- Beranda
- Stories from the Heart
You're Still The One
...
TS
tuguKenangan
You're Still The One
Halo agan dan sista semuanya, sebelum memulai ijinkan aku memperkenalkan diri dulu yak, karena ada pepatah 'tak kenal maka kenalanlah' hehehe
Kisah nyata tak nyata dibawah ini akan diceritakan oleh seonggok laki - laki bernama Genandra, produk asli made in jawa tengah. Kisah ini nyata tak nyata, dan mungkin akan sangat panjang sekali, ini juga versi remake karena sudah terlampau lama tidak diupdate. Without basa basi, gaskeun...!
Kisah nyata tak nyata dibawah ini akan diceritakan oleh seonggok laki - laki bernama Genandra, produk asli made in jawa tengah. Kisah ini nyata tak nyata, dan mungkin akan sangat panjang sekali, ini juga versi remake karena sudah terlampau lama tidak diupdate. Without basa basi, gaskeun...!
Spoiler for INDEX:
Spoiler for PROLOG:
Spoiler for MULUSTRASI:
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 3 suara
LANJUT UPDATE GA NIH??
LANJUTKEUN
100%
BODO AMAT
0%
Diubah oleh tuguKenangan 20-02-2025 12:01
alcipea dan 8 lainnya memberi reputasi
9
6.9K
83
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
tuguKenangan
#13
Part 4. Pertemuan?!
Kudus, 2019
…Find me in another place and time, if only, if only you were mine, but I’m already someone else’s baby…
Aku masih termangu, tanganku masih mencekeram setir, kaki sudah berada di pedal gas namun tak segera kuinjak, iringan lagu Baby dari Clean Bandit mengalun seolah mengingatkanku untuk tak melanjutkan perjalanan, 2 hari lalu bossku memberi perintah untuk ke Yogyakarta, kota yang sama sekali tak ingin ku singgahi lagi, selama 2 hari aku menguatkan mental, karena perintah tidak bisa ditolak dan juga, aku masih belum siap mengunjungi kota itu. Selama 2 hari itu juga kenangan tentang Mbak Anin di kota itu datang dan pergi, terlebih, kenangan terakhir yg membuatku enggan untuk kembali lagi kesana.
Kutarik nafas dalam - dalam dan kuhembuskan sangat kuat, seiring kuinjak pedal gas, mobilpun bergerak perlahan membelah jalanan menuju kota terkutuk itu, ya, aku sangat membenci kota itu sekarang.
Berkendara dengan pikiran melamun dan kalut membuatku tak terasa ternyata aku sudah memasuki kota Yogyakarta, flyover terminal Jombor menyambutku dengan megahnya, sebersit perih muncul di hatiku karena teringat aku dan Mbak Anin dulu sering bertemu disini.
Mobil ku arahkan ke dalam kota, karena bossku berkata bahwa dokumen yang harus aku kerjakan bisa diambil di kantor pusat klien yang berada di tengah kota. Namun belum sampai ke kantor tersebut tiba - tiba smartphone ku berdering.
Incoming Call
081-221-xxx-xxx
Sebuah nomor tidak dikenal menelpon, aku sempat berpikiran konyol bahwa Mbak Anin menelponku hahaha
+ Hallo, selamat sore,
- Selamat sore, dengan pak Genandra? Saya dari kantor xxx
+ Oh iya mbak, gimana?
- Ini pak, pak Genandra ngga usah ke kantor, ini dokumen saya bawa, kita ketemuan di Malioboro Mall aja sambil makan pak
+ Oh iya mbak, begitu juga boleh, nanti saya kabari kalau sudah sampai ya
- Siap pak, terima kasih
Hadeeeh kenapa juga harus ketemuan di tempat laknat itu, tempat yang seumur hidup tak bisa kulupakan, tempat yang menjadi awal sejarahku dengan Mbak Anin.
Yogyakarta, 2012
Calling Mbak Anin
Tuuuuut tuuuuttt
Ceklek
+ Hallo mbak, aku udah mau nyampe Malioboro ini
- Hallo, iya Gen, santai, masih macet kan palingan
+ Iya sih Mbak tapi bentar lagi sampe loh, kamu udah jalan?
- Hehehe aku masih di rumah Gen, bentar lagi otw
+ Astaghfirullah mbaak Mbaak, kelakuanmu lhoo, kalo minta jemput ae kudu tepat waktu
- Eh ngga boleh marah ya Gen? Atau gajadi aja nih?
+ Eeeeee jangan too Mbak hehehe, bercanda aku tuh, yaudah ntar aku turun di Benteng Vredeburg ya
- Iyaa iyaa baweell, ini otewe aku. Ceklek
Telfon dimatikan sepihak, aku hanya bengong terheran memikirkan kelakuan Mbak Anin yang kadang kala suka ajaib.
Halaah Mbak sak karepmuu, batinku
Sudah hampir sepuluh menit aku berdiri sambil memperhatikan mobil yang lewat, aku masih belum melihat mobil Mbak Anin, rasa boring dan hampir jengkel menelusup perlahan sebelum kulihat sedan honda menepi, ketika kaca dibuka dan kuraih handle pintu, tiba - tiba suara Mbak Anin melengking nyaring dari dalam mobil.
“Eh eh mau ngapain Gen?’’
‘’Ya masuk lah Mbak, berdiri kelamaan disini diangkut tante - tante ntar aku’’ jawabku ngasal
‘’eeeeh enak aja, setirin geh, lagian kalau diangkut juga gapapa, aku lagi pengen Kia Sportage’’
‘’Gundulmu Mbak, aku yang rekoso kamu yang enak-enakan wooo, lagian tamu kok disuruh nyetir’’
‘’halah gausah bawel, itu dibelakang udah pada rusuh’’
Akhirnya aku masuk mobil sambil setengah misuh diiringi suara klakson yang bersahutan, yaa gimana jalan Malioboro emang lagi padet hahaha
‘’Ciee setelah sekian purnama akhirnya kesampaian ya Gen ke Jogja sendiri’’
‘’haha iya mba, ini juga kebetulan aku ada acara sama temen - temen kampus’’
‘’dan kamu nyempetin buat ketemu sama aku yaaa, cieee, romantis ih’’
‘’hahaha gausah geer mba, di dunia ini tinggal aku, kamu, sama kambing aku milih kambing’’
‘’diihh enak aja, siapa juga yang geer sama kamu Gen, aku masih waras’’
‘’Edan kamu Mbak hahaha’’
Sore itu kami mnyusuri jalanan Kota Jogja dengan bercanda, saling melempar kabar karena semenjak lulus SMA kami melanjutkan ke universitas yang berbeda kota, aku masih belum menyadari bahwa ada sebersit nyaman di hati, hanya saja ada sebuah rasa yang tidak biasa ketika aku melihat caranya berbicara, tertawa dan bercerita, namun segera kutepis karena ada Giandra disana, sebusuk apapun dia, aku tak akan mengkhianati persahabatan kami, kuharap.
“Gen, ke Malioboro Mall yuk, disana ada foodcourt yang jualan makanan jepang ala - ala gituu’’
‘’Halah Mbak, enak ga tuh?’’
‘’Makanya ayo kesana nyobain’’
‘’Yawis ayo, nanti kalo gaenak kamu yang tak suruh masak gantiin chefnya hahaha’’
Mbak Anin hanya melirik sinis sambil pura - pura tidak mendengar dengan jokesku, sialan.
Mobil kuarahkan ke parkiran dan kami berjalan masuk ke Malioboro Mall, menuju ke area foodcourt yang diceritakan, tanpa berlama - lama kami memesan 2 Shoyu Ramen, 1 Gyoza, dan Californian Sushi Roll, tak lupa 2 Teh Botol Sosro sebagai pelengkap karena apapun makanannya minumnya harus air hahaha, garing ya? Bodo amat.
‘’Eh ya lumayan Mbak ya, kirain zonk hahaha’’ kataku setelah menghabiskan semua makanan
‘’Kaann, apa kataku, kamu gausah meragukan seleraku dehh’’ kata Mbak Anin dengan muka tengil
‘’Halaahh sok - sokan ngomongin selera, iyaa kamu pinter milih makanan Mbak, milih pacar noh zonk, hahaha’’
‘’Yaah itu nasib Gen namanya, eh btw soal pacar, Giandra baru pulang kan? Kamu tau sekarang dia dimana?’’ tanya Mbak Anin yang membuatku agak gugup
‘’eeh mana kutahu Mbak, pacarnya siapa kok tanyanya ke siapa’’ jawabku ngeles
Aku sebenarnya tau dimana seonggok pacar Mbak Anin itu, tapi aku masih memegang prinsip aku harus netral diantara 2 negara yang sedang berperang, walau itu merugikan warga sipil.
‘’Dari kemarin dia nggak ngabarin Gen, selalu aja kayak gini, aku capek’’ keluh Mbak Anin sendu
‘’Mbak, sorry ya, kenapa sih kamu sekuat itu mempertahankan dia Mbak?’’ tanyaku memancing
‘’Aku sebenernya capek Gen, tapi aku masih sayang dengan hubunganku yang udah terjalin lama, aku terlalu banyak menyia-nyiakan waktu, kemarin aku sempet ribut lagi, soal ketika suatu saat nanti menikah, aku ga dibolehin kerja Gen, aku disuruh dirumah, padahal aku kan masih pengen meneruskan pendidikan, punya karir yang bagus dan bisa dibanggakan anak - anakku kelak.’’
‘’Lah kok gitu mba, baru pacaran udah mau ngatur segitu jauhnya, kalo aku mbak ya jadi dia, aku ga akan melarang apapun, asal masih dalam koridor komitmen, terserah mau meraih karir dan pendidikan setinggi apa asal jug masih sadar tanggung jawab secara proporsional, karena rumah tangga kan ngga bisa satu pihak Mbak, harus gantian, harus saling’’ jawabku
Tanpa kusadari, Mbak Anin mendengarkan penjelasanku dengan sangat seksama, menatap mataku dalam dan tersenyum, dan tiba - tiba dia berkata
‘’andai semua laki - laki yang pernah hadir di hidupku punya pemikiran kayak kamu Gen, betapa beruntungnya aku’’
Dan tanpa sadar, sambil menatap mata cantiknya, aku berkata
‘’andai aku punya seseorang sepertimu Mbak, betapa beruntungnya aku’’
Dalam beberapa detik kami masih hanyut dengan saling menatap dengan entah apa yang ada dalam pikiran kami masing - masing, tiba - tiba kami tersadar, mengalihkan pandangan dan terdiam, seolah kami menyadari ada yang salah diantara kami.
Yogyakarta, 2019
Mobil sudah terparkir, namun aku masih enggan untuk turun, di depanku ada sebuah bangunan Mall, namun di benakku tak ubahnya gerbang neraka, setelah kesekian kali aku menghembuskan nafas, dan menguatkan diri untuk turun dan masuk ke bangunan neraka tersebut.
Incoming WhatsApp Messages
081-221-xxx-xxx
-Pak, saya ada di area foodcourt booth makanan Jepang ya.
Ah sialan, benar - benar sialan
Aku melangkahkan kaki dengan berat, aku merasa disiksa dengan bayangan mbak anin dan diriku bertahun - tahun lalu, bercanda dan tertawa bersamanya. Akhirnya aku sampai di area yang disebutkan oleh klienku tersebut, namun seolah tak percaya dengan apa yang aku lihat, aku sampai terbelalak melihat sosok yang sedang berjalan ke arahku sambil membawa setumpuk berkas, jantungku hampir berhenti berdetak saking kagetnya..
MBAK ANIN????!!!!!
To Be Continued...
Kudus, 2019
…Find me in another place and time, if only, if only you were mine, but I’m already someone else’s baby…
Aku masih termangu, tanganku masih mencekeram setir, kaki sudah berada di pedal gas namun tak segera kuinjak, iringan lagu Baby dari Clean Bandit mengalun seolah mengingatkanku untuk tak melanjutkan perjalanan, 2 hari lalu bossku memberi perintah untuk ke Yogyakarta, kota yang sama sekali tak ingin ku singgahi lagi, selama 2 hari aku menguatkan mental, karena perintah tidak bisa ditolak dan juga, aku masih belum siap mengunjungi kota itu. Selama 2 hari itu juga kenangan tentang Mbak Anin di kota itu datang dan pergi, terlebih, kenangan terakhir yg membuatku enggan untuk kembali lagi kesana.
Kutarik nafas dalam - dalam dan kuhembuskan sangat kuat, seiring kuinjak pedal gas, mobilpun bergerak perlahan membelah jalanan menuju kota terkutuk itu, ya, aku sangat membenci kota itu sekarang.
Berkendara dengan pikiran melamun dan kalut membuatku tak terasa ternyata aku sudah memasuki kota Yogyakarta, flyover terminal Jombor menyambutku dengan megahnya, sebersit perih muncul di hatiku karena teringat aku dan Mbak Anin dulu sering bertemu disini.
Mobil ku arahkan ke dalam kota, karena bossku berkata bahwa dokumen yang harus aku kerjakan bisa diambil di kantor pusat klien yang berada di tengah kota. Namun belum sampai ke kantor tersebut tiba - tiba smartphone ku berdering.
Incoming Call
081-221-xxx-xxx
Sebuah nomor tidak dikenal menelpon, aku sempat berpikiran konyol bahwa Mbak Anin menelponku hahaha
+ Hallo, selamat sore,
- Selamat sore, dengan pak Genandra? Saya dari kantor xxx
+ Oh iya mbak, gimana?
- Ini pak, pak Genandra ngga usah ke kantor, ini dokumen saya bawa, kita ketemuan di Malioboro Mall aja sambil makan pak
+ Oh iya mbak, begitu juga boleh, nanti saya kabari kalau sudah sampai ya
- Siap pak, terima kasih
Hadeeeh kenapa juga harus ketemuan di tempat laknat itu, tempat yang seumur hidup tak bisa kulupakan, tempat yang menjadi awal sejarahku dengan Mbak Anin.
Yogyakarta, 2012
Calling Mbak Anin
Tuuuuut tuuuuttt
Ceklek
+ Hallo mbak, aku udah mau nyampe Malioboro ini
- Hallo, iya Gen, santai, masih macet kan palingan
+ Iya sih Mbak tapi bentar lagi sampe loh, kamu udah jalan?
- Hehehe aku masih di rumah Gen, bentar lagi otw
+ Astaghfirullah mbaak Mbaak, kelakuanmu lhoo, kalo minta jemput ae kudu tepat waktu
- Eh ngga boleh marah ya Gen? Atau gajadi aja nih?
+ Eeeeee jangan too Mbak hehehe, bercanda aku tuh, yaudah ntar aku turun di Benteng Vredeburg ya
- Iyaa iyaa baweell, ini otewe aku. Ceklek
Telfon dimatikan sepihak, aku hanya bengong terheran memikirkan kelakuan Mbak Anin yang kadang kala suka ajaib.
Halaah Mbak sak karepmuu, batinku
Sudah hampir sepuluh menit aku berdiri sambil memperhatikan mobil yang lewat, aku masih belum melihat mobil Mbak Anin, rasa boring dan hampir jengkel menelusup perlahan sebelum kulihat sedan honda menepi, ketika kaca dibuka dan kuraih handle pintu, tiba - tiba suara Mbak Anin melengking nyaring dari dalam mobil.
“Eh eh mau ngapain Gen?’’
‘’Ya masuk lah Mbak, berdiri kelamaan disini diangkut tante - tante ntar aku’’ jawabku ngasal
‘’eeeeh enak aja, setirin geh, lagian kalau diangkut juga gapapa, aku lagi pengen Kia Sportage’’
‘’Gundulmu Mbak, aku yang rekoso kamu yang enak-enakan wooo, lagian tamu kok disuruh nyetir’’
‘’halah gausah bawel, itu dibelakang udah pada rusuh’’
Akhirnya aku masuk mobil sambil setengah misuh diiringi suara klakson yang bersahutan, yaa gimana jalan Malioboro emang lagi padet hahaha
‘’Ciee setelah sekian purnama akhirnya kesampaian ya Gen ke Jogja sendiri’’
‘’haha iya mba, ini juga kebetulan aku ada acara sama temen - temen kampus’’
‘’dan kamu nyempetin buat ketemu sama aku yaaa, cieee, romantis ih’’
‘’hahaha gausah geer mba, di dunia ini tinggal aku, kamu, sama kambing aku milih kambing’’
‘’diihh enak aja, siapa juga yang geer sama kamu Gen, aku masih waras’’
‘’Edan kamu Mbak hahaha’’
Sore itu kami mnyusuri jalanan Kota Jogja dengan bercanda, saling melempar kabar karena semenjak lulus SMA kami melanjutkan ke universitas yang berbeda kota, aku masih belum menyadari bahwa ada sebersit nyaman di hati, hanya saja ada sebuah rasa yang tidak biasa ketika aku melihat caranya berbicara, tertawa dan bercerita, namun segera kutepis karena ada Giandra disana, sebusuk apapun dia, aku tak akan mengkhianati persahabatan kami, kuharap.
“Gen, ke Malioboro Mall yuk, disana ada foodcourt yang jualan makanan jepang ala - ala gituu’’
‘’Halah Mbak, enak ga tuh?’’
‘’Makanya ayo kesana nyobain’’
‘’Yawis ayo, nanti kalo gaenak kamu yang tak suruh masak gantiin chefnya hahaha’’
Mbak Anin hanya melirik sinis sambil pura - pura tidak mendengar dengan jokesku, sialan.
Mobil kuarahkan ke parkiran dan kami berjalan masuk ke Malioboro Mall, menuju ke area foodcourt yang diceritakan, tanpa berlama - lama kami memesan 2 Shoyu Ramen, 1 Gyoza, dan Californian Sushi Roll, tak lupa 2 Teh Botol Sosro sebagai pelengkap karena apapun makanannya minumnya harus air hahaha, garing ya? Bodo amat.
‘’Eh ya lumayan Mbak ya, kirain zonk hahaha’’ kataku setelah menghabiskan semua makanan
‘’Kaann, apa kataku, kamu gausah meragukan seleraku dehh’’ kata Mbak Anin dengan muka tengil
‘’Halaahh sok - sokan ngomongin selera, iyaa kamu pinter milih makanan Mbak, milih pacar noh zonk, hahaha’’
‘’Yaah itu nasib Gen namanya, eh btw soal pacar, Giandra baru pulang kan? Kamu tau sekarang dia dimana?’’ tanya Mbak Anin yang membuatku agak gugup
‘’eeh mana kutahu Mbak, pacarnya siapa kok tanyanya ke siapa’’ jawabku ngeles
Aku sebenarnya tau dimana seonggok pacar Mbak Anin itu, tapi aku masih memegang prinsip aku harus netral diantara 2 negara yang sedang berperang, walau itu merugikan warga sipil.
‘’Dari kemarin dia nggak ngabarin Gen, selalu aja kayak gini, aku capek’’ keluh Mbak Anin sendu
‘’Mbak, sorry ya, kenapa sih kamu sekuat itu mempertahankan dia Mbak?’’ tanyaku memancing
‘’Aku sebenernya capek Gen, tapi aku masih sayang dengan hubunganku yang udah terjalin lama, aku terlalu banyak menyia-nyiakan waktu, kemarin aku sempet ribut lagi, soal ketika suatu saat nanti menikah, aku ga dibolehin kerja Gen, aku disuruh dirumah, padahal aku kan masih pengen meneruskan pendidikan, punya karir yang bagus dan bisa dibanggakan anak - anakku kelak.’’
‘’Lah kok gitu mba, baru pacaran udah mau ngatur segitu jauhnya, kalo aku mbak ya jadi dia, aku ga akan melarang apapun, asal masih dalam koridor komitmen, terserah mau meraih karir dan pendidikan setinggi apa asal jug masih sadar tanggung jawab secara proporsional, karena rumah tangga kan ngga bisa satu pihak Mbak, harus gantian, harus saling’’ jawabku
Tanpa kusadari, Mbak Anin mendengarkan penjelasanku dengan sangat seksama, menatap mataku dalam dan tersenyum, dan tiba - tiba dia berkata
‘’andai semua laki - laki yang pernah hadir di hidupku punya pemikiran kayak kamu Gen, betapa beruntungnya aku’’
Dan tanpa sadar, sambil menatap mata cantiknya, aku berkata
‘’andai aku punya seseorang sepertimu Mbak, betapa beruntungnya aku’’
Dalam beberapa detik kami masih hanyut dengan saling menatap dengan entah apa yang ada dalam pikiran kami masing - masing, tiba - tiba kami tersadar, mengalihkan pandangan dan terdiam, seolah kami menyadari ada yang salah diantara kami.
Yogyakarta, 2019
Mobil sudah terparkir, namun aku masih enggan untuk turun, di depanku ada sebuah bangunan Mall, namun di benakku tak ubahnya gerbang neraka, setelah kesekian kali aku menghembuskan nafas, dan menguatkan diri untuk turun dan masuk ke bangunan neraka tersebut.
Incoming WhatsApp Messages
081-221-xxx-xxx
-Pak, saya ada di area foodcourt booth makanan Jepang ya.
Ah sialan, benar - benar sialan
Aku melangkahkan kaki dengan berat, aku merasa disiksa dengan bayangan mbak anin dan diriku bertahun - tahun lalu, bercanda dan tertawa bersamanya. Akhirnya aku sampai di area yang disebutkan oleh klienku tersebut, namun seolah tak percaya dengan apa yang aku lihat, aku sampai terbelalak melihat sosok yang sedang berjalan ke arahku sambil membawa setumpuk berkas, jantungku hampir berhenti berdetak saking kagetnya..
MBAK ANIN????!!!!!
To Be Continued...
Diubah oleh tuguKenangan 17-02-2025 09:56
itkgid dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Tutup