- Beranda
- Stories from the Heart
Pocong Keliling [Epic Horror Story]
...
TS
harrywjyy
Pocong Keliling [Epic Horror Story]
![Pocong Keliling [Epic Horror Story]](https://s.kaskus.id/images/2022/09/09/10600510_202209090455080040.jpg)
Sumber Gambar Asli
Selamat datang di thread cerita horor ane yang baru gan! Kali ini ane bawa cerita yang gak kalah seram!

Ketika orang meninggal, dipercaya arwahnya akan kembali ke Tuhan dan terlepas dari segala urusan dunianya.
Tapi tidak dengan keluarga Pak Joko. Setelah kematiannya, justru ada banyak pocong yang meneror warga setiap malam. Mengetuk pintu satu per satu rumah warga di tengah malam.
Apa yang ia inginkan? Nantikan kisahnya.



Quote:



Nantikan part 1 yang akan segera TS update gan!
Pokoknya setiap part akan memberikan ketegangan yang seru!


INDEX
1. Part 1 - Kepala Desa
2. Part 2 - Ancaman Tak Kasat Mata
3. Part 3 - Empat Tali Gantung
4. Part 4 - Kok Gak Ajak Aku Ronda?
5. Part 5 - Tamu Tengah Malam
6. Part 6 - Tamu Tengah Malam 2
7. Part 7 - Lantunan Di Rumah Berdarah
8. Part 8 - Tawa Di Belakang Pos
9. Part 9 - Menagih Janji
10. Part 10 - Tali Pocong
11. Part 11 - Mbah Dino
12. Part 12 - Nestapa Penjual Bakso
13. Part 13 - Ilusi
14. Part 14 - Secercah Harapan
15. Part 15 - Linda
16. Part 16 - Teka-teki
Jangan lupa bagi cendol gan! Haus nih.


Ditulis oleh Harry Wijaya
Cerita ini merupakan karya orisinil dan karangan asli TS, dilarang mengcopas dan mempublikasikan di luar KasKus tanpa izin!
Diubah oleh harrywjyy 03-11-2022 15:58
margitop dan 37 lainnya memberi reputasi
38
20.9K
207
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
harrywjyy
#60
Part 16 - Teka-teki
“Kalian gimana sih? Gak liat Linda pingsan? Kok malah ninggalin?!” tanya Anwar dengan nada marah kepada Bejo dan Reza. Kedua pemuda itu sadar akan kesalahannya, mereka hanya bisa menunduk tanpa berkata apa-apa.
“Saya kesusahan tau gak? Beruntung ada Pak Robi lewat, kalo gak ada gimana coba?”
“Iya maaf, Pak—“
“Ah, udahlah!” Anwar kemudian berjalan masuk ke dalam dengan wajah kesal. Kedua pemdua itu masih berdiri di posisinya. Mereka saling pandang dan berbisik-bisik.
“Kamu sih bukannya bantuin malah lari!” kata Bejo.
“Enak aja, gara-gara kamu lari duluan aku jadi ikutan lari!”
“Lah? Suruh siapa ngikutin aku?”
“Ah, udahlah!” Reza berjalan menjauh dan duduk di kursi depan rumah Anwar sambil melamun.
Sementara di dalam, Linda terbaring lemas di atas sofa dengan bantal kecil yang menopang kepalanya. Wajahnya terlihat pucat. Istri Anwar sejak tadi duduk di sampingnya menjaga-jaga apabila perempuan ini bangun.
Anwar masuk ke dalam dan melihat keadaan keponakannya itu. “Gimana? Udah sadar?”
“Belum, Mas.”
Anwar duduk di dekat istrinya sambil memandang Linda dengan wajah kasihan. Dalam hatinya ia merasa khawatir, wajahnya yang pucat jadi pertanda kalau gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Apalagi setelah melihat tubuhnya menghantam pintu dan membentur tanah. Sambil menghela napas, Anwar bersandar di sofa terdekat.
“Apa kita bawa ke dokter aja ya?” tanya sang istri.
“Iya, nanti kita tunggu dia sadar dulu.”
“Semoga aja gak apa-apa ya, Mas.”
“Iya, aku bisa diomelin Ibunya kalau dia sampe kenapa-kenapa. Setelah dia sadar dan gak ada masalah apa-apa, segera aku suruh dia pulang. Aku gak mau melibatkan dia sama masalah ini lebih jauh. Biar gimana pun masalah ini masalah desa, ini semua tanggung jawabku,” tutur Anwar.
“Hah!” Tiba-tiba Linda menarik napas panjang lalu tersadar dari pingsannya. Mata terbelalak ketika ia baru bangun, menatap ke langit-langit. Seluruh badannya tegang dan kaku.
“Linda! Hei!” panggil Anwar yang kemudian langsung mendekat.
Dengan cepat Linda langsung bangkit dari posisinya dan duduk di sofa dengan napas tersengal-sengal. “Hah, hah, hah!”
Sang istri langsung sigap mengambil segelas air minum. “Minum dulu, pelan-pelan!”
Linda mengambil gelas air itu dan langsung menenggaknya sampai habis. Setelah melepas dahaganya, ia bersandar di sofa. Sejenak melemaskan badannya, mengatur napas dan berusaha untuk tenang. Kepalanya mulai mengingat-ingat lagi apa yang sebelumnya terjadi.
Dari luar rumah, Reza dan Bejo langsung masuk saat mendengar Linda sudah siuman. Keduanya berdiri tak jauh dari posisi Anwar sambil memperhatikan kondisi gadis itu. Dari raut wajahnya, tampak jelas kalau kedua pemuda itu lega melihat Linda baik-baik saja.
Mata Linda kemudian melirik ke arah Bejo. Setelah melihat pemuda itu, ia menegakkan posisi duduknya. Tangannya lalu menunjuk ke arah Bejo. “Kamu! Sini!” panggil Linda dengan nada serius.
Bejo dan Reza saling pandang. “Aku?” tanya Bejo sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Iya sini!” Linda menepuk-nepuk sofa di sampingnya, mengajak Bejo duduk di sampingnya.
“Kenapa, Lin?” Anwar lalu berpindah posisi agak ke belakang. Membiarkan Bejo duduk di samping Linda. Pemuda itu menurut tapi tetap bingung kenapa Linda memanggilnya.
Linda menatap Bejo yang sudah duduk di sampingnya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu memejamkan mata. Mulutnya mulai komat-kamit membaca mantra. Tangannya mengangkat ke atas, memanggil sesuatu untuk datang ke rumah ini.
Melihat itu, Bejo pun panik. “Eh? Ngapain? Aku mau diapain nih?” Bejo panik. “Pak, gak mau, Pak. Takut saya!” Pemuda itu berusaha untuk berdiri dan kabur. Akan tetapi Anwar menahannya.
“Jangan, udah ikutin aja dulu!”
Tangan Linda lalu bergerak ke arah kepala Bejo, seakan memasukkan sesuatu ke dalam raga Bejo.
“Pak saya gak—“
Mendadak Bejo terdiam. Kepalanya lalu menunduk, napasnya menjadi terburu-buru. Linda membuka mata dan memegang punggung Bejo. Pelan-pelan kedua tangan Bejo bergerak, lalu melipatnya tepat di depan dada. Persis seperti pose pocong.
“Linda, kamu apain dia?” tanya Anwar.
“Iya, Lin. Anak orang nih,” sambung istri Anwar.
Sambil menarik napas, Linda menjawab dengan santai. “Aku masukin arwah pocong Pak Joko ke dalam badan Bejo.”
Mendengar itu, semua yang ada di ruang tamu langsung kaget. Anwar segera menjaga jarak dengan Bejo. Begitu juga dengan Reza. Bahkan saking takutnya, istri Anwar berlari dan masuk ke dalam kamarnya.
“Heh! Serius ini? I-Ini si Bejo kerasukan pocong Pak Joko?” tanya Anwar dengan takut.
Linda mengangguk. “Iya, coba aja tanya.”
Anwar menelan ludah. Ia memperhatikan Bejo yang sedang duduk sambil menunduk. Dari posisi tangannya di dada, memang terlihat seperti pocong pada umumnya. Mata Bejo terpejam.
“Ayo, Mas. Tanya aja!” ujar Linda.
“Coba tanya, Pak.” Reza mendorong Anwar dari belakang.
“H-Halo, Pak! Pak Joko ya?” tanya Anwar.
Bejo pun mengangguk dengan lemas. Anwar dan Reza pun merinding dibuatnya. “Beneran dong,” gumam Reza.
Linda lalu mengambil alih. Ia menepuk punggung Bejo satu kali. “Oke, Pak Joko. Boleh bicara, kenapa Bapak ganggu warga desa? Jelasin aja semuanya, ceritakan semuanya. Jangan takut,” kata Linda.
Mendengar pertanyaan itu, Bejo mendadak menangis. Terdengar suara tangisan yang pilu dari dalam mulutnya. Ekspresinya juga sangat sedih. Akan tetapi, tidak ada air mata yang keluar. “Ayo, ceritakan, Pak!”
“Bukan saya yang mau,” kata arwah Pak Joko yang ada dalam raga Bejo.
“Siapa yang mau? Siapa yang suruh?”
“Dia.”
“Dia siapa, Pak?”
Bejo menggelengkan kepala. “ Gak usah disebut, kamu udah tau.”
Anwar lalu melirik ke arah Linda. “Lin, kamu tau apa? Kamu tau sesuatu?”
Linda mengangguk. “Nanti ya, Mas. Aku jelasin setelah semuanya selesai.”
“Oke,” Anwar mengiyakan.
Linda kembali beralih ke arah Bejo. “Pak Joko, jadi ada yang mengendalikan Bapak ya?”
Bejo mengangguk. “Saya cuma alat, saya cuma mainan dia. Dia yang selama ini meneror warga. Saya diikat, dikurung sama dia. Saya jadi budaknya dia. Saya sebenernya juga gak mau, saya mau tenang,” ucap Bejo sambil menangis.
“Tolong saya! Tolong, saya gak mau ganggu warga desa lagi!” tambahnya.
“Iya, Pak Joko. Kita pasti bakal tolongin Bapak.”
“Sama anak dan istri saya, mereka juga jadi budak dia. Padahal mereka gak tau apa-apa, tapi gara-gara saya mereka ikut kena.” Bejo menangis semakin menjadi-jadi. “Saya memang bodoh, saya ini bajingan!” Bejo sambil menangis mulai membenturkan kepalanya ke dinding rumah.
Melihat itu, Anwar segera menahannya. Bersama Reza, ia memegang badan Bejo yang mulai tak terkendali.
“Jangan! Jangan begitu, kasian yang punya badan. Pak Joko nyakitin dia kalo begitu. Bapak keluar aja ya? Udah selesai, kan? Gak ada yang mau disampaikan lagi?” tanya Linda.
“Tolong, saya minta tolong! Bebaskan saya dari cengkeraman dia!”
Linda memegang kepala Bejo. Jari-jarinya kemudian meremas kepala pemuda itu dan pelan-pelan mengangkat tangannya seolah sedang menarik sesuatu dari dalam tubuh Bejo. Setelah itu, ia menghempaskan tangannya ke atas seolah membuat energi yang sempat masuk ke dalam tubuh pemuda itu.
Bejo pun langsung membuka mata, napasnya terengah-engah. Ia melotot sambil melihat sekitar. “Hah ... Hah ... Aku kenapa?” tanyanya dengan wajah bingung sambil melihat sekitar.
Setelah mendapat secuil informasi dari Pak Joko, teka-teki malah semakin menjadi. Nantikan kelanjutan ceritanya!
“Saya kesusahan tau gak? Beruntung ada Pak Robi lewat, kalo gak ada gimana coba?”
“Iya maaf, Pak—“
“Ah, udahlah!” Anwar kemudian berjalan masuk ke dalam dengan wajah kesal. Kedua pemdua itu masih berdiri di posisinya. Mereka saling pandang dan berbisik-bisik.
“Kamu sih bukannya bantuin malah lari!” kata Bejo.
“Enak aja, gara-gara kamu lari duluan aku jadi ikutan lari!”
“Lah? Suruh siapa ngikutin aku?”
“Ah, udahlah!” Reza berjalan menjauh dan duduk di kursi depan rumah Anwar sambil melamun.
Sementara di dalam, Linda terbaring lemas di atas sofa dengan bantal kecil yang menopang kepalanya. Wajahnya terlihat pucat. Istri Anwar sejak tadi duduk di sampingnya menjaga-jaga apabila perempuan ini bangun.
Anwar masuk ke dalam dan melihat keadaan keponakannya itu. “Gimana? Udah sadar?”
“Belum, Mas.”
Anwar duduk di dekat istrinya sambil memandang Linda dengan wajah kasihan. Dalam hatinya ia merasa khawatir, wajahnya yang pucat jadi pertanda kalau gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Apalagi setelah melihat tubuhnya menghantam pintu dan membentur tanah. Sambil menghela napas, Anwar bersandar di sofa terdekat.
“Apa kita bawa ke dokter aja ya?” tanya sang istri.
“Iya, nanti kita tunggu dia sadar dulu.”
“Semoga aja gak apa-apa ya, Mas.”
“Iya, aku bisa diomelin Ibunya kalau dia sampe kenapa-kenapa. Setelah dia sadar dan gak ada masalah apa-apa, segera aku suruh dia pulang. Aku gak mau melibatkan dia sama masalah ini lebih jauh. Biar gimana pun masalah ini masalah desa, ini semua tanggung jawabku,” tutur Anwar.
“Hah!” Tiba-tiba Linda menarik napas panjang lalu tersadar dari pingsannya. Mata terbelalak ketika ia baru bangun, menatap ke langit-langit. Seluruh badannya tegang dan kaku.
“Linda! Hei!” panggil Anwar yang kemudian langsung mendekat.
Dengan cepat Linda langsung bangkit dari posisinya dan duduk di sofa dengan napas tersengal-sengal. “Hah, hah, hah!”
Sang istri langsung sigap mengambil segelas air minum. “Minum dulu, pelan-pelan!”
Linda mengambil gelas air itu dan langsung menenggaknya sampai habis. Setelah melepas dahaganya, ia bersandar di sofa. Sejenak melemaskan badannya, mengatur napas dan berusaha untuk tenang. Kepalanya mulai mengingat-ingat lagi apa yang sebelumnya terjadi.
Dari luar rumah, Reza dan Bejo langsung masuk saat mendengar Linda sudah siuman. Keduanya berdiri tak jauh dari posisi Anwar sambil memperhatikan kondisi gadis itu. Dari raut wajahnya, tampak jelas kalau kedua pemuda itu lega melihat Linda baik-baik saja.
Mata Linda kemudian melirik ke arah Bejo. Setelah melihat pemuda itu, ia menegakkan posisi duduknya. Tangannya lalu menunjuk ke arah Bejo. “Kamu! Sini!” panggil Linda dengan nada serius.
Bejo dan Reza saling pandang. “Aku?” tanya Bejo sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Iya sini!” Linda menepuk-nepuk sofa di sampingnya, mengajak Bejo duduk di sampingnya.
“Kenapa, Lin?” Anwar lalu berpindah posisi agak ke belakang. Membiarkan Bejo duduk di samping Linda. Pemuda itu menurut tapi tetap bingung kenapa Linda memanggilnya.
Linda menatap Bejo yang sudah duduk di sampingnya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu memejamkan mata. Mulutnya mulai komat-kamit membaca mantra. Tangannya mengangkat ke atas, memanggil sesuatu untuk datang ke rumah ini.
Melihat itu, Bejo pun panik. “Eh? Ngapain? Aku mau diapain nih?” Bejo panik. “Pak, gak mau, Pak. Takut saya!” Pemuda itu berusaha untuk berdiri dan kabur. Akan tetapi Anwar menahannya.
“Jangan, udah ikutin aja dulu!”
Tangan Linda lalu bergerak ke arah kepala Bejo, seakan memasukkan sesuatu ke dalam raga Bejo.
“Pak saya gak—“
Mendadak Bejo terdiam. Kepalanya lalu menunduk, napasnya menjadi terburu-buru. Linda membuka mata dan memegang punggung Bejo. Pelan-pelan kedua tangan Bejo bergerak, lalu melipatnya tepat di depan dada. Persis seperti pose pocong.
“Linda, kamu apain dia?” tanya Anwar.
“Iya, Lin. Anak orang nih,” sambung istri Anwar.
Sambil menarik napas, Linda menjawab dengan santai. “Aku masukin arwah pocong Pak Joko ke dalam badan Bejo.”
Mendengar itu, semua yang ada di ruang tamu langsung kaget. Anwar segera menjaga jarak dengan Bejo. Begitu juga dengan Reza. Bahkan saking takutnya, istri Anwar berlari dan masuk ke dalam kamarnya.
“Heh! Serius ini? I-Ini si Bejo kerasukan pocong Pak Joko?” tanya Anwar dengan takut.
Linda mengangguk. “Iya, coba aja tanya.”
Anwar menelan ludah. Ia memperhatikan Bejo yang sedang duduk sambil menunduk. Dari posisi tangannya di dada, memang terlihat seperti pocong pada umumnya. Mata Bejo terpejam.
“Ayo, Mas. Tanya aja!” ujar Linda.
“Coba tanya, Pak.” Reza mendorong Anwar dari belakang.
“H-Halo, Pak! Pak Joko ya?” tanya Anwar.
Bejo pun mengangguk dengan lemas. Anwar dan Reza pun merinding dibuatnya. “Beneran dong,” gumam Reza.
Linda lalu mengambil alih. Ia menepuk punggung Bejo satu kali. “Oke, Pak Joko. Boleh bicara, kenapa Bapak ganggu warga desa? Jelasin aja semuanya, ceritakan semuanya. Jangan takut,” kata Linda.
Mendengar pertanyaan itu, Bejo mendadak menangis. Terdengar suara tangisan yang pilu dari dalam mulutnya. Ekspresinya juga sangat sedih. Akan tetapi, tidak ada air mata yang keluar. “Ayo, ceritakan, Pak!”
“Bukan saya yang mau,” kata arwah Pak Joko yang ada dalam raga Bejo.
“Siapa yang mau? Siapa yang suruh?”
“Dia.”
“Dia siapa, Pak?”
Bejo menggelengkan kepala. “ Gak usah disebut, kamu udah tau.”
Anwar lalu melirik ke arah Linda. “Lin, kamu tau apa? Kamu tau sesuatu?”
Linda mengangguk. “Nanti ya, Mas. Aku jelasin setelah semuanya selesai.”
“Oke,” Anwar mengiyakan.
Linda kembali beralih ke arah Bejo. “Pak Joko, jadi ada yang mengendalikan Bapak ya?”
Bejo mengangguk. “Saya cuma alat, saya cuma mainan dia. Dia yang selama ini meneror warga. Saya diikat, dikurung sama dia. Saya jadi budaknya dia. Saya sebenernya juga gak mau, saya mau tenang,” ucap Bejo sambil menangis.
“Tolong saya! Tolong, saya gak mau ganggu warga desa lagi!” tambahnya.
“Iya, Pak Joko. Kita pasti bakal tolongin Bapak.”
“Sama anak dan istri saya, mereka juga jadi budak dia. Padahal mereka gak tau apa-apa, tapi gara-gara saya mereka ikut kena.” Bejo menangis semakin menjadi-jadi. “Saya memang bodoh, saya ini bajingan!” Bejo sambil menangis mulai membenturkan kepalanya ke dinding rumah.
Melihat itu, Anwar segera menahannya. Bersama Reza, ia memegang badan Bejo yang mulai tak terkendali.
“Jangan! Jangan begitu, kasian yang punya badan. Pak Joko nyakitin dia kalo begitu. Bapak keluar aja ya? Udah selesai, kan? Gak ada yang mau disampaikan lagi?” tanya Linda.
“Tolong, saya minta tolong! Bebaskan saya dari cengkeraman dia!”
Linda memegang kepala Bejo. Jari-jarinya kemudian meremas kepala pemuda itu dan pelan-pelan mengangkat tangannya seolah sedang menarik sesuatu dari dalam tubuh Bejo. Setelah itu, ia menghempaskan tangannya ke atas seolah membuat energi yang sempat masuk ke dalam tubuh pemuda itu.
Bejo pun langsung membuka mata, napasnya terengah-engah. Ia melotot sambil melihat sekitar. “Hah ... Hah ... Aku kenapa?” tanyanya dengan wajah bingung sambil melihat sekitar.
Setelah mendapat secuil informasi dari Pak Joko, teka-teki malah semakin menjadi. Nantikan kelanjutan ceritanya!
cacadloe dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Tutup