Kaskus

News

harrywjyyAvatar border
TS
harrywjyy
Si Pitung Jawara Betawi Yang Ditakuti Belanda, Sejarah Atau Legenda?
Si Pitung Jawara Betawi Yang Ditakuti Belanda, Sejarah Atau Legenda?
Sumber Gambar

Pitung merupakan salah satu nama yang tak asing lagi di telinga masyarakat Jakarta. Namanya abadi sebagai salah satu jawara Betawi yang melegenda sebagai salah satu pejuang melawan para kompeni Belanda di masa penjajahan.

Sosok Si Pitung kerap disamakan dengan Robin Hood dari Inggris. Karena keberadaan sangat membantu masyarakat kecil di masa itu dari penindasan yang dilakukan oleh para penjajah Belanda.

Pitung sendiri lahir di Rawa Belong, Batavia pada tahun 1866. Anak dari pasangan Piung dan Pinah. Semasa kecilnya, Pitung berguru pada seorang guru mengaji sekaligus guru silat bernama Haji Naipin. Bersama Haji Naipinlah ilmu silat dan agama Pitung terlatih.

Si Pitung Jawara Betawi Yang Ditakuti Belanda, Sejarah Atau Legenda?
Sumber Gambar

Sejak kecil Pitung juga sudah banyak melihat penindasan yang dilakukan Belanda kepada keluarga dan juga masyarakat sekitarnya. Hal ini mendorongnya untuk melakukan sesuatu demi memberikan kehidupan yang lebih layak dan adil bagi masyarakat.

Bersama kawanan banditnya, Pitung mulai merampok harta para petinggi dan pejabat Belanda. Tak hanya itu, ia juga merampas harta para tuan tanah dan orang-orang kaya pribumi yang merenggut hak-hak masyarakat.

Semua barang curian itu kemudian di bagikan kepada semua orang yang membutuhkan. Membantu warga-warga yang kesusahan. Hal ini membuat warga kampung amat menyukai sosok si Pitung. Pria berpeci hitam yang menyelamatkan banyak orang.

Si Pitung Jawara Betawi Yang Ditakuti Belanda, Sejarah Atau Legenda?
Sumber Gambar

Perbuatannya ini membuat pemerintah Hindia-Belanda pada saat itu geram. Pitung pun diburu dan menjadi buronan. Belanda bahkan membayar para jawara-jawara silat untuk menemukan Pitung dan menangkap Pitung hidup-hidup. Namun tak semudah itu, ilmu silat yang dimiliki Pitung membuat Belanda kewalahan. Bahkan beredar kabar bahwa Pitung tak mempan ditembak peluru.

Pitung sebenarnya sudah pernah ditangkap, namun entah dengan cara apa ia bisa berhasil kabur dengan mudah. Hingga suatu saat, Belanda berhasil menemukan salah satu teman Pitung yang sangat mengenal Pitung semasa berguru dengan Haji Naipin.

Belanda lalu mendesak teman Pitung itu untuk memberi tahu kelemahan si Pitung. Karena desakan itu, terpaksa ia memberitahu Belanda bahwa kelemahan Pitung adalah peluru emas.

Akhirnya, dipancinglah Pitung untuk keluar dari persembunyiannya. Dan saat itu juga, Belanda menembak Pitung dengan peluru emas hingga terkapar tak berdaya.

Si Pitung Jawara Betawi Yang Ditakuti Belanda, Sejarah Atau Legenda?
Sumber Gambar

Ada banyak cerita beredar mengenai Si Pitung ini. Bahkan mungkin saja cerita yang TS jabarkan di atas berbeda dengan cerita yang kalian ketahui. Namun, apakah Pitung betul-betul ada atau hanya legenda?emoticon-Bingung (S)

Meski begitu terkenal dan melegenda, masih banyak orang yang meragukan keberadaan Pitung. Bahkan ada yang menganggap Pitung hanya fiksi belaka. Hal ini karena kurangnya bukti dan sumber sejarah, serta banyaknya bversi cerita yang berbeda-beda.

Dalam versi Belanda sendiri, nama Pitung tercatat di salah satu koran atau surat kabar Hindia Belanda. Namun tentu saja, versi Belanda menggambarkan bahwa Pitung adalah seorang penjahat bengis dan kejam. Berbeda dengan sudut pandang orang pribumi yang menganggap Pitung sebagai pahlawan.

Si Pitung Jawara Betawi Yang Ditakuti Belanda, Sejarah Atau Legenda?
Sumber Gambar

Namun apapun itu, mau legenda atau sejarah, Pitung seharusnya jadi contoh bagi kita untuk tidak diam di tengah penindasan entah itu dalam skala kecil atau skala nasional. Mungkin caranya saja yang tidak perlu seperti Pitung. Karena setiap zaman memiliki cara sendiri untuk bertindak.

Khusus TS pribadi, Pitung adalah salah satu tokoh yang TS kagumi. Wibawanya, keberaniannya seharusnya jadi contoh untuk kita semua.

Tambahan, TS sendiri pernah membahas tentang Pitung di salah satu kesempatan ketika perayaan Hari Museum Nasional di Museum Bahari, Jakarta. Hehe.

Si Pitung Jawara Betawi Yang Ditakuti Belanda, Sejarah Atau Legenda?

Gimana menurut kalian gan? Pitung itu beneran ada atau enggak? emoticon-Bingung (S)

Sumber: Link Referensi
Ditulis oleh Harry Wijaya
Tulisan dan Narasi Pribadi


emoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Ganemoticon-Cendol Gan
Diubah oleh harrywjyy 11-11-2022 17:50
samnkuku419Avatar border
bukan.bomatAvatar border
lusfdlrrhmnAvatar border
lusfdlrrhmn dan 16 lainnya memberi reputasi
17
4.4K
86
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
Sejarah & Xenology
KASKUS Official
6.5KThread11.6KAnggota
Tampilkan semua post
masbobbyAvatar border
masbobby
#7
Ini versi Wikicrot:

Berdasarkan penelusuran Van Till (1996) berdasarkan Hindia Olanda 22-11-1892 (Koran Terbitan Malaya (Malaysia pada saat ini)). Pada tahun 1892 Si Pitung dikenal pada sebagai “Wan Bitoeng”, “Pitang", kemudian menjadi “Si Pitoeng” (Hindia Olanda 28-6-1892:3; 26-8-1892:2). Laporan pertama dari surat kabar ini menunjukkan bahwa schout Tanah Abang mencari rumah “Wan Bitoeng” di Sukabumi. Dari hasil penemuannya ditemukan Jas Hitam, Seragam Polisi dan Topi, serta beberapa perlengkapan lainnya yang digunakan untuk mencuri kampung (Hindia Olanda, 28-6-1892:2). Sebulan kemudian polisi menggeledah rumahnya kembali dan ditemukan uang sebesar 125 gulden. Hal ini diduga uang curian dari Nyonya De C dan Haji Saipudin seorang Bugis dari Marunda (Hindia Olanda 10-8-1892:2;2; 26-8-1892:2). Kemudian Si Pitung menggunakan senjata untuk mencuri pada tanggal 30 Juli 1892, ketika itu Si Pitung dan lima kawanannya (Abdoelrachman, Moedjeran, Merais, Dji-ih, dan Gering) menerobos rumah Haji Saipudin dengan mengancam bahwa Haji Saipudin akan ditembak.

Pada tahun 1892, Pitung dan kawanannya ditangkap oleh polisi sesudah Kepala Kampung Kebayoran yang menerima 50 ringgit (Hindia Olanda 26-8-1892:2) memberi nasihat untuk menangkap Si Pitung. Setelah ditangkap, kurang dari setahun kemudian, pada musim semi 1893, Pitung dan Dji-ih merencanakan kabur dengan cara yang misterius dari tahanan Meester Cornelis. Sebuah investigasi kemudian dilakukan oleh Asisten Residen sendiri, tetapi tidak berhasil. Karena kejadian tersebut, Kepala Penjara dicurigai melepaskan si Pitung dan Dji-ih. Akhirnya seorang Petugas Penjara mengakui bahwa dia meminjamkan sebuah belincong (sejenis linggis pencungkil) kepada Si Pitung, yang kemudian digunakan untuk membongkar atap dan mendaki dinding (Hindia Olanda, 25-4-1893:3; Lokomotief 25-4 1893:2). Akibatnya, Si Pitung lepas lagi.

Berdasarkan rumor, Pitung pernah menampakkan diri kepada seorang wanita di sebuah perahu dengan nama Prasman. Detektif mencoba mencari di kapal tersebut (Hindia Olanda, 12-5-1893:3), tetapi hasilnya Pitung tidak dapat ditemukan. Karena sulitnya menemukan dan menangkap si Pitung, harga untuk penangkapan Pitung menjadi meningkat sebesar 400 Gulden. Pemerintah Belanda pada saat itu ingin menembak mati Pitung di tempat, tetapi sebagian pejabat mengatakan, jika Pitung ditembak justru akan menumbuhkan semangat patriotik, sehingga niat ini diurungkan oleh kepolisian Batavia untuk menembak ditempat walaupun pada akhirnya hal ini dilakukan juga.

Sebagai tindakan balas dendam, Pitung melakukan pencurian dengan kekerasan termasuk dengan menggunakan sejata api. Akhirnya Pitung dan Dji-ih membunuh seorang polisi intel yang bernama Djeram Latip (Hindia Olanda 23-9-1893:2). Dia juga mencuri dari wanita pribumi, Mie, termasuk pakaian laki-laki serta pistol revolver dengan pelurunya. Pernyataan ini didukung oleh Nyonya De C, seorang pedagang wanita di Kali Besar yang menyatakan bahwa Pitung mencuri sarung yang bernilai ratusan Gulden dari perahunya (Hindia Olanda 22-11-1892:2).

Dji-ih ditangkap kembali di kampung halamannya ketika sedang menderita sakit. Pada saat itu Dji-ih pulang ke kampung halamannya untuk memperoleh pengobatan. Kemudian dia pindah ke rumah orang tua yang dikenal. Kepala kampung pada saat itu (Djoeragan) melaporkannya ke Demang kemudian memerintahkan tentara untuk menangkap Dji-ih dirumahnya. Karena dia terlalu sakit, dia tidak berdaya untuk melawan, walaupun pada saat itu pistol dalam jangkauannya (Hindia Olanda 19-8-1893:2). Dia menyerah tanpa perlawanan. Untuk menutupi hal ini kemudian Pemerintah Belanda melansir di Java-Bode (15-8-1893:2) bahwa Dji-ih kabur ke Singapura. Informan yang bertanggungjawab melaporkan Dji-ih kemudian ditembak mati oleh Pitung di suatu tempat yang tak jauh dari Batavia beberapa minggu kemudian.

“'Itoe djoeragan koetika ketemoe Si Pitoeng betoelan di tempat sepi troes, Si djoeragan menjikip pada Si Pitoeng dan dari tjipetnja Si Pitoeng troes ambil pestolnja dari pinjang, lantas tembak si djoeragan itoe menjadi mati itoe tempat djoega.' (Hindia Olanda 1-9-1893:2.)

Beberapa bulan kemudian, di bulan Oktober, Kepala Polisi Hinne mempelajari dari informan bahwa Pitung terlihat di Kampung Bambu, kampung di antara Tanjung Priok dan Meester Cornelis. Kemudian dalam perjalanannya Hinne diberi laporan bahwa Pitung telah pindah ke arah pekuburan di Tanah Abang (Hindia Olanda 18-10-1893). Kemudian, Hinne menembaknya dalan penyergapan itu. Pitung ditembak di tangan, kemudian Pitung membalasnya. Kemudian Hinne menembak kedua kalinya, tetapi meleset, dan peluru ketiga mengenai dada dan membuatnya terjerembap di tanah. Sehari sesudah kematiannya, hari Senin, jenazah dibawa ke pemakaman Kampung Baru pada jam 5 sore.

Setelah Hinne menangkap Pitung, setahun kemudian dia dipromosikan menjadi Kepala Polisi Distrik Tanah Abang untuk mengawasi seluruh Metropolitan Batavia-Weltevreden. Setelah kejadian tersebut Pemerintah Hindia Belanda melakukan pencegahan agar "Pitung-Pitung" yang lain tidak terjadi lagi di Batavia. Bahkan karena ketakutannya makam Si Pitung setelah kematiannya, dijaga oleh Pemerintah Belanda agar tidak diziarahi oleh masyarakat pada waktu itu.


Si Pitung asli Sukabumi dong, bukan Betawi

Sumber:
Wikicrot
Diubah oleh masbobby 11-11-2022 08:22
dieq41
squitward
Rinka17
Rinka17 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.