- Beranda
- Stories from the Heart
THE WORLD [MONSTER]
...
TS
the.collega
THE WORLD [MONSTER]
Dibalik kemegahan dan kilauannya dunia ini, ternyata ia menyimpan suatu rahasia tergelap.
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
ARC I "Black Beat Beaters"
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
PERHATIAN:
- Mengandung kekerasan
- Bahasa Kasar
- Sedikit Vulgar
Quote:
![THE WORLD [MONSTER]](https://s.kaskus.id/images/2020/09/15/2385673_20200915024638.jpg)
"The Beetle Monster" by Funky Boy on artstation.com
Cerita mulai di post 2
INDEX
Character Bio : Penggambaran karakter yang muncul di serial ini [BWK Super]
bio
The World Entertainment : berisi cerita-cerita jenaka dari dunia The World [Monster]
Spoiler for Cerita Jenaka:
ARC I "Black Beat Beaters"
Spoiler for ARC I:
- Chapter 1
- Chapter 2
- Chapter 3
- Chapter 4
- Chapter 5
- Chapter 6
- Chapter 7
- Chapter 8
- Chapter 9
- Chapter 10
- Chapter 11
- Chapter 12
- Chapter 13
- Chapter 14
- Chapter 15
- Chapter 16
- Chapter 17
- Chapter 18
- Chapter 19
- Chapter 20
ARC II "The Farm"
Spoiler for ARC II:
- Chapter 21
- Chapter 22
- Chapter 23
- Chapter 24
- Chapter 25
- Chapter 25
- Chapter 26
- Chapter 27
- Chapter 28
- Chapter 29
- Chapter 30
- Chapter 31
- Chapter 32
- Chapter 33
- Chapter 34
- Chapter 35
- Chapter 36
- Chapter 37
- Chapter 38
- Chapter 39
- Chapter 40
- Chapter 41
- Chapter 42
- Chapter 43
- Chapter 44
- Chapter 45
ARC III "Mecha-Nism"
Spoiler for ARC III:
- Chapter 46
- Chapter 47
- Chapter 48
- Chapter 49
- Chapter 50
- Chapter 51
- Chapter 52
- Chapter 53
- Chapter 54
- Chapter 55
- Chapter 56
- Chapter 57
- Chapter 58
- Chapter 59
- Chapter 60
ARC IV "Warriors"
Spoiler for ARC IV:
- Chapter 61
- Chapter 62
- Chapter 63
- Chapter 64
- Chapter 65
- Chapter 66
- Chapter 67
- Chapter 68
- Chapter 69
- Chapter 70
- Chapter 71
- Chapter 72
- Chapter 73
- Chapter 74
- Chapter 75
- Chapter 76
- Chapter 77
- Chapter 78
- Chapter 79
- Chapter 80
- Chapter 81
- Chapter 82
- Chapter 83
- Chapter 84
- Chapter 85
- Chapter 86
- Chapter 87
ARC V "Betrayal"
Spoiler for ARC V:
- Chapter 88
- Chapter 89
- Chapter 90
- Chapter 91
- Chapter 92
- Chapter 93
- Chapter 94
- Chapter 95
- Chapter 96
- Chapter 97
- Chapter 98
- Chapter 99
- Chapter 100
- Chapter 101
- Chapter 102
- Chapter 103
- Chapter 104
- Chapter 105
- Chapter 106
- Chapter 107
- Chapter 108
- Chapter 109
- Chapter 110
- Chapter 111
- Chapter 112
- Chapter 113
- Chapter 114
- Chapter 115
- Chapter 116
- Chapter 117
ARC VI "Origin"
Spoiler for ARC VI:
- Chapter 118
- Chapter 119
- Chapter 120
- Chapter 121
- Chapter 122
- Chapter 123
- Chapter 124
- Chapter 125
- Chapter 126
- Chapter 127
- Chapter 128
- Chapter 129
- Chapter 130
- Chapter 131
- Chapter 132
- Chapter 133
- Chapter 134
- Chapter 135
- Chapter 136
- Chapter 137
- Chapter 138
- Chapter 139
- Chapter 140
ARC VII "Sword Of Light"
Spoiler for ARC VII:
- Chapter 141
- Chapter 142
- Chapter 143
- Chapter 144
- Chapter 145
- Chapter 146
- Chapter 147
- Chapter 148
- Chapter 149
- Chapter 150
- Chapter 151
- Chapter 152
- Chapter 153
- Chapter 154
- Chapter 155
- Chapter 156
- Chapter 157
ARC VIII "Beaters Assassination Special Squad"
Spoiler for ARC VIII:
- Chapter 158
- Chapter 159
- Chapter 160
- Chapter 161
- Chapter 162
- Chapter 163
- Chapter 164
- Chapter 165
- Chapter 166
- Chapter 167
- Chapter 168
- Chapter 169
- Chapter 170
- Chapter 171
- Chapter 172
- Chapter 173
- Chapter 174
- Chapter 175
- Chapter 176
- Chapter 177
- Chapter 178
- Chapter 179
- Chapter 180
- Chapter 181
- Chapter 182
- Chapter 183
- Chapter 184
- Chapter 185
- Chapter 186
- Chapter 187
- Chapter 188
- Chapter 189
- Chapter 190
- Chapter 191
- Chapter 192
- Chapter 193
- Chapter 194
- Chapter 195
- Chapter 196
- Chapter 197
ARC IX "RED SUN"
Spoiler for ARC IX:
- Chapter 198
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
- Chapter 199
- Chapter 200
- Chapter 201
- Chapter 202
- Chapter 203
- Chapter 204
- Lanjutan Arc
Diubah oleh the.collega 07-05-2025 14:12
eldini dan 34 lainnya memberi reputasi
25
27.9K
Kutip
702
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
the.collega
#268
Chapter 165
Quote:
Malam datang, angin sejuk berhembus melalui orang-orang yang masih sibuk dengan urusannya masing-masing. Lampu berwarna kekuningan membuat hawa menjadi lebih hangat. Laporan dari skuad 8 membuat semua skuad bersiap diri, selain melawan monster yang kian hari makin tidak terkendali, kini mereka dihadapkan oleh teror serius dari Golden Clan. Yang di atas kertas memiliki kekuatan yang lebih menakutkan dibandingkan Silver Clan.
Ketua BASS terus mendesak prof. Halstenbergh untuk segera menyelesaikan rancangan baju tempur terbarunya. Namun tidak ada jawaban yang pasti datang dari kantornya, Adrian selaku ketua unit persenjataan mengklaim bahwa semuanya sudah berjalan mendekati 95%, di mana hanya tinggal masalah waktu saja baju tempur itu selesai.
“Ayolah pak tua! Harga diri BASS dipertaruhkan di baju tempur itu,” ucap Adrian yang senantiasa menunggu dari ruangan prof. Halstenbergh. “teror Golden Clan, cih, semakin banyak saja masalah yang datang!” lanjutnya.
Selain memberi tahu seluruh jajaran BASS, siaran juga ditayangkan melalui televisi maupun seluruh media sosial, bahwa telah terjadi teror pada BASS. Diberitahukan juga kepada seluruh masyarakat agar tidak memberitahu lokasi markas BASS setempat kepada orang asing. Pro dan kontra bermunculan, padahal kejadian yang membuat kapten Julian cidera berat belumlah genap sehari, tetapi sudah banyak yang berkomentar terutama menjelekan BASS.
“Eh, menghancurkan monster mereka bisa tetapi tidak untuk meringkus pelaku teror pada dirinya sendiri,” ucap seseorang yang sedang duduk minum di Wilson bar.
“Mungkin pelakunya bukanlah orang biasa, kau masih ingat kan, ketika mereka dengan bangganya memamerkan baju tempur apalah itu, tapi hasilnya apa?” sahut temannya yang duduk didepannya.
Percakapan kedua pelanggan itu membuat Djohan kesal, apalagi ditambah dengan sikap tuan Stam yang cenderung acuh dan tidak mau tahu dengan urusan ini. Wajahnya yang mengerut akan membuat pelanggan tidak nyaman, Solo datang untuk membuatnya sadar, bahwa mau bagaimana pun pelanggan tidak salah karena mereka tidak tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya.
“Aku tahu kau kecewa, tapi menunjukan amarahmu pada mereka tidak akan membuat masalah selesai,” ucap Solo.
“Ya, aku paham,” Djohan menundukan kepalanya sambil berjalan ke arah dapur.
Pasukan dari skuad 9 sedang menjalankan misi, sensor mendeteksi kemunculan monster yang tidak terkendali di beberapa bagian wilayah yang mereka tempati. Beberapa tim dibagi untuk menyelesaikan misi lebih cepat. Troy melihat aksi mereka melompat-lompat menuju lokasi kemunculan monster. Tetapi yang dilakukannya hanya diam memperhatikan, karena sudah tahu bahwa orang-orang itu bukanlah ketuanya.
“Cih, mereka tidak menaikan gairahku, orang-orang itu terlihat lemah, biarkan mereka bersenang-senang dahulu, perutku lapar…,” Troy menghiraukan mereka, lalu pergi menuju tempat yang menjual makanan. Baju yang dicurinya menyimpan beberapa lembar uang tuk membeli makanan.
“Silahkan,” seorang penjual makanan ringan memberikannya pada Troy tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun.
“Hm, pasukan itu. Apakah kau tahu siapa pemimpinnya?” tanya Troy.
Penjual makanan itu tiba-tiba tersenyum lebar, lalu menceritakannya pada Troy, “Itu, ah ia orang yang sangat cantik, pernah membeli makanan di sini,” pujinya.
“Wanita?” Troy semakin lemas saja, setelah melihat pasukan tadi yang menurutnya lemah, sekarang malah sebuah fakta jika ketua pasukan pemburu Beaters di wilayah ini adalah seorang perempuan.
Anggota skuad 9 menyerang monster Beaters tanpa henti, beberapa tambahan dari unit-1 yang berjaga membuat pekerjaan menjadi lebih mudah. Setelah selesai di satu tempat, mereka bergegas ke tempat lainnya di mana ketua tim yaitu Sabrina juga sedang melakukan aksinya. Menggunakan senjata khusus sebagai hak istimewa seorang kapten yaitu berbentuk cambuk yang diselimuti oleh kawat berduri dan dialiri oleh sengatan listrik setara peluru petir.
“Argh!” kapten Sabrina melilit satu monster, menjebaknya lalu mengaliri listrik yang sangat kuat. “rasakan ini!” dengan cambuk satunya menghantam kepala monster hingga pecah, aliran listrik yang kuat cukup melemahkan monster tingkat rendah berwarna hijau atau cokelat seperti ini. Lilitan bagai ular yang semakin kencang menghancurkan tubuh monster. Pemusnahan satu monster berhasil dilakukannya.
“Yeah! Itu kaptenku!” ucap rekannya yang menembakan peluru petir dan juga membunuh monsternya.
“Jumlahnya malah semakin banyak, kita harus bergegas,” ucap kapten Sabrina dengan rambut diikat satu kebelakang. Helm yang menutupi hampir setengah wajahnya tetap tidak bisa menghalangi kecantikan parasnya.
Kemampuannya sebagai Golden Clan memudahkan Troy untuk mendeteksi monster yang mengamuk, dengan santainya ia pergi ke tempat monster itu keluar. Troy sudah mempunyai rencana untuk mengusik skuad BASS yang berada di wilayah ini. Langkah pertama adalah dengan sampai terlebih dahulu sebelum pembasmi monster tiba.
“Cih! Kalian ini dari golongan rendahan!” ejek Troy. Ada hal yang sedikit menganggunya, Beaters rendahan didepannya sama sekali tidak bereaksi, mereka seperti makhluk tanpa pikiran. “ada apa ini? mereka bertindak hanya bermodalkan insting?” Troy tidak terlalu memikirkannya hingga jauh, sekarang yang ingin dilakukannya adalah menjalankan rencananya.
Di lain tempat, mendadak sensornya memberikan sinyal yang sangat besar hanya di satu titik. Mendeteksi kumpulan Beaters di satu tempat, laporan yang masuk kepada kapten Sabrina mengatakan bahwa sensornya tadi hilang secara misterius, padahal jarak antara anggota dan lokasi hanya memakan waktu lima menit menggunakan pelontar roket di baju tempur mereka. Tidak hanya satu, anggota yang lain juga melaporkan hal yang sama.
“Bagaimana kapten?” tanya anggota kepada kapten Sabrina.
“Mereka muncul tiba-tiba di satu titik dalam kawanan besar, ada yang janggal tapi….,” kapten Sabrina merasakan ada yang aneh dengan fenomena langkah ini , di mana monster Beaters tuk pertama kalinya berada di satu titik dalam jumlah banyak, biasanya mereka lebih senang terpisah-pisah.
“Apa ini ulah…,” anggotanya itu tidak berani melanjutkan, laporan dari pusat sudah masuk ke seluruh skuad, apalagi kejadian yang menimpa kapten Julian belum genap setengah hari.
“Apapun itu kita perlu waspada, unit-1 juga sedang melakukan perjalanan menuju lokasi,” ucap Kapten Sabrina untuk menenangkan anggotanya.
Monster yang berkumpul dalam jumlah banyak mulai melakukan aksinya, dengan merusak semua yang ada didepannya. Warga yang selamat dari serangan membabi buta memilih untuk segera melarikan diri sedangkan yang terjebak di bangunan tinggi hanya bisa menunggu bala bantuan datang. Sedangkan Troy terlihat sedang asik melihat kekacauan itu, tanduknya sudah keluar sedikit, kecil di ujung keningnya. Melayang di udara tanpa menggunakan sayapnya, salah satu kemampuan yang dimilikinya selain memanipulasi cahaya.
“Gila! Bagaimana bisa mereka bergerak sangat lambat ketika monster rendahan seperti dibawahku ini sudah mengacau kota?” ucap Troy dengan kecewa.
Beberapa saat kemudian datang Unit-1 yang membawa sebuah mobil hitam besar yang terisi oleh pasukan pemberantas monster. Tanpa bantuan baju tempur seperti BASS dan hanya mengandalkan peluru tajam, rasanya akan sulit untuk memusnahkan seluru monster dalam waktu yang cepat. Troy mengamati perjuangan para pasukan, kadang membuatnya tertawa karena sangat lemahnya mereka.
“Aku butuh---,” sesuatu melesat setelah Unit-1 sudah berjuang sekuat tenaga mengalahkan monster Beaters. “nah, pertunjukan dimulai!”
Kapten Sabrina membagi anggotanya menjadi beberapa tim, tiap tim menggiring lebih dari dua monster agar menjauh satu sama lain agar lebih memudahkan pemusnahan. Baju tempur terbaru beraksi dengan bantuan Unit-1 sebagai pendukung, alhasil pekerjaan jauh lebih efektif. Beberapa monster berhasil dimusnahkan, masih menyisakan banyak yang lainnya.
Kapten Sabrina mengeluarkan senjata khususnya, sebuah cambuk yang terlilit kawat berduri dan dialiri oleh listrik. “Itu dia,” Troy sudah menemukan mangsanya.
Ketika kapten Sabrina sedang sibuk melawan monster Beaters, tiba-tiba muncul sebuah pedang kecil yang meluncur tepat kearahnya, refleksnya yang bagus mampu menangkis pedang kecil itu. “Pedang cahaya?” lalu terdengar suara tepukan dari atas.
“Bagus, padahal aku sudah mengarah ke titik buta, tapi kau mampu menahannya,” ucap Troy.
“tidak usah heran seperti itu, pertarungan ini akan berlangsung cepat,” lanjutnya.
Ketua BASS terus mendesak prof. Halstenbergh untuk segera menyelesaikan rancangan baju tempur terbarunya. Namun tidak ada jawaban yang pasti datang dari kantornya, Adrian selaku ketua unit persenjataan mengklaim bahwa semuanya sudah berjalan mendekati 95%, di mana hanya tinggal masalah waktu saja baju tempur itu selesai.
“Ayolah pak tua! Harga diri BASS dipertaruhkan di baju tempur itu,” ucap Adrian yang senantiasa menunggu dari ruangan prof. Halstenbergh. “teror Golden Clan, cih, semakin banyak saja masalah yang datang!” lanjutnya.
Selain memberi tahu seluruh jajaran BASS, siaran juga ditayangkan melalui televisi maupun seluruh media sosial, bahwa telah terjadi teror pada BASS. Diberitahukan juga kepada seluruh masyarakat agar tidak memberitahu lokasi markas BASS setempat kepada orang asing. Pro dan kontra bermunculan, padahal kejadian yang membuat kapten Julian cidera berat belumlah genap sehari, tetapi sudah banyak yang berkomentar terutama menjelekan BASS.
“Eh, menghancurkan monster mereka bisa tetapi tidak untuk meringkus pelaku teror pada dirinya sendiri,” ucap seseorang yang sedang duduk minum di Wilson bar.
“Mungkin pelakunya bukanlah orang biasa, kau masih ingat kan, ketika mereka dengan bangganya memamerkan baju tempur apalah itu, tapi hasilnya apa?” sahut temannya yang duduk didepannya.
Percakapan kedua pelanggan itu membuat Djohan kesal, apalagi ditambah dengan sikap tuan Stam yang cenderung acuh dan tidak mau tahu dengan urusan ini. Wajahnya yang mengerut akan membuat pelanggan tidak nyaman, Solo datang untuk membuatnya sadar, bahwa mau bagaimana pun pelanggan tidak salah karena mereka tidak tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya.
“Aku tahu kau kecewa, tapi menunjukan amarahmu pada mereka tidak akan membuat masalah selesai,” ucap Solo.
“Ya, aku paham,” Djohan menundukan kepalanya sambil berjalan ke arah dapur.
Pasukan dari skuad 9 sedang menjalankan misi, sensor mendeteksi kemunculan monster yang tidak terkendali di beberapa bagian wilayah yang mereka tempati. Beberapa tim dibagi untuk menyelesaikan misi lebih cepat. Troy melihat aksi mereka melompat-lompat menuju lokasi kemunculan monster. Tetapi yang dilakukannya hanya diam memperhatikan, karena sudah tahu bahwa orang-orang itu bukanlah ketuanya.
“Cih, mereka tidak menaikan gairahku, orang-orang itu terlihat lemah, biarkan mereka bersenang-senang dahulu, perutku lapar…,” Troy menghiraukan mereka, lalu pergi menuju tempat yang menjual makanan. Baju yang dicurinya menyimpan beberapa lembar uang tuk membeli makanan.
“Silahkan,” seorang penjual makanan ringan memberikannya pada Troy tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun.
“Hm, pasukan itu. Apakah kau tahu siapa pemimpinnya?” tanya Troy.
Penjual makanan itu tiba-tiba tersenyum lebar, lalu menceritakannya pada Troy, “Itu, ah ia orang yang sangat cantik, pernah membeli makanan di sini,” pujinya.
“Wanita?” Troy semakin lemas saja, setelah melihat pasukan tadi yang menurutnya lemah, sekarang malah sebuah fakta jika ketua pasukan pemburu Beaters di wilayah ini adalah seorang perempuan.
Anggota skuad 9 menyerang monster Beaters tanpa henti, beberapa tambahan dari unit-1 yang berjaga membuat pekerjaan menjadi lebih mudah. Setelah selesai di satu tempat, mereka bergegas ke tempat lainnya di mana ketua tim yaitu Sabrina juga sedang melakukan aksinya. Menggunakan senjata khusus sebagai hak istimewa seorang kapten yaitu berbentuk cambuk yang diselimuti oleh kawat berduri dan dialiri oleh sengatan listrik setara peluru petir.
“Argh!” kapten Sabrina melilit satu monster, menjebaknya lalu mengaliri listrik yang sangat kuat. “rasakan ini!” dengan cambuk satunya menghantam kepala monster hingga pecah, aliran listrik yang kuat cukup melemahkan monster tingkat rendah berwarna hijau atau cokelat seperti ini. Lilitan bagai ular yang semakin kencang menghancurkan tubuh monster. Pemusnahan satu monster berhasil dilakukannya.
“Yeah! Itu kaptenku!” ucap rekannya yang menembakan peluru petir dan juga membunuh monsternya.
“Jumlahnya malah semakin banyak, kita harus bergegas,” ucap kapten Sabrina dengan rambut diikat satu kebelakang. Helm yang menutupi hampir setengah wajahnya tetap tidak bisa menghalangi kecantikan parasnya.
Kemampuannya sebagai Golden Clan memudahkan Troy untuk mendeteksi monster yang mengamuk, dengan santainya ia pergi ke tempat monster itu keluar. Troy sudah mempunyai rencana untuk mengusik skuad BASS yang berada di wilayah ini. Langkah pertama adalah dengan sampai terlebih dahulu sebelum pembasmi monster tiba.
“Cih! Kalian ini dari golongan rendahan!” ejek Troy. Ada hal yang sedikit menganggunya, Beaters rendahan didepannya sama sekali tidak bereaksi, mereka seperti makhluk tanpa pikiran. “ada apa ini? mereka bertindak hanya bermodalkan insting?” Troy tidak terlalu memikirkannya hingga jauh, sekarang yang ingin dilakukannya adalah menjalankan rencananya.
Di lain tempat, mendadak sensornya memberikan sinyal yang sangat besar hanya di satu titik. Mendeteksi kumpulan Beaters di satu tempat, laporan yang masuk kepada kapten Sabrina mengatakan bahwa sensornya tadi hilang secara misterius, padahal jarak antara anggota dan lokasi hanya memakan waktu lima menit menggunakan pelontar roket di baju tempur mereka. Tidak hanya satu, anggota yang lain juga melaporkan hal yang sama.
“Bagaimana kapten?” tanya anggota kepada kapten Sabrina.
“Mereka muncul tiba-tiba di satu titik dalam kawanan besar, ada yang janggal tapi….,” kapten Sabrina merasakan ada yang aneh dengan fenomena langkah ini , di mana monster Beaters tuk pertama kalinya berada di satu titik dalam jumlah banyak, biasanya mereka lebih senang terpisah-pisah.
“Apa ini ulah…,” anggotanya itu tidak berani melanjutkan, laporan dari pusat sudah masuk ke seluruh skuad, apalagi kejadian yang menimpa kapten Julian belum genap setengah hari.
“Apapun itu kita perlu waspada, unit-1 juga sedang melakukan perjalanan menuju lokasi,” ucap Kapten Sabrina untuk menenangkan anggotanya.
Monster yang berkumpul dalam jumlah banyak mulai melakukan aksinya, dengan merusak semua yang ada didepannya. Warga yang selamat dari serangan membabi buta memilih untuk segera melarikan diri sedangkan yang terjebak di bangunan tinggi hanya bisa menunggu bala bantuan datang. Sedangkan Troy terlihat sedang asik melihat kekacauan itu, tanduknya sudah keluar sedikit, kecil di ujung keningnya. Melayang di udara tanpa menggunakan sayapnya, salah satu kemampuan yang dimilikinya selain memanipulasi cahaya.
“Gila! Bagaimana bisa mereka bergerak sangat lambat ketika monster rendahan seperti dibawahku ini sudah mengacau kota?” ucap Troy dengan kecewa.
Beberapa saat kemudian datang Unit-1 yang membawa sebuah mobil hitam besar yang terisi oleh pasukan pemberantas monster. Tanpa bantuan baju tempur seperti BASS dan hanya mengandalkan peluru tajam, rasanya akan sulit untuk memusnahkan seluru monster dalam waktu yang cepat. Troy mengamati perjuangan para pasukan, kadang membuatnya tertawa karena sangat lemahnya mereka.
“Aku butuh---,” sesuatu melesat setelah Unit-1 sudah berjuang sekuat tenaga mengalahkan monster Beaters. “nah, pertunjukan dimulai!”
Kapten Sabrina membagi anggotanya menjadi beberapa tim, tiap tim menggiring lebih dari dua monster agar menjauh satu sama lain agar lebih memudahkan pemusnahan. Baju tempur terbaru beraksi dengan bantuan Unit-1 sebagai pendukung, alhasil pekerjaan jauh lebih efektif. Beberapa monster berhasil dimusnahkan, masih menyisakan banyak yang lainnya.
Kapten Sabrina mengeluarkan senjata khususnya, sebuah cambuk yang terlilit kawat berduri dan dialiri oleh listrik. “Itu dia,” Troy sudah menemukan mangsanya.
Ketika kapten Sabrina sedang sibuk melawan monster Beaters, tiba-tiba muncul sebuah pedang kecil yang meluncur tepat kearahnya, refleksnya yang bagus mampu menangkis pedang kecil itu. “Pedang cahaya?” lalu terdengar suara tepukan dari atas.
“Bagus, padahal aku sudah mengarah ke titik buta, tapi kau mampu menahannya,” ucap Troy.
“tidak usah heran seperti itu, pertarungan ini akan berlangsung cepat,” lanjutnya.
69banditos dan gabrielllllllll memberi reputasi
2
Kutip
Balas
Tutup