- Beranda
- Stories from the Heart
Jalan Terakhir
...
TS
neopo
Jalan Terakhir

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apakabar semua. Setelah sekian lama ga berbagi cerita akhirnya mencoba lagi untuk menulis/membagikan salah satu cerita/kisah/tulisan dari seorang teman. Tentunya saya tidak lupa akan thread sebelumnya yang saya buat, yang berjudul Riding to Jannah yang sementara ini dihentikan dulu karena hilangnya draft yang sudah dibuat dulu. Bahkan sampai beberapa tahun tidak terurus. Tetapi insyaAllah akan kembali di up jika sudah selesai. Bahkan kemarinpun sempat dilanjut, tetapi harddisk yang saya gunakan untuk menyimpan file penting ternyata bad sector dan semua file rusak 

Jika kalian sudah bosan atau kurang suka dengan cerita remaja, baik fiksi ataupun true story, kalian boleh skip thread ini
Hanya saja menurut saya pribadi, cerita dia cukup membuat saya terhibur. Jadi saya meminta izin untuk share disini, dan dia memperbolehkan. Setelah sekian tahun ga buka kaskus, udah banyak perubahan, jadi kalau berantakan mohon dimaafkan.
Hanya saja menurut saya pribadi, cerita dia cukup membuat saya terhibur. Jadi saya meminta izin untuk share disini, dan dia memperbolehkan. Setelah sekian tahun ga buka kaskus, udah banyak perubahan, jadi kalau berantakan mohon dimaafkan.Setiap orang pasti pernah mengalami masalah dalam menjalani hidup. Namun setiap masalah selalu menuntut untuk diselesaikan. Karena itulah, menemukan solusi dan bersikap pantang menyerah adalah jawaban untuk setiap masalah.
Kadang kala perjalanan hidup yang membuat seseorang menjadi dewasa. Dewasa dalam hal ini berarti mampu berpikir jernih dan menempatkan perannya dalam berbagai situasi. Selain itu, perjalanan hidup juga bisa menjadi bahan pembelajaran yang menginspirasi. Tidak hanya menginspirasi diri sendiri, tapi juga orang lain.
Langit tidak selalu cerah, perjalanan hidup pun tidak selalu indah. Dari kalimat itu kita harus paham bahwa perjalanan hidup itu tidak selalu mulus. Terkadang kita temukan kerikil dan duri yang mengganggu di jalanan. Rasa sakit, kesedihan, kesusahan dan duka. Apapun yang ada di hadapan kita bukan berarti kita berhenti berjalan dan menyerah. Perjalanan hidup yang berat ataupun perjalanan hidup yang pahit harus kita hadapi dan lalui.
"Hidup itu tentang sebuah perjalanan, caramu menjalaninya, dan caramu memberi arti pada perjalananmu itu." WilzKanadi
Aku tengah menempuh pendidikan sekolah tingkat atas kelas satu. Aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang berkecukupan. Aku berasal dari Bandung namun sejak SD aku pindah ke Jakarta karena pekerjaan papaku. Aku merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Aku memiliki postur tubuh dengan tinggi badan 168cm dan berat badan 62kg. Namaku Khairul Purnama, dan ini adalah kisah perjalananku
Akan di update berdasarkan jalan cerita melalui Instagramdan beberapa spoiler untuk next part diperlihatkan disana, tapi itupun jika ga penasaran
Akan di update berdasarkan jalan cerita melalui Instagramdan beberapa spoiler untuk next part diperlihatkan disana, tapi itupun jika ga penasaran

- INDEX -
Masa SMA

Prolog
BAB 1 - Ocehan Seorang Gadis
BAB 2 - Dunia yang Sempit
BAB 3 - Cewek Melengking dan Anak Hilang
BAB 4 - Silsilah Keluarga
BAB 5 - Ma, Arul Kuat Kok
BAB 6 - Teman
BAB 7 - Obat Penenang
BAB 8 - Bandung
BAB 9 - Kebahagiaan dari Masa Lalu
BAB 10 - Perasaan yang Memuncak
BAB 11 - Puncak Amarah
BAB 12 - Yang Pertama
BAB 13 - Berputar Kembali
BAB 14 - Liburan Lagi
BAB 15 - Sebuah Cerita
BAB 16 - Sekolah Lagi
BAB 17 - Jawaban
BAB 18 - Kelemahan
BAB 19 - Rasa Terindah
BAB 20 - Ungkapan Hati
BAB 21 - Double Date?
BAB 22 - Jalan Buntu
BAB 23 - Maaf
BAB 24 - Liburan Penutup
BAB 25 - MOS (Part 1)
BAB 26 - MOS (Part 2)
BAB 27 - Sebuah Tragedi
BAB 28 - Tujuan
Masa Kuliah

BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
Masa SMA

Prolog
BAB 1 - Ocehan Seorang Gadis
BAB 2 - Dunia yang Sempit
BAB 3 - Cewek Melengking dan Anak Hilang
BAB 4 - Silsilah Keluarga
BAB 5 - Ma, Arul Kuat Kok
BAB 6 - Teman
BAB 7 - Obat Penenang
BAB 8 - Bandung
BAB 9 - Kebahagiaan dari Masa Lalu
BAB 10 - Perasaan yang Memuncak
BAB 11 - Puncak Amarah
BAB 12 - Yang Pertama
BAB 13 - Berputar Kembali
BAB 14 - Liburan Lagi
BAB 15 - Sebuah Cerita
BAB 16 - Sekolah Lagi
BAB 17 - Jawaban
BAB 18 - Kelemahan
BAB 19 - Rasa Terindah
BAB 20 - Ungkapan Hati
BAB 21 - Double Date?
BAB 22 - Jalan Buntu
BAB 23 - Maaf
BAB 24 - Liburan Penutup
BAB 25 - MOS (Part 1)
BAB 26 - MOS (Part 2)
BAB 27 - Sebuah Tragedi
BAB 28 - Tujuan
Masa Kuliah

BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
Diubah oleh neopo 02-02-2023 21:58
sukhhoi dan 12 lainnya memberi reputasi
11
13.9K
120
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
neopo
#65
BAB 33 - Cemas
Saat perjalanan aku mencoba mengalihkan pikiranku dari Vika. Aku menceritakan rencanaku yang ingin membuka bisnis sendiri pada Zaki. Awalnya dia heran, aku yang berasal dari keluarga yang cukup mampu, tapi ingin kerja sendiri. Beberapa orang pasti ada aja yang memanfaatkan keuntungan dari keluarga kaya. Baik itu warisan atau orang dalam di perusahaan keluarganya, Tapi aku ingin memulai dari nol.
“Gimana kalau jualan gorengan aja” kata Zaki
“Udah banyak Zak” kataku
“Ya yang beda lah, misal tahu isi pedas gitu” kata Zaki
“Lo tau cara bikinnya?” tanyaku
“Ngga sih, tapi tahu doang mah bisa kali coba-coba” katanya
“Oke deh, nanti di kosan gue coba konsepin” ucapku
Sesampainya di kosan, aku langsung membersihkan diri dan bersiap untuk mencatat apa saja yang sekiranya diperlukan. Banyak yang harus dipertimbangkan. Mungkin nanti aku akan melakukan survey juga dan bertanya pada mama serta meminta pendapatnya.
Jam 4 sore, ada seseorang datang mengetuk pintu kamarku. Saat aku membukanya ternyata Vika datang sambil membawa sebuah kantong belanja yang cukup kecil
“Ngapain kesini?” tanyaku
“Kok ngapain sih? Kamu kan pacar aku” kata Vika
“Masih inget ternyata. Kirain lupa, sampai ga ngabarin” kataku
“Ih Hpku mati a’. Maaf” kata Vika
“Gimana jalan-jalannya, puas?” tanyaku
“Aku beli ini buat aa, sama temen tadi” kata Vika sambil memberikan kantong belanjaan yang ia bawa
“Temen, cowok yah berdua” kataku
Vika langsung terperanjak sedikit kaget mendengar ucapanku
“Iya cowok. Kating aku. Asalnya aku berempat sama Sisil sama Nina, tapi mereka ada urusan. Terus aku niatnya mau beli ini buat aa sendirian. Dia bilang mau nemenin, aku bilang ga usah. Tapi dia maksa dan saat aku mau ngabarin Hpku ternyata mati. Aku pikir yaudahlah, cuma nemenin, aku juga ga ada apa-apa. Tapi beneran ga ada kontak fisik sama sekali. Akupun pulang sendiri” kata Vika
:Oh, gitu” kataku
“Kok cuma gitu aja sih a. Maaf atuh aa. Terus aa tau darimana aku pergi sama cowok?” kata Vika
“Tadi liat kamu disana” ucapku
“Kenapa ga nyamperin?” kata Vika
“Gapapa, takut ganggu aja” kataku
“Maaf aa. Lain kali ga gitu lagi” kata Vika tertunduk
Aku tersenyum sambil mengangkat kepalanya.
“Kamu jelek kalo cemberut” kataku
“Aku minta maaf” kata vika
“Gapapa, yaudah, kamu beli apa nih?” kataku
“Buka aja a” kata Vika
Aku membuka kotak itu dan ternyata berisi jam tangan berwarna hitam.
“Biar inget waktu, ga tidur terus” kata Vika
“Enak aja, ga terus-terusan juga kali neng” kataku
“Biar nanti kalau jemput aku ga lupa waktu hehe” kata Vika
“Yaa masih lama neng. Tapi dalam rangka apa nih ngasih hadiah?” tanyaku
“Ga ada kok a. Pengen aja hehe” kata Vika
“Lain kali, lebih baik uangnya disimpen untuk hal yang lebih penting ya. Tapi makasih ya” kataku
“Aa udah makan?” tanya Vika
“Udah sebelum pulang, sama Zaki” kataku “Kamu udah makan?” tanyaku
Vika tersenyum menggeleng. Akhirnya aku memakai jaketku dan bersiap untuk mengajaknya keluar
“Mau kemana?” tanya Vika
“Mau makan dimana?” tanyaku
“Didepan sana ada tempat surabi, kita kesana ya” kataku
“Ayo aa” kata Vika antusias
Kami pergi dengan berjalan kaki karena tempatnya ga jauh dari kosanku. 5 meni saja kami sudah sampai ditujuan.
“Aa mau yang mana?” tanya Vika
“Kamu aja, aku masih kenyang” kataku
“Ish kok gitu, kan aa yang ngajak aku” katanya
“Yaudah neng yang pilihkan aja” kataku
Setelah memesan, dan ga lama pesanan kami tiba, kami menikmati makanan itu sambil mengobrol seputaran kampus. Kali ini Vika lebih banyak menceritakan tentang kampusnya. Disana dia juga sudah memiliki teman barunya dan katanya, apapun kegiatannya, mereka selalu bersama.
“Nanti aku kenalin deh sama aa” kata Vika
“Terserah kamu aja neng” ucapku
“Oh iya, gimana soal bisnis aa? Jadi?” kata Vika
“Jadi insyaAllah, aku mau coba jual tahu isi pedas” kataku
“Bagus juga tuh a, bikinnya gampang juga” kata Vika
Vika terlihat begitu menikmati makanannya. Sepertinya dia suka surabi disini
“Aku beli lagi ya buat kamu bawa pulang” kataku
“Ga usah a, udah kenyang” kata Vika
“Kayanya neng suka banget ya” kataku
“Hehe, ga nyangka enak banget hehe” kata Vika
Setelah selesai, aku langsung pulang ke kosan. Saat aku hendak mengantar Vika pulang, dia bilang masih mau disini, dan akhirnya aku biarkan saja dia untuk tetap tinggal sedikit lebih lama. Tapi kami putuskan untuk nongkrong di teras depan. Masih dengan obrolan soal bisnis yang hendak aku buka, awalnya aku berfikiran untuk berjualan ditempat/gerobak. Tapi Vika bilang untuk meminimalisir pengeluaran, lebih baik dijual saat sudah mulai kuliah saja menggunakan tempat makanan. Karena kuliah juga masih cukup lama, aku bisa menggunakan waktu untuk bereksperimen dengan memasak makanannya.
Beberapa hari berlalu, aku mulai bereksperimen sedikit demi sedikit dirumah tante Lina. Mulai dari apa saja yang akan aku masukkan kedalam tahu nya, sampai rasa yang diharapkan enak tentunya. Pada awalnya rasanya sedikit hambar, tapi tante Lina memberikan sedikit bumbu yang aku sendiri gatau bumbu masak apa yang beliau gunakan. Tapi rasanya jadi ada sedikit asin.
Setelah mendapat rasa yang dicukup enak, aku memikirkan akan menggunakan apa sebagai rasa pedasnya. Kalau cabe rawit akan terasa keras nantinya. Aku coba untuk membuat air pedas yang nantinya tahunya akan aku celupkan ke air yang sudah diberi rebusan cabe itu, mungkin seperti sambal.
Kadang pedasnya terlalu pedas, kadang kurang pedas, tapi tetap rasa tahu nya ga hilang. Rencananya aku akan mulai berjualan saat kuliah sudah dimulai. Tapi aku akan melakukan sedikit promosi di kosanku dengan cara memberikan sampel makanan secara gratis. Ada yang bilang enak, ada yang bilang kepedesan, ada yang bilang isinya sedikit, ada juga yang bilang hambar. Sepertinya aku tahu yang mana yang aku buat sendiri.
“Ini elo yang masak?” tanya Zaki
“Iya, dibantuin Vika” kataku
“Enak nih, pasti bikinan Vika. Hambar punya elu” kata Zaki
“Yaa gue ga ada bakat masak kali” kataku
“Bercanda gue. Minta ajarin aja ke cewek lu, pasti lama-lama juga bisa” kata Zaki
“Iya, eh iya gimana Ris? Enak ga?” tanyaku pada Riska
“Emm, enak kok” kata Riska sedikit senyum dan sedikit anggukan
“Kenapa? Lo ga suka pedes ya?” tanyaku
“Su . . suka kok. Oh iya gue ambil HP dulu di kamar” kata
Riska kemudian pergi dengan sedikit terburu-buru
“Kenapa tuh?” tanya Zaki
“Gatau” jawabku
Beberapa menit kemudian Riska kembali tapi aku lihat ekspresinya seperti kelelahan
“Dari mana?” tanyaku
“Ambil HP kan” kata Riska
“Lama bener, lo gapapa?” tanyaku
“Gapapa kok” jawab Riska
Hari-hariku berlalu begitu saja sampai akhirnya kuliahku dimulai. Pagi ini aku tengah bersiap untuk berangkat kuliah. Tapi Vika masih ada waktu satu minggu lagi. Pagi itu aku disamper oleh Riska dan Zaki. Aku mengenakan kemeja merah maroon dengan celana katun hitam dan sepatu hitam. Udah keren lah pokonya
“Masuk jam berapa?” tanyaku
“Jam 7 kan, di jadwalnya” kata Zaki
“Kelasnya tau?” kataku
“Tau lah, emang lu ga liat jarkom?” kata Zaki
“Ga, males gue” kataku
“Buset, niat kuliah ga sih lu” kata Riska
“Niat lah, cuma ga niat liat jarkom” kataku
Kamipun berangkat menuju kampus. Sampai di fakultas, aku benar-benar bingung ketika Zaki dan Riska menyapa beberapa orang lain tapi aku ga kenal siapa mereka. Tapi jika dilihat dari obrolannya sepertinya mereka teman sekelasku.
“Eh, lo yang waktu itu kabur ya” kata seorang cewek yang menghampiriku
“Siapa ya?” kataku
Aku mencoba mengingat-ngingat cewek itu
“Makanya pas ospek jangan kabur” katanya
“Oh, yang sebelum gue pulang ya” kataku
“Iya hehe. Kenalin, gue Fitri” katanya
“Oh iya, kak, gue Arul” kataku
“Kenapa waktu itu balik?” tanya Fitri
“Kan ga enak badan, udah bilang” kataku
“Lemah, hahaha” katanya
“Serah lo deh kak” kataku
“Bercanda gue. Tapi nanti pas LDKM wajib ikut ya” katanya
“InsyaAllah kalau ada umur” kataku
“Buset serem bener ngomongnya” kata Fitri
“Ya kan emang gitu. Kalau sehat ya mau ga mau harus ikut hehe” kataku
“Yaudah kalau gitu gue ke kelas dulu ya” kata Fitri
Akupun masuk kelas bersama teman-teman yang lain. Perkuliahan pertama ini ga banyak belajarnya, lebih ke perkenalan antara dosen dan tiap mahasiswa. Saat jam istirahat, Zaki mengajakku ke kantin bareng Riska juga, tapi aku tolak, dan memutuskan untuk tetap diam dikelas. Sebenernya ngirit uang sih, karena kemarin udah habis cukup banyak buat eksperimen Tahu goreng.
“Ga jajan lu bro?” tanya salah satu temanku
“Ngga ah, udah sarapan gue” kataku
“Oh iya, gue Indra” katanya
“Arul” ucapku
“Katanya lo ga ikut ospek kemarin ya?” tanya Indra
“Ikut gue hari pertama doang, tapi sorenya izin” kataku
“Lo asal darimana?” tanyanya
“Gue asli Bandung, cuma tinggal di Jakarta. Lo sendiri?” kataku
“Gue dari Cirebon” katanya
Saat kami lagi mengobrol ringan sekalian perkenalan, ada lagi seorang cewek menghampiri kami
“Hai, gabung dong” kata cewek itu
“Boleh boleh” kata Indra
“Gue Nayra” katanya
Indra ini orangnya sedikit gemuk dan rambutnya sedikit gondrong ala-ala anak senja gitu. Sementara Nayra ini seorang cewek berambut pendek sebahu dan lebih terlihat sedikit tomboy. Dari perkenalan singkat, Nayra berasal dari Jogja
“Laper nih gue, kantin yuk” kata Nayra
“Ayo dah, lo ikut ga?” tanya Indra
“Ngga deh” kataku
“Yaudah, kita kantin dulu. Ayo sayang” kata Indra
“Sayang palalu peyang” kata Nayra
Aku pulang kuliah pada jam tiga sore. Kuliah hari ini benar-benar full sampai sore. Tidak banyak yang terjadi hari ini selain perkenalan dengan teman-teman yang lainnya. Malam hari aku mendapat telefon dari Ana
“Assalamualaikum dek” kataku
“Waalaikumussalam . . aa” kata Ana
“Kenapa Na?” tanyaku
“Gapapa kok a. Gimana kuliahnya?” katanya
“Hari pertama, cuma perkenalan aja kok” kataku “Kenapa Na? Kok kaya yang lemes. Kamu sakit?” tanyaku
“Hehe, engga kok a” kata Ana
“Ani mana? Tumben sendiri. Biasanya kalau nelefon ada dia juga” kataku
“Ani . . emm . lagi keluar a” katanya
“Kenapa? Kok gagap gitu ngomongnya? Bilang ada apa?” kataku
Beberapa saat Ana terdiam. Biasanya kalau Ana atau Ani nelefon, pasti selalu barengan, dan kali ini ga biasanya hanya Ana sendiri. Meski mungkin kondisi Ani lagi sibuk. Tapi kedengerannya berbeda. Dan itu membuatku menjadi khawatir. Semalaman aku mulai terpikirkan orang rumah. Ternyata seperti ini rasanya merantau. Biasanya tiap pagi sudah ada sarapan yang tersedia di meja. Tapi sekarang aku harus persiapkan semua sendiri. Biasanya malam hari masih terdengar suara si kembar dari kamar sebelah, tapi kali ini sepi. Hanya ditemani notifikasi SMS dari Vika.
Padahal kuliah baru saja dimulai, tapi rasanya udah kangen rumah. Karena jadwalku belum terlalu padat, hanya kuliah senin sampai jum’at, aku memutuskan untuk pulang ke Jakarta pada akhir pekan nanti.
Singkat cerita, akhir pekanpun tiba. Aku pulang menggunakan motor dengan membawa barang seperlunya saja. Vika ga ikut karena dia harus persiapan kuliah juga. Ternyata kegiatan di kampusnya ga sesantai di kampusku. Hari Sabtu jam 9 pagi, aku tiba di rumah. Tapi saat aku mau masuk, kondisi rumah begitu sepi. Aku putuskan untuk menelefon Ani sekarang. Karena aku tahu saat hari sabtu, disekolahku dulu ga ada kegiatan belajar, hanya ekstrakurikuler saja. Dan aku harap Ani ada dirumah.
“Assalamualaikum a” kata Ani
“Waalaikumussalam. Kamu dimana?” tanyaku
“Dirumah a, kenapa?” katanya
“Jangan bohong” kataku
“Beneran a, kenapa?” katanya
“Aa didepan rumah, tapi di gembok” kataku
“ . . . . “
“Halo, Ni?” panggilku
“Aku SMS alamatnya ya” kata Ani
Ani langsung menutup telefon tanpa bicara lagi. Saat aku membaca SMSnya, aku sedikit kaget dan aku langsung melaju menuju lokasi tersebut. Aku langsung menghubungi Ani
“Aku udah sampai didepan” kataku
“Aku turun a” kata Ani
Ga lama, aku melihat sosok perempuan yang datang menghampiriku dan aku dapat melihat dia sedikit lemas. Saat dia berada didepanku, Ani langsung salim dan memelukku
“Kenapa sih? Cerita sama aa” kataku
Ani hanya terdiam dan terus memelukku. Aku mulai mendengar isak tangisnya, dan aku semakin yakin bahwa ada sesuatu yang ga beres.
“Gimana kalau jualan gorengan aja” kata Zaki
“Udah banyak Zak” kataku
“Ya yang beda lah, misal tahu isi pedas gitu” kata Zaki
“Lo tau cara bikinnya?” tanyaku
“Ngga sih, tapi tahu doang mah bisa kali coba-coba” katanya
“Oke deh, nanti di kosan gue coba konsepin” ucapku
Sesampainya di kosan, aku langsung membersihkan diri dan bersiap untuk mencatat apa saja yang sekiranya diperlukan. Banyak yang harus dipertimbangkan. Mungkin nanti aku akan melakukan survey juga dan bertanya pada mama serta meminta pendapatnya.
Jam 4 sore, ada seseorang datang mengetuk pintu kamarku. Saat aku membukanya ternyata Vika datang sambil membawa sebuah kantong belanja yang cukup kecil
“Ngapain kesini?” tanyaku
“Kok ngapain sih? Kamu kan pacar aku” kata Vika
“Masih inget ternyata. Kirain lupa, sampai ga ngabarin” kataku
“Ih Hpku mati a’. Maaf” kata Vika
“Gimana jalan-jalannya, puas?” tanyaku
“Aku beli ini buat aa, sama temen tadi” kata Vika sambil memberikan kantong belanjaan yang ia bawa
“Temen, cowok yah berdua” kataku
Vika langsung terperanjak sedikit kaget mendengar ucapanku
“Iya cowok. Kating aku. Asalnya aku berempat sama Sisil sama Nina, tapi mereka ada urusan. Terus aku niatnya mau beli ini buat aa sendirian. Dia bilang mau nemenin, aku bilang ga usah. Tapi dia maksa dan saat aku mau ngabarin Hpku ternyata mati. Aku pikir yaudahlah, cuma nemenin, aku juga ga ada apa-apa. Tapi beneran ga ada kontak fisik sama sekali. Akupun pulang sendiri” kata Vika
:Oh, gitu” kataku
“Kok cuma gitu aja sih a. Maaf atuh aa. Terus aa tau darimana aku pergi sama cowok?” kata Vika
“Tadi liat kamu disana” ucapku
“Kenapa ga nyamperin?” kata Vika
“Gapapa, takut ganggu aja” kataku
“Maaf aa. Lain kali ga gitu lagi” kata Vika tertunduk
Aku tersenyum sambil mengangkat kepalanya.
“Kamu jelek kalo cemberut” kataku
“Aku minta maaf” kata vika
“Gapapa, yaudah, kamu beli apa nih?” kataku
“Buka aja a” kata Vika
Aku membuka kotak itu dan ternyata berisi jam tangan berwarna hitam.
“Biar inget waktu, ga tidur terus” kata Vika
“Enak aja, ga terus-terusan juga kali neng” kataku
“Biar nanti kalau jemput aku ga lupa waktu hehe” kata Vika
“Yaa masih lama neng. Tapi dalam rangka apa nih ngasih hadiah?” tanyaku
“Ga ada kok a. Pengen aja hehe” kata Vika
“Lain kali, lebih baik uangnya disimpen untuk hal yang lebih penting ya. Tapi makasih ya” kataku
“Aa udah makan?” tanya Vika
“Udah sebelum pulang, sama Zaki” kataku “Kamu udah makan?” tanyaku
Vika tersenyum menggeleng. Akhirnya aku memakai jaketku dan bersiap untuk mengajaknya keluar
“Mau kemana?” tanya Vika
“Mau makan dimana?” tanyaku
“Didepan sana ada tempat surabi, kita kesana ya” kataku
“Ayo aa” kata Vika antusias
Kami pergi dengan berjalan kaki karena tempatnya ga jauh dari kosanku. 5 meni saja kami sudah sampai ditujuan.
“Aa mau yang mana?” tanya Vika
“Kamu aja, aku masih kenyang” kataku
“Ish kok gitu, kan aa yang ngajak aku” katanya
“Yaudah neng yang pilihkan aja” kataku
Setelah memesan, dan ga lama pesanan kami tiba, kami menikmati makanan itu sambil mengobrol seputaran kampus. Kali ini Vika lebih banyak menceritakan tentang kampusnya. Disana dia juga sudah memiliki teman barunya dan katanya, apapun kegiatannya, mereka selalu bersama.
“Nanti aku kenalin deh sama aa” kata Vika
“Terserah kamu aja neng” ucapku
“Oh iya, gimana soal bisnis aa? Jadi?” kata Vika
“Jadi insyaAllah, aku mau coba jual tahu isi pedas” kataku
“Bagus juga tuh a, bikinnya gampang juga” kata Vika
Vika terlihat begitu menikmati makanannya. Sepertinya dia suka surabi disini
“Aku beli lagi ya buat kamu bawa pulang” kataku
“Ga usah a, udah kenyang” kata Vika
“Kayanya neng suka banget ya” kataku
“Hehe, ga nyangka enak banget hehe” kata Vika
Setelah selesai, aku langsung pulang ke kosan. Saat aku hendak mengantar Vika pulang, dia bilang masih mau disini, dan akhirnya aku biarkan saja dia untuk tetap tinggal sedikit lebih lama. Tapi kami putuskan untuk nongkrong di teras depan. Masih dengan obrolan soal bisnis yang hendak aku buka, awalnya aku berfikiran untuk berjualan ditempat/gerobak. Tapi Vika bilang untuk meminimalisir pengeluaran, lebih baik dijual saat sudah mulai kuliah saja menggunakan tempat makanan. Karena kuliah juga masih cukup lama, aku bisa menggunakan waktu untuk bereksperimen dengan memasak makanannya.
Beberapa hari berlalu, aku mulai bereksperimen sedikit demi sedikit dirumah tante Lina. Mulai dari apa saja yang akan aku masukkan kedalam tahu nya, sampai rasa yang diharapkan enak tentunya. Pada awalnya rasanya sedikit hambar, tapi tante Lina memberikan sedikit bumbu yang aku sendiri gatau bumbu masak apa yang beliau gunakan. Tapi rasanya jadi ada sedikit asin.
Setelah mendapat rasa yang dicukup enak, aku memikirkan akan menggunakan apa sebagai rasa pedasnya. Kalau cabe rawit akan terasa keras nantinya. Aku coba untuk membuat air pedas yang nantinya tahunya akan aku celupkan ke air yang sudah diberi rebusan cabe itu, mungkin seperti sambal.
Kadang pedasnya terlalu pedas, kadang kurang pedas, tapi tetap rasa tahu nya ga hilang. Rencananya aku akan mulai berjualan saat kuliah sudah dimulai. Tapi aku akan melakukan sedikit promosi di kosanku dengan cara memberikan sampel makanan secara gratis. Ada yang bilang enak, ada yang bilang kepedesan, ada yang bilang isinya sedikit, ada juga yang bilang hambar. Sepertinya aku tahu yang mana yang aku buat sendiri.
“Ini elo yang masak?” tanya Zaki
“Iya, dibantuin Vika” kataku
“Enak nih, pasti bikinan Vika. Hambar punya elu” kata Zaki
“Yaa gue ga ada bakat masak kali” kataku
“Bercanda gue. Minta ajarin aja ke cewek lu, pasti lama-lama juga bisa” kata Zaki
“Iya, eh iya gimana Ris? Enak ga?” tanyaku pada Riska
“Emm, enak kok” kata Riska sedikit senyum dan sedikit anggukan
“Kenapa? Lo ga suka pedes ya?” tanyaku
“Su . . suka kok. Oh iya gue ambil HP dulu di kamar” kata
Riska kemudian pergi dengan sedikit terburu-buru
“Kenapa tuh?” tanya Zaki
“Gatau” jawabku
Beberapa menit kemudian Riska kembali tapi aku lihat ekspresinya seperti kelelahan
“Dari mana?” tanyaku
“Ambil HP kan” kata Riska
“Lama bener, lo gapapa?” tanyaku
“Gapapa kok” jawab Riska
Hari-hariku berlalu begitu saja sampai akhirnya kuliahku dimulai. Pagi ini aku tengah bersiap untuk berangkat kuliah. Tapi Vika masih ada waktu satu minggu lagi. Pagi itu aku disamper oleh Riska dan Zaki. Aku mengenakan kemeja merah maroon dengan celana katun hitam dan sepatu hitam. Udah keren lah pokonya
“Masuk jam berapa?” tanyaku
“Jam 7 kan, di jadwalnya” kata Zaki
“Kelasnya tau?” kataku
“Tau lah, emang lu ga liat jarkom?” kata Zaki
“Ga, males gue” kataku
“Buset, niat kuliah ga sih lu” kata Riska
“Niat lah, cuma ga niat liat jarkom” kataku
Kamipun berangkat menuju kampus. Sampai di fakultas, aku benar-benar bingung ketika Zaki dan Riska menyapa beberapa orang lain tapi aku ga kenal siapa mereka. Tapi jika dilihat dari obrolannya sepertinya mereka teman sekelasku.
“Eh, lo yang waktu itu kabur ya” kata seorang cewek yang menghampiriku
“Siapa ya?” kataku
Aku mencoba mengingat-ngingat cewek itu
“Makanya pas ospek jangan kabur” katanya
“Oh, yang sebelum gue pulang ya” kataku
“Iya hehe. Kenalin, gue Fitri” katanya
“Oh iya, kak, gue Arul” kataku
“Kenapa waktu itu balik?” tanya Fitri
“Kan ga enak badan, udah bilang” kataku
“Lemah, hahaha” katanya
“Serah lo deh kak” kataku
“Bercanda gue. Tapi nanti pas LDKM wajib ikut ya” katanya
“InsyaAllah kalau ada umur” kataku
“Buset serem bener ngomongnya” kata Fitri
“Ya kan emang gitu. Kalau sehat ya mau ga mau harus ikut hehe” kataku
“Yaudah kalau gitu gue ke kelas dulu ya” kata Fitri
Akupun masuk kelas bersama teman-teman yang lain. Perkuliahan pertama ini ga banyak belajarnya, lebih ke perkenalan antara dosen dan tiap mahasiswa. Saat jam istirahat, Zaki mengajakku ke kantin bareng Riska juga, tapi aku tolak, dan memutuskan untuk tetap diam dikelas. Sebenernya ngirit uang sih, karena kemarin udah habis cukup banyak buat eksperimen Tahu goreng.
“Ga jajan lu bro?” tanya salah satu temanku
“Ngga ah, udah sarapan gue” kataku
“Oh iya, gue Indra” katanya
“Arul” ucapku
“Katanya lo ga ikut ospek kemarin ya?” tanya Indra
“Ikut gue hari pertama doang, tapi sorenya izin” kataku
“Lo asal darimana?” tanyanya
“Gue asli Bandung, cuma tinggal di Jakarta. Lo sendiri?” kataku
“Gue dari Cirebon” katanya
Saat kami lagi mengobrol ringan sekalian perkenalan, ada lagi seorang cewek menghampiri kami
“Hai, gabung dong” kata cewek itu
“Boleh boleh” kata Indra
“Gue Nayra” katanya
Indra ini orangnya sedikit gemuk dan rambutnya sedikit gondrong ala-ala anak senja gitu. Sementara Nayra ini seorang cewek berambut pendek sebahu dan lebih terlihat sedikit tomboy. Dari perkenalan singkat, Nayra berasal dari Jogja
“Laper nih gue, kantin yuk” kata Nayra
“Ayo dah, lo ikut ga?” tanya Indra
“Ngga deh” kataku
“Yaudah, kita kantin dulu. Ayo sayang” kata Indra
“Sayang palalu peyang” kata Nayra
Aku pulang kuliah pada jam tiga sore. Kuliah hari ini benar-benar full sampai sore. Tidak banyak yang terjadi hari ini selain perkenalan dengan teman-teman yang lainnya. Malam hari aku mendapat telefon dari Ana
“Assalamualaikum dek” kataku
“Waalaikumussalam . . aa” kata Ana
“Kenapa Na?” tanyaku
“Gapapa kok a. Gimana kuliahnya?” katanya
“Hari pertama, cuma perkenalan aja kok” kataku “Kenapa Na? Kok kaya yang lemes. Kamu sakit?” tanyaku
“Hehe, engga kok a” kata Ana
“Ani mana? Tumben sendiri. Biasanya kalau nelefon ada dia juga” kataku
“Ani . . emm . lagi keluar a” katanya
“Kenapa? Kok gagap gitu ngomongnya? Bilang ada apa?” kataku
Beberapa saat Ana terdiam. Biasanya kalau Ana atau Ani nelefon, pasti selalu barengan, dan kali ini ga biasanya hanya Ana sendiri. Meski mungkin kondisi Ani lagi sibuk. Tapi kedengerannya berbeda. Dan itu membuatku menjadi khawatir. Semalaman aku mulai terpikirkan orang rumah. Ternyata seperti ini rasanya merantau. Biasanya tiap pagi sudah ada sarapan yang tersedia di meja. Tapi sekarang aku harus persiapkan semua sendiri. Biasanya malam hari masih terdengar suara si kembar dari kamar sebelah, tapi kali ini sepi. Hanya ditemani notifikasi SMS dari Vika.
Padahal kuliah baru saja dimulai, tapi rasanya udah kangen rumah. Karena jadwalku belum terlalu padat, hanya kuliah senin sampai jum’at, aku memutuskan untuk pulang ke Jakarta pada akhir pekan nanti.
Singkat cerita, akhir pekanpun tiba. Aku pulang menggunakan motor dengan membawa barang seperlunya saja. Vika ga ikut karena dia harus persiapan kuliah juga. Ternyata kegiatan di kampusnya ga sesantai di kampusku. Hari Sabtu jam 9 pagi, aku tiba di rumah. Tapi saat aku mau masuk, kondisi rumah begitu sepi. Aku putuskan untuk menelefon Ani sekarang. Karena aku tahu saat hari sabtu, disekolahku dulu ga ada kegiatan belajar, hanya ekstrakurikuler saja. Dan aku harap Ani ada dirumah.
“Assalamualaikum a” kata Ani
“Waalaikumussalam. Kamu dimana?” tanyaku
“Dirumah a, kenapa?” katanya
“Jangan bohong” kataku
“Beneran a, kenapa?” katanya
“Aa didepan rumah, tapi di gembok” kataku
“ . . . . “
“Halo, Ni?” panggilku
“Aku SMS alamatnya ya” kata Ani
Ani langsung menutup telefon tanpa bicara lagi. Saat aku membaca SMSnya, aku sedikit kaget dan aku langsung melaju menuju lokasi tersebut. Aku langsung menghubungi Ani
“Aku udah sampai didepan” kataku
“Aku turun a” kata Ani
Ga lama, aku melihat sosok perempuan yang datang menghampiriku dan aku dapat melihat dia sedikit lemas. Saat dia berada didepanku, Ani langsung salim dan memelukku
“Kenapa sih? Cerita sama aa” kataku
Ani hanya terdiam dan terus memelukku. Aku mulai mendengar isak tangisnya, dan aku semakin yakin bahwa ada sesuatu yang ga beres.
Diubah oleh neopo 15-11-2022 23:20
itkgid dan 4 lainnya memberi reputasi
5