- Beranda
- Stories from the Heart
5 METER PERSEGI
...
TS
ih.sul
5 METER PERSEGI

~cerita ini di dedikasikan kepada semua orang yang selalu berpikir bagaimana jika dan bagaimana jika~
Buat pembaca baru silahkan baca ceritanya disini.
https://drive.google.com/folderview?...CatIxdZu5i3tKc
Bukanya jangan pake browser kaskus. Pake browser lain biar filenya lengkap
Polling
0 suara
Hal yang paling kalian nantikan di cerita ini
Diubah oleh ih.sul 23-04-2022 13:58
siloh dan 153 lainnya memberi reputasi
144
313.7K
4.7K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ih.sul
#3280
Di arah Timur, bagian yang amat dekat dengan pelabuhan, sebuah tank membelah timbunan salju memasuki hutan. Sinian dan Virgo melihat itu dari balik pepohonan dan keduanya tak bisa mempercayai mata mereka sendiri.
“What the fuck? Mereka membawa tank? Siapa sebenarnya orang itu sampai harus diburu dengan tank?” tanya Virgo sembari menggaruk-garuk kepalanya.
“Aku juga tak tahu dia siapa. Coba kau lihat itu!” Sinian menunjuk ke arah garis pantai. “Ada banyak yang berjaga di bawah air. Kita harus menunggu atau habisi semuanya.”
“Memangnya kenapa kita harus ke laut? Kita harusnya kembali ke penginapan.”
“Karena,” ucap Sinian dengan kesabaran orang yang mengajari satu tambah satu sama dengan dua pada bayi kelewat emosional, “ada banyak orang yang sudah melihat wajahmu tadi. Menurutmu kau bisa kembali ke sana seolah tak terjadi apa-apa?”
“Oohh…. Tapi kenapa ke laut?”
“Karna aku sudah memesan kapal selam agar kita bisa meninggalkan negara ini tanpa ketahuan.”
“Ahh benar sekali. Kau pasti akan ditangkap kalau membawa benda itu ke bandara. Jadi kau memang sudah merencanakan ini ya.”
Setelah mencapai kesepakatan mereka pun memilih bersembunyi hingga suasana mereda. Itu bukan pekerjaan mudah. Entah apa yang tengah terjadi, tetapi banyak sekali pasukan bersenjata yang memasuki hutan dan itu membuat mereka harus terus berpindah agar tidak ketahuan.
“Ini gawat, Ian. Kita tak akan bisa sembunyi terus,” ucap Virgo setelah suara ledakan lain terdengar di sisi hutan. Mungkin itu adalah suara tembakan tank.
“Padahal tempat ini tak terlalu jauh dari pemukiman. Artinya… menangkap orang itu lebih penting dibanding keamanan penduduk.” Sinian memikirkan segala hal yang tengah terjadi sejenak. “Kita benar-benar dalam bahaya. Kalau mereka tak kunjung menangkap orang itu, bukan tak mungkin semua hutan ini akan diledakkan.”
“Diledakkan? Itu tak masuk akal. Semua itu cuma untuk satu orang?”
“Buktinya mereka bahkan membawa tank. Ayo! Kita harus cepat keluar dari sini.”
Meski masih banyak orang yang berjaga di luar hutan, Sinian memutuskan maju dan memingsankan mereka semua untuk mengamankan jalan. Banyak di antara mereka yang mencoba menembak Sinian, tetapi menahan semua peluru dengan sarung pedangnya. Satu hal yang membuatnya terkejut, benda rampasannya itu sama sekali tak tergores bahkan oleh senjata api.
Mereka terus berlari. Di detik-detik itu apa yang mereka perhatikan hanyalah jalan ke depan. Rasanya seperti berada di medan perang. Serangan seolah datang dari segala sisi, tetapi keduanya terus berlari ke depan mendekati garis pantai.
“Langsung lompat dan menyelam!” teriak Sinian di tengah usahanya menghalau semua serangan. Dia melihat beberapa puluh meter ke depan. Di sana, di permukaan laut yang tampak tenang, ada sesuatu yang jelas sekali bergerak di bagian dalam. Itu adalah kapal selam yang sudah dia persiapkan.
Tak jauh lagi sekarang. Beberapa puluh meter. Asalkah mereka bisa menyelam dengan cepat dan masuk ke kepal selam maka mereka akan lolos.
“AWAS!”
Teriakan Virgo membuat Sinian bisa mengambil tindakan tepat waktu. Dia berhenti berlari, memeluk Virgo erat-erat dan melompat ke samping sekuat yang dia bisa untuk menghindari tembakan tank dari belakang mereka. Tembakan itu terus melesat menuju laut dan meledak menghempaskan air dan juga puing-puing logam yang jelas merupakan kapal selam Sinian.
“Ohh shit!”
Kapal sudah hancur. Di sekeliling mereka ada puluhan pasukan bersenjata dan sebuah tank yang siap membunuh mereka. Sinian ragu masalah ini masih bisa diselesaikan baik-baik. Sekarang satu-satunya cara adalah melawan. Dia bisa saja melawan mereka semua, tapi masalahnya di sini adalah Virgo.
“Ian, kau larilah. Tinggalkan saja aku,” ucap Virgo di belakangnya.
“Kau yang harusnya lari.”
“Aku lari pun tetap akan terkejar. Abaikan saja aku. Kau pasti bisa lolos kalau sendiri.”
“Dan hidup tanpamu? Aku hanya akan bunuh diri kalau seperti itu.”
“Tapi—”
“Diam! Aku tak mau dengar.”
Sinian menarik napas. Masih ada satu jalan bagi mereka untuk selamat, tetapi dia ragu Virgo akan setuju. Jika dia menggunakan kekuatan penuh, ada kemungkinan besar dia bisa membunuh mereka semua. Yang menjadi masalah utama adalah tank di depan mereka. Bagaimana caranya menghadapi sebuah tank?
Tank adalah senjata perang yang selalu dikeluarkan di garis depan. Terbuat dari baja dengan mobilitas tinggi dan senjata yang mematikan. Hanya tank dan senjata kelas berat yang bisa menghadapi tank yang lain. Tak mungkin pistol biasa bisa menembusnya.
“Virgo, tutup matamu.”
“Kau mau membunuh mereka?”
“… Ya.”
Virgo tidak berkata apa-apa. Dia pasti tengah terjebak antara prinsip dan intsing bertahan hidup. Sinian tidak menunggu jawaban. Para prajurit itu sudah mengangkat senjata mereka jadi Sinian menumpukan seluruh berat badannya ke depan dan langsung menerjang ke arah tank.
Dia memfokuskan panca indranya ke titik maksimal. Dia bisa melihat sedikit pergerakan dari moncong meriam, tank itu hendak menembak. Sinian langsung berbelok menuju tentara yang berdiri paling dekat dengan tank. Moncong meriam itu mengejarnya dan Sinian kembali berbelok. Gerakan zig-zag itu membuat tank tidak bisa menembak dan Sinian terus mendekat sembari menghindari peluru-peluru yang ditembakkan padanya.
Semua terjadi hanya dalam beberapa detik, tetapi itu adalah detik-detik yang amat panjang bagi Sinian. Dia terus memperpendek jarak dengan tank di depannya dan saat hanya ada jarak sepuluh meter lagi dia mulai berlari lurus tanpa zigzag. Orang yang berada di dalam tank menyadari pergerakan itu dan langsung menembak, tetapi Sinian sudah melompat setinggi yang dia bisa.
Ledakan yang berasal dari tembakan tank menghamburkan salju yang berada di tanah dan menutupi pandangan dengan uap tebal. Sinian mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan dengan debaran jantung terkeras yang pernah dia alami seumur hidupnya, dia menarik pedang itu keluar.
Kilau bilah pedang itu memantulkan cahaya mentari yang begitu hangat. Salju mencair, tubuh memanas, dan baja terkeras pun berubah menjadi seonggok tahu. Sinian langsung menusukkan pedang itu ke arah tank dan terkejut dengan betapa mudahnya lapisan baja itu ditembus.
Mereka benar, itu adalah pedang yang bisa memotong apa saja.
Dan kemudian, waktu seolah kembali berjalan normal. Uap salju mulai menghilang dan pemandangan saat Sinian menarik kembali pedangnya yang berlumuran darah bisa terlihat dengan jelas. Sinian mengibaskan pedangnya dan darah yang menempel terhempas menodai salju yang putih. Bagi siapa pun yang melihatnya, itu tampak seperti sebuah titah suci.
“Kerja bagus, Nak!”
Mungkin karena terlalu mengagumi senjata barunya, Sinian tak mengantisipasi seseorang yang sudah menyelinap dari belakang tank. Orang itu memukulnya tepat di perut dan tenaganya cukup untuk membuat Sinian terlempar dan jatuh.
Nine kini berada di atasnya dan tank mulai bergerak lagi.
“What the fuck? Mereka membawa tank? Siapa sebenarnya orang itu sampai harus diburu dengan tank?” tanya Virgo sembari menggaruk-garuk kepalanya.
“Aku juga tak tahu dia siapa. Coba kau lihat itu!” Sinian menunjuk ke arah garis pantai. “Ada banyak yang berjaga di bawah air. Kita harus menunggu atau habisi semuanya.”
“Memangnya kenapa kita harus ke laut? Kita harusnya kembali ke penginapan.”
“Karena,” ucap Sinian dengan kesabaran orang yang mengajari satu tambah satu sama dengan dua pada bayi kelewat emosional, “ada banyak orang yang sudah melihat wajahmu tadi. Menurutmu kau bisa kembali ke sana seolah tak terjadi apa-apa?”
“Oohh…. Tapi kenapa ke laut?”
“Karna aku sudah memesan kapal selam agar kita bisa meninggalkan negara ini tanpa ketahuan.”
“Ahh benar sekali. Kau pasti akan ditangkap kalau membawa benda itu ke bandara. Jadi kau memang sudah merencanakan ini ya.”
Setelah mencapai kesepakatan mereka pun memilih bersembunyi hingga suasana mereda. Itu bukan pekerjaan mudah. Entah apa yang tengah terjadi, tetapi banyak sekali pasukan bersenjata yang memasuki hutan dan itu membuat mereka harus terus berpindah agar tidak ketahuan.
“Ini gawat, Ian. Kita tak akan bisa sembunyi terus,” ucap Virgo setelah suara ledakan lain terdengar di sisi hutan. Mungkin itu adalah suara tembakan tank.
“Padahal tempat ini tak terlalu jauh dari pemukiman. Artinya… menangkap orang itu lebih penting dibanding keamanan penduduk.” Sinian memikirkan segala hal yang tengah terjadi sejenak. “Kita benar-benar dalam bahaya. Kalau mereka tak kunjung menangkap orang itu, bukan tak mungkin semua hutan ini akan diledakkan.”
“Diledakkan? Itu tak masuk akal. Semua itu cuma untuk satu orang?”
“Buktinya mereka bahkan membawa tank. Ayo! Kita harus cepat keluar dari sini.”
Meski masih banyak orang yang berjaga di luar hutan, Sinian memutuskan maju dan memingsankan mereka semua untuk mengamankan jalan. Banyak di antara mereka yang mencoba menembak Sinian, tetapi menahan semua peluru dengan sarung pedangnya. Satu hal yang membuatnya terkejut, benda rampasannya itu sama sekali tak tergores bahkan oleh senjata api.
Mereka terus berlari. Di detik-detik itu apa yang mereka perhatikan hanyalah jalan ke depan. Rasanya seperti berada di medan perang. Serangan seolah datang dari segala sisi, tetapi keduanya terus berlari ke depan mendekati garis pantai.
“Langsung lompat dan menyelam!” teriak Sinian di tengah usahanya menghalau semua serangan. Dia melihat beberapa puluh meter ke depan. Di sana, di permukaan laut yang tampak tenang, ada sesuatu yang jelas sekali bergerak di bagian dalam. Itu adalah kapal selam yang sudah dia persiapkan.
Tak jauh lagi sekarang. Beberapa puluh meter. Asalkah mereka bisa menyelam dengan cepat dan masuk ke kepal selam maka mereka akan lolos.
“AWAS!”
Teriakan Virgo membuat Sinian bisa mengambil tindakan tepat waktu. Dia berhenti berlari, memeluk Virgo erat-erat dan melompat ke samping sekuat yang dia bisa untuk menghindari tembakan tank dari belakang mereka. Tembakan itu terus melesat menuju laut dan meledak menghempaskan air dan juga puing-puing logam yang jelas merupakan kapal selam Sinian.
“Ohh shit!”
Kapal sudah hancur. Di sekeliling mereka ada puluhan pasukan bersenjata dan sebuah tank yang siap membunuh mereka. Sinian ragu masalah ini masih bisa diselesaikan baik-baik. Sekarang satu-satunya cara adalah melawan. Dia bisa saja melawan mereka semua, tapi masalahnya di sini adalah Virgo.
“Ian, kau larilah. Tinggalkan saja aku,” ucap Virgo di belakangnya.
“Kau yang harusnya lari.”
“Aku lari pun tetap akan terkejar. Abaikan saja aku. Kau pasti bisa lolos kalau sendiri.”
“Dan hidup tanpamu? Aku hanya akan bunuh diri kalau seperti itu.”
“Tapi—”
“Diam! Aku tak mau dengar.”
Sinian menarik napas. Masih ada satu jalan bagi mereka untuk selamat, tetapi dia ragu Virgo akan setuju. Jika dia menggunakan kekuatan penuh, ada kemungkinan besar dia bisa membunuh mereka semua. Yang menjadi masalah utama adalah tank di depan mereka. Bagaimana caranya menghadapi sebuah tank?
Tank adalah senjata perang yang selalu dikeluarkan di garis depan. Terbuat dari baja dengan mobilitas tinggi dan senjata yang mematikan. Hanya tank dan senjata kelas berat yang bisa menghadapi tank yang lain. Tak mungkin pistol biasa bisa menembusnya.
“Virgo, tutup matamu.”
“Kau mau membunuh mereka?”
“… Ya.”
Virgo tidak berkata apa-apa. Dia pasti tengah terjebak antara prinsip dan intsing bertahan hidup. Sinian tidak menunggu jawaban. Para prajurit itu sudah mengangkat senjata mereka jadi Sinian menumpukan seluruh berat badannya ke depan dan langsung menerjang ke arah tank.
Dia memfokuskan panca indranya ke titik maksimal. Dia bisa melihat sedikit pergerakan dari moncong meriam, tank itu hendak menembak. Sinian langsung berbelok menuju tentara yang berdiri paling dekat dengan tank. Moncong meriam itu mengejarnya dan Sinian kembali berbelok. Gerakan zig-zag itu membuat tank tidak bisa menembak dan Sinian terus mendekat sembari menghindari peluru-peluru yang ditembakkan padanya.
Semua terjadi hanya dalam beberapa detik, tetapi itu adalah detik-detik yang amat panjang bagi Sinian. Dia terus memperpendek jarak dengan tank di depannya dan saat hanya ada jarak sepuluh meter lagi dia mulai berlari lurus tanpa zigzag. Orang yang berada di dalam tank menyadari pergerakan itu dan langsung menembak, tetapi Sinian sudah melompat setinggi yang dia bisa.
Ledakan yang berasal dari tembakan tank menghamburkan salju yang berada di tanah dan menutupi pandangan dengan uap tebal. Sinian mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan dengan debaran jantung terkeras yang pernah dia alami seumur hidupnya, dia menarik pedang itu keluar.
Kilau bilah pedang itu memantulkan cahaya mentari yang begitu hangat. Salju mencair, tubuh memanas, dan baja terkeras pun berubah menjadi seonggok tahu. Sinian langsung menusukkan pedang itu ke arah tank dan terkejut dengan betapa mudahnya lapisan baja itu ditembus.
Mereka benar, itu adalah pedang yang bisa memotong apa saja.
Dan kemudian, waktu seolah kembali berjalan normal. Uap salju mulai menghilang dan pemandangan saat Sinian menarik kembali pedangnya yang berlumuran darah bisa terlihat dengan jelas. Sinian mengibaskan pedangnya dan darah yang menempel terhempas menodai salju yang putih. Bagi siapa pun yang melihatnya, itu tampak seperti sebuah titah suci.
“Kerja bagus, Nak!”
Mungkin karena terlalu mengagumi senjata barunya, Sinian tak mengantisipasi seseorang yang sudah menyelinap dari belakang tank. Orang itu memukulnya tepat di perut dan tenaganya cukup untuk membuat Sinian terlempar dan jatuh.
Nine kini berada di atasnya dan tank mulai bergerak lagi.
simounlebon dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Tutup