- Beranda
- Stories from the Heart
Bulan Purnama
...
TS
baccu
Bulan Purnama

Bab 1 – Bulan Temaram
Malam itu aku kembali merenung seperti biasanya. Sepoi angin yang menembus celah dedaunan, memelukku dengan lembut. Cahaya bulan mulai temaram, seolah mengabaikanku. Di seberang jalan tampak beberapa pemuda bercanda tawa. Mereka terseok-seok sembari menggenggam botol minuman keras. Anjing di pekarangan sebelah terus menggonggong berlagak mengusirku.
“Ya ampun”, gumamku dengan lirih.
Aku pun turun dari atap, melewati jendela dan masuk kembali ke dalam kamarku. Jika banyak yang bertanya-tanya? Sudah sewajarnya tiap insan manusia memiliki tempat favorit untuk menyendiri; bagiku atap rumah adalah bilik paling nyaman untuk menenangkan hati yang gundah.
Kupandang jam kuno yang menempel di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh dua menit. Sebelum beranjak tidur kulihat sejenak layar ponselku, hanya untuk menambah rasa kesal.
“Udah tidur mungkin ya?” hiburku dalam hati.
Sudah tiga hari ini Lisa, pacarku, tidak membalas pesanku. Bahkan notifikasi untuk menunjukkan ‘sudah dibaca’ pun dia matikan. Memang aku mungkin sedikit keterlaluan saat pergi tanpa pamit dengannya. Dia selalu mengabaikanku, seolah aku tidak ada.
Kami sempat bertengkar lantaran hal yang sebenarnya cukup sepele. Tempo hari lalu kami sudah berencana untuk makan malam bersama di sebuah restoran baru. Namun karena desakan pekerjaan, aku harus lembur hingga terlambat satu jam. Menunggu selama itu bagaikan setahun, atau bahkan sewindu di pikirannya. Saat datang menjemput, dia sudah mengenakan piyama dan menatapku dengan sinis. Walaupun sudah kurayu dengan beribu kalimat, dia tetap enggan untuk beranjak dan mulai berceloteh bagaikan pemuka agama.
Dengan jujur kuutarakan segala alasanku namun tetap saja melewati kedua daun telinganya. Akibat terlalu lelah, aku pun ikut terbawa emosi. Kami sempat adu mulut hingga akhirnya kuputuskan untuk segera pergi dari teras rumahnya tanpa sepatah kata pun. Setelah malam itu, Lisa seolah sudah tak peduli lagi.
“Dag dag dag,” tiba-tiba terdengar suara yang hampir membuat dada ini meledak.
“Anjing! Siapa sih!” timpalku.
Beberapa hari terakhir sering terdengar suara-suara aneh. Terkadang seperti langkah kaki sedang berlari. Kemarin juga ada seseorang yang mengetuk pintu, namun setelah kubuka, tidak ada siapa pun. Ingin rasanya aku pindah, tapi sayang sekali kamar lain sudah terisi penuh.
Kos yang kutinggali ini memang terkenal murah dan juga aman. Selain itu para penghuni juga cuek, justru sebagai nilai tambah menurutku. Letak kamarku ada di lantai tiga, lantai paling atas. Akses menuju ke atap sangat mudah, hanya keluar dari jendela dan memanjat pagar balkon kecil. Hanya ada empat kamar di lantai ini, dengan dua kamar saling berhadapan yang terpisah oleh tangga menuju ke bawah.
Kamar sebelahku dihuni oleh seorang mahasiswa bernama Roni yang jarang pulang. Dia kerap disibukkan dengan kehidupan kampusnya karena mengikuti organisasi. Dua kamar di seberang ditinggali oleh pekerja swasta bernama Rama dan Ipul. Mereka teman sekantor dan sangat suka bermain game online sampai larut.
Walaupun jantung ini masih berlomba, aku tetap berpikir jernih. Mungkin saja ada anak kos lain yang iseng. Kuabaikan bunyi tadi dan memejamkan mata. Berharap hari esok akan sedikit lebih baik dari hari ini.
***
Bersambung...
Quote:
Diubah oleh baccu 04-10-2022 14:40
bukhorigan dan 10 lainnya memberi reputasi
11
4.8K
101
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
baccu
#19
Bab 6 – Lunaria
Bab 6 – Lunaria
“Pyar!” terdengar suara seperti kaca pecah. Bergegas beranjak dari ranjang untuk mencari sumber suara. Terdengar kelakar tawa dari luar yang saling bersahutan satu sama lain. Kutengok lewat jendela, memandang ke bawah dan melihat ada beberapa pemuda yang sepertinya sudah mulai mabuk. Sebuah botol minuman keras dengan warna hijau tampak pecah berceceran di trotoar. Padahal waktu belum terlalu larut, namun mereka seperti tidak takut. Kupandang mereka semua dengan tajam dan salah satu melihat ke arahku, kemudian lari terbirit-birit bak dikejar anjing.
“Dasar orang gabut!” gerutuku. Aku pun kembali merebahkan tubuh ini di atas gumpalan kapas seperti awan. “Eh, mandi dulu deh.”
Kulepas semua yang kukenakan di tubuhku dan masuk ke dalam kamar mandi. Di bawah guyuran air yang mengalir dari showeraku kembali melamun memikirkannya. Masih ada sepucuk perasaan ngilu di dada, namun kusingkirkan dengan kenangan bahagia. Aku ingat bagaimana saat itu Lisa memperkenalkan aku kepada ibunya. Sore itu langit begitu cerah, hanya ada awan tipis yang menghiasi seperti pelangi api. Aku menjemput Lisa di rumahnya.
“Tok tok tok.”
“Ayo sini masuk!” tangan Lisa meraih tanganku dan menariknya ke dalam.
“Mama kenalin... ini Brian,” Lisa berdiri di sampingku dengan senyum lebar.
Mendadak sekujur tubuhku kaku seperti tiang listrik. Mataku memandang kepada sosok ibu yang berdiri di depanku. Beliau mengenakan sweater biru bergaris kuning, tersenyum kepadaku.
“Halo nak Brian. Mau ngajak Lisa jalan-jalan ya?”
“I-iya bu,” tanganku langsung terjulur untuk mengajak bersalaman, kucium tangan beliau seperti anak SD yang mau masuk ke ruang kelas.
“Engga mampir makan dulu nih?”
“Ga usah repot-repot bu, terima kasih. Nanti kami makan di luar. Ibu mau saya bawakan apa?” tanyaku basa-basi.
“Ga perlu repot-repot,” balasnya. “Yang penting jangan kemalaman pulangnya ya.”
“Pasti bu. Nanti saya antar Lisa pulang sebelum jam sembilan,” jawabku meyakinkannya.
Ibu Lisa mengangguk dan tersenyum. Matanya terpancar dengan cemerlang, semoga tanda lampu hijau untukku.
“Duh canggung banget. Tau gitu tadi aku beliin sesuatu buat calon mertua sebelum ke sini. Ehehehe...” ledekku sembari naik ke atas jok motor.
“Ga usah repot-repot nak,” Lisa menirukan ibunya sambil mencubit lenganku, mengikuti membonceng di belakang.
“Makan di mana nih?” sambil menyalakan tombol starter.
“Ihhh... masih sore. Ke mall aja yuk,” dia melingkarkan kedua tangannya di perutku.
“Lets go!”
Kami pun pergi menuju ke mall. Lisa mengajakku ke bagian fashion dan meminta hal yang membuatku tertawa konyol.
“Beli ini yuk,” Lisa mengambil dua buah t-shirt berwarna kuning dengan tulisan ‘Soul’ dan ‘Mate’, kemudian menyodorkan salah satunya kepadaku.
“Couple? Kuning? Seriusan?” tanyaku dengan mata membelalak.
“Kan lucu tau!” dia meringis memamerkan deretan giginya yang putih bersih. “Harganya murah lagi nih.” Dia memperlihatkan gantungan harga yang bisa kubaca dengan nominal seratus dua puluh ribu.
“Hmphh... yaudah, oke.”
“Langsung pake yok?” dia tersenyum sangat lebar hingga matanya hanya segaris.
Aku tercengang mendengar ucapannya.
“Yang bener aja? Belum dicuci lho,” jawabku sambil memegang lengannya dengan gemas. Dia hanya tersenyum lebar dengan gigi putihnya.
Kami pun pada akhirnya keluar booth dengan mengenakan t-shirt kuning couple, yang baru saja dibeli, sambil berjalan-jalan mengelilingi mall. Lisa menenteng tas berisi baju yang sebelumnya kami kenakan masing-masing, sambil menggandeng lenganku dan menyenderkan kepalanya di bahu. Rasanya ratusan pasang mata bagaikan memandang kami berdua. Ini adalah kali pertama aku melakukan hal yang memalukan seperti ini dalam hidupku. Tapi apalah arti rasa malu, asalkan orang lain bisa bahagia karenanya.
Lisa berhenti dan menunjuk ke salah satu stan yang menjual minuman boba.
“Nge-es yuk. Aku yang traktir, tenang aja,” dia tersenyum dan segera berlari untuk berdiri di garis antre.
Aku duduk menunggu di kursi yang disediakan sambil memandang ke segala penjuru arah. Pengunjung mall sangat ramai, di isi dari berbagai macam orang yang entah sekedar ingin jalan-jalan ataupun memang berniat belanja. Di lantai bawah ada pertunjukan sulap yang disusul dengan MC yang sepertinya membawakan sebuah acara bertema Halloween. Banyak juga booth yang berisi berbagai macam pernak-pernik, kostum, hingga toko perlengkapan sulap. Selang 15 menit, Lisa datang dan duduk di depanku.
“Ke bawah yuk. Keliatannya asik,” ajak dia sambil menyeruput minuman boba berwarna cokelat.
“Ngapain ah? Mending makan aja yuk," aku pun ikut minum karena haus.
“Liat-liat aja. Ayo, buruan!” dia beranjak dan menyeretku yang baru saja menelan satu tegukan minuman es manis tersebut.
Kami pun turun menggunakan eskalator dan mengunjungi acara yang sepertinya perayaan Halloween. Berbagai booth kami kunjungi. Dia terpesona saat salah seorang penjual peralatan sulap memamerkan teknik memunculkan kartu dari tangan kosong. Di salah satu booth yang tidak terlalu ramai, kami berhenti dan masuk.
Tampak seorang nenek dengan pakaian serba hitam ala penyihir tua sedang meramal beberapa pengunjung dengan kartu tarot.
“Minta diramal yuk. Siapa tau kita jodoh,” ajaknya sambil mengedipkan satu matanya.
Kami pun antre berdiri di belakang dari pasangan yang sedang diramal.
“Gaje banget deh,” aku berbisik pelan di telinganya. “Cari tempat lain aja yuk.”
“Husssh,” Lisa malah menggenggam lenganku dengan kencang.
Tak berselang lama, kami pun diundang duduk di hadapan nenek penyihir tersebut.
“Halo cantik. Mau diramal perihal apa?” tanya nenek tersebut.
“Iseng-iseng aja sih nek. Urusan jodoh, hehehe,” Lisa menjawab malu-malu kemudian tertawa.
“Boleh minta telapak tangan kanan kalian berdua?” si nenek tersenyum seram.
Lisa menarik tanganku dan disodorkan kepada nenek peramal tersebut. Dia menarik kedua tangan kami dan menaruhnya di atas meja. Bisa kulihat beliau mengernyitkan mata berlagak serius dengan mulut komat-kamit seperti melafalkan sesuatu. Dengan sebuah hentakan, dia tiba-tiba duduk tegak yang membuat kami berdua kaget. Ujung jari telunjuknya mengelus-elus telapak tangan Lisa dan menjelaskan sesuatu.
“Nak Lisa.” Dia mengacungkan tangannya ke arah Lisa. “Kamu akan hidup bahagia. Tapi sebelum itu, ada cobaan berat yang harus dilalui,” katanya dengan lirih. “Hidup itu seperti air sungai yang mengalir. Bergerak terus sampai tertampung di muara. Namun terkadang ada batu dan kotoran yang menyumbat. Segera bersihkan jika sempat.”
Tanpa diduga, Lisa tertegun kaku. Dahinya berkerut dan dia terlihat tegang. Kemudian si nenek beralih meraih tanganku.
“Nak Brian!” ucapnya menyentak. Dengan kaget aku memandang ke arahnya. “Ada awan gelap yang menutupi cahaya bulan,” tangan kanannya menunjuk ke arahku dengan gemetar. “Jika ada sesuatu yang menimpamu, ikhlaskan lah! Hati yang bersih adalah hati yang tenang. Gegabah hanya akan membawa petaka. Padamkan api dengan air, bukan dengan meniupnya.”
Mataku mengernyit berusaha menerka apa ucapannya, namun dalam hati sebenarnya tak peduli. Tapi tidak dengan Lisa. Dia masih tertegun di tempat duduknya. Sikapnya sedikit aneh. Pelipisnya berkeringat, mulutnya diam seribu bahasa, seperti ketakutan.
“Terima kasih, nek. Kami pamit dulu.” Kugandeng Lisa dan sebelum keluar, kumasukkan uang lima puluh ribu ke sebuah kotak yang terpampang di depan booth.
“Hei,” kulambaikan tangan di depan wajahnya. “Percaya banget sama hal gituan? Ga nyangka,” aku meledeknya. Bukannya suasana mencair, dia memalingkan kepalanya dengan pelan dan memandangku. Tangannya menggenggam tanganku dengan erat.
“Kamu ga nyadar?!” dia membelalak. “Sejak kapan dia tau nama kita? Kenalan atau tanya juga enggak?!”
Bak disambar petir di siang bolong, aku pun ikut tercengang. Kali ini aku paham kenapa dia bersikap seperti itu. Tiba-tiba seperti ada rasa dingin yang menjalar. Namun demi menghiburnya, aku berusaha tampak seperti biasa.
“Mungkin aja denger waktu kita lagi ngobrol. Yah... namanya juga pesulap. Hahaha!” kucubit pipinya berusaha untuk menghiburnya. “Makan yok. Biar ga tegang.”
Kami pun makan di salah satu restoran di mall tersebut. Lisa masih tampak gelisah, pikirannya seperti diselimuti kabut tebal. Kuraih tangannya dan kugenggam dengan lembut.
“Udah jangan dipikirin terus. Ga usah takut. Aku bakal terus jagain kamu kok.”
“Yah... I know,” dia mengangguk dan tersenyum tipis.
Sambil makan, kuceritakan hal-hal lucu yang terjadi di kantorku hari ini. Mulai dari anak baru yang nyasar di ruangan bos, hingga salah satu cleaning service yang menemukan kondom bekas di toilet kantor yang membuat semua karyawan satu lantai mendapatkan surat teguran. Dia mulai tertawa seperti sudah lupa kejadian tadi.
“Eh mama calon mertua sukanya apaan? Ntar aku beliin sebelum pulang.”
“Apa aja sih. Tapi lebih suka seafood. Soalnya punya kenangan sama almarhum papa.”
“Okey. Ntar ingetin lagi ya,” kataku sambil mengacungkan jempol.
Selesai makan, langit ternyata sudah petang. Di perjalanan, tidak lupa kubelikan seafood di warung pinggir jalan yang kata orang-orang rasanya enak. Lisa menyenderkan dagunya di bahuku sepanjang jalan menuju rumahnya.
Setiba di rumah, aku memberikan buah tangan yang kubeli tadi. Ibunya terlihat sangat senang dan beliau mengajakku masuk ke dalam rumah.
“Maaf bu sudah kemalaman. Mungkin lain kali saja. Saya pamit dulu.”
Kucium tangan beliau dan aku pun kembali mengendarai sepeda motorku untuk pulang ke kos. Sepanjang jalan aku terkadang melamun. Terbesit sebuah ide yang pasti akan membuat Lisa amat sangat senang.
Kudengar ada sebuah restoran yang baru buka beberapa hari. Kuputuskan untuk mampir sejenak ke sana untuk bertanya-tanya apakah bisa melakukan reservasi. Restoran western dengan nama Lunaria ini terlihat cukup mewah dan berkelas. Aku mendatangi bagian pemasaran dan bertanya-tanya.
“Dengan Caca bagian pemasaran. Ada yang bisa kami bantu kak?” tanya pegawai restoran dengan seragam jas berwarna merah. Kulitnya putih dan halus, rambutnya panjang terurai dan dadanya membusung.
“Saya mau membuat reservasi untuk hari Sabtu depan bisa?” tanyaku sambil duduk di bangku menghadapnya.
“Baik atas nama siapa, untuk berapa orang?” Dia mengambil sebuah tablet dan bersiap untuk mencatat.
“Dua orang. Atas nama Brian. Ehm, kalo mau minta sesuatu kena charge enggak ya?”
“Maaf ada hal tertentu yang diperlukan?”
“Tadi saya lihat ada tim pemusik ya? Nanti saya kasih kode, bisa memainkan lagu tertentu?”
“Ah seperti itu. Bisa sekali kak,” jawabnya dengan antusias.
Aku pun menjelaskan serangkaian hal yang akan kulakukan. Dia menyimak dengan sangat teliti dan mencatat semuanya dengan rinci. Kemudian kulakukan pembayaran di muka agar lebih meyakinkan.
“Baik terima kasih atas reservasinya kak Brian. Berhubung ini pertama kali ada request seperti ini, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Semoga nanti dapat berjalan dengan lancar,” kata Caca yang ternyata kepala divisi pemasaran dengan senyum yang memukau.
Aku pun segera pergi meninggalkan restoran tersebut. Di perjalanan kubayangkan bagaimana tanggapan Lisa nanti saat kuajak dia makan di restoran baru tersebut. Selain itu sudah ada serangkaian kejutan yang aku jamin akan membuat seisi restoran akan memandang kami berdua. Hal ini juga adalah pertama kali yang kulakukan hingga sejauh ini untuk seorang wanita. Sebuah hal yang akan menjadi momen istimewa bagi tiap wanita di berbagai belahan dunia.
“Dasar orang gabut!” gerutuku. Aku pun kembali merebahkan tubuh ini di atas gumpalan kapas seperti awan. “Eh, mandi dulu deh.”
Kulepas semua yang kukenakan di tubuhku dan masuk ke dalam kamar mandi. Di bawah guyuran air yang mengalir dari showeraku kembali melamun memikirkannya. Masih ada sepucuk perasaan ngilu di dada, namun kusingkirkan dengan kenangan bahagia. Aku ingat bagaimana saat itu Lisa memperkenalkan aku kepada ibunya. Sore itu langit begitu cerah, hanya ada awan tipis yang menghiasi seperti pelangi api. Aku menjemput Lisa di rumahnya.
“Tok tok tok.”
“Ayo sini masuk!” tangan Lisa meraih tanganku dan menariknya ke dalam.
“Mama kenalin... ini Brian,” Lisa berdiri di sampingku dengan senyum lebar.
Mendadak sekujur tubuhku kaku seperti tiang listrik. Mataku memandang kepada sosok ibu yang berdiri di depanku. Beliau mengenakan sweater biru bergaris kuning, tersenyum kepadaku.
“Halo nak Brian. Mau ngajak Lisa jalan-jalan ya?”
“I-iya bu,” tanganku langsung terjulur untuk mengajak bersalaman, kucium tangan beliau seperti anak SD yang mau masuk ke ruang kelas.
“Engga mampir makan dulu nih?”
“Ga usah repot-repot bu, terima kasih. Nanti kami makan di luar. Ibu mau saya bawakan apa?” tanyaku basa-basi.
“Ga perlu repot-repot,” balasnya. “Yang penting jangan kemalaman pulangnya ya.”
“Pasti bu. Nanti saya antar Lisa pulang sebelum jam sembilan,” jawabku meyakinkannya.
Ibu Lisa mengangguk dan tersenyum. Matanya terpancar dengan cemerlang, semoga tanda lampu hijau untukku.
“Duh canggung banget. Tau gitu tadi aku beliin sesuatu buat calon mertua sebelum ke sini. Ehehehe...” ledekku sembari naik ke atas jok motor.
“Ga usah repot-repot nak,” Lisa menirukan ibunya sambil mencubit lenganku, mengikuti membonceng di belakang.
“Makan di mana nih?” sambil menyalakan tombol starter.
“Ihhh... masih sore. Ke mall aja yuk,” dia melingkarkan kedua tangannya di perutku.
“Lets go!”
Kami pun pergi menuju ke mall. Lisa mengajakku ke bagian fashion dan meminta hal yang membuatku tertawa konyol.
“Beli ini yuk,” Lisa mengambil dua buah t-shirt berwarna kuning dengan tulisan ‘Soul’ dan ‘Mate’, kemudian menyodorkan salah satunya kepadaku.
“Couple? Kuning? Seriusan?” tanyaku dengan mata membelalak.
“Kan lucu tau!” dia meringis memamerkan deretan giginya yang putih bersih. “Harganya murah lagi nih.” Dia memperlihatkan gantungan harga yang bisa kubaca dengan nominal seratus dua puluh ribu.
“Hmphh... yaudah, oke.”
“Langsung pake yok?” dia tersenyum sangat lebar hingga matanya hanya segaris.
Aku tercengang mendengar ucapannya.
“Yang bener aja? Belum dicuci lho,” jawabku sambil memegang lengannya dengan gemas. Dia hanya tersenyum lebar dengan gigi putihnya.
Kami pun pada akhirnya keluar booth dengan mengenakan t-shirt kuning couple, yang baru saja dibeli, sambil berjalan-jalan mengelilingi mall. Lisa menenteng tas berisi baju yang sebelumnya kami kenakan masing-masing, sambil menggandeng lenganku dan menyenderkan kepalanya di bahu. Rasanya ratusan pasang mata bagaikan memandang kami berdua. Ini adalah kali pertama aku melakukan hal yang memalukan seperti ini dalam hidupku. Tapi apalah arti rasa malu, asalkan orang lain bisa bahagia karenanya.
Lisa berhenti dan menunjuk ke salah satu stan yang menjual minuman boba.
“Nge-es yuk. Aku yang traktir, tenang aja,” dia tersenyum dan segera berlari untuk berdiri di garis antre.
Aku duduk menunggu di kursi yang disediakan sambil memandang ke segala penjuru arah. Pengunjung mall sangat ramai, di isi dari berbagai macam orang yang entah sekedar ingin jalan-jalan ataupun memang berniat belanja. Di lantai bawah ada pertunjukan sulap yang disusul dengan MC yang sepertinya membawakan sebuah acara bertema Halloween. Banyak juga booth yang berisi berbagai macam pernak-pernik, kostum, hingga toko perlengkapan sulap. Selang 15 menit, Lisa datang dan duduk di depanku.
“Ke bawah yuk. Keliatannya asik,” ajak dia sambil menyeruput minuman boba berwarna cokelat.
“Ngapain ah? Mending makan aja yuk," aku pun ikut minum karena haus.
“Liat-liat aja. Ayo, buruan!” dia beranjak dan menyeretku yang baru saja menelan satu tegukan minuman es manis tersebut.
Kami pun turun menggunakan eskalator dan mengunjungi acara yang sepertinya perayaan Halloween. Berbagai booth kami kunjungi. Dia terpesona saat salah seorang penjual peralatan sulap memamerkan teknik memunculkan kartu dari tangan kosong. Di salah satu booth yang tidak terlalu ramai, kami berhenti dan masuk.
Tampak seorang nenek dengan pakaian serba hitam ala penyihir tua sedang meramal beberapa pengunjung dengan kartu tarot.
“Minta diramal yuk. Siapa tau kita jodoh,” ajaknya sambil mengedipkan satu matanya.
Kami pun antre berdiri di belakang dari pasangan yang sedang diramal.
“Gaje banget deh,” aku berbisik pelan di telinganya. “Cari tempat lain aja yuk.”
“Husssh,” Lisa malah menggenggam lenganku dengan kencang.
Tak berselang lama, kami pun diundang duduk di hadapan nenek penyihir tersebut.
“Halo cantik. Mau diramal perihal apa?” tanya nenek tersebut.
“Iseng-iseng aja sih nek. Urusan jodoh, hehehe,” Lisa menjawab malu-malu kemudian tertawa.
“Boleh minta telapak tangan kanan kalian berdua?” si nenek tersenyum seram.
Lisa menarik tanganku dan disodorkan kepada nenek peramal tersebut. Dia menarik kedua tangan kami dan menaruhnya di atas meja. Bisa kulihat beliau mengernyitkan mata berlagak serius dengan mulut komat-kamit seperti melafalkan sesuatu. Dengan sebuah hentakan, dia tiba-tiba duduk tegak yang membuat kami berdua kaget. Ujung jari telunjuknya mengelus-elus telapak tangan Lisa dan menjelaskan sesuatu.
“Nak Lisa.” Dia mengacungkan tangannya ke arah Lisa. “Kamu akan hidup bahagia. Tapi sebelum itu, ada cobaan berat yang harus dilalui,” katanya dengan lirih. “Hidup itu seperti air sungai yang mengalir. Bergerak terus sampai tertampung di muara. Namun terkadang ada batu dan kotoran yang menyumbat. Segera bersihkan jika sempat.”
Tanpa diduga, Lisa tertegun kaku. Dahinya berkerut dan dia terlihat tegang. Kemudian si nenek beralih meraih tanganku.
“Nak Brian!” ucapnya menyentak. Dengan kaget aku memandang ke arahnya. “Ada awan gelap yang menutupi cahaya bulan,” tangan kanannya menunjuk ke arahku dengan gemetar. “Jika ada sesuatu yang menimpamu, ikhlaskan lah! Hati yang bersih adalah hati yang tenang. Gegabah hanya akan membawa petaka. Padamkan api dengan air, bukan dengan meniupnya.”
Mataku mengernyit berusaha menerka apa ucapannya, namun dalam hati sebenarnya tak peduli. Tapi tidak dengan Lisa. Dia masih tertegun di tempat duduknya. Sikapnya sedikit aneh. Pelipisnya berkeringat, mulutnya diam seribu bahasa, seperti ketakutan.
“Terima kasih, nek. Kami pamit dulu.” Kugandeng Lisa dan sebelum keluar, kumasukkan uang lima puluh ribu ke sebuah kotak yang terpampang di depan booth.
“Hei,” kulambaikan tangan di depan wajahnya. “Percaya banget sama hal gituan? Ga nyangka,” aku meledeknya. Bukannya suasana mencair, dia memalingkan kepalanya dengan pelan dan memandangku. Tangannya menggenggam tanganku dengan erat.
“Kamu ga nyadar?!” dia membelalak. “Sejak kapan dia tau nama kita? Kenalan atau tanya juga enggak?!”
Bak disambar petir di siang bolong, aku pun ikut tercengang. Kali ini aku paham kenapa dia bersikap seperti itu. Tiba-tiba seperti ada rasa dingin yang menjalar. Namun demi menghiburnya, aku berusaha tampak seperti biasa.
“Mungkin aja denger waktu kita lagi ngobrol. Yah... namanya juga pesulap. Hahaha!” kucubit pipinya berusaha untuk menghiburnya. “Makan yok. Biar ga tegang.”
Kami pun makan di salah satu restoran di mall tersebut. Lisa masih tampak gelisah, pikirannya seperti diselimuti kabut tebal. Kuraih tangannya dan kugenggam dengan lembut.
“Udah jangan dipikirin terus. Ga usah takut. Aku bakal terus jagain kamu kok.”
“Yah... I know,” dia mengangguk dan tersenyum tipis.
Sambil makan, kuceritakan hal-hal lucu yang terjadi di kantorku hari ini. Mulai dari anak baru yang nyasar di ruangan bos, hingga salah satu cleaning service yang menemukan kondom bekas di toilet kantor yang membuat semua karyawan satu lantai mendapatkan surat teguran. Dia mulai tertawa seperti sudah lupa kejadian tadi.
“Eh mama calon mertua sukanya apaan? Ntar aku beliin sebelum pulang.”
“Apa aja sih. Tapi lebih suka seafood. Soalnya punya kenangan sama almarhum papa.”
“Okey. Ntar ingetin lagi ya,” kataku sambil mengacungkan jempol.
Selesai makan, langit ternyata sudah petang. Di perjalanan, tidak lupa kubelikan seafood di warung pinggir jalan yang kata orang-orang rasanya enak. Lisa menyenderkan dagunya di bahuku sepanjang jalan menuju rumahnya.
Setiba di rumah, aku memberikan buah tangan yang kubeli tadi. Ibunya terlihat sangat senang dan beliau mengajakku masuk ke dalam rumah.
“Maaf bu sudah kemalaman. Mungkin lain kali saja. Saya pamit dulu.”
Kucium tangan beliau dan aku pun kembali mengendarai sepeda motorku untuk pulang ke kos. Sepanjang jalan aku terkadang melamun. Terbesit sebuah ide yang pasti akan membuat Lisa amat sangat senang.
Kudengar ada sebuah restoran yang baru buka beberapa hari. Kuputuskan untuk mampir sejenak ke sana untuk bertanya-tanya apakah bisa melakukan reservasi. Restoran western dengan nama Lunaria ini terlihat cukup mewah dan berkelas. Aku mendatangi bagian pemasaran dan bertanya-tanya.
“Dengan Caca bagian pemasaran. Ada yang bisa kami bantu kak?” tanya pegawai restoran dengan seragam jas berwarna merah. Kulitnya putih dan halus, rambutnya panjang terurai dan dadanya membusung.
“Saya mau membuat reservasi untuk hari Sabtu depan bisa?” tanyaku sambil duduk di bangku menghadapnya.
“Baik atas nama siapa, untuk berapa orang?” Dia mengambil sebuah tablet dan bersiap untuk mencatat.
“Dua orang. Atas nama Brian. Ehm, kalo mau minta sesuatu kena charge enggak ya?”
“Maaf ada hal tertentu yang diperlukan?”
“Tadi saya lihat ada tim pemusik ya? Nanti saya kasih kode, bisa memainkan lagu tertentu?”
“Ah seperti itu. Bisa sekali kak,” jawabnya dengan antusias.
Aku pun menjelaskan serangkaian hal yang akan kulakukan. Dia menyimak dengan sangat teliti dan mencatat semuanya dengan rinci. Kemudian kulakukan pembayaran di muka agar lebih meyakinkan.
“Baik terima kasih atas reservasinya kak Brian. Berhubung ini pertama kali ada request seperti ini, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Semoga nanti dapat berjalan dengan lancar,” kata Caca yang ternyata kepala divisi pemasaran dengan senyum yang memukau.
Aku pun segera pergi meninggalkan restoran tersebut. Di perjalanan kubayangkan bagaimana tanggapan Lisa nanti saat kuajak dia makan di restoran baru tersebut. Selain itu sudah ada serangkaian kejutan yang aku jamin akan membuat seisi restoran akan memandang kami berdua. Hal ini juga adalah pertama kali yang kulakukan hingga sejauh ini untuk seorang wanita. Sebuah hal yang akan menjadi momen istimewa bagi tiap wanita di berbagai belahan dunia.
***
Bersambung...
Diubah oleh baccu 28-09-2022 14:04
hady177350 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Tutup