- Beranda
- The Lounge
Menikah, Jurang Kebahagiaan Atau Penderitaan Tiada Akhir?
...
TS
dewakere
Menikah, Jurang Kebahagiaan Atau Penderitaan Tiada Akhir?

Hallo, Gan. Kangen gak sama ane? Di tengah kesibukan kerjaan dan sekarang nambah lagi beban hidup, menulis adalah salah satu pelarian Dewakere dari beban hidup yang semakin menumpuk. Kenapa bisa begitu? Yuk, kita diskusi di tread ini.
Menikah, menurut kata orang itu bahagia. Bangun tidur melihat orang yang terkasih dan mau tidur juga melihat orang yang terkasih, belum lagi jika kita memberikan kebutuhan batin yang disukai semua orang secara halal, siapa sih yang gak mau ngelakuin hal tersebut? Namun, hal itu bukan hanya bahagia-bahagianya aja, yuk kita bahas gak enaknya sekarang.
Sebagai pria yang sudah meminta anak gadis orang kepada orang tuanya, tentu sekarang kita harus memenuhi kebutuhan lahir dan batinnya. Jangan sampai anak gadis orang yang kita bawa hidup lebih sengsara dibandingkan ketika bersama orang tuanya. Dengan dalih mulai dari nol atau berjuang bersama hal ini menunjukkan ketidakmampuan pria ketika memilih berkomitmen setelah memiliki seorang kekasih.

Kalau pria biasa, mungkin yang harus dipenuhi hanyalah sandang, pangan, papan. Belum ditambah hal-hal yang lain mungkin kebutuhan-kebutuhan sekunder seperti hobby, ataupun beban hidup yang lainnya. Bagaimana jika wanita selain woman stuffdan tergantung kebutuhannya serta mereknya.
Jika kita tidak memberikan woman stuff untuk menunjang penampilan nanti ada kasus seperti inisial RA yang katanya istrinya tidak tampil cantik di rumah yang akhirnya cari "jajan" yang lain. Belum lagi kebutuhan-kebutuhan yang lainnya seperti cicilan rumah, pembayaran listrik, air, kendaraan, makan, serta kebutuhan-kebutuhan yang lainnya yang mengakibatkan uang yang kamu peroleh akan seperti air mengalir.
Jadi, sekarang bagaimana kamu menyikapinya sebagai pria jika kamu bisa bernegosiasi dengan istrimu tentang kebutuhan rumah dan kebutuhan yang terkasih berarti kamu termasuk pria yang beruntung karena mendapatkan calon istri yang pengertian.
Namun, jika kamu selalu mendapatkan tuntutan, belum lagi kebebasan yang terenggut karena menikah, dan bertambahnya tanggung jawab yang sudah dialihkan dari orang tua kepada kamu, selamat! Akhirnya kamu akan memasuki jurang yang tiada akhir yang akan berputar seperti itu terus, benar atau salah?
Jadi, sebagai pria kamu memilih yang mana? Jawab di kolom komentar ya.
Quote:
Diubah oleh dewakere 14-10-2022 08:57
zaekun69 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
1.7K
54
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•104.8KAnggota
Tampilkan semua post
JW21
#8
ada yang bilang pernikahan bahagia itu adalah proses memaafkan terus menerus
ya secara tidak langsung pernikahan itu adalah penderitaan tiada akhir
tapii... penderitaan atau berkat itu dilihat dari kedua belah pihak yang dinikahkan,
apakah ada ekspektasi yang tinggi antara satu individu kepada yang lain nya, karena ada pepatah janganlah berharap kepada manusia maka engkau akan kecewa.
menikah itu sendiri pada dasarnya di lakukan oleh 2 individu yang mau melengkapi satu sama lain,
digaris bawahi ya kata mau atau secara sukarela dan secara sadar menerima individu lain nya dengan sepenuh hati,
karena kalau tidak ada kemauan maka tidak terbuka jalan.
kesimpulannya
nikah itu bukan sekedar masalah ranjang
tapi mempertemukan 2 individu yang berbeda dan keluarga besarnya
ada tanggung jawab penuh ke diri sendiri, pasangan, keluarga dan Yang mahakuasa
maka dari itu jadikanlah dirimu dewasa baik mental maupun spiritual,
sebelum melangkah ke jenjang bernama pernikahan,
karena menjadi tua adalah kepastian, tapi yang namanya dewasa itu pilihan
panjang beut w ngetiknya
ya secara tidak langsung pernikahan itu adalah penderitaan tiada akhir
tapii... penderitaan atau berkat itu dilihat dari kedua belah pihak yang dinikahkan,
apakah ada ekspektasi yang tinggi antara satu individu kepada yang lain nya, karena ada pepatah janganlah berharap kepada manusia maka engkau akan kecewa.
menikah itu sendiri pada dasarnya di lakukan oleh 2 individu yang mau melengkapi satu sama lain,
digaris bawahi ya kata mau atau secara sukarela dan secara sadar menerima individu lain nya dengan sepenuh hati,
karena kalau tidak ada kemauan maka tidak terbuka jalan.
kesimpulannya
nikah itu bukan sekedar masalah ranjang
tapi mempertemukan 2 individu yang berbeda dan keluarga besarnya
ada tanggung jawab penuh ke diri sendiri, pasangan, keluarga dan Yang mahakuasa
maka dari itu jadikanlah dirimu dewasa baik mental maupun spiritual,
sebelum melangkah ke jenjang bernama pernikahan,
karena menjadi tua adalah kepastian, tapi yang namanya dewasa itu pilihan
panjang beut w ngetiknya
evywahyuni dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Tutup