- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Seorang Pramugari (True Story)
...
TS
aymawishy
Kisah Seorang Pramugari (True Story)

Di saat kau merasa hidup sendiri
Dalam kerasnya dunia
Tersenyumlah
Bila kau pun harus berputus asa
Berpikir semua kan berakhir
Tersenyumlah
Kau tak sendiri aku di sini
Menantimu bersama hangatnya mentari
Kau tak sendiri aku di sini
Berikan tanganmu mari kita hadapi
Hidup memang tak selalu seperti
Yang kau inginkan yang kau harapkan
Hadapilah dengan hati tenang dan tetap melangkah
Kau tak sendiri
Perhatikan sekitar coba kau amati
Hidup bukan sekedar tentang patah hati
Dan semua yang terjadi ambil hikmahnya
Om Iwan pun berkata "ambil indahnya"
Kau tak sendiri aku di sini
Memanggilmu bersama hangatnya mentari
Kau tak sendiri kami di sini
Raihlah tanganku bersama kita lewati
Hidup memang tak selalu seperti
Yang kau inginkan yang kau harapkan
Hadapilah dengan hati tenang teruskan melangkah
Kau tak sendiri
Hidup memang tak selalu seperti
Yang kita inginkan yang kita harapkan
Hadapilah dengan hati tenang
Yakinkan dirimu
Kau tak sendiri yeah yeah yeaah
Dalam kerasnya dunia
Tersenyumlah
Bila kau pun harus berputus asa
Berpikir semua kan berakhir
Tersenyumlah
Kau tak sendiri aku di sini
Menantimu bersama hangatnya mentari
Kau tak sendiri aku di sini
Berikan tanganmu mari kita hadapi
Hidup memang tak selalu seperti
Yang kau inginkan yang kau harapkan
Hadapilah dengan hati tenang dan tetap melangkah
Kau tak sendiri
Perhatikan sekitar coba kau amati
Hidup bukan sekedar tentang patah hati
Dan semua yang terjadi ambil hikmahnya
Om Iwan pun berkata "ambil indahnya"
Kau tak sendiri aku di sini
Memanggilmu bersama hangatnya mentari
Kau tak sendiri kami di sini
Raihlah tanganku bersama kita lewati
Hidup memang tak selalu seperti
Yang kau inginkan yang kau harapkan
Hadapilah dengan hati tenang teruskan melangkah
Kau tak sendiri
Hidup memang tak selalu seperti
Yang kita inginkan yang kita harapkan
Hadapilah dengan hati tenang
Yakinkan dirimu
Kau tak sendiri yeah yeah yeaah
Quote:
Hai, aku Anes, nama panggilan dari pemilik akun aymawishy ini. Semasa sekolah, aku tinggal di sebuah Kabupaten di Jawa Timur bagian timur.
Mungkin yang sudah membaca threadku yang menceritakan bagaimana kisahku semasa SMPakan lebih tahu bagaimana kejamnya orang-orang di sekitarku memperlakukanku.
Tapi, seperti yang Papaku bilang, aku harus tetap semangat dan harus terus berperilaku baik meski dijahatin.
Selepas SMA, aku merantau ke Surabaya. Disaat itulah aku benar-benar ingin hidup mandiri tanpa bantuan dari Papa. Karenanya, aku harus bekerja agar bisa kuliah.
Awal kehidupanku di perantauan, sangatlah penuh perjuangan.
Ngekos di kosan kumuh, aku pernah. Disana aku ngerasain tidur diatas kasur yang basah karena atap kamarku bocor selama musim penghujan. Dan juga kamar mandi yang lantainya meski disikat berkali-kali pakai WPC, tetap berwarna hitam karena lumutan.
Selain itu, selama 3 bulan berturut-turut, tiap harinya hanya makan roti seharga seribuan yang aku beli di warung kopi dekat kantor tempat aku magang. Yaa meski, alhamdulillahnya ada aja orang baik yang ngasih aku makan. Ohya, karena sering banget makan roti tanpa makan nasi, aku jadi punya “maag” hehehe.
Rasanya jika diingat, masih banyak perjuangan-perjuangan yang aku lalui sejak tahun 2012.
Mungkin yang sudah membaca threadku yang menceritakan bagaimana kisahku semasa SMPakan lebih tahu bagaimana kejamnya orang-orang di sekitarku memperlakukanku.
Tapi, seperti yang Papaku bilang, aku harus tetap semangat dan harus terus berperilaku baik meski dijahatin.
Selepas SMA, aku merantau ke Surabaya. Disaat itulah aku benar-benar ingin hidup mandiri tanpa bantuan dari Papa. Karenanya, aku harus bekerja agar bisa kuliah.
Awal kehidupanku di perantauan, sangatlah penuh perjuangan.
Ngekos di kosan kumuh, aku pernah. Disana aku ngerasain tidur diatas kasur yang basah karena atap kamarku bocor selama musim penghujan. Dan juga kamar mandi yang lantainya meski disikat berkali-kali pakai WPC, tetap berwarna hitam karena lumutan.
Selain itu, selama 3 bulan berturut-turut, tiap harinya hanya makan roti seharga seribuan yang aku beli di warung kopi dekat kantor tempat aku magang. Yaa meski, alhamdulillahnya ada aja orang baik yang ngasih aku makan. Ohya, karena sering banget makan roti tanpa makan nasi, aku jadi punya “maag” hehehe.
Rasanya jika diingat, masih banyak perjuangan-perjuangan yang aku lalui sejak tahun 2012.
Ohya..
Saat nanti aku berbagi cerita di thread ini, tolong jangan dihujat ya.
Sebab..
Aku bukanlah seorang penulis, jadi jangan pernah berharap lebih terhadap tulisan yang aku bagi.
Aku juga bukanlah orang hebat yang hanya ingin berbagi pengalaman yang aku alami.
Saat nanti aku berbagi cerita di thread ini, tolong jangan dihujat ya.
Sebab..
Aku bukanlah seorang penulis, jadi jangan pernah berharap lebih terhadap tulisan yang aku bagi.
Aku juga bukanlah orang hebat yang hanya ingin berbagi pengalaman yang aku alami.
Pokok Isi Cerita
Quote:
#Bagian 1
-Part 1 : Awal Mula
-Part 2 : Menjemput Restu
-Part 3 : Tahap Awal
-Part 4 : Pantang Mundur
-Part 5 : Tentang Cinta Pertama
-Part 6 : Terjebak Nostalgia
-Part 7 : Mungkin Nanti
-Part 8 : Undangan?
-Part 1 : Awal Mula
-Part 2 : Menjemput Restu
-Part 3 : Tahap Awal
-Part 4 : Pantang Mundur
-Part 5 : Tentang Cinta Pertama
-Part 6 : Terjebak Nostalgia
-Part 7 : Mungkin Nanti
-Part 8 : Undangan?
Quote:
#Bagian 2 : Proses Perekrutan Pramugari
-Part 9 : Hi, Jakarta! Be Nice Please!
-Part 10 : Hall of Fame
-Part 11 : Berpisah dengan Shasa, Bertemu dengan Wildan!
-Part 12 : Papa Yang Makin Menua
-Part 13 : Manis Dan Pahit
-Part 14 : Yok Opo Seh!
-Part 15 : Dikirim Malaikat Baik Yang Menjelma Menjadi Manusia
-Part 16 : Medical Examination
-Part 17 : Curhat Dadakan, Berujung Menyesakkan
-Part 18 : Menjelang Tahun Baru
-Part 19 : Selamat Datang Tahun 2017!
-Part 20 : Made Darma
-Part 21 : Hari Yang Kutunggu
-Part 22 : PANTUKHIR!
-Part 9 : Hi, Jakarta! Be Nice Please!
-Part 10 : Hall of Fame
-Part 11 : Berpisah dengan Shasa, Bertemu dengan Wildan!
-Part 12 : Papa Yang Makin Menua
-Part 13 : Manis Dan Pahit
-Part 14 : Yok Opo Seh!
-Part 15 : Dikirim Malaikat Baik Yang Menjelma Menjadi Manusia
-Part 16 : Medical Examination
-Part 17 : Curhat Dadakan, Berujung Menyesakkan
-Part 18 : Menjelang Tahun Baru
-Part 19 : Selamat Datang Tahun 2017!
-Part 20 : Made Darma
-Part 21 : Hari Yang Kutunggu
-Part 22 : PANTUKHIR!
Quote:
#Bagian 3
-Part 23 : Kesempatan Kedua
-Part 24 : Accedere
-Part 25 : Tentang Rey!
-Part 26 : Become In Love
-Part 27 : Buket Mawar Merah
-Part 28 : Out Of Control
-Part 29 : Di Zangrandi
-Part 30 : Pantukhir Kedua
-Part 31 : Si Paling Inisiatif
-Part 32 : Agnes
-Part 33 : Cemburu
-Part 34 : Rey!?
-Part 35 : Ternyata…
-Part 36 : Di Puncak Bromo
-Part 37 : Berpisah
-Part 38 : Hasil Pantukhir
-Part 39 : Tyas!
-Part 40 : Di Kampung Halaman
-Part 41 : Berpamitan
-Part 23 : Kesempatan Kedua
-Part 24 : Accedere
-Part 25 : Tentang Rey!
-Part 26 : Become In Love
-Part 27 : Buket Mawar Merah
-Part 28 : Out Of Control
-Part 29 : Di Zangrandi
-Part 30 : Pantukhir Kedua
-Part 31 : Si Paling Inisiatif
-Part 32 : Agnes
-Part 33 : Cemburu
-Part 34 : Rey!?
-Part 35 : Ternyata…
-Part 36 : Di Puncak Bromo
-Part 37 : Berpisah
-Part 38 : Hasil Pantukhir
-Part 39 : Tyas!
-Part 40 : Di Kampung Halaman
-Part 41 : Berpamitan
Quote:
#Bagian 4 : Initial Flight Attendant’s Ground Training
-Briefing and Sign Contract :
-Part 42 : Sekilas Tentang Ground Training
-Part 43 : Kog Begini Amat Sih?!
###
-Part 44 : Drama Perkara Sepatu
-Part 45 - Astaga!!
-Part 46 : KACAU!
-Part 47 : Drama di Hari Pertama
-Part 48 : Apa Benar FA Harus Deketin Pilot Agar Jam Terbangnya Banyak?
-Part 49 : Jawaban Dari Pertanyaan Mia
-Part 50 : Learning By Doing
-Part 51 : Tentang Chapter Lima dan CET
-Part 52 : Rey Datang Lagi
-Part 53 : Tersimpul Luka Kedua Kali
-Part 54 : White Horse
-Part 55 : Menjelang Flight Training
-Part 56 : Overthinking!
-Briefing and Sign Contract :
-Part 42 : Sekilas Tentang Ground Training
-Part 43 : Kog Begini Amat Sih?!
###
-Part 44 : Drama Perkara Sepatu
-Part 45 - Astaga!!
-Part 46 : KACAU!
-Part 47 : Drama di Hari Pertama
-Part 48 : Apa Benar FA Harus Deketin Pilot Agar Jam Terbangnya Banyak?
-Part 49 : Jawaban Dari Pertanyaan Mia
-Part 50 : Learning By Doing
-Part 51 : Tentang Chapter Lima dan CET
-Part 52 : Rey Datang Lagi
-Part 53 : Tersimpul Luka Kedua Kali
-Part 54 : White Horse
-Part 55 : Menjelang Flight Training
-Part 56 : Overthinking!
Quote:
#Bagian 5 : Flight Training
-Part 57 : Junior Selalu Salah
-Part 58 : Briefing Before Flight
-Part 59 : About Preflight Check
-Part 60 : Company Check
-Part 61 : Berjuang Lagi!
-Part 62 : Jungle And Sea Survival Part I
-Part 63 : Jungle And Sea Survival Part II
-Part 64 : Jungle And Sea Survival Part III
-Part 65 : Jungle And Sea Survival Part IV
-Part 66 : CCFA & DGCA Check
-Part 57 : Junior Selalu Salah
-Part 58 : Briefing Before Flight
-Part 59 : About Preflight Check
-Part 60 : Company Check
-Part 61 : Berjuang Lagi!
-Part 62 : Jungle And Sea Survival Part I
-Part 63 : Jungle And Sea Survival Part II
-Part 64 : Jungle And Sea Survival Part III
-Part 65 : Jungle And Sea Survival Part IV
-Part 66 : CCFA & DGCA Check
Quote:
#Bagian 6 : Kehidupan Seorang Pramugari
-Part 67 : Persiapan Untuk Terbang
-Part 68 : My First Flight
-Part 69 : Rian dan Ihsan
-Part 70 : Setan Penjaga Kamar Vs Senior Ala Ala
-Part 71 : Kisah Kasih Tak Sampai
-Part 72 : Padaido
-Part 73 : Hubungan Tanpa Status
-Part 74 : Mimpi Aneh
-Part 75 : Putri Kebaya
-Part 76 : Kamu Mau Jadi Pramugari Yang Seperti Apa?
-Part 77 : Turbulensi
-Part 78 : Hari-hari Bersama Papa
-Part 79 : Papa, It’s My Birthday!
-Part 80 : Duka Yang Bertubi
-Part 81 : Flashback to 2017
-Part 82 : Tentang Aku dan Dia
-Part 67 : Persiapan Untuk Terbang
-Part 68 : My First Flight
-Part 69 : Rian dan Ihsan
-Part 70 : Setan Penjaga Kamar Vs Senior Ala Ala
-Part 71 : Kisah Kasih Tak Sampai
-Part 72 : Padaido
-Part 73 : Hubungan Tanpa Status
-Part 74 : Mimpi Aneh
-Part 75 : Putri Kebaya
-Part 76 : Kamu Mau Jadi Pramugari Yang Seperti Apa?
-Part 77 : Turbulensi
-Part 78 : Hari-hari Bersama Papa
-Part 79 : Papa, It’s My Birthday!
-Part 80 : Duka Yang Bertubi
-Part 81 : Flashback to 2017
-Part 82 : Tentang Aku dan Dia
Diubah oleh aymawishy 02-02-2024 08:38
teguhjepang9932 dan 48 lainnya memberi reputasi
49
64.7K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aymawishy
#128
Part 33 - Cemburu
Spoiler for Cemburu:
Terasa seperti ada air yang perlahan meresap pada bajuku dan mengenai permukaan kulit di pundak kananku. Air yang sedikit hangat itu ku ketahui berasal dari air mata Rey yang entah sedang bermimpi apa sampai bisa begitu. Aku hanya bisa diam terpaku. Serta memilih untuk berpura-pura tidur ketika Rey mulai terbangun.
Mungkin inilah caraku untuk menjaga hatiku agar tak terluka begitu dalam jika mengetahui kebenaran tentangnya yang ternyata belum bisa melupakan masa lalunya.
———
Perjalanan kami dari Surabaya menuju Songa Rafting memakan waktu kurang lebih tiga jam tiga puluh menit. Lamanya perjalanan terbayarkan dengan pemandangan indah pepohonan hijau saat kami mulai memasuki kawasan wisata itu.
Karena hari itu bertepatan dengan akhir pekan, jumlah pengunjung tiga kali lipat lebih banyak dari hari biasanya. Mereka kebanyakan berasal dari perusahaan-perusahaan yang tengah mengadakan family gathering.Itulah mengapa di pelataran parkir ada banyak bus yang sedang terparkir dengan spanduk bertuliskan nama perusahaan yang berbeda-beda.
“Yey akhirnya sampe juga!”, kata Titin. Ohya, aku yang tadinya pura-pura tidur, akhirnya beneran tertidur dan kebangun gegara suara kamera Titin yang sudah berhasil mengambil poseku yang sedang menganga. Aku pikir hanya Titin yang heboh saat itu, ternyata semua orang di dalam mobil, apalagi Rey. Aku hanya membalas Rey dengan tatapan sinis yang disambut dengan kecupan manis yang mendarat di pipi. “Huuuuu kamu gemesin!”, ujarnya setelahnya. Sedang aku sibuk memberikan isyarat dalam mimik wajah yang galak untuk memperingatkannya untuk ga ciumin aku seenak jidat. Tapi dianya malah nyubitin pipiku dengan kedua tangannya.
Setelah kami keluar dari mobil, terlihat hanya aku yang menggunakan sandal jepit merk swallow berwarna hijau ini. Sedang mereka memakai sandal gunung berwarna sama, hitam.
“Say, kog kamu malah jepitan piye toh?”, tanya Titin. Lalu aku memperlihatkan bagian belakang kakiku yang sedang lecet akibat memakai sepatu baru murahan untuk aku pakai di pantukhir beberapa hari lalu.
“Nes, itu lecetnya parah loh!”, Rey yang baru mengetahuinya, sedikit panik dan berlutut dengan satu kaki melihat keadaan lukaku. Hmm emang sih hari itu lukanya makin basah gitu, soalnya kan saat aku kerja harus pakai sepatu pantofel. Ya mau ga mau lecetnya makin-makin meski sudah aku obatin.
“Hehe gapapa, lecet doang kog!”, ujarku menenangkan Rey.
“Yaudah yuk kesana, Pak Eri dan Ibuk udah nungguin tuh!”, lanjutku sembari menunjuk ke arah Pak Eri dan istri yang sepertinya sudah mendapatkan tempat untuk kami sarapan.
Dari kejauhan, aku melihat mereka sedang mengampar tikar di atas rerumputan hijau. Saat kami sudah tiba, mereka tengah sibuk mengeluarkan kotak-kotak bekal dan ditatanya begitu rapi.
“Kenapa?”, tanya Rey yang melihatku sedang menatap kagum pada Pak Eri dan Istrinya.
“Kog mereka cepet banget gitu sih nyiapin semuanya.. kan aku ga sempet bantuin.”
“Hahaha…!”
“Nah sudah selesai!! Loh mana Mba Titin sama Mas Odinya, Mas?”, ujar Pak Eri dan ia menanyakan keberadaan Titin dan Odi yang tak datang bersama kami.
“Masih ke toilet, Pak!”, jawab Rey.
“Silahkan duduk Mba Anes!”, ujar Ibuk mempersilahkanku duduk.
“Makasih Ibuk.. Ohya, ini Ibuk masak semuanya sendiri?”, tanyaku.
“Enggak, ini dibantuin juga sama Mama Mas Rey. Mama Mas Rey kan lebih jago masaknya dibandingkan saya!”, ceritanya dengan sangat antusias.
“Ohyaa??”, responsku sembari mengangguk-ngangguk dengan wajah sumringah.
Tak lama dari itu, Titin dan Odi bergabung dengan kami.
“Sini siniii!!”, ujar Pak Eri ramah menunjukkan tempat duduk untuk Odi dan Titin.
“Nah, karena udah lengkap, kalian makanlah dulu ya! Saya sama istri mau liat-liat sekeliling dulu!”, ujar Pak Eri lagi.
“Loh kog ga ikut sarapan Pak?”, tanyaku.
“Hehe kasih tau Mas Rey, kenapa saya dan istri ga sarapan!”, jawab Pak Eri.
“Gapapa Nes, mereka emang ga bisa sarapan! Pernah sekalinya sarapan , merekanya mules seharian haha!!”
“Ohgitu yaampuun!!”
“Haha perut wong ndeso yo ngene kui, Mba!!Monggo-monggo dimakan Mba-Mba, Mas..”, kata Pak Eri sebelum akhirnya ia pergi bersama istrinya meninggalkan banyak bekal makanan sehat untuk kami berempat.
“Mas, ini rame gini kita kebagian apa ga ya untuk raftingnya?”, tanya Odi yang baru saja melahap salad sayurnya.
“Tenang Di, amaan! Kita kebagian untuk naik ke basecamp atas jam satu-an ntar.”
“Wah mantap, Mas! Iso shalat sek awak dewe! (Bisa shalat dulu kitanya)”
“Ini kan masih jam sepuluh kurang, pada mau main flying fox ga?”, tanya Rey sembari mengupas jeruk kemudian disuapinya padaku.
“Wah maau akuu!!”, jawab Titin penuh semangat.
“Wes nda usah Mas Rey, buat rafting aja biayanya pasti udah abis banyak! Udah cukup rafting aja!”, celetuk Odi yang berkebalikan dengan Titin.
Aku hanya tersenyum melihat mereka yang saling menyenggol. Begitu juga dengan Rey, dia tersenyum lepas melihat tingkah kocak sahabatku. Melihatnya tersenyum begitu, aku meyakini bahwa dia lupa akan apa yang tadi muncul dalam mimpinya.
“Mas, ini roti isinya apa kog enak gini?”, tanya Titin pada Rey.
“Itu namanya tuna sandwich. Jadi isinya babi!”, jawab Rey ngaco tapi malah diladenin sama pasangan koplak yang duduk bersila dihadapanku ini.
Butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk kami bisa menghabiskan makanan yang telah dihidangkan. Dan kebetulan saat itu Pak Eri sudah kembali berkeliling bersama sang istri.
Alhasil kami dilarang untuk membereskan dan merapikan kotak makan yang cukup berserakan.
“Biar kami saja yang beberes..”, ujar Pak Eri dan diiyakan oleh istrinya.
Karenanya, Rey pun mengajak kami untuk ke suatu ruangan -yang ternyata disewa Rey hanya untuk menyimpan barang-barang kami- yang letaknya lumayan agak jauh dari tempat kami piknik. Disaat itulah, kami berpisah dengan Pak Eri dan juga sang istri, sebab pagi itu mereka berencana untuk bersilaturahmi ke rumah keluarganya yang ternyata tinggal di daerah yang terkenal dengan kota mangga ini.
———
“Rey, aku ga mau ah nyobain!”, ujarku ketika kami sedang mengantre di wahana flying fox.
“Kenapa gitu? Titin aja berani! Liat deh, happy banget dia!”, jawab Rey membuatku seketika melihat Titin yang mendapatkan giliran pertama diantara kami berempat.
“Ya kan aku bukan Titin!”
“Haha kog ketus gitu sih jawabnya. Emang ga sayang udah antre panjang, eh malah ga jadi?”
Aku terdiam cukup lama. Dan setelah dipikir-pikir, Rey ada benarnya, sayang banget kalau tiba-tiba ga jadi, padahal akunya udah ngantre diantrean yang mengular ini sejak tadi.
“Hm jadi beneran ga mau?”, tanya Rey yang kali ini berbisik di telinga kiriku.
“Padahal pemandangan di bawah lintasan flying foxnya bagus banget loh. Kamu juga bisa teriak sekenceng-kencengnya semau kamu nanti.”, lanjut Rey mulai menghasut pikiranku.
“Tapi aku takut ketinggian, Rey!”
“Itu karena kamu belum nyobain! Seru kog sayang, percaya deh!”, kata Rey sembari merangkulku lebih kuat.
Dan benar yang Rey bilang, setelah aku mencoba wahana flying fox untuk pertama kalinya, aku dibuatnya ketagihan!
Gimana enggak, aku bener-bener bisa ngeliat indahnya pemandangan dari ketinggian! Aku juga bisa ngerasain angin sejuk menerpa wajahku di tengah hari yang mulai terik.
Selain itu aku juga merasa lebih plong gitu, mungkin karena aku sempet teriak super kenceng tadi, sampe-sampe diledekin sama Titin dan Odi hehehe.
“Ga berasa loh wes jam rolas! (Ga berasa loh udah jam dua belas!)”, kata Odi saat kami di atas mobil pick-up yang tengah mengantarkan kami menuju ke tempat kami sebelumnya.
“Yang please bisa ga sih ngomongnya biasa aja!!”, Titin yang menegur Odi karena super medhok, padahal Titin ya juga medhok!
“Yoo kon juga sama pek!”, timpal Odi. Entah kenapa kalau orang asli Surabaya ngomong ‘pek’ itu mantap gitu loh.
Rey yang hanya merhatiin Titin dan Odi, hanya bisa tersenyum dan kalau ga tahan, dianya bisa ngakak tiba-tiba.
“Kalian ini pacaran tapi ribut mulu ya. Berasa ngeliat Tom&Jerry secara live!”, ujarnya. Aku hanya tersenyum meresponsnya.
———
Butuh waktu sekitar lima belas menit untuk kami tiba di basecamp pertama. Lalu kami pun segera shalat dan melakukan briefing -yang diberikan langsung oleh guide yang nantinya bakal dampingin kami berarung jeram- sebelum kami melanjutkan perjalanan ke basecamp atas.
Mas Ali adalah nama guide kami. Dia menjelaskan satu per satu apa yang boleh dan tidak boleh kami lakukan selama berarung jeram dengan sangat detail dan jelas. Sehingga tak ada satu pertanyaan pun dari kami disaat dia memberikan kami kesempatan untuk bertanya.
“Yaudah yok berangkat!!”, ajak Mas Ali.
Kami pun berjalan menuju mobil pick up yang sama seperti sebelumnya berada. Dalam perjalan menuju parkiran, ada seseorang yang tengah memanggil-manggil namaku.
“Nes!! Anees!!”
Serempak kami menoleh ke arah suara itu.
Rupanya kini, pria berperawakan gagah itu sedang berjalan ke arahku.
Saat dia sudah mulai mendekat, aku baru menyadari bahwa dia adalah teman SMAku.
“Heei, Dan, kamu apa kabar?”, sapaku.
Dani yang kini sudah berdiri di depanku, membalas sapaanku dengan mencium pipi kanan-kiriku.
Sontak aku kaget dan bingung sampai-sampai ga bisa menghindar.
Kami pun sempat berbincang sebentar meski ku tau Rey sedang menatapku tajam menyimpan amarah yang dia pendam dibalik wajahnya yang mulai memerah.
“Hm ohya Dan, kenalin ini temen-temenku!”, kataku setelahnya.
Mereka pun berkenalan saat sebelum Dani dipanggil oleh rekan-rekannya untuk segera naik ke mobil pick-upnya. Jujur disaat itu, perasaanku ga enak!!
Daan…
Benar saja, di awal perjalanan menuju basecamp atas, Odi dan Titin terlihat diam mematung saat menyadari kalau Rey tak seceria seperti sebelumnya.
“Bagus banget ya pemandangannya…”, kataku ragu tapi masih berusaha untuk mencairkan suasana yang kikuk ini.
Rey tak merespons. Odi dan Titin pun hanya menjawab sekedarnya, tanpa nimpalin seperti biasanya.

Lama kami saling terdiam, namun tiba-tiba Rey mengajak bicara Titin dan Odi lagi. Mereka pun begitu asik bercerita bahkan saling menimpali lelucon, tapi kog rasanya, aku ga diajak yaa.
Aku makin menyadari, bahwa mereka kini sedang mengabaikanku sebab kesalahan yang telah ku perbuat sebelumnya.
Untungnya ga butuh waktu lama untuk kami tiba di basecamp atas. Jadi seenggaknya ga lama-lama juga aku dikacanginnya.
“Mas Mba, silahkan yang mau ke toilet, toiletnya disana. Ohya, jadwal rafting kita masih sepuluh menit lagi ya.”, kata Mas Ali yang baru keluar dari mobil kepada kami yang masih duduk di atas bak mobil.
“Guys, aku ke toilet dulu ya..”, pamit Rey pada Odi dan Titin.
Mereka pun memberikan kode padaku untuk mengikuti Rey. Dan aku terpaksa menuruti mereka.
Dengan langkah perlahan aku mengikuti Rey yang sedang menuju ke toilet. Lalu menunggunya di luar toilet yang sedang dipakainya dengan keadaan jantung yang deg-deg-an.
Tak berapa lama, dia pun keluar dari toilet. Kami sempat bertatap muka, namun dia dengan cepat memalingkan wajahnya.
“Rey…”, panggilku disaat Rey mulai melangkah menjauhiku.
Bukannya menoleh, dia justru terus berjalan tanpa memedulikanku.
Aku yang ga tau harus ngapain, hanya bisa membuntutinya dari belakang dengan kepala yang tertunduk lesu.
Baru kali ini aku melihat Rey begini.
Mungkin inilah caraku untuk menjaga hatiku agar tak terluka begitu dalam jika mengetahui kebenaran tentangnya yang ternyata belum bisa melupakan masa lalunya.
———
Perjalanan kami dari Surabaya menuju Songa Rafting memakan waktu kurang lebih tiga jam tiga puluh menit. Lamanya perjalanan terbayarkan dengan pemandangan indah pepohonan hijau saat kami mulai memasuki kawasan wisata itu.
Karena hari itu bertepatan dengan akhir pekan, jumlah pengunjung tiga kali lipat lebih banyak dari hari biasanya. Mereka kebanyakan berasal dari perusahaan-perusahaan yang tengah mengadakan family gathering.Itulah mengapa di pelataran parkir ada banyak bus yang sedang terparkir dengan spanduk bertuliskan nama perusahaan yang berbeda-beda.
“Yey akhirnya sampe juga!”, kata Titin. Ohya, aku yang tadinya pura-pura tidur, akhirnya beneran tertidur dan kebangun gegara suara kamera Titin yang sudah berhasil mengambil poseku yang sedang menganga. Aku pikir hanya Titin yang heboh saat itu, ternyata semua orang di dalam mobil, apalagi Rey. Aku hanya membalas Rey dengan tatapan sinis yang disambut dengan kecupan manis yang mendarat di pipi. “Huuuuu kamu gemesin!”, ujarnya setelahnya. Sedang aku sibuk memberikan isyarat dalam mimik wajah yang galak untuk memperingatkannya untuk ga ciumin aku seenak jidat. Tapi dianya malah nyubitin pipiku dengan kedua tangannya.
Setelah kami keluar dari mobil, terlihat hanya aku yang menggunakan sandal jepit merk swallow berwarna hijau ini. Sedang mereka memakai sandal gunung berwarna sama, hitam.
“Say, kog kamu malah jepitan piye toh?”, tanya Titin. Lalu aku memperlihatkan bagian belakang kakiku yang sedang lecet akibat memakai sepatu baru murahan untuk aku pakai di pantukhir beberapa hari lalu.
“Nes, itu lecetnya parah loh!”, Rey yang baru mengetahuinya, sedikit panik dan berlutut dengan satu kaki melihat keadaan lukaku. Hmm emang sih hari itu lukanya makin basah gitu, soalnya kan saat aku kerja harus pakai sepatu pantofel. Ya mau ga mau lecetnya makin-makin meski sudah aku obatin.
“Hehe gapapa, lecet doang kog!”, ujarku menenangkan Rey.
“Yaudah yuk kesana, Pak Eri dan Ibuk udah nungguin tuh!”, lanjutku sembari menunjuk ke arah Pak Eri dan istri yang sepertinya sudah mendapatkan tempat untuk kami sarapan.
Dari kejauhan, aku melihat mereka sedang mengampar tikar di atas rerumputan hijau. Saat kami sudah tiba, mereka tengah sibuk mengeluarkan kotak-kotak bekal dan ditatanya begitu rapi.
“Kenapa?”, tanya Rey yang melihatku sedang menatap kagum pada Pak Eri dan Istrinya.
“Kog mereka cepet banget gitu sih nyiapin semuanya.. kan aku ga sempet bantuin.”
“Hahaha…!”
“Nah sudah selesai!! Loh mana Mba Titin sama Mas Odinya, Mas?”, ujar Pak Eri dan ia menanyakan keberadaan Titin dan Odi yang tak datang bersama kami.
“Masih ke toilet, Pak!”, jawab Rey.
“Silahkan duduk Mba Anes!”, ujar Ibuk mempersilahkanku duduk.
“Makasih Ibuk.. Ohya, ini Ibuk masak semuanya sendiri?”, tanyaku.
“Enggak, ini dibantuin juga sama Mama Mas Rey. Mama Mas Rey kan lebih jago masaknya dibandingkan saya!”, ceritanya dengan sangat antusias.
“Ohyaa??”, responsku sembari mengangguk-ngangguk dengan wajah sumringah.
Tak lama dari itu, Titin dan Odi bergabung dengan kami.
“Sini siniii!!”, ujar Pak Eri ramah menunjukkan tempat duduk untuk Odi dan Titin.
“Nah, karena udah lengkap, kalian makanlah dulu ya! Saya sama istri mau liat-liat sekeliling dulu!”, ujar Pak Eri lagi.
“Loh kog ga ikut sarapan Pak?”, tanyaku.
“Hehe kasih tau Mas Rey, kenapa saya dan istri ga sarapan!”, jawab Pak Eri.
“Gapapa Nes, mereka emang ga bisa sarapan! Pernah sekalinya sarapan , merekanya mules seharian haha!!”
“Ohgitu yaampuun!!”
“Haha perut wong ndeso yo ngene kui, Mba!!Monggo-monggo dimakan Mba-Mba, Mas..”, kata Pak Eri sebelum akhirnya ia pergi bersama istrinya meninggalkan banyak bekal makanan sehat untuk kami berempat.
“Mas, ini rame gini kita kebagian apa ga ya untuk raftingnya?”, tanya Odi yang baru saja melahap salad sayurnya.
“Tenang Di, amaan! Kita kebagian untuk naik ke basecamp atas jam satu-an ntar.”
“Wah mantap, Mas! Iso shalat sek awak dewe! (Bisa shalat dulu kitanya)”
“Ini kan masih jam sepuluh kurang, pada mau main flying fox ga?”, tanya Rey sembari mengupas jeruk kemudian disuapinya padaku.
“Wah maau akuu!!”, jawab Titin penuh semangat.
“Wes nda usah Mas Rey, buat rafting aja biayanya pasti udah abis banyak! Udah cukup rafting aja!”, celetuk Odi yang berkebalikan dengan Titin.
Aku hanya tersenyum melihat mereka yang saling menyenggol. Begitu juga dengan Rey, dia tersenyum lepas melihat tingkah kocak sahabatku. Melihatnya tersenyum begitu, aku meyakini bahwa dia lupa akan apa yang tadi muncul dalam mimpinya.
“Mas, ini roti isinya apa kog enak gini?”, tanya Titin pada Rey.
“Itu namanya tuna sandwich. Jadi isinya babi!”, jawab Rey ngaco tapi malah diladenin sama pasangan koplak yang duduk bersila dihadapanku ini.
Butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk kami bisa menghabiskan makanan yang telah dihidangkan. Dan kebetulan saat itu Pak Eri sudah kembali berkeliling bersama sang istri.
Alhasil kami dilarang untuk membereskan dan merapikan kotak makan yang cukup berserakan.
“Biar kami saja yang beberes..”, ujar Pak Eri dan diiyakan oleh istrinya.
Karenanya, Rey pun mengajak kami untuk ke suatu ruangan -yang ternyata disewa Rey hanya untuk menyimpan barang-barang kami- yang letaknya lumayan agak jauh dari tempat kami piknik. Disaat itulah, kami berpisah dengan Pak Eri dan juga sang istri, sebab pagi itu mereka berencana untuk bersilaturahmi ke rumah keluarganya yang ternyata tinggal di daerah yang terkenal dengan kota mangga ini.
———
“Rey, aku ga mau ah nyobain!”, ujarku ketika kami sedang mengantre di wahana flying fox.
“Kenapa gitu? Titin aja berani! Liat deh, happy banget dia!”, jawab Rey membuatku seketika melihat Titin yang mendapatkan giliran pertama diantara kami berempat.
“Ya kan aku bukan Titin!”
“Haha kog ketus gitu sih jawabnya. Emang ga sayang udah antre panjang, eh malah ga jadi?”
Aku terdiam cukup lama. Dan setelah dipikir-pikir, Rey ada benarnya, sayang banget kalau tiba-tiba ga jadi, padahal akunya udah ngantre diantrean yang mengular ini sejak tadi.
“Hm jadi beneran ga mau?”, tanya Rey yang kali ini berbisik di telinga kiriku.
“Padahal pemandangan di bawah lintasan flying foxnya bagus banget loh. Kamu juga bisa teriak sekenceng-kencengnya semau kamu nanti.”, lanjut Rey mulai menghasut pikiranku.
“Tapi aku takut ketinggian, Rey!”
“Itu karena kamu belum nyobain! Seru kog sayang, percaya deh!”, kata Rey sembari merangkulku lebih kuat.
Dan benar yang Rey bilang, setelah aku mencoba wahana flying fox untuk pertama kalinya, aku dibuatnya ketagihan!
Gimana enggak, aku bener-bener bisa ngeliat indahnya pemandangan dari ketinggian! Aku juga bisa ngerasain angin sejuk menerpa wajahku di tengah hari yang mulai terik.
Selain itu aku juga merasa lebih plong gitu, mungkin karena aku sempet teriak super kenceng tadi, sampe-sampe diledekin sama Titin dan Odi hehehe.
“Ga berasa loh wes jam rolas! (Ga berasa loh udah jam dua belas!)”, kata Odi saat kami di atas mobil pick-up yang tengah mengantarkan kami menuju ke tempat kami sebelumnya.
“Yang please bisa ga sih ngomongnya biasa aja!!”, Titin yang menegur Odi karena super medhok, padahal Titin ya juga medhok!
“Yoo kon juga sama pek!”, timpal Odi. Entah kenapa kalau orang asli Surabaya ngomong ‘pek’ itu mantap gitu loh.
Rey yang hanya merhatiin Titin dan Odi, hanya bisa tersenyum dan kalau ga tahan, dianya bisa ngakak tiba-tiba.
“Kalian ini pacaran tapi ribut mulu ya. Berasa ngeliat Tom&Jerry secara live!”, ujarnya. Aku hanya tersenyum meresponsnya.
———
Butuh waktu sekitar lima belas menit untuk kami tiba di basecamp pertama. Lalu kami pun segera shalat dan melakukan briefing -yang diberikan langsung oleh guide yang nantinya bakal dampingin kami berarung jeram- sebelum kami melanjutkan perjalanan ke basecamp atas.
Mas Ali adalah nama guide kami. Dia menjelaskan satu per satu apa yang boleh dan tidak boleh kami lakukan selama berarung jeram dengan sangat detail dan jelas. Sehingga tak ada satu pertanyaan pun dari kami disaat dia memberikan kami kesempatan untuk bertanya.
“Yaudah yok berangkat!!”, ajak Mas Ali.
Kami pun berjalan menuju mobil pick up yang sama seperti sebelumnya berada. Dalam perjalan menuju parkiran, ada seseorang yang tengah memanggil-manggil namaku.
“Nes!! Anees!!”
Serempak kami menoleh ke arah suara itu.
Rupanya kini, pria berperawakan gagah itu sedang berjalan ke arahku.
Saat dia sudah mulai mendekat, aku baru menyadari bahwa dia adalah teman SMAku.
“Heei, Dan, kamu apa kabar?”, sapaku.
Dani yang kini sudah berdiri di depanku, membalas sapaanku dengan mencium pipi kanan-kiriku.
Sontak aku kaget dan bingung sampai-sampai ga bisa menghindar.
Kami pun sempat berbincang sebentar meski ku tau Rey sedang menatapku tajam menyimpan amarah yang dia pendam dibalik wajahnya yang mulai memerah.
“Hm ohya Dan, kenalin ini temen-temenku!”, kataku setelahnya.
Mereka pun berkenalan saat sebelum Dani dipanggil oleh rekan-rekannya untuk segera naik ke mobil pick-upnya. Jujur disaat itu, perasaanku ga enak!!
Daan…
Benar saja, di awal perjalanan menuju basecamp atas, Odi dan Titin terlihat diam mematung saat menyadari kalau Rey tak seceria seperti sebelumnya.
“Bagus banget ya pemandangannya…”, kataku ragu tapi masih berusaha untuk mencairkan suasana yang kikuk ini.
Rey tak merespons. Odi dan Titin pun hanya menjawab sekedarnya, tanpa nimpalin seperti biasanya.

Lama kami saling terdiam, namun tiba-tiba Rey mengajak bicara Titin dan Odi lagi. Mereka pun begitu asik bercerita bahkan saling menimpali lelucon, tapi kog rasanya, aku ga diajak yaa.

Aku makin menyadari, bahwa mereka kini sedang mengabaikanku sebab kesalahan yang telah ku perbuat sebelumnya.
Untungnya ga butuh waktu lama untuk kami tiba di basecamp atas. Jadi seenggaknya ga lama-lama juga aku dikacanginnya.
“Mas Mba, silahkan yang mau ke toilet, toiletnya disana. Ohya, jadwal rafting kita masih sepuluh menit lagi ya.”, kata Mas Ali yang baru keluar dari mobil kepada kami yang masih duduk di atas bak mobil.
“Guys, aku ke toilet dulu ya..”, pamit Rey pada Odi dan Titin.
Mereka pun memberikan kode padaku untuk mengikuti Rey. Dan aku terpaksa menuruti mereka.
Dengan langkah perlahan aku mengikuti Rey yang sedang menuju ke toilet. Lalu menunggunya di luar toilet yang sedang dipakainya dengan keadaan jantung yang deg-deg-an.
Tak berapa lama, dia pun keluar dari toilet. Kami sempat bertatap muka, namun dia dengan cepat memalingkan wajahnya.
“Rey…”, panggilku disaat Rey mulai melangkah menjauhiku.
Bukannya menoleh, dia justru terus berjalan tanpa memedulikanku.
Aku yang ga tau harus ngapain, hanya bisa membuntutinya dari belakang dengan kepala yang tertunduk lesu.
Baru kali ini aku melihat Rey begini.

Ku cemburu..
Bila kau dengannya dan aku harus melihatnya..
delet3 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas
Tutup