- Beranda
- Stories from the Heart
Teman Sejati
...
TS
aranea
Teman Sejati
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Selamat datang di thread sederhana ini. Apakabar kalian semua? Semoga temen-temen semua dalam keadaan baik baik saja, sehat, dan teman-teman semua dalam keadaan bahagia dimanapun teman-teman berada.
Oke mang.
Oke mang.
Disini saya mencoba menuliskan sebuah cerita yang terjadi beberapa tahun lalu yang sebelumnya sudah saya tulis, namun tidak pernah saya publikasikan. Tapi semoga dengan menulis disini bisa membantu saya juga dalam mengembangkan potensi saya dalam menulis.
Cerita ini akan memiliki dua POV, yang dimana, update keduanya insyaAllah akan selalu berbarengan sedikit demi sedikit. Saya berharap selain bisa mengembangkan potensi menulis saya, apapun yang saya tulis bisa dipetik hal baiknya dan dibuang hal buruknya. Dan semoga bisa menghibur para reader budiman disini.
- Selamat Membaca -
INDEX
- Selamat Membaca -
INDEX
Fajar Adi Prabowo
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Azzahra Nafeeza Fatharani
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 1
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6
Part 7
Part 8
Part 9
Part 10
Part 11
Part 12
Part 13
Part 14
Part 15
Part 17
Part 18
Part 19
Part 20
Diubah oleh aranea 04-06-2023 12:26
percyjackson321 dan 7 lainnya memberi reputasi
8
4.3K
65
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aranea
#5
Part 2
Azzahra Nafeeza Fatharani
Aku dan kak Nia diminta untuk menunggu dikamar. Aku mengintip dari jendela kamarku, ada empat orang yang sepertinya mereka satu keluarga datang kemari.
“Itu siapa kak?” tanyaku pada kak Nia
“Itu ibu Salmah sama pak Riko. Bu Salmah itu temennya ummi” kata kak Nia
“Oh, terus mereka mau ngapain kesini?” tanyaku
“Entahlah” kata kak Nia sambil mengangkat kedua pundaknya
Aku melanjutkan membaca buku novelku di kamar. Sampai pada akhirnya aku dipanggil kak Nia untuk hadir menyambut tamu. Aku mengenakan gamis pemberian ummi khusus untuk hari ini. Tak lama aku mengikuti kak Nia, dan aku duduk disamping ummi
“Nah kenalkan, ini Zahra” kata ummi
“MasyaAllah cantiknya” kata ibu tersebut yang katanya bu Salmah
“Jadi gini nak, maksud ibu ngajak kamu kesini, karena ibu sama bapak mau menjodohkan kamu sama anaknya ummi Fida” kata pak Riko pada seorang anak lelaki dihadapanku
Apa? Dijodohkan? Aku bahkan belum genap berusia 20 tahun. Aku saja masih harus menempuh pendidikan, tapi malah dijodohkan?
“Apaan sih bu, pak, kenapa tiba-tiba main jodoh-jodohan?” kata pemuda itu dengan nada meninggi
“Ibu sama bapak punya alasan sendiri nak” kata bu Salmah
“Apa? Karena ngerasa pernah ngebantu mereka?” ujar pemuda itu
“Jaga bicara kamu nak, tenang” kata pak Riko
Aku hanya terdiam tak berani bicara. Mendengar satu nada tinggi terkadang membuatku teringat kembali dengan masa laluku. Aku tak ingin jika nanti aku bicara malah hanya membuat suasana menjadi lebih buruk. Tak lama pemuda itu keluar, diikuti oleh kak Zidan.
“Maaf ya bu, mungkin Fajar syok dengernya” kata seorang ibu
“Gapapa kok, santai aja hehe” ucap ummi
“Oh iya nak, ini ibu Salmah dan pak Riko, kalau yang ini Fitri, adiknya Fajar, yang tadi keluar itu” ucap ummi
Aku salim pada bu Salmah dan pak Riko namun tanpa bersentuhan. Tak lama setelah Fajar dan kak Zidan keluar, Fitripun keluar entah kemana, mungkin mengikuti mereka
“Ko tiba-tiba ummi mau jodohin aku dengan seseorang?” tanyaku
“Ummi pengen ada yang jaga kamu” kata ummi
“Zahra bisa jaga diri sendiri ummi. Lagipula Zahra kan mau kuliah” ucapku
“Oh, kuliah dimana nak?” tanya bu Salmah
“Di Institut Keguruan bu” ucapku
“Wah, sama dong sama Fitri, yang dimana?” tanya bu Salmah
“Emm, di Bandung bu” jawabku
“Loh, kebetulan dong, Fitri juga daftar disana” kata bu Salmah
Apakah ini sesuatu yang kebetulan? Atau memang ini rencana Allah?
“Wah, bisa sama begitu ya, hehe” ucap ummi
“Zahra takut mi” ucapku
“Takut kenapa?” tanya ummi
“Memang Zahra udah mampu jadi istri? Umur Zahra aja belum menginjak 20 tahun” ujarku
“Ummi yakin kamu bisa. Kan banyak tuh yang kuliah tapi sudah menikah, dan mampu jadi istri yang baik” kata ummi
“Tapi itupun ummi kembalikan lagi sama kamu, kalau kamu bersedia untuk menikah dengan nak Fajar. InsyaAllah, pendidikan, dan agamanya baik” lanjut ummi
Baik? Dengan cara dia berbicara tadi saja sudah membuatku takut. Aku harus gimana? Ummi keliatan sekali sangat berharap dengan perjodohan ini. Beberapa saat kemudian, Fajar kembali diikuti kak Zidan dan Fitri kemudian Fajarpun duduk disamping orangtuanya
“Maaf ya, kalau ini mendadak. Ibu ga akan maksa kamu buat nerima perjodohan ini” kata bu Salmah pada Fajar
“Kasih Fajar satu alasan kenapa Fajar harus nerima perjodohan ini” ucap Fajar pada ibunya
“Ibu pengen yang terbaik buat kamu, ibu gamau kamu salah pilih, dan percayalah sama ibu, pilihan ibu ga salah” lata ibu
“Suatu hari kamu bakal ngerti” lanjutnya
Suasana menjadi hening seketika. Semua fokus pada Fajar yang terdiam sambil menatap keluarganya kecuali aku yang hanya sesekali melihatnya
“Oke Fajar mau” ucapnya
Seketika aku malah membayangkan, bagaimana aku ketika menjadi istri nanti? Apakah aku akan tetap bisa bersama ummi?
“Tapi ibu gamau kalau kamu terpaksa” ucap bu Salmah
“Ngga bu, Fajar ikhlas. Maaf Fajar udah bersikap kurang ajar. Maaf tante, saya sudah berteriak” kata Fajar
“Gapapa, pasti kaget ya. Kamu sendiri gimana nak? Apa kamu bersedia?” tanya ummi padaku
Aku terdiam sejenak, dan kemudian aku hanya bisa berdoa
“Zahra . . . turuti kata ummi aja” ucapku
“Alhamdulillah, berarti sebentar lagi kita bakal jadi besan ya bu hehe” kata ummi
“Lalu kapan pernikahannya akan dilaksanakan?” tanya pak Riko
“Kalau itu kesiapan kalian berdua gimana?” tanya ummi Fida padaku dan Fajar
Aku dan Fajar sama-sama diam. Kemudian tiba-tiba bu Salmah mengajukan untuk mempercepat pernikahannya. Aku merasa sedikit gugup. Aku masih ga percaya, di usiaku yang masih terbilang remaja, apa aku bisa menjalani tugasku sebagai seorang istri? Karena menjadi istri itu tanggung jawabnya besar.
Hari-hari berlalu. Aku akan melangsungkan pernikahan dengan Fajar dalam beberapa hari. Selama itupun aku shalat istihoroh dan berharap yang terbaik untukku ataupun untuk Fajar
Hingga suatu malam aku pernah bermimpi aku bertemu dengan keluarga bu Salmah, dan disambut baik oleh mereka. Aku bertemu di tempat yang sangat asing bagiku. Akupun menceritakan ini pada ummi
“Bisa jadi itu jawaban istihorohmu nak, karena jawaban istihoroh bisa berupa mimpi yang berhubungan dengan sesuatu yang akan kita lakukan. Bisa juga dengan kecenderungan kita akan memilih yang mana, jika itu sebuah pilihan. Dan bisa juga berupa informasi dari orang lain jika kamu akan menikah. Misal informasi baik mengenai calonmu dari seseorang” kata ummi
“Apa begitu ummi?” tanyaku
“Biasanya seperti itu, apa kamu sendiri masih ada keraguan untuk menikah dengan Fajar?” tanya ummi
“Engga ummi. Kalau memang ini sudah jalannya, Zahra bakal berusaha untuk menjadi istri yang baik, dan Zahra juga akan ikuti kata ummi” ucapku
Aku memeluk ummi saat itu juga. Rasanya berat meninggalkan ummi jika nanti aku harus pisah tempat tinggal. Karena bagaimanapun, aku tetap akan ke Bandung untuk melanjutkan studiku. Itupun jika diizinkan oleh suamiku nanti.
Jum’at 28 Maret 2014
Hari yang dinantipun tiba. Hari ini aku dan keluargaku, kecuali kakakku dan kak Nia, akan pergi menuju tempat dimana pernikahanku akan berlangsung. Tidak ada pesta, hanya lantunan doa dan ijab qobul yang dihadiri oleh orang-orang terdekat saja termasuk para saksi. Kemudian aku menelefon kak Zidan dan kak Nia
“Assalamualaikum dek” ucap kak Zidan
“Waalaikumussalam, bang. Doain ya” kataku
“Selalu kok, kita selalu doain kamu, maaf ya kakak ga bisa hadir karena harus bertugas” kata kak Nia
“Iya gapapa kak. Zahra paham kok” kataku
“Gimana? Gugup?” tanya kak Zidan
“Sedikit kak. Masih ga percaya aja kalau hari ini Zahra nikah, dan secepat ini” ucapku
“Hehe, alhamdulillah dong, ketemu jodohnya. Kan menghindari zina dan fitnah juga” kata kak Zidan
“Iya bang. Yaudah bentar lagi sampe nih, abang semangat kerjanya ya”
“Kamu juga, berdoa ya. Salam buat keluarga Fajar” kata kak Zidan
“Iya kak, insyaAllah”
Aku menutup telefon disertai ucapan salam. Beberapa menit kami tiba di lokasi. Tapi saat ijab qobul, aku tidak hadir disana, melainkan menunggu di ruangan lain. Tapi dapat aku dengar ijab qobul melalui mikrofon yang terpasang di masjid saat itu
“Saya terima nikahnya Azzahra Nafeeza Fatharani binti Ruslan (almarhum) dengan maskimpoi seperangkat alat shalat dan cincin seberat tiga gram dibayar tunai” ucapku
“Bagaimana para saksi?”
“SAH”
Diubah oleh aranea 08-02-2023 06:31
oktavp dan 3 lainnya memberi reputasi
4