- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Seorang Pramugari (True Story)
...
TS
aymawishy
Kisah Seorang Pramugari (True Story)

Di saat kau merasa hidup sendiri
Dalam kerasnya dunia
Tersenyumlah
Bila kau pun harus berputus asa
Berpikir semua kan berakhir
Tersenyumlah
Kau tak sendiri aku di sini
Menantimu bersama hangatnya mentari
Kau tak sendiri aku di sini
Berikan tanganmu mari kita hadapi
Hidup memang tak selalu seperti
Yang kau inginkan yang kau harapkan
Hadapilah dengan hati tenang dan tetap melangkah
Kau tak sendiri
Perhatikan sekitar coba kau amati
Hidup bukan sekedar tentang patah hati
Dan semua yang terjadi ambil hikmahnya
Om Iwan pun berkata "ambil indahnya"
Kau tak sendiri aku di sini
Memanggilmu bersama hangatnya mentari
Kau tak sendiri kami di sini
Raihlah tanganku bersama kita lewati
Hidup memang tak selalu seperti
Yang kau inginkan yang kau harapkan
Hadapilah dengan hati tenang teruskan melangkah
Kau tak sendiri
Hidup memang tak selalu seperti
Yang kita inginkan yang kita harapkan
Hadapilah dengan hati tenang
Yakinkan dirimu
Kau tak sendiri yeah yeah yeaah
Dalam kerasnya dunia
Tersenyumlah
Bila kau pun harus berputus asa
Berpikir semua kan berakhir
Tersenyumlah
Kau tak sendiri aku di sini
Menantimu bersama hangatnya mentari
Kau tak sendiri aku di sini
Berikan tanganmu mari kita hadapi
Hidup memang tak selalu seperti
Yang kau inginkan yang kau harapkan
Hadapilah dengan hati tenang dan tetap melangkah
Kau tak sendiri
Perhatikan sekitar coba kau amati
Hidup bukan sekedar tentang patah hati
Dan semua yang terjadi ambil hikmahnya
Om Iwan pun berkata "ambil indahnya"
Kau tak sendiri aku di sini
Memanggilmu bersama hangatnya mentari
Kau tak sendiri kami di sini
Raihlah tanganku bersama kita lewati
Hidup memang tak selalu seperti
Yang kau inginkan yang kau harapkan
Hadapilah dengan hati tenang teruskan melangkah
Kau tak sendiri
Hidup memang tak selalu seperti
Yang kita inginkan yang kita harapkan
Hadapilah dengan hati tenang
Yakinkan dirimu
Kau tak sendiri yeah yeah yeaah
Quote:
Hai, aku Anes, nama panggilan dari pemilik akun aymawishy ini. Semasa sekolah, aku tinggal di sebuah Kabupaten di Jawa Timur bagian timur.
Mungkin yang sudah membaca threadku yang menceritakan bagaimana kisahku semasa SMPakan lebih tahu bagaimana kejamnya orang-orang di sekitarku memperlakukanku.
Tapi, seperti yang Papaku bilang, aku harus tetap semangat dan harus terus berperilaku baik meski dijahatin.
Selepas SMA, aku merantau ke Surabaya. Disaat itulah aku benar-benar ingin hidup mandiri tanpa bantuan dari Papa. Karenanya, aku harus bekerja agar bisa kuliah.
Awal kehidupanku di perantauan, sangatlah penuh perjuangan.
Ngekos di kosan kumuh, aku pernah. Disana aku ngerasain tidur diatas kasur yang basah karena atap kamarku bocor selama musim penghujan. Dan juga kamar mandi yang lantainya meski disikat berkali-kali pakai WPC, tetap berwarna hitam karena lumutan.
Selain itu, selama 3 bulan berturut-turut, tiap harinya hanya makan roti seharga seribuan yang aku beli di warung kopi dekat kantor tempat aku magang. Yaa meski, alhamdulillahnya ada aja orang baik yang ngasih aku makan. Ohya, karena sering banget makan roti tanpa makan nasi, aku jadi punya “maag” hehehe.
Rasanya jika diingat, masih banyak perjuangan-perjuangan yang aku lalui sejak tahun 2012.
Mungkin yang sudah membaca threadku yang menceritakan bagaimana kisahku semasa SMPakan lebih tahu bagaimana kejamnya orang-orang di sekitarku memperlakukanku.
Tapi, seperti yang Papaku bilang, aku harus tetap semangat dan harus terus berperilaku baik meski dijahatin.
Selepas SMA, aku merantau ke Surabaya. Disaat itulah aku benar-benar ingin hidup mandiri tanpa bantuan dari Papa. Karenanya, aku harus bekerja agar bisa kuliah.
Awal kehidupanku di perantauan, sangatlah penuh perjuangan.
Ngekos di kosan kumuh, aku pernah. Disana aku ngerasain tidur diatas kasur yang basah karena atap kamarku bocor selama musim penghujan. Dan juga kamar mandi yang lantainya meski disikat berkali-kali pakai WPC, tetap berwarna hitam karena lumutan.
Selain itu, selama 3 bulan berturut-turut, tiap harinya hanya makan roti seharga seribuan yang aku beli di warung kopi dekat kantor tempat aku magang. Yaa meski, alhamdulillahnya ada aja orang baik yang ngasih aku makan. Ohya, karena sering banget makan roti tanpa makan nasi, aku jadi punya “maag” hehehe.
Rasanya jika diingat, masih banyak perjuangan-perjuangan yang aku lalui sejak tahun 2012.
Ohya..
Saat nanti aku berbagi cerita di thread ini, tolong jangan dihujat ya.
Sebab..
Aku bukanlah seorang penulis, jadi jangan pernah berharap lebih terhadap tulisan yang aku bagi.
Aku juga bukanlah orang hebat yang hanya ingin berbagi pengalaman yang aku alami.
Saat nanti aku berbagi cerita di thread ini, tolong jangan dihujat ya.
Sebab..
Aku bukanlah seorang penulis, jadi jangan pernah berharap lebih terhadap tulisan yang aku bagi.
Aku juga bukanlah orang hebat yang hanya ingin berbagi pengalaman yang aku alami.
Pokok Isi Cerita
Quote:
#Bagian 1
-Part 1 : Awal Mula
-Part 2 : Menjemput Restu
-Part 3 : Tahap Awal
-Part 4 : Pantang Mundur
-Part 5 : Tentang Cinta Pertama
-Part 6 : Terjebak Nostalgia
-Part 7 : Mungkin Nanti
-Part 8 : Undangan?
-Part 1 : Awal Mula
-Part 2 : Menjemput Restu
-Part 3 : Tahap Awal
-Part 4 : Pantang Mundur
-Part 5 : Tentang Cinta Pertama
-Part 6 : Terjebak Nostalgia
-Part 7 : Mungkin Nanti
-Part 8 : Undangan?
Quote:
#Bagian 2 : Proses Perekrutan Pramugari
-Part 9 : Hi, Jakarta! Be Nice Please!
-Part 10 : Hall of Fame
-Part 11 : Berpisah dengan Shasa, Bertemu dengan Wildan!
-Part 12 : Papa Yang Makin Menua
-Part 13 : Manis Dan Pahit
-Part 14 : Yok Opo Seh!
-Part 15 : Dikirim Malaikat Baik Yang Menjelma Menjadi Manusia
-Part 16 : Medical Examination
-Part 17 : Curhat Dadakan, Berujung Menyesakkan
-Part 18 : Menjelang Tahun Baru
-Part 19 : Selamat Datang Tahun 2017!
-Part 20 : Made Darma
-Part 21 : Hari Yang Kutunggu
-Part 22 : PANTUKHIR!
-Part 9 : Hi, Jakarta! Be Nice Please!
-Part 10 : Hall of Fame
-Part 11 : Berpisah dengan Shasa, Bertemu dengan Wildan!
-Part 12 : Papa Yang Makin Menua
-Part 13 : Manis Dan Pahit
-Part 14 : Yok Opo Seh!
-Part 15 : Dikirim Malaikat Baik Yang Menjelma Menjadi Manusia
-Part 16 : Medical Examination
-Part 17 : Curhat Dadakan, Berujung Menyesakkan
-Part 18 : Menjelang Tahun Baru
-Part 19 : Selamat Datang Tahun 2017!
-Part 20 : Made Darma
-Part 21 : Hari Yang Kutunggu
-Part 22 : PANTUKHIR!
Quote:
#Bagian 3
-Part 23 : Kesempatan Kedua
-Part 24 : Accedere
-Part 25 : Tentang Rey!
-Part 26 : Become In Love
-Part 27 : Buket Mawar Merah
-Part 28 : Out Of Control
-Part 29 : Di Zangrandi
-Part 30 : Pantukhir Kedua
-Part 31 : Si Paling Inisiatif
-Part 32 : Agnes
-Part 33 : Cemburu
-Part 34 : Rey!?
-Part 35 : Ternyata…
-Part 36 : Di Puncak Bromo
-Part 37 : Berpisah
-Part 38 : Hasil Pantukhir
-Part 39 : Tyas!
-Part 40 : Di Kampung Halaman
-Part 41 : Berpamitan
-Part 23 : Kesempatan Kedua
-Part 24 : Accedere
-Part 25 : Tentang Rey!
-Part 26 : Become In Love
-Part 27 : Buket Mawar Merah
-Part 28 : Out Of Control
-Part 29 : Di Zangrandi
-Part 30 : Pantukhir Kedua
-Part 31 : Si Paling Inisiatif
-Part 32 : Agnes
-Part 33 : Cemburu
-Part 34 : Rey!?
-Part 35 : Ternyata…
-Part 36 : Di Puncak Bromo
-Part 37 : Berpisah
-Part 38 : Hasil Pantukhir
-Part 39 : Tyas!
-Part 40 : Di Kampung Halaman
-Part 41 : Berpamitan
Quote:
#Bagian 4 : Initial Flight Attendant’s Ground Training
-Briefing and Sign Contract :
-Part 42 : Sekilas Tentang Ground Training
-Part 43 : Kog Begini Amat Sih?!
###
-Part 44 : Drama Perkara Sepatu
-Part 45 - Astaga!!
-Part 46 : KACAU!
-Part 47 : Drama di Hari Pertama
-Part 48 : Apa Benar FA Harus Deketin Pilot Agar Jam Terbangnya Banyak?
-Part 49 : Jawaban Dari Pertanyaan Mia
-Part 50 : Learning By Doing
-Part 51 : Tentang Chapter Lima dan CET
-Part 52 : Rey Datang Lagi
-Part 53 : Tersimpul Luka Kedua Kali
-Part 54 : White Horse
-Part 55 : Menjelang Flight Training
-Part 56 : Overthinking!
-Briefing and Sign Contract :
-Part 42 : Sekilas Tentang Ground Training
-Part 43 : Kog Begini Amat Sih?!
###
-Part 44 : Drama Perkara Sepatu
-Part 45 - Astaga!!
-Part 46 : KACAU!
-Part 47 : Drama di Hari Pertama
-Part 48 : Apa Benar FA Harus Deketin Pilot Agar Jam Terbangnya Banyak?
-Part 49 : Jawaban Dari Pertanyaan Mia
-Part 50 : Learning By Doing
-Part 51 : Tentang Chapter Lima dan CET
-Part 52 : Rey Datang Lagi
-Part 53 : Tersimpul Luka Kedua Kali
-Part 54 : White Horse
-Part 55 : Menjelang Flight Training
-Part 56 : Overthinking!
Quote:
#Bagian 5 : Flight Training
-Part 57 : Junior Selalu Salah
-Part 58 : Briefing Before Flight
-Part 59 : About Preflight Check
-Part 60 : Company Check
-Part 61 : Berjuang Lagi!
-Part 62 : Jungle And Sea Survival Part I
-Part 63 : Jungle And Sea Survival Part II
-Part 64 : Jungle And Sea Survival Part III
-Part 65 : Jungle And Sea Survival Part IV
-Part 66 : CCFA & DGCA Check
-Part 57 : Junior Selalu Salah
-Part 58 : Briefing Before Flight
-Part 59 : About Preflight Check
-Part 60 : Company Check
-Part 61 : Berjuang Lagi!
-Part 62 : Jungle And Sea Survival Part I
-Part 63 : Jungle And Sea Survival Part II
-Part 64 : Jungle And Sea Survival Part III
-Part 65 : Jungle And Sea Survival Part IV
-Part 66 : CCFA & DGCA Check
Quote:
#Bagian 6 : Kehidupan Seorang Pramugari
-Part 67 : Persiapan Untuk Terbang
-Part 68 : My First Flight
-Part 69 : Rian dan Ihsan
-Part 70 : Setan Penjaga Kamar Vs Senior Ala Ala
-Part 71 : Kisah Kasih Tak Sampai
-Part 72 : Padaido
-Part 73 : Hubungan Tanpa Status
-Part 74 : Mimpi Aneh
-Part 75 : Putri Kebaya
-Part 76 : Kamu Mau Jadi Pramugari Yang Seperti Apa?
-Part 77 : Turbulensi
-Part 78 : Hari-hari Bersama Papa
-Part 79 : Papa, It’s My Birthday!
-Part 80 : Duka Yang Bertubi
-Part 81 : Flashback to 2017
-Part 82 : Tentang Aku dan Dia
-Part 67 : Persiapan Untuk Terbang
-Part 68 : My First Flight
-Part 69 : Rian dan Ihsan
-Part 70 : Setan Penjaga Kamar Vs Senior Ala Ala
-Part 71 : Kisah Kasih Tak Sampai
-Part 72 : Padaido
-Part 73 : Hubungan Tanpa Status
-Part 74 : Mimpi Aneh
-Part 75 : Putri Kebaya
-Part 76 : Kamu Mau Jadi Pramugari Yang Seperti Apa?
-Part 77 : Turbulensi
-Part 78 : Hari-hari Bersama Papa
-Part 79 : Papa, It’s My Birthday!
-Part 80 : Duka Yang Bertubi
-Part 81 : Flashback to 2017
-Part 82 : Tentang Aku dan Dia
Diubah oleh aymawishy 02-02-2024 08:38
teguhjepang9932 dan 48 lainnya memberi reputasi
49
64.7K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
aymawishy
#74
Part 22 - PANTUKHIR!
Spoiler for PANTUKHIR!:
Dari email yang aku terima itu, bisa disimpulkan bahwa belum ada kepastian kapan Pantukhir akan dijadwalkan. Oleh karenanya, kesibukanku kini selain bekerja yaaa hanya bergelut dengan skripsi yang beberapa minggu ini mandek di bab empat di bagian data penelitian.
Sebelum kembali merampungkan bab empat, aku berusaha menyelesaikan permasalahan dalam pikiranku terlebih dahulu. Mencoba mencari akar permasalahan kenapa aku sama sekali gak punya bayangan saat masuk di bagian data penelitian. Setelah dipikir-pikir cukup lama, ternyata karena aku belum memutuskan akan menggunakan penelitian kualitatif atau penelitian kuantitatif!! Paaraah kan??
Akupun mulai berdiskusi mengenai data yang aku punya dengan beberapa seniorku di kampus dan akhirnya aku berkeputusan untuk menggunakan penelitian kualitatif yang menurutku lebih mudah dan gak ribet.
Dan benar, setelah aku menemukan akar permasalahannya, perlahan aku mulai berhasil membuat halaman demi halaman di sub-bab data penelitian.
Disaat aku sedang asik menyusun sub-bab empat skripsiku di hari liburku, aku kembali menerima email dari tim rekrutmen FA.
Aku yang mulai terbiasa dengan segala hal yang serba mendadak begini sudah bisa mengontrol emosiku agar tetap tenang, agar segela hal yang harus aku lakuin tetap terarah. Tak menunggu lama, aku segera melakukan reservasi tiket pesawat dengan menggunakan konsesi dari perusahaan -kala itu aku mendapatkan potongan harga sebesar 75%-dan juga segera ku mencari penginapan gratis di Jakarta. Alhamdulillahnya ada temanku yang berkenan menampungku beberapa hari disana.
// Tapi aku tinggal bareng temenku di kontrakan, gapapa ya Dek? //
Ujar Mba Dila yang kini menjadi rekanku di perusahaan. Dulunya dia adalah kakak kelasku di SMP (FYI dia seangkatan dengan Mas Ibor). Tapi dia adalah salah satu kakak kelas yang sangat gak peduli sama omongan orang tentang aku pada saat yang lain menghina dan memfitnahku.
// Gapapa banget Mbaa.. Makasih yaaa. InsyaAllah minggu malem aku udah disana yaa. //
Mba Dila pun segera memberikan alamatnya padaku. Rupanya, letak tempat tinggalnya dengan kantor berada di daerah yang sama.
———
23 Januari 2017, Senin
Semalam aku selamat tiba di kontrakan Mba Dila dengan menggunakan goride. Jujur awalnya agak khawatir akunya diculik atau semacamnya saat diri ini berkeputusan untuk naik ojek ke kontrakan Mba Dila demi menghemat uang saku. Apalagi jalanan yang memutar dan cukup jauh -menurutku saat itu-, membuatku berpikir ini bener ga sih abangnya. Kog di maps jalannya kesana tapi kog abangnya kesini.
Katanya, saat kamu di suatu tempat baru, jangan pernah memperlihatkan bahwa kamu orang asing yang baru datang dari luar kota, agar kamunya tidak ditipu atau semacamnya.
Dari pernyataan itu, membuatku menjadi sangat bawel kepada abang gojeknya.
“Bang maaf, saya sih biasanya lewat sana, kenapa Abang lewat sini ya?”, pertanyaan yang sering kutanyakan saat si Abang beda jalur dengan maps yang sedang kulihat.
“Ini jalan tikusnya, Kak. Tenang, Kak. Aman kog! Hehehe.”, untungnya Abangnya sabar dengerin segala kebawelanku.
“Cek-cek!!! Selamat siang semuanya!”, sapa Mas Wildan kepada kami setibanya ia di dalam aula dan berdiri di hadapan kami dengan microphone di tangan kanannya. Salamnya itu menghentikan lamunanku mengenai drama semalam.
“Selamat Siang!!”, jawabku dan yang lainnya serempak.
Setelahnya Mas Wildan memberikan selamat kepada kami karena telah berhasil hingga di tahap Pantukhir. Kemudian, dia menjelaskan secara singkat bagaimana proses yang akan kita lalui siang itu.
“Karena jumlah calon kandidat Initial FA yang hadir pada hari ini berjumlah lima belas orang, maka akan dibagi menjadi lima kelompok ya.”, ujar Mas Wildan.
Saat pembagian kelompok, aku kebagian di kelompok dua.
Jika ditanya bagaimana perasaanku ketika itu? Jujur aku sangat minder. Karena di tahap ini, aku melihat mereka semua ga ada cacatnya dalam penampilan yaa. Dan pasti mereka tak sekedar cantik, tapi kemampuan berpikirnya juga pasti mumpuni. Makin-makinlah aku minder!
Setelah pembagian kelompok selesai, kami diminta untuk meninggalkan aula dan diminta untuk mengikuti Mas Wildan untuk ke lantai lima dimana letak ruangan Direktur Operasional berada. Selama perjalanan untuk tiba ke lantai lima, kami menjadi pusat perhatian para karyawan. Hal itu membuatku sangat tidak nyaman, sebab mereka memperhatikan kami dari atas kepala hingga ujung kaki, kemudian terang-terangan saling berbisik.
Setibanya di lantai lima, kami menunggu di ruang tunggu dan duduk di sofa yang telah disediakan. Sekitar pukul satu lebih tiga puluh menit, kelompok pertama diminta untuk segera memasuki ruangan yang dari luar sama sekali tak tampak bagaimana bentuknya ruangan di dalamnya.
Kakiku makin kaku. Telapak tanganku makin terasa membeku. Jantungku makin berdegup kencang tak menentu. Entah, biasanya aku tak pernah merasakan hal semacam ini.
Sekitar lima belas menit menunggu, kelompok pertama dengan cerianya keluar dari ruangan menyeramkan itu. ‘Wah hebat! Sepertinya mereka lolos!’, bathinku.
Kemudian, aku dan kedua kandidat lainnya diminta untuk segera masuk ke ruangan.
Saat kami bertiga sudah berada dalam ruangan itu, pintu segera ditutup rapat oleh rekan Mas Wildan.
Saat itulah baru ku tahu bahwa ada banyak ‘warga’ didalamnya yang sedang mengamati kami. Kenapa aku sebut ‘warga’? Sebab ada banyak orang disana! Dua-lima-tujuh-sepuluh-sebelas! Ada sebelas orang.
“Silahkan Mila berdiri di kiri Anes dan Lita berdiri di kanan Anes!”, perintah seorang pria paruh baya yang dipanggil dengan sebutan ‘Capt’ oleh mereka-mereka yang kini turut mengamati kami dengan sinis. Tertulis papan nama dan jabatan di atas meja pria tersebut. Di sisi kiri kami berdiri, terdapat empat orang pengamat yang terdiri dari dua pria dan dua wanita (yang ku tahu mereka adalah tim rekrutmen FA). Di sisi kanan kami berdiri, terdapat enam wanita yang tengah sibuk mengamati kami sembari saling berbisik.
‘Oh beliau ini Direktur Operasionalnya?’, bathinku. Aku yang kini berdiri lurus di depannya, sempat mengamatinya sedang sibuk membaca data-data kami di balik meja besarnya.
“Silahkan perkenalkan diri kalian dimulai dari Mila, Lita, lalu Anes. Sebutkan juga hobi kalian!”, perintah Pak Direktur.
Mila yang hobi bernyanyi, disuruh menyanyikan lagu kesukaannya.
Lita yang hobi menari, disuruh menari di hadapan kami semua.
Sekarang, giliranku.
“Selamat Siang. Perkenalkan nama saya Anestya Dewi, biasa dipanggil dengan Anes. Saya berasal dari Jawa Timur. Dan Hobi saya adalah berenang!”
Seketika mereka semua menertawaiku.
“Yaah, kalau hobinya berenang, masa iya kita suruh berenang disini?”, celetuk salah satu dari mereka.
Karena jawabanku itu, suasana mulai mencair. Aku pun mulai bisa bernapas lega dan mulai bisa menjawab pertanyaan dari Pak Direktur dengan santai, meski selama menjawab pertanyaan demi pertanyaan tak lepas dari tatapan sinis dari ‘mereka’.
“Saya rasa cukup dari saya ya. Silahkan lanjutkan penilaiannya Bu Chief FA dan Ibu-ibu Deputy!”, perintah Pak Direktur yang makin terlihat bagaimana tegasnya dia. Sepertinya bukan tipe orang yang suka berbasa-basi.
Setelah mendapatkan perintah tersebut, Ibu Chief dan Deputy-Deputynya segera berdiri dari kursinya dan mendekati kami yang masih berdiri sembari tersenyum dengan senyuman yang mulai kaku. Rupanya, mereka mendekati kami untuk menilai kami dari jarak dekat!
“Anes!”, salah satu dari dua orang yang menilaiku memanggil namaku. Mereka inilah yang aku perhatikan paling sinis diantara yang lainnya!
“Iya, Bu, saya.”, jawabku.
“Lain kali jangan pakai bantalan pant*t ya! Ngapain? Ini bukan ajang gede-gedean pant*t!”, kata salah satu dari mereka yang kini tengah berdiri di belakangku.
“Maaf Bu, saya tidak memakai bantalan seperti yang Ibu sebutkan..”, jawabku tegas meski terdengar agak lirih.
“Masaa??”, tanyanya lagi.
“Kamu suka olahraga ya?”, tanya Ibu satunya menengahi.
“Iya Bu, saya suka berenang. Dan tiap hari juga melakukan gerakan squat.”
“Ohya? Pantes, bagus badan kamu yaaa..”, ujar Ibu yang terlihat lebih baik ini. “Tapi kog, kamu jerawatan sih?”, lanjutnya sembari menyentuh wajahku perlahan.
“Mana-mana?”, tanya Ibu satunya lagi. Ngomong-ngomong, mereka berdua ini penampilannya emang cantik banget sih. Make-up mereka yang sangat halus menghiasi wajah mereka yang tampak sangat kencang untuk seusia mereka.
“Yah iyaaa!! Parah banget jerawatannya!!”, ujarnya lagi. Pak Direktur yang mendengar pernyataan dari Ibu berambut pendek dan memberi kesan sangat galak ini, langsung menoleh dan merespons.
“Siapa yang jerawatan?”
“Anes, Capt! Ih ga bisa sih ini. Masa belum apa-apa udah jerawatan!!”, ujar Ibu berambut pendek itu makin judes.
Aku makin pasrah.
“Hmm jadi gimana?”, tanya Pak Direktur.
“Sepertinya engga dulu sih Capt!! Soalnya jerawatannya parah Capt. Dia sengaja tebelin foundationnya ini. Yakaan?? Jadi ketutup dan ga keliatan deh kalau dilihat dari jauh. Tapi saat diliat dari dekat, keliatan banget Capt! Padahal kita melayani penumpang dari jarak dekat karena ada inflight service juga kan!!”, suaranya makin melengking Cumiakkan telingaku.
Kemudian, Pak Direktur diam sejenak. “Hmm untuk Mila dan Lita gimana?”, tanyanya.
“Mereka aman-aman aja sih, Capt!”, jawab empat Deputy yang lain.
Aku mulai menunduk pasrah disaat Pak Direktur dan keenam Ibu-Ibu itu berdiskusi cukup lama. Rasanya gimana ya? Hm lebih ke sedih dan kecewa sih. Masalahnya, ini udah tahap terakhir loh! Masa iya gagal hanya gegara jerawatan! Kan lucu?! Jujur makin lama aku menunggu mereka yang sedang berdiskusi, aku makin kesal dibuatnya. Tapi munafiknya aku, aku masih bisa tetap tersenyum dihadapan mereka.
“Anes, maaf, sepertinya untuk kali ini ‘engga’ dulu ya. Para pramugari-pramugara kami yang sudah aktif terbang saja, akan dilarang terbang jika ada yang berjerawat. Jadi, rasanya kurang adil jika kami malah menerima calon pramugari yang sedang jerawatan parah. Untuk Mila dan Lita, ditunggu untuk email selanjutnya yaa.”, kata Pak Direktur.
Aku meresponsnya dengan senyuman, senyuman yang berhasil membuatku menutupi segala rasa yang ku rasakan saat itu. Jujur, ingin rasanya ku menangis saat mengingat segala perjuangan yang aku lakukan sejauh ini. Apalagi saat aku teringat senyum ceria Papaku saat tahu bahwa aku berhasil lolos sampai tahap ini!
Aku makin pilu disaat memikirkan bagaimana jika rasa kecewa beliau melebihi rasa kecewaku?
Rasanya tak sanggup jika aku harus mematahkan harapan besarnya terhadapku.
Aku makin kalut!
Kira-kira aku harus apa dan bagaimana?
Sebelum kembali merampungkan bab empat, aku berusaha menyelesaikan permasalahan dalam pikiranku terlebih dahulu. Mencoba mencari akar permasalahan kenapa aku sama sekali gak punya bayangan saat masuk di bagian data penelitian. Setelah dipikir-pikir cukup lama, ternyata karena aku belum memutuskan akan menggunakan penelitian kualitatif atau penelitian kuantitatif!! Paaraah kan??
Akupun mulai berdiskusi mengenai data yang aku punya dengan beberapa seniorku di kampus dan akhirnya aku berkeputusan untuk menggunakan penelitian kualitatif yang menurutku lebih mudah dan gak ribet.
Dan benar, setelah aku menemukan akar permasalahannya, perlahan aku mulai berhasil membuat halaman demi halaman di sub-bab data penelitian.
Disaat aku sedang asik menyusun sub-bab empat skripsiku di hari liburku, aku kembali menerima email dari tim rekrutmen FA.
Quote:
20 Januari 2017
Kepada Yth,
Calon Kandidat Initial Flight Attendant
Selamat Sore,
Sehubungan dengan telah selesainya proses Medical Examination waktu lalu, bagi yang menerima email ini kami nyatakan “LULUS” tahapan medical. Maka dengan ini kami mengundang calon kandidat untuk hadir pada :
hari, tanggal : Senin, 23 Januari 2017
pukul : 13.00 WIB s/d selesai
agenda : Pantukhir
tempat : Kantor Pusat, Jakarta
Dress Code : Kemeja lengan pendek polos warna putih, rok pendek warna hitam, sepatu pantofel hitam dengan hak 3cm, tatanan rambut menggunakan model french twist, make-up natural.
Perlu kami informasikan bagi yang belum melengkapi data (foto 3x4 an foto full body ukuran 4R, fotocopy ijazah pendidikan terakhir dan transkip nilai, surat ijin orang tua) mohon untuk membawa pada saat Pantukhir berlangsung.
Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Best Regards,
Anastasya.
Kepada Yth,
Calon Kandidat Initial Flight Attendant
Selamat Sore,
Sehubungan dengan telah selesainya proses Medical Examination waktu lalu, bagi yang menerima email ini kami nyatakan “LULUS” tahapan medical. Maka dengan ini kami mengundang calon kandidat untuk hadir pada :
hari, tanggal : Senin, 23 Januari 2017
pukul : 13.00 WIB s/d selesai
agenda : Pantukhir
tempat : Kantor Pusat, Jakarta
Dress Code : Kemeja lengan pendek polos warna putih, rok pendek warna hitam, sepatu pantofel hitam dengan hak 3cm, tatanan rambut menggunakan model french twist, make-up natural.
Perlu kami informasikan bagi yang belum melengkapi data (foto 3x4 an foto full body ukuran 4R, fotocopy ijazah pendidikan terakhir dan transkip nilai, surat ijin orang tua) mohon untuk membawa pada saat Pantukhir berlangsung.
Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Best Regards,
Anastasya.
Aku yang mulai terbiasa dengan segala hal yang serba mendadak begini sudah bisa mengontrol emosiku agar tetap tenang, agar segela hal yang harus aku lakuin tetap terarah. Tak menunggu lama, aku segera melakukan reservasi tiket pesawat dengan menggunakan konsesi dari perusahaan -kala itu aku mendapatkan potongan harga sebesar 75%-dan juga segera ku mencari penginapan gratis di Jakarta. Alhamdulillahnya ada temanku yang berkenan menampungku beberapa hari disana.
// Tapi aku tinggal bareng temenku di kontrakan, gapapa ya Dek? //
Ujar Mba Dila yang kini menjadi rekanku di perusahaan. Dulunya dia adalah kakak kelasku di SMP (FYI dia seangkatan dengan Mas Ibor). Tapi dia adalah salah satu kakak kelas yang sangat gak peduli sama omongan orang tentang aku pada saat yang lain menghina dan memfitnahku.
// Gapapa banget Mbaa.. Makasih yaaa. InsyaAllah minggu malem aku udah disana yaa. //
Mba Dila pun segera memberikan alamatnya padaku. Rupanya, letak tempat tinggalnya dengan kantor berada di daerah yang sama.
———
23 Januari 2017, Senin
Semalam aku selamat tiba di kontrakan Mba Dila dengan menggunakan goride. Jujur awalnya agak khawatir akunya diculik atau semacamnya saat diri ini berkeputusan untuk naik ojek ke kontrakan Mba Dila demi menghemat uang saku. Apalagi jalanan yang memutar dan cukup jauh -menurutku saat itu-, membuatku berpikir ini bener ga sih abangnya. Kog di maps jalannya kesana tapi kog abangnya kesini.
Katanya, saat kamu di suatu tempat baru, jangan pernah memperlihatkan bahwa kamu orang asing yang baru datang dari luar kota, agar kamunya tidak ditipu atau semacamnya.
Dari pernyataan itu, membuatku menjadi sangat bawel kepada abang gojeknya.
“Bang maaf, saya sih biasanya lewat sana, kenapa Abang lewat sini ya?”, pertanyaan yang sering kutanyakan saat si Abang beda jalur dengan maps yang sedang kulihat.
“Ini jalan tikusnya, Kak. Tenang, Kak. Aman kog! Hehehe.”, untungnya Abangnya sabar dengerin segala kebawelanku.
“Cek-cek!!! Selamat siang semuanya!”, sapa Mas Wildan kepada kami setibanya ia di dalam aula dan berdiri di hadapan kami dengan microphone di tangan kanannya. Salamnya itu menghentikan lamunanku mengenai drama semalam.
“Selamat Siang!!”, jawabku dan yang lainnya serempak.
Setelahnya Mas Wildan memberikan selamat kepada kami karena telah berhasil hingga di tahap Pantukhir. Kemudian, dia menjelaskan secara singkat bagaimana proses yang akan kita lalui siang itu.
“Karena jumlah calon kandidat Initial FA yang hadir pada hari ini berjumlah lima belas orang, maka akan dibagi menjadi lima kelompok ya.”, ujar Mas Wildan.
Saat pembagian kelompok, aku kebagian di kelompok dua.
Jika ditanya bagaimana perasaanku ketika itu? Jujur aku sangat minder. Karena di tahap ini, aku melihat mereka semua ga ada cacatnya dalam penampilan yaa. Dan pasti mereka tak sekedar cantik, tapi kemampuan berpikirnya juga pasti mumpuni. Makin-makinlah aku minder!
Setelah pembagian kelompok selesai, kami diminta untuk meninggalkan aula dan diminta untuk mengikuti Mas Wildan untuk ke lantai lima dimana letak ruangan Direktur Operasional berada. Selama perjalanan untuk tiba ke lantai lima, kami menjadi pusat perhatian para karyawan. Hal itu membuatku sangat tidak nyaman, sebab mereka memperhatikan kami dari atas kepala hingga ujung kaki, kemudian terang-terangan saling berbisik.
Setibanya di lantai lima, kami menunggu di ruang tunggu dan duduk di sofa yang telah disediakan. Sekitar pukul satu lebih tiga puluh menit, kelompok pertama diminta untuk segera memasuki ruangan yang dari luar sama sekali tak tampak bagaimana bentuknya ruangan di dalamnya.
Kakiku makin kaku. Telapak tanganku makin terasa membeku. Jantungku makin berdegup kencang tak menentu. Entah, biasanya aku tak pernah merasakan hal semacam ini.
Sekitar lima belas menit menunggu, kelompok pertama dengan cerianya keluar dari ruangan menyeramkan itu. ‘Wah hebat! Sepertinya mereka lolos!’, bathinku.
Kemudian, aku dan kedua kandidat lainnya diminta untuk segera masuk ke ruangan.
Saat kami bertiga sudah berada dalam ruangan itu, pintu segera ditutup rapat oleh rekan Mas Wildan.
Saat itulah baru ku tahu bahwa ada banyak ‘warga’ didalamnya yang sedang mengamati kami. Kenapa aku sebut ‘warga’? Sebab ada banyak orang disana! Dua-lima-tujuh-sepuluh-sebelas! Ada sebelas orang.
“Silahkan Mila berdiri di kiri Anes dan Lita berdiri di kanan Anes!”, perintah seorang pria paruh baya yang dipanggil dengan sebutan ‘Capt’ oleh mereka-mereka yang kini turut mengamati kami dengan sinis. Tertulis papan nama dan jabatan di atas meja pria tersebut. Di sisi kiri kami berdiri, terdapat empat orang pengamat yang terdiri dari dua pria dan dua wanita (yang ku tahu mereka adalah tim rekrutmen FA). Di sisi kanan kami berdiri, terdapat enam wanita yang tengah sibuk mengamati kami sembari saling berbisik.
‘Oh beliau ini Direktur Operasionalnya?’, bathinku. Aku yang kini berdiri lurus di depannya, sempat mengamatinya sedang sibuk membaca data-data kami di balik meja besarnya.
“Silahkan perkenalkan diri kalian dimulai dari Mila, Lita, lalu Anes. Sebutkan juga hobi kalian!”, perintah Pak Direktur.
Mila yang hobi bernyanyi, disuruh menyanyikan lagu kesukaannya.
Lita yang hobi menari, disuruh menari di hadapan kami semua.
Sekarang, giliranku.
“Selamat Siang. Perkenalkan nama saya Anestya Dewi, biasa dipanggil dengan Anes. Saya berasal dari Jawa Timur. Dan Hobi saya adalah berenang!”
Seketika mereka semua menertawaiku.
“Yaah, kalau hobinya berenang, masa iya kita suruh berenang disini?”, celetuk salah satu dari mereka.
Karena jawabanku itu, suasana mulai mencair. Aku pun mulai bisa bernapas lega dan mulai bisa menjawab pertanyaan dari Pak Direktur dengan santai, meski selama menjawab pertanyaan demi pertanyaan tak lepas dari tatapan sinis dari ‘mereka’.
“Saya rasa cukup dari saya ya. Silahkan lanjutkan penilaiannya Bu Chief FA dan Ibu-ibu Deputy!”, perintah Pak Direktur yang makin terlihat bagaimana tegasnya dia. Sepertinya bukan tipe orang yang suka berbasa-basi.
Setelah mendapatkan perintah tersebut, Ibu Chief dan Deputy-Deputynya segera berdiri dari kursinya dan mendekati kami yang masih berdiri sembari tersenyum dengan senyuman yang mulai kaku. Rupanya, mereka mendekati kami untuk menilai kami dari jarak dekat!
“Anes!”, salah satu dari dua orang yang menilaiku memanggil namaku. Mereka inilah yang aku perhatikan paling sinis diantara yang lainnya!
“Iya, Bu, saya.”, jawabku.
“Lain kali jangan pakai bantalan pant*t ya! Ngapain? Ini bukan ajang gede-gedean pant*t!”, kata salah satu dari mereka yang kini tengah berdiri di belakangku.
“Maaf Bu, saya tidak memakai bantalan seperti yang Ibu sebutkan..”, jawabku tegas meski terdengar agak lirih.
“Masaa??”, tanyanya lagi.
“Kamu suka olahraga ya?”, tanya Ibu satunya menengahi.
“Iya Bu, saya suka berenang. Dan tiap hari juga melakukan gerakan squat.”
“Ohya? Pantes, bagus badan kamu yaaa..”, ujar Ibu yang terlihat lebih baik ini. “Tapi kog, kamu jerawatan sih?”, lanjutnya sembari menyentuh wajahku perlahan.
“Mana-mana?”, tanya Ibu satunya lagi. Ngomong-ngomong, mereka berdua ini penampilannya emang cantik banget sih. Make-up mereka yang sangat halus menghiasi wajah mereka yang tampak sangat kencang untuk seusia mereka.
“Yah iyaaa!! Parah banget jerawatannya!!”, ujarnya lagi. Pak Direktur yang mendengar pernyataan dari Ibu berambut pendek dan memberi kesan sangat galak ini, langsung menoleh dan merespons.
“Siapa yang jerawatan?”
“Anes, Capt! Ih ga bisa sih ini. Masa belum apa-apa udah jerawatan!!”, ujar Ibu berambut pendek itu makin judes.
Aku makin pasrah.
“Hmm jadi gimana?”, tanya Pak Direktur.
“Sepertinya engga dulu sih Capt!! Soalnya jerawatannya parah Capt. Dia sengaja tebelin foundationnya ini. Yakaan?? Jadi ketutup dan ga keliatan deh kalau dilihat dari jauh. Tapi saat diliat dari dekat, keliatan banget Capt! Padahal kita melayani penumpang dari jarak dekat karena ada inflight service juga kan!!”, suaranya makin melengking Cumiakkan telingaku.
Kemudian, Pak Direktur diam sejenak. “Hmm untuk Mila dan Lita gimana?”, tanyanya.
“Mereka aman-aman aja sih, Capt!”, jawab empat Deputy yang lain.
Aku mulai menunduk pasrah disaat Pak Direktur dan keenam Ibu-Ibu itu berdiskusi cukup lama. Rasanya gimana ya? Hm lebih ke sedih dan kecewa sih. Masalahnya, ini udah tahap terakhir loh! Masa iya gagal hanya gegara jerawatan! Kan lucu?! Jujur makin lama aku menunggu mereka yang sedang berdiskusi, aku makin kesal dibuatnya. Tapi munafiknya aku, aku masih bisa tetap tersenyum dihadapan mereka.
“Anes, maaf, sepertinya untuk kali ini ‘engga’ dulu ya. Para pramugari-pramugara kami yang sudah aktif terbang saja, akan dilarang terbang jika ada yang berjerawat. Jadi, rasanya kurang adil jika kami malah menerima calon pramugari yang sedang jerawatan parah. Untuk Mila dan Lita, ditunggu untuk email selanjutnya yaa.”, kata Pak Direktur.
Aku meresponsnya dengan senyuman, senyuman yang berhasil membuatku menutupi segala rasa yang ku rasakan saat itu. Jujur, ingin rasanya ku menangis saat mengingat segala perjuangan yang aku lakukan sejauh ini. Apalagi saat aku teringat senyum ceria Papaku saat tahu bahwa aku berhasil lolos sampai tahap ini!
Aku makin pilu disaat memikirkan bagaimana jika rasa kecewa beliau melebihi rasa kecewaku?
Rasanya tak sanggup jika aku harus mematahkan harapan besarnya terhadapku.
Aku makin kalut!
Kira-kira aku harus apa dan bagaimana?
I still fall on my face sometimes and I
Can't color inside the lines 'cause
I'm perfectly incomplete
I'm still working on my masterpiece and I
I wanna hang with the grades gotta
Way to go, but it's worth the wait, no
You haven't seen the best of me
I'm still working on my masterpiece and I
Diubah oleh aymawishy 15-10-2022 15:58
delet3 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
Kutip
Balas
Tutup