- Beranda
- Stories from the Heart
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
...
TS
breaking182
KIDUNG DI ATAS TANAH JAWI
Quote:
Menuliskan cerita yang berbau sejarah tidak gampang. Tulisan ini berdasarkan riset kecil dengan metode wawancara dengan orang yang lebih mengerti dan sumber terpercaya sebatas pengetahuan narasumber. Di samping itu kecintaan saya akan film -film kolosal, sandiwara radio era tahun 90-an tentang kerajaan - kerajaan di tanah Jawa mendorong saya untuk menulis. Tentu saja dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang saya miliki. Kidung Di Atas Tanah Jawi bercerita tentang perjalanan seorang pemuda bernama Arya Gading. Berlatar belakang kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijoyo. Cerita ini fiktif belaka. Baca dan nikmati. Salam Olahraga.........
Quote:
[img]

Quote:
Konten Sensitif
Quote:
EPISODE 1
GEGER DI PUCANG KEMBAR
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
Quote:
EPISODE 2
BARA API DI KAKI MERAPI
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
gatra 15
gatra 16
gatra 17
gatra 18
gatra 19
gatra 20
gatra 21
gatra 22
gatra 23
gatra 24
gatra 25
gatra 26
gatra 27
gatra 28
gatra 29
gatra 30
gatra 31
gatra 32
gatra 33
gatra 34
gatra 35
gatra 36
gatra 37
gatra 38
gatra 39
gatra 40
gatra 41
gatra 42
gatra 43
gatra 44
gatra 45
gatra 46
gatra 47
gatra 48
gatra 49
gatra 50
gatra 51
Quote:
EPISODE 3
AKSARA DI ATAS BATU
gatra 1
gatra 2
gatra 3
gatra 4
gatra 5
gatra 6
gatra 7
gatra 8
gatra 9
gatra 10
gatra 11
gatra 12
gatra 13
gatra 14
Diubah oleh breaking182 06-03-2026 10:44
jundi666 dan 70 lainnya memberi reputasi
71
82.6K
Kutip
629
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#397
gatra 13
Quote:
SUKMO AJI YANG BERADA di ujung termangu-mangu sejenak. Dengan dada yang berdebar-debar ia melihat para pengawal yang memencar di padang perdu yang tidak terlalu luas di pinggir hutan kecil itu.
“Kita pun akan bertempur tanpa kuda,” desisnya kemudian sambil mengawasi sekelompok lawan yang berlari-lari mendapatkannya.
Sukmo Aji dan prajuritnya pun segera meloncat turun. Wirapati yang berdiri di samping Ki Panjalu menggeram. Sekilas dipandanginya wajah para pengawalnya yang tegang, sementara Kayun salah seorang pengawal dari Pasuruan mengatupkan giginya rapat-rapat.
“Maaf Ki Panjalu,” terdengar suara Wirapati, “kita menghadapi hal ini untuk kedua kalinya ”
Ki Panjalu memandang Wirapati sekilas. Namun kemudian matanya kembali memandang orang-orang yang berlari-larian dengan senjata teracung-acung dan bahkan dengan teriakan-teriakan nyaring.
“Kita tidak dapat menyalahkah diri sendiri,” jawabnya, “tetapi kita harus mencoba untuk berbuat sesuatu bagi keselamatan kita. Apalagi keadaan kita sangat berbeda daripada hari kemarin. Sekarang ada prajurit –prajurit Pajang yang akan membantu kita”
Tidak ada kesempatan untuk banyak berpikir. Sejenak kemudian tentu akan terjadi pertempuran yang seru. Namun agaknya jumlahnya sama sekali tidak seimbang, karena yang berloncatan keluar dari hutan ternyata sebanyak dua kali lipat.
Pranata menarik nafas dalam-dalam. Ia sama sekali tidak menduga bahwa ada segerombolan perampok yang dapat mengerahkan orang sebanyak itu. Tetapi yang dihadapi itu bukannya sekedar bayangan kecemasan. Tetapi benar-benar sejumlah orang yang banyaknya dua kali lipat. Dalam pada itu, para pengawal dari Pajang dan Pasuruan telah memencar dalam kelompok masing-masing. Tetapi mereka tidak mengambil jarak terlalu jauh, sehingga jika diperlukan, maka kelompok-kelompok itu akan dapat saling membantu.
Sukmo Aji yang berada di ujung telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Ia tidak mau mengambil jalan yang jauh untuk menghadapi lawannya yang jumlahnya terlampau banyak. Sehingga dengan demikian, maka ia pun langsung mencengkeram gagang tombak Kiai Sangga Langit. Tombak pusaka yang menjadi benda pusaka perguruan Lintang Kemukus warisan dari mendiang gurunya yaitu Ki Ageng Danapati. Mata tombak telah terhunus dari warangkanya. Pamornya yang kebiru –biruan menyala terpantulkan sinar matahari. Seperti Sukmo Aji, Wirapati pun segera mencabut kerisnya yang berukuran besar.
Sementara Ki Panjalu telah menggenggam sebatang tongkat baja yang selalu ia sisipkan di balik bajunya. Ternyata para prajurit dari Pajang dan Pasuruan telah langsung berada di puncak kemampuan masing-masing. Jaran Lajar yang memimpin orang-orangnya telah berlari-larian pula.
Sebelum pasukannya membentur para pengawal, maka Jaran Lajar sempat berteriak, “Menyerah sajalah. Letakkan senjata dan kami akan membawa kalian ke sarang kami.”
Sama sekali tidak terdengar jawaban. Yang dilihat oleh Jaran Lajar kemudian adalah senjata yang teracu. Bahkan kemudian para pengawal dari Pasuruan dan dari Pajang telah bergerak maju.
“He,” Jaran Lajar berteriak pula, “kalian tidak mendengarkan aku? Jumlah kami jauh lebih banyak. Di antara kami terdapat orang-orang yang tidak terkalahkan selama kami menjelajahi pulau ini.”
Masih tetap tidak terdengar jawaban. Namun sementara itu, para pucuk pimpinan Pajang dan Pasuruan pun menjadi cemas. Sukmo Aji, Pranata, Simo, Wirapati dan Ki Panjalu pun mulai membayangkan kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Para pengawal akan mengalami kesulitan. Karena itulah, maka kelima orang ini nampaknya sedang menunggu. Mereka harus berada di antara para pengawal dan menghadapi orang yang dapat menumbuhkan kesulitan di antara mereka.
Sejenak kemudian, maka kedua pasukan itu pun sudah mulai berbenturan. Masih terdengar suara Jaran Lajar, “Kalian orang-orang bodoh yang tidak mau mendengar peringatanku. Terserah kepada kalian, bahwa kalian akan mati dengan sia-sia di tepi hutan ini.”
“Kita pun akan bertempur tanpa kuda,” desisnya kemudian sambil mengawasi sekelompok lawan yang berlari-lari mendapatkannya.
Sukmo Aji dan prajuritnya pun segera meloncat turun. Wirapati yang berdiri di samping Ki Panjalu menggeram. Sekilas dipandanginya wajah para pengawalnya yang tegang, sementara Kayun salah seorang pengawal dari Pasuruan mengatupkan giginya rapat-rapat.
“Maaf Ki Panjalu,” terdengar suara Wirapati, “kita menghadapi hal ini untuk kedua kalinya ”
Ki Panjalu memandang Wirapati sekilas. Namun kemudian matanya kembali memandang orang-orang yang berlari-larian dengan senjata teracung-acung dan bahkan dengan teriakan-teriakan nyaring.
“Kita tidak dapat menyalahkah diri sendiri,” jawabnya, “tetapi kita harus mencoba untuk berbuat sesuatu bagi keselamatan kita. Apalagi keadaan kita sangat berbeda daripada hari kemarin. Sekarang ada prajurit –prajurit Pajang yang akan membantu kita”
Tidak ada kesempatan untuk banyak berpikir. Sejenak kemudian tentu akan terjadi pertempuran yang seru. Namun agaknya jumlahnya sama sekali tidak seimbang, karena yang berloncatan keluar dari hutan ternyata sebanyak dua kali lipat.
Pranata menarik nafas dalam-dalam. Ia sama sekali tidak menduga bahwa ada segerombolan perampok yang dapat mengerahkan orang sebanyak itu. Tetapi yang dihadapi itu bukannya sekedar bayangan kecemasan. Tetapi benar-benar sejumlah orang yang banyaknya dua kali lipat. Dalam pada itu, para pengawal dari Pajang dan Pasuruan telah memencar dalam kelompok masing-masing. Tetapi mereka tidak mengambil jarak terlalu jauh, sehingga jika diperlukan, maka kelompok-kelompok itu akan dapat saling membantu.
Sukmo Aji yang berada di ujung telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Ia tidak mau mengambil jalan yang jauh untuk menghadapi lawannya yang jumlahnya terlampau banyak. Sehingga dengan demikian, maka ia pun langsung mencengkeram gagang tombak Kiai Sangga Langit. Tombak pusaka yang menjadi benda pusaka perguruan Lintang Kemukus warisan dari mendiang gurunya yaitu Ki Ageng Danapati. Mata tombak telah terhunus dari warangkanya. Pamornya yang kebiru –biruan menyala terpantulkan sinar matahari. Seperti Sukmo Aji, Wirapati pun segera mencabut kerisnya yang berukuran besar.
Sementara Ki Panjalu telah menggenggam sebatang tongkat baja yang selalu ia sisipkan di balik bajunya. Ternyata para prajurit dari Pajang dan Pasuruan telah langsung berada di puncak kemampuan masing-masing. Jaran Lajar yang memimpin orang-orangnya telah berlari-larian pula.
Sebelum pasukannya membentur para pengawal, maka Jaran Lajar sempat berteriak, “Menyerah sajalah. Letakkan senjata dan kami akan membawa kalian ke sarang kami.”
Sama sekali tidak terdengar jawaban. Yang dilihat oleh Jaran Lajar kemudian adalah senjata yang teracu. Bahkan kemudian para pengawal dari Pasuruan dan dari Pajang telah bergerak maju.
“He,” Jaran Lajar berteriak pula, “kalian tidak mendengarkan aku? Jumlah kami jauh lebih banyak. Di antara kami terdapat orang-orang yang tidak terkalahkan selama kami menjelajahi pulau ini.”
Masih tetap tidak terdengar jawaban. Namun sementara itu, para pucuk pimpinan Pajang dan Pasuruan pun menjadi cemas. Sukmo Aji, Pranata, Simo, Wirapati dan Ki Panjalu pun mulai membayangkan kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Para pengawal akan mengalami kesulitan. Karena itulah, maka kelima orang ini nampaknya sedang menunggu. Mereka harus berada di antara para pengawal dan menghadapi orang yang dapat menumbuhkan kesulitan di antara mereka.
Sejenak kemudian, maka kedua pasukan itu pun sudah mulai berbenturan. Masih terdengar suara Jaran Lajar, “Kalian orang-orang bodoh yang tidak mau mendengar peringatanku. Terserah kepada kalian, bahwa kalian akan mati dengan sia-sia di tepi hutan ini.”
Quote:
TIDAK SEORANG PUN dari para pengawal dari Pajang maupun dari Pasuruan yang menjawab. Tetapi sesaat kemudian dengan wajah yang tegang mereka telah melibatkan diri ke dalam pertempuran yang sengit. Pada benturan pertama, para pengawal sudah mulai terdesak karena jumlah lawan yang terlalu banyak. Mereka masih belum mapan, karena mereka masih harus menghadapi siapa saja yang berada di sekitarnya.
Sukmo Aji yang berada di ujung pasukan, tidak mau membiarkan kesulitan langsung menerkam pasukannya. Itulah sebabnya, maka tiba-tiba saja tombak Kiai Sangga Langit telah menari -nari dengan dahsyatnya. Jaran Lajar terkejut melihat di sayap bagian kanan pasukan anak buahnya tercerai berai. Bahkan, beberapa diantaranya terpental dari arena pertempuran dengan tubuh terluka.
“Gila,” geramnya, “orang bersenjata tombak pendek itu sangat pinunjung. Para anak buahku berantakan menghadapinya.” Namun kemudian, “Tetapi ia tidak akan dapat melawan beberapa orang sekaligus. Aku sendiri akan menghadapinya.”
Jaran Lajar termangu-mangu sejenak. Ia mencoba melihat pertempuran itu dalam keseluruhan. Tetapi cahaya kebiruan dari tombak Kiai Sangga Langit itu benar-benar telah menggelisahkan. Selagi ia termangu-mangu, maka di ujung yang lain dari cahaya biru yang bergulung - gulung itu, Ki Panjalu telah mulai menggerakkan besinya. Beberapa orang datang menyerangnya bersama-sama. Dan ia pun melihat bahwa hampir setiap pengawal harus melawan dua orang yang bertempur berpasangan.
“Mereka akan mengalami kesulitan,” berkata Ki Panjalu di dalam hatinya.
Karena Ki Panjalu menganggap bahwa orang-orang yang mencegat itu adalah perampok-perampok yang berpengalaman. Bahkan melihat jumlah yang besar itu, Ki Panjalu menghubungkan dengan bahwa perampok yang ini telah mengerahkan seluruh kekuatannya.
Karena itulah, maka ia pun segera turun pula di medan dengan senjatanya yang berputaran, sehingga dalam waktu yang singkat telah menarik banyak perhatian lawan.
“Orang tua ini aneh,” berkata seorang yang bertubuh pendek, “ beberapa hari yang lalu aku masih ingat orang tua itu tidak selincah itu. Tetapi mengapa hari ini ia begitu digdaya agaknya ia salah satu pengawal yang mempunyai kelebihan”
Ki Panjalu pun kemudian melihat seorang yang bertubuh pendek itu menyibak lawan-lawannya dan dengan sengaja telah mendapatkannya.
“Orang ini tentu salah satu pemimpinnya,” berkata Ki Panjalu di dalam hati.
Ternyata bahwa orang bertubuh pendek itu langsung menempatkan diri di hadapannya. Namun sambil menggerakkan senjatanya ia masih sempat bertanya, “ Kemarin aku masih melihat mu kerepotan menghadapi sergapan kami di tepi hutan Jati Jajar. Namun, kali ini tampaknya kanuragan mu maju dengan pesat nya Kiai? Kaukah salah satu pemimpin para pengawal dari Pasuruan?”
Ki Panjalu menghindar sambil menjawab. “Bukan. Aku sekedar seorang pengikut. Seorang pekatik atau tukang urus kuda. He, siapakah kau?”
“Orang memanggilku Sugatra.”
“Sugatra?” Ki Panjalu tertawa.
Sugatra mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Kenapa kau tertawa?”
“Namamu menarik sekali.”
Sugatra tidak menyahut. Tetapi serangannya pun menjadi semakin deras. Namun lawannya ternyata mampu menghidarinya. Tidak seujung rambut pun yang dapat disentuhnya meskipun Sugatra telah mengerahkan kemampuannya. Sejenak Sugatra terheran-heran. Ia termasuk orang yang disegani di sekitar Gunung Tidar. Namun kini ia menemukan seorang lawan yang aneh. Seorang lawan yang memiliki ilmu tiada taranya, sehingga ia mampu menghindari setiap serangannya.
“Gila,” geramnya di dalam dadanya, “tetapi aku harus dapat membunuhnya. Mungkin aku terlalu didorong oleh nafsu, sehingga aku kurang membuat perhitungan-perhitungan yang menguntungkan.”
Karena itulah maka Sugatra justru meloncat surut. Ia mulai menilai lawannya dengan pertimbangan-pertimbangan yang lebih berhati-hati. Bukan sekedar menyerang tanpa perhitungan.
“Aku salah menilai. Dan aku harus memperbaikinya sebelum terlambat.”
Sugatra pun kemudian mengerahkan segenap ilmunya dan mempersiapkan serangan yang akan dapat melumpuhkan lawannya.
“Aku tidak boleh menganggapnya tidak berarti meskipun nampaknya ia sudah tua. Senjatanya yang hanya sebatang besi itu menunjukkan, bahwa ia memiliki kemampuan yang tentu melampaui kawan-kawannya.”
Ki Panjalu terdesak surut sesaat. Tetapi bukan karena ilmu Sugatra yang tidak terlawan. Ia hanya sekedar ingin mendapatkan waktu untuk melihat, apa yang terjadi di sekitarnya.
Ki Panjalu mengerutkan keningnya, ketika ia melihat sepasang anak-anak muda yang memiliki ketangkasan dan kecepatan bergerak yang luar biasa. Salah satu pemuda itu mengenakan pakaian serba merah dan seorang lagi berwajah datar mengenakan ikat kepala wulung. Dengan berpasangan, mereka seolah-olah telah menguasai suatu arena yang luas. Jurus – jurus dan gerakannya kadang-kadang mengejutkan, dan agak membingungkan lawannya.
“Ternyata para perampok ini juga memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan. Untunglah mereka bertemu dengan para pengawal yang berpengalaman meskipun agak lengah sedikit pada saat-saat yang justru gawat,” berkata Ki Panjalu di dalam hatinya.
Sukmo Aji yang berada di ujung pasukan, tidak mau membiarkan kesulitan langsung menerkam pasukannya. Itulah sebabnya, maka tiba-tiba saja tombak Kiai Sangga Langit telah menari -nari dengan dahsyatnya. Jaran Lajar terkejut melihat di sayap bagian kanan pasukan anak buahnya tercerai berai. Bahkan, beberapa diantaranya terpental dari arena pertempuran dengan tubuh terluka.
“Gila,” geramnya, “orang bersenjata tombak pendek itu sangat pinunjung. Para anak buahku berantakan menghadapinya.” Namun kemudian, “Tetapi ia tidak akan dapat melawan beberapa orang sekaligus. Aku sendiri akan menghadapinya.”
Jaran Lajar termangu-mangu sejenak. Ia mencoba melihat pertempuran itu dalam keseluruhan. Tetapi cahaya kebiruan dari tombak Kiai Sangga Langit itu benar-benar telah menggelisahkan. Selagi ia termangu-mangu, maka di ujung yang lain dari cahaya biru yang bergulung - gulung itu, Ki Panjalu telah mulai menggerakkan besinya. Beberapa orang datang menyerangnya bersama-sama. Dan ia pun melihat bahwa hampir setiap pengawal harus melawan dua orang yang bertempur berpasangan.
“Mereka akan mengalami kesulitan,” berkata Ki Panjalu di dalam hatinya.
Karena Ki Panjalu menganggap bahwa orang-orang yang mencegat itu adalah perampok-perampok yang berpengalaman. Bahkan melihat jumlah yang besar itu, Ki Panjalu menghubungkan dengan bahwa perampok yang ini telah mengerahkan seluruh kekuatannya.
Karena itulah, maka ia pun segera turun pula di medan dengan senjatanya yang berputaran, sehingga dalam waktu yang singkat telah menarik banyak perhatian lawan.
“Orang tua ini aneh,” berkata seorang yang bertubuh pendek, “ beberapa hari yang lalu aku masih ingat orang tua itu tidak selincah itu. Tetapi mengapa hari ini ia begitu digdaya agaknya ia salah satu pengawal yang mempunyai kelebihan”
Ki Panjalu pun kemudian melihat seorang yang bertubuh pendek itu menyibak lawan-lawannya dan dengan sengaja telah mendapatkannya.
“Orang ini tentu salah satu pemimpinnya,” berkata Ki Panjalu di dalam hati.
Ternyata bahwa orang bertubuh pendek itu langsung menempatkan diri di hadapannya. Namun sambil menggerakkan senjatanya ia masih sempat bertanya, “ Kemarin aku masih melihat mu kerepotan menghadapi sergapan kami di tepi hutan Jati Jajar. Namun, kali ini tampaknya kanuragan mu maju dengan pesat nya Kiai? Kaukah salah satu pemimpin para pengawal dari Pasuruan?”
Ki Panjalu menghindar sambil menjawab. “Bukan. Aku sekedar seorang pengikut. Seorang pekatik atau tukang urus kuda. He, siapakah kau?”
“Orang memanggilku Sugatra.”
“Sugatra?” Ki Panjalu tertawa.
Sugatra mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Kenapa kau tertawa?”
“Namamu menarik sekali.”
Sugatra tidak menyahut. Tetapi serangannya pun menjadi semakin deras. Namun lawannya ternyata mampu menghidarinya. Tidak seujung rambut pun yang dapat disentuhnya meskipun Sugatra telah mengerahkan kemampuannya. Sejenak Sugatra terheran-heran. Ia termasuk orang yang disegani di sekitar Gunung Tidar. Namun kini ia menemukan seorang lawan yang aneh. Seorang lawan yang memiliki ilmu tiada taranya, sehingga ia mampu menghindari setiap serangannya.
“Gila,” geramnya di dalam dadanya, “tetapi aku harus dapat membunuhnya. Mungkin aku terlalu didorong oleh nafsu, sehingga aku kurang membuat perhitungan-perhitungan yang menguntungkan.”
Karena itulah maka Sugatra justru meloncat surut. Ia mulai menilai lawannya dengan pertimbangan-pertimbangan yang lebih berhati-hati. Bukan sekedar menyerang tanpa perhitungan.
“Aku salah menilai. Dan aku harus memperbaikinya sebelum terlambat.”
Sugatra pun kemudian mengerahkan segenap ilmunya dan mempersiapkan serangan yang akan dapat melumpuhkan lawannya.
“Aku tidak boleh menganggapnya tidak berarti meskipun nampaknya ia sudah tua. Senjatanya yang hanya sebatang besi itu menunjukkan, bahwa ia memiliki kemampuan yang tentu melampaui kawan-kawannya.”
Ki Panjalu terdesak surut sesaat. Tetapi bukan karena ilmu Sugatra yang tidak terlawan. Ia hanya sekedar ingin mendapatkan waktu untuk melihat, apa yang terjadi di sekitarnya.
Ki Panjalu mengerutkan keningnya, ketika ia melihat sepasang anak-anak muda yang memiliki ketangkasan dan kecepatan bergerak yang luar biasa. Salah satu pemuda itu mengenakan pakaian serba merah dan seorang lagi berwajah datar mengenakan ikat kepala wulung. Dengan berpasangan, mereka seolah-olah telah menguasai suatu arena yang luas. Jurus – jurus dan gerakannya kadang-kadang mengejutkan, dan agak membingungkan lawannya.
“Ternyata para perampok ini juga memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan. Untunglah mereka bertemu dengan para pengawal yang berpengalaman meskipun agak lengah sedikit pada saat-saat yang justru gawat,” berkata Ki Panjalu di dalam hatinya.
Quote:
DENGAN DEMIKIAN, maka ia pun tidak lagi sekedar termangu-mangu. Pertempuran ini adalah sebenarnya pertempuran yang dapat berbahaya bagi orang-orang Pasuruan dan Pajang. Sehingga karena itulah maka ia pun segera mempersiapkan diri untuk menghadapi pertarungan ilmu yang akan menjadi semakin dahsyat. Meskipun seorang melawan seorang Ki Panjalu yakin tidak akan mendapat kesulitan sama sekali, tetapi sebagai seorang prajurit yang berpengalaman, maka ia harus memandang kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi di medan. Orang-orang terkuat di antara lawannya yang jumlahnya berlipat itu akan dapat bergabung dan melawannya bersama-sama.
Karena itulah, maka Ki Panjalu pun harus bertindak cepat. Sebelum lawannya menyadari seluruh keadaan, ia harus sudah dapat menguasai mereka dengan suatu hentakan yang mengejutkan. Sejenak kemudian, maka Ki Panjalu-lah yang meloncat menyerang Sugatra dengan senjatanya yang menggetarkan. Sebatang besi berputaran di tangan kanan. Sugatra menjadi berdebar-debar. Ia belum pernah menemukan lawan dengan senjata yang sangat sederhana itu. Karena itulah, maka ia harus berusaha untuk menyesuaikan diri dalam perlawanannya atas batang besi yang mencecar bagian –bagian tubuhnya dengan deras.
Hanya sesaat kemudian, ternyata Sugatra sudah merasakan kesulitan yang hampir tidak teratasi. Itulah sebabnya, maka ia pun segera memberikan isyarat kepada kedua orang anak buahnya yang tengah bertempur tidak jauh dari tempatnya.
“Orang tua ini agaknya telah kepanjingan setan,” geram Sugatra.
Dua orang anak buahnya itu merasa heran mendengarnya. Sugatra adalah orang yang tidak ada duanya di dalam gerombolannya. Tetapi menghadapi orang bersenjata sebatang besi itu, ia memerlukan orang lain untuk membantunya. Tetapi karena jumlahnya memang cukup banyak, maka kedua orang itu pun tidak berpikir lebih lama lagi. Mereka pun segera meloncat mendekati Ki Panjalu yang sedang bertempur melawan Sugatra.
Meskipun Panjalu sadar, bahwa ia harus mengerahkan ilmunya untuk menghadapi ketiga orang lawannya yang luar biasa itu, namun dengan demikian ia sudah menyerap orang-orang yang dianggapnya sangat berbahaya bagi para pengawal dari Pajang dan Pasuruan.
Dengan demikian, maka Ki Panjalu pun segera terlibat dalam perkelahian yang sengit. Tiga orang lawannya ternyata segera berhasil mengurungnya. Namun demikian, ternyata senjata Panjalu berhasil melindungi dirinya seperti sebuah perisai yang mengelilinginya. Putaran batang besi yang menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Bukan saja sekedar menjauhkan lawannya pada jarak putaran, tetapi sekali-sekali ujung besi itu telah mematuk dengan dahsyatnya, melampaui ujung lidah seekor ular yang paling berbisa. Sugatra menjadi heran. Berpasangan dengan dua orang anak buahnya yang dibanggakannya, ia tidak segera mampu menguasai lawannya yang tua itu. Bahkan kadang-kadang, putaran besi yang seperti baling -baling itu telah berhasil mendesaknya tanpa dapat berbuat sesuatu.
“Gila. Iblis manakah yang telah merasuk ke dalam tubuh orang tua itu?” bertanya Sugatra kepada diri sendiri. Bahkan kemudian, “Apakah ia juga termasuk salah satu tumenggung di Pasuruan?”
Namun Sugatra masih harus mengerahkan segenap ilmunya untuk mengatasi lawannya yang memiliki ilmu tidak teratasi itu. Dalam pada itu, ternyata seorang lagi yang termangu-mangu memandang perkelahian antara Ki Panjalu dengan ketiga orang lawannya. Seorang yang berwajah sekasar batu padas yang di sana-sini terdapat goresan-goresan bekas luka . Dengar kerut-merut di kening ia menyaksikan perkelahian yang semakin dahsyat itu.
“Gila,” geramnya, “Kakang Sugatra dan kedua orang itu tidak segera dapat membunuh orang tua itu. Tentu ia orang luar biasa.”
Dan orang itu pun tiba-tiba telah meloncat mendekat pula sambil berkata lantang, “Aku akan ikut serta kakang Sugatra, agar perjalanan yang menjemukan ini cepat selesai. Ternyata kerja kita masih cukup banyak.”
Sugatra tidak menjawab. Tetapi ia pun tidak melarang orang berwajah sekasar batu padas itu untuk ikut serta. Di antara keempat orang lawannya, Ki Panjalu segera melihat, bahwa orang berwajah kasar itu adalah orang yang paling liar. Tandangnya bagaikan seekor harimau kelaparan berebut daging. Ia sama sekali tidak mengenal unggah-ungguh perkelahian sekalipun. Betapapun juga kemampuan dan pengalaman yang ada pada Ki Panjalu, namun melawan empat orang terkuat dari pasukan Sugatra itu ia merasa berat juga.
Serangan yang datang dari empat penjuru, kadang-kadang memaksanya untuk berloncatan surut. Sementara itu, para pengawal dari Pajang dan Pasuruan telah bertempur dengan segenap kemampuan yang ada pada mereka. Lawan mereka ternyata terlampau banyak, sehingga hampir setiap orang dari pada pengawal itu harus bertempur melawan lebih dari seorang lawan. Pranata yang masih muda ternyata memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan. Didorong oleh kemarahan yang meluap-luap, ia bertempur dengan sepenuh kemampuan yang ada padanya tanpa ragu-ragu. Sementara di ujung, Sukmo Aji pun telah mendesak lawan- lawannya dengan ujung tombak dan sambaran landean tombaknya. Setiap kali ujung tombaknya mematuk telah membuat lawannya terdesak surut.
Karena itulah, maka Ki Panjalu pun harus bertindak cepat. Sebelum lawannya menyadari seluruh keadaan, ia harus sudah dapat menguasai mereka dengan suatu hentakan yang mengejutkan. Sejenak kemudian, maka Ki Panjalu-lah yang meloncat menyerang Sugatra dengan senjatanya yang menggetarkan. Sebatang besi berputaran di tangan kanan. Sugatra menjadi berdebar-debar. Ia belum pernah menemukan lawan dengan senjata yang sangat sederhana itu. Karena itulah, maka ia harus berusaha untuk menyesuaikan diri dalam perlawanannya atas batang besi yang mencecar bagian –bagian tubuhnya dengan deras.
Hanya sesaat kemudian, ternyata Sugatra sudah merasakan kesulitan yang hampir tidak teratasi. Itulah sebabnya, maka ia pun segera memberikan isyarat kepada kedua orang anak buahnya yang tengah bertempur tidak jauh dari tempatnya.
“Orang tua ini agaknya telah kepanjingan setan,” geram Sugatra.
Dua orang anak buahnya itu merasa heran mendengarnya. Sugatra adalah orang yang tidak ada duanya di dalam gerombolannya. Tetapi menghadapi orang bersenjata sebatang besi itu, ia memerlukan orang lain untuk membantunya. Tetapi karena jumlahnya memang cukup banyak, maka kedua orang itu pun tidak berpikir lebih lama lagi. Mereka pun segera meloncat mendekati Ki Panjalu yang sedang bertempur melawan Sugatra.
Meskipun Panjalu sadar, bahwa ia harus mengerahkan ilmunya untuk menghadapi ketiga orang lawannya yang luar biasa itu, namun dengan demikian ia sudah menyerap orang-orang yang dianggapnya sangat berbahaya bagi para pengawal dari Pajang dan Pasuruan.
Dengan demikian, maka Ki Panjalu pun segera terlibat dalam perkelahian yang sengit. Tiga orang lawannya ternyata segera berhasil mengurungnya. Namun demikian, ternyata senjata Panjalu berhasil melindungi dirinya seperti sebuah perisai yang mengelilinginya. Putaran batang besi yang menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Bukan saja sekedar menjauhkan lawannya pada jarak putaran, tetapi sekali-sekali ujung besi itu telah mematuk dengan dahsyatnya, melampaui ujung lidah seekor ular yang paling berbisa. Sugatra menjadi heran. Berpasangan dengan dua orang anak buahnya yang dibanggakannya, ia tidak segera mampu menguasai lawannya yang tua itu. Bahkan kadang-kadang, putaran besi yang seperti baling -baling itu telah berhasil mendesaknya tanpa dapat berbuat sesuatu.
“Gila. Iblis manakah yang telah merasuk ke dalam tubuh orang tua itu?” bertanya Sugatra kepada diri sendiri. Bahkan kemudian, “Apakah ia juga termasuk salah satu tumenggung di Pasuruan?”
Namun Sugatra masih harus mengerahkan segenap ilmunya untuk mengatasi lawannya yang memiliki ilmu tidak teratasi itu. Dalam pada itu, ternyata seorang lagi yang termangu-mangu memandang perkelahian antara Ki Panjalu dengan ketiga orang lawannya. Seorang yang berwajah sekasar batu padas yang di sana-sini terdapat goresan-goresan bekas luka . Dengar kerut-merut di kening ia menyaksikan perkelahian yang semakin dahsyat itu.
“Gila,” geramnya, “Kakang Sugatra dan kedua orang itu tidak segera dapat membunuh orang tua itu. Tentu ia orang luar biasa.”
Dan orang itu pun tiba-tiba telah meloncat mendekat pula sambil berkata lantang, “Aku akan ikut serta kakang Sugatra, agar perjalanan yang menjemukan ini cepat selesai. Ternyata kerja kita masih cukup banyak.”
Sugatra tidak menjawab. Tetapi ia pun tidak melarang orang berwajah sekasar batu padas itu untuk ikut serta. Di antara keempat orang lawannya, Ki Panjalu segera melihat, bahwa orang berwajah kasar itu adalah orang yang paling liar. Tandangnya bagaikan seekor harimau kelaparan berebut daging. Ia sama sekali tidak mengenal unggah-ungguh perkelahian sekalipun. Betapapun juga kemampuan dan pengalaman yang ada pada Ki Panjalu, namun melawan empat orang terkuat dari pasukan Sugatra itu ia merasa berat juga.
Serangan yang datang dari empat penjuru, kadang-kadang memaksanya untuk berloncatan surut. Sementara itu, para pengawal dari Pajang dan Pasuruan telah bertempur dengan segenap kemampuan yang ada pada mereka. Lawan mereka ternyata terlampau banyak, sehingga hampir setiap orang dari pada pengawal itu harus bertempur melawan lebih dari seorang lawan. Pranata yang masih muda ternyata memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan. Didorong oleh kemarahan yang meluap-luap, ia bertempur dengan sepenuh kemampuan yang ada padanya tanpa ragu-ragu. Sementara di ujung, Sukmo Aji pun telah mendesak lawan- lawannya dengan ujung tombak dan sambaran landean tombaknya. Setiap kali ujung tombaknya mematuk telah membuat lawannya terdesak surut.
Diubah oleh breaking182 15-11-2022 09:30
ashrose dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Kutip
Balas