- Beranda
- Stories from the Heart
Jalan Terakhir
...
TS
neopo
Jalan Terakhir

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Apakabar semua. Setelah sekian lama ga berbagi cerita akhirnya mencoba lagi untuk menulis/membagikan salah satu cerita/kisah/tulisan dari seorang teman. Tentunya saya tidak lupa akan thread sebelumnya yang saya buat, yang berjudul Riding to Jannah yang sementara ini dihentikan dulu karena hilangnya draft yang sudah dibuat dulu. Bahkan sampai beberapa tahun tidak terurus. Tetapi insyaAllah akan kembali di up jika sudah selesai. Bahkan kemarinpun sempat dilanjut, tetapi harddisk yang saya gunakan untuk menyimpan file penting ternyata bad sector dan semua file rusak 

Jika kalian sudah bosan atau kurang suka dengan cerita remaja, baik fiksi ataupun true story, kalian boleh skip thread ini
Hanya saja menurut saya pribadi, cerita dia cukup membuat saya terhibur. Jadi saya meminta izin untuk share disini, dan dia memperbolehkan. Setelah sekian tahun ga buka kaskus, udah banyak perubahan, jadi kalau berantakan mohon dimaafkan.
Hanya saja menurut saya pribadi, cerita dia cukup membuat saya terhibur. Jadi saya meminta izin untuk share disini, dan dia memperbolehkan. Setelah sekian tahun ga buka kaskus, udah banyak perubahan, jadi kalau berantakan mohon dimaafkan.Setiap orang pasti pernah mengalami masalah dalam menjalani hidup. Namun setiap masalah selalu menuntut untuk diselesaikan. Karena itulah, menemukan solusi dan bersikap pantang menyerah adalah jawaban untuk setiap masalah.
Kadang kala perjalanan hidup yang membuat seseorang menjadi dewasa. Dewasa dalam hal ini berarti mampu berpikir jernih dan menempatkan perannya dalam berbagai situasi. Selain itu, perjalanan hidup juga bisa menjadi bahan pembelajaran yang menginspirasi. Tidak hanya menginspirasi diri sendiri, tapi juga orang lain.
Langit tidak selalu cerah, perjalanan hidup pun tidak selalu indah. Dari kalimat itu kita harus paham bahwa perjalanan hidup itu tidak selalu mulus. Terkadang kita temukan kerikil dan duri yang mengganggu di jalanan. Rasa sakit, kesedihan, kesusahan dan duka. Apapun yang ada di hadapan kita bukan berarti kita berhenti berjalan dan menyerah. Perjalanan hidup yang berat ataupun perjalanan hidup yang pahit harus kita hadapi dan lalui.
"Hidup itu tentang sebuah perjalanan, caramu menjalaninya, dan caramu memberi arti pada perjalananmu itu." WilzKanadi
Aku tengah menempuh pendidikan sekolah tingkat atas kelas satu. Aku berasal dari keluarga yang bisa dibilang berkecukupan. Aku berasal dari Bandung namun sejak SD aku pindah ke Jakarta karena pekerjaan papaku. Aku merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Aku memiliki postur tubuh dengan tinggi badan 168cm dan berat badan 62kg. Namaku Khairul Purnama, dan ini adalah kisah perjalananku
Akan di update berdasarkan jalan cerita melalui Instagramdan beberapa spoiler untuk next part diperlihatkan disana, tapi itupun jika ga penasaran
Akan di update berdasarkan jalan cerita melalui Instagramdan beberapa spoiler untuk next part diperlihatkan disana, tapi itupun jika ga penasaran

- INDEX -
Masa SMA

Prolog
BAB 1 - Ocehan Seorang Gadis
BAB 2 - Dunia yang Sempit
BAB 3 - Cewek Melengking dan Anak Hilang
BAB 4 - Silsilah Keluarga
BAB 5 - Ma, Arul Kuat Kok
BAB 6 - Teman
BAB 7 - Obat Penenang
BAB 8 - Bandung
BAB 9 - Kebahagiaan dari Masa Lalu
BAB 10 - Perasaan yang Memuncak
BAB 11 - Puncak Amarah
BAB 12 - Yang Pertama
BAB 13 - Berputar Kembali
BAB 14 - Liburan Lagi
BAB 15 - Sebuah Cerita
BAB 16 - Sekolah Lagi
BAB 17 - Jawaban
BAB 18 - Kelemahan
BAB 19 - Rasa Terindah
BAB 20 - Ungkapan Hati
BAB 21 - Double Date?
BAB 22 - Jalan Buntu
BAB 23 - Maaf
BAB 24 - Liburan Penutup
BAB 25 - MOS (Part 1)
BAB 26 - MOS (Part 2)
BAB 27 - Sebuah Tragedi
BAB 28 - Tujuan
Masa Kuliah

BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
Masa SMA

Prolog
BAB 1 - Ocehan Seorang Gadis
BAB 2 - Dunia yang Sempit
BAB 3 - Cewek Melengking dan Anak Hilang
BAB 4 - Silsilah Keluarga
BAB 5 - Ma, Arul Kuat Kok
BAB 6 - Teman
BAB 7 - Obat Penenang
BAB 8 - Bandung
BAB 9 - Kebahagiaan dari Masa Lalu
BAB 10 - Perasaan yang Memuncak
BAB 11 - Puncak Amarah
BAB 12 - Yang Pertama
BAB 13 - Berputar Kembali
BAB 14 - Liburan Lagi
BAB 15 - Sebuah Cerita
BAB 16 - Sekolah Lagi
BAB 17 - Jawaban
BAB 18 - Kelemahan
BAB 19 - Rasa Terindah
BAB 20 - Ungkapan Hati
BAB 21 - Double Date?
BAB 22 - Jalan Buntu
BAB 23 - Maaf
BAB 24 - Liburan Penutup
BAB 25 - MOS (Part 1)
BAB 26 - MOS (Part 2)
BAB 27 - Sebuah Tragedi
BAB 28 - Tujuan
Masa Kuliah

BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
Diubah oleh neopo 02-02-2023 21:58
sukhhoi dan 12 lainnya memberi reputasi
11
13.9K
120
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
neopo
#52
BAB 26 - MOS (Part 2)
Jam 3 sore, acara MOS hari pertama telah selesai. Aku yang sedari tadi duduk di ruang OSIS nunggu Vika bener-bener ga tau musti ngapain selain liat beberapa anak yang lagi nongkrong ga jelas di lapang. Vika menghampiriku dengan senyuman manisnya.
“Udah beres?” tanyaku
“Belum, kan rapat dulu buat besok” kata Vika
“Yaudah, aa tunggu” ucapku
“Gapapa a?” tanya Vika
“Gapapa kok” jawabku
“Yaudah neng masuk dulu ya” katanya
Vikapun masuk dan ga lama memang rapat langsung dimulai tanpa ada sana sini. Jam 4 sore, Vika sudah selesai dan kamipun pulang bersama seperti rutinitas kami. Saat di gerbang luar, disana ada Andre dan kawan-kawannya yang lagi nongkrong di warung. Andre hanya melihatku, sementara Vika yang mengetahui itu langsung memelukku dan menyuruhku untuk tetap jalan.
Keesokan harinya, aku mengantar Vika pagi-pagi buta untuk persiapan MOS. Tapi dihari kedua ini ga banyak hal yang menarik sampai akhirnya MOS hari ketigapun tiba. Aku berangkat ke sekolah dengan Vika. Setibanya disana, Vika langsung mengajakku untuk ke ruang OSIS dan menyuruhku untuk menunggu disana.
Pagi itu aku memutuskan untuk keliling melihat situasi saja sampai pada akhirnya aku berhenti di terminal terakhir, kantin. Hari ini Hamid ga dateng ke sekolah, kata Windy sih dia masih tidur kebo jadi sepertinya hari ini aku akan menghabiskan waktu sendiri disamping kesibukan Vika.
Beberapa jam kemudian, semua siswa baru sudah disuruh baris di lapangan. Hari ini sudah ga ada lagi sikap pura-pura marah dari para panitia. Sampai akhirnya beberapa eskul menampilkan pertunjukkannya sebagai hiburan kami semua. Termasuk Toriq yang ikut bermain basket. Seharusnya anak kelas tiga memang mulai di offkan dalam kegiatan eskul, tapi karena Toriq merupakan anak yang berprestasi di bidang olahraga, maka dia ditunjuk untuk tampil. Kayanya Toriq bakal jadi pangeran sekolah nih, keliatan banget banyak anak kelas satu yang bersorak, terutama cewek
Setelah beberapa penampilan, akhirnya tibalah saat yang cukup memiliki momen dalam ospek ini.
“Kalian kan disuruh membuat surat cinta nih, dari hasil perhitungan kemarin, udah ditetapkan nih siapa yang suratnya paling bagus, dan orang yang mendapat surat terbanyak. Kita juga sudah memilih surat yang masuk kedalam kedua kategori tersebut” ucap MC
Aku bertanya-tanya siapa yang kira-kira dapet surat cinta? Kalau pengalaman selama ini, yang kepilih bakal disuruh maju dan membacakan surat itu
“Untuk pengirim terbaik jatuh kepadaaa . . . . . Syaril Ikhwan dari kelas 10-2” ucap MC dan semua bersorak
Orang yang dimaksud langsung naik ke atas panggung. Seorang anak yang tingginnya sekitar 160cm badan cukup berisi untuk ukuran dia.
“Dan orang yang menerima surat terbanyak adalaaah . . . jeng jeng jeng . . “ kata MC mencoba membuat penasaran
“Vika Amelia Restu . . . . “ lanjut MC
WHAT ! ! Vika? Dari kejauhan aku melihat Vika tersenyum naik ke atas panggung.
“Gimana nih Vik rasanya dapat surat cinta terbanyak?” tanya MC
“Hmm gimana ya, ga pernah dapet sih, jadi biasa aja hehe” ucap Vika
“Waaah, perdana dong ya” ucap MC “Ayok Syaril silahkan dibacakan suratnya
Tak lama kemudian Syaril mulai membacakan isi surat itu. Kata-katanya benar-benar membuat semua orang takjub termasuk aku. Malah jadi minder sendiri.
“Wah gimana nih Vik, terima ga?” tanya MC
Maksud terima tidaknya adalah surat cintanya, bukan cintanya.
“Suratnya saya terima” ucap Vika
“Waduuuh, selamat nih Syaril suratnya sudah diterima” ucap MC, Syaril cuma senyum
“Ngomong-ngomong Vika ini udah punya pacar belum?” tanya MC
MC ini merupakan anggota OSIS dan dia juga tahu kalau aku punya hubungan dengan Vika, tapi entah maksudnya nanya hal itu didepan umum padahal dia sendiri udah tau jawabannya
“Untuk jawabannya bisa ditanyakan sama cowok yang duduk disana” ucap Vika sambil menunjuk kearahku
“Wah, boleh nih maju kesini, hehe” kata MC
Aku menggeleng ogah tapi anak-anak dari kelas lain yang aku ga terlalu kenal malah mendorongku ditambah lagi sorak anak kelas satu. Pada akhirnya akupun maju kedepan
“Bener nih mas Khairul ini pacarnya Vika?” tanya MC
Aku hanya mengangguk dan Vika hanya senyum-senyum. Malu sih, bukan malu karena hubunganku diumbar, tapi ga biasa aja berada didepan banyak orang kaya gini. Aku menarik tangan Vika dan menuju depan ruang OSIS bergabung bersama panitia lain termasuk si kembar.
“Aiih, si aa malu-malu” ucap Ani
“Au pake dipanggil kedepan segala” ucapku
“Yeee emang ga seneng gitu pacarnya jadi pusat perhatian” ucap Vika menyenggolku
“Aa yang susah dapet, eh orang lain malah kamu kasih perhatian” ucapku
“Cieee ga rela ceweknya diperhatiin orang, hahaha” goda Ana
Si kembar dan Vika malah ketawa bareng-bareng. Penutup acara diisi oleh grup band dari eskul Seni Musik yang berlangsung cukup meriah. Saat itu juga panitia OSIS diminta untuk berkumpul yang membuatku merasa terasingkan lagi. Tapi ga lama setelah itu Vika menghampiriku dan mengajakku ke kantin.
Setibanya di kantin, kami memesan makanan dan jus jeruk sambil sesekali melihat ke arah siswa baru yang sedang menikmati alunan musik dari gurp band.
“Ga bareng Windy?” tanyaku
“Engga, dia lagi sama yang lain, masih ada perlu katanya” jawab Vika
“Ga kerasa ya” ucapku
“Apanya?” kata Vika
“Ya kita udah kelas tiga aja” ucapku
“Hehe, iya. Masih inget banget aa dulu adu mulut sama pak Rudi perihal rambut gondrong aa” kata Vika
“Loh, kok neng tau?” tanyaku
“Tau dong, waktu itu kan neng lagi di deket situ juga sama Windy” kata Vika
“Duh merhatiin banget sih” ucapku terkekeh
“Hehe, kebetulan a. Dulu kan aa masih jutek banget tuh” kata Vika
Saat peristiwa hujan di kantin itulah pertama kalinya aku bicara dengan Vika dan Windy. Seiring berjalannya waktu aku mulai menarik kata-kataku tentang malas pacaran ketika aku menyadari aku mulai menyukai dan mencintai Vika. Meski aku gatau apa ini benar-benar cinta, atau sekedar cinta monyet belaka. Tapi rasa nyaman itu nyata. Sempat aku berfikir kalau Rima akan jadi cinta pertamaku. Seorang gadis kecil yang tengah tumbuh menjadi anak yang sangat cantik. Ternyata rasa itu sama seperti rasa yang aku miliki pada si kembar. Rima sudah seperti adikku sendiri.
“Kok ngelamun?” ucap Vika membuyarkan lamunanku
“Engga kok, lagi denger lagu band nya hehe” jawabku
Setelah makan, Vika kembali ke ruang OSIS sementara aku masih di kantin. Sepulang sekolah, aku menjemput Vika di ruang OSIS. Beberapa anak kelas satu udah mulai pada bubar. Pembelajaran akan dimulai pada senin berikutnya.
Hari sabtu pagi, aku masih berbaring di kamar. Aku dan Vika ga membuat rencana untuk pergi jalan. Tapi Vika bilang kalau dia mau main kerumah. Katanya si kembar ngajakin main tapi gatau dah main apa atau main kemana.
Aku terbangun sekitar jam 9 pagi. Saat aku keluar kamar, aku sedikit kaget melihat si kembar dan Vika yang wajahnya banyak bercak putih sambil bermain ular tangga.
“Kenapa dah pada jadi badut?” tanyaku
“Ini a, yang kalah dicolek pake tepung” kata Ani
“Oh, lanjut” ucapku
“Mau kemana a?” tanya Ana
“Mandi lah, gerah banget” jawabku
“Yaudah sana mandi. Bau” kata Ana
“Enak aja. Udah makan?” ucapku
“Udah a” jawab si kembar dan Vika
Selesai mandi, aku langsung ke dapur untuk makan dulu. Aku lihat si kembar dan Vika udah ga ada.
“Si kembar kemana ma?” tanyaku
“Jalan-jalan katanya” kata mama
“Buset, kakaknya ga di ajak” ucapku
“Katanya khusus cewek haha” kata mama
“Gayanyaaa” ucapku
Aku memutuskan untuk cuci motor sambil menunggu mereka kembali. Saat lagi cuci motor, mereka datang membawa beberapa kantong kresek hitam yang cukup besar
“Bawa apa tuh?” tanyaku
“Camilan” kata Vika
“Buset neng banyak amat, mau pindah kesini?” tanyaku
“Sini teh, biar Ani yang bawa” kata Ani pada Vika
“Teteh disini aja temenin a Arul” kata Ana
:”Yaudah nanti teteh nyusul ya” kata Vika
Vika pun duduk di teras sambil melihatku
“Kenapa liat-liat?” tanyaku
“Engga, aa mandi terus nyuci motor, keringet lagi dong” katanya
“Yee gapapa lah, ini juga seger lagi kan” ucapku
“Tetep aja keringet lagi nanti” katanya
“Tadi kemana? Kok ga ngajak?” tanyaku
“Ada deh, urusan ciwi ciwi hehehe” kata Vika
“Gayamu neng” ucapku
Beberapa saat setelah motor berkilau aku duduk disamping Vika sambil memandangi motorku.
“A, kalau udah lulus mau lanjut kuliah dimana?” tanya Vika
“Emm dimana yah, ke Bandung kayanya. Aa mau ambil Akuntansi” ucapku
“Bandung? Mau kuliah apa ketemu Rima?” kata Vika melotot
“Kuliah neng” jawabku
“Kampus mana?” tanyaku
“Itu loh kampus negeri yang deket rumah tante Lina
“Oh kesitu? Sama dong, aku juga mau kesitu tadinya, mau ambil jurusan Kimia” kata Vika
“Kuliah bareng dong kita” ucapku
“Iyaaa, tapi aa nanti ngekos ya?” kata Vika
“Pasti lah, neng mah tinggal sama tante Lina ya?” tanyaku
“Engga a, kayanya bakal ngekos juga. Ga enak ah di rumah tante Lina sempit, kasian Siti” kata Vika
Aku mulai membayangkan bagaimana kehidupan kuliahku nanti. Aku akan memulai kehidupan yang baru, jauh dari keluarga
“Berarti kita ga LDR yaa, bisa sama-sama terus” kata Vika
“Mau banget bareng aa ya hehehe” godaku
“Ish emang aa gamau sama neng?” kata Vika
“Mau lah neng. Saling semangatin kuliahnya nanti” ucapku
Melihat Vika yang selalu menemani si kembar belajar, aku rasa guru akan menjadi profesi yang cocok untuk dia.
“A, jalan-jalan yu” kata Vika
“Kemana neng? Baru juga cuci motor” ucapku
“Ya nanti malem aja” kata Vika
“Hari ini kita dirumah aja gapapa kan? Aa lagi cape banget” ucapku
“Yaaah, yaudah deh” ucap Vika cemberut
“Jangan ngambek dong neng. Besok kita jalan-jalan deh ya” ucapku
“Iya deh” jawab Vika pasrah
“Kayanya seneng ya dapet surat cinta” ucapku
“Ish aa mah, kan neng cuma nerima surat, bukan cintanya, huuh” kata Vika makin cemberut
“Jadi suka nih?” godaku
“Engga aa. Ih segitunya yah” kata Vika sambil mencubitku
“Aduh, sakit neng, sakit, iya maaf maaf” ucapku
Hari ini kami menghabiskan waktu dengan menonton film dirumah menggunakan DVD bareng si kembar juga. Aku benar-benar ga ingin keluar hari ini. Entah karena cape, atau memang ga mood pergi aja.
Sudah tiga film yang kami tonton, tapi Vika dan si kembar begitu menikmati setiap film yang diputar, sementara aku malah menjadi ngantuk. Entah beberapa kali aku tidur dan terbangun karena suara mereka bertiga. Apalagi ketika mereka menonton film horor dan berteriak kaget beberapa kali. Sampai film selesai jam 2 siang.
“Udah nontonnya?” tanyaku, Vika mengangguk
“Si aa mah tidur da, ga fokus” kata Ana
“Ngantuk ih, kebangun juga gara-gara kalian teriak” ucapku
“Yee padahal seru tau” kata Ani
“Seru tapi Ani mah merem mulu” kata Ana
Vika hanya tertawa mendengar si kembar adu mulut. Aku benar-benar menikmati hari ini dengan beristirahat dirumah, sampai besok entah aku akan mengajak Vika kemana. Setidaknya aku harus mengganti hari ini dengan hari esok bareng Vika. Aku melihat mama sudah berpakaian rapi
“Mau kemana ma?” tanyaku
“Mau ke pengajian ibu Sofi, syukuran anaknya ke terima kuliah di luar negeri katanya” kata mama
“Oh, oke ma, hati-hati” ucapku
“Titip rumah ya sama si kembar. Vika, gapapa disini dulu?” tanya mama
“Gapapa kok tante” ucap Vika
“Vika, jangan panggil tante lagi, panggil aja mama, ya” kata mama
“Udah beres?” tanyaku
“Belum, kan rapat dulu buat besok” kata Vika
“Yaudah, aa tunggu” ucapku
“Gapapa a?” tanya Vika
“Gapapa kok” jawabku
“Yaudah neng masuk dulu ya” katanya
Vikapun masuk dan ga lama memang rapat langsung dimulai tanpa ada sana sini. Jam 4 sore, Vika sudah selesai dan kamipun pulang bersama seperti rutinitas kami. Saat di gerbang luar, disana ada Andre dan kawan-kawannya yang lagi nongkrong di warung. Andre hanya melihatku, sementara Vika yang mengetahui itu langsung memelukku dan menyuruhku untuk tetap jalan.
Keesokan harinya, aku mengantar Vika pagi-pagi buta untuk persiapan MOS. Tapi dihari kedua ini ga banyak hal yang menarik sampai akhirnya MOS hari ketigapun tiba. Aku berangkat ke sekolah dengan Vika. Setibanya disana, Vika langsung mengajakku untuk ke ruang OSIS dan menyuruhku untuk menunggu disana.
Pagi itu aku memutuskan untuk keliling melihat situasi saja sampai pada akhirnya aku berhenti di terminal terakhir, kantin. Hari ini Hamid ga dateng ke sekolah, kata Windy sih dia masih tidur kebo jadi sepertinya hari ini aku akan menghabiskan waktu sendiri disamping kesibukan Vika.
Beberapa jam kemudian, semua siswa baru sudah disuruh baris di lapangan. Hari ini sudah ga ada lagi sikap pura-pura marah dari para panitia. Sampai akhirnya beberapa eskul menampilkan pertunjukkannya sebagai hiburan kami semua. Termasuk Toriq yang ikut bermain basket. Seharusnya anak kelas tiga memang mulai di offkan dalam kegiatan eskul, tapi karena Toriq merupakan anak yang berprestasi di bidang olahraga, maka dia ditunjuk untuk tampil. Kayanya Toriq bakal jadi pangeran sekolah nih, keliatan banget banyak anak kelas satu yang bersorak, terutama cewek
Setelah beberapa penampilan, akhirnya tibalah saat yang cukup memiliki momen dalam ospek ini.
“Kalian kan disuruh membuat surat cinta nih, dari hasil perhitungan kemarin, udah ditetapkan nih siapa yang suratnya paling bagus, dan orang yang mendapat surat terbanyak. Kita juga sudah memilih surat yang masuk kedalam kedua kategori tersebut” ucap MC
Aku bertanya-tanya siapa yang kira-kira dapet surat cinta? Kalau pengalaman selama ini, yang kepilih bakal disuruh maju dan membacakan surat itu
“Untuk pengirim terbaik jatuh kepadaaa . . . . . Syaril Ikhwan dari kelas 10-2” ucap MC dan semua bersorak
Orang yang dimaksud langsung naik ke atas panggung. Seorang anak yang tingginnya sekitar 160cm badan cukup berisi untuk ukuran dia.
“Dan orang yang menerima surat terbanyak adalaaah . . . jeng jeng jeng . . “ kata MC mencoba membuat penasaran
“Vika Amelia Restu . . . . “ lanjut MC
WHAT ! ! Vika? Dari kejauhan aku melihat Vika tersenyum naik ke atas panggung.
“Gimana nih Vik rasanya dapat surat cinta terbanyak?” tanya MC
“Hmm gimana ya, ga pernah dapet sih, jadi biasa aja hehe” ucap Vika
“Waaah, perdana dong ya” ucap MC “Ayok Syaril silahkan dibacakan suratnya
Tak lama kemudian Syaril mulai membacakan isi surat itu. Kata-katanya benar-benar membuat semua orang takjub termasuk aku. Malah jadi minder sendiri.
“Wah gimana nih Vik, terima ga?” tanya MC
Maksud terima tidaknya adalah surat cintanya, bukan cintanya.
“Suratnya saya terima” ucap Vika
“Waduuuh, selamat nih Syaril suratnya sudah diterima” ucap MC, Syaril cuma senyum
“Ngomong-ngomong Vika ini udah punya pacar belum?” tanya MC
MC ini merupakan anggota OSIS dan dia juga tahu kalau aku punya hubungan dengan Vika, tapi entah maksudnya nanya hal itu didepan umum padahal dia sendiri udah tau jawabannya
“Untuk jawabannya bisa ditanyakan sama cowok yang duduk disana” ucap Vika sambil menunjuk kearahku
“Wah, boleh nih maju kesini, hehe” kata MC
Aku menggeleng ogah tapi anak-anak dari kelas lain yang aku ga terlalu kenal malah mendorongku ditambah lagi sorak anak kelas satu. Pada akhirnya akupun maju kedepan
“Bener nih mas Khairul ini pacarnya Vika?” tanya MC
Aku hanya mengangguk dan Vika hanya senyum-senyum. Malu sih, bukan malu karena hubunganku diumbar, tapi ga biasa aja berada didepan banyak orang kaya gini. Aku menarik tangan Vika dan menuju depan ruang OSIS bergabung bersama panitia lain termasuk si kembar.
“Aiih, si aa malu-malu” ucap Ani
“Au pake dipanggil kedepan segala” ucapku
“Yeee emang ga seneng gitu pacarnya jadi pusat perhatian” ucap Vika menyenggolku
“Aa yang susah dapet, eh orang lain malah kamu kasih perhatian” ucapku
“Cieee ga rela ceweknya diperhatiin orang, hahaha” goda Ana
Si kembar dan Vika malah ketawa bareng-bareng. Penutup acara diisi oleh grup band dari eskul Seni Musik yang berlangsung cukup meriah. Saat itu juga panitia OSIS diminta untuk berkumpul yang membuatku merasa terasingkan lagi. Tapi ga lama setelah itu Vika menghampiriku dan mengajakku ke kantin.
Setibanya di kantin, kami memesan makanan dan jus jeruk sambil sesekali melihat ke arah siswa baru yang sedang menikmati alunan musik dari gurp band.
“Ga bareng Windy?” tanyaku
“Engga, dia lagi sama yang lain, masih ada perlu katanya” jawab Vika
“Ga kerasa ya” ucapku
“Apanya?” kata Vika
“Ya kita udah kelas tiga aja” ucapku
“Hehe, iya. Masih inget banget aa dulu adu mulut sama pak Rudi perihal rambut gondrong aa” kata Vika
“Loh, kok neng tau?” tanyaku
“Tau dong, waktu itu kan neng lagi di deket situ juga sama Windy” kata Vika
“Duh merhatiin banget sih” ucapku terkekeh
“Hehe, kebetulan a. Dulu kan aa masih jutek banget tuh” kata Vika
Saat peristiwa hujan di kantin itulah pertama kalinya aku bicara dengan Vika dan Windy. Seiring berjalannya waktu aku mulai menarik kata-kataku tentang malas pacaran ketika aku menyadari aku mulai menyukai dan mencintai Vika. Meski aku gatau apa ini benar-benar cinta, atau sekedar cinta monyet belaka. Tapi rasa nyaman itu nyata. Sempat aku berfikir kalau Rima akan jadi cinta pertamaku. Seorang gadis kecil yang tengah tumbuh menjadi anak yang sangat cantik. Ternyata rasa itu sama seperti rasa yang aku miliki pada si kembar. Rima sudah seperti adikku sendiri.
“Kok ngelamun?” ucap Vika membuyarkan lamunanku
“Engga kok, lagi denger lagu band nya hehe” jawabku
Setelah makan, Vika kembali ke ruang OSIS sementara aku masih di kantin. Sepulang sekolah, aku menjemput Vika di ruang OSIS. Beberapa anak kelas satu udah mulai pada bubar. Pembelajaran akan dimulai pada senin berikutnya.
Hari sabtu pagi, aku masih berbaring di kamar. Aku dan Vika ga membuat rencana untuk pergi jalan. Tapi Vika bilang kalau dia mau main kerumah. Katanya si kembar ngajakin main tapi gatau dah main apa atau main kemana.
Aku terbangun sekitar jam 9 pagi. Saat aku keluar kamar, aku sedikit kaget melihat si kembar dan Vika yang wajahnya banyak bercak putih sambil bermain ular tangga.
“Kenapa dah pada jadi badut?” tanyaku
“Ini a, yang kalah dicolek pake tepung” kata Ani
“Oh, lanjut” ucapku
“Mau kemana a?” tanya Ana
“Mandi lah, gerah banget” jawabku
“Yaudah sana mandi. Bau” kata Ana
“Enak aja. Udah makan?” ucapku
“Udah a” jawab si kembar dan Vika
Selesai mandi, aku langsung ke dapur untuk makan dulu. Aku lihat si kembar dan Vika udah ga ada.
“Si kembar kemana ma?” tanyaku
“Jalan-jalan katanya” kata mama
“Buset, kakaknya ga di ajak” ucapku
“Katanya khusus cewek haha” kata mama
“Gayanyaaa” ucapku
Aku memutuskan untuk cuci motor sambil menunggu mereka kembali. Saat lagi cuci motor, mereka datang membawa beberapa kantong kresek hitam yang cukup besar
“Bawa apa tuh?” tanyaku
“Camilan” kata Vika
“Buset neng banyak amat, mau pindah kesini?” tanyaku
“Sini teh, biar Ani yang bawa” kata Ani pada Vika
“Teteh disini aja temenin a Arul” kata Ana
:”Yaudah nanti teteh nyusul ya” kata Vika
Vika pun duduk di teras sambil melihatku
“Kenapa liat-liat?” tanyaku
“Engga, aa mandi terus nyuci motor, keringet lagi dong” katanya
“Yee gapapa lah, ini juga seger lagi kan” ucapku
“Tetep aja keringet lagi nanti” katanya
“Tadi kemana? Kok ga ngajak?” tanyaku
“Ada deh, urusan ciwi ciwi hehehe” kata Vika
“Gayamu neng” ucapku
Beberapa saat setelah motor berkilau aku duduk disamping Vika sambil memandangi motorku.
“A, kalau udah lulus mau lanjut kuliah dimana?” tanya Vika
“Emm dimana yah, ke Bandung kayanya. Aa mau ambil Akuntansi” ucapku
“Bandung? Mau kuliah apa ketemu Rima?” kata Vika melotot
“Kuliah neng” jawabku
“Kampus mana?” tanyaku
“Itu loh kampus negeri yang deket rumah tante Lina
“Oh kesitu? Sama dong, aku juga mau kesitu tadinya, mau ambil jurusan Kimia” kata Vika
“Kuliah bareng dong kita” ucapku
“Iyaaa, tapi aa nanti ngekos ya?” kata Vika
“Pasti lah, neng mah tinggal sama tante Lina ya?” tanyaku
“Engga a, kayanya bakal ngekos juga. Ga enak ah di rumah tante Lina sempit, kasian Siti” kata Vika
Aku mulai membayangkan bagaimana kehidupan kuliahku nanti. Aku akan memulai kehidupan yang baru, jauh dari keluarga
“Berarti kita ga LDR yaa, bisa sama-sama terus” kata Vika
“Mau banget bareng aa ya hehehe” godaku
“Ish emang aa gamau sama neng?” kata Vika
“Mau lah neng. Saling semangatin kuliahnya nanti” ucapku
Melihat Vika yang selalu menemani si kembar belajar, aku rasa guru akan menjadi profesi yang cocok untuk dia.
“A, jalan-jalan yu” kata Vika
“Kemana neng? Baru juga cuci motor” ucapku
“Ya nanti malem aja” kata Vika
“Hari ini kita dirumah aja gapapa kan? Aa lagi cape banget” ucapku
“Yaaah, yaudah deh” ucap Vika cemberut
“Jangan ngambek dong neng. Besok kita jalan-jalan deh ya” ucapku
“Iya deh” jawab Vika pasrah
“Kayanya seneng ya dapet surat cinta” ucapku
“Ish aa mah, kan neng cuma nerima surat, bukan cintanya, huuh” kata Vika makin cemberut
“Jadi suka nih?” godaku
“Engga aa. Ih segitunya yah” kata Vika sambil mencubitku
“Aduh, sakit neng, sakit, iya maaf maaf” ucapku
Hari ini kami menghabiskan waktu dengan menonton film dirumah menggunakan DVD bareng si kembar juga. Aku benar-benar ga ingin keluar hari ini. Entah karena cape, atau memang ga mood pergi aja.
Sudah tiga film yang kami tonton, tapi Vika dan si kembar begitu menikmati setiap film yang diputar, sementara aku malah menjadi ngantuk. Entah beberapa kali aku tidur dan terbangun karena suara mereka bertiga. Apalagi ketika mereka menonton film horor dan berteriak kaget beberapa kali. Sampai film selesai jam 2 siang.
“Udah nontonnya?” tanyaku, Vika mengangguk
“Si aa mah tidur da, ga fokus” kata Ana
“Ngantuk ih, kebangun juga gara-gara kalian teriak” ucapku
“Yee padahal seru tau” kata Ani
“Seru tapi Ani mah merem mulu” kata Ana
Vika hanya tertawa mendengar si kembar adu mulut. Aku benar-benar menikmati hari ini dengan beristirahat dirumah, sampai besok entah aku akan mengajak Vika kemana. Setidaknya aku harus mengganti hari ini dengan hari esok bareng Vika. Aku melihat mama sudah berpakaian rapi
“Mau kemana ma?” tanyaku
“Mau ke pengajian ibu Sofi, syukuran anaknya ke terima kuliah di luar negeri katanya” kata mama
“Oh, oke ma, hati-hati” ucapku
“Titip rumah ya sama si kembar. Vika, gapapa disini dulu?” tanya mama
“Gapapa kok tante” ucap Vika
“Vika, jangan panggil tante lagi, panggil aja mama, ya” kata mama
itkgid dan 4 lainnya memberi reputasi
5