- Beranda
- Stories from the Heart
Jalan Terakhir
...
TS
neopo
Jalan Terakhir

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apakabar semua. Setelah sekian lama ga berbagi cerita akhirnya mencoba lagi untuk menulis/membagikan salah satu cerita/kisah/tulisan dari seorang teman. Tentunya saya tidak lupa akan thread sebelumnya yang saya buat, yang berjudul Riding to Jannah yang sementara ini dihentikan dulu karena hilangnya draft yang sudah dibuat dulu. Bahkan sampai beberapa tahun tidak terurus. Tetapi insyaAllah akan kembali di up jika sudah selesai. Bahkan kemarinpun sempat dilanjut, tetapi harddisk yang saya gunakan untuk menyimpan file penting ternyata bad sector dan semua file rusak 

Jika kalian sudah bosan atau kurang suka dengan cerita remaja, baik fiksi ataupun true story, kalian boleh skip thread ini
Hanya saja menurut saya pribadi, cerita dia cukup membuat saya terhibur. Jadi saya meminta izin untuk share disini, dan dia memperbolehkan. Setelah sekian tahun ga buka kaskus, udah banyak perubahan, jadi kalau berantakan mohon dimaafkan.
Hanya saja menurut saya pribadi, cerita dia cukup membuat saya terhibur. Jadi saya meminta izin untuk share disini, dan dia memperbolehkan. Setelah sekian tahun ga buka kaskus, udah banyak perubahan, jadi kalau berantakan mohon dimaafkan.Setiap orang pasti pernah mengalami masalah dalam menjalani hidup. Namun setiap masalah selalu menuntut untuk diselesaikan. Karena itulah, menemukan solusi dan bersikap pantang menyerah adalah jawaban untuk setiap masalah.
Kadang kala perjalanan hidup yang membuat seseorang menjadi dewasa. Dewasa dalam hal ini berarti mampu berpikir jernih dan menempatkan perannya dalam berbagai situasi. Selain itu, perjalanan hidup juga bisa menjadi bahan pembelajaran yang menginspirasi. Tidak hanya menginspirasi diri sendiri, tapi juga orang lain.
Langit tidak selalu cerah, perjalanan hidup pun tidak selalu indah. Dari kalimat itu kita harus paham bahwa perjalanan hidup itu tidak selalu mulus. Terkadang kita temukan kerikil dan duri yang mengganggu di jalanan. Rasa sakit, kesedihan, kesusahan dan duka. Apapun yang ada di hadapan kita bukan berarti kita berhenti berjalan dan menyerah. Perjalanan hidup yang berat ataupun perjalanan hidup yang pahit harus kita hadapi dan lalui.
"Hidup itu tentang sebuah perjalanan, caramu menjalaninya, dan caramu memberi arti pada perjalananmu itu." WilzKanadi
Aku tengah menempuh pendidikan sekolah tingkat atas kelas satu. Aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang berkecukupan. Aku berasal dari Bandung namun sejak SD aku pindah ke Jakarta karena pekerjaan papaku. Aku merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Aku memiliki postur tubuh dengan tinggi badan 168cm dan berat badan 62kg. Namaku Khairul Purnama, dan ini adalah kisah perjalananku
Akan di update berdasarkan jalan cerita melalui Instagramdan beberapa spoiler untuk next part diperlihatkan disana, tapi itupun jika ga penasaran
Akan di update berdasarkan jalan cerita melalui Instagramdan beberapa spoiler untuk next part diperlihatkan disana, tapi itupun jika ga penasaran

- INDEX -
Masa SMA

Prolog
BAB 1 - Ocehan Seorang Gadis
BAB 2 - Dunia yang Sempit
BAB 3 - Cewek Melengking dan Anak Hilang
BAB 4 - Silsilah Keluarga
BAB 5 - Ma, Arul Kuat Kok
BAB 6 - Teman
BAB 7 - Obat Penenang
BAB 8 - Bandung
BAB 9 - Kebahagiaan dari Masa Lalu
BAB 10 - Perasaan yang Memuncak
BAB 11 - Puncak Amarah
BAB 12 - Yang Pertama
BAB 13 - Berputar Kembali
BAB 14 - Liburan Lagi
BAB 15 - Sebuah Cerita
BAB 16 - Sekolah Lagi
BAB 17 - Jawaban
BAB 18 - Kelemahan
BAB 19 - Rasa Terindah
BAB 20 - Ungkapan Hati
BAB 21 - Double Date?
BAB 22 - Jalan Buntu
BAB 23 - Maaf
BAB 24 - Liburan Penutup
BAB 25 - MOS (Part 1)
BAB 26 - MOS (Part 2)
BAB 27 - Sebuah Tragedi
BAB 28 - Tujuan
Masa Kuliah

BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
Masa SMA

Prolog
BAB 1 - Ocehan Seorang Gadis
BAB 2 - Dunia yang Sempit
BAB 3 - Cewek Melengking dan Anak Hilang
BAB 4 - Silsilah Keluarga
BAB 5 - Ma, Arul Kuat Kok
BAB 6 - Teman
BAB 7 - Obat Penenang
BAB 8 - Bandung
BAB 9 - Kebahagiaan dari Masa Lalu
BAB 10 - Perasaan yang Memuncak
BAB 11 - Puncak Amarah
BAB 12 - Yang Pertama
BAB 13 - Berputar Kembali
BAB 14 - Liburan Lagi
BAB 15 - Sebuah Cerita
BAB 16 - Sekolah Lagi
BAB 17 - Jawaban
BAB 18 - Kelemahan
BAB 19 - Rasa Terindah
BAB 20 - Ungkapan Hati
BAB 21 - Double Date?
BAB 22 - Jalan Buntu
BAB 23 - Maaf
BAB 24 - Liburan Penutup
BAB 25 - MOS (Part 1)
BAB 26 - MOS (Part 2)
BAB 27 - Sebuah Tragedi
BAB 28 - Tujuan
Masa Kuliah

BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
Diubah oleh neopo 02-02-2023 21:58
sukhhoi dan 12 lainnya memberi reputasi
11
13.9K
120
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
neopo
#54
BAB 28 - Tujuan
Tak lama kemudian Windy datang seorang diri dan ikut duduk bersama kami. Sangat terlihat kalau Windy masih ngerasa syok dengan keadaan Hamid.
“Gimana keadaannya?” tanya Vika
“Belum sadar, tapi katanya udah mulai stabil” jawab Windy
“Gue anter pulang ya” kata Vika. Windy menggeleng
“Lo juga butuh istirahat. Nanti kita kesini lagi” ucapku
“Iya, nanti kita kesini lagi. Besok kita masih harus sekolah, Win. Kita doain aja semoga dia gapapa” kata Vika
Hari itu setelah kami pamit pada kak Reva, kami semua pulang. Aku pulang menuju rumah Windy karena Vika akan menemani Windy pulang terlebih dahulu.
Hari-hari berlalu. Hamid sudah dikabarkan sadar dan bisa mengobrol dengan normal lagi. Tapi karena kecelakaan itu, ia harus berjalan menggunakan tongkat karena kakinya patah dan sempat di operasi. Aku ga bisa membayangkan bagaimana kecelakaan itu terjadi sampai membuatnya seperti itu.
Windy yang biasanya terlihat ceria, kini terlihat sedikit murung, mungkin karena masih kepikiran kondisi Hamid. Saat pulang sekolah, ia selalu menyempatkan waktu untuk ke rumah sakit. Waktu bermainku dengan Vika kini sudah sedikit berkurang, karena kami sudah mulai disibukkan dengan persiapan ujian nasional.
Hari-hari kami berjalan dengan baik-baik saja. Aku semakin banyak menghabiskan waktuku dengan belajar. Vika juga sama dan terkadang kami belajar bersama dirumahku, dengan si kembar juga. Hamid sudah diperbolehkan untuk kembali beraktivitas meskipun kali ini dia masih memakai tongkat, dan nanti akan ada operasi lagi setelah 9-12 bulan, tapi jika ada perkembangan bisa lebih cepat. Semenjak Hamid bisa beraktivitas, Windy jadi lebih sering menemani Hamid, dan ia juga ga jarang belajar bareng di rumah Hamid.
Tidak banyak kejadian yang berarti setelah peristiwa kecelakaan Hamid. Singkat waktu kami sudah selesai melaksanakan ujian nasional. Kini aku bisa sedikit bernafas lega sebelum akhirnya aku akan menempuh pendidikan tinggi di universitas.
Malam ini papa berencana mengajak sekeluarga untuk makan malam di restoran milik papa dalam rangka merayakan hari dimana aku telah melewati masa tiga tahun sekolah dan kini tengah menunggu hasil pengumuman kelulusan yang katanya akan dikirim lewat pos.
“Masa hanya karena aku udah UN kita ngadain acara besar pa?” tanyaku
“Yaa engga, ini kan syukuran, sebentar lagi kan kamu kuliah. Lagipula udah lama kita ga kumpul” kata papa
“Iya, terakhir kumpul diluar gitu waktu kenaikan kelas kemarin” kata Ana
“Ajak juga Vika kalau dia mau” kata mama
“Loh, katanya acara keluarga?” ucapku
“Iya, Vika juga udah mama anggap anak mama, hehe” kata mama
“Emang boleh pa?” tanyaku
“Yaaa kalau dia mau gapapa, kan dia juga abis ujian bareng sama kamu” kata papa
“Yaudah nanti Arul coba tanya pa” ucapku
Sore harinya, aku pergi ke rumah Vika untuk mengajaknya dalam acara keluarga nanti malam. Aku mengetuk pintu rumah Vika dan keluarlah om Tio
“Eh, nak Arul” kata om Tio
“Iya om, Vikanya ada?” tanyaku sambil salim pada beliau
“Ada, masuk aja. Om mau ngadem dulu” katanya
“Iya om, makasih” ucapku
Aku masuk kedalam mencari keberadaan Vika. Tante Hilda yang melihatku langsung menghampiriku dan akupun salim pada beliau. Kemudian tante Hilda memanggil Vika dan dia turun dari lantai dua dengan sedikit berlari.
“Aa . . . “ panggil Vika sambil menghampiriku
“Iya kenapa?” jawabku
“Kok kenapa? Harusnya aku dong yang nanya” kata Vika
“Hehe, ayo silahkan duduk” ucapku
“Iiisshh aku yang harusnya bilang gitu. Yuk duduk dulu” kata Vika sambil duduk di sofa
Aku langsung membicarakan tentang ajakan keluargaku. Vikapun menyetujui meskipun awalnya malu-malu. Tapi tidak hanya itu, aku juga izin pada om Tio dan tante Hilda. Mereka juga mengizinkan Vika untuk ikut.
Malam hariipun tiba. Setelah shalat isya aku menjemput Vika dirumahnya. Om Tio yang sedang ngadem di teras menyuruhku untuk menunggu sebentar karena Vika masih bersiap-siap.
“Gitu lah, perempuan, dandannya lamaaa” kata om Tio
“Hehe, gimana lagi om” ucapku
“Rencananya mau lanjut kuliah kemana?” tanya om Tio
“Ke Bandung om, kemungkinannya setelah lulus juga bakal nerusin bisnis papa” ucapku
“Ooh gitu, jadi seengganya udah ada rencana cadangan ya kalau pahitnya kamu nganggur, hehe” kata om Tio
“Eh, ga gitu juga sih om. Aku malah pengen coba usaha sendiri” ucapku
“Ga usah gugup begitu. Om cuma mau tau rencana kamu kedepannya seperti apa. Meski itu bukan urusan om, tapi kan kamu deket sama Vika” kata om Tio
“I iya om” aku malah makin gugup
“Aa” panggil Vika saat keluar
Aku sedikit terperanjak melihat penampilan Vika malam ini. Ia mengenakan gamis panjang berwarna biru dongker dengan jilbab lebar sampai menutupi dada.
“Nikah yu” ucapku pelan secara tak sadar
Vika melongo kearahku, sampai om Tio memecah lamunanku
“Heh, kuliah dulu, hahaha” kata om Tio
“Eh, emm anu . . . tadi . . “ aku sedikit gagap
“Sudah sudah, berangkat gih, kasian udah pada nunggu mungkin” kata om Tio masih sedikit terkekeh
Kamipun pamit pulang kerumahku untuk acara keluarga. Selama perjalanan kakiku sedikit lemas karena ucapanku sendiri barusan
“Aa kok diem? Aku jelek ya?” kata Vika
“Kamu cantik kok neng” ucapku
“Nikah yu, hahaha” goda Vika
“Ish, neng mah. Malu tau tadi” ucapku
“Malu kenapa? Malu kalau suatu hari jadi suami aku?” kata Vika
“Engga, gatau ga sadar aja aku bilang gitu” ucapku
“Berarti beneran mau dong nikah sama aku hehe” kata Vika
“Kalau kita berjodoh juga sejauh apapun kita bakal sama-sama lagi kan” ucapku
“Iya aa” katanya sambil tersenyum
Kamipun tiba dirumah, saat kami masuk, satu keluargapun terperanjak melihat penampilan Vika malam ini. Memang saat itu dia memutuskan untuk pakai jilbab, tapi lebih ke casual, tidak syar’i seperti sekarang. Dan aku sangat menyukai penampilannya yang sekarang.
“Cantiknyaaa” ucap si kembar bersamaan
“Hehe, makasih” ucap Vika
“Waah, ga nyangka” kata papa
“Ga nyangka kenapa pa?” tanyaku
“Ga nyangka aja hehe. Ada gadis cantik yang mau sama kamu, hahaha” kata papa terkekeh
“Gitu gitu juga anak kita” kata mama
“Yaudah yuk, berangkat” kata papa
Kamipun pergi menuju salah satu cabang restoran papa. Selama perjalanan, si kembar banyak ngobrol bareng Vika, sementara aku yang duduk di paling belakang hanya terdiam mendengarkan para gadis ngobrol. Sampai akhirnya kami tiba di sebuah rumah makan yang ga terlalu besar tapi ga terlalu kecil juga. Restoran ini ramai pengunjung tapi papa sudah mempersiapkan tempat khusus untuk kami semua.
“Selamat malam tuan” ucap seorang waiter
“Iya, malam” jawab papa tersenyum
“Tempat tuan sudah kami siapkan, mari ikut saya” katanya
Pada awalnya aku mengira kalau kami dibawa ke sebuah tempat khusus mengingat papa adalah pemiliki restoran ini. Tapi tidak, kami dibawa ke sebuah meja tamu yang biasa, namun memang di khususkan untuk orang banyak dengan meja yang panjang.
“Kirain bakal ada ruangan khusus pa” ucapku
“Ada untuk tamu VIP, tapi papa gamau terlihat mencolok, lebih baik kita ikut tamu yang lain aja. Toh nanti kita juga bayar kaya tamu lainnya” kata papa
“Kok bayar kan ini punya papa?” tanya Ani
“Yeee, memang restoran ini punya papa, tapi bahan makanan dan gaji karyawan kan tetep jalan, jadi pemasukan tetap harus ada” kata papa
Kemudian kami melihat menu disana. Dan yang menjadi menu andalan restoran ini adalah ayam bakarnya. Papa pernah cerita kalau dulu saat papa mulai bisnisnya, papa sama mama sampai menghabiskan banyak uang untuk membuat masakan mereka menjadi khas sendiri sampai akhirnya mereka berhasil membuat sebuah resep rahasia yang membuat ayam bakarnya menjadi lezat dan katanya berbeda dari yang lain.
“Rencananya mau lanjut kuliah dimana nak?” tanya mama pada Vika
“Rencana sih di Bandung, ma. Mau ambil informatika” kata Vika
“Wah sama dong, Arul juga rencananya mau di Bandung. Katanya sih dia mau ambil Pendidikan Bisnis” kata mama
“Udah dapat infonya?” tanya papa
“Sudah pa, beberapa hari lagi ada tes SNMPTN” kata Vika
“Wah, semangat ya. Semoga keterima dengan hasil terbaik” kata mama
“Aamiin, makasih ma” ucap Vika
“Terus nanti mau tinggal dimana?” tanya mama
“Kemungkinan di rumah bibi. Udah bilang juga sama bibi” kata Vika
Mama dan Vika terus mengobrol seputar rencana pendidikan lanjut nanti. Akupun mengikuti SNMPTN bareng dengan Vika, tapi lokasi kami ujian akan berbeda. Hal itu diketahui karena kami menerima SNMPTN undangan saat di sekolah. Makanan kamipun tiba dan kami semuapun menikmati makanan kami. Si kembar sedari tadi heboh dengan makanan mereka sambil merekam kegiatan mereka saat makan bareng.
Malam itu menjadi malam yang hangat bagi keluargaku dan juga Vika. Tak terasa sudah setahun lebih aku menjalani hubungan dengan Vika. Berbagai hal sudah kami lewati bersama. Ceria, marah, sedih, senyuman, sakit, kami lewati semua tanpa banyak aku ceritakan karena pertengkaran kecil kami bukanlah hal yang berarti. Setelah acara makan malam itu, aku mengantar Vika pulang, dan saat Vika memberitahukan kampus yang menjadi tujuannya, ternyata kami memilih kampus yang berbeda.
Rasanya tidak buruk juga, kami masih bisa bertemu di selang waktu kosong karena kami berjuang di kota yang sama. Hari-hari itu aku dan Vika kembali menghabiskan waktu dengan belajar dalam mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi.
Singkat cerita, kami sudah melewati ujian. Tidak banyak yang kami lakukan setelah ujian. Windy mengikuti seleksi ujian untuk masuk ke UGM seperti yang diinginkannya. Hamid sepertinya belum bisa melakukan perjalanan jauh karena kecelakaan itu, dan ia melanjutkan kuliah di Jakarta. Ku dengar mereka sempat berdebat soal ini, tapi pada akhirnya mereka berdua saling memahami dan tetap melanjutkan impian mereka masing-masing tanpa harus mengakhiri hubungan mereka.
Suatu hari, aku sedang berada dirumah Vika. Saat itu Vika memintaku menemaninya karena om Tio dan tante Hilda sedang ada urusan.
“A, nanti kalau kita kuliah di Bandung, aa tinggal bareng aku aja” kata Vika
“Jangan lah neng. Ga enak lah sama keluarg neng” ucapku
“Nanti aku bilang deh sama bibi” kata Vika
“Ga gitu neng. Kalau kita tinggal bareng, apa kata tetangga mereka nanti” ucapku
“Bilang aja sepupu jauh” kata Vika
“Buset, ga gitu juga. Udah nanti aku bisa ngekos, kita tetep bisa ketemu neng” ucapku
“Tapi kan sayang a” kata Vika
“Gapapa, anggap aja belajar hidup mandiri kan” ucapku
Tiba-tiba kami mendengar lonceng rumah berbunyi. Aku dan Vikapun keluar dan ternyata ada tukang pos datang.
“Ada surat untuk Vika Amelia Restu” katanya
“Iya pak, saya sendiri” jawab Vika
“Silahkan di tandatangan tanda terimanya” katanya
“Oh, ini dokumen SNMPTN ya?” kata Vika
“Sepertinya begitu, karena banyak dokumen seperti itu hari ini” katanya
“Kalau gitu ada yang atas nama Khairul Purnama ga?” tanya Vika
Setelah mencari beberapa saat, ternyata ada surat untukku. Surat yang sama dengan yang Vika terima. Setelah menandatangai tanda terima, kami masuk kedalam dan duduk di sofa. Saat membuka amplop itu ternyata benar surat pengumuman hasil ujian kemarin.
“Duh, degdegan nih a” kata Vika
“Pasti neng lulus kok” ucapku
“Aa juga pasti lulus” kata Vika
“Entahlah neng, hehe” ucapku
Perlahan Vika membuka amplop itu dan dia membuat lembaran yang ada di dalamnya. Vika tersenyum saat membaca isi kertas itu, dan aku tahu artinya itu.
“Selamat yaa” ucapku
“Makasih aa. Tinggal aa deh hehe” ucap Vika
Aku membuka amplop itu dan melihat isi kertas didalamnya. Aku membaca satu persatu kemudian aku melihat dibagian akhir. Aku menyandarkan badanku di sofa dan menghela nafas panjang
“A? Aa lulus kan?” kata Vika masih tersenyum
“ . . . “ Aku terdiam sejenak
“Aa lulus kan? Coba liat” kata Vika sambil mengambil kertasku namun aku mengelak
“Udah Vik, gapapa kok” ucapku
“Iih aa, aku mau liat hasilnya” kata Vika
“Ga usah lah neng” ucapku sambil meremas kertas itu menjadi bola dan melemparnya kedepan
Vika menatapku dengan sayu, kemudian memelukku dengan erat
“Aa, yang sabar ya” ucap Vika
Aku hanya diam mengelus kepalanya yang tertutup jilbab. Tak lama tante Hilda dan om Tio datang. Kamipun langsung salim pada mereka.
“Katanya hasil kelulusannya udah kamu terima ya?” kata tante Hilda
“Iya ma, aku lulus hehe” kata Vika
“Oh ya? Selamat yaa, terus Arul gimana?” ucap om Tio
Kami semua terdiam, aku tertunduk sambil menatap Vika. Tante Hilda melihat kertas yang aku lempar tadi dan langsung mengambilnya. Ketika beliau membuka kertas itu, tante Hilda tersenyum
“Wah, Arul juga lulus ternyata, masuk di PTN Bandung ya” kata tante Hilda
Aku tersenyum mengejek pada Vika. Setelah itu aku mendapat jurus seribu pukulan dari Vika
“Iiihh, aa bikin aku takut aja deh” kata Vika cemberut
“Hehe, surprise” ucapku
“Selamat ya, kalian bisa masuk universitas yang kalian inginkan” kata om Tio
“Semoga semua yang kalian impikan bisa tercapai” ucap tante Hilda
Kami menghabiskan sisa hari bersama, merencanakan apa yang akan kami lakukan selama persiapan kuliah nanti. Pada awal Agustus 2011, aku harus pergi ke kampus untuk mendaftar dan tentunya aku tidak sendiri. Papa dan mama akan ikut bersamaku. Tapi si kembar ga bisa ikut karena harus sekolah. Aku juga akan beberapa hari disana sekaligus mencari kosan tempat aku tinggal nanti. Vikapun akan pergi bersama keluargaku, karena saat pendaftaran nanti, ia akan ditemani tante Lina disana.
Beberapa hari kemudian, aku mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatan kami ke Bandung. Mulai dari beberapa baju, hingga obat pribadiku. Rencananya, kami akan menginap di hotel dekat kampus selama beberapa hari.
“Gimana keadaannya?” tanya Vika
“Belum sadar, tapi katanya udah mulai stabil” jawab Windy
“Gue anter pulang ya” kata Vika. Windy menggeleng
“Lo juga butuh istirahat. Nanti kita kesini lagi” ucapku
“Iya, nanti kita kesini lagi. Besok kita masih harus sekolah, Win. Kita doain aja semoga dia gapapa” kata Vika
Hari itu setelah kami pamit pada kak Reva, kami semua pulang. Aku pulang menuju rumah Windy karena Vika akan menemani Windy pulang terlebih dahulu.
Hari-hari berlalu. Hamid sudah dikabarkan sadar dan bisa mengobrol dengan normal lagi. Tapi karena kecelakaan itu, ia harus berjalan menggunakan tongkat karena kakinya patah dan sempat di operasi. Aku ga bisa membayangkan bagaimana kecelakaan itu terjadi sampai membuatnya seperti itu.
Windy yang biasanya terlihat ceria, kini terlihat sedikit murung, mungkin karena masih kepikiran kondisi Hamid. Saat pulang sekolah, ia selalu menyempatkan waktu untuk ke rumah sakit. Waktu bermainku dengan Vika kini sudah sedikit berkurang, karena kami sudah mulai disibukkan dengan persiapan ujian nasional.
Hari-hari kami berjalan dengan baik-baik saja. Aku semakin banyak menghabiskan waktuku dengan belajar. Vika juga sama dan terkadang kami belajar bersama dirumahku, dengan si kembar juga. Hamid sudah diperbolehkan untuk kembali beraktivitas meskipun kali ini dia masih memakai tongkat, dan nanti akan ada operasi lagi setelah 9-12 bulan, tapi jika ada perkembangan bisa lebih cepat. Semenjak Hamid bisa beraktivitas, Windy jadi lebih sering menemani Hamid, dan ia juga ga jarang belajar bareng di rumah Hamid.
Tidak banyak kejadian yang berarti setelah peristiwa kecelakaan Hamid. Singkat waktu kami sudah selesai melaksanakan ujian nasional. Kini aku bisa sedikit bernafas lega sebelum akhirnya aku akan menempuh pendidikan tinggi di universitas.
Malam ini papa berencana mengajak sekeluarga untuk makan malam di restoran milik papa dalam rangka merayakan hari dimana aku telah melewati masa tiga tahun sekolah dan kini tengah menunggu hasil pengumuman kelulusan yang katanya akan dikirim lewat pos.
“Masa hanya karena aku udah UN kita ngadain acara besar pa?” tanyaku
“Yaa engga, ini kan syukuran, sebentar lagi kan kamu kuliah. Lagipula udah lama kita ga kumpul” kata papa
“Iya, terakhir kumpul diluar gitu waktu kenaikan kelas kemarin” kata Ana
“Ajak juga Vika kalau dia mau” kata mama
“Loh, katanya acara keluarga?” ucapku
“Iya, Vika juga udah mama anggap anak mama, hehe” kata mama
“Emang boleh pa?” tanyaku
“Yaaa kalau dia mau gapapa, kan dia juga abis ujian bareng sama kamu” kata papa
“Yaudah nanti Arul coba tanya pa” ucapku
Sore harinya, aku pergi ke rumah Vika untuk mengajaknya dalam acara keluarga nanti malam. Aku mengetuk pintu rumah Vika dan keluarlah om Tio
“Eh, nak Arul” kata om Tio
“Iya om, Vikanya ada?” tanyaku sambil salim pada beliau
“Ada, masuk aja. Om mau ngadem dulu” katanya
“Iya om, makasih” ucapku
Aku masuk kedalam mencari keberadaan Vika. Tante Hilda yang melihatku langsung menghampiriku dan akupun salim pada beliau. Kemudian tante Hilda memanggil Vika dan dia turun dari lantai dua dengan sedikit berlari.
“Aa . . . “ panggil Vika sambil menghampiriku
“Iya kenapa?” jawabku
“Kok kenapa? Harusnya aku dong yang nanya” kata Vika
“Hehe, ayo silahkan duduk” ucapku
“Iiisshh aku yang harusnya bilang gitu. Yuk duduk dulu” kata Vika sambil duduk di sofa
Aku langsung membicarakan tentang ajakan keluargaku. Vikapun menyetujui meskipun awalnya malu-malu. Tapi tidak hanya itu, aku juga izin pada om Tio dan tante Hilda. Mereka juga mengizinkan Vika untuk ikut.
Malam hariipun tiba. Setelah shalat isya aku menjemput Vika dirumahnya. Om Tio yang sedang ngadem di teras menyuruhku untuk menunggu sebentar karena Vika masih bersiap-siap.
“Gitu lah, perempuan, dandannya lamaaa” kata om Tio
“Hehe, gimana lagi om” ucapku
“Rencananya mau lanjut kuliah kemana?” tanya om Tio
“Ke Bandung om, kemungkinannya setelah lulus juga bakal nerusin bisnis papa” ucapku
“Ooh gitu, jadi seengganya udah ada rencana cadangan ya kalau pahitnya kamu nganggur, hehe” kata om Tio
“Eh, ga gitu juga sih om. Aku malah pengen coba usaha sendiri” ucapku
“Ga usah gugup begitu. Om cuma mau tau rencana kamu kedepannya seperti apa. Meski itu bukan urusan om, tapi kan kamu deket sama Vika” kata om Tio
“I iya om” aku malah makin gugup
“Aa” panggil Vika saat keluar
Aku sedikit terperanjak melihat penampilan Vika malam ini. Ia mengenakan gamis panjang berwarna biru dongker dengan jilbab lebar sampai menutupi dada.
“Nikah yu” ucapku pelan secara tak sadar
Vika melongo kearahku, sampai om Tio memecah lamunanku
“Heh, kuliah dulu, hahaha” kata om Tio
“Eh, emm anu . . . tadi . . “ aku sedikit gagap
“Sudah sudah, berangkat gih, kasian udah pada nunggu mungkin” kata om Tio masih sedikit terkekeh
Kamipun pamit pulang kerumahku untuk acara keluarga. Selama perjalanan kakiku sedikit lemas karena ucapanku sendiri barusan
“Aa kok diem? Aku jelek ya?” kata Vika
“Kamu cantik kok neng” ucapku
“Nikah yu, hahaha” goda Vika
“Ish, neng mah. Malu tau tadi” ucapku
“Malu kenapa? Malu kalau suatu hari jadi suami aku?” kata Vika
“Engga, gatau ga sadar aja aku bilang gitu” ucapku
“Berarti beneran mau dong nikah sama aku hehe” kata Vika
“Kalau kita berjodoh juga sejauh apapun kita bakal sama-sama lagi kan” ucapku
“Iya aa” katanya sambil tersenyum
Kamipun tiba dirumah, saat kami masuk, satu keluargapun terperanjak melihat penampilan Vika malam ini. Memang saat itu dia memutuskan untuk pakai jilbab, tapi lebih ke casual, tidak syar’i seperti sekarang. Dan aku sangat menyukai penampilannya yang sekarang.
“Cantiknyaaa” ucap si kembar bersamaan
“Hehe, makasih” ucap Vika
“Waah, ga nyangka” kata papa
“Ga nyangka kenapa pa?” tanyaku
“Ga nyangka aja hehe. Ada gadis cantik yang mau sama kamu, hahaha” kata papa terkekeh
“Gitu gitu juga anak kita” kata mama
“Yaudah yuk, berangkat” kata papa
Kamipun pergi menuju salah satu cabang restoran papa. Selama perjalanan, si kembar banyak ngobrol bareng Vika, sementara aku yang duduk di paling belakang hanya terdiam mendengarkan para gadis ngobrol. Sampai akhirnya kami tiba di sebuah rumah makan yang ga terlalu besar tapi ga terlalu kecil juga. Restoran ini ramai pengunjung tapi papa sudah mempersiapkan tempat khusus untuk kami semua.
“Selamat malam tuan” ucap seorang waiter
“Iya, malam” jawab papa tersenyum
“Tempat tuan sudah kami siapkan, mari ikut saya” katanya
Pada awalnya aku mengira kalau kami dibawa ke sebuah tempat khusus mengingat papa adalah pemiliki restoran ini. Tapi tidak, kami dibawa ke sebuah meja tamu yang biasa, namun memang di khususkan untuk orang banyak dengan meja yang panjang.
“Kirain bakal ada ruangan khusus pa” ucapku
“Ada untuk tamu VIP, tapi papa gamau terlihat mencolok, lebih baik kita ikut tamu yang lain aja. Toh nanti kita juga bayar kaya tamu lainnya” kata papa
“Kok bayar kan ini punya papa?” tanya Ani
“Yeee, memang restoran ini punya papa, tapi bahan makanan dan gaji karyawan kan tetep jalan, jadi pemasukan tetap harus ada” kata papa
Kemudian kami melihat menu disana. Dan yang menjadi menu andalan restoran ini adalah ayam bakarnya. Papa pernah cerita kalau dulu saat papa mulai bisnisnya, papa sama mama sampai menghabiskan banyak uang untuk membuat masakan mereka menjadi khas sendiri sampai akhirnya mereka berhasil membuat sebuah resep rahasia yang membuat ayam bakarnya menjadi lezat dan katanya berbeda dari yang lain.
“Rencananya mau lanjut kuliah dimana nak?” tanya mama pada Vika
“Rencana sih di Bandung, ma. Mau ambil informatika” kata Vika
“Wah sama dong, Arul juga rencananya mau di Bandung. Katanya sih dia mau ambil Pendidikan Bisnis” kata mama
“Udah dapat infonya?” tanya papa
“Sudah pa, beberapa hari lagi ada tes SNMPTN” kata Vika
“Wah, semangat ya. Semoga keterima dengan hasil terbaik” kata mama
“Aamiin, makasih ma” ucap Vika
“Terus nanti mau tinggal dimana?” tanya mama
“Kemungkinan di rumah bibi. Udah bilang juga sama bibi” kata Vika
Mama dan Vika terus mengobrol seputar rencana pendidikan lanjut nanti. Akupun mengikuti SNMPTN bareng dengan Vika, tapi lokasi kami ujian akan berbeda. Hal itu diketahui karena kami menerima SNMPTN undangan saat di sekolah. Makanan kamipun tiba dan kami semuapun menikmati makanan kami. Si kembar sedari tadi heboh dengan makanan mereka sambil merekam kegiatan mereka saat makan bareng.
Malam itu menjadi malam yang hangat bagi keluargaku dan juga Vika. Tak terasa sudah setahun lebih aku menjalani hubungan dengan Vika. Berbagai hal sudah kami lewati bersama. Ceria, marah, sedih, senyuman, sakit, kami lewati semua tanpa banyak aku ceritakan karena pertengkaran kecil kami bukanlah hal yang berarti. Setelah acara makan malam itu, aku mengantar Vika pulang, dan saat Vika memberitahukan kampus yang menjadi tujuannya, ternyata kami memilih kampus yang berbeda.
Rasanya tidak buruk juga, kami masih bisa bertemu di selang waktu kosong karena kami berjuang di kota yang sama. Hari-hari itu aku dan Vika kembali menghabiskan waktu dengan belajar dalam mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi.
Singkat cerita, kami sudah melewati ujian. Tidak banyak yang kami lakukan setelah ujian. Windy mengikuti seleksi ujian untuk masuk ke UGM seperti yang diinginkannya. Hamid sepertinya belum bisa melakukan perjalanan jauh karena kecelakaan itu, dan ia melanjutkan kuliah di Jakarta. Ku dengar mereka sempat berdebat soal ini, tapi pada akhirnya mereka berdua saling memahami dan tetap melanjutkan impian mereka masing-masing tanpa harus mengakhiri hubungan mereka.
Suatu hari, aku sedang berada dirumah Vika. Saat itu Vika memintaku menemaninya karena om Tio dan tante Hilda sedang ada urusan.
“A, nanti kalau kita kuliah di Bandung, aa tinggal bareng aku aja” kata Vika
“Jangan lah neng. Ga enak lah sama keluarg neng” ucapku
“Nanti aku bilang deh sama bibi” kata Vika
“Ga gitu neng. Kalau kita tinggal bareng, apa kata tetangga mereka nanti” ucapku
“Bilang aja sepupu jauh” kata Vika
“Buset, ga gitu juga. Udah nanti aku bisa ngekos, kita tetep bisa ketemu neng” ucapku
“Tapi kan sayang a” kata Vika
“Gapapa, anggap aja belajar hidup mandiri kan” ucapku
Tiba-tiba kami mendengar lonceng rumah berbunyi. Aku dan Vikapun keluar dan ternyata ada tukang pos datang.
“Ada surat untuk Vika Amelia Restu” katanya
“Iya pak, saya sendiri” jawab Vika
“Silahkan di tandatangan tanda terimanya” katanya
“Oh, ini dokumen SNMPTN ya?” kata Vika
“Sepertinya begitu, karena banyak dokumen seperti itu hari ini” katanya
“Kalau gitu ada yang atas nama Khairul Purnama ga?” tanya Vika
Setelah mencari beberapa saat, ternyata ada surat untukku. Surat yang sama dengan yang Vika terima. Setelah menandatangai tanda terima, kami masuk kedalam dan duduk di sofa. Saat membuka amplop itu ternyata benar surat pengumuman hasil ujian kemarin.
“Duh, degdegan nih a” kata Vika
“Pasti neng lulus kok” ucapku
“Aa juga pasti lulus” kata Vika
“Entahlah neng, hehe” ucapku
Perlahan Vika membuka amplop itu dan dia membuat lembaran yang ada di dalamnya. Vika tersenyum saat membaca isi kertas itu, dan aku tahu artinya itu.
“Selamat yaa” ucapku
“Makasih aa. Tinggal aa deh hehe” ucap Vika
Aku membuka amplop itu dan melihat isi kertas didalamnya. Aku membaca satu persatu kemudian aku melihat dibagian akhir. Aku menyandarkan badanku di sofa dan menghela nafas panjang
“A? Aa lulus kan?” kata Vika masih tersenyum
“ . . . “ Aku terdiam sejenak
“Aa lulus kan? Coba liat” kata Vika sambil mengambil kertasku namun aku mengelak
“Udah Vik, gapapa kok” ucapku
“Iih aa, aku mau liat hasilnya” kata Vika
“Ga usah lah neng” ucapku sambil meremas kertas itu menjadi bola dan melemparnya kedepan
Vika menatapku dengan sayu, kemudian memelukku dengan erat
“Aa, yang sabar ya” ucap Vika
Aku hanya diam mengelus kepalanya yang tertutup jilbab. Tak lama tante Hilda dan om Tio datang. Kamipun langsung salim pada mereka.
“Katanya hasil kelulusannya udah kamu terima ya?” kata tante Hilda
“Iya ma, aku lulus hehe” kata Vika
“Oh ya? Selamat yaa, terus Arul gimana?” ucap om Tio
Kami semua terdiam, aku tertunduk sambil menatap Vika. Tante Hilda melihat kertas yang aku lempar tadi dan langsung mengambilnya. Ketika beliau membuka kertas itu, tante Hilda tersenyum
“Wah, Arul juga lulus ternyata, masuk di PTN Bandung ya” kata tante Hilda
Aku tersenyum mengejek pada Vika. Setelah itu aku mendapat jurus seribu pukulan dari Vika
“Iiihh, aa bikin aku takut aja deh” kata Vika cemberut
“Hehe, surprise” ucapku
“Selamat ya, kalian bisa masuk universitas yang kalian inginkan” kata om Tio
“Semoga semua yang kalian impikan bisa tercapai” ucap tante Hilda
Kami menghabiskan sisa hari bersama, merencanakan apa yang akan kami lakukan selama persiapan kuliah nanti. Pada awal Agustus 2011, aku harus pergi ke kampus untuk mendaftar dan tentunya aku tidak sendiri. Papa dan mama akan ikut bersamaku. Tapi si kembar ga bisa ikut karena harus sekolah. Aku juga akan beberapa hari disana sekaligus mencari kosan tempat aku tinggal nanti. Vikapun akan pergi bersama keluargaku, karena saat pendaftaran nanti, ia akan ditemani tante Lina disana.
Beberapa hari kemudian, aku mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatan kami ke Bandung. Mulai dari beberapa baju, hingga obat pribadiku. Rencananya, kami akan menginap di hotel dekat kampus selama beberapa hari.
Diubah oleh neopo 11-10-2022 22:34
itkgid dan 4 lainnya memberi reputasi
5