- Beranda
- Stories from the Heart
Jalan Terakhir
...
TS
neopo
Jalan Terakhir

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apakabar semua. Setelah sekian lama ga berbagi cerita akhirnya mencoba lagi untuk menulis/membagikan salah satu cerita/kisah/tulisan dari seorang teman. Tentunya saya tidak lupa akan thread sebelumnya yang saya buat, yang berjudul Riding to Jannah yang sementara ini dihentikan dulu karena hilangnya draft yang sudah dibuat dulu. Bahkan sampai beberapa tahun tidak terurus. Tetapi insyaAllah akan kembali di up jika sudah selesai. Bahkan kemarinpun sempat dilanjut, tetapi harddisk yang saya gunakan untuk menyimpan file penting ternyata bad sector dan semua file rusak 

Jika kalian sudah bosan atau kurang suka dengan cerita remaja, baik fiksi ataupun true story, kalian boleh skip thread ini
Hanya saja menurut saya pribadi, cerita dia cukup membuat saya terhibur. Jadi saya meminta izin untuk share disini, dan dia memperbolehkan. Setelah sekian tahun ga buka kaskus, udah banyak perubahan, jadi kalau berantakan mohon dimaafkan.
Hanya saja menurut saya pribadi, cerita dia cukup membuat saya terhibur. Jadi saya meminta izin untuk share disini, dan dia memperbolehkan. Setelah sekian tahun ga buka kaskus, udah banyak perubahan, jadi kalau berantakan mohon dimaafkan.Setiap orang pasti pernah mengalami masalah dalam menjalani hidup. Namun setiap masalah selalu menuntut untuk diselesaikan. Karena itulah, menemukan solusi dan bersikap pantang menyerah adalah jawaban untuk setiap masalah.
Kadang kala perjalanan hidup yang membuat seseorang menjadi dewasa. Dewasa dalam hal ini berarti mampu berpikir jernih dan menempatkan perannya dalam berbagai situasi. Selain itu, perjalanan hidup juga bisa menjadi bahan pembelajaran yang menginspirasi. Tidak hanya menginspirasi diri sendiri, tapi juga orang lain.
Langit tidak selalu cerah, perjalanan hidup pun tidak selalu indah. Dari kalimat itu kita harus paham bahwa perjalanan hidup itu tidak selalu mulus. Terkadang kita temukan kerikil dan duri yang mengganggu di jalanan. Rasa sakit, kesedihan, kesusahan dan duka. Apapun yang ada di hadapan kita bukan berarti kita berhenti berjalan dan menyerah. Perjalanan hidup yang berat ataupun perjalanan hidup yang pahit harus kita hadapi dan lalui.
"Hidup itu tentang sebuah perjalanan, caramu menjalaninya, dan caramu memberi arti pada perjalananmu itu." WilzKanadi
Aku tengah menempuh pendidikan sekolah tingkat atas kelas satu. Aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang berkecukupan. Aku berasal dari Bandung namun sejak SD aku pindah ke Jakarta karena pekerjaan papaku. Aku merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Aku memiliki postur tubuh dengan tinggi badan 168cm dan berat badan 62kg. Namaku Khairul Purnama, dan ini adalah kisah perjalananku
Akan di update berdasarkan jalan cerita melalui Instagramdan beberapa spoiler untuk next part diperlihatkan disana, tapi itupun jika ga penasaran
Akan di update berdasarkan jalan cerita melalui Instagramdan beberapa spoiler untuk next part diperlihatkan disana, tapi itupun jika ga penasaran

- INDEX -
Masa SMA

Prolog
BAB 1 - Ocehan Seorang Gadis
BAB 2 - Dunia yang Sempit
BAB 3 - Cewek Melengking dan Anak Hilang
BAB 4 - Silsilah Keluarga
BAB 5 - Ma, Arul Kuat Kok
BAB 6 - Teman
BAB 7 - Obat Penenang
BAB 8 - Bandung
BAB 9 - Kebahagiaan dari Masa Lalu
BAB 10 - Perasaan yang Memuncak
BAB 11 - Puncak Amarah
BAB 12 - Yang Pertama
BAB 13 - Berputar Kembali
BAB 14 - Liburan Lagi
BAB 15 - Sebuah Cerita
BAB 16 - Sekolah Lagi
BAB 17 - Jawaban
BAB 18 - Kelemahan
BAB 19 - Rasa Terindah
BAB 20 - Ungkapan Hati
BAB 21 - Double Date?
BAB 22 - Jalan Buntu
BAB 23 - Maaf
BAB 24 - Liburan Penutup
BAB 25 - MOS (Part 1)
BAB 26 - MOS (Part 2)
BAB 27 - Sebuah Tragedi
BAB 28 - Tujuan
Masa Kuliah

BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
Masa SMA

Prolog
BAB 1 - Ocehan Seorang Gadis
BAB 2 - Dunia yang Sempit
BAB 3 - Cewek Melengking dan Anak Hilang
BAB 4 - Silsilah Keluarga
BAB 5 - Ma, Arul Kuat Kok
BAB 6 - Teman
BAB 7 - Obat Penenang
BAB 8 - Bandung
BAB 9 - Kebahagiaan dari Masa Lalu
BAB 10 - Perasaan yang Memuncak
BAB 11 - Puncak Amarah
BAB 12 - Yang Pertama
BAB 13 - Berputar Kembali
BAB 14 - Liburan Lagi
BAB 15 - Sebuah Cerita
BAB 16 - Sekolah Lagi
BAB 17 - Jawaban
BAB 18 - Kelemahan
BAB 19 - Rasa Terindah
BAB 20 - Ungkapan Hati
BAB 21 - Double Date?
BAB 22 - Jalan Buntu
BAB 23 - Maaf
BAB 24 - Liburan Penutup
BAB 25 - MOS (Part 1)
BAB 26 - MOS (Part 2)
BAB 27 - Sebuah Tragedi
BAB 28 - Tujuan
Masa Kuliah

BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
Diubah oleh neopo 02-02-2023 21:58
sukhhoi dan 12 lainnya memberi reputasi
11
13.9K
120
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
neopo
#67
BAB 35 - Proses
Keberadaan sosok ayah tentunya tak kalah penting dengan ibu. Bagi anak perempuan, ayah adalah laki-laki pertama yang memberikannya rasa nyaman, aman, dan sosok pria sejati yang dikagumi. Tidak mengherankan jika tanpa adanya ayah, seorang anak akan merasa sangat rindu dan sepi.
Karena pada dasarnya ayah dan ibu adalah partner yang akan selalu memberikan kasih sayang terbaik untuk anak-anaknya. Di saat ibu tengah lelah dengan beragam aktivitas rumah tangga dan membutuhkan waktu untuk beristirahat, maka di saat itulah sosok ayah yang akan menemani anak-anaknya.
Sehingga, jika suatu saat ayah pergi meninggalkanmu untuk selamanya, ini akan menjadi luka yang teramat dalam. Bayang-bayang kenangan bersama ayah semasa hidup akan selalu hadir dan itu akan membuatmu semakin merindukannya
Akupun tak dapat menahan tangisku. Terutama ketika aku melihat wajah papa. Mama juga mencoba menenangkanku
“Kamu yang sabar ya nak” kata mama
“Kenapa papa pergi sebelum aku bisa bikin papa bangga” kataku
“Kamu ga boleh gitu. Ini sudah kehendak Allah” kata mama
“Kalau Arul ga pulang kerumah dan tetep disini” kataku
“Kamu pulang, atau disini, kalau Allah udah berkehendak, kita ga bisa apa-apa” kata mama
“Seengganya aku bisa nemenin papa” kata mama
“Sudah, ikhlas, yang kuat. Sekarang kamu pulang, kabari pa ustadz untuk bantu mengurusi jenazah papa. Ani juga ikut ya, beres-beres dirumah bantuin aa” kata mama “Ana, disini temenin mama, bantu bawa barang” lanjut mama
Akupun menuruti kata mama. Sementara nanti mama akan naik ambulans bareng alm papa. Setelah dirumah dan menghubungi pak ustadz, beliau ikut mempersiapkan untuk mengurus jenazah alm papa. Tak lama juga masjid mengumumkan berita duka atas kepergian papa. Dirumah, aku membantu membereskan barang-barang untuk tahlilan dirumah. Tidak hanya aku, satpam dan beberapa tetangga ikut membantu kami.
“Assalamualaikum” ucap seseorang”
“Waalaikumussalam” jawabku
“Nak Arul” panggil tante Hilda, mamanya Vika
“Iya tante” kataku
“Tante turut berduka ya” katanya
“Makasih tante” jawabku
“Kami turut berduka ya, nak Arul” kata om Tio
“Iya om, makasih banyak, saya mewakili papa, minta maaf kalau papa ada salah sama om dan tante, dengan keluarga Vika” kataku
“Oh iya, Vika sudah kamu kabari?” tanya tante Hilda
“Belum, Arul belum sempat, nanti aja kalau waktunya pas” kataku
“Yasudah, nanti biar tante yang kabari. Sekarang tante ikut bantu-bantu ya” katanya
Aku hanya mengangguk, dan om Tio juga ikut membantu persiapan. Ga lama ambulan yang membawa jenazah papa pulang, tiba. Pada jam 5 pagi, setelah dishalatkan, kami berangkat ke Bandung untuk mengantar papa menuju peristirahatan terakhir. Karena keluarga kami semua berasal dari Bandung dan semua yang sudah berpulang dimakamkan di Bandung.
Restoran yang kini hanya satu-satunya tersisa di Jakarta diliburkan selama satu minggu atas permintaan mama. Seluruh karyawan juga ikut mengantar alm papa menuju peristirahatan terakhirnya. Semua ongkos dan segala keperluan lainnya dipenuhi oleh keluarga kami. Jam 7 pagi kami tiba di Bandung. Kami sampai dengan sedikit cepat karena dikawal juga oleh pihak berwajib yang diminta oleh para karyawan restoran.
“Kembali lagi kesini” ucapku dalam hati
Aku naik mobil om Tio bersama tante Hilda dan si kembar. Selama perjalanan, si kembar ga banyak bicara seperti biasanya. Kali ini mereka diam sediam-diamnya. Aku dapat melihat mereka merasa sangat terpukul atas kepergian papa yang begitu cepat ini. Tibalah kami di pemakaman yang berada tak jauh dari rumah yang pernah ditempati dulu. Pemakaman yang dulu juga pernah kudatangi ketika aku berziarah ke makam kakek dan nenek.
Upacara pemakamanpun selesai dilakukan. Matahari mulai tinggi dan beberapa orang yang membantu sudah meninggalkan makam dan menunggu dimobil, termasuk rombongan karyawan restoran yang terlihat dengan mengobrol dengan para pihak berwajib yang mengawal kami tadi.
Aku, mama, om Tio, tante Hilda, si kembar masih berada di makam karena kami juga sekaligus berziarah ke makam kakek dan nenek. Aku duduk disebuah kursi kayu yang berada dibawah pohon besar, membayangkan sisa hariku takkan lagi melihat wajah papa yang selama ini telah mendidikku. Aku bahkan masih dapat mendengar suara papa yang selalu menasehatiku, meleraiku ketika aku adu argumen dengan si kembar, dan semua hal yang pernah terjadi.
Airmataku kembali mengalir di pipiku. Setelah papa ga ada, aku akan menjadi tulang punggung keluarga, karena aku juga ga mungkin membiarkan mama kerja. Aku ingin mama benar-benar menikmati masa tuanya dengan ketenangan. Termasuk si kembar. Aku juga ingin mereka fokus menggapai impian mereka, sekalipun aku harus mengorbankan masa depanku. Tiba-tiba seseorang duduk disampingku, dan ketika aku menoleh, ternyata Vika. Ga kaget kalau Vika datang, karena lokasi pemakaman dan komplek rumah tante Lina, dan juga makam memang tidak terlalu jauh.
“Kamu kenapa ga cerita” kata Vika dengan mata yang berkaca-kaca
“Aku sama sekali ga megang HP. Maaf” kataku
Semenjak kabar papa meninggal, aku benar-benar ga memegang handphone, semua yang dihubungi menggunakan handphone milik si kembar dan HP mama. Bahkan Hpku saja baterainya habis.
“Aku turut berduka a” kata Vika sambil memelukku
“Kenapa secepat ini” kataku
“Semua udah jadi kehendakNya a” kata Vika
“Aku bahkan ga menemani papa di saat terakhirnya” kataku
“Aa salah. Aa udah nemenin sampai tempat peristirahatan terakhir” kata Vika
“Sehari sebelum papa meninggal, papa marah karena aku pulang tanpa bilang dulu. Entah kenapa aku ingin pulang saat itu. Tapi papa marah karena aku harusnya mementingkan kuliahku” kataku
“Aku percaya, ikatan batin anak dengan orang tua itu kuat. Dan almarhum pasti bangga sama aa” kata Vika
Aku hanya terdiam, dan keheningan terjadi beberapa saat. Sampai keluargaku datang menghampiriku. Dan salah satu karyawan juga meminta izin untuk kembali ke Jakarta. Tapi sebelum itu, mama mengobrol dengan managernya
“Kalian libur kerja dulu saja satu minggu. Hitung-hitung istirahat. Soal gaji, tetap dibayar seperti biasa, dan masa cuti kalian juga ga akan dipotong. Dan sampaikan salam kami untuk semua karyawan dan keluarga” kata mama
“Baik bu, terima kasih banyak, ksekali lagi, kami turut berduka cita, karena selama ini almarhum juga sudah baik sama kami semua. Kami akan tetap menjalankan restoran dengan sebaik mungkin” kata Irfan, manager restoran
“Terima kasih, kalian boleh pulang sekarang” kata mama
Merekapun pergi dan meninggalkan keluargaku dan keluarga om Tio. Kami di ajak menuju rumah tante Lina untuk beristirahat. Awalnya mama menolak, tapi karena bujukan tante Hilda akhirnya ikut. Pikiranku sekarang hanya mama. Nanti di Jakarta hanya tinggal bertiga saja. Aku juga malah terfikir untuk berhenti kuliah atau melanjutkan kuliah di Jakarta, yang berarti aku harus siap dengan konsekuensinya, seperti membutuhkan biaya yang lebih banyak untuk mendaftar kuliah
Mama ditemani si kembar dan diajak masuk oleh tante Lina. Sementara aku memutuskan untuk duduk diluar.
“Ga didalem aa?” tanya Vika
“Aku disini aja” kataku
“Terus rencana aa apa?” tanya Vika
“Aku mau pulang, nemenin mama” kataku
“Terus kuliah aa gimana?” tanyanya
“Gatau lah, aku udah ga mikirin. Aku cuma pengen nemenin mama” kataku
“Harus lanjut ya, kasian almarhum udah kerja keras buat kuliahin aa” kata Vika
“ .. . . “ aku terdiam
“Ada mama aa yang harus aa banggakan juga. Si kembar juga ga mungkin mau liat aa kaya gini. Aa harus semangat. Dan aku bakal nemenin aa sampai akhir” kata Vika
“Makasih” kataku
“Inget, aa ga sendiri. Ada aku, pacar aa, ada mama aa yang selalu doain aa. Ada si kembar yang selalu doain aa juga. Ada temen-temen aa yang pasti support aa terus” katanya
Setelah shalat dzuhur, keluargaku bersiap untuk kembali ke Jakarta
“Arul ikut ma” kataku
“Loh, kamu kan ada kuliah” kata mama
“Arul mau nemenin mama. Lagipula seminggu ini kita tahlilan” kataku
“Terus kuliah kamu gimana?” tanya mama
“Ada jatah absen 3x dari tiap mata kuliah, sama kaya cuti. Arul pake itu selama seminggu aja. Minggu depan Arul kuliah lagi” kataku
“Jangan ngegampangin gitu. Kamu bisa doakan papa dari sini” kata mama
“Ga ma, Arul pengen nemenin mama” kataku
“Yasudah kalau kamu bersih keras. Sekarang siap-siap” kata mama
“Beneran pulang a?” tanya Vika, aku mengangguk
“Nanti aku bakal bilang ke Zaki untuk izin” kataku
“Oh iya, kunci kosan aa mana?” kata Vika
“Ada, buat apa?” tanyaku
“Mana siniin” kata Vika
“Ga usah aneh-aneh” kataku
“Udah mana ih, bawel” kata Vika ngambek
“Yaudah nih” kataku sambil memberikan kunci kosanku
Vika memelukku dengan erat. Aku ga peduli meski dilihat oleh keluargaku dengan Vika. Aku membalas pelukannya seraya aku berbisik
“Aku sayang banget sama kamu. Makasih udah jadi penguatku selama ini” bisikku
“Kamu punya aku. Kita akan lewati semuanya” bisik Vika
“Aku pulang” kataku sambil melepas pelukanku
“Papa sama mama pulang dulu. Kamu baik-baik disini” kata om Tio pada Vika
“Iya papa, tenang aja” kata Vika
Akupun naik ke mobil bersama om Tio dan tante Hilda. Tentunya dengan si kembar dan sekarang mama ikut di mobil ini. Sore harinya kami tiba dirumah dan aku langsung membereskan rumah dengan memindahkan beberapa perabot yang sebelumnya dipindahkan. Seminggu kedepan kami akan mengadakan tahlilan dirumah. Pada awalnya tante Hilda menawarkan untuk mengadakan acaranya di rumah tante Lina, tapi mama menolak. Lagipula, minggu depan kami akan kembali berziarah ke makam.
Enam hari berlalu. Besok pagi aku dan keluarga akan kembali ke Bandung. Pada awalnya, mama ga mau karena aku pasti cape kalau harus bulak-balik pakai mobil nganter mereka. Pada akhirnya, aku berfikir untuk mencari seorang supir. Aku jadi teringat dengan supirnya om Tio dulu. Apa beliau masih kerja disana? Apa aku minta tolong beliau saja? Tapi ga enak juga, meskipun memang aku yang akan bayar beliau. Pada akhirnya aku putuskan untuk aku saja yang membawa mobil.
“Kamu yakin kuat? Mama kasian sama kamu, pasti cape. Udah seminggu juga kamu ga kuliah” kata mama
“Gapapa ma, lagipula ada jatah absen kok. Belum lewat batas masih bisa Arul kejar” kataku
“Yaudah, tapi kalau cape istirahat dulu. Jangan dipaksain” kata mama
“Iya mama tenang aja” kataku
Setelah shalat subuh, tepat 7 hari kepergian almarhum papa kami berangkat ke Bandung. Kami tiba di Bandung jam 7 pagi. Kami langsung menuju kosanku untuk beristirahat sejenak sebelum kami berangkat ke makam. Jika di jadwal, hari ini ga ada kuliah karena akhir pekan. Jadi suasana kosan sedikit ramai. Setelah selesai ziarah makam papa, kakek dan nenek, si kembar dan mama kembali ke mobil meninggalkanku
“Arul janji bakal jaga mama dan si kembar. Arul juga bakal jadi orang yang berhasil. Papa yang tenang disana” kataku
Setelah beberapa saat, aku kembali ke mobilku.
“Ke kosan dulu ya” kataku
“Emang gapapa?” tanya mama
“Gapapa” jawabku
“Ga nginep gapapa? Soalnya nanti malam mama ada perlu” kata mama
“Perlu apa ma?” tanyaku
“Mama nunggu tamu nanti malam” kata mama
“Oh iya ma, gapapa. Arul besok atau lusa ke Bandung laginya” kataku
Setibanya di kosan, aku disapa oleh beberapa penghuni yang sudah saling mengenal. Dan ternyata bu Sofi juga sedang kesini.
“Eh nak Arul” sapa bu Sofi
“Iya bu” jawabku
“Ini siapa?” tanya beliau
“Ini mama, dan adik-adik saya” kataku
Singkat cerita mereka berkenalan. Aku juga memberitahu tentang maksud kedatangan keluargaku kesini
“Duh, ibu turut berduka ya” kata bu Sofi
“Makasih bu” kata mama
“Maaf ya tempatnya kaya gini” kata bu Sofi
“Gapapa kok, Arul ga macem-macem kan?” tanya mama
“Hehe engga kok bu” kata bu Sofi “Kalau gitu saya pamit dulu, masih ada perlu hehe” lanjutnya
“Iya bu” kataku
Akupun mengajak mereka menuju kamarku dan membiarkan mereka beristirahat disini. Aku pamit keluar sebentar ingin membelikan mama dan si kembar makanan juga.
“Eh, kemana aja lu? Seminggu ini ga keliatan” kata Zaki
“Ada dirumah gue” jawabku dingin
“Ngeri juga, baru masuk udah mulai mangkir” kata Zaki
“Iya” jawabku tanpa ada mood
Akupun pergi keluar dari kosan. Saat di gerbang, aku berpapasan dengan Riska
“Arul” panggilnya
“Iya” jawabku
“Lo kemana aja? Ga ada kabar seminggu ini” kata Riska
“Gue pulang. Sore ini juga gue balik lagi ke Jakarta” kataku
“Loh, ngapain? Tapi senin kuliah kan?” tanya Riska
“Nganter keluarga gue. Senin ya, insyaAllah” kataku
“Keluarga lo? Keluarga lo lagi disini?” tanya Riska
“Iya. Gue kedepan dulu, mau cari makanan buat mereka” kataku
“Yaudah gue ikut ya” kata Riska
Karena pada dasarnya ayah dan ibu adalah partner yang akan selalu memberikan kasih sayang terbaik untuk anak-anaknya. Di saat ibu tengah lelah dengan beragam aktivitas rumah tangga dan membutuhkan waktu untuk beristirahat, maka di saat itulah sosok ayah yang akan menemani anak-anaknya.
Sehingga, jika suatu saat ayah pergi meninggalkanmu untuk selamanya, ini akan menjadi luka yang teramat dalam. Bayang-bayang kenangan bersama ayah semasa hidup akan selalu hadir dan itu akan membuatmu semakin merindukannya
Akupun tak dapat menahan tangisku. Terutama ketika aku melihat wajah papa. Mama juga mencoba menenangkanku
“Kamu yang sabar ya nak” kata mama
“Kenapa papa pergi sebelum aku bisa bikin papa bangga” kataku
“Kamu ga boleh gitu. Ini sudah kehendak Allah” kata mama
“Kalau Arul ga pulang kerumah dan tetep disini” kataku
“Kamu pulang, atau disini, kalau Allah udah berkehendak, kita ga bisa apa-apa” kata mama
“Seengganya aku bisa nemenin papa” kata mama
“Sudah, ikhlas, yang kuat. Sekarang kamu pulang, kabari pa ustadz untuk bantu mengurusi jenazah papa. Ani juga ikut ya, beres-beres dirumah bantuin aa” kata mama “Ana, disini temenin mama, bantu bawa barang” lanjut mama
Akupun menuruti kata mama. Sementara nanti mama akan naik ambulans bareng alm papa. Setelah dirumah dan menghubungi pak ustadz, beliau ikut mempersiapkan untuk mengurus jenazah alm papa. Tak lama juga masjid mengumumkan berita duka atas kepergian papa. Dirumah, aku membantu membereskan barang-barang untuk tahlilan dirumah. Tidak hanya aku, satpam dan beberapa tetangga ikut membantu kami.
“Assalamualaikum” ucap seseorang”
“Waalaikumussalam” jawabku
“Nak Arul” panggil tante Hilda, mamanya Vika
“Iya tante” kataku
“Tante turut berduka ya” katanya
“Makasih tante” jawabku
“Kami turut berduka ya, nak Arul” kata om Tio
“Iya om, makasih banyak, saya mewakili papa, minta maaf kalau papa ada salah sama om dan tante, dengan keluarga Vika” kataku
“Oh iya, Vika sudah kamu kabari?” tanya tante Hilda
“Belum, Arul belum sempat, nanti aja kalau waktunya pas” kataku
“Yasudah, nanti biar tante yang kabari. Sekarang tante ikut bantu-bantu ya” katanya
Aku hanya mengangguk, dan om Tio juga ikut membantu persiapan. Ga lama ambulan yang membawa jenazah papa pulang, tiba. Pada jam 5 pagi, setelah dishalatkan, kami berangkat ke Bandung untuk mengantar papa menuju peristirahatan terakhir. Karena keluarga kami semua berasal dari Bandung dan semua yang sudah berpulang dimakamkan di Bandung.
Restoran yang kini hanya satu-satunya tersisa di Jakarta diliburkan selama satu minggu atas permintaan mama. Seluruh karyawan juga ikut mengantar alm papa menuju peristirahatan terakhirnya. Semua ongkos dan segala keperluan lainnya dipenuhi oleh keluarga kami. Jam 7 pagi kami tiba di Bandung. Kami sampai dengan sedikit cepat karena dikawal juga oleh pihak berwajib yang diminta oleh para karyawan restoran.
“Kembali lagi kesini” ucapku dalam hati
Aku naik mobil om Tio bersama tante Hilda dan si kembar. Selama perjalanan, si kembar ga banyak bicara seperti biasanya. Kali ini mereka diam sediam-diamnya. Aku dapat melihat mereka merasa sangat terpukul atas kepergian papa yang begitu cepat ini. Tibalah kami di pemakaman yang berada tak jauh dari rumah yang pernah ditempati dulu. Pemakaman yang dulu juga pernah kudatangi ketika aku berziarah ke makam kakek dan nenek.
Upacara pemakamanpun selesai dilakukan. Matahari mulai tinggi dan beberapa orang yang membantu sudah meninggalkan makam dan menunggu dimobil, termasuk rombongan karyawan restoran yang terlihat dengan mengobrol dengan para pihak berwajib yang mengawal kami tadi.
Aku, mama, om Tio, tante Hilda, si kembar masih berada di makam karena kami juga sekaligus berziarah ke makam kakek dan nenek. Aku duduk disebuah kursi kayu yang berada dibawah pohon besar, membayangkan sisa hariku takkan lagi melihat wajah papa yang selama ini telah mendidikku. Aku bahkan masih dapat mendengar suara papa yang selalu menasehatiku, meleraiku ketika aku adu argumen dengan si kembar, dan semua hal yang pernah terjadi.
Airmataku kembali mengalir di pipiku. Setelah papa ga ada, aku akan menjadi tulang punggung keluarga, karena aku juga ga mungkin membiarkan mama kerja. Aku ingin mama benar-benar menikmati masa tuanya dengan ketenangan. Termasuk si kembar. Aku juga ingin mereka fokus menggapai impian mereka, sekalipun aku harus mengorbankan masa depanku. Tiba-tiba seseorang duduk disampingku, dan ketika aku menoleh, ternyata Vika. Ga kaget kalau Vika datang, karena lokasi pemakaman dan komplek rumah tante Lina, dan juga makam memang tidak terlalu jauh.
“Kamu kenapa ga cerita” kata Vika dengan mata yang berkaca-kaca
“Aku sama sekali ga megang HP. Maaf” kataku
Semenjak kabar papa meninggal, aku benar-benar ga memegang handphone, semua yang dihubungi menggunakan handphone milik si kembar dan HP mama. Bahkan Hpku saja baterainya habis.
“Aku turut berduka a” kata Vika sambil memelukku
“Kenapa secepat ini” kataku
“Semua udah jadi kehendakNya a” kata Vika
“Aku bahkan ga menemani papa di saat terakhirnya” kataku
“Aa salah. Aa udah nemenin sampai tempat peristirahatan terakhir” kata Vika
“Sehari sebelum papa meninggal, papa marah karena aku pulang tanpa bilang dulu. Entah kenapa aku ingin pulang saat itu. Tapi papa marah karena aku harusnya mementingkan kuliahku” kataku
“Aku percaya, ikatan batin anak dengan orang tua itu kuat. Dan almarhum pasti bangga sama aa” kata Vika
Aku hanya terdiam, dan keheningan terjadi beberapa saat. Sampai keluargaku datang menghampiriku. Dan salah satu karyawan juga meminta izin untuk kembali ke Jakarta. Tapi sebelum itu, mama mengobrol dengan managernya
“Kalian libur kerja dulu saja satu minggu. Hitung-hitung istirahat. Soal gaji, tetap dibayar seperti biasa, dan masa cuti kalian juga ga akan dipotong. Dan sampaikan salam kami untuk semua karyawan dan keluarga” kata mama
“Baik bu, terima kasih banyak, ksekali lagi, kami turut berduka cita, karena selama ini almarhum juga sudah baik sama kami semua. Kami akan tetap menjalankan restoran dengan sebaik mungkin” kata Irfan, manager restoran
“Terima kasih, kalian boleh pulang sekarang” kata mama
Merekapun pergi dan meninggalkan keluargaku dan keluarga om Tio. Kami di ajak menuju rumah tante Lina untuk beristirahat. Awalnya mama menolak, tapi karena bujukan tante Hilda akhirnya ikut. Pikiranku sekarang hanya mama. Nanti di Jakarta hanya tinggal bertiga saja. Aku juga malah terfikir untuk berhenti kuliah atau melanjutkan kuliah di Jakarta, yang berarti aku harus siap dengan konsekuensinya, seperti membutuhkan biaya yang lebih banyak untuk mendaftar kuliah
Mama ditemani si kembar dan diajak masuk oleh tante Lina. Sementara aku memutuskan untuk duduk diluar.
“Ga didalem aa?” tanya Vika
“Aku disini aja” kataku
“Terus rencana aa apa?” tanya Vika
“Aku mau pulang, nemenin mama” kataku
“Terus kuliah aa gimana?” tanyanya
“Gatau lah, aku udah ga mikirin. Aku cuma pengen nemenin mama” kataku
“Harus lanjut ya, kasian almarhum udah kerja keras buat kuliahin aa” kata Vika
“ .. . . “ aku terdiam
“Ada mama aa yang harus aa banggakan juga. Si kembar juga ga mungkin mau liat aa kaya gini. Aa harus semangat. Dan aku bakal nemenin aa sampai akhir” kata Vika
“Makasih” kataku
“Inget, aa ga sendiri. Ada aku, pacar aa, ada mama aa yang selalu doain aa. Ada si kembar yang selalu doain aa juga. Ada temen-temen aa yang pasti support aa terus” katanya
Setelah shalat dzuhur, keluargaku bersiap untuk kembali ke Jakarta
“Arul ikut ma” kataku
“Loh, kamu kan ada kuliah” kata mama
“Arul mau nemenin mama. Lagipula seminggu ini kita tahlilan” kataku
“Terus kuliah kamu gimana?” tanya mama
“Ada jatah absen 3x dari tiap mata kuliah, sama kaya cuti. Arul pake itu selama seminggu aja. Minggu depan Arul kuliah lagi” kataku
“Jangan ngegampangin gitu. Kamu bisa doakan papa dari sini” kata mama
“Ga ma, Arul pengen nemenin mama” kataku
“Yasudah kalau kamu bersih keras. Sekarang siap-siap” kata mama
“Beneran pulang a?” tanya Vika, aku mengangguk
“Nanti aku bakal bilang ke Zaki untuk izin” kataku
“Oh iya, kunci kosan aa mana?” kata Vika
“Ada, buat apa?” tanyaku
“Mana siniin” kata Vika
“Ga usah aneh-aneh” kataku
“Udah mana ih, bawel” kata Vika ngambek
“Yaudah nih” kataku sambil memberikan kunci kosanku
Vika memelukku dengan erat. Aku ga peduli meski dilihat oleh keluargaku dengan Vika. Aku membalas pelukannya seraya aku berbisik
“Aku sayang banget sama kamu. Makasih udah jadi penguatku selama ini” bisikku
“Kamu punya aku. Kita akan lewati semuanya” bisik Vika
“Aku pulang” kataku sambil melepas pelukanku
“Papa sama mama pulang dulu. Kamu baik-baik disini” kata om Tio pada Vika
“Iya papa, tenang aja” kata Vika
Akupun naik ke mobil bersama om Tio dan tante Hilda. Tentunya dengan si kembar dan sekarang mama ikut di mobil ini. Sore harinya kami tiba dirumah dan aku langsung membereskan rumah dengan memindahkan beberapa perabot yang sebelumnya dipindahkan. Seminggu kedepan kami akan mengadakan tahlilan dirumah. Pada awalnya tante Hilda menawarkan untuk mengadakan acaranya di rumah tante Lina, tapi mama menolak. Lagipula, minggu depan kami akan kembali berziarah ke makam.
Enam hari berlalu. Besok pagi aku dan keluarga akan kembali ke Bandung. Pada awalnya, mama ga mau karena aku pasti cape kalau harus bulak-balik pakai mobil nganter mereka. Pada akhirnya, aku berfikir untuk mencari seorang supir. Aku jadi teringat dengan supirnya om Tio dulu. Apa beliau masih kerja disana? Apa aku minta tolong beliau saja? Tapi ga enak juga, meskipun memang aku yang akan bayar beliau. Pada akhirnya aku putuskan untuk aku saja yang membawa mobil.
“Kamu yakin kuat? Mama kasian sama kamu, pasti cape. Udah seminggu juga kamu ga kuliah” kata mama
“Gapapa ma, lagipula ada jatah absen kok. Belum lewat batas masih bisa Arul kejar” kataku
“Yaudah, tapi kalau cape istirahat dulu. Jangan dipaksain” kata mama
“Iya mama tenang aja” kataku
Setelah shalat subuh, tepat 7 hari kepergian almarhum papa kami berangkat ke Bandung. Kami tiba di Bandung jam 7 pagi. Kami langsung menuju kosanku untuk beristirahat sejenak sebelum kami berangkat ke makam. Jika di jadwal, hari ini ga ada kuliah karena akhir pekan. Jadi suasana kosan sedikit ramai. Setelah selesai ziarah makam papa, kakek dan nenek, si kembar dan mama kembali ke mobil meninggalkanku
“Arul janji bakal jaga mama dan si kembar. Arul juga bakal jadi orang yang berhasil. Papa yang tenang disana” kataku
Setelah beberapa saat, aku kembali ke mobilku.
“Ke kosan dulu ya” kataku
“Emang gapapa?” tanya mama
“Gapapa” jawabku
“Ga nginep gapapa? Soalnya nanti malam mama ada perlu” kata mama
“Perlu apa ma?” tanyaku
“Mama nunggu tamu nanti malam” kata mama
“Oh iya ma, gapapa. Arul besok atau lusa ke Bandung laginya” kataku
Setibanya di kosan, aku disapa oleh beberapa penghuni yang sudah saling mengenal. Dan ternyata bu Sofi juga sedang kesini.
“Eh nak Arul” sapa bu Sofi
“Iya bu” jawabku
“Ini siapa?” tanya beliau
“Ini mama, dan adik-adik saya” kataku
Singkat cerita mereka berkenalan. Aku juga memberitahu tentang maksud kedatangan keluargaku kesini
“Duh, ibu turut berduka ya” kata bu Sofi
“Makasih bu” kata mama
“Maaf ya tempatnya kaya gini” kata bu Sofi
“Gapapa kok, Arul ga macem-macem kan?” tanya mama
“Hehe engga kok bu” kata bu Sofi “Kalau gitu saya pamit dulu, masih ada perlu hehe” lanjutnya
“Iya bu” kataku
Akupun mengajak mereka menuju kamarku dan membiarkan mereka beristirahat disini. Aku pamit keluar sebentar ingin membelikan mama dan si kembar makanan juga.
“Eh, kemana aja lu? Seminggu ini ga keliatan” kata Zaki
“Ada dirumah gue” jawabku dingin
“Ngeri juga, baru masuk udah mulai mangkir” kata Zaki
“Iya” jawabku tanpa ada mood
Akupun pergi keluar dari kosan. Saat di gerbang, aku berpapasan dengan Riska
“Arul” panggilnya
“Iya” jawabku
“Lo kemana aja? Ga ada kabar seminggu ini” kata Riska
“Gue pulang. Sore ini juga gue balik lagi ke Jakarta” kataku
“Loh, ngapain? Tapi senin kuliah kan?” tanya Riska
“Nganter keluarga gue. Senin ya, insyaAllah” kataku
“Keluarga lo? Keluarga lo lagi disini?” tanya Riska
“Iya. Gue kedepan dulu, mau cari makanan buat mereka” kataku
“Yaudah gue ikut ya” kata Riska
Diubah oleh neopo 11-12-2022 21:15
itkgid dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Tutup