- Beranda
- Stories from the Heart
Jalan Terakhir
...
TS
neopo
Jalan Terakhir

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apakabar semua. Setelah sekian lama ga berbagi cerita akhirnya mencoba lagi untuk menulis/membagikan salah satu cerita/kisah/tulisan dari seorang teman. Tentunya saya tidak lupa akan thread sebelumnya yang saya buat, yang berjudul Riding to Jannah yang sementara ini dihentikan dulu karena hilangnya draft yang sudah dibuat dulu. Bahkan sampai beberapa tahun tidak terurus. Tetapi insyaAllah akan kembali di up jika sudah selesai. Bahkan kemarinpun sempat dilanjut, tetapi harddisk yang saya gunakan untuk menyimpan file penting ternyata bad sector dan semua file rusak 

Jika kalian sudah bosan atau kurang suka dengan cerita remaja, baik fiksi ataupun true story, kalian boleh skip thread ini
Hanya saja menurut saya pribadi, cerita dia cukup membuat saya terhibur. Jadi saya meminta izin untuk share disini, dan dia memperbolehkan. Setelah sekian tahun ga buka kaskus, udah banyak perubahan, jadi kalau berantakan mohon dimaafkan.
Hanya saja menurut saya pribadi, cerita dia cukup membuat saya terhibur. Jadi saya meminta izin untuk share disini, dan dia memperbolehkan. Setelah sekian tahun ga buka kaskus, udah banyak perubahan, jadi kalau berantakan mohon dimaafkan.Setiap orang pasti pernah mengalami masalah dalam menjalani hidup. Namun setiap masalah selalu menuntut untuk diselesaikan. Karena itulah, menemukan solusi dan bersikap pantang menyerah adalah jawaban untuk setiap masalah.
Kadang kala perjalanan hidup yang membuat seseorang menjadi dewasa. Dewasa dalam hal ini berarti mampu berpikir jernih dan menempatkan perannya dalam berbagai situasi. Selain itu, perjalanan hidup juga bisa menjadi bahan pembelajaran yang menginspirasi. Tidak hanya menginspirasi diri sendiri, tapi juga orang lain.
Langit tidak selalu cerah, perjalanan hidup pun tidak selalu indah. Dari kalimat itu kita harus paham bahwa perjalanan hidup itu tidak selalu mulus. Terkadang kita temukan kerikil dan duri yang mengganggu di jalanan. Rasa sakit, kesedihan, kesusahan dan duka. Apapun yang ada di hadapan kita bukan berarti kita berhenti berjalan dan menyerah. Perjalanan hidup yang berat ataupun perjalanan hidup yang pahit harus kita hadapi dan lalui.
"Hidup itu tentang sebuah perjalanan, caramu menjalaninya, dan caramu memberi arti pada perjalananmu itu." WilzKanadi
Aku tengah menempuh pendidikan sekolah tingkat atas kelas satu. Aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang berkecukupan. Aku berasal dari Bandung namun sejak SD aku pindah ke Jakarta karena pekerjaan papaku. Aku merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Aku memiliki postur tubuh dengan tinggi badan 168cm dan berat badan 62kg. Namaku Khairul Purnama, dan ini adalah kisah perjalananku
Akan di update berdasarkan jalan cerita melalui Instagramdan beberapa spoiler untuk next part diperlihatkan disana, tapi itupun jika ga penasaran
Akan di update berdasarkan jalan cerita melalui Instagramdan beberapa spoiler untuk next part diperlihatkan disana, tapi itupun jika ga penasaran

- INDEX -
Masa SMA

Prolog
BAB 1 - Ocehan Seorang Gadis
BAB 2 - Dunia yang Sempit
BAB 3 - Cewek Melengking dan Anak Hilang
BAB 4 - Silsilah Keluarga
BAB 5 - Ma, Arul Kuat Kok
BAB 6 - Teman
BAB 7 - Obat Penenang
BAB 8 - Bandung
BAB 9 - Kebahagiaan dari Masa Lalu
BAB 10 - Perasaan yang Memuncak
BAB 11 - Puncak Amarah
BAB 12 - Yang Pertama
BAB 13 - Berputar Kembali
BAB 14 - Liburan Lagi
BAB 15 - Sebuah Cerita
BAB 16 - Sekolah Lagi
BAB 17 - Jawaban
BAB 18 - Kelemahan
BAB 19 - Rasa Terindah
BAB 20 - Ungkapan Hati
BAB 21 - Double Date?
BAB 22 - Jalan Buntu
BAB 23 - Maaf
BAB 24 - Liburan Penutup
BAB 25 - MOS (Part 1)
BAB 26 - MOS (Part 2)
BAB 27 - Sebuah Tragedi
BAB 28 - Tujuan
Masa Kuliah

BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
Masa SMA

Prolog
BAB 1 - Ocehan Seorang Gadis
BAB 2 - Dunia yang Sempit
BAB 3 - Cewek Melengking dan Anak Hilang
BAB 4 - Silsilah Keluarga
BAB 5 - Ma, Arul Kuat Kok
BAB 6 - Teman
BAB 7 - Obat Penenang
BAB 8 - Bandung
BAB 9 - Kebahagiaan dari Masa Lalu
BAB 10 - Perasaan yang Memuncak
BAB 11 - Puncak Amarah
BAB 12 - Yang Pertama
BAB 13 - Berputar Kembali
BAB 14 - Liburan Lagi
BAB 15 - Sebuah Cerita
BAB 16 - Sekolah Lagi
BAB 17 - Jawaban
BAB 18 - Kelemahan
BAB 19 - Rasa Terindah
BAB 20 - Ungkapan Hati
BAB 21 - Double Date?
BAB 22 - Jalan Buntu
BAB 23 - Maaf
BAB 24 - Liburan Penutup
BAB 25 - MOS (Part 1)
BAB 26 - MOS (Part 2)
BAB 27 - Sebuah Tragedi
BAB 28 - Tujuan
Masa Kuliah

BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
Diubah oleh neopo 02-02-2023 21:58
sukhhoi dan 12 lainnya memberi reputasi
11
13.8K
120
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
neopo
#57
BAB 30 - Teman Baru
Setelah berjalan beberapa menit kami tiba di sebuah kantin yang berada di tengah kampus. Setelah memesan makanan kami duduk bertiga disana.
“Lo asli darimana?” tanya Riska pada Zaki
“Gue asli Surabaya. Kalau lo?” tanya Zaki padaku
“Gue asli sini, tapi pindah ke Jakarta” ucapku “Kalau lo sendiri?” tanyaku pada Riska
“Gue dari Bekasi” kata Riska
“Wah, deket dong ternyata” ucapku
“Emang lo dimana?” tanya Riska
“Jaktim” jawabku
“Hmm, lumayan sih” kata Riska
Sedikit tentang mereka setelah kami mengobrol sambil menikmati makanan kami. Zaki Julian seorang laki-laki dengan tinggi 170cm, kulit putihi berambut pendek. Dia kuliah disini berawal dari ingin masuk ke Manajemen, namun ga keterima, pada akhirnya dia masuk pilihan kedua disini. Dan satu gadis bernama Diana Riska Meliani, gadis berjilbab dengan tinggi badan 155cm. Dia sedang merintis usahanya berjualan sepatu sebagai reseller, dan dia juga kuliah disini guna memperdalam ilmu untuk usahanya.
Penampilannya terlihat cukup elegan, seperti Rima dan Vika saat ini yang mulai mengenakan gamis. Biasanya, orang seperti Riska ini sulit atau enggan bergaul dengan banyak orang, terutama lawan jenis, tapi aku rasa Riska merupakan orang yang mudah bergaul dengan siapapun. Dan sepertinya kami bertiga akan menjadi sebuah kisah yang baru yang sedikit mirip dengan masa SMAku dulu.
Saat itu handphoneku berdering menandakan ada satu telefon masuk, dari Vika.
“Assalamualaikum neng” ucapku
“Waalaikumussalam, aa lagi dimana? Rame banget kayanya” kata Vika
“Masih di kampus neng, baru beres makan” ucapku
“Oh makan sama siapa?” tanyanya
“Sama Zaki sama Riska” ucapku
“Ada cewe nya? Awas kalau macem-macem” ucap Vika
“Ngga neng. Neng lagi dirumah?” tanyaku
“Iya a, mau main kesini a?” tanya Vika
“Kayanya aa mau ke tempat kosan yang kemarin dulu bareng Zaki” ucapku
“Okey aa. Hati-hati ya, kabari aku kalau udah pulang. Nanti aku main ke hotel ya, assalamualaikum” kata Vika
“Okey neng, waalaikumussalam” jawabku
Aku menutup telefonnya dan kembali pada teman-teman baruku.
“Siapa?” tanya Zaki
“Cewe gue” jawabku
“Wah udah punya cewe aja lu” kata Zaki
“Dari kelas 2 SMA, Zak” ucapku
“Wah, langgeng juga ya” kata Riska
“Gitu deh hehe” kataku
Setelah makan, kami memutuskan untuk pulang. Aku akan mendatangi kosan bersama Zaki berjalan kaki, sementara Riska pamit untuk kembali ke kosannya. Tak lupa kami bertiga juga saling bertukar nomor handphone. Matahari sudah hampir berada di puncaknya. Adzan dzuhur berkumandang dan kami memutuskan untuk shalat di mesjid kampus. Setelah shalat, aku dan Zaki mulai berjalan menuju kosan yang kemarin sempat kami datangi. Tak butuh waktu lama, kami tiba di tujuan. Ada beberapa mahasiswa penghuni kos tersebut. Saat aku datangi dulu, kondisi kosan terlihat sepi.
“Punten, cari siapa?” tanya seseorang
“Eh, ini pak, kami lagi cari kosan” ucapku
“Oh, kalian mau ngekos bareng?” tanya bapak itu
“Engga sih pak, sendiri sendiri” kata Zaki
“Wah, kebetulan disini hanya tinggal satu kamar kosong. Kalau tinggal berdua rasanya terlalu sempit” kata bapak itu
“Oh gitu ya” kata Zaki
“Lo aja ambil, Zak, gue cari lagi nanti” ucapku
“Wah, ga seru lah kalau gitu” kata Zaki
“Eh buset, emang mau ngapain dah” ucapku
“Yaaa kan biar kalau ada apa-apa, tugas bareng jadi gampang gitu” kata Zaki
“Yasudah kalau gitu kami cari-cari dulu pak” ucapku
Aku kembali berjalan sambil sesekali mencari informasi mengenai kosan yang kami rasa cocok. Sampai ga kerasa kami berjalan cukup jauh tapi masih dalam jangkauan kampus. Kami bertanya pada beberapa orang baik mahasiswa, tukang parkir, tukang ojek, pedagang mengenai kos-kosan yang dirasa bagus. Sampai aku tiba di sebuah gedung yang cukup besar dengan tiga tingkat dan katanya itu merupakan kosan juga. Terlihat didepan pagar terdapat papan bertulisan “Ada Kamar Kosong” beserta nomor handphone. Kamipun menghubungi nomor itu dan tak lama datang seorang ibu-ibu menghampiri kami
“Kalian yang tadi nelefon saya ya?” tanya ibu itu
“Iya bu” jawab Zaki
“Panggil aja ibu Sofi. Oh iya kalian butuh berapa kamar?” tanyanya
“Dua kamar sih bu, kalau ada” kata Zaki
“Oh, ada kok. Ya lingkungannya seperti ini. Ada parkir cukup untuk mobil juga, dekat dengan mesjid, pasar, sekolah dan kampus terutama jika kalian mahasiswa sini pasti ada diskon kok hehe” kata bu Sofi
“Disini bayarnya perbulan atau pertahun ya?” tanyaku
“Bisa perbulan, bisa juga pertahun” jawab bu Sofi
Kami diajak masuk kedalam untuk melihat isi dari gedung ini. Setelah bertanya mengenaii harga, ternyata cukup lumayan, ya karena tempatnya bersih, bahkan rasanya sudah seperti apartemen saja. Untuk harga, perbulannya disini adalah satu setengah juta. Sementara pertahunnya enam belas juta. Dan ternyata kosan ini campur laki-laki perempuan. Akupun menelefon orangtuaku
“Halo, assalamualaikum ma” ucapku
“Waalaikumussalam, kenapa nak?” tanya mama
“Soal kosan ma” kataku
Aku mulai menceritakan tentang observasi kosanku bersama Zaki mulai dari segi tempat, kondisi dan harga
“Harganya lumayan sih, soalnya lebih mirip apartemen yang kamarnya berukuran kecil” ucapku
“Terus menurut kamu gimana?” tanya mama
“Mama mau liat tempatnya ga?” tanyaku balik
“Mama sih percaya sama kamu, ga akan macem-macem. Apalagi kosannya kata kamu campur. Dan kamu juga tau, uang segitu insyaAllah ada. Mama juga udah bilang ke papa” kata mama
“Oke ma, kalau boleh Arul ambil yang disini” ucapku
“Iya nak, oh iya kabari Vika kalau malam ini kita pulang, itupun kalau kamu ga ada urusan lagi di kampus” kata mama
“Ga ada kok ma, tanggal 22 Agustus nanti mulai ospeknya” ucapku
Aku menutup telefonnya dan kembali menghampiri Zaki. Ternyata dia sudah deal dengan ibu kos
“Gila lu, udah deal aja” ucapku
“Dimana lagi dapet kosan yang banyak cewek cantik” kata Zaki
“Wah sakit, katanya mau bareng” ucapku
“Ya lo pasti ambil disini kan” kata Zaki
“Iya sih” ucapku
“Nah cakep kalau gitu” kataku
Aku dan Zakipun mengikuti bu Sofi menuju rumahnya yang ga jauh darisini. Disana kami mulai membicarakan niat kami yang akan mengisi kamar kosong disini. Papa mengSMSku kalau papa ingin mengantar uangnya langsung padaku, tapi aku bilang tidak usah. Karena aku memiliki tabungan untuk menyewa satu bulan. Dan bu Sofi bilang itu bisa dianggap sebagai DP. Anggap saja aku menyewa satu bulan dan nanti setelah aku menempati, aku membayar sisanya. Setelah selesai, aku pamit dan kembali ke hotel.
“Neng, bentar lagi aku pulang. Nanti malem pada mau pulang. Neng siap-siap nanti dijemput ya” ucapku
“Kayanya aku ga pulang deh a. Mau persiapan dulu disini. Mungkin nanti pulang dulu setelah pendaftaran” kata Vika
“Loh beneran?” tanyaku
“Iya a” katanya
“Yaudah aku kesana sekarang ya” ucapku
“Okey a, ditunggu” katanya
Aku langsung berjalan menuju rumah mas Herman. Aku juga membelikan beberapa camilan dan oleh-oleh untuk keluarga mereka. Sesampainya disana, Vika menyambutku dengan pelukan
“Duh, kenapa nih, kalau manja gini, pasti ada maunya” ucapku
“Yee suudzon da aa mah” kata Vika
“Nih aa bawain oleh-oleh” ucapku sambil memberikan bingkisan
“Makasih aa” kata Vika
“Oh iya, ini buat tante Lina sama mas Herman, sama Siti juga” ucapku
“Wah, jadi ngerepotin” kata tante Lina
“Engga kok, emang sengaja mau beli hehe, malam ini pulang soalnya”
“Oh, Vika ikut?” tanya tante Lina
“Engga bi, Vika disini aja, siapin semua buat pendaftaran” ucap Vika
“Memang udah siap?” tanya tante Lina
“Berkas-berkas sih dibawa bi” kata Vika
“Oh yasudah kalau gitu” kata tante Lina
Aku menghabiskan sore bersama Vika dengan mengunjungi lapangan terdekat sambil membeli beberapa camilan lagi. Vika sih yang banyak jajan.
“Aku udah dapet kosan, neng” ucapku
“Oh ya? Dimana?” tanya Vika
“Ada di pinggir jalan utama, bersih, parkir luas, bagus juga” kataku
“Kosan khusus cowok?” tanya Vika
“Campur” jawabku
“Iiihh kok campur sih?” kata Vika sedikit ngambek
“Yaa yang cocok itu neng. Lagian kan emang niatnya buat tinggal” ucapku
“Iiih nanti aa macem-macem” kata Vika
“Engga lah neng” kataku
“Janji?” kata Vika
“Janji, neng bisa pegang kata-kata aku” ucapku
Menjelang magrib aku pamit pada tante Lina dan mas Herman yang kebetulan sudah pulang. Ada Siti juga yang lagi ngerjain PR. Setelah pamit, Vika menawarkan diri untuk mengantarku ke hotel, tapi aku menolak karena hari udah mulai gelap juga.
“Aa kabarin kalau udah sampai ya” kata Vika
“Iya, nanti aku pasti kabari” ucapku
“Aa hati-hati ya” kata Vika sambil memelukku
“Iya iya sayang” ucapku
Aku mulai berjalan menjauhi rumah om Herman dan Vika masih disana seraya melambaikan tangannya padaku sampai dia tak terlihat setelah aku berbelok di persimpangan. Tak lama aku tiba di hotel dan semua barang sudah dikemas. Setelah shalat magrib, aku mengangkat barang-barang ke mobil dan kamipun berangkat menuju Jakarta. Jam 10 malam kami tiba dirumah dan si kembar langsung menghampiri kami.
“Kalian baik-baik kan dirumah?” ucap papa
“Iya dong pa, kita belajar masak” kata Ani
“Wah, masak apa?” tanya mama
“Macem-macem ma. Oh iya mana oleh-olehnya a?” tanya Ana
“Giliran ke aa aja oleh-oleh. Kalian ini…“ ucapku sambil mengusap kepala mereka
Tak lupa aku langsung mengabari Vika kalau aku sudah tiba, tapi ga ada balasan, jadi aku simpulkan kalau dia sudah tidur. Akupun memutuskan untuk tidur. Sudah lama aku ga mendengar kabar dari Hamid ataupun Windy. Beberapa hari kedepan aku akan menjalani hariku tanpa ada Vika. Aku akan meminjam mobil papa nanti untuk membawa barang-barangku ke kosan. Pertengahan Agustus, bertepatan dengan Vika yang melakukan pendaftaran, aku meminjam mobil papa untuk membawa barang-barangku ke Bandung. Saat itu juga ada SMS masuk ke handphoneku
“Hallo, assalamualaikum” kata Riska
“Waalaikumussalam, kenapa Ris?” tanyaku
“Engga kok, semenjak pertemuan kemarin belum pernah SMS lo hahaha” katanya
“Oh, ada apa?” tanyaku lagi
“Engga ada apa-apa. Lo lagi apa?” tanyanya
“Mau berangkat nih, bawa barang ke kosan” kataku
“Lo lagi di Jakarta?” katanya
“Iya” jawabku
“Boleh bareng ga? Tadinya gue mau ke Bandung besok, tapi kalau boleh bareng lo aja” katanya
“Yaudah, kirim alamatnya, nanti sore gue jemput” kataku
“Okey” katanya
Tak lama Riska mengirim alamatnya. Aku juga mengabari Vika kalau aku berangkat ke Bandung sore ini. Rencananya aku hanya akan tinggal selama sehari atau dua hari dan aku akan mengembalikan mobil papa kemudian membawa motor ke Bandung untuk kebutuhanku disana. Awalnya Vika ga setuju kalau aku pulang dalam waktu singkat, tapi karena kebutuhan papa juga. Setelah membawa motor aku akan mulai tinggal disini selama masa orientasi
“Udah semua?” tanya mama
“Udah ma” kataku
“Yakin kuat? Istirahat kalau cape di rest area” kata papa
“Iya pa, yaudah Arul berangkat sekarang, soalnya harus ke Bekasi dulu jemput temen yang mau bareng” ucapku
“Iya hati-hati ya” kata mama
“Aa oleh-oleh yaaaa” kata si kembar bersamaan
“Iya iya insyaAllah” ucapku
Aku mulai memacu mobil menuju alamat yang di maksud Riska. 40 menit perjalanan menuju Bekasi kulewati karena macet di waktu jam pulang. Sampai aku tiba di sebuah komplek perumahan dan aku langsung mengabari dia. Dia memintaku untuk masuk ke komplek menuju rumahnya. Sampailah aku dirumah sederhana yang dimaksud Riska. Aku mengabarinya dan memutuskan untuk menunggu didalam mobil saja. Sampai keluarlah seorang cewek yang mengenakan jaket putih dan jilbab merah dengan gamis warna senada dengan jilbabnya.
“Assalamualaikum, lama ya” kata Riska
“Waalaikumussalam, banget, ayo cepetan” ucapku
“Iya iya maaf” katanya sambil masuk ke mobil
Terlihat dua orang tua berdiri menghampiri kami yang kutaksir mereka adalah orangtua Riska
“Ga ada yang ketinggalan kan?” tanya ibu itu
“Ga ada kok bu, nanti kalau udah sampai Riska kabari” kata Riska
“Nak, titip Riska ya, kalau repotin turun aja di jalan” kata bapak itu
“Hehe, kami berangkat dulu pak, bu” ucapku
Akupun mulai perjalananku dengan Riska ke Bandung. Selama perjalanan aku fokus mengemudi tanpa banyak bicara. Meskipun Riska selalu berusaha mengajakku ngobrol
“Lo ngekos dimana?” tanya Riska
“Di kosan Melati” ucapku “Lo sendiri?”
“Serius lo? Yang deket SMP itu?” tanyanya
“Iya” jawabku
“Gue juga disitu. Baru masuk dua hari lalu” kata Riska
“Lah, deket ternyata. Zaki juga masuk situ bareng gue” kataku
“Bener-bener dunia yang sempit” kata Riska
“Kita berhenti dulu di rest area ya, makan dulu” ucapku
“Okey, gue juga laper sih” katanya
Saat kami tiba bertepatan dengan adzan magrib, kami memutuskan untuk shalat dulu dan kemudian makan malam disana. Kami memasuki rumah makan yang ada disana. Saat pesanan kami tiba, aku mulai memakan pesananku. Tapi aku lihat Riska yang hanya memainkan makanannya dengan sendok
“Ada masalah?” tanyaku
“Eh, ngga kok” katanya
“Lo ga suka makanannya? Pesen lagi aja” ucapku
“Suka kok” kata Riska
“Suka? Makanan lo aja ga lo makan, cuma lo maenin” kataku
“Hehe, ada sih yang gue pikirin” kata Riska
“Lo asli darimana?” tanya Riska pada Zaki
“Gue asli Surabaya. Kalau lo?” tanya Zaki padaku
“Gue asli sini, tapi pindah ke Jakarta” ucapku “Kalau lo sendiri?” tanyaku pada Riska
“Gue dari Bekasi” kata Riska
“Wah, deket dong ternyata” ucapku
“Emang lo dimana?” tanya Riska
“Jaktim” jawabku
“Hmm, lumayan sih” kata Riska
Sedikit tentang mereka setelah kami mengobrol sambil menikmati makanan kami. Zaki Julian seorang laki-laki dengan tinggi 170cm, kulit putihi berambut pendek. Dia kuliah disini berawal dari ingin masuk ke Manajemen, namun ga keterima, pada akhirnya dia masuk pilihan kedua disini. Dan satu gadis bernama Diana Riska Meliani, gadis berjilbab dengan tinggi badan 155cm. Dia sedang merintis usahanya berjualan sepatu sebagai reseller, dan dia juga kuliah disini guna memperdalam ilmu untuk usahanya.
Penampilannya terlihat cukup elegan, seperti Rima dan Vika saat ini yang mulai mengenakan gamis. Biasanya, orang seperti Riska ini sulit atau enggan bergaul dengan banyak orang, terutama lawan jenis, tapi aku rasa Riska merupakan orang yang mudah bergaul dengan siapapun. Dan sepertinya kami bertiga akan menjadi sebuah kisah yang baru yang sedikit mirip dengan masa SMAku dulu.
Saat itu handphoneku berdering menandakan ada satu telefon masuk, dari Vika.
“Assalamualaikum neng” ucapku
“Waalaikumussalam, aa lagi dimana? Rame banget kayanya” kata Vika
“Masih di kampus neng, baru beres makan” ucapku
“Oh makan sama siapa?” tanyanya
“Sama Zaki sama Riska” ucapku
“Ada cewe nya? Awas kalau macem-macem” ucap Vika
“Ngga neng. Neng lagi dirumah?” tanyaku
“Iya a, mau main kesini a?” tanya Vika
“Kayanya aa mau ke tempat kosan yang kemarin dulu bareng Zaki” ucapku
“Okey aa. Hati-hati ya, kabari aku kalau udah pulang. Nanti aku main ke hotel ya, assalamualaikum” kata Vika
“Okey neng, waalaikumussalam” jawabku
Aku menutup telefonnya dan kembali pada teman-teman baruku.
“Siapa?” tanya Zaki
“Cewe gue” jawabku
“Wah udah punya cewe aja lu” kata Zaki
“Dari kelas 2 SMA, Zak” ucapku
“Wah, langgeng juga ya” kata Riska
“Gitu deh hehe” kataku
Setelah makan, kami memutuskan untuk pulang. Aku akan mendatangi kosan bersama Zaki berjalan kaki, sementara Riska pamit untuk kembali ke kosannya. Tak lupa kami bertiga juga saling bertukar nomor handphone. Matahari sudah hampir berada di puncaknya. Adzan dzuhur berkumandang dan kami memutuskan untuk shalat di mesjid kampus. Setelah shalat, aku dan Zaki mulai berjalan menuju kosan yang kemarin sempat kami datangi. Tak butuh waktu lama, kami tiba di tujuan. Ada beberapa mahasiswa penghuni kos tersebut. Saat aku datangi dulu, kondisi kosan terlihat sepi.
“Punten, cari siapa?” tanya seseorang
“Eh, ini pak, kami lagi cari kosan” ucapku
“Oh, kalian mau ngekos bareng?” tanya bapak itu
“Engga sih pak, sendiri sendiri” kata Zaki
“Wah, kebetulan disini hanya tinggal satu kamar kosong. Kalau tinggal berdua rasanya terlalu sempit” kata bapak itu
“Oh gitu ya” kata Zaki
“Lo aja ambil, Zak, gue cari lagi nanti” ucapku
“Wah, ga seru lah kalau gitu” kata Zaki
“Eh buset, emang mau ngapain dah” ucapku
“Yaaa kan biar kalau ada apa-apa, tugas bareng jadi gampang gitu” kata Zaki
“Yasudah kalau gitu kami cari-cari dulu pak” ucapku
Aku kembali berjalan sambil sesekali mencari informasi mengenai kosan yang kami rasa cocok. Sampai ga kerasa kami berjalan cukup jauh tapi masih dalam jangkauan kampus. Kami bertanya pada beberapa orang baik mahasiswa, tukang parkir, tukang ojek, pedagang mengenai kos-kosan yang dirasa bagus. Sampai aku tiba di sebuah gedung yang cukup besar dengan tiga tingkat dan katanya itu merupakan kosan juga. Terlihat didepan pagar terdapat papan bertulisan “Ada Kamar Kosong” beserta nomor handphone. Kamipun menghubungi nomor itu dan tak lama datang seorang ibu-ibu menghampiri kami
“Kalian yang tadi nelefon saya ya?” tanya ibu itu
“Iya bu” jawab Zaki
“Panggil aja ibu Sofi. Oh iya kalian butuh berapa kamar?” tanyanya
“Dua kamar sih bu, kalau ada” kata Zaki
“Oh, ada kok. Ya lingkungannya seperti ini. Ada parkir cukup untuk mobil juga, dekat dengan mesjid, pasar, sekolah dan kampus terutama jika kalian mahasiswa sini pasti ada diskon kok hehe” kata bu Sofi
“Disini bayarnya perbulan atau pertahun ya?” tanyaku
“Bisa perbulan, bisa juga pertahun” jawab bu Sofi
Kami diajak masuk kedalam untuk melihat isi dari gedung ini. Setelah bertanya mengenaii harga, ternyata cukup lumayan, ya karena tempatnya bersih, bahkan rasanya sudah seperti apartemen saja. Untuk harga, perbulannya disini adalah satu setengah juta. Sementara pertahunnya enam belas juta. Dan ternyata kosan ini campur laki-laki perempuan. Akupun menelefon orangtuaku
“Halo, assalamualaikum ma” ucapku
“Waalaikumussalam, kenapa nak?” tanya mama
“Soal kosan ma” kataku
Aku mulai menceritakan tentang observasi kosanku bersama Zaki mulai dari segi tempat, kondisi dan harga
“Harganya lumayan sih, soalnya lebih mirip apartemen yang kamarnya berukuran kecil” ucapku
“Terus menurut kamu gimana?” tanya mama
“Mama mau liat tempatnya ga?” tanyaku balik
“Mama sih percaya sama kamu, ga akan macem-macem. Apalagi kosannya kata kamu campur. Dan kamu juga tau, uang segitu insyaAllah ada. Mama juga udah bilang ke papa” kata mama
“Oke ma, kalau boleh Arul ambil yang disini” ucapku
“Iya nak, oh iya kabari Vika kalau malam ini kita pulang, itupun kalau kamu ga ada urusan lagi di kampus” kata mama
“Ga ada kok ma, tanggal 22 Agustus nanti mulai ospeknya” ucapku
Aku menutup telefonnya dan kembali menghampiri Zaki. Ternyata dia sudah deal dengan ibu kos
“Gila lu, udah deal aja” ucapku
“Dimana lagi dapet kosan yang banyak cewek cantik” kata Zaki
“Wah sakit, katanya mau bareng” ucapku
“Ya lo pasti ambil disini kan” kata Zaki
“Iya sih” ucapku
“Nah cakep kalau gitu” kataku
Aku dan Zakipun mengikuti bu Sofi menuju rumahnya yang ga jauh darisini. Disana kami mulai membicarakan niat kami yang akan mengisi kamar kosong disini. Papa mengSMSku kalau papa ingin mengantar uangnya langsung padaku, tapi aku bilang tidak usah. Karena aku memiliki tabungan untuk menyewa satu bulan. Dan bu Sofi bilang itu bisa dianggap sebagai DP. Anggap saja aku menyewa satu bulan dan nanti setelah aku menempati, aku membayar sisanya. Setelah selesai, aku pamit dan kembali ke hotel.
“Neng, bentar lagi aku pulang. Nanti malem pada mau pulang. Neng siap-siap nanti dijemput ya” ucapku
“Kayanya aku ga pulang deh a. Mau persiapan dulu disini. Mungkin nanti pulang dulu setelah pendaftaran” kata Vika
“Loh beneran?” tanyaku
“Iya a” katanya
“Yaudah aku kesana sekarang ya” ucapku
“Okey a, ditunggu” katanya
Aku langsung berjalan menuju rumah mas Herman. Aku juga membelikan beberapa camilan dan oleh-oleh untuk keluarga mereka. Sesampainya disana, Vika menyambutku dengan pelukan
“Duh, kenapa nih, kalau manja gini, pasti ada maunya” ucapku
“Yee suudzon da aa mah” kata Vika
“Nih aa bawain oleh-oleh” ucapku sambil memberikan bingkisan
“Makasih aa” kata Vika
“Oh iya, ini buat tante Lina sama mas Herman, sama Siti juga” ucapku
“Wah, jadi ngerepotin” kata tante Lina
“Engga kok, emang sengaja mau beli hehe, malam ini pulang soalnya”
“Oh, Vika ikut?” tanya tante Lina
“Engga bi, Vika disini aja, siapin semua buat pendaftaran” ucap Vika
“Memang udah siap?” tanya tante Lina
“Berkas-berkas sih dibawa bi” kata Vika
“Oh yasudah kalau gitu” kata tante Lina
Aku menghabiskan sore bersama Vika dengan mengunjungi lapangan terdekat sambil membeli beberapa camilan lagi. Vika sih yang banyak jajan.
“Aku udah dapet kosan, neng” ucapku
“Oh ya? Dimana?” tanya Vika
“Ada di pinggir jalan utama, bersih, parkir luas, bagus juga” kataku
“Kosan khusus cowok?” tanya Vika
“Campur” jawabku
“Iiihh kok campur sih?” kata Vika sedikit ngambek
“Yaa yang cocok itu neng. Lagian kan emang niatnya buat tinggal” ucapku
“Iiih nanti aa macem-macem” kata Vika
“Engga lah neng” kataku
“Janji?” kata Vika
“Janji, neng bisa pegang kata-kata aku” ucapku
Menjelang magrib aku pamit pada tante Lina dan mas Herman yang kebetulan sudah pulang. Ada Siti juga yang lagi ngerjain PR. Setelah pamit, Vika menawarkan diri untuk mengantarku ke hotel, tapi aku menolak karena hari udah mulai gelap juga.
“Aa kabarin kalau udah sampai ya” kata Vika
“Iya, nanti aku pasti kabari” ucapku
“Aa hati-hati ya” kata Vika sambil memelukku
“Iya iya sayang” ucapku
Aku mulai berjalan menjauhi rumah om Herman dan Vika masih disana seraya melambaikan tangannya padaku sampai dia tak terlihat setelah aku berbelok di persimpangan. Tak lama aku tiba di hotel dan semua barang sudah dikemas. Setelah shalat magrib, aku mengangkat barang-barang ke mobil dan kamipun berangkat menuju Jakarta. Jam 10 malam kami tiba dirumah dan si kembar langsung menghampiri kami.
“Kalian baik-baik kan dirumah?” ucap papa
“Iya dong pa, kita belajar masak” kata Ani
“Wah, masak apa?” tanya mama
“Macem-macem ma. Oh iya mana oleh-olehnya a?” tanya Ana
“Giliran ke aa aja oleh-oleh. Kalian ini…“ ucapku sambil mengusap kepala mereka
Tak lupa aku langsung mengabari Vika kalau aku sudah tiba, tapi ga ada balasan, jadi aku simpulkan kalau dia sudah tidur. Akupun memutuskan untuk tidur. Sudah lama aku ga mendengar kabar dari Hamid ataupun Windy. Beberapa hari kedepan aku akan menjalani hariku tanpa ada Vika. Aku akan meminjam mobil papa nanti untuk membawa barang-barangku ke kosan. Pertengahan Agustus, bertepatan dengan Vika yang melakukan pendaftaran, aku meminjam mobil papa untuk membawa barang-barangku ke Bandung. Saat itu juga ada SMS masuk ke handphoneku
“Hallo, assalamualaikum” kata Riska
“Waalaikumussalam, kenapa Ris?” tanyaku
“Engga kok, semenjak pertemuan kemarin belum pernah SMS lo hahaha” katanya
“Oh, ada apa?” tanyaku lagi
“Engga ada apa-apa. Lo lagi apa?” tanyanya
“Mau berangkat nih, bawa barang ke kosan” kataku
“Lo lagi di Jakarta?” katanya
“Iya” jawabku
“Boleh bareng ga? Tadinya gue mau ke Bandung besok, tapi kalau boleh bareng lo aja” katanya
“Yaudah, kirim alamatnya, nanti sore gue jemput” kataku
“Okey” katanya
Tak lama Riska mengirim alamatnya. Aku juga mengabari Vika kalau aku berangkat ke Bandung sore ini. Rencananya aku hanya akan tinggal selama sehari atau dua hari dan aku akan mengembalikan mobil papa kemudian membawa motor ke Bandung untuk kebutuhanku disana. Awalnya Vika ga setuju kalau aku pulang dalam waktu singkat, tapi karena kebutuhan papa juga. Setelah membawa motor aku akan mulai tinggal disini selama masa orientasi
“Udah semua?” tanya mama
“Udah ma” kataku
“Yakin kuat? Istirahat kalau cape di rest area” kata papa
“Iya pa, yaudah Arul berangkat sekarang, soalnya harus ke Bekasi dulu jemput temen yang mau bareng” ucapku
“Iya hati-hati ya” kata mama
“Aa oleh-oleh yaaaa” kata si kembar bersamaan
“Iya iya insyaAllah” ucapku
Aku mulai memacu mobil menuju alamat yang di maksud Riska. 40 menit perjalanan menuju Bekasi kulewati karena macet di waktu jam pulang. Sampai aku tiba di sebuah komplek perumahan dan aku langsung mengabari dia. Dia memintaku untuk masuk ke komplek menuju rumahnya. Sampailah aku dirumah sederhana yang dimaksud Riska. Aku mengabarinya dan memutuskan untuk menunggu didalam mobil saja. Sampai keluarlah seorang cewek yang mengenakan jaket putih dan jilbab merah dengan gamis warna senada dengan jilbabnya.
“Assalamualaikum, lama ya” kata Riska
“Waalaikumussalam, banget, ayo cepetan” ucapku
“Iya iya maaf” katanya sambil masuk ke mobil
Terlihat dua orang tua berdiri menghampiri kami yang kutaksir mereka adalah orangtua Riska
“Ga ada yang ketinggalan kan?” tanya ibu itu
“Ga ada kok bu, nanti kalau udah sampai Riska kabari” kata Riska
“Nak, titip Riska ya, kalau repotin turun aja di jalan” kata bapak itu
“Hehe, kami berangkat dulu pak, bu” ucapku
Akupun mulai perjalananku dengan Riska ke Bandung. Selama perjalanan aku fokus mengemudi tanpa banyak bicara. Meskipun Riska selalu berusaha mengajakku ngobrol
“Lo ngekos dimana?” tanya Riska
“Di kosan Melati” ucapku “Lo sendiri?”
“Serius lo? Yang deket SMP itu?” tanyanya
“Iya” jawabku
“Gue juga disitu. Baru masuk dua hari lalu” kata Riska
“Lah, deket ternyata. Zaki juga masuk situ bareng gue” kataku
“Bener-bener dunia yang sempit” kata Riska
“Kita berhenti dulu di rest area ya, makan dulu” ucapku
“Okey, gue juga laper sih” katanya
Saat kami tiba bertepatan dengan adzan magrib, kami memutuskan untuk shalat dulu dan kemudian makan malam disana. Kami memasuki rumah makan yang ada disana. Saat pesanan kami tiba, aku mulai memakan pesananku. Tapi aku lihat Riska yang hanya memainkan makanannya dengan sendok
“Ada masalah?” tanyaku
“Eh, ngga kok” katanya
“Lo ga suka makanannya? Pesen lagi aja” ucapku
“Suka kok” kata Riska
“Suka? Makanan lo aja ga lo makan, cuma lo maenin” kataku
“Hehe, ada sih yang gue pikirin” kata Riska
Diubah oleh neopo 19-10-2022 19:01
itkgid dan 4 lainnya memberi reputasi
5