Kaskus

Story

remukredambosAvatar border
TS
remukredambos
Kisah Sang Mantan Suhu
Kisah Sang Mantan Suhu

Kaskuser lama pasti paham jika disini pernah ada sub forum BB17+. Walaupun sub forum tersebut telah ditutup, tapi percayalah diluar sana sebenarnya mereka masih bertahan.

Kisah ini akan menceritakan kisah nyata salah satu mantan suhu BB17+, dimana beliau akan menceritakan perjalanannya.
Dari cupu menjadi suhu

Penulis telah mendapat ijin untuk membuat cerita ini, bahkan beliau juga ikut memantau thread ini. Semoga cerita ini dapat memberikan pengalaman dan pelajaran berharga.

Part 1 - Seto
Part 2 - Maya
Part 3 - Civic
Part 4 - Luluh
Part 5 - Bimbang
Part 6 - Keputusan
Part 7 - Siap?
Part 8 - Siap!
Part 9 - Pulang
Part 10 - Cumbu
Diubah oleh remukredambos 16-05-2023 23:44
yusha321Avatar border
iwakcetolAvatar border
kubelti3Avatar border
kubelti3 dan 15 lainnya memberi reputasi
14
14.1K
55
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
remukredambosAvatar border
TS
remukredambos
#11
Civic
Akupun bergegas pulang, tanpa hiraukan reaksi pengunjung cafe yang lain. Yang notabene mereka juga ikut mendengar isakan tangis Maya dan teriakan permohonannya.

"Bodo amat lah!!!"
Gumanku

Motor kulajukan pelan, sembari nikmati panasnya jalanan. Celingak celinguk lihat kanan kiri, siapa tahu ada warung atau warmindo untuk sekedar beli kopi hitam. Pasalnya kopi dari cafe tadi rasanya kurang familiar, cenderung pahit, beda dengan seleraku yang suka manis.

"Nah, kebetulan ada angkringan"
Akupun menepi, memarkirkan motorku, kemudian pesan kopi favoritku.

Kutatapi tembok panjang didepan angkringan dengan warna biru muda bersih tanpa ada sedikitpun coretan vandal. Suatu hal yang aneh menurutku, tembok ditengah kota seperti ini seharusnya menjadi media mural bagi para seniman gambar jalanan, tapi berbeda dengan tembok didepan ku ini. Usut punya usut, ternyata itu tembok markas AU. Jelas tidak akan ada yang berani.

"Tembok biru muda, sama dengan warna jaket Maya tadi"
Sekilas terlintas diotakku.

***

"Set, ini ada undangan nikahan dari Sabit"
Ibu menyodorkan undangan tersebut, sembari meletakan secangkir kopi yang tadi aku pesan.

Tampaknya undangan ini dikirim saat aku masih di warnet. Tebal, wangi ditambah ornamen bunga-bunga yang cantik. Pasti harga undangan ini mahal. Hal yang wajar untuk seorang Sabit yang saat ini sukses membuka gerai warung oleh-oleh. Pelangannya sudah bukan perorangan, melainkan sudah kerjasama dengan travel agen besar dan coorporate ternama.

Aku baca, ternyata masih 2 minggu kedepan acaranya. Bertempat di sebuah hotel ditengah poros jalan utama kota Solo.

"Untuk menghormati Sabit, aku harus tampil rapi. Aku mau potong rambut dan jambang ku yang sudah ga beraturan ini"
Ucapku dalam hati.

***

Lusa sudah hari pernikahan Sabit. Sempat Maya mengirim pesan, isi dari pesan itu intinya adalah meminta maaf. Maya berjanji bahwa tidak akan bahas masalah dia lagi. Memang itu harapanku, sudah hidup tenang seperti ini lha kok malah diminta bantu masalah orang lain. Ketenangan hidup, itu yang utama.

Siang itu aku bergegas ke tempat cukur langganan ku. Aku tipe orang yang merasa wajah akan selalu aneh setelah potong rambut. Karena itu aku potong hari ini dengan harapan agar besok lusa penampilanku sudah tidak terasa aneh lagi.

"Kang, model rapi sama bersihkan jambang ga jelas ini ya. Oh, iya sekalian ambil paket vitamin + pijit kepala juga"
Mintaku pada kang cukur

"Siap ndan!!"
Balas kang cukur.

Kurang lebih satu jam prosesi cukur ini selesai. Makan dan kopi jadi tujuanku berikutnya. Sebuah warung nasi liwet jadi sasaran. Selesai makan aku pindah duduk diteras warung untuk minum kopi dan lihat suasana sekitar.

Terpampang jelas "Salon Kantil" berdiri tepat diseberang tempat aku duduk. "Motor langsung masuk kedalam" tampak sebuah banner dipasang dibawah persis plang nama salon tersebut. Kanan kiri aku lihat, baru tersadar jika disini adalah lokasi salon kelas hemat menjamur.

Hisap demi hisap rokok aku nikmati, tiba-tiba sesosok perempuan dengan celana gemesnya keluar dari pintu salon untuk buang sampah dan kemudian masuk lagi.
Seketika gairah langsung naik.

"Sepertinya bisa nih dicoba, masa iya online mirc terus"
Ucapku dalam hati.

Setelah bayar diwarung selesai aku langsung pergi. "Salon Kantil" jadi tujuanku setelah ini. Aku sengaja ambil arah untuk putar balik, agar penjual warung tadi tidak langsung lihat jika aku masuk salon. Ternyata aku masih punya rasa malu. Syukurlah, hehehehe.

***

"Mbak, mau perawatan"

Kalimat pamungkas jika kalian bingung mau bilang apa saat masuk salon atau spa plus. Silahkan boleh dicoba.

Bagai dapat durian runtuh, sesuai harapan aku bisa masuk perawatan bareng mbak yang tadi buang sampah. Sebut saja Nia. Dia tipikal cewe yang ramah dan supel. Tidak malu dia cerita kalau dia adalah korban KDRT, anaknya sekarang bareng orang tuanya, bahkan sejarah dari tatto yang ada di pinggang dan dadanya.

"Aku kerja gini karena terpaksa mas, butuh uang untuk hidup dan bayar tanggungan"
Ucap Nia setelah aku beri dia tip karena service nya yang baik.

Aku cuma senyum dan membalas
"Sabar ya, semoga semua lekas selesai"

Bersaamaan dengan itu, DEGGG!!!!!!
Ada semacam kilasan kejadian yang keluar dipikiran. Entah ini perasaan atau pikiran apa. Namun semuanya tertuju pada satu orang, MAYA.

***

"Tembok biru laut, mirip jaketnya Maya."
"Nia punya hutang, mirip masalahnya Maya."

2 kalimat itu serasa horoscope ramalan bintang. Tidak cocok tapi selalu dicocokan.

***

Menimbang jarak antara rumah dan lokasi nikahan Sabit, aku memutuskan untuk meminjam Civic milik Ridwan. Karena aku juga tidak mau sudah berdandan rapi tapi jadi awut-awutan karena angin jalanan jika aku bawa motor.

Ridwan : "Ini kuncinya bos, kalau misal nanti staternya ngadat, diemin sekitar 15 menitan baru dicoba lagi ya"

Aku : "Mobil kok tampilan e tok sik apik, mesin e rewelan"

Ridwan : "Kan gaya nomor satu bos, wkwkwkw"

Aku : "Wooo semprul, uda aku tak berangkat dulu"

Butuh sekitar 1 jam untuk sampai dilokasi nikahan. Aku senang disana bisa ketemu teman. Bahkan ketemu juga dengan beberapa teman lama, yang mungkin terakhir aku ketemu saat mereka melayat istriku.

Chit chat dan basa basi ngobrol. Tanya kabar dan pekerjaannya sekarang. Hingga tanpa sadar sudut mata ini melihat dia.

"Maya"
Ucapku lirih.

Dari kejauhan aku lihat Maya tampak cantik dengan setelah kebaya nya. Disamping nya ada anak kecil cowo yang digandeng. Dan didepannya ada anak perempuan yang lebih besar, tampak mereka berdua sedang ngobrol.
Aku berpikir kenapa Maya ada disini. Apakah dia kenal juga dengan Sabit.

Maya pun sadar ada aku, dia jalan mendekati dan menyapa.

"Kak, mas, salim dulu sama Om ya"
Ucap Maya pada anaknya.

Setelah salaman, kedua anak Maya itu pamit untuk ambil es krim.

Aku : "anakmu ya?"

Maya : "iya mas"

Aku : "cakep dan cantik mereka"

Maya : "makasih mas"

Aku : "kok bisa datang diacara ini?"

Maya : "iya mas, istrinya Sabit itu masih sepupu jauh aku"

Aku : "owhhh, ya ya"

Setelah itu kita ngobrol seperti biasa, ternyata ada beberapa teman lama aku yang kenal dengan maya. Dasarnya karena mereka juga kenal dengan Fedy.

Selama itu Maya sama sekali tidak bahas soal masalahnya, menyingung kalau kita pernah ketemu pun tidak. Tampaknya dia konsisten memegang janjinya berbeda dengan ku yang malah teringat lagi soal tembok biru muda dan masalah Nia dari Salon Kantil. Seakan semua saling terhubung.

***

"Mamah, mobilnya si Om bagus, mirip mobil Papah yang sudah dijual itu ya"

Tunjuk anak Maya yang cewe ke arah mobil Ridwan yang aku pakai.
oktavp
genji32
sormin180
sormin180 dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.