambang pintu di seluruh Amerika berpacu di kepalanya: “Jimmy Stewart Tewas dalam Kecelakaan pesawat Pengebom dengan Bob Amos sebagai Pilot!”

Pada tahun 1966, Brigadir Jenderal James Stewart secara diam-diam mengikuti misi pemboman B-52 di Vietnam. Stewart sendiri adalah seorang aktor kelas satu di Hollywood. (Sumber: https://www.historynet.com/)
Daftar Isi
Part 1 Penumpang Kejutan
Part 2 Misi Panjang
Part 3 Sukarela Membantu Usaha Perang
Part 4 Kembali Ke Hollywood
Part 5 Mendekat Ke Vietnam
Part 6 Situasi Darurat
Part 7 Kargo Berharga
Part 8 Karir Selanjutnya
Credit
Part 1
PENUMPANG KEJUTAN
Dini hari sebelumnya, tanggal 20 Februari 1966, Kapten Amos membolak-balik jadwal penerbangan untuk persiapan misi yang akan dia dan krunya terbangkan keesokan harinya, dan dia terkejut melihat ada nama “Brigjen Stewart” terdaftar sebagai pilot tambahan untuk terbang bersama mereka. Mengira Stewart ini mungkin dari markas Komando Udara Strategis (SAC) yang datang sebagai pengamat. Awak B-52 muda ini agak ngeri untuk berpikir bahwa ada orang Pentagon yang akan melihat dari balik bahu mereka untuk salah satu misi panjang dan berbahaya ini.
Amos dengan acuh tak acuh bertanya kepada komandan skuadronnya, Letnan Kolonel Collins Mitchell, siapa pengunjung itu. “Kau tahu, Bob, ini Brigadir Jenderal Jimmy Stewart, sang aktor! Dia di sini dalam tur cadangan tugas aktif, dan kami ingin dia terbang dengan kru muda yang akan mengingatkan pada kru Perang Dunia II yang dia perintahkan saat menerbangkan B-24 Liberator keluar dari Inggris, dan untuk melihat bagaimana kami mendukung pasukan di Vietnam.” Amos kemudian tidak sabar untuk menyampaikan kabar tersebut kepada krunya, yakninkru utama yang telah menerbangkan 20 misi tempur di Vietnam Selatan. Bersama Amos di pesawat B-52 yang akan menerbangkan Stewart terdapat juga Capt. Lee Meyers (Co-Pilot), Capt. Irby Terrell (Navigator Radar), Capt. Kenny Rahn (Navigator) dan Tech. Sergeant Demp Johnson (penembak ekor). Dirancang untuk menjadi tulang punggung penangkal nuklir Komando Udara Strategis, B-52 menjalankan dinas Perang Dingin yang vital dengan siap untuk menerbangkan misi serangan bom atom terhadap Uni Soviet, menggunakan serangkaian senjata yang semakin menghancurkan.
Pada tahun 1965, Stratofortresses dikerahkan ke Asia Tenggara, di mana mereka menjadi tulang punggung kampanye pengeboman USAF di Vietnam, Kamboja dan Laos. Komando Udara Strategis sebenarnya enggan mengirimkan armada B-52-nya berpartisipasi dalam perang di Vietnam, tetapi Jenderal William Westmoreland meminta pembom-pembom B-52 untuk menyerang perkubuan Viet Cong (VC) yang terkenal di selatan. Pesawat ini pertama kali menjalani misi tempur di hutan Vietnam selama Operasi Arc Light pada bulan Juni 1965. B-52 pertama yang dikerahkan ke wilayah tersebut adalah model B, tetapi varian pertama yang menjalani misi tempur adalah B-52F yang luar biasa.

Kapten Bob Amos, pilot B-52, dengan kode Green-2. Amos awalnya tidak menyangka akan menjalankan misi pemboman dengan membawa sosok sekaliber Jimmy Stewart. (Sumber: https://www.sofmag.com/)

Foto dokumentasi awak pembom B-52 ketika mendapat perintah darurat. Dirancang untuk menjadi tulang punggung penangkal nuklir Komando Udara Strategis, B-52 menjalankan dinas Perang Dingin yang vital dengan siap untuk menerbangkan misi serangan bom atom terhadap Uni Soviet, menggunakan serangkaian senjata yang semakin menghancurkan. (Sumber: https://theaviationgeekclub.com/)

Aksi pemboman B-52 dalam misi Arc Light di Vietnam. Komando Udara Strategis sebenarnya enggan mengirimkan armada B-52-nya berpartisipasi dalam perang di Vietnam, tetapi Jenderal William Westmoreland meminta pembom-pembom B-52 untuk menyerang perkubuan Viet Cong (VC) yang terkenal di selatan. (Sumber: https://www.8af.af.mil/)
didukung terlalu kuat oleh aktor Hollywood terkenal itu, seperti yang diceritakan oleh Jon Lake dalam bukunya B-52 Stratofortress Units in Combat 1955-73, mengenai pengerahan B-52F dalam perang. Oleh karena itu para kru sangat senang ketika brigadir jenderal unit Cadangan USAF tiba di Andersen AFB sebagai bagian dari tur inspeksi dua minggu, dimana perwira itu tidak lain adalah Jimmy Stewart. Stewart berencana untuk terbang bersama pembom B-52 dengan nomor 57-0149 yang dipiloti oleh Amos. Di sisi lain Amos dan kru-nya berasal dari Skuadron Pembom ke-736, dari Wing Pembom ke-454, di bawah komando Divisi Udara ke-3. Berasal dari Andersen AFB, Guam, maka itu berarti tidak ada misi penerbangan yang pendek—misi umumnya membutuhkan waktu setidaknya lima jam hanya untuk mencapai target mereka.
Namun, keberadaan Stewart dalam misi khusus ini dirahasiakan dari pers dan kru, karena takut jika bocor. Informasi intelijen semacam ini jika bocor akan memungkinkan dilakukannya intersepsi yang sangat terkonsentrasi dan spesifik oleh pihak musuh. Soviet dan Vietnam Utara secara terbuka menawarkan banyak uang hadiah untuk kematian atau penangkapan selebritis Amerika selama perang, yang diharapkan akan menghancurkan moral lawan mereka. Di sisi lain informasi ini dapat membuat gelisah para awak yang tanpa harus ditemani sosok penting seperti Stewart sudah khawatir tentang tembakan anti-pesawat dari pihak musuh. Yang pasti, berita pra-penerbangan akan keberadaan Jimmy Stewart di atas pesawat akan menarik perhatian musuh untuk memberikan sambutan yang mematikan.
Diubah oleh newandipurnomo 28-02-2023 18:35
0
965
8
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
newandipurnomo
#1
Part 2 Misi Panjang
MISI PANJANG
Ketika Mule (bahasa gaul Angkatan Udara untuk truk) tiba dan Jenderal Stewart melangkah keluar, dia tampak seperti seorang kakek yang dikelilingi oleh cucu-cucunya. Dengan basa-basi diawal, pekerjaan serius yang menanti mulai berjalan dengan teratur. Jenderal Stewart dan komandan Wing Pembom ke-454, Kolonel William Cumiskey, menghadiri pengarahan misi khusus sore itu. Ini akan menjadi misi panjang tanpa henti yang membutuhkan dukungan pesawat tanker. Awak Kapten Amos telah menyiapkan serangkaian peta dan bagan tambahan yang menggambarkan operasi di Vietnam Selatan, dan Amos menguraikan misi, pengisian bahan bakar udara, dan prosedur terbang kembali ke Guam.
Serangan itu akan dilakukan terhadap kubu VC yang dicurigai dan area bivak di barat laut Saigon, di mana potensi ancaman berasal dari pesawat-pesawat tempur MiG-17 yang berbasis di Kamboja (diketahui AU Kerajaan Kamboja memiliki beberapa pesawat tempur MiG, dan meski resminya netral, tetapi Rezim Phnom Penh diketahui memiliki “deal” rahasia dengan Hanoi. Pembom Amos akan dikenal sebagai Green-2 dalam misi formasi pembom yang terdiri dari 30 pesawat dengan kode sandi New Car-1.
Sebelum pergi, Amos meminta kru penembak ekornya, Tech. Sergeant Demp Johnson, pergi ke mess dan membeli telur segar, bacon, roti, dan keju agar mereka bisa mendapatkan orak-arik telur dan bacon bersama dengan sandwich keju panggang dalam penerbangan panjang lima jam kembali ke Guam. Dengan kokpit atas yang besar dan adanya stop kontak di dalam B-52, para kru telah terbiasa menggunakan penggorengan listrik untuk menyiapkan makanan panas untuk melengkapi makan siang standar dalam penerbangan yang disediakan.

Para kru B-52 yang terlibat dalam misi Arc Light di Vietnam. (Sumber: https://www.afgsc.af.mil/)

Awak darat memuat bom seberat 750 pon pada pesawat pembom B-52 di Guam, 2.200 mil dari Vietnam, sebelum melancarkan serangan terhadap target Viet Cong pada tahun 1965 selama Perang Vietnam. Masing-masing B-52 membawa 24 bom di bawah sayapnya dan 27 lainnya di ruang bom internal. (Foto AP/Angkatan Udara AS/https://www.flickr.com/)

Jet tempur MiG-17 AU Kerajaan Kamboja. Sudah sejak tahun 1961, pilot-pilot Khmer yang kembali dari tugas pelatihan sebelumnya di Prancis telah dikirim ke Uni Soviet untuk menjalani pelatihan konversi jet tempur buatan Soviet, dan pada bulan November 1963 Soviet mengirimkan batch awal tiga jet tempur MiG-17F, satu jet latih MiG-15UTI dan satu pesawat latih ringan Yakovlev Yak-18 Max. Meski resminya netral, tetapi Rezim Phnom Penh diketahui memiliki “deal” rahasia dengan Hanoi, sehingga pesawat-pesawat MiG-17 Kamboja dipandang sebagai ancaman yang mungkin dihadapi misi Arc Light, walau kecil peluangnya. (Sumber: https://cne.wtf/)
Sementara itu, Jimmy Stewart diketahui telah mengembangkan kecintaannya pada penerbangan jauh sebelum ia menjadi aktor terkenal. Dia naik pesawat pertamanya dengan biplane Curtiss saat dia masih di sekolah menengah—terbang selama 15 menit dengan ongkos $15 yang dia hemat saat bekerja di sekitar J.M. Stewart Hardware Store milik keluarganya di Pennsylvania. Ketika Charles Lindbergh melakukan penyeberangan laut bersejarah dari New York ke Paris pada tahun 1927, Stewart membuat etalase toko tersebut, lengkap dengan model pesawat Spirit of St. Louis yang ia bangun.

Perang Vietnam
Saat Megabintang Hollywood Sekaligus Jenderal Terbang Dalam Misi Bomber B-52 Di Vietnam
12 September 2022 Victor Sanjaya 0 Comments
Penerbangan sebuah B-52 yang kembali ke Guam dari misi pemboman rahasia Arc Light di Vietnam berjalan lancar sampai mereka memulai pendekatan terakhir mereka, ketika co-pilot berteriak, “Flap-nya terbelah!” Sudah hampir 12 jam sejak Kapten Bob Amos lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Andersen di Guam dalam misi pengeboman B-52 untuk menyerang sasaran di dekat Saigon. Saat dia mengemudikan Stratofortress-nya bersiap untuk mendarat kembali di Andersen, ia terbang melambat hingga kecepatan 220 knot (407 km/jam) dan menurunkan sayapnya, co-pilotnya, Kapten Lee Meyers, berteriak, “Flap-nya terbelah!” Amos lalu memerintahkan Meyers untuk menaikkan sayap saat dia mengoreksi momen bergulir ke kiri, dan kemudian menyatakan keadaan darurat saat dia keluar dari formasi pesawat pengebom dan naik untuk mendapatkan ketinggian. Penerbangan yang tadinya lancar sekarang menjadi tegang, terlebih lagi karena pria yang duduk di belakang Amos di kursi pilot instruktur. Bayangan tentang berita utama surat kabar yang sensasional mencapai ambang pintu di seluruh Amerika berpacu di kepalanya: “Jimmy Stewart Tewas dalam Kecelakaan pesawat Pengebom dengan Bob Amos sebagai Pilot!”
Pada tahun 1966, Brigadir Jenderal James Stewart secara diam-diam mengikuti misi pemboman B-52 di Vietnam. Stewart sendiri adalah seorang aktor kelas satu di Hollywood. (Sumber: https://www.historynet.com/)
PENUMPANG KEJUTAN
Dini hari sebelumnya, tanggal 20 Februari 1966, Kapten Amos membolak-balik jadwal penerbangan untuk persiapan misi yang akan dia dan krunya terbangkan keesokan harinya, dan dia terkejut melihat ada nama “Brigjen Stewart” terdaftar sebagai pilot tambahan untuk terbang bersama mereka. Mengira Stewart ini mungkin dari markas Komando Udara Strategis (SAC) yang datang sebagai pengamat. Awak B-52 muda ini agak ngeri untuk berpikir bahwa ada orang Pentagon yang akan melihat dari balik bahu mereka untuk salah satu misi panjang dan berbahaya ini. Amos dengan acuh tak acuh bertanya kepada komandan skuadronnya, Letnan Kolonel Collins Mitchell, siapa pengunjung itu. “Kau tahu, Bob, ini Brigadir Jenderal Jimmy Stewart, sang aktor! Dia di sini dalam tur cadangan tugas aktif, dan kami ingin dia terbang dengan kru muda yang akan mengingatkan pada kru Perang Dunia II yang dia perintahkan saat menerbangkan B-24 Liberator keluar dari Inggris, dan untuk melihat bagaimana kami mendukung pasukan di Vietnam.” Amos kemudian tidak sabar untuk menyampaikan kabar tersebut kepada krunya, yakninkru utama yang telah menerbangkan 20 misi tempur di Vietnam Selatan. Bersama Amos di pesawat B-52 yang akan menerbangkan Stewart terdapat juga Capt. Lee Meyers (Co-Pilot), Capt. Irby Terrell (Navigator Radar), Capt. Kenny Rahn (Navigator) dan Tech. Sergeant Demp Johnson (penembak ekor). Dirancang untuk menjadi tulang punggung penangkal nuklir Komando Udara Strategis, B-52 menjalankan dinas Perang Dingin yang vital dengan siap untuk menerbangkan misi serangan bom atom terhadap Uni Soviet, menggunakan serangkaian senjata yang semakin menghancurkan. Pada tahun 1965, Stratofortresses dikerahkan ke Asia Tenggara, di mana mereka menjadi tulang punggung kampanye pengeboman USAF di Vietnam, Kamboja dan Laos. Komando Udara Strategis sebenarnya enggan mengirimkan armada B-52-nya berpartisipasi dalam perang di Vietnam, tetapi Jenderal William Westmoreland meminta pembom-pembom B-52 untuk menyerang perkubuan Viet Cong (VC) yang terkenal di selatan. Pesawat ini pertama kali menjalani misi tempur di hutan Vietnam selama Operasi Arc Light pada bulan Juni 1965. B-52 pertama yang dikerahkan ke wilayah tersebut adalah model B, tetapi varian pertama yang menjalani misi tempur adalah B-52F yang luar biasa.
Kapten Bob Amos, pilot B-52, dengan kode Green-2. Amos awalnya tidak menyangka akan menjalankan misi pemboman dengan membawa sosok sekaliber Jimmy Stewart. (Sumber: https://www.sofmag.com/)
Foto dokumentasi awak pembom B-52 ketika mendapat perintah darurat. Dirancang untuk menjadi tulang punggung penangkal nuklir Komando Udara Strategis, B-52 menjalankan dinas Perang Dingin yang vital dengan siap untuk menerbangkan misi serangan bom atom terhadap Uni Soviet, menggunakan serangkaian senjata yang semakin menghancurkan. (Sumber: https://theaviationgeekclub.com/)
Aksi pemboman B-52 dalam misi Arc Light di Vietnam. Komando Udara Strategis sebenarnya enggan mengirimkan armada B-52-nya berpartisipasi dalam perang di Vietnam, tetapi Jenderal William Westmoreland meminta pembom-pembom B-52 untuk menyerang perkubuan Viet Cong (VC) yang terkenal di selatan. (Sumber: https://www.8af.af.mil/)
Bahkan pada tahun 1966, perang di Vietnam masih terus diperdebatkan, dan nampaknya bukan sesuatu yang layak didukung terlalu kuat oleh aktor Hollywood terkenal itu, seperti yang diceritakan oleh Jon Lake dalam bukunya B-52 Stratofortress Units in Combat 1955-73, mengenai pengerahan B-52F dalam perang. Oleh karena itu para kru sangat senang ketika brigadir jenderal unit Cadangan USAF tiba di Andersen AFB sebagai bagian dari tur inspeksi dua minggu, dimana perwira itu tidak lain adalah Jimmy Stewart. Stewart berencana untuk terbang bersama pembom B-52 dengan nomor 57-0149 yang dipiloti oleh Amos. Di sisi lain Amos dan kru-nya berasal dari Skuadron Pembom ke-736, dari Wing Pembom ke-454, di bawah komando Divisi Udara ke-3. Berasal dari Andersen AFB, Guam, maka itu berarti tidak ada misi penerbangan yang pendek—misi umumnya membutuhkan waktu setidaknya lima jam hanya untuk mencapai target mereka. Namun, keberadaan Stewart dalam misi khusus ini dirahasiakan dari pers dan kru, karena takut jika bocor. Informasi intelijen semacam ini jika bocor akan memungkinkan dilakukannya intersepsi yang sangat terkonsentrasi dan spesifik oleh pihak musuh. Soviet dan Vietnam Utara secara terbuka menawarkan banyak uang hadiah untuk kematian atau penangkapan selebritis Amerika selama perang, yang diharapkan akan menghancurkan moral lawan mereka. Di sisi lain informasi ini dapat membuat gelisah para awak yang tanpa harus ditemani sosok penting seperti Stewart sudah khawatir tentang tembakan anti-pesawat dari pihak musuh. Yang pasti, berita pra-penerbangan akan keberadaan Jimmy Stewart di atas pesawat akan menarik perhatian musuh untuk memberikan sambutan yang mematikan.
MISI PANJANG
Ketika Mule (bahasa gaul Angkatan Udara untuk truk) tiba dan Jenderal Stewart melangkah keluar, dia tampak seperti seorang kakek yang dikelilingi oleh cucu-cucunya. Dengan basa-basi diawal, pekerjaan serius yang menanti mulai berjalan dengan teratur. Jenderal Stewart dan komandan Wing Pembom ke-454, Kolonel William Cumiskey, menghadiri pengarahan misi khusus sore itu. Ini akan menjadi misi panjang tanpa henti yang membutuhkan dukungan pesawat tanker. Awak Kapten Amos telah menyiapkan serangkaian peta dan bagan tambahan yang menggambarkan operasi di Vietnam Selatan, dan Amos menguraikan misi, pengisian bahan bakar udara, dan prosedur terbang kembali ke Guam. Serangan itu akan dilakukan terhadap kubu VC yang dicurigai dan area bivak di barat laut Saigon, di mana potensi ancaman berasal dari pesawat-pesawat tempur MiG-17 yang berbasis di Kamboja (diketahui AU Kerajaan Kamboja memiliki beberapa pesawat tempur MiG, dan meski resminya netral, tetapi Rezim Phnom Penh diketahui memiliki “deal” rahasia dengan Hanoi. Pembom Amos akan dikenal sebagai Green-2 dalam misi formasi pembom yang terdiri dari 30 pesawat dengan kode sandi New Car-1. Sebelum pergi, Amos meminta kru penembak ekornya, Tech. Sergeant Demp Johnson, pergi ke mess dan membeli telur segar, bacon, roti, dan keju agar mereka bisa mendapatkan orak-arik telur dan bacon bersama dengan sandwich keju panggang dalam penerbangan panjang lima jam kembali ke Guam. Dengan kokpit atas yang besar dan adanya stop kontak di dalam B-52, para kru telah terbiasa menggunakan penggorengan listrik untuk menyiapkan makanan panas untuk melengkapi makan siang standar dalam penerbangan yang disediakan.
Para kru B-52 yang terlibat dalam misi Arc Light di Vietnam. (Sumber: https://www.afgsc.af.mil/)
Awak darat memuat bom seberat 750 pon pada pesawat pembom B-52 di Guam, 2.200 mil dari Vietnam, sebelum melancarkan serangan terhadap target Viet Cong pada tahun 1965 selama Perang Vietnam. Masing-masing B-52 membawa 24 bom di bawah sayapnya dan 27 lainnya di ruang bom internal. (Foto AP/Angkatan Udara AS/https://www.flickr.com/)
Jet tempur MiG-17 AU Kerajaan Kamboja. Sudah sejak tahun 1961, pilot-pilot Khmer yang kembali dari tugas pelatihan sebelumnya di Prancis telah dikirim ke Uni Soviet untuk menjalani pelatihan konversi jet tempur buatan Soviet, dan pada bulan November 1963 Soviet mengirimkan batch awal tiga jet tempur MiG-17F, satu jet latih MiG-15UTI dan satu pesawat latih ringan Yakovlev Yak-18 Max. Meski resminya netral, tetapi Rezim Phnom Penh diketahui memiliki “deal” rahasia dengan Hanoi, sehingga pesawat-pesawat MiG-17 Kamboja dipandang sebagai ancaman yang mungkin dihadapi misi Arc Light, walau kecil peluangnya. (Sumber: https://cne.wtf/)
Sementara itu, Jimmy Stewart diketahui telah mengembangkan kecintaannya pada penerbangan jauh sebelum ia menjadi aktor terkenal. Dia naik pesawat pertamanya dengan biplane Curtiss saat dia masih di sekolah menengah—terbang selama 15 menit dengan ongkos $15 yang dia hemat saat bekerja di sekitar J.M. Stewart Hardware Store milik keluarganya di Pennsylvania. Ketika Charles Lindbergh melakukan penyeberangan laut bersejarah dari New York ke Paris pada tahun 1927, Stewart membuat etalase toko tersebut, lengkap dengan model pesawat Spirit of St. Louis yang ia bangun. Stewart yang berusia 19 tahun akan berlomba menyeberang jalan ke kantor surat kabar untuk mendapatkan informasi terbaru tentang kemajuan penerbangan Lindbergh dari teletype, lalu kembali ke jendela toko untuk memindahkan model pesawat lebih dekat ke Menara Eiffel yang telah ia buat. Setelah lulus dari Universitas Princeton, Stewart lulus tes akting di New York pada tahun 1935, dan pindah ke Hollywood di bawah kontrak dengan MGM
Keberhasilannya ini memungkinkan dia untuk memenuhi impian seumur hidupnya untuk terbang, dan dia menerima lisensi pilot pribadinya pada tahun yang sama, diikuti dengan Sertifikat Pilot Komersial pada tahun 1938. Dia memiliki pesawat Stinson 105 dua tempat duduk dan sering terbang lintas negara bagian Amerika untuk mengunjungi orang tuanya di Pennsylvania. Peran utamanya dalam film Mr. Smith Goes to Washington membuat Stewart menjadi megabintang pada tahun 1939, tahun yang sama ketika pasukan Adolf Hitler menyerbu Polandia.

James Stewart dengan kostum berdiri di depan pesawat untuk potret publisitas yang diterbitkan untuk film, ‘The Spirit of St Louis‘, 1957. Film biografi, yang disutradarai oleh Billy Wilder, dibintangi Stewart sebagai ‘Charles Lindbergh’. Kecintaan Stewart terhadap dunia dirgantara telah dimulai jauh hari sebelum ia menjadi aktor terkenal. (Sumber: Photo by Silver Screen Collection/Getty Images/https://www.imdb.com/)

Film Mr. Smith Goes to Washington, yang membuat Stewart menjadi megabintang pada tahun 1939. Pada tahun yang sama pasukan Adolf Hitler menyerbu Polandia, yang memicu pecahnya Perang Dunia II. (Sumber: https://www.primevideo.com/)
MISI PANJANG
Ketika Mule (bahasa gaul Angkatan Udara untuk truk) tiba dan Jenderal Stewart melangkah keluar, dia tampak seperti seorang kakek yang dikelilingi oleh cucu-cucunya. Dengan basa-basi diawal, pekerjaan serius yang menanti mulai berjalan dengan teratur. Jenderal Stewart dan komandan Wing Pembom ke-454, Kolonel William Cumiskey, menghadiri pengarahan misi khusus sore itu. Ini akan menjadi misi panjang tanpa henti yang membutuhkan dukungan pesawat tanker. Awak Kapten Amos telah menyiapkan serangkaian peta dan bagan tambahan yang menggambarkan operasi di Vietnam Selatan, dan Amos menguraikan misi, pengisian bahan bakar udara, dan prosedur terbang kembali ke Guam.
Serangan itu akan dilakukan terhadap kubu VC yang dicurigai dan area bivak di barat laut Saigon, di mana potensi ancaman berasal dari pesawat-pesawat tempur MiG-17 yang berbasis di Kamboja (diketahui AU Kerajaan Kamboja memiliki beberapa pesawat tempur MiG, dan meski resminya netral, tetapi Rezim Phnom Penh diketahui memiliki “deal” rahasia dengan Hanoi. Pembom Amos akan dikenal sebagai Green-2 dalam misi formasi pembom yang terdiri dari 30 pesawat dengan kode sandi New Car-1.
Sebelum pergi, Amos meminta kru penembak ekornya, Tech. Sergeant Demp Johnson, pergi ke mess dan membeli telur segar, bacon, roti, dan keju agar mereka bisa mendapatkan orak-arik telur dan bacon bersama dengan sandwich keju panggang dalam penerbangan panjang lima jam kembali ke Guam. Dengan kokpit atas yang besar dan adanya stop kontak di dalam B-52, para kru telah terbiasa menggunakan penggorengan listrik untuk menyiapkan makanan panas untuk melengkapi makan siang standar dalam penerbangan yang disediakan.

Para kru B-52 yang terlibat dalam misi Arc Light di Vietnam. (Sumber: https://www.afgsc.af.mil/)

Awak darat memuat bom seberat 750 pon pada pesawat pembom B-52 di Guam, 2.200 mil dari Vietnam, sebelum melancarkan serangan terhadap target Viet Cong pada tahun 1965 selama Perang Vietnam. Masing-masing B-52 membawa 24 bom di bawah sayapnya dan 27 lainnya di ruang bom internal. (Foto AP/Angkatan Udara AS/https://www.flickr.com/)

Jet tempur MiG-17 AU Kerajaan Kamboja. Sudah sejak tahun 1961, pilot-pilot Khmer yang kembali dari tugas pelatihan sebelumnya di Prancis telah dikirim ke Uni Soviet untuk menjalani pelatihan konversi jet tempur buatan Soviet, dan pada bulan November 1963 Soviet mengirimkan batch awal tiga jet tempur MiG-17F, satu jet latih MiG-15UTI dan satu pesawat latih ringan Yakovlev Yak-18 Max. Meski resminya netral, tetapi Rezim Phnom Penh diketahui memiliki “deal” rahasia dengan Hanoi, sehingga pesawat-pesawat MiG-17 Kamboja dipandang sebagai ancaman yang mungkin dihadapi misi Arc Light, walau kecil peluangnya. (Sumber: https://cne.wtf/)
Sementara itu, Jimmy Stewart diketahui telah mengembangkan kecintaannya pada penerbangan jauh sebelum ia menjadi aktor terkenal. Dia naik pesawat pertamanya dengan biplane Curtiss saat dia masih di sekolah menengah—terbang selama 15 menit dengan ongkos $15 yang dia hemat saat bekerja di sekitar J.M. Stewart Hardware Store milik keluarganya di Pennsylvania. Ketika Charles Lindbergh melakukan penyeberangan laut bersejarah dari New York ke Paris pada tahun 1927, Stewart membuat etalase toko tersebut, lengkap dengan model pesawat Spirit of St. Louis yang ia bangun.

Perang Vietnam
Saat Megabintang Hollywood Sekaligus Jenderal Terbang Dalam Misi Bomber B-52 Di Vietnam
12 September 2022 Victor Sanjaya 0 Comments
Penerbangan sebuah B-52 yang kembali ke Guam dari misi pemboman rahasia Arc Light di Vietnam berjalan lancar sampai mereka memulai pendekatan terakhir mereka, ketika co-pilot berteriak, “Flap-nya terbelah!” Sudah hampir 12 jam sejak Kapten Bob Amos lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Andersen di Guam dalam misi pengeboman B-52 untuk menyerang sasaran di dekat Saigon. Saat dia mengemudikan Stratofortress-nya bersiap untuk mendarat kembali di Andersen, ia terbang melambat hingga kecepatan 220 knot (407 km/jam) dan menurunkan sayapnya, co-pilotnya, Kapten Lee Meyers, berteriak, “Flap-nya terbelah!” Amos lalu memerintahkan Meyers untuk menaikkan sayap saat dia mengoreksi momen bergulir ke kiri, dan kemudian menyatakan keadaan darurat saat dia keluar dari formasi pesawat pengebom dan naik untuk mendapatkan ketinggian. Penerbangan yang tadinya lancar sekarang menjadi tegang, terlebih lagi karena pria yang duduk di belakang Amos di kursi pilot instruktur. Bayangan tentang berita utama surat kabar yang sensasional mencapai ambang pintu di seluruh Amerika berpacu di kepalanya: “Jimmy Stewart Tewas dalam Kecelakaan pesawat Pengebom dengan Bob Amos sebagai Pilot!”
Pada tahun 1966, Brigadir Jenderal James Stewart secara diam-diam mengikuti misi pemboman B-52 di Vietnam. Stewart sendiri adalah seorang aktor kelas satu di Hollywood. (Sumber: https://www.historynet.com/)
PENUMPANG KEJUTAN
Dini hari sebelumnya, tanggal 20 Februari 1966, Kapten Amos membolak-balik jadwal penerbangan untuk persiapan misi yang akan dia dan krunya terbangkan keesokan harinya, dan dia terkejut melihat ada nama “Brigjen Stewart” terdaftar sebagai pilot tambahan untuk terbang bersama mereka. Mengira Stewart ini mungkin dari markas Komando Udara Strategis (SAC) yang datang sebagai pengamat. Awak B-52 muda ini agak ngeri untuk berpikir bahwa ada orang Pentagon yang akan melihat dari balik bahu mereka untuk salah satu misi panjang dan berbahaya ini. Amos dengan acuh tak acuh bertanya kepada komandan skuadronnya, Letnan Kolonel Collins Mitchell, siapa pengunjung itu. “Kau tahu, Bob, ini Brigadir Jenderal Jimmy Stewart, sang aktor! Dia di sini dalam tur cadangan tugas aktif, dan kami ingin dia terbang dengan kru muda yang akan mengingatkan pada kru Perang Dunia II yang dia perintahkan saat menerbangkan B-24 Liberator keluar dari Inggris, dan untuk melihat bagaimana kami mendukung pasukan di Vietnam.” Amos kemudian tidak sabar untuk menyampaikan kabar tersebut kepada krunya, yakninkru utama yang telah menerbangkan 20 misi tempur di Vietnam Selatan. Bersama Amos di pesawat B-52 yang akan menerbangkan Stewart terdapat juga Capt. Lee Meyers (Co-Pilot), Capt. Irby Terrell (Navigator Radar), Capt. Kenny Rahn (Navigator) dan Tech. Sergeant Demp Johnson (penembak ekor). Dirancang untuk menjadi tulang punggung penangkal nuklir Komando Udara Strategis, B-52 menjalankan dinas Perang Dingin yang vital dengan siap untuk menerbangkan misi serangan bom atom terhadap Uni Soviet, menggunakan serangkaian senjata yang semakin menghancurkan. Pada tahun 1965, Stratofortresses dikerahkan ke Asia Tenggara, di mana mereka menjadi tulang punggung kampanye pengeboman USAF di Vietnam, Kamboja dan Laos. Komando Udara Strategis sebenarnya enggan mengirimkan armada B-52-nya berpartisipasi dalam perang di Vietnam, tetapi Jenderal William Westmoreland meminta pembom-pembom B-52 untuk menyerang perkubuan Viet Cong (VC) yang terkenal di selatan. Pesawat ini pertama kali menjalani misi tempur di hutan Vietnam selama Operasi Arc Light pada bulan Juni 1965. B-52 pertama yang dikerahkan ke wilayah tersebut adalah model B, tetapi varian pertama yang menjalani misi tempur adalah B-52F yang luar biasa.
Kapten Bob Amos, pilot B-52, dengan kode Green-2. Amos awalnya tidak menyangka akan menjalankan misi pemboman dengan membawa sosok sekaliber Jimmy Stewart. (Sumber: https://www.sofmag.com/)
Foto dokumentasi awak pembom B-52 ketika mendapat perintah darurat. Dirancang untuk menjadi tulang punggung penangkal nuklir Komando Udara Strategis, B-52 menjalankan dinas Perang Dingin yang vital dengan siap untuk menerbangkan misi serangan bom atom terhadap Uni Soviet, menggunakan serangkaian senjata yang semakin menghancurkan. (Sumber: https://theaviationgeekclub.com/)
Aksi pemboman B-52 dalam misi Arc Light di Vietnam. Komando Udara Strategis sebenarnya enggan mengirimkan armada B-52-nya berpartisipasi dalam perang di Vietnam, tetapi Jenderal William Westmoreland meminta pembom-pembom B-52 untuk menyerang perkubuan Viet Cong (VC) yang terkenal di selatan. (Sumber: https://www.8af.af.mil/)
Bahkan pada tahun 1966, perang di Vietnam masih terus diperdebatkan, dan nampaknya bukan sesuatu yang layak didukung terlalu kuat oleh aktor Hollywood terkenal itu, seperti yang diceritakan oleh Jon Lake dalam bukunya B-52 Stratofortress Units in Combat 1955-73, mengenai pengerahan B-52F dalam perang. Oleh karena itu para kru sangat senang ketika brigadir jenderal unit Cadangan USAF tiba di Andersen AFB sebagai bagian dari tur inspeksi dua minggu, dimana perwira itu tidak lain adalah Jimmy Stewart. Stewart berencana untuk terbang bersama pembom B-52 dengan nomor 57-0149 yang dipiloti oleh Amos. Di sisi lain Amos dan kru-nya berasal dari Skuadron Pembom ke-736, dari Wing Pembom ke-454, di bawah komando Divisi Udara ke-3. Berasal dari Andersen AFB, Guam, maka itu berarti tidak ada misi penerbangan yang pendek—misi umumnya membutuhkan waktu setidaknya lima jam hanya untuk mencapai target mereka. Namun, keberadaan Stewart dalam misi khusus ini dirahasiakan dari pers dan kru, karena takut jika bocor. Informasi intelijen semacam ini jika bocor akan memungkinkan dilakukannya intersepsi yang sangat terkonsentrasi dan spesifik oleh pihak musuh. Soviet dan Vietnam Utara secara terbuka menawarkan banyak uang hadiah untuk kematian atau penangkapan selebritis Amerika selama perang, yang diharapkan akan menghancurkan moral lawan mereka. Di sisi lain informasi ini dapat membuat gelisah para awak yang tanpa harus ditemani sosok penting seperti Stewart sudah khawatir tentang tembakan anti-pesawat dari pihak musuh. Yang pasti, berita pra-penerbangan akan keberadaan Jimmy Stewart di atas pesawat akan menarik perhatian musuh untuk memberikan sambutan yang mematikan.
MISI PANJANG
Ketika Mule (bahasa gaul Angkatan Udara untuk truk) tiba dan Jenderal Stewart melangkah keluar, dia tampak seperti seorang kakek yang dikelilingi oleh cucu-cucunya. Dengan basa-basi diawal, pekerjaan serius yang menanti mulai berjalan dengan teratur. Jenderal Stewart dan komandan Wing Pembom ke-454, Kolonel William Cumiskey, menghadiri pengarahan misi khusus sore itu. Ini akan menjadi misi panjang tanpa henti yang membutuhkan dukungan pesawat tanker. Awak Kapten Amos telah menyiapkan serangkaian peta dan bagan tambahan yang menggambarkan operasi di Vietnam Selatan, dan Amos menguraikan misi, pengisian bahan bakar udara, dan prosedur terbang kembali ke Guam. Serangan itu akan dilakukan terhadap kubu VC yang dicurigai dan area bivak di barat laut Saigon, di mana potensi ancaman berasal dari pesawat-pesawat tempur MiG-17 yang berbasis di Kamboja (diketahui AU Kerajaan Kamboja memiliki beberapa pesawat tempur MiG, dan meski resminya netral, tetapi Rezim Phnom Penh diketahui memiliki “deal” rahasia dengan Hanoi. Pembom Amos akan dikenal sebagai Green-2 dalam misi formasi pembom yang terdiri dari 30 pesawat dengan kode sandi New Car-1. Sebelum pergi, Amos meminta kru penembak ekornya, Tech. Sergeant Demp Johnson, pergi ke mess dan membeli telur segar, bacon, roti, dan keju agar mereka bisa mendapatkan orak-arik telur dan bacon bersama dengan sandwich keju panggang dalam penerbangan panjang lima jam kembali ke Guam. Dengan kokpit atas yang besar dan adanya stop kontak di dalam B-52, para kru telah terbiasa menggunakan penggorengan listrik untuk menyiapkan makanan panas untuk melengkapi makan siang standar dalam penerbangan yang disediakan.
Para kru B-52 yang terlibat dalam misi Arc Light di Vietnam. (Sumber: https://www.afgsc.af.mil/)
Awak darat memuat bom seberat 750 pon pada pesawat pembom B-52 di Guam, 2.200 mil dari Vietnam, sebelum melancarkan serangan terhadap target Viet Cong pada tahun 1965 selama Perang Vietnam. Masing-masing B-52 membawa 24 bom di bawah sayapnya dan 27 lainnya di ruang bom internal. (Foto AP/Angkatan Udara AS/https://www.flickr.com/)
Jet tempur MiG-17 AU Kerajaan Kamboja. Sudah sejak tahun 1961, pilot-pilot Khmer yang kembali dari tugas pelatihan sebelumnya di Prancis telah dikirim ke Uni Soviet untuk menjalani pelatihan konversi jet tempur buatan Soviet, dan pada bulan November 1963 Soviet mengirimkan batch awal tiga jet tempur MiG-17F, satu jet latih MiG-15UTI dan satu pesawat latih ringan Yakovlev Yak-18 Max. Meski resminya netral, tetapi Rezim Phnom Penh diketahui memiliki “deal” rahasia dengan Hanoi, sehingga pesawat-pesawat MiG-17 Kamboja dipandang sebagai ancaman yang mungkin dihadapi misi Arc Light, walau kecil peluangnya. (Sumber: https://cne.wtf/)
Sementara itu, Jimmy Stewart diketahui telah mengembangkan kecintaannya pada penerbangan jauh sebelum ia menjadi aktor terkenal. Dia naik pesawat pertamanya dengan biplane Curtiss saat dia masih di sekolah menengah—terbang selama 15 menit dengan ongkos $15 yang dia hemat saat bekerja di sekitar J.M. Stewart Hardware Store milik keluarganya di Pennsylvania. Ketika Charles Lindbergh melakukan penyeberangan laut bersejarah dari New York ke Paris pada tahun 1927, Stewart membuat etalase toko tersebut, lengkap dengan model pesawat Spirit of St. Louis yang ia bangun. Stewart yang berusia 19 tahun akan berlomba menyeberang jalan ke kantor surat kabar untuk mendapatkan informasi terbaru tentang kemajuan penerbangan Lindbergh dari teletype, lalu kembali ke jendela toko untuk memindahkan model pesawat lebih dekat ke Menara Eiffel yang telah ia buat. Setelah lulus dari Universitas Princeton, Stewart lulus tes akting di New York pada tahun 1935, dan pindah ke Hollywood di bawah kontrak dengan MGM
Keberhasilannya ini memungkinkan dia untuk memenuhi impian seumur hidupnya untuk terbang, dan dia menerima lisensi pilot pribadinya pada tahun yang sama, diikuti dengan Sertifikat Pilot Komersial pada tahun 1938. Dia memiliki pesawat Stinson 105 dua tempat duduk dan sering terbang lintas negara bagian Amerika untuk mengunjungi orang tuanya di Pennsylvania. Peran utamanya dalam film Mr. Smith Goes to Washington membuat Stewart menjadi megabintang pada tahun 1939, tahun yang sama ketika pasukan Adolf Hitler menyerbu Polandia.

James Stewart dengan kostum berdiri di depan pesawat untuk potret publisitas yang diterbitkan untuk film, ‘The Spirit of St Louis‘, 1957. Film biografi, yang disutradarai oleh Billy Wilder, dibintangi Stewart sebagai ‘Charles Lindbergh’. Kecintaan Stewart terhadap dunia dirgantara telah dimulai jauh hari sebelum ia menjadi aktor terkenal. (Sumber: Photo by Silver Screen Collection/Getty Images/https://www.imdb.com/)

Film Mr. Smith Goes to Washington, yang membuat Stewart menjadi megabintang pada tahun 1939. Pada tahun yang sama pasukan Adolf Hitler menyerbu Polandia, yang memicu pecahnya Perang Dunia II. (Sumber: https://www.primevideo.com/)
0