- Beranda
- Stories from the Heart
Santet ( Ketamakan Membawa Petaka)
...
TS
piendutt
Santet ( Ketamakan Membawa Petaka)

Quote:
SANTET
Part 1. Mimpi Buruk
Kriiing! Kriiing!
Sebuah tangan terlihat meraba-raba berusaha menggapai jam weker yang terus berbunyi dan Cumiakkan telinga itu. Sang pemilik tangan pun bangun dari tidurnya.
"Whoaaamm!"
Seorang gadis dengan rambut sebahu menguap sambil mengusap-usap mata, kemudian berjalan sempoyongan menuju ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Tidak lama kemudian, gadis itu menuju ke lantai bawah dan melihat seorang pria yang tidak lain adalah sang papa yang bernama Fajar, tengah duduk sambil membaca korang di sofa. Gadis cantik yang masih mengenakan piyama itu bernama Isna. Dia berjalan ke arah dapur sambil mengendus aroma sedap dari masakan wanita berkerudung yang terlihat sedang mencicipi sup buatannya. Wanita itu adalah sang mama yang bernama Fatimah. Kedua orang tuanya Isna memang sedang berlibur karena hari Minggu.
Tanpa menunggu lama, Isna pun langsung melingkarkan tangannya ke pinggul wanita yang dikaguminya itu.
"Mama masak apa? Sedap banget baunya," tanya Isna dengan nada manja.
"Ini sup ceker kesukaan kamu, Sayang,' jawab sang mama.
Mendadak, dari depan pintu dapur. Isna dikejutkan oleh suara lain yang memanggil namanya.
"Isna! Ngapain kamu di situ?"
Isna pun menoleh ke arah pintu, gadis itu terkejut melihat sang mama sedang berdiri tegak seraya menatapnya.
'Tunggu! Jika Mama ada di sana, lalu siapa yang kurangkul ini?' batin Isna.
Gadis itu menelan ludah, keringat dingin pun telah membasahi keningnya. Ia merenggangkan tangan, melepaskan rangkulan tangannya dan perlahan melongok ke atas untuk melihat siapa wanita yang berada di hadapannya.
Seketika, netranya terbelalak saat melihat wanita yang dikira sang mama tadi sudah berubah. Wanita itu berwajah pucat dengan tetesan darah hitam yang mengalir di seluruh wajahnya, matanya pun melotot tajam ke arah Isna.
"Arrrrhhhhhhhh!" Isna berteriak dan terbangun dari tidurnya bersamaan dengan dering jam weker di meja samping tempat tidurnya. Gadis itu terengah-engah, lalu mematikan jam weker yang terus berbunyi itu. Kemudian ia mengatur nafasnya kembali.
"Astagfirullahaladzim! Mimpi apa itu tadi?" Dia masih bertanya-tanya, lalu membersihkan diri dan turun ke lantai bawah.
Bersambung.
Written : @piendutt
Sumber : Opini pribadi
Jangan lupa mampir bawa
ya gan, terimakasih.
Part 1. Mimpi Buruk
Kriiing! Kriiing!
Sebuah tangan terlihat meraba-raba berusaha menggapai jam weker yang terus berbunyi dan Cumiakkan telinga itu. Sang pemilik tangan pun bangun dari tidurnya.
"Whoaaamm!"
Seorang gadis dengan rambut sebahu menguap sambil mengusap-usap mata, kemudian berjalan sempoyongan menuju ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Tidak lama kemudian, gadis itu menuju ke lantai bawah dan melihat seorang pria yang tidak lain adalah sang papa yang bernama Fajar, tengah duduk sambil membaca korang di sofa. Gadis cantik yang masih mengenakan piyama itu bernama Isna. Dia berjalan ke arah dapur sambil mengendus aroma sedap dari masakan wanita berkerudung yang terlihat sedang mencicipi sup buatannya. Wanita itu adalah sang mama yang bernama Fatimah. Kedua orang tuanya Isna memang sedang berlibur karena hari Minggu.
Tanpa menunggu lama, Isna pun langsung melingkarkan tangannya ke pinggul wanita yang dikaguminya itu.
"Mama masak apa? Sedap banget baunya," tanya Isna dengan nada manja.
"Ini sup ceker kesukaan kamu, Sayang,' jawab sang mama.
Mendadak, dari depan pintu dapur. Isna dikejutkan oleh suara lain yang memanggil namanya.
"Isna! Ngapain kamu di situ?"
Isna pun menoleh ke arah pintu, gadis itu terkejut melihat sang mama sedang berdiri tegak seraya menatapnya.
'Tunggu! Jika Mama ada di sana, lalu siapa yang kurangkul ini?' batin Isna.
Gadis itu menelan ludah, keringat dingin pun telah membasahi keningnya. Ia merenggangkan tangan, melepaskan rangkulan tangannya dan perlahan melongok ke atas untuk melihat siapa wanita yang berada di hadapannya.
Seketika, netranya terbelalak saat melihat wanita yang dikira sang mama tadi sudah berubah. Wanita itu berwajah pucat dengan tetesan darah hitam yang mengalir di seluruh wajahnya, matanya pun melotot tajam ke arah Isna.
"Arrrrhhhhhhhh!" Isna berteriak dan terbangun dari tidurnya bersamaan dengan dering jam weker di meja samping tempat tidurnya. Gadis itu terengah-engah, lalu mematikan jam weker yang terus berbunyi itu. Kemudian ia mengatur nafasnya kembali.
"Astagfirullahaladzim! Mimpi apa itu tadi?" Dia masih bertanya-tanya, lalu membersihkan diri dan turun ke lantai bawah.
Bersambung.
Written : @piendutt
Sumber : Opini pribadi
Jangan lupa mampir bawa
ya gan, terimakasih.Bab selanjutnya 👇
Part 1. Mimpi Buruk
Part 2. Ibu-ibu Arisan
Part 3. Musibah
Part 4. Perkenalan
Part 5. Mengobati Fatimah
Part 6. Kiriman Santet
Part 7. Cinta pada Pandangan Pertama
Part 8. Isna Terkena Santet
Part 9. Sang Dalang
Part 10. Percobaan Pembunuhan
Diubah oleh piendutt 05-10-2022 14:16
terbitcomyt dan 20 lainnya memberi reputasi
21
10.9K
Kutip
111
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
piendutt
#45
Santet

Quote:
Part 9. Sang Dalang
Isna masih terbaring lemas di lantai saat tiba-tiba saja dia kembali mengerang kesakitan karena merasakan nyeri yang luar biasa di bagian kepala, dada, dan perutnya bersamaan.
"Tidaaak! Sakitttt!” teriak gadis itu sambil terus meremas kepala dan perutnya bergantian.
"Kenapa lagi ini?!" tanya Fajar cemas.
"Om, bisa tolong ambilkan segelas air?" pinta Putra.
"Tunggu sebentar!" ujar Fajar dan segera ke dapur mengambil segelas air dan
memberikannya pada Putra.
"Audubillahiminassaitonirrojim, Bismillahirrahmanirrahim," ucap Putra mendoakan air itu, lalu memercikkannya ke tubuh Isna.
Seketika, asap putih pun terlihat keluar dari tubuh gadis itu. Namun, Isna masih terus mengerang dan mencengkeram perutnya yang terasa seperti ditusuk-tusuk.
***
Seorang wanita paruh baya tampak bersemedi di sebuah ruangan remang-remang, hanya satu lampu saja yang menyala di atas kepalanya. Tangan wanita itu memegang sebuah boneka jerami yang sudah dililit dengan sedikit rambut di lehernya, kemudian dia mengambil sebilah keris dan langsung menancapkannya beberapa kali ke tubuh boneka itu.
Bersamaan dengan aksi wanita itu, tubuh Isna merasakan sakit yang luar biasa seperti ditusuk-tusuk pada beberapa bagian tubuhnya. Gadis itu terus menggeliat di atas ranjang menahan nyeri yang semakin hebat.
"Om sama Tante, tolong pegangin Isna sebentar!" pinta putra.
Kedua orang tua Isna pun memegangi tubuh sang putri yang terus menggeliat kesakitan, sedangkan Putra memegang kepala Isna, lalu membacakan doa.
Sesekali Putra mengusap rambut gadis itu, lalu kembali berdoa.
Doa-doa Putra membuat keris yang ditancapkan pada boneka jerami itu mendadak tercabut sendiri. Wanita itu geram dan ingin menancapkannya lagi, tetapi tangannya terasa kaku.
"Dasar biadab! Berani-beraninya kamu melawanku!" umpat wanita itu yang tidak lain adalah Diah, teman arisan Fatimah.
Keris itu terlempar jauh saat Diah berusaha menancapkannya lagi. Wanita jahat itu pun turut terjungkal ke lantai, sedangkan boneka di tangan kirinya langsung terbakar dan menjadi abu.
"Sialan!" umpat wanita itu.
Ruangan itu langsung bergetar dan membuat beberapa barang terjatuh. Suasana semakin mencekam saat beberapa makhluk astral, seperti kuntilanak, sundel bolong, dan genderuwo bermunculan.
Mereka adalah makhluk yang dikirim Diah untuk mengganggu keluarga Fajar. Kini, semua makhluk itu berbalik menyerangnya. Ada yang mencekik dan menggerogoti tubuh wanita itu hingga tidak berdaya. Tiba-tiba saja, keris yang tadi terpental seolah digerakkan oleh sesuatu yang tidak kasat mata dan langsung menghujami tubuh Diah berkali-kali tanpa ampun sebelum akhirnya benda itu lenyap. Rudi yang mendengar teriakan ibunya itu langsung datang ke kamar dan kaget saat melihat sang ibu tergeletak di lantai bersimbah darah.
“Ibu! Apa yang terjadi?" tanya Rudi anak semata wayangnya itu.
"Ba-balaskan dendam Ibu!" ucap Diah dan langsung mengembuskan napas terakhir di pelukan anaknya.
"Ibuuuu!" teriakan Rudi pun menggelegar.
***
Sementara di tempat lain, Isna merasa badannya lemas. Fajar segera membaringkan anak gadisnya itu di ranjang. Putra juga sedikit terluka dan sempat muntah darah karena melawan kekuatan hitam yang sangat kuat.
"Apa kamu baik-baik saja, Nak?" tanya Fatimah.
"Saya nggak apa-apa, Tante," sahutnya seraya mengelap tetesan darah di mulut menggunakan tisu.
"Bagaimana dengan Isna?" tanya Fajar.
"Insya Allah, dia akan segera membaik, Om. Saya sudah mengembalikan santet yang menyerang Isna."
"Terima kasih, Nak," sahut Fajar merasa lega.
Setelah merasa keadaan Isna cukup aman, Putra pun pamit undur diri karena hari mulai gelap. Dia pun berpesan untuk memberikan segelas air yang sudah dibacakan doa pada Isna, ketika gadis itu terbangun nanti.
***
Satu jam kemudian, saat Fatimah sedang membersihkan kamar, Isna terbangun. Gadis itu merasakan pegal-pegal di seluruh tubuhnya. Namun, anehnya, dia tidak mengingat apa pun. Fajar memilih diam dan tidak menceritakan apa pun karena dia tidak ingin anak gadisnya memikirkan kejadian ganjil itu. Setidaknya hingga kesehatan Isna benar-benar pulih.
"Sayang, ini diminum dulu airnya.” Fatimah memberikan segelas air pada Isna dan gadis itu pun segera meneguknya sampai habis.
"Ma, apa yang terjadi padaku? Kenapa aku nggak ingat apa pun, Ma?" tanya Isna bingung.
"Nggak ada yang terjadi sayang, kamu cuman kecapekan. Sekarang, kamu istirahat, ya! Besok kita bahas lagi," pungkas Fajar.
Isna pun hanya mengangguk dan kembali berbaring.
***
Sesampainya di rumah, Putra menceritakan kejadian di rumah Isna itu kepada Bi Fatma. Pria itu bercerita bahwa keluarga Isna bukan penyembah iblis seperti kabar yang beredar, melainkan disantet.
Awalnya Fatma sulit untuk mempercayai ucapan keponakannya itu, tetapi Putra berhasil memberikan bukti-bukti yang kuat dan berhasil membuat bibinya itu percaya. Fatma juga tahu bahwa selama ini, sang keponakan tidak pernah berbohong.
Wanita paruh baya itu menghela napas sembari duduk di sofa. Ada perasaan menyesal dalam hatinya karena selama ini dirinya kerap menjelek-jelekkan keluarga Isna.
'Bagaimana caraku meminta maaf pada Fatimah?’ batinnya berbicara.
Putra yang mengetahui kecemasan sang bibi, langsung menyarankan untuk datang bersama para warga ke rumah Isna. Niatnya untuk meminta maaf atas perlakuan mereka yang telah salah paham selama ini.
“Bibi nggak perlu khawatir, Tante Fatimah orang yang sangat baik. Beliau pasti memaafkan kalian semua,” tutur Putra menenangkan hati bibinya.
***
Keesokan harinya, terdengar kabar bahwa Diah yang memiliki restoran di pinggir jalan dan juga teman arisan Fatimah, meninggal begitu saja tanpa alasan yang jelas. Kematian Diah yang tidak wajar itu membuat banyak warga menduga-duga perihal penyebab kematiannya.
Fatma dan ibu-ibu kompleks lain pergi bertakziah ke rumah Diah. Terlihat Rudi, anak semata wayang mendiang Diah, menangis tersedu-sedu di samping jenazah ibunya.
"Kasihan,ya, si Rudi, baru beberapa bulan kemarin kehilangan ayahnya, sekarang harus kehilangan ibunya," ujar salah satu wanita di sana.
"Apa Mbak nggak tau, ya? Mbak Diah itu sering gonta-ganti suami! Kabarnya, para pria yang menjadi suaminya pasti meninggal tanpa sebab yang jelas!” Tari mulai bergosip.
"Husst! Kalian berdua ini nggak bisa ngeliat tempat, ya?! Bergosip melulu!" bentak Fatma pada kedua temannya itu hingga membuat mereka terdiam. Namun, Rudi yang sempat mendengar percakapan mereka itu terlihat sangat kesal.
***
Setelah acara takziah selesai, mereka semua keluar dari rumah itu dan tidak sengaja malah bersimpangan dengan Fatimah. Ada rasa malu di wajah mereka semua karena selama ini sudah menggunjing wanita berkerudung itu.
Para ibu itu hanya menunduk tanpa berani menyapanya. Fatimah pun memahami dan tetap berjalan masuk ke rumah Diah.
Rudi yang melihat kedatangan Fatimah, langsung berubah raut wajahnya. Dia terlihat sangat marah dan ingin membalas dendam atas kematian ibunya. Namun, dia tidak bisa bebas melakukannya karena banyak mata menatapnya. Dia pun bisa hanya diam dan terus menangis.
Selama ini Rudi sudah mengetahui bahwa ibunya adalah sang dalang di balik kemalangan yang menimpa keluarga Fatimah. Ibunya itu sengaja mengirimkan santet pada keluarga Fatimah. lantaran iri karena restoran Fatimah selalu ramai dengan pengunjung, sedangkan restoran milik Diah lebih sering sepi.
Diam-diam Diah mengubur kotak kecil berisi media santet itu di halaman belakang rumah Fatimah saat menghadiri acara arisan. Diah juga membelai rambut Isna dan dengan sengaja mengambil beberapa helai rambut yang rontok dari pundak gadis itu. Itulah yang selama ini dilakukan Diah.
***
Saat sore hari, di rumah Fatimah.
"Assalamu'alaikum." Terdengar suara beberapa orang memberikan salam.
"Wa'alaikumsalam," sahut Fatimah dan membuka pintu. Wanita itu terkejut melihat ibu-ibu kompleks sudah berdiri di luar rumahnya.
"Ada perlu apa, ya?" tanya Fatimah heran.
" Tante, mereka semua ingin meminta maaf pada Tante,” jawab Putra yang berdiri di antara ibu-ibu itu.
"Minta maaf? Memangnya ... mereka ada salah apa sama Tante?"
Fatma pun berjalan perlahan mendekati wanita berkerudung itu.
"Mbak Fatim, maafkan kami semua, ya? Selama ini kami telah salah menilai Mbak Fatim.”
"Sebelum kalian minta maaf, saya sudah memaafkan kalian, kok. Ayo, masuk ke rumah! Nggak enak dilihat tetangga," sahut Fatimah tersenyum dan mengajak mereka semua untuk masuk ke rumah.
"Mbak Fatim, kami ke sini juga untuk menjenguk Isna. Denger-denger, dia lagi sakit, ya?" ujar Tari begitu duduk di sofa tamu.
"Oh begitu? Mari,saya antar ke kamar Isna."
***
Mereka semua pun berjalan menuju ke kamar Isna dan melihat gadis itu sedang duduk bersandar di ranjang. Wajahnya sudah tidak pucat lagi. Isna terlihat kebingungan melihat kedatangan banyak orang di kamarnya.
"Ma, kok banyak orang ke sini?" tanya Isna sedikit waswas karena takut akan dilabrak seperti dulu.
"Nggak usah takut, Sayang. Mereka ke sini untuk nengokin kamu."
"Hahh?! Nengokin? Mama serius?"
"Duh, Isna! Kenapa keadaan kamu seperti ini, Sayang?" ujar Fatma dan mendekati Isna.
"Cepet sembuh, ya, Isna," timpal Tari.
"Makasih, Tante," jawab Isna seraya tersenyum kecil.
Mereka akhirnya keluar dan meninggalkan Isna agar bisa beristirahat kembali. Tinggallah Putra yang masih berada di dalam kamar itu.
Bersambung.
Isna masih terbaring lemas di lantai saat tiba-tiba saja dia kembali mengerang kesakitan karena merasakan nyeri yang luar biasa di bagian kepala, dada, dan perutnya bersamaan.
"Tidaaak! Sakitttt!” teriak gadis itu sambil terus meremas kepala dan perutnya bergantian.
"Kenapa lagi ini?!" tanya Fajar cemas.
"Om, bisa tolong ambilkan segelas air?" pinta Putra.
"Tunggu sebentar!" ujar Fajar dan segera ke dapur mengambil segelas air dan
memberikannya pada Putra.
"Audubillahiminassaitonirrojim, Bismillahirrahmanirrahim," ucap Putra mendoakan air itu, lalu memercikkannya ke tubuh Isna.
Seketika, asap putih pun terlihat keluar dari tubuh gadis itu. Namun, Isna masih terus mengerang dan mencengkeram perutnya yang terasa seperti ditusuk-tusuk.
***
Seorang wanita paruh baya tampak bersemedi di sebuah ruangan remang-remang, hanya satu lampu saja yang menyala di atas kepalanya. Tangan wanita itu memegang sebuah boneka jerami yang sudah dililit dengan sedikit rambut di lehernya, kemudian dia mengambil sebilah keris dan langsung menancapkannya beberapa kali ke tubuh boneka itu.
Bersamaan dengan aksi wanita itu, tubuh Isna merasakan sakit yang luar biasa seperti ditusuk-tusuk pada beberapa bagian tubuhnya. Gadis itu terus menggeliat di atas ranjang menahan nyeri yang semakin hebat.
"Om sama Tante, tolong pegangin Isna sebentar!" pinta putra.
Kedua orang tua Isna pun memegangi tubuh sang putri yang terus menggeliat kesakitan, sedangkan Putra memegang kepala Isna, lalu membacakan doa.
Sesekali Putra mengusap rambut gadis itu, lalu kembali berdoa.
Doa-doa Putra membuat keris yang ditancapkan pada boneka jerami itu mendadak tercabut sendiri. Wanita itu geram dan ingin menancapkannya lagi, tetapi tangannya terasa kaku.
"Dasar biadab! Berani-beraninya kamu melawanku!" umpat wanita itu yang tidak lain adalah Diah, teman arisan Fatimah.
Keris itu terlempar jauh saat Diah berusaha menancapkannya lagi. Wanita jahat itu pun turut terjungkal ke lantai, sedangkan boneka di tangan kirinya langsung terbakar dan menjadi abu.
"Sialan!" umpat wanita itu.
Ruangan itu langsung bergetar dan membuat beberapa barang terjatuh. Suasana semakin mencekam saat beberapa makhluk astral, seperti kuntilanak, sundel bolong, dan genderuwo bermunculan.
Mereka adalah makhluk yang dikirim Diah untuk mengganggu keluarga Fajar. Kini, semua makhluk itu berbalik menyerangnya. Ada yang mencekik dan menggerogoti tubuh wanita itu hingga tidak berdaya. Tiba-tiba saja, keris yang tadi terpental seolah digerakkan oleh sesuatu yang tidak kasat mata dan langsung menghujami tubuh Diah berkali-kali tanpa ampun sebelum akhirnya benda itu lenyap. Rudi yang mendengar teriakan ibunya itu langsung datang ke kamar dan kaget saat melihat sang ibu tergeletak di lantai bersimbah darah.
“Ibu! Apa yang terjadi?" tanya Rudi anak semata wayangnya itu.
"Ba-balaskan dendam Ibu!" ucap Diah dan langsung mengembuskan napas terakhir di pelukan anaknya.
"Ibuuuu!" teriakan Rudi pun menggelegar.
***
Sementara di tempat lain, Isna merasa badannya lemas. Fajar segera membaringkan anak gadisnya itu di ranjang. Putra juga sedikit terluka dan sempat muntah darah karena melawan kekuatan hitam yang sangat kuat.
"Apa kamu baik-baik saja, Nak?" tanya Fatimah.
"Saya nggak apa-apa, Tante," sahutnya seraya mengelap tetesan darah di mulut menggunakan tisu.
"Bagaimana dengan Isna?" tanya Fajar.
"Insya Allah, dia akan segera membaik, Om. Saya sudah mengembalikan santet yang menyerang Isna."
"Terima kasih, Nak," sahut Fajar merasa lega.
Setelah merasa keadaan Isna cukup aman, Putra pun pamit undur diri karena hari mulai gelap. Dia pun berpesan untuk memberikan segelas air yang sudah dibacakan doa pada Isna, ketika gadis itu terbangun nanti.
***
Satu jam kemudian, saat Fatimah sedang membersihkan kamar, Isna terbangun. Gadis itu merasakan pegal-pegal di seluruh tubuhnya. Namun, anehnya, dia tidak mengingat apa pun. Fajar memilih diam dan tidak menceritakan apa pun karena dia tidak ingin anak gadisnya memikirkan kejadian ganjil itu. Setidaknya hingga kesehatan Isna benar-benar pulih.
"Sayang, ini diminum dulu airnya.” Fatimah memberikan segelas air pada Isna dan gadis itu pun segera meneguknya sampai habis.
"Ma, apa yang terjadi padaku? Kenapa aku nggak ingat apa pun, Ma?" tanya Isna bingung.
"Nggak ada yang terjadi sayang, kamu cuman kecapekan. Sekarang, kamu istirahat, ya! Besok kita bahas lagi," pungkas Fajar.
Isna pun hanya mengangguk dan kembali berbaring.
***
Sesampainya di rumah, Putra menceritakan kejadian di rumah Isna itu kepada Bi Fatma. Pria itu bercerita bahwa keluarga Isna bukan penyembah iblis seperti kabar yang beredar, melainkan disantet.
Awalnya Fatma sulit untuk mempercayai ucapan keponakannya itu, tetapi Putra berhasil memberikan bukti-bukti yang kuat dan berhasil membuat bibinya itu percaya. Fatma juga tahu bahwa selama ini, sang keponakan tidak pernah berbohong.
Wanita paruh baya itu menghela napas sembari duduk di sofa. Ada perasaan menyesal dalam hatinya karena selama ini dirinya kerap menjelek-jelekkan keluarga Isna.
'Bagaimana caraku meminta maaf pada Fatimah?’ batinnya berbicara.
Putra yang mengetahui kecemasan sang bibi, langsung menyarankan untuk datang bersama para warga ke rumah Isna. Niatnya untuk meminta maaf atas perlakuan mereka yang telah salah paham selama ini.
“Bibi nggak perlu khawatir, Tante Fatimah orang yang sangat baik. Beliau pasti memaafkan kalian semua,” tutur Putra menenangkan hati bibinya.
***
Keesokan harinya, terdengar kabar bahwa Diah yang memiliki restoran di pinggir jalan dan juga teman arisan Fatimah, meninggal begitu saja tanpa alasan yang jelas. Kematian Diah yang tidak wajar itu membuat banyak warga menduga-duga perihal penyebab kematiannya.
Fatma dan ibu-ibu kompleks lain pergi bertakziah ke rumah Diah. Terlihat Rudi, anak semata wayang mendiang Diah, menangis tersedu-sedu di samping jenazah ibunya.
"Kasihan,ya, si Rudi, baru beberapa bulan kemarin kehilangan ayahnya, sekarang harus kehilangan ibunya," ujar salah satu wanita di sana.
"Apa Mbak nggak tau, ya? Mbak Diah itu sering gonta-ganti suami! Kabarnya, para pria yang menjadi suaminya pasti meninggal tanpa sebab yang jelas!” Tari mulai bergosip.
"Husst! Kalian berdua ini nggak bisa ngeliat tempat, ya?! Bergosip melulu!" bentak Fatma pada kedua temannya itu hingga membuat mereka terdiam. Namun, Rudi yang sempat mendengar percakapan mereka itu terlihat sangat kesal.
***
Setelah acara takziah selesai, mereka semua keluar dari rumah itu dan tidak sengaja malah bersimpangan dengan Fatimah. Ada rasa malu di wajah mereka semua karena selama ini sudah menggunjing wanita berkerudung itu.
Para ibu itu hanya menunduk tanpa berani menyapanya. Fatimah pun memahami dan tetap berjalan masuk ke rumah Diah.
Rudi yang melihat kedatangan Fatimah, langsung berubah raut wajahnya. Dia terlihat sangat marah dan ingin membalas dendam atas kematian ibunya. Namun, dia tidak bisa bebas melakukannya karena banyak mata menatapnya. Dia pun bisa hanya diam dan terus menangis.
Selama ini Rudi sudah mengetahui bahwa ibunya adalah sang dalang di balik kemalangan yang menimpa keluarga Fatimah. Ibunya itu sengaja mengirimkan santet pada keluarga Fatimah. lantaran iri karena restoran Fatimah selalu ramai dengan pengunjung, sedangkan restoran milik Diah lebih sering sepi.
Diam-diam Diah mengubur kotak kecil berisi media santet itu di halaman belakang rumah Fatimah saat menghadiri acara arisan. Diah juga membelai rambut Isna dan dengan sengaja mengambil beberapa helai rambut yang rontok dari pundak gadis itu. Itulah yang selama ini dilakukan Diah.
***
Saat sore hari, di rumah Fatimah.
"Assalamu'alaikum." Terdengar suara beberapa orang memberikan salam.
"Wa'alaikumsalam," sahut Fatimah dan membuka pintu. Wanita itu terkejut melihat ibu-ibu kompleks sudah berdiri di luar rumahnya.
"Ada perlu apa, ya?" tanya Fatimah heran.
" Tante, mereka semua ingin meminta maaf pada Tante,” jawab Putra yang berdiri di antara ibu-ibu itu.
"Minta maaf? Memangnya ... mereka ada salah apa sama Tante?"
Fatma pun berjalan perlahan mendekati wanita berkerudung itu.
"Mbak Fatim, maafkan kami semua, ya? Selama ini kami telah salah menilai Mbak Fatim.”
"Sebelum kalian minta maaf, saya sudah memaafkan kalian, kok. Ayo, masuk ke rumah! Nggak enak dilihat tetangga," sahut Fatimah tersenyum dan mengajak mereka semua untuk masuk ke rumah.
"Mbak Fatim, kami ke sini juga untuk menjenguk Isna. Denger-denger, dia lagi sakit, ya?" ujar Tari begitu duduk di sofa tamu.
"Oh begitu? Mari,saya antar ke kamar Isna."
***
Mereka semua pun berjalan menuju ke kamar Isna dan melihat gadis itu sedang duduk bersandar di ranjang. Wajahnya sudah tidak pucat lagi. Isna terlihat kebingungan melihat kedatangan banyak orang di kamarnya.
"Ma, kok banyak orang ke sini?" tanya Isna sedikit waswas karena takut akan dilabrak seperti dulu.
"Nggak usah takut, Sayang. Mereka ke sini untuk nengokin kamu."
"Hahh?! Nengokin? Mama serius?"
"Duh, Isna! Kenapa keadaan kamu seperti ini, Sayang?" ujar Fatma dan mendekati Isna.
"Cepet sembuh, ya, Isna," timpal Tari.
"Makasih, Tante," jawab Isna seraya tersenyum kecil.
Mereka akhirnya keluar dan meninggalkan Isna agar bisa beristirahat kembali. Tinggallah Putra yang masih berada di dalam kamar itu.
Bersambung.
Diubah oleh piendutt 02-10-2022 21:54
Araka dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Kutip
Balas
Tutup