- Beranda
- Stories from the Heart
Jalan Terakhir
...
TS
neopo
Jalan Terakhir

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apakabar semua. Setelah sekian lama ga berbagi cerita akhirnya mencoba lagi untuk menulis/membagikan salah satu cerita/kisah/tulisan dari seorang teman. Tentunya saya tidak lupa akan thread sebelumnya yang saya buat, yang berjudul Riding to Jannah yang sementara ini dihentikan dulu karena hilangnya draft yang sudah dibuat dulu. Bahkan sampai beberapa tahun tidak terurus. Tetapi insyaAllah akan kembali di up jika sudah selesai. Bahkan kemarinpun sempat dilanjut, tetapi harddisk yang saya gunakan untuk menyimpan file penting ternyata bad sector dan semua file rusak 

Jika kalian sudah bosan atau kurang suka dengan cerita remaja, baik fiksi ataupun true story, kalian boleh skip thread ini
Hanya saja menurut saya pribadi, cerita dia cukup membuat saya terhibur. Jadi saya meminta izin untuk share disini, dan dia memperbolehkan. Setelah sekian tahun ga buka kaskus, udah banyak perubahan, jadi kalau berantakan mohon dimaafkan.
Hanya saja menurut saya pribadi, cerita dia cukup membuat saya terhibur. Jadi saya meminta izin untuk share disini, dan dia memperbolehkan. Setelah sekian tahun ga buka kaskus, udah banyak perubahan, jadi kalau berantakan mohon dimaafkan.Setiap orang pasti pernah mengalami masalah dalam menjalani hidup. Namun setiap masalah selalu menuntut untuk diselesaikan. Karena itulah, menemukan solusi dan bersikap pantang menyerah adalah jawaban untuk setiap masalah.
Kadang kala perjalanan hidup yang membuat seseorang menjadi dewasa. Dewasa dalam hal ini berarti mampu berpikir jernih dan menempatkan perannya dalam berbagai situasi. Selain itu, perjalanan hidup juga bisa menjadi bahan pembelajaran yang menginspirasi. Tidak hanya menginspirasi diri sendiri, tapi juga orang lain.
Langit tidak selalu cerah, perjalanan hidup pun tidak selalu indah. Dari kalimat itu kita harus paham bahwa perjalanan hidup itu tidak selalu mulus. Terkadang kita temukan kerikil dan duri yang mengganggu di jalanan. Rasa sakit, kesedihan, kesusahan dan duka. Apapun yang ada di hadapan kita bukan berarti kita berhenti berjalan dan menyerah. Perjalanan hidup yang berat ataupun perjalanan hidup yang pahit harus kita hadapi dan lalui.
"Hidup itu tentang sebuah perjalanan, caramu menjalaninya, dan caramu memberi arti pada perjalananmu itu." WilzKanadi
Aku tengah menempuh pendidikan sekolah tingkat atas kelas satu. Aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang berkecukupan. Aku berasal dari Bandung namun sejak SD aku pindah ke Jakarta karena pekerjaan papaku. Aku merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Aku memiliki postur tubuh dengan tinggi badan 168cm dan berat badan 62kg. Namaku Khairul Purnama, dan ini adalah kisah perjalananku
Akan di update berdasarkan jalan cerita melalui Instagramdan beberapa spoiler untuk next part diperlihatkan disana, tapi itupun jika ga penasaran
Akan di update berdasarkan jalan cerita melalui Instagramdan beberapa spoiler untuk next part diperlihatkan disana, tapi itupun jika ga penasaran

- INDEX -
Masa SMA

Prolog
BAB 1 - Ocehan Seorang Gadis
BAB 2 - Dunia yang Sempit
BAB 3 - Cewek Melengking dan Anak Hilang
BAB 4 - Silsilah Keluarga
BAB 5 - Ma, Arul Kuat Kok
BAB 6 - Teman
BAB 7 - Obat Penenang
BAB 8 - Bandung
BAB 9 - Kebahagiaan dari Masa Lalu
BAB 10 - Perasaan yang Memuncak
BAB 11 - Puncak Amarah
BAB 12 - Yang Pertama
BAB 13 - Berputar Kembali
BAB 14 - Liburan Lagi
BAB 15 - Sebuah Cerita
BAB 16 - Sekolah Lagi
BAB 17 - Jawaban
BAB 18 - Kelemahan
BAB 19 - Rasa Terindah
BAB 20 - Ungkapan Hati
BAB 21 - Double Date?
BAB 22 - Jalan Buntu
BAB 23 - Maaf
BAB 24 - Liburan Penutup
BAB 25 - MOS (Part 1)
BAB 26 - MOS (Part 2)
BAB 27 - Sebuah Tragedi
BAB 28 - Tujuan
Masa Kuliah

BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
Masa SMA

Prolog
BAB 1 - Ocehan Seorang Gadis
BAB 2 - Dunia yang Sempit
BAB 3 - Cewek Melengking dan Anak Hilang
BAB 4 - Silsilah Keluarga
BAB 5 - Ma, Arul Kuat Kok
BAB 6 - Teman
BAB 7 - Obat Penenang
BAB 8 - Bandung
BAB 9 - Kebahagiaan dari Masa Lalu
BAB 10 - Perasaan yang Memuncak
BAB 11 - Puncak Amarah
BAB 12 - Yang Pertama
BAB 13 - Berputar Kembali
BAB 14 - Liburan Lagi
BAB 15 - Sebuah Cerita
BAB 16 - Sekolah Lagi
BAB 17 - Jawaban
BAB 18 - Kelemahan
BAB 19 - Rasa Terindah
BAB 20 - Ungkapan Hati
BAB 21 - Double Date?
BAB 22 - Jalan Buntu
BAB 23 - Maaf
BAB 24 - Liburan Penutup
BAB 25 - MOS (Part 1)
BAB 26 - MOS (Part 2)
BAB 27 - Sebuah Tragedi
BAB 28 - Tujuan
Masa Kuliah

BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
Diubah oleh neopo 02-02-2023 21:58
sukhhoi dan 12 lainnya memberi reputasi
11
13.9K
120
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
neopo
#55
BAB 29 - Calon Mahasiswa
Hari-hari berlalu. Tibalah hari dimana aku akan berangkat ke Bandung. Vika juga sudah berada dirumahku dengan beberapa koper. Ia akan mempersiapkan kepindahannya selama kuliah sehingga dia minta izin untuk bawa beberapa barang agar nantinya ga repot dan papa pun mengizinkan.
“Ga ada yang ketinggalan?” tanyaku pada Vika
“InsyaAllah ga ada aa. Aku cuma bawa beberapa barang yang penting aja. Sisanya kan nanti aku bisa bawa sendiri” kata Vika
“Waktu daftarnya kapan?” tanyaku
“Pertengahan Agustus sih a” kata Vika
“Oh iya, berati sekarang bawa barang-barang dulu ya” kataku
“Iya a. Aa nanti sekalian cari kosan?” tanya Vika
“Heem. Pendaftaran paling sehari doang. Paling lama dua hari. Lagipula waktu pendaftaran kan seminggu. Papa bilang udah pesen hotel untuk tiga hari” ucapku
“Yaudah nanti neng temenin aa cari kosan ya. Kalau aa ga mau tinggal bareng neng hehe” kata Vika
“Aa ga bisa tinggal bareng, tapi kita bisa terus ketemu kan. Aa bakal cari kosan deket kampus, yang ga jauh juga dari rumah tante Lina kan” kata Vika
“Iya sih a hehe” kata Vika
Setelah semua siap, kami semua pamit pada si kembar yang ga bisa ikut. Si kembar memelukku dan aku mengusap kepala mereka
“Aa jangan lama-lama ya” kata Ani
“Ngga lama, cuma daftar sama cari kosan aja kok” ucapku
“Iya a, tapi jangan lama-lama” kata Ana
“Nanti juga kan liburan masih disini. Aa tinggal disana pas mau masuk kuliah aja” ucapku
“Udah dong, nanti ga berangkat-berangkat” kata papa
“Iya pa” jawab si kembar sambil melepas pelukannya
Aku mencium si kembar dan kamipun berangkat menuju Bandung. Setelah menempuh tiga jam perjalanan, kami tiba di Kota Bandung. Sekitar jam 11 siang, kami sudah tiba di rumah tante Lina untuk menurunkan barang-barang Vika.
“Assalamualaikum” ucap Vika
“Waalaikumussalam, eh Vika. Apakabar?” ucap seorang laki-laki
“Baik mas. Mas apa kabar? Waktu itu Vika sempet kesini dua kali tapi mas ga ada” kata Vika
“Wah, mas kan lagi dinas. Eh mereka siapa?” tanya laki-laki itu
“Oh iya mas, kenalin ini Arul, pacar Vika. Ini papa sama mama nya Arul. Mereka yang anter Vika kesini” kata Vika
“Wah udah punya pacar aja kamu. Panggil saja mas Herman” ucap beliau padaku
Kemudian papa dan mama juga disambut baik oleh keluarga ini. Ga lama muncul tante Lina dan kami semua dipersilahkan masuk. Tapi setelah didalam aku dan Vika disuruh menunggu diluar. Mungkin beberapa saat aku bisa bertanya pada warga sekitar tentang kos-kosan di dekat sini.
“Mau kemana a?” tanya Vika
“Mau nanya-nanya soal kosan ke orang sini” ucapku
“Ikut aa” kata Vika
“Yaudah ayo” ucapku
Aku dan Vika mulai berjalan di sekitaran komplek ini. Komplek ini terdapat beberapa sekolah dan menjadikannya perumahan yang cukup strategis. Aku bertanya pada beberapa pedagang, tukang parkir, bahkan pada orang-orang yang terlihat seperti mahasiswa yang aku tahu kalau itu berasal dari kampus tempat aku daftar.
“Kayanya nanti sore aa bakal cari ke daerah barat kampus deh” ucapku
“Nanti aku temenin ya a” kata Vika
“Ga usah neng. Mending neng istirahat aja” kataku
“Ih atuh a, gapapa. Lagipula neng juga ngapain dirumah” kata Vika
“Kan bisa beres-beres dulu neng” ucapku
“Emm iya sih a, tapi bener gapapa gitu?” kata Vika
“Gapapa, nanti abis cari kosan, aa main kerumah” ucapku
“Janji ya” kata Vika
“Janji neng” ucapku
“Yaudah, kita pulang yu. Panas nih” kata Vika
“Ayo” ucapku
Sesampainya dirumah tante Lina, papa dan mama sedang asyik mengobrol diselingi canda dan tawa. Seperti mereka sudah kenal lama.
“Sudah jalan-jalannya?” tanya papa
“Loh, kan papa yang ngusir kita” ucapku
“Hehe, engga kok, papa pengen ngobrol aja tadi hehe” kata papa
“Yasudah, kalau gitu kita ke hotel sekarang” kata mama
Kamipun pamit, dan Vika ga ikut denganku. Beberapa menit kemudian kami tiba di hotel. Setelah membereskan barang-barang, kami beristirahat. Tapi tak lupa aku memberi kabar Vika kalau aku sudah tiba di hotel. Sore hari aku bersiap untuk keluar
“Ma, Arul mau cari-cari kosan” ucapku
“Yaudah, nanti mama temenin ya” kata mama
“Ga usah, mama disini aja sama papa” ucapku
“Gapapa, nanti mama temenin. Biar tau tempat seperti apa yang akan kamu tinggali nanti” kata mama
“Udah gapapa, Arul udah besar” kata papa
“Iya ma, nanti kalau dapet juga Arul bakal minta nomornya dulu aja” kataku
“Yaudah deh, mama percayakan sama kamu” ucap mama
Sore itu aku langsung pergi ke daerah yang sebelumnya sudah aku tanyakan. Aku pergi dengan berjalan kaki melewati kampus, aku pikir agar aku bisa tahu seperti apa kampus yang akan aku tempati nanti. Sekitar satu jam aku mencari-cari info mengenai kosan yang menurutku cocok, terutama dalam hal kebersihan dan keamanan. Sampai akhirnya aku menemukan kosan yang sekiranya sesuai dengan kriteriaku. Aku memfotokan tempat itu dan mencatat nomor handphone pemilik kosan yang tertera di selembar kertas itu. Saat aku berbalik, aku tak sengaja menabrak seseorang
“Eh, maaf” ucapku
“Gapapa mas” katanya
Seorang laki-laki yang tingginya sama sepertiku.
“Cari kosan juga mas?” tanyanya
“Iya nih, kebetulan lingkungan sama tempat disini bagus” ucapku
“Iya mas, deket ke pasar, masjid, tempat makan, sekolah, tapi harganya gatau sih hehe” katanya
“Iya, oh iya kenalin, gue Arul” ucapku
“Gue Zaki” katanya “Lo mahasiswa baru juga?” tanya Zaki
“Iya, besok gue baru mau daftar” ucapku
“Oh, sama kalau gitu” katanya
“Yaudah, gue mau balik ke hotel dulu” ucapku
“Oke oke, hati-hati” katanya
Akupun pergi darisana. Aku ingat kalau aku ada janji akan main ke tempat tante Lina menemui Vika. Setelah 30 menit jalan kaki menjelang magrib, akhirnya aku tiba dan aku segera mengabari Vika kalau aku sudah sampai. Vikapun keluar dari dalam
“Darimana aja?” katanya dengan sedikit jutek
“Kan cari kosan neng” ucapku
“Lama banget” katanya
“Yaaa maaf, kan muter-muter dulu. Baru dapet kontaknya doang” ucapku
“Udah makan belum?” katanya masih dengan nada jutek
“Belum” jawabku
“Sukurin” kata Vika sambil berbalik masuk
Aku hanya bengong menggaruk kepalaku yang tidak gatal kemudian ikut berbalik dan hendak kembali ke hotel. Tapi ga lama ada yang menarik tanganku, dan saat aku menoleh ternyata Vika
“Ish, mau kemana. Kenapa ga masuk?” kata Vika
“Lah kamu juga ga ngizinin” ucapku
“Yeee masuk aja kali. Yuk kita makan bareng. Bibi tau aa mau kerumah, jadi masak” kata Vika
“Lah, gara-gara aku jadi repot” ucapku
“Engga kok. Yuk” kata Vika
Akupun masuk bareng Vika, dan langsung bertemu dengan tante Lina dan Siti. Mas Herman katanya sedang keluar jadi ga bisa ikut makan bareng. Kamipun menikmati makan malam
“Teteh kapan pindah kesininya?” tanya Siti
“Gatau nih, kemungkinan bulan depan” kata Vika
“Masih lama atuh” kata Siti
“Yaa sabar, ini kan barang-barang udah sebagian disini. Jadi ga akan lama hehe” kata Vika
“Aa Arul tinggal disini juga?” tanya Siti
“Engga, aku ngekos hehe, barusan baru dapet tempat yang sekiranya bagus” ucapku
“Ooo, kirain disini juga hehe biar hemat gitu” kata Siti
“Engga hehe” ucapku
Setelah shalat magrib di mesjid setempat, aku pamit untuk kembali ke hotel. Saat aku keluar bareng Vika, bertepatan mas Herman yang baru datang
“Loh, mau kemana Rul?” tanya mas Herman
“Mau balik ke hotel mas” jawabku
“Wah udah dari tadi?” tanyanya
“Iya mas hehe, tadi sore cari kosan” ucapku
“Oalah, yasudah kalau gitu pakai motor aja, diantar Vika” ucap mas Herman
“Eh, gapapa mas, deket kok jalan kaki aja” ucapku
“Yasudah kalau gitu” kata mas Herman sambil masuk kedalam
Akupun berjalan pulang. Aku menelefon papa dan mama sekedar bertanya apakah mereka sudah makan atau belum. Dan mereka menjawab belum, jadi aku putuskan untuk membawakan makan malam untuk mereka. Sambil berjalan, aku menelusuri tiap pedagang yang ada disini. Aku mendatangi seorang penjual nasi goreng dan memesan dua porsi nasi goreng. Setelah beberapa saat selesai, ada seseorang yang tiba-tiba menyerobot antrian dan mengambil pesananku sambil meletakan uangnya di atas gerobak dengan tergesa-gesa
“Ngantri dong mba” ucapku
“Maaf gue buru-buru” katanya sambil berlari pergi
“Gimana kang?” tanya penjual nasgor
“Yaudahlah kang, bikin lagi aja” ucapku
“Tapi tadi uangnya kurang” katanya
“Haduh, orang ini” ucapku dalam hati “Yaudah gapapa, biar saya yang bayar kurangnya” ucapku
Beberapa saat kemudian pesanankupun selesai. Setelah membayar dengan ucapan terima kasih, aku kembali ke hotel. Setibanya dihotel, setelah shalat isya aku langsung istirahat dan bersiap untuk besok hari
Keesokan harinya, aku ke kampus dengan papa dan mama. Banyak mahasiswa yang mengantre dan banyak juga orang tua calon mahasiswa yang hadir, katanya sih undangan pertemuan dari pihak kampus, tapi gatau deh apa itu. Setelah mendaftar serta mengisi beberapa berkas yang diperlukan, papa dan mama mengabariku kalau mereka akan langsung kembali ke hotel, sementara aku diarahkan oleh panitia untuk ikut dengannya.
“Mari ikut saya” katanya yang sepertinya senior
“Iya kang” jawabku
Akupun mengikutinya dan aku dibawa ke sebuah pos yang bertuliskan jurusanku.
“Halo selamat datang” ucap salah satu mahasiswa yang sedang duduk disana
Aku hanya menjawab dengan senyuman dan akupun duduk diantara mereka. Tidak hanya aku, tapi ada beberapa calon mahasiswa lainnya yang sedang duduk disini.
“Nama kamu siapa?” tanya seorang cewek yang merupakan mahasiswa dari jurusanku
“Khairul Purnama” jawabku
“Kenapa memilih jurusan ini?” tanyanya
“Pengen belajar perbisnisan dan kemungkinan nantinya bakal bantu bisnis orang tua” ucapku
“Oh gitu. Asli dari Bandung?” tanya Nayra
“Iya teh, asli Bandung, tapi pas SD pindah ke Jakarta” ucapku
“Coba deskripsikan bisnis menurut Khairul” katanya
“Bisnis adalah serangkaian usaha yang dilakukan individu atau kelompok dengan menawarkan barang dan jasa untuk mendapatkan keuntungan” jawabku
“Okey, cukup. Semoga betah ya hehe” kata Nayra
“Kalau betah ga lulus-lulus nanti” ucapku
“Yaa maksudnya sama orang-orangnya hehe” katanya
“Silahkan ke akang yang disana” katanya
Akupun menuruti perintahnya. Setelah mendatangi beberapa kating, akupun selesai dengan acaraku. Saat aku hendak pergi dari pos, seseorang menepuk pundakku
“Woy” katanya
“Eh, iya. . . . Loh, kang Zaki ya?” ucapku
“Iya hehe, lo jurusan apa?” tanyanya
“Pendidikan Bisnis” jawabku
“Hah serius? Sama dong kalau gitu” katanya
“Oh ya? Tapi tadi gue ga liat lo hehe” ucapku
“Gue liat sih, tapi agak lupa, takutnya salah orang haha” katanya
“Oalah, lo nginep dimana? Udah coba hubungi kosan?” tanyaku
“Belum sih, gue di guest house deket mesjid” jawabnya
“Oh, gue mau ke kantin nih, sekalian liat-liat. Mau ikut ga?” tanyanya
“Ayo dah, daripada ga ada kerjaan” ucapku
Saat kami hendak pergi, ada seorang lagi yang menepuk tasku dari belakang.
“Hai, kalian dari jurusan ini juga ya?” tanya cewek itu
“Iya” jawab Zaki
“Kenalin, gue Riska” katanya
Kami bertigapun saling memperkenalkan diri
“Kalian mau kemana?” tanya Riska
“Kantin, sambill liat-liat, mau ikut?” tanya Zaki
“Ayo deh, di kosan juga ga ngapa-ngapain” kata Riska
“Ga ada yang ketinggalan?” tanyaku pada Vika
“InsyaAllah ga ada aa. Aku cuma bawa beberapa barang yang penting aja. Sisanya kan nanti aku bisa bawa sendiri” kata Vika
“Waktu daftarnya kapan?” tanyaku
“Pertengahan Agustus sih a” kata Vika
“Oh iya, berati sekarang bawa barang-barang dulu ya” kataku
“Iya a. Aa nanti sekalian cari kosan?” tanya Vika
“Heem. Pendaftaran paling sehari doang. Paling lama dua hari. Lagipula waktu pendaftaran kan seminggu. Papa bilang udah pesen hotel untuk tiga hari” ucapku
“Yaudah nanti neng temenin aa cari kosan ya. Kalau aa ga mau tinggal bareng neng hehe” kata Vika
“Aa ga bisa tinggal bareng, tapi kita bisa terus ketemu kan. Aa bakal cari kosan deket kampus, yang ga jauh juga dari rumah tante Lina kan” kata Vika
“Iya sih a hehe” kata Vika
Setelah semua siap, kami semua pamit pada si kembar yang ga bisa ikut. Si kembar memelukku dan aku mengusap kepala mereka
“Aa jangan lama-lama ya” kata Ani
“Ngga lama, cuma daftar sama cari kosan aja kok” ucapku
“Iya a, tapi jangan lama-lama” kata Ana
“Nanti juga kan liburan masih disini. Aa tinggal disana pas mau masuk kuliah aja” ucapku
“Udah dong, nanti ga berangkat-berangkat” kata papa
“Iya pa” jawab si kembar sambil melepas pelukannya
Aku mencium si kembar dan kamipun berangkat menuju Bandung. Setelah menempuh tiga jam perjalanan, kami tiba di Kota Bandung. Sekitar jam 11 siang, kami sudah tiba di rumah tante Lina untuk menurunkan barang-barang Vika.
“Assalamualaikum” ucap Vika
“Waalaikumussalam, eh Vika. Apakabar?” ucap seorang laki-laki
“Baik mas. Mas apa kabar? Waktu itu Vika sempet kesini dua kali tapi mas ga ada” kata Vika
“Wah, mas kan lagi dinas. Eh mereka siapa?” tanya laki-laki itu
“Oh iya mas, kenalin ini Arul, pacar Vika. Ini papa sama mama nya Arul. Mereka yang anter Vika kesini” kata Vika
“Wah udah punya pacar aja kamu. Panggil saja mas Herman” ucap beliau padaku
Kemudian papa dan mama juga disambut baik oleh keluarga ini. Ga lama muncul tante Lina dan kami semua dipersilahkan masuk. Tapi setelah didalam aku dan Vika disuruh menunggu diluar. Mungkin beberapa saat aku bisa bertanya pada warga sekitar tentang kos-kosan di dekat sini.
“Mau kemana a?” tanya Vika
“Mau nanya-nanya soal kosan ke orang sini” ucapku
“Ikut aa” kata Vika
“Yaudah ayo” ucapku
Aku dan Vika mulai berjalan di sekitaran komplek ini. Komplek ini terdapat beberapa sekolah dan menjadikannya perumahan yang cukup strategis. Aku bertanya pada beberapa pedagang, tukang parkir, bahkan pada orang-orang yang terlihat seperti mahasiswa yang aku tahu kalau itu berasal dari kampus tempat aku daftar.
“Kayanya nanti sore aa bakal cari ke daerah barat kampus deh” ucapku
“Nanti aku temenin ya a” kata Vika
“Ga usah neng. Mending neng istirahat aja” kataku
“Ih atuh a, gapapa. Lagipula neng juga ngapain dirumah” kata Vika
“Kan bisa beres-beres dulu neng” ucapku
“Emm iya sih a, tapi bener gapapa gitu?” kata Vika
“Gapapa, nanti abis cari kosan, aa main kerumah” ucapku
“Janji ya” kata Vika
“Janji neng” ucapku
“Yaudah, kita pulang yu. Panas nih” kata Vika
“Ayo” ucapku
Sesampainya dirumah tante Lina, papa dan mama sedang asyik mengobrol diselingi canda dan tawa. Seperti mereka sudah kenal lama.
“Sudah jalan-jalannya?” tanya papa
“Loh, kan papa yang ngusir kita” ucapku
“Hehe, engga kok, papa pengen ngobrol aja tadi hehe” kata papa
“Yasudah, kalau gitu kita ke hotel sekarang” kata mama
Kamipun pamit, dan Vika ga ikut denganku. Beberapa menit kemudian kami tiba di hotel. Setelah membereskan barang-barang, kami beristirahat. Tapi tak lupa aku memberi kabar Vika kalau aku sudah tiba di hotel. Sore hari aku bersiap untuk keluar
“Ma, Arul mau cari-cari kosan” ucapku
“Yaudah, nanti mama temenin ya” kata mama
“Ga usah, mama disini aja sama papa” ucapku
“Gapapa, nanti mama temenin. Biar tau tempat seperti apa yang akan kamu tinggali nanti” kata mama
“Udah gapapa, Arul udah besar” kata papa
“Iya ma, nanti kalau dapet juga Arul bakal minta nomornya dulu aja” kataku
“Yaudah deh, mama percayakan sama kamu” ucap mama
Sore itu aku langsung pergi ke daerah yang sebelumnya sudah aku tanyakan. Aku pergi dengan berjalan kaki melewati kampus, aku pikir agar aku bisa tahu seperti apa kampus yang akan aku tempati nanti. Sekitar satu jam aku mencari-cari info mengenai kosan yang menurutku cocok, terutama dalam hal kebersihan dan keamanan. Sampai akhirnya aku menemukan kosan yang sekiranya sesuai dengan kriteriaku. Aku memfotokan tempat itu dan mencatat nomor handphone pemilik kosan yang tertera di selembar kertas itu. Saat aku berbalik, aku tak sengaja menabrak seseorang
“Eh, maaf” ucapku
“Gapapa mas” katanya
Seorang laki-laki yang tingginya sama sepertiku.
“Cari kosan juga mas?” tanyanya
“Iya nih, kebetulan lingkungan sama tempat disini bagus” ucapku
“Iya mas, deket ke pasar, masjid, tempat makan, sekolah, tapi harganya gatau sih hehe” katanya
“Iya, oh iya kenalin, gue Arul” ucapku
“Gue Zaki” katanya “Lo mahasiswa baru juga?” tanya Zaki
“Iya, besok gue baru mau daftar” ucapku
“Oh, sama kalau gitu” katanya
“Yaudah, gue mau balik ke hotel dulu” ucapku
“Oke oke, hati-hati” katanya
Akupun pergi darisana. Aku ingat kalau aku ada janji akan main ke tempat tante Lina menemui Vika. Setelah 30 menit jalan kaki menjelang magrib, akhirnya aku tiba dan aku segera mengabari Vika kalau aku sudah sampai. Vikapun keluar dari dalam
“Darimana aja?” katanya dengan sedikit jutek
“Kan cari kosan neng” ucapku
“Lama banget” katanya
“Yaaa maaf, kan muter-muter dulu. Baru dapet kontaknya doang” ucapku
“Udah makan belum?” katanya masih dengan nada jutek
“Belum” jawabku
“Sukurin” kata Vika sambil berbalik masuk
Aku hanya bengong menggaruk kepalaku yang tidak gatal kemudian ikut berbalik dan hendak kembali ke hotel. Tapi ga lama ada yang menarik tanganku, dan saat aku menoleh ternyata Vika
“Ish, mau kemana. Kenapa ga masuk?” kata Vika
“Lah kamu juga ga ngizinin” ucapku
“Yeee masuk aja kali. Yuk kita makan bareng. Bibi tau aa mau kerumah, jadi masak” kata Vika
“Lah, gara-gara aku jadi repot” ucapku
“Engga kok. Yuk” kata Vika
Akupun masuk bareng Vika, dan langsung bertemu dengan tante Lina dan Siti. Mas Herman katanya sedang keluar jadi ga bisa ikut makan bareng. Kamipun menikmati makan malam
“Teteh kapan pindah kesininya?” tanya Siti
“Gatau nih, kemungkinan bulan depan” kata Vika
“Masih lama atuh” kata Siti
“Yaa sabar, ini kan barang-barang udah sebagian disini. Jadi ga akan lama hehe” kata Vika
“Aa Arul tinggal disini juga?” tanya Siti
“Engga, aku ngekos hehe, barusan baru dapet tempat yang sekiranya bagus” ucapku
“Ooo, kirain disini juga hehe biar hemat gitu” kata Siti
“Engga hehe” ucapku
Setelah shalat magrib di mesjid setempat, aku pamit untuk kembali ke hotel. Saat aku keluar bareng Vika, bertepatan mas Herman yang baru datang
“Loh, mau kemana Rul?” tanya mas Herman
“Mau balik ke hotel mas” jawabku
“Wah udah dari tadi?” tanyanya
“Iya mas hehe, tadi sore cari kosan” ucapku
“Oalah, yasudah kalau gitu pakai motor aja, diantar Vika” ucap mas Herman
“Eh, gapapa mas, deket kok jalan kaki aja” ucapku
“Yasudah kalau gitu” kata mas Herman sambil masuk kedalam
Akupun berjalan pulang. Aku menelefon papa dan mama sekedar bertanya apakah mereka sudah makan atau belum. Dan mereka menjawab belum, jadi aku putuskan untuk membawakan makan malam untuk mereka. Sambil berjalan, aku menelusuri tiap pedagang yang ada disini. Aku mendatangi seorang penjual nasi goreng dan memesan dua porsi nasi goreng. Setelah beberapa saat selesai, ada seseorang yang tiba-tiba menyerobot antrian dan mengambil pesananku sambil meletakan uangnya di atas gerobak dengan tergesa-gesa
“Ngantri dong mba” ucapku
“Maaf gue buru-buru” katanya sambil berlari pergi
“Gimana kang?” tanya penjual nasgor
“Yaudahlah kang, bikin lagi aja” ucapku
“Tapi tadi uangnya kurang” katanya
“Haduh, orang ini” ucapku dalam hati “Yaudah gapapa, biar saya yang bayar kurangnya” ucapku
Beberapa saat kemudian pesanankupun selesai. Setelah membayar dengan ucapan terima kasih, aku kembali ke hotel. Setibanya dihotel, setelah shalat isya aku langsung istirahat dan bersiap untuk besok hari
Keesokan harinya, aku ke kampus dengan papa dan mama. Banyak mahasiswa yang mengantre dan banyak juga orang tua calon mahasiswa yang hadir, katanya sih undangan pertemuan dari pihak kampus, tapi gatau deh apa itu. Setelah mendaftar serta mengisi beberapa berkas yang diperlukan, papa dan mama mengabariku kalau mereka akan langsung kembali ke hotel, sementara aku diarahkan oleh panitia untuk ikut dengannya.
“Mari ikut saya” katanya yang sepertinya senior
“Iya kang” jawabku
Akupun mengikutinya dan aku dibawa ke sebuah pos yang bertuliskan jurusanku.
“Halo selamat datang” ucap salah satu mahasiswa yang sedang duduk disana
Aku hanya menjawab dengan senyuman dan akupun duduk diantara mereka. Tidak hanya aku, tapi ada beberapa calon mahasiswa lainnya yang sedang duduk disini.
“Nama kamu siapa?” tanya seorang cewek yang merupakan mahasiswa dari jurusanku
“Khairul Purnama” jawabku
“Kenapa memilih jurusan ini?” tanyanya
“Pengen belajar perbisnisan dan kemungkinan nantinya bakal bantu bisnis orang tua” ucapku
“Oh gitu. Asli dari Bandung?” tanya Nayra
“Iya teh, asli Bandung, tapi pas SD pindah ke Jakarta” ucapku
“Coba deskripsikan bisnis menurut Khairul” katanya
“Bisnis adalah serangkaian usaha yang dilakukan individu atau kelompok dengan menawarkan barang dan jasa untuk mendapatkan keuntungan” jawabku
“Okey, cukup. Semoga betah ya hehe” kata Nayra
“Kalau betah ga lulus-lulus nanti” ucapku
“Yaa maksudnya sama orang-orangnya hehe” katanya
“Silahkan ke akang yang disana” katanya
Akupun menuruti perintahnya. Setelah mendatangi beberapa kating, akupun selesai dengan acaraku. Saat aku hendak pergi dari pos, seseorang menepuk pundakku
“Woy” katanya
“Eh, iya. . . . Loh, kang Zaki ya?” ucapku
“Iya hehe, lo jurusan apa?” tanyanya
“Pendidikan Bisnis” jawabku
“Hah serius? Sama dong kalau gitu” katanya
“Oh ya? Tapi tadi gue ga liat lo hehe” ucapku
“Gue liat sih, tapi agak lupa, takutnya salah orang haha” katanya
“Oalah, lo nginep dimana? Udah coba hubungi kosan?” tanyaku
“Belum sih, gue di guest house deket mesjid” jawabnya
“Oh, gue mau ke kantin nih, sekalian liat-liat. Mau ikut ga?” tanyanya
“Ayo dah, daripada ga ada kerjaan” ucapku
Saat kami hendak pergi, ada seorang lagi yang menepuk tasku dari belakang.
“Hai, kalian dari jurusan ini juga ya?” tanya cewek itu
“Iya” jawab Zaki
“Kenalin, gue Riska” katanya
Kami bertigapun saling memperkenalkan diri
“Kalian mau kemana?” tanya Riska
“Kantin, sambill liat-liat, mau ikut?” tanya Zaki
“Ayo deh, di kosan juga ga ngapa-ngapain” kata Riska
itkgid dan 4 lainnya memberi reputasi
5