- Beranda
- Stories from the Heart
Teman Sejati
...
TS
aranea
Teman Sejati
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Selamat datang di thread sederhana ini. Apakabar kalian semua? Semoga temen-temen semua dalam keadaan baik baik saja, sehat, dan teman-teman semua dalam keadaan bahagia dimanapun teman-teman berada.
Oke mang.
Oke mang.
Disini saya mencoba menuliskan sebuah cerita yang terjadi beberapa tahun lalu yang sebelumnya sudah saya tulis, namun tidak pernah saya publikasikan. Tapi semoga dengan menulis disini bisa membantu saya juga dalam mengembangkan potensi saya dalam menulis.
Cerita ini akan memiliki dua POV, yang dimana, update keduanya insyaAllah akan selalu berbarengan sedikit demi sedikit. Saya berharap selain bisa mengembangkan potensi menulis saya, apapun yang saya tulis bisa dipetik hal baiknya dan dibuang hal buruknya. Dan semoga bisa menghibur para reader budiman disini.
- Selamat Membaca -
INDEX
- Selamat Membaca -
INDEX
Fajar Adi Prabowo
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Azzahra Nafeeza Fatharani
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Diubah oleh aranea 04-06-2023 12:26
percyjackson321 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
4.3K
65
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aranea
#22
Part 9
Azzahra Nafeeza Fatharani
Aku berada dibarisan tengah bersama Fitri, sementara mas Fajar berada di paling belakang. Ini merupakan pendakian pertamaku. Sejauh ini, rasanya begitu menyenangkan. Sedikit lelah, tapi kondisiku masih sangat fit untuk melakukan pendakian. Sekitar jam setengah 12 siang, kami tiba di pos 1 untuk beristirahat. Aku duduk disamping Fitri yang juga ikut beristirahat
“Minum dulu aja” kata Fitri
“Iya nih, cukup bikin haus” ucapku
“Cape?” tanya mas Fajar menghampiri kami
“Lumayan kak, belum pernah ngedaki hehe” kata Fitri
“Ga terlalu kok mas” jawabku
“Kalau udah ga kuat bilang ya, jangan dipaksain” kata mas Fajar
“Iya iya” jawabku dan Fitri
Adzan dzuhur berkumandang dari arah bawah. Kami semua memutuskan untuk melaksanakan shalat dzuhur berjamaah. Setelah shalat, kami hendak kembali melanjutkan perjalanan menuju pos selanjutnya. Namun dari tempatku, aku melihat mas Fajar tengah berbicara dengan dua orang pendaki
“Itu siapa?” tanyaku pada Fitri
“Gatau kak” jawab Fitri
“Temen mas Fajar?” tanyaku
“Emm kayanya bukan deh, aku ga pernah liat mereka sebelumnya” kata Fitri
“Kenalan baru mungkin ya” ucapku
Ternyata kedua pendaki tadi ikut bersama rombongan kami. Sekitar setengah jam kami tiba di pos selanjutnya. Aku menghampiri mas Fajar untuk melihat kondisinya. Mas Fajar juga sepertinya sudah terlihat kelelahan. Aku dan Fitri menghampiri mas Fajar
“Ini siapa mas?” tanyaku
“Ini, pendaki dari Bandung” kata mas Fajar
Kemudian mas Fajar memperkenalkan kami. Kedua pendaki itu bernama Julian dan Diana.
“Kalian adik kakak?” tanyaku
“Bukan teh, kami sahabatan. Kami kesini lagi cari temen kami yang mendaki sendirian kesini” kata Diana
“Awalnya saya udah peringatin dia biar ga mendaki sendiri, tapi entah kenapa dia senekat ini” kata Julian
“Iya, kami hanya khawatir, karena kami sudah bersahabat sejak masuk kuliah dulu” kata Diana
Mendengar itu membuatku tersenyum. Membuatku kembali teringat pada seseorang yang kini tiada kabar. Ah, sudahlah. Kami beristirahat di pos 3 untuk melaksanakan shalat dzuhur dan melanjutkan perjalanan menuju pos 4. Pada jam lima sore, kami tiba di pos 4. Rombongan kami memutuskan untuk beristirahat panjang hingga waktu magrib tiba dan melanjutkan perjalanan setelah shalat magrib. Rombonganku berpisah dengan kedua pendaki tadi ketika di pos 3,
Persediaan makanan dibuka. Para wanita bertugas untuk mengolah bahan makanan, sementara para pria yang melakukan tugas berat. Saat aku hendak menyiapkan makanan untuk mas Fajar, aku melihatnya sedang berjalan menjauh dari tempat berkumpul kami.
“Mau kemana mas?” tanyaku sambil menahan tangannya
“Mau ajak orang itu” katanya sambil menunjuk
Tapi saat itu, aku tidak melihat siapapun diarah yang mas Fajar tunjukkan
“Siapa mas?” tanyaku
“Engga, gapapa, kayanya dia lanjut pergi deh” ucap mas Fajar
“Oh yaudah, aku ambilin makannya ya” ucapku
Sepertinya melihat sunset dari puncak akan menjadi keindahan yang luar biasa. Tapi apa daya kami masih cukup jauh untuk sampai ke puncak. Angin berhembus sedikit kencang membuatku harus memegang cadarku agar tidak terbuka. Tiba-tiba suara teriakan seseorang terdengar ditelingaku, dan sontak membuat semua orang melihat kearah sumber suara. Suara itu . . mas Fajar?
“Itu suara kakak kan?” tanya Fitri
“Iya” ucapku panik
Aku dan Fitri diikuti rombongan menghampiri suara itu. Mas Fajar terlihat sedang bersama seorang laki-laki, sepertinya mas Fajar juga berusaha menenangkan orang itu, pikirku.
“Syukur deh kakak gapapa, tapi itu kenapa ya?” ucap Fitri bertanya-tanya
“Mungkin lagi sakit dek?” ujarku
“Kayanya sih, tapi kok dia kaya yang depresi gitu ya?” ucap Fitri
“Semoga ga kenapa-kenapa deh” ucapku
“Kayanya dia ngedaki sendiri ya?” ucap seorang wanita disampingku yang merupakan salah satu dari rombongan kami.
“Iya bu, sepertinya dia sendirian” ucapku
Setelah suasana kembali tenang, para pendaki lainpun kembali pada aktivitas mereka, setelah diyakini tidak akan ada hal buruk terjadi lagi.
“Tadi kenapa mas?” tanyaku pada mas Fajar
“Gatau dek, kaya lagi banyak pikiran gitu, kalau diliat dari ekspresinya sih kayanya lagi tertekan dengan suatu hal” ucapku
“Tapi itu udah gapapa kan?” tanya Fitri
“Gapapa kok, mas juga udah ajak dia untuk shalat magrib berjamaah” ucap mas Fajar
“Emm, iya, saling bantu ya” kata Fitri
Setelah shalat magrib, aku menyempatkan untuk mengaji terlebih dahulu. Setidaknya itu membuatku lebih tenang dan lebih baik. Beberapa menit kemudian, kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju pos 5 yang katanya bisa memakan waktu hingga satu setengah jam normalnya. Aku berada di barisan belakang dekat dengan Fitri dan mas Fajar.
Laki-laki yang bersama mas Fajar itu bernama Purnama. Terdengar dari obrolan singkat mereka. Saat di tengah perjalanan, salah seorang dari rombongan kami meminta istirahat sebentar. Kakiku juga sudah terasa sedikit pegal.
Angin berhembus membuat udara semakin dingin. Daun-daun yang bergesekan terdengar mengisi keheningan malam itu. Aku mengenakan jaket tebal yang aku bawa.
“Nih, minum dulu dek” ucapku pada Fitri sambil memberikan botol minumanku
“Iya kak. Ga kerasa ya udah sejauh ini” ucap Fitri
“Iya hehe, padahal pertama kali, tapi kaya ga kaget gitu” ujarku
“Kalian masih kuat?” tanya mas Fajar sambil duduk disampingku
“Masih kok, tadi udah keisi tenaganya” kata Fitri
“Kamu gimana dek?” tanya mas Fajar padaku
“Masih mas, aku sama Fitri kan aling bantu, hehe
Beberapa menit berlalu, kami melanjutkan perjalanan ke pos 5. Setibanya disana, mas Fajar dan temannya mendirikan tenda, sementara mas Dudung mencari kayu bakar. Aku dan Fitri melepas tas yang kami bawa, kemudian kami beristirahat kembali.
Diubah oleh aranea 24-02-2023 23:59
pulaukapok memberi reputasi
1