Kaskus

Story

araneaAvatar border
TS
aranea
Teman Sejati
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Teman Sejati


Selamat datang di thread sederhana ini. Apakabar kalian semua? Semoga temen-temen semua dalam keadaan baik baik saja, sehat, dan teman-teman semua dalam keadaan bahagia dimanapun teman-teman berada.

Oke mang. 


Disini saya mencoba menuliskan sebuah cerita yang terjadi beberapa tahun lalu yang sebelumnya sudah saya tulis, namun tidak pernah saya publikasikan. Tapi semoga dengan menulis disini bisa membantu saya juga dalam mengembangkan potensi saya dalam menulis. 

Cerita ini akan memiliki dua POV, yang dimana, update keduanya insyaAllah akan selalu berbarengan sedikit demi sedikit. Saya berharap selain bisa mengembangkan potensi menulis saya, apapun yang saya tulis bisa dipetik hal baiknya dan dibuang hal buruknya. Dan semoga bisa menghibur para reader budiman disini.

- Selamat Membaca -

INDEX


Fajar Adi Prabowo
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15






Part 17
Part 18
Part 19
Part 20






Diubah oleh aranea 04-06-2023 12:26
amdar07Avatar border
corazonraizo882Avatar border
percyjackson321Avatar border
percyjackson321 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
4.3K
65
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.1KAnggota
Tampilkan semua post
araneaAvatar border
TS
aranea
#8
Part 3
Azzahra Nafeeza Fatharani


Jantungku berdegup kencang ketika aku mendegar kata “SAH”. Fajar memberikan punggung tangannya, pertanda agar aku mencium tangannya sebagai tanda kalau aku sudah sah menjadi istrinya. Selama ini aku selalu diajari menjaga diri oleh abi. Jadi aku menghindari sentuhan yang bukan mahromku. Tanganku gemetaran ketika menyentuhnya, meski pada akhirnya aku mencium tangannya.

Sore harinya, ibu membereskan barang-barangnya karena bersiap untuk kembali pulang ke Purwakarta. Aku duduk disamping ummi sambil membayangkan kehidupanku nanti. Tiba-tiba Fajar datang menghampiriku

“Ikut saya sebentar” katanya sedikit tersenyum

Aku menatap ummi, dan ummi hanya mengangguk menandakan aku untuk ikut dengannya. Aku mengikutinya dari belakang sampai ke teras depan. Sebagai istrinya, aku harus lebih sopan memanggilnya, dan aku putuskan untuk memanggil Fajar dengan panggilan ‘mas’

“Rencana kamu selanjutnya apa?” kata mas Fajar
“Ma . . ma . . maksudnya mas?” aku bingung
“Yaelah ga ngerti. Kamu sendiri tahu kalau saya kerja sebagai tenaga honorer di Purwakarta
“Ta . . tapi aku juga ingin kuliah, mas” ucapku sedikit memelas
“Yasudah, kamu kuliah saja, saya akan kembali bekerja disana” katanya
“Ta tapi mas . . “ belum aku bicara ucapanku dipotong dan ia pamit masuk
“Kak, apaan sih, kok ngomongnya gitu?” ucap Fitri tiba-tiba datang
“Kakak mau bantu ibu dulu” kata mas Fajar


Aku duduk sebentar bersama Fitri disana

“Maaf ya kak, aku juga gatau kenapa dia jadi emosian gitu” kata Fitri
“Emang biasanya gimana?” tanyaku
“Yaa, biasanya kak Fajar ga gampang emosian. Biasanya lebih tenang menyikapi sesuatu” kata Fitri
“Ada masalah mungkin yang belum mas Fajar ceritain” kataku
“Mungkin kak, kakak sabar ya. Nanti aku bantu biar kak Fajar luluh deh” katanya
“Hehe, jangan dipaksa, biar ikut jalurnya aja dek” ucapku
“Hehe, seneng deh punya kakak perempuan sekarang” katanya sambil memelukku, dan aku membalas pelukannya.


Malam haripun tiba, dimana mertuaku hendak kembali ke Purwakarta. Saat mas Fajar akan ikut, ibu menyuruhnya untuk tetap disini. Awalnya terjadi perdebatan antara mereka, namun akhirnya mas Fajar mau menuruti keinginan ibunya itu

“Kalau gitu, biar ummi siapkan dulu ya” kata ummi
“Jangan ummi, biar Zahra aja” ucapku
“Sambil siapkan juga kamar kamu ya” kata ummi
“Eh, i iya ummi” ucapku sambil masuk kedalam


Aku menyiapkan semua kebutuhan untuk mas Fajar, termasuk kamarku. Saat aku masuk kamar, aku malah membayangkan seseorang yang nantinya akan satu ruangan denganku.

"Masa di kamarku sih, kasurku aja cuma cukup untuk satu orang” aku meracau

Aku berjalan menuju kamar kak Zidan untuk mengambil beberapa bajunya kemudian kembali ke ruang tengah dimana mas Fajar menunggu.

“Mas, emm ini pakaian punya abang, mas bisa pakai dulu” ucapku sambil memberikan baju itu
“Makasih” jawabnya dengan jutek


Ih, apaan sih gitu banget jawabnya. Apa aku salah bicara?

“Kenapa berdiri? Gamau duduk?” tanya mas Fajar
“Emm gapapa kok, aku ke dapur dulu bantu ummi” ucapku sedikit gugup
“Ya” dengan cueknya
“Iiish, apaan sih gitu doang jawabnya” ucapku dalam hati


Aku membantu ummi menyiapkan makan malam. Disaat itu mas Fajar bilang ingin mandi, dan aku disuruh ummi menyiapkan segara keperluannya. Ternyata seperti inikah menjadi seorang istri? Beberapa saat kemudian ia pamit pergi ke mesjid dan aku kembali menyiapkan makan malam.

"Mas Fajar emang cuek ya ummi?” tanyaku
“Mungkin dia masih kaget aja nak” kata ummi
“Emm, tapi kok ini cuek banget, Zahra jadi takut kalau cara Zahra salah” kataku
“Lama-lama kamu akan terbiasa nak hehe” kata ummi


Setelah memasak, aku juga shalat isya dirumah. Beberapa saat kemudian, waktu menunjukkan jam delapan malam. Aku yakin kalau shalat isya pun sudah selesai. Aku berniat mengecek depan rumah, kali aja dia lagi ngobrol didepan dengan mang Dadan. Tak lama aku berdiri didepan pintu, ia datang menghampiriku

“Ngapain disini?” tanyanya
“Em, ca cari angin” ucapku gugup
“Aneh” katanya “Yaudah masuk” lanjutnya
“Iya mas” jawabku


Aku berjalan duluan kedalam diikuti mas Fajar. Aku kembali menutup pintu dan tak lupa menguncinya juga. Aku lihat mas Fajar tengah duduk dikursi sementara aku ke dapur. Setelah makan malam siap, aku memanggil bi Ina, mang Ujang dan mang Dadan untuk ikut makan malam bersama kami. Selama makan malam, mas Fajar lebih banyak diam kali ini. Setelah selesai, mas Fajar berniat mencuci piring, namun aku langsung menggantikannya.

“Aku aja yang cuci mas” ucapku
“Oh, em oke” katanya
“Ish apaan sih, lagi-lagi gitu. Makasih kek, apa kek” ucapku membatin
“Astagfirullah, sabar Ra, dia itu suami kamu” lanjutku berbicara dalam hati


Aku memang diajarkan untuk menjadi wanita yang lembut, tapi kadang jiwa kekanak-kanakanku masih suka muncul hehe. Kadang aku bisa cerewet pada orang-orang terdekatku, kadang aku bisa menjadi anak yang pendiem banget.

Aku melanjutkan cuci piringku, diiringi suara lantunan ayat suci Al-Qur’an yang sedang dilantunkan ummi. Rasanya menjadi lebih tenang mendengarnya. Saat itu ummi membacakan surah Al-Mulk, dan tanpa aku sadari, aku mengikutinya. Ya, aku memiliki hafalan Qur’an meski tidak banyak, tapi aku ingin sekali menjadi seorang hafidzah.

Setelah aku selesai mencuci piring, akupun membersihkan diri. Aku melihat mas Fajar sedang bermain handphonenya. Setelah membersihkan diri, aku kembali keruang tengah. Oh iya, dirumah aku tetap menggunakan cadar, kecuali kalau lagi di kamar, karena dirumah ada mang Dadan dan mang Ujang, yang bukan mahromku. Dan itu juga dari hasil didikan abiku.

Aku sendiri masih merasa malu untuk membuka cadar didepan mas Fajar. Ah lagipula mas Fajarpun cuek, dan aku rasa dia ga akan peduli apakah aku akan tetap pakai cadar atau engga. Jadi aku biarkan aja lah, kecuali dia yang minta aku untuk buka cadar, hehe.

Setelah bersih-bersih, aku melihat waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Aku melihat mas Fajar yang masih duduk di kursi, namun ia sudah dalam keadaan tertidur. Pada awalnya aku berniat untuk membangunkannya dan mengajaknya untuk tidur di kamar saja. Tapi melihat sikapnya yang cuek, akhirnya aku memutuskan untuk membiarkannya saja. Hanya saja aku membawakannya selimut dan bantal

Saat itu, aku langsung mengangkat kepalanya secara perlahan dan meletakkan bantal dibelakangnya serta memakaikannya selimut. Dan untuk pertama kali aku melihat wajahnya dari dekat.

“Kalau kamu ga cuek, kamu tuh ganteng, tapi percuma juga sih, nyebelin” ucapku perlahan

Setelah itu aku pergi ke kamarku untuk langsung bersitirahat. Bersiap untuk menemui esok pagi. Beberapa jam aku tertidur, aku terbangun dan langsung melaksanakan shalat tahajud. Aku menggunakan kamar mandi di kamarku untuk berwudhu. Saat itu aku mengintip ke arah kursi, dan aku lihat mas Fajar sudah dalam posisi terbaring disana. Aku menutup kembali pintu kamar dan langsung shalat tahajud.
Diubah oleh aranea 15-02-2023 08:18
derryradhitya
pulaukapok
oktavp
oktavp dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.