- Beranda
- Stories from the Heart
TREYA & TAHUN KEHIDUPANNYA
...
TS
gitartua24
TREYA & TAHUN KEHIDUPANNYA
"....and after all, we just have to move on."

"Terkadang, gue ingin menyesali pilihah hidup yang sudah gue ambil. Kemudian, gue menyadari apa yang gue miliki sekarang. Apakah ada jaminan kalau gue akan lebih bahagia."
Ketika sampai di rumah sekitar pukul satu malam, gue langsung beranjak menuju kamar setelah melepas sepatu dan meninggalkannya di pintu depan rumah. Di dalam kamar, kasur dengan sprei berwarna coklat tersusun rapih beserta selimut dengan warna senada yang masih terlipat. Pasti nyokap yang beresin, pikir gue.
Gue melepaskan celana jeans, jaket, kaus kaki beserta masker, lalu menggantungkannya di atas pintu kamar. Laptop yang dalam posisi terbuka langusung gue nyalakan dan sambil menunggunya menyala gue merebahkan diri di atas kasur.
Akhir-akhir ini, pekerjaan yang gue lakukan memaksa gue untuk pulang menjelang pagi. Bukan pekerjaan kantoran atau agensi tentunya. Bisa dibilang, gue hanya seorang 'kuncen' dari sebuah tempat hiburan.
Akibat pandemi, gue bekerja di tempat tersebut disaat-saat nggak banyak acara yang diselenggarakan. Di sisi lain, acara rutin yang selalu dilakukan di tempat kerja gue selalu dilaksanakan pada malam minggu.
Entah sudah berapa bulan gue lewati tanpa merayakan malam minggu bersama teman-teman kampus gue. Padahal, biasanya hampir setiap malam minggu gue lewati bersama mereka. Tetapi gue meyakinkan diri kalau ini adalah proses yang harus gue lalui untuk mendapatkan apa yang gue inginkan.
Gue menyalakan handphone dan memeriksa whatsapp, nggak ada pesan masuk di sana. Kemudian gue beralih membuka instagram, nggak ada satu pun DM yang gue dapat. Isi instagram gue hanya teman-teman dan kenalan gue memamerkan kegiatan malam minggu mereka, begitu juga teman dan kenalan gue yang sebelumnya berada di tempat yang sama seperti gue. Sama sekali nggak ada perasaan terkejut, ini sudah menjadi keseharian. Malahan gue akan bingung kalau banyak pesan yang masuk di handphone gue.
Saat laptop yang gue nyalakan sudah berjalan sempurna, gue beranjak dari kasur kemudian mengklik sebuah file yang berisikan cerita lanjutan dari cerita yang sudah gue selesaikan sebelumnya. Di saat itu juga, pikiran dan khayalan gue berenang-renang melewati momori masa lalu dan menuliskannya di secarik kertas digital.
Gue melepaskan celana jeans, jaket, kaus kaki beserta masker, lalu menggantungkannya di atas pintu kamar. Laptop yang dalam posisi terbuka langusung gue nyalakan dan sambil menunggunya menyala gue merebahkan diri di atas kasur.
Akhir-akhir ini, pekerjaan yang gue lakukan memaksa gue untuk pulang menjelang pagi. Bukan pekerjaan kantoran atau agensi tentunya. Bisa dibilang, gue hanya seorang 'kuncen' dari sebuah tempat hiburan.
Akibat pandemi, gue bekerja di tempat tersebut disaat-saat nggak banyak acara yang diselenggarakan. Di sisi lain, acara rutin yang selalu dilakukan di tempat kerja gue selalu dilaksanakan pada malam minggu.
Entah sudah berapa bulan gue lewati tanpa merayakan malam minggu bersama teman-teman kampus gue. Padahal, biasanya hampir setiap malam minggu gue lewati bersama mereka. Tetapi gue meyakinkan diri kalau ini adalah proses yang harus gue lalui untuk mendapatkan apa yang gue inginkan.
Gue menyalakan handphone dan memeriksa whatsapp, nggak ada pesan masuk di sana. Kemudian gue beralih membuka instagram, nggak ada satu pun DM yang gue dapat. Isi instagram gue hanya teman-teman dan kenalan gue memamerkan kegiatan malam minggu mereka, begitu juga teman dan kenalan gue yang sebelumnya berada di tempat yang sama seperti gue. Sama sekali nggak ada perasaan terkejut, ini sudah menjadi keseharian. Malahan gue akan bingung kalau banyak pesan yang masuk di handphone gue.
Saat laptop yang gue nyalakan sudah berjalan sempurna, gue beranjak dari kasur kemudian mengklik sebuah file yang berisikan cerita lanjutan dari cerita yang sudah gue selesaikan sebelumnya. Di saat itu juga, pikiran dan khayalan gue berenang-renang melewati momori masa lalu dan menuliskannya di secarik kertas digital.
Prolog
Tahun Pertama
Part 1 - Encounter
Part 2 - A 'Lil Chat
Part 3 - Introduction
Part 4 - Her Name Is...
Part 5 - Norwegian Wood
Part 6 - Invitation
Part 7 - Not Ready For Collage
Part 8 - Saperate
Part 9 - Request
Part 10 - It's Just The First day Of Collage
Part 11 - Troublemaker
Part 12 - In The Rains
Part 13 - Old Time Sake
Part 14 - Long Night
Part 15 - All Night Long
Part 16 - Hangover Girl
Part 17 - Morning Talk
Part 18 - A Book That Change
Part 19 - Where Are We Going
Part 20 - A Story About Past
Part 21 - Don't Cross The Line
Part 22 - Some Kind A Favor
Part 23 - Mission Almost Impossible
Part 24 - The Game We Play
Part 25 - Game Of Heart
Diubah oleh gitartua24 03-04-2024 07:12
teguhjepang9932 dan 41 lainnya memberi reputasi
40
25.4K
163
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
gitartua24
#71
Part 18
A Book That Change
Sejak kejadian malam itu, dimana gue menginap di kamar kosan Kirana, hubungan gue dengan Kirana semakin dekat. Dekat dalam artian setiap kali kami ada kesempatan bersama, kami selalu menghabiskan waktu lebih banyak. Bukannya gue mencari-cari waktu untuk dekat dengannya, tetapi waktu tersebut datang dengan sendirinya.
Bukan berarti setiap waktu setiap saat juga, sih. Kebanyakan kesempatan tersebut ada setelah kita menjalani kelas bersama. Atau setelah kita menyelesaikan tugas mengajar dari kelas tersebut di Paud yang kita datangi setiap minggunya.
Bisa dibilang, kegiatan yang gue lakukan dengan Kirana bukan kegiatan yang berarti juga. Hanya sekedar makan siang bersama lalu membicarakan kegiatan kita selama seminggu kebelakang. Kelas-kelas yang kita lalui. Tugas-tugas yang diberikan oleh dosen. Kelakuan orang-orang di sekitar kita. Biasanya kalau sudah membicarakan banyak hal dapat memakan waktu dua sampai tiga jam. Atau bahkan menunggu salah satu dari kami melakukan kegiatan berikutnya.
Suatu hari, Setelah kejadian malam tersebut, saat kelompok gue baru aja menyelesaikan tugas mengajar. Seperti biasa sesuai kesepakatan kelompok kami berkumpul di mini market jepang untuk membuat laporan hari ini. Lebih tepatnya gue yang mengetik dan mengerjakan seluruh laporan tersebut, namun tetap dengan bantuan dan masukan dari anggota kelomok gue yang lain.
Anggota kelompok gue yang bernama Aldo masih berusaha untuk mendekati anggota kelompok gue yang lainnya, Kirana. Gue sebagai ketua kelompok sama sekali nggak mempermasalahkan hal tersebut, selama nggak mengganggu tugas bersama.
Tetapi hal tersebut sepertinya mengganggu kenyamanan Kirana. Meskipun nggak mengatakannya secara langsung, tetapi gestur dan mimik yang ditunjukkan oleh Kirana sama sekali nggak bisa membohongi gue.
Saat membuat laporan hari itu, Kirana duduk di sebelah kiri gue, sementara Aldo secara sengaja duduk di sebelahnya. Berkali-kali ia mengajak Kirana berbicara, dan hanya ditanggapi seadanya. Bahkan ada saat ketika Kirana sama sekali nggak menanggapi. Gue merasa sedikit nggak nyaman, sepertinya kelompok gue juga merasakan hal tersebut. Tetapi kami semua mengabaikannya karena ini bukan kejadian yang pertama.
Kami semua membubarkan diri sesaat setelah laporan hari itu selesai dibuat dan dimuat di blog kelompok kami. Aldo, seperti biasa, masih berusaha mengajak Kirana untuk ikut dengannya, namun ditolaknya secara halus, kemudian dengan cepatnya menghampiri gue yang sedang berjalan menuju pintu.
“Tre, gue boleh minta tolong ga?” Begitu ucapnya tiba-tiba ketika kami sedang melakukan makan siang yang tertunda di salah satu warung dekat kampus.
“Minta tolong kanapa?”
“Bilangin anak buah lo supaya nggak ganggu kaya tadi lagi.” Mendengar Kirana segan untuk menyebut nama orang yang dia maksud menunjukkan seberana nggak sukanya Kirana terhadap Aldo. Begitu pikir gue.
“Omongin sendiri aja Kiran, nanti malah dia nggak nyaman kalau gue yang ngomong.”
“Ah, lo mah.” Balasnya bete.
Saat gue dan Kirana berada di kelas yang sama di minggu berikutnya, dan Aldo masih mencoba hal yang sama, Kirana dengat terang-terangan mengatakan ketidak sukaannya dengan sikap Aldo, kemudian langsung menghampiri gue yang hendak keluar kelas. Hal tersebut disusul dengan tatapan sinis Aldo terhadap gue
Padahal, kalau dilihat-lihat, Aldo memiki fisik yang nggak bisa dibilang jelek. bahkan dari gaya penampilan harus gue akui dia lebih effort. Namun sikapnya yang terlalu memaksa dan terang-terangan tersebut yang menjadi red flag buat Kirana. Menit berikutnya gue dan Kirana sudah berada di dalam warung yang berbeda sampai kelas berikutnya dimulai. Kira-kira seperti itu cara gue menghabiskan waktu dengan Kirana.
Sementara itu untuk kegiatan di malam minggu, atau kejadian dimana gue bertemu dengan Kirana di salah bar di acara kampus, hal tersebut nggak pernah terjadi lagi. Kirana sibuk dengan urusannya, begitu pula dengan gue. Saat malam minggu gue lebih banyak menghabiskan waktu dengan sisa teman-teman SMA gue yang berada di Jakarta.
*****
Malam hari setelah gue ‘terpaksa’ menginap di tempat Kirana, gue sedang berada dalam kamar. Mungkin sekitar jam setengah sepuluh malam. Gue lagi berada di depan komputer. Di kamar sebelah yang hanya dibatasi triplek tebal yang membatasi kamar kami, nggak ada lagi suara aktifitas yang dilakukan oleh adik laki-laki gue.
Sementara itu gue belum bisa tidur. Semenjak libur panjang kelulusan, jadwal tidur gue berubah menjadi agak sedikit malam. Biasanya (sampai sekarang) gue hanya menghabiskan waktu di depan komputer sambil menonton atau sekedar menjelajah dunia maya. Yang jelas bukan kegiatan yang produktif.
Malam itu entah dari mana kebosanan menghampiri gue. Bukan pertama kali memang gue merasa bosan. Tetapi entah kenapa malam ini gue merasa kebosanan yang amat sangat. Terlebih lagi setelah kemarin gue berada di malam yang sangat panjang. Meskipun merasa segan untuk kembali datang ke tempat seperti kemarin, namun bayang-bayang seluruh kejadian yang gue alami masih terekam jelas di ingatan gue.
Gue beranjak dari kursi dengan niat awal rebahan di atas kasur. Namun seketika gue terhenti saat berdiri di hadapan rak buku yang ada di kamar. Rak buku yang hanya digunakan seperdelapan bagian untuk menyimpan sedikit koleksi cd lagu yang gue punya. Sementara itu gue kurang yakin meskipun disebut rak buku, tetapi masih belum digunakan sesuai namanya. Untuk menyimpan buku.
Sejauh ini, hanya ada beberapa buku yang terpajang di sana yang hampir keseluruhannya adalah buku untuk perkuliahan yang hampir nggak pernah gue baca. Sebenarnya, dulu saat pertama kali gue minta dibuatkan rak buku ke bokap dan nyokap ketika gue masih sd, rak buku di kamar gue diisi oleh beberapa volume komik Naruto. Namun semenjak gue masuk SMP, gue sudah berhenti untuk membeli volume selanjutnya yang kemudian komik-komik tersebut disimpan di dalam gudang. Atau bahkan udan dibuang.
Sekarang satu-satunya buku yang bisa gue bilang sebagai alat membunuh waktu adalah buku yang sempat gue beli saat gue pulang dari masa pra orientasi. Entah kenapa gue belum menyentuh buku tersebut. Bahkan masih tersegel dalam plastik. Buku yang berjudul Norwegian Wood karangan Haruki Murakami.
Gue mengambil buku tersebut. Buku dengan warna latar abu-abu serta gambar sebuah pohon serta karikatur wanita yang seolah muncul dari batang bohon tersebut. Kemudian lingkaran merah yang nggak gue pahami maksudnya berada di pusat bidang. Di bagian bawah terdapat judul dari buku tersebut.
Saat melihat nama Haruki Murakami, ingatan gue langsung kembali ke sama SMA, Dimana gue pernah menyukai seorang perempuan. Satu-satunya perempuan yang gue sukai saat SMA, bahkan sampai beberapa tahun kedepan. Gue ingat di salah satu sosial media perempuan yang gue sukai memposting sebuah kalimat yang dikutip dari karya Murakami. Sejak saat itu gue selalu penasaran dengan karya Murakami, karya yang juga disukai oleh perempuan yang pernah gue sukai.
Gue merobek plastik pembungkus buku tersebut, kemudian mencium aroma kertas pada buku. Sejak saat itu gue selalu jatuh cinta dengan aroma buku baru. Gue duduk di atas kasur sambil menyandarkan diri pada tembok, lalu mulai membuka halaman pertama.
Pada bab satu gue disuguhkan dengan situasi dimana seorang laki-laki baru saja sampai di sebuah bandara. Sambil masih terduduk di kursi pesawat, suara aluna lagi Norwegian Wood karya The Beatless terdengar di telinganya. Seketika ia teringat dengan sahabat SMAnya, juga kekasih sahabatnyanya, yang diam-diam ia sukai. Bagaimana kehidupan SMA mereka, Bagaimana laki-laki tersebut mencintai kekasih sahabatnyanya dalam diam, bagaimana kemudian sahabatnya bunuh diri.
Bagi seorang pemula yang baru pertama kali membaca novel, Bab pertama dari buku Norwegian Wood terasa amat panjang buat gue. Mungkin lebih dari tiga puluh sampai empat puluh halaman bagaimana Murakami ngejelasin masa lalu si tokoh utama dengan alur yang maju mundur.
Ketika pindah ke bab dua, latar tempat dan waktu berubah ketika Toru, si tokoh utama berkuliah. Gue baru ngebaca sekilas beberapa kalimat, namun gue udah ngerasa ngantuk. Kemudian gue menutup buku, meletakkannya di sebelah bantal, lalu tidur.
A Book That Change
Sejak kejadian malam itu, dimana gue menginap di kamar kosan Kirana, hubungan gue dengan Kirana semakin dekat. Dekat dalam artian setiap kali kami ada kesempatan bersama, kami selalu menghabiskan waktu lebih banyak. Bukannya gue mencari-cari waktu untuk dekat dengannya, tetapi waktu tersebut datang dengan sendirinya.
Bukan berarti setiap waktu setiap saat juga, sih. Kebanyakan kesempatan tersebut ada setelah kita menjalani kelas bersama. Atau setelah kita menyelesaikan tugas mengajar dari kelas tersebut di Paud yang kita datangi setiap minggunya.
Bisa dibilang, kegiatan yang gue lakukan dengan Kirana bukan kegiatan yang berarti juga. Hanya sekedar makan siang bersama lalu membicarakan kegiatan kita selama seminggu kebelakang. Kelas-kelas yang kita lalui. Tugas-tugas yang diberikan oleh dosen. Kelakuan orang-orang di sekitar kita. Biasanya kalau sudah membicarakan banyak hal dapat memakan waktu dua sampai tiga jam. Atau bahkan menunggu salah satu dari kami melakukan kegiatan berikutnya.
Suatu hari, Setelah kejadian malam tersebut, saat kelompok gue baru aja menyelesaikan tugas mengajar. Seperti biasa sesuai kesepakatan kelompok kami berkumpul di mini market jepang untuk membuat laporan hari ini. Lebih tepatnya gue yang mengetik dan mengerjakan seluruh laporan tersebut, namun tetap dengan bantuan dan masukan dari anggota kelomok gue yang lain.
Anggota kelompok gue yang bernama Aldo masih berusaha untuk mendekati anggota kelompok gue yang lainnya, Kirana. Gue sebagai ketua kelompok sama sekali nggak mempermasalahkan hal tersebut, selama nggak mengganggu tugas bersama.
Tetapi hal tersebut sepertinya mengganggu kenyamanan Kirana. Meskipun nggak mengatakannya secara langsung, tetapi gestur dan mimik yang ditunjukkan oleh Kirana sama sekali nggak bisa membohongi gue.
Saat membuat laporan hari itu, Kirana duduk di sebelah kiri gue, sementara Aldo secara sengaja duduk di sebelahnya. Berkali-kali ia mengajak Kirana berbicara, dan hanya ditanggapi seadanya. Bahkan ada saat ketika Kirana sama sekali nggak menanggapi. Gue merasa sedikit nggak nyaman, sepertinya kelompok gue juga merasakan hal tersebut. Tetapi kami semua mengabaikannya karena ini bukan kejadian yang pertama.
Kami semua membubarkan diri sesaat setelah laporan hari itu selesai dibuat dan dimuat di blog kelompok kami. Aldo, seperti biasa, masih berusaha mengajak Kirana untuk ikut dengannya, namun ditolaknya secara halus, kemudian dengan cepatnya menghampiri gue yang sedang berjalan menuju pintu.
“Tre, gue boleh minta tolong ga?” Begitu ucapnya tiba-tiba ketika kami sedang melakukan makan siang yang tertunda di salah satu warung dekat kampus.
“Minta tolong kanapa?”
“Bilangin anak buah lo supaya nggak ganggu kaya tadi lagi.” Mendengar Kirana segan untuk menyebut nama orang yang dia maksud menunjukkan seberana nggak sukanya Kirana terhadap Aldo. Begitu pikir gue.
“Omongin sendiri aja Kiran, nanti malah dia nggak nyaman kalau gue yang ngomong.”
“Ah, lo mah.” Balasnya bete.
Saat gue dan Kirana berada di kelas yang sama di minggu berikutnya, dan Aldo masih mencoba hal yang sama, Kirana dengat terang-terangan mengatakan ketidak sukaannya dengan sikap Aldo, kemudian langsung menghampiri gue yang hendak keluar kelas. Hal tersebut disusul dengan tatapan sinis Aldo terhadap gue
Padahal, kalau dilihat-lihat, Aldo memiki fisik yang nggak bisa dibilang jelek. bahkan dari gaya penampilan harus gue akui dia lebih effort. Namun sikapnya yang terlalu memaksa dan terang-terangan tersebut yang menjadi red flag buat Kirana. Menit berikutnya gue dan Kirana sudah berada di dalam warung yang berbeda sampai kelas berikutnya dimulai. Kira-kira seperti itu cara gue menghabiskan waktu dengan Kirana.
Sementara itu untuk kegiatan di malam minggu, atau kejadian dimana gue bertemu dengan Kirana di salah bar di acara kampus, hal tersebut nggak pernah terjadi lagi. Kirana sibuk dengan urusannya, begitu pula dengan gue. Saat malam minggu gue lebih banyak menghabiskan waktu dengan sisa teman-teman SMA gue yang berada di Jakarta.
*****
Malam hari setelah gue ‘terpaksa’ menginap di tempat Kirana, gue sedang berada dalam kamar. Mungkin sekitar jam setengah sepuluh malam. Gue lagi berada di depan komputer. Di kamar sebelah yang hanya dibatasi triplek tebal yang membatasi kamar kami, nggak ada lagi suara aktifitas yang dilakukan oleh adik laki-laki gue.
Sementara itu gue belum bisa tidur. Semenjak libur panjang kelulusan, jadwal tidur gue berubah menjadi agak sedikit malam. Biasanya (sampai sekarang) gue hanya menghabiskan waktu di depan komputer sambil menonton atau sekedar menjelajah dunia maya. Yang jelas bukan kegiatan yang produktif.
Malam itu entah dari mana kebosanan menghampiri gue. Bukan pertama kali memang gue merasa bosan. Tetapi entah kenapa malam ini gue merasa kebosanan yang amat sangat. Terlebih lagi setelah kemarin gue berada di malam yang sangat panjang. Meskipun merasa segan untuk kembali datang ke tempat seperti kemarin, namun bayang-bayang seluruh kejadian yang gue alami masih terekam jelas di ingatan gue.
Gue beranjak dari kursi dengan niat awal rebahan di atas kasur. Namun seketika gue terhenti saat berdiri di hadapan rak buku yang ada di kamar. Rak buku yang hanya digunakan seperdelapan bagian untuk menyimpan sedikit koleksi cd lagu yang gue punya. Sementara itu gue kurang yakin meskipun disebut rak buku, tetapi masih belum digunakan sesuai namanya. Untuk menyimpan buku.
Sejauh ini, hanya ada beberapa buku yang terpajang di sana yang hampir keseluruhannya adalah buku untuk perkuliahan yang hampir nggak pernah gue baca. Sebenarnya, dulu saat pertama kali gue minta dibuatkan rak buku ke bokap dan nyokap ketika gue masih sd, rak buku di kamar gue diisi oleh beberapa volume komik Naruto. Namun semenjak gue masuk SMP, gue sudah berhenti untuk membeli volume selanjutnya yang kemudian komik-komik tersebut disimpan di dalam gudang. Atau bahkan udan dibuang.
Sekarang satu-satunya buku yang bisa gue bilang sebagai alat membunuh waktu adalah buku yang sempat gue beli saat gue pulang dari masa pra orientasi. Entah kenapa gue belum menyentuh buku tersebut. Bahkan masih tersegel dalam plastik. Buku yang berjudul Norwegian Wood karangan Haruki Murakami.
Gue mengambil buku tersebut. Buku dengan warna latar abu-abu serta gambar sebuah pohon serta karikatur wanita yang seolah muncul dari batang bohon tersebut. Kemudian lingkaran merah yang nggak gue pahami maksudnya berada di pusat bidang. Di bagian bawah terdapat judul dari buku tersebut.
Saat melihat nama Haruki Murakami, ingatan gue langsung kembali ke sama SMA, Dimana gue pernah menyukai seorang perempuan. Satu-satunya perempuan yang gue sukai saat SMA, bahkan sampai beberapa tahun kedepan. Gue ingat di salah satu sosial media perempuan yang gue sukai memposting sebuah kalimat yang dikutip dari karya Murakami. Sejak saat itu gue selalu penasaran dengan karya Murakami, karya yang juga disukai oleh perempuan yang pernah gue sukai.
Gue merobek plastik pembungkus buku tersebut, kemudian mencium aroma kertas pada buku. Sejak saat itu gue selalu jatuh cinta dengan aroma buku baru. Gue duduk di atas kasur sambil menyandarkan diri pada tembok, lalu mulai membuka halaman pertama.
Pada bab satu gue disuguhkan dengan situasi dimana seorang laki-laki baru saja sampai di sebuah bandara. Sambil masih terduduk di kursi pesawat, suara aluna lagi Norwegian Wood karya The Beatless terdengar di telinganya. Seketika ia teringat dengan sahabat SMAnya, juga kekasih sahabatnyanya, yang diam-diam ia sukai. Bagaimana kehidupan SMA mereka, Bagaimana laki-laki tersebut mencintai kekasih sahabatnyanya dalam diam, bagaimana kemudian sahabatnya bunuh diri.
Bagi seorang pemula yang baru pertama kali membaca novel, Bab pertama dari buku Norwegian Wood terasa amat panjang buat gue. Mungkin lebih dari tiga puluh sampai empat puluh halaman bagaimana Murakami ngejelasin masa lalu si tokoh utama dengan alur yang maju mundur.
Ketika pindah ke bab dua, latar tempat dan waktu berubah ketika Toru, si tokoh utama berkuliah. Gue baru ngebaca sekilas beberapa kalimat, namun gue udah ngerasa ngantuk. Kemudian gue menutup buku, meletakkannya di sebelah bantal, lalu tidur.
unhappynes dan 8 lainnya memberi reputasi
9
